• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESAIN KURIKULUM PENDIDIKAN IPA DI PERGURUAN TINGGI DALAM MEMPERSIAPKAN GURU IPA TERPADU

Parmin

Pendidikan IPA, FMIPA UNNES Email: [email protected]

Abstrak

Fakta menunjukkan di sebagian besar SMP/MTs bahwa pembelajaran IPA terpadu belum terlaksana sesuai tuntutan kurikulum 2006. Jumlah guru yang telah mengajarkan IPA secara terpadu masih sangat sedikit.

Hasil observasi menunjukkan bahwa di Kabupaten Sragen Jawa Tengah misalnya, baru ada 2 sekolah yang menerapkan pembelajaran IPA terpadu yaitu SMP N 1 dan SMP N 5 Kabupaten Sragen. Pembelajaran IPA terpadu sesungguhnya dapat menghemat waktu, tenaga dan sarana serta biaya karena pembelajaran beberapa kompetensi dasar dapat diajarkan sekaligus. Berdirinya Program Studi Pendidikan IPA S1 di berbagai perguruan tinggi diharapkan menjadi solusi dari hambatan pelaksanaan kurikulum di sekolah.

Sebagai prodi baru, diperlukan upaya pengembangan kurikulum agar match dengan kebutuhan. Kurikulum Pendidikan IPA dihasilkan dengan tujuan utama lulusan menjadi guru untuk jenjang SMP/MTs dan juga SMK yang dapat mengajarkan IPA terpadu sesuai tuntutan kurikulum. Bekal yang diberikan melalui pemberian matakuliah yang berbasis kompetensi sesuai Undang-undang guru dan dosen no 14 tahun 2005 dan Permendiknas no 16 tahun 2007 terkait dengan kualifikasi dan kompetensi guru IPA. Selain itu, pemberian matakuliah kewirausahaan dan pembekalan soft skill di harapkan dapat menunjang kompetensi yang dimiliki. Pembelajaran dikembangkan dengan berbasis laboratorium yang menekankan pada kemandirian belajar dan menerapkan berbagai strategi pembelajaran yang memudahkan menyusun jaringan tema keterpaduan IPA. Selanjutnya, dilakukan evaluasi terhadap kinerja mahasiswa ketika melaksanakan Praktek Pengalaman Lapangan dan tiga bulan setelah meluluskan akan melakukan monitoring terhadap penyerapan lulusan di dunia kerja.

Kata kunci: kurikulum, perguruan tinggi, guru, dan IPA terpadu

PENDAHULUAN

Standar kualifikasi akademiki dan kompetensi guru dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 16 Tahun 2007 bahwa khusus kompetensi Guru mata pelajaran IPA pada SMP/MTs yaitu; (1) Memahami konsep-konsep, hukum-hukum, dan teori-teori IPA serta penerapannya secara fleksibel, (2) Memahami proses berpikir IPA dalam mempelajari proses dan gejala alam, (3) Menggunakan bahasa simbolik dalam mendeskripsikan proses dan gejala alam, (4) Memahami hubungan antar berbagai cabang IPA, dan hubungan IPA dengan matematika dan teknologi, (5) Bernalar secara kualitatif maupun kuantitatif tentang proses dan hukum alam sederhana, (6) Kreatif dan inovatif dalam penerapan dan pengembangan IPA, (7) Menguasai prinsip-prinsip dan teori-teori pengelolaan dan keselamatan laboratorium, (8) Menggunakan alat-alat ukur, alat peraga, alat

hitung, dan piranti lunak komputer untuk meningkatkan pembelajaran IPA di kelas, dan laboratorium, (9) Merancang eksperimen IPA untuk keperluan pembelajaran atau penelitian (10) Melaksanakan eksperimen IPA dengan cara yang benar dan (11) Memahami sejarah perkembangan IPA dan pikiran-pikiran yang mendasari perkembangan tersebut.

Selain itu, faktanya di sebagian besar sekolah pembelajaran IPA terpadu belum terlaksana sesuai tuntutan kurikulum 2006.

Sebagian kecil guru-guru IPA di pendidikan dasar yang telah mengajarkan IPA secara terpadu. Hasil observasi menunjukkan bahwa di Kabupaten Sragen Jawa Tengah untuk jenjang SMP/MTs baru ada 2 sekolah yang menerapkan pembelajaran IPA terpadu yaitu SMP N 1 dan SMP N 5 Kabupaten Sragen (Fatmawati, 2010).

Selanjutnya, sebagai contoh misalnya tema energi dan perubahannya diajarkan hanya

47 ketika pembelajaran Fisika. Sementara itu, tema ini juga akan muncul dalam pembelajaran Biologi.

Terjadi pengulangan materi sehingga pembelajaran kurang efektif. Secara teori dalam kurikulum, pembelajaran IPA terpadu dapat dikemas dengan tema tentang suatu wacana yang dibahas dari berbagai sudut pandang atau disiplin keilmuan yang mudah dipahami oleh peserta didik. Misalnya, tema energi dan perubahannya dapat dibahas dari sudut makhluk hidup dan proses kehidupan. Melalui pembelajaran terpadu, beberapa konsep IPA yang relevan untuk dijadikan tema tidak perlu dibahas berulang kali dalam bidang kajian yang berbeda, sehingga penggunaan waktu untuk pembahasannya lebih efisien dan pencapaian tujuan pembelajaran diharapkan akan lebih efektif.

Oleh karena itu, berdirinya Program Studi Pendidikan IPA S1 di berbagai perguruan tinggi diharapkan menjadi solusi dari hambatan pelaksanaan kurikulum di pendidikan dasar.

Namun demikian, sebagai program studi yang baru dengan begitu besarnya tantangan karena harus mendidik calon guru IPA terpadu, diperlukan penyesuaian utamanya pada kurikulum agar kualifikasi akademik dan kompetensi guru IPA sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 16 Tahun 2007 dapat dimiliki oleh lulusan. Atas dasar kebutuhan akan kurikulum Pendidikan IPA di perguruan tinggi maka penulis sebagai Pengelola Pendidikan IPA S1 di FMIPA Universitas Negeri Semarang berkeinginan untuk memberikan ide dan gagasan sekaligus mencari saran dan masukan dari berbagai pihak dalam upaya pengembangan kurikulum yang match dengan kebutuhan melalui berbagai pertemuan ilmiah.

IPA Terpadu dan Pembelajarannya

Hakekat IPA meliputi empat unsur utama yaitu:

a. Sikap

Rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar, IPA bersifat open ended.

b. Proses

Prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah meliputi penyusunan

hipotesis, perancangan ekperimen atau percobaan, evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan.

c. Produk

Berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum.

d. Aplikasi

Penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari.

Keempat unsur itu merupakan ciri IPA yang utuh yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dalam proses pembelajaran IPA keempat unsur itu diharapkan dapat muncul, sehingga peserta didik dapat mengalami proses pembelajaran secara utuh, memahami fenomena alam melalui kegiatan pemecahan masalah, metode ilmiah, dan meniru cara ilmuawan bekerja dalam menemukan fakta baru.

Tujuan pembelajaran IPA terpadu sebagai berikut:

a. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran

Dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai peserta didik masih dalam lingkup bidang kajian energi dan perubahnnya, materi dan sifatnya, dan makhluk hidup serta proses kehidupan. Banyak ahli yang menyatakan pembelajaran IPA yang disajikan secara disiplin keilmuan dianggap terlalu dini bagi anak usia 7 – 14 tahun, karena anak pada usia ini masih dalam transisi dari tingkat berpikir operasional konkret ke berpikir abstrak.

Selian itu , peserta didik melihat dunia sekitarnya masih secara holistik. Atas dasar itu maka pembelajaran IPA hendaknya disajikan dalam bentuk yang utuh dan tidak parsial. Disamping itu pembelajaran yang disajikan terpisah-pisah.

Keterpaduan bidang kajian dapat mendorong guru untuk mengembangkan kreativitas tinggi karena adanya tuntutan untuk memahami keterkaitan antara satu materi dengan materi yang lain.

b. Meningkatkan minat dan motivasi

Pembelajaran terpadu memberikan peluang bagi guru untuk mengembangkan situasi pembelajaran yang utuh, menyeluruh, dinamis, dan bermakna sesuai dengan harapan dan kampuan guru, serta kebutuhan dan kesiapan peserta didik. Dalam hal ini, pembelajaran terpadu memberikan peluang bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan tema yang disampaikan. Pembelajaran

48 IPA terpadu dapat mempermudah dan memotivasi peserta didik untuk mengenal, menerima, menyerap, dan memahami keterkaitan atau hubungan antara konsep pengetahuan dan nilai atau tindakan yang termuat dalam tema tersebut. Model pembelajaran yang terpadu dan sesuai dengan kehidupan sehari-hari, peserta didik digiring untuk berpikir luas dan mendalam untuk menangkap dan memahami hubungan konseptual yang disajikan guru.

c. Beberapa kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus

Model pembelajaran IPA terpadu dapat menghemat waktu, tenaga dan sarana serta biaya karena pembelajaran beberapa kompetensi dasar dapat diajarkan sekaligus. Di samping itu, pembelajaran terpadu juga menyederhanakan langkah-langkah pembelajaran. Hal ini terjadi karena adanya proses pemaduan dan penyatuan sejumlah standar kompetensi, kompetensi dasar, dan langkah pembelajaran yang dipandang memiliki kesamaan atau keterkaitan.

Kekuatan pembelajaran IPA terpadu yang dapat dipetik melalui pelaksanaan pembelajaran terpadu antara lain sebagai berikut;

1. Menggabungkan berbagai bidang kajian akan terjadi penghematan waktu, karena ketiga bidang kajian (energi dan perubahannya, materi dan sifatnya, dan makhluk hidup dan proses kehidupan) dapat dibelajarkan sekaligus. Tumpang tindih materi juga dapat dikurangi bahkan dihilangkan,

2. Peserta didik dapat melihat hubungan yang bermakna antar bidang kajian,

3. Meningkatkan taraf kecakapan berpikir peserta didik, kareba peserta didik dihadapkan pada gagasan atau pemikiran yang lebih luas dan lebih dalam ketika menghadapi situasi pembelajaran,

4. Motivasi belajar peserta didik belajar dapat diperbaikai dan ditingkatkan,

5. Membantu menciptkan sturktur kognitif yang dapat menjembatani antara pengetahuan awal peserta didik dengan pengalaman belajar yang terkait,

6. Terjadi peningkatan kerjasama guru antar guru bidang studi terkait,

Pembelajaran IPA terpadu diawali dengan penentuan tema, karena penentuan tema akan

membantu peserta didik dalam beberapa aspek yaitu;

1. Bekerja sama dengan kelompoknya akan lebih bertanggung jawab, berdisiplin, dan mandiri,

2. Lebih percaya diri dan termotivasi dalam belajar bila mereka berhasil menerapkan apa yang telah dipelajari,

3. Lebih memahami dan lebih mudah mengingat karena mereka mendengar, berbicara, membaca, menulis dan melakukan kegitan penyelidikan masalah yang sedang dipelajari, 4. Memperkuat kemampuan berbahasa peserta

didik,

5. Belajar akan lebih baik bila peserta didik terlibat secara aktif melalui tugas proyek, kolaborasi, dan berinteraksi dengan teman, guru, dan dunia nyata.

Oleh karena itu, jika guru hendak melakukan pembelajaran terpadu dalam IPA, sebaiknya memilih tema yang menghubungkaitkan antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat (Depdiknas, 2006).

Pengembangan Kurikulum Pendidikan IPA di Perguruan Tinggi

Pengembangan kurikulum merupakan istilah yang komprehensif, di dalamnya mencakup: perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaan kurikulum sebagai langkah awal membangun kurikulum ketika membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh pendidik dan peserta didik. Penerapan kurikulum mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan (Sudrajat, 2008). Oleh karena itu, pengembangan kurikulum Pendidikan IPA, tidak hanya melibatkan dosen yang terkait langsung dengan perkuliahan, namun di dalamnya perlu melibatkan; pakar kurikulum, guru, orang tua peserta didik, serta unsur-unsur masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan.

Berdasarkan prinsip pengembangan kurikulum dari beberapa sumber, maka dalam

49 pengembangan kurikulum Pendidikan IPA S1 melalui tahapan yang terdiri dari:

1. Relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi yang harus dikuasai oleh peserta didik sebagai calon guru, dan tuntutan serta kebutuhan tersedianya guru yang akan mengajarkan IPA terpadu,

2. Mata kuliah dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi yang memungkinkan untuk berkembang berdasarkan kebutuhan dan tuntutan kompetensi guru di sekolah,

3. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan harus memperhatikan kesinambungan agar tidak terjadi tumpang tindih dengan tingkat pendidikan yang lain, 4. Mendayagunakan kekuatan di prodi sesuai

dengan ketersediaan waktu, biaya, dan memanfaatkan seoptimal mungkin potensi lokal,

Terkait dengan pengembangan Kurikulum Pendidikan IPA di perguruan tinggi, terdapat sejumlah prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu:

1. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab,

2. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender,

3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Oleh karena

itu, semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni,

4. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan di sekolah.

Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan,

5. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.

6. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Desain Kurikulum Pendidikan IPA S1 FMIPA UNNES

Program Studi Pendidikan IPA FMIPA UNNES berdiri tanggal 6 April 2009, sesuai dengan SK penyelenggaraan program studi dari Dikti Nomor 498/D/T/2009 perihal ijin penyelenggaraan Program Studi Pendidikan IPA jenjang Sarjana (S1). Visi yaitu Pendidikan IPA yang unggul dan bermakna (IPA to be excellent and meaningful), sedangkan misinya Mengembangkan sumber daya insani yang unggul dan mengamalkan ke-IPA-an yang bermakna, sehingga memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dan bersaing di era global.

Tujuan dari adanya Program Studi

Pendidikan IPA di FMIPA UNNES yaitu:

(1) Menghasilkan sumber daya insani dalam bidang kependidikan IPA yang unggul, kompetitif, dan berjiwa Pancasila, (2) Menghasilkan dan menerapkan ilmu dalam bidang kependidikan IPA untuk kemaslahatan masyarakat, (3) Mewujudkan keharmonisan dan kelestarian hidup manusia dan lingkungannya serta mampu menyesuaikan diri di era global.

Kurikulum Pendidikan IPA yang dihasilkan untuk menjawab 4 pertanyaan mendasar yang meliputi:

1. Mau dibawa kemana peserta didik?

Lulusan akan menjadi guru untuk jenjang SMP/MTs dan juga SMK yang dapat mengajarkan IPA terpadu sesuai tuntutan kurikulum di sekolah.

2. Dengan menggunakan apa?

50

Tabel 1. Matakuliah yang mendukung kompetensi guru mata pelajaran IPA pada SMP/MTs sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 16 Tahun 2007 di Prodi Pendidikan IPA S1 FMIPA Unnes

No Kompetensi Guru IPA SMP/MTs Matakuliah

1. Memahami konsep-konsep, hukum-hukum, dan teori-teori IPA serta penerapannya secara fleksibel

Fisika Dasar, Kimia Dasar, dan Biologi Umum 2. Memahami proses berpikir IPA dalam mempelajari

proses dan gejala alam

Filsafat Pendidikan IPA 3. Menggunakan bahasa simbolik dalam

mendeskripsikan proses dan gejala alam

IPA Dasar 4. Memahami hubungan antar berbagai cabang IPA,

dan hubungan IPA dengan matematika dan teknologi

IPA Terpadu Kapita Selekta IPA 5. Bernalar secara kualitatif maupun kuantitatif tentang

proses dan hukum alam sederhana

Statistika Dasar 6. Kreatif dan inovatif dalam penerapan dan

pengembangan IPA

Penelitian dan Pengembangan IPA 7. Menguasai prinsip-prinsip dan teori-teori

pengelolaan dan keselamatan laboratorium

Pengelolaan dan Teknik Laboratorium IPA 8. Menggunakan alat-alat ukur, alat peraga, alat hitung,

dan piranti lunak komputer untuk meningkatkan pembelajaran IPA di kelas, dan laboratorium

Produksi Media dan Alat Peraga IPA Teknologi Informasi dan Komunikasi

9. Merancang eksperimen IPA untuk keperluan pembelajaran atau penelitian

Metodologi Penelitian Pendidikan IPA Penelitian dan Pengembangan IPA 10. Melaksanakan eksperimen IPA dengan benar Semua matakuliah inti bidang studi 11. Memahami sejarah perkembangan IPA dan

pikiran-pikiran yang mendasari perkembangan tersebut

Filsafat Pendidikan IPA Bekal yang diberikan melalui; pemberian

matakuliah yang berbasis kompetensi sesuai Undang-undang guru dan dosen no 14 tahun 2005 dan Permendiknas no 16 tahun 2007, selain itu dengan pemberian matakuliah kewirausahaan dan pembekalan soft skill.

3. Dengan cara bagaimana?

Pembelajaran berbasis laboratorium dengan kemandirian belajar dan menerapkan berbagai strategi pembelajaran yang memudahkan menyusun jaringan tema keterpaduan IPA.

4. Bagaimana mengetahui kalau sudah sampai?

Evaluasi kinerja peserta didik ketika melaksanakan Praktek Pengalaman Lapangan dan tiga bulan setelah meluluskan akan melakukan monitoring terhadap penyerapan lulusan di dunia kerja.

Tahapan yang telah dilalui dalam penyusunan kurikulum di Prodi Pendidikan IPA S1 FMIPA Unnes yaitu;

1. Analisis kebutuhan penyediaan guru IPA terpadu di SMP/MTs yang memiliki empat kompetensi dasar sesuai Undang-Undang

Guru dan Dosen No 14 tahun 2005 dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 16 Tahun 2007 tentang kompetensi Guru mata pelajaran IPA di SMP/MTs,

2. Memperhatikan tiga tujuan utama penyelenggaraan prodi,

3. Menganalisis karakteristik peserta didik yang sebagian besar lulusan SMA/MA program IPA, 4. Analisis terhadap pelaksanaan perkuliahan di

tiga jurusan terdahulu yaitu Fisika, Biologi, dan Kimia,

5. Melakukan identifikasi kemampuan lulusan sebagai calon guru IPA terpadu,

6. Sistem penilaian yang mengembangkan asesmen alternatif,

7. Identifikasi strategi perkuliahan yang akan menggunakan berbagai pendekatan yang memudahkan mengintegrasikan jaringan tema.

Setelah melalui tujuh tahapan di atas, diantaranya telah dihasilkan distribusi matakuliah yang disajikan pada Tabel 1.

51 E. PENUTUP

Dari pengembangan kurikulum yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa kurikulum Pendidikan IPA S1 di perguruan tinggi didasarkan pada Undang-Undang Guru dan Dosen No 14 tahun 2005 dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 16 tahun 2007 tentang kompetensi Guru mata pelajaran IPA di SMP/MTs.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Satuan Pendidikan SMA. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP).

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.

Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Sudrajat Akhmad. 2008. Prinsip Pengembangan Kurikulum.

http://akhmadsudrajat.wordpress.com (diakses; 12 Oktober 2010)

Sukmadinata. 1997. Pengembangan Kurikum;

Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sumiyati. 2007. Kebijakan Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Makalah Seminar nasional Dalam Rangka Dies Natalis ke 42 UNNES.

52

RESPON STAKEHOLDER TERHADAP PENYELENGGARAAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA

Garis besar

Dokumen terkait