• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN 1. Subyek penelitian

4. Teknik analisis data

Data skor pre test dan post tes dianalisis dengan menghitung mean dari pre test dan post test kemudian dilakukan perhitungan N gain ternormalisasi menurut rumus dari Hake (Savinem & Scott, 2002).

Penggunaan rumus tersebut dilakukan untuk mengetahui tingkat penguasaan konsep fermentasi dan berpikir kreatif mahasiswa

pada pre test dan post test. Rumus dari Hake (Savinem & Scott, 2002) sebagai berikut:

Ket: % g = persentase gain ternormalisasi Spost = skor tes akhir

Spre = skor tes awal Smax = skor maksimum HASIL DAN PEMBAHASAN Penguasaan Konsep Mahasiswa

Sebelum dan sesudah pembelajaran, penguasaan konsep mahasiswa tentang fermentasi dites.

Setiap mahasiswa mempunyai dua jenis skor tes, yaitu skor pre test dan post tes. Peningkatan penguasaan konsep fermentasi dapat diketahui dengan menghitung rata-rata skor gain ternormalisasi (N Gain). Setelah melalui proses analisis data, peningkatan penguasaan konsep fermentasi termasuk meningkat sebesar 32,16%.

Persentase jumlah mahasiswa yang menguasai konsep fermentasi pada pretes dan postes disajikan pada Grafik 1.

Grafik 1: Peningkatan penguasaan konsep mahasiswa dengan pembelajaran berbasis proyek Konsep yang ditekankan adalah Fermentasi,

pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bersifat kontekstual artinya lebih mengacu pada contoh yang dijumpai kehidupan sehari-hari. Bentuk tes yang diajukan ke mahasiswa adalah Selected Responses Assessment dalam bentuk menjodohkan, pilihan ganda, dan isian singkat.

Stiggins (1994) menyatakan bahwa kekuatan utama dari ke tiga penilaian (Selected Responses Assessment) adalah kemampuannya untuk mengungkap atau menentukan macam-macam kemampuan khusus siswa dengan tepat dan efisien, apabila benar-benar dikembangkan

dengan benar sesuai aturan, tingkat berpikir rendah sampai yang tinggi dapat diukur, dengan proporsi yang sebanding sesuai dengan jenjang pendidikan. Tujuan dari bentuk tes yang diajukan

adalah untuk mengetahui

pengetahuan/kemampuan mahasiswa sesuai dengan ranah kognitif yang diajukan oleh Bloom yaitu Remember (C1), Understand (C2), Apply (C3), Analyze (C4), Evaluate (C5), dan Create (C6), istilah-istilah tersebut dikenal dengan Taxonomi Bloom Revision (Krathwohl, 2001). Berikut sebaran aspek kognitif soal menurut Bloom revisi.

63

Tabel 1. Sebaran soal menurut Bloom revisi

Konsep Indikator Ranah kognitif

No soal C1 C2 C3 C4 C5 C6

Fermentasi Proses fermentasi √

Persamaan reaksi fermentasi alkohol √

Tujuan fermentasi √

Urutan pembuatan tempe √ Mikroba pada

fermentasi

Starter ragi pada tempe √

Mikroba pada tempe √

Jenis mikroba √

Fungsi mikroba pada fermentasi susu √ Tujuan penambahan bakteri √

Penyebab roti mengembang √

Peranan mikroba √

Nutrisi mikroba Peranan nutrisi bagi mikroba √

Nutrisi mikroba √

Faktor liingkungan (suhu) fermentasi

3 faktor lingkungan pembuatan tempe

√ Faktor suhu menghasilkan kadar

alkohol pada tapai ketan

√ Faktor suhu rendah dalam proses

fermentasi

Tempe menjadi lunak √

Pelubangan pada pembungkusan tempe

√ Fermentasi

alami

Fungsi garam pada kecap ikan dan terasi

√ Timbulnya aroma dan rasa pada

kecap ikan dan terasi

√ Contoh makanan fermentasi alami √ √ Kerusakan

makanan fermentasi

Penyebab kerusakan makanan fermentasi

Manfaat tempe rusak √

Roti ditumbuhi jamur √

Manfaat roti yang sudah rusak √ Menyusun

rancangan kegiatan praktikum

Identifikasi sumber pangan Merancang produk makanan fermentasi

Menganalisis gambar

Merancang kegiatan mengolah limbah makanan fermentasi

64

Grafik 2: Peningkatan berpikir kreatif mahasiswa setelah pembelajaran berbasis proyek Berpikir kreatif

Untuk mengukur berpikir kreatif mahasiswa, mahasiswa diberikan tes pada saat pre test dan post test bersamaan dengan tes penguasaan konsep fermentasi. Setelah melalui analisis data, terjadi peningkatan berpikir kreatif mahasiswa sebesar 32,43%. Persentase berpikir kreatif mahasiswa pada pretes dan postes disajikan pada Grafik 2.

Berpikir merupakan suatu proses aktivitas mental suatu individu untuk memperoleh pengetahuan (Costa, 1985). Proses yang dimaksud merupakan aktivitas kognitif yang disadari dan diupayakan sehingga terjadi perolehan pengetahuan bermakna. Anderson et al (2001) menjelaskan adanya dua tujuan penting dalam pendidikan yaitu menaikkan retensi dan transfer pengetahuan. Retensi merupakan suatu kemampuan dalam mengingat materi pada waktu yang silam dengan jumlah yang banyakn sedangkan transfer pengetahuan merupakan suatu kemampuan menggunakan apa yang telah dipelajari untuk menyelesaikan permasalahan baru, menjawab pertanyaan baru, dan memfasilitasi pembelajaran suatu materi baru.

Berpikir merupakan suatu kegiatan mental yang dialami seseorang apabila mereka dihadapkan pada suatu masalah atau situasi yang harus dipecahkan. Ruggiero (1998; dalam Siswono, 2009) mengartikan berpikir sebagai suatu aktivitas mental untuk membantu memformulasikan atau memecahkan suatu

masalah, membuat suatu keputusan, atau memenuhi hasrat keingintahuan (fulfill a desire to understand). Pendapat ini menunjukkan bahwa ketika seseorang merumuskan suatu masalah, memecahkan masalah, ataupun ingin memahami sesuatu, maka ia melakukan suatu aktivitas berpikir. Berpikir kreatif dapat juga dipandang sebagai suatu proses yang digunakan ketika seorang individu mendatangkan atau memunculkan suatu ide baru. Ide baru tersebut merupakan gabungan ide-ide sebelumnya yang belum pernah diwujudkan (Infinite Innovation Ltd, 2001). Pengertian ini lebih memfokuskan pada proses individu untuk memunculkan ide baru yang merupakan gabungan ide-ide sebelumnya yang belum diwujudkan atau masih dalam pemikiran.

Dalam pelaksanaan pembelajaran, banyak strategi/pendekatan, dan metode pembelajaran yang digunakan dengan tujuan agar siswa mampu memahami materi dan meningkatkan hasil belajar siswa, salah satu diantaranya adalah Pembelajaran berbasis proyek. Pembelajaran berbasis proyek merupakan metode mengajar sistematik yang dapat melibatkan siswa untuk belajar memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui suatu pengembangan proses inkuiri yang distrukturisasi secara kompleks, dengan pertanyaan otentik dan didisain dengan hati-hati untuk memperoleh produk (BIE, 2007). Pembelajaran berbasis proyek memungkinkan mahasiswa memperluas

65 wawasan pengetahuan dari suatu mata pelajaran tertentu. Pengetahuan yang diperoleh menjadi lebih berarti dan kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik, karena pengetahuan itu bermanfaat baginya untuk lebih mengapresiasi lingkungannya, lebih memahami dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-sehari. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembelajaran berbasis proyek adalah sebuah pembelajaran yang relevan dengan melibatkan aspek lingkungan tempat mahasiswa berada dan belajar dengan melibatkan kreativitas yang ada dalam diri mahasiswa.

SIMPULAN DAN SARAN

Berpikir kreatif merupakan proses individu untuk memunculkan ide baru yang merupakan gabungan ide-ide sebelumnya yang belum diwujudkan atau masih dalam pemikiran.

Pembelajaran berbasis proyek memungkinkan mahasiswa memperluas wawasan pengetahuan dari suatu mata pelajaran tertentu. Pengetahuan yang diperoleh menjadi lebih berarti dan kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik, karena pengetahuan itu bermanfaat baginya untuk lebih mengapresiasi lingkungannya, lebih memahami dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-sehari.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, L.W & Krathwol, D.R (eds). (2001). A Taxonomy for Learning Teaching and

Assesing. A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. New York: Longman.

Borg, W.R., et.al. (2003). Educational Research an Introduction; Seventh Edition. New York:

Longman Inc

Buck Institut of Education (BIE). (2007). What Is Project Based Learning?. [On Line]. Tersedia di

http://www.bie.org/index.php/site/pjbl/pjbl handbook/. [28 Februari 2010].

Costa, A.L. (1985). Teacher Behaviors that Enable Student Thinking (in) Costa, A.L (Eds), Developing Mind: A Resource book for teaching thinking. Alexandria ASDC.

Infinite Innovation. Ltd. (2001). Creativity and Creative Thinking. [On Line]. Tersedia di http://www.brainstorming.co.uk/. [13 April 2001].

Savinem, A & Scott, P. (2002). The Force Concept:

A Tool For Monitoring Student Learning.

Physics Education. 39 (1), 45-42.

Siswono, T.Y.E. (2009). Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa. [On

Line]. Tersedia di

http://suaraguru.wordpress.com. [16 Januari 2010].

Wikipedia. (2008). Project-Based Learning. [On Line]. Tersedia di http://en.wikipedia.org.

[03 Juni 2009].

66

KOMPETENSI MAHASISWA PGSD DALAM ASESMEN IPA Budhi Akbar* & Nuryani Y. Rustaman**

*UHAMKA, [email protected]

**Universitas Pendidikan Indonesia Abstrak

Studi kompetensi mahasiswa PGSD dalam asesmen IPA di UHAMKA, Universitas Bengkulu dan Universitas Pendidikan Indonesia dilakukan dengan melibatkan mahasiswa S-1 PGSD (n = 88) semester VII tahun akademik 2010-2011 sebagai subjek penelitian. Perangkat tes penguasaan konsep asesmen dan konsep dasar biologi, tes KPS, performance assessment dalam menyusun asesmen konsep IPA dan KPS, angket/daftar pertanyaan serta panduan wawancara individual digunakan sebagai instrumen penelitian.

Hasilnya menunjukkan bahwa secara umum kompetensi mahasiswa dalam asesmen IPA masih rendah, yakni dalam hal penguasaan konsep asesmen IPA (48,8±11,1) dan kemampuan dalam menyusun asesmen konsep IPA (47±8,5), bahkan sangat rendah dalam kemampuan menyusun asesmen KPS (28,2±16,8).

Penguasaan konsep dasar IPA dan KPS merupakan faktor yang berkaitan dengan kemampuan dalam asesmen IPA, di samping latar belakang jurusan yang dipilih pada saat di SLTA. Analisis korelasi antara nilai MK Evaluasi Pembelajaran dengan skor kompetensi asesmen IPA mahasiswa menunjukkan matakuliah ini kurang memberi kontribusi optimal terhadap pembentukan kompetensi asesmen IPA. Hasil penelusuran melalui angket dan wawancara mengungkapkan mahasiswa masih mengalami kesulitan dalam memilih instrumen penilaian yang sesuai dengan indikator, menafsirkan kata kerja operasional pada indikator/tujuan pembelajaran, dan kurangnya penguasaan teknik penilaian baik untuk mengukur konsep IPA maupun KPS. Hal-hal tersebut merupakan materi bahasan pada matakuliah Evaluasi Pembelajaran.

Untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa PGSD dalam asesmen IPA, perlu peningkatan praktek/latihan pembuatan instrumen penilaian IPA dalam materi kuliah Evaluasi Pembelajaran dan perbaikan pembekalan konsep dan KPS melalui matakuliah konten IPA. Alternatif untuk menempatkan Evaluasi Pembelajaran sebagai matakuliah konsentrasi bidang di PGSD perlu dipikirkan.

Kata kunci : Kompetensi Asesmen IPA, MK Evaluasi Pembelajaran, Konsep IPA, Keterampilan Proses Sains

PENDAHULUAN

Peraturan Mendiknas No. 20 tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan mengamanatkan, penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan, bertujuan untuk memantau proses dan kemajuan belajar peserta didik serta untuk meningkatkan efektivitas kegiatan pembelajaran (http://www.snapdrive.net/files/579300/standar _penilaian_pendidikan.pdf). Salah satu prinsip yang dijadikan dasar pelaksanaannya adalah penilaian bersifat menyeluruh dan berkesinambungan. Artinya, penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik.

Rustaman (2006) menyarankan, penilaian IPA hendaknya mengukur pengetahuan dan

konsep, keterampilan proses sains (KPS), dan penalaran tingkat tinggi (berpikir kritis, logis, kreatif) serta menggunakan penilaian portofolio dan asesmen kinerja untuk KPS dan kemampuan kerja ilmiah selama pembelajaran IPA. Carin (1993) dan Gega (1994) mengusulkan penggunaan tes tertulis, laporan tertulis tentang proyek yang dikerjakan murid, portofolio serta observasi guru dan kinerja murid untuk penilaian IPA di sekolah dasar. Oleh karenanya sangatlah logis apabila guru atau calon guru memiliki kemampuan mengenai berbagai teknik penilaian IPA tersebut.

Menurut Sumaryoto (2005) 80% guru SD tidak paham dalam penyusunan sistem penilaian kelas, tidak paham aspek cakupan penilaian kelas (40%), konsep dan pengertian penilaian kelas (33%), dan 27% terkait dengan fungsi penilaian kelas (http:www.suaramerdeka.com

67 /harian/0512/21/kot7.htm). Di SD Lab IKIP Singaraja, Suastra (2005) mendapati guru sains hanya memfokuskan penilaian dalam bentuk pengetahuan yang dilakukan dengan menggunakan tes hasil belajar (paper-and-pencil). Pengetahuan dan keterampilan guru untuk menilai sikap dan keterampilan proses sains juga kurang memadai.

Penelitian berkenaan dengan literasi asesmen guru SD lulusan S-1 di DKI, Banten dan Bengkulu menunjukkan sebagian besar guru (71,4%) menganggap asesmen dilakukan untuk tujuan sumatif. Sedangkan yang menyatakan asesmen untuk tujuan formatif dan diagnostik hanya 24,6 % dan 4% (Akbar & Rustaman, 2009, 2010b). Para guru masih berpandangan bahwa kebutuhan terbesar untuk melakukan asesmen adalah untuk keperluan sumatif (assessmen of learning). Padahal saat ini asesmen yang berorientasi untuk pengembangan (assessment for learning) dan metakognisi (assessement as learning) lebih dibutuhkan guna meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah (Volante &

Fazio, 2007).

Dalam penggunaan berbagai teknik asesmen yang dilakukannya saat ini, para guru di Jakarta, Banten dan Bengkulu masih mengutamakan penggunaan tes pilihan, essay dan komunikasi personal. Teknik asesmen portofolio, teknik observasi dan asesmen kinerja menempati level penggunaan lebih rendah(Akbar

& Rustaman, 2009, 2010b). Fakta ini relevan dengan temuan terdahulu yang menunjukkan dominansi penggunaan tes tertulis dalam pelaksanaan asesmen oleh guru (Suastra, 2005;

Akbar, 2006) dan calon guru (Wulan, 2007).

Penelitian tentang pemahaman asesmen guru dilakukan terhadap guru SD lulusan S-1 PGSD di Kota Bengkulu (Akbar & Rustaman, 2010b). Dari 8 komponen pemahaman konsep asesmen IPA, hanya pada komponen Penilaian Teknik Non Tes pengetahuan guru tergolong cukup. Selebihnya penguasaan konsep asesmen IPA guru tergolong kurang. Sementara di Pandeglang, Jakarta Utara, Bekasi dan Karawang guru lulusan PGSD S-1 mengalami kesulitan dalam membuat alat penilaian KPS. Faktor utama yang menjadi kendala adalah pemahaman jenis-jenis KPS. Berikutnya adalah penguasaan konsep dasar IPA dan penguasaan teknik penilaian (Akbar

& Rustaman, 2010a).

Pengukuran kemampuan mahasiswa yang berada di ambang kelulusan dalam asesmen IPA akan memberi gambaran efektivitas pembekalan kompetensi tersebut di PGSD.

Penelusuran berbagai faktor yang berpotensi mempengaruhi kemampuan asesmen IPA mahasiswa dan menggali pengalaman dosen serta mahasiswa dalam mengikuti proses pembekalannya, diharapkan akan memberi arah terhadap terbentuknya sebuah model usulan untuk mengembangkan program perkuliahan berkenaan dengan asesmen IPA.

Subyek penelitian adalah mahasiswa semester VII PGSD dari 3 perguruan tinggi sebanyak 88 orang, masing-masing 24 orang dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, 30 orang dari Universitas Bengkulu (UNIB) dan 34 orang dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr.

Hamka (UHAMKA) Jakarta.

Kompetensi asesmen IPA mahasiswa dilihat melalui penguasaan konsep asesmen IPA, kemampuan mahasiswa dalam menyusun asesmen konsep IPA dan asesmen keterampilan proses sains (KPS). Untuk itu pengumpulan data dilakukan melalui tes penguasaan konsep dan performance assessment.

Studi dokumentasi dilakukan terhadap nilai yang diperoleh mahasiswa pada Matakuliah Evaluasi Pembelajaran, tes digunakan untuk mengukur penguasaan konsep dasar biologi (KDB) dan keterampilan proses sains (KPS).

Angket atau daftar pertanyaan dipergunakan untuk mendapatkan tanggapan mahasiswa terhadap proses pembekalan asesmen IPA yang sudah dialaminya. Sedangkan kesulitan dan kendala dalam pembekalan asesmen IPA digali melalui wawancara dengan mahasiswa dan dosen yang terlibat dalam proses tersebut.

Analisis data melalui statistik deskriptif dilakukan terhadap data-data yang dapat diolah dalam bentuk persentase. Untuk menelaah hubungan diantara dua faktor digunakan uji korelasi produk momen. Sedangkan untuk uji beda diantara dua nilai rata-rata dipergunakan uji t.

68 PEMBAHASAN

A. Kemampuan Mahasiswa PGSD dalam

Garis besar

Dokumen terkait