• Tidak ada hasil yang ditemukan

DALAM PEMBELAJARAN FISIKA

A. Metode dan Desain Penelitian

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimen semu, yang bertujuan untuk mengetahui kemungkinan adanya hubungan sebab akibat antara variabel-variabel dalam penelitian. Adapun variabel-variabel bebas dalam penelitian ini adalah model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat sedangkan yang menjadi variabel terikatnya adalah prestasi dan minat belajar siswa. Metode quasi eksperimen (eksperimen semu) bertujuan untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol atau memanipulasi semua variabel yang relevan

126 Desain penelitian yang digunakan adalah One Group Pretest-Posttest design.

Secara bagan desain penelitian yang digunakan dapat digambarkan sebagai berikut :

Tabel 1. Desain Penelitian One Group Pretest-Posttest design

Pretest Treatment Posttest

T1 X T1

Keterangan : T1 : tes awal (pretest) seri I; X : perlakuan (treatment) berupa pembelajaran dengan STM sebanyak tiga pertemuan; T1: tes akhir (posttest) seri I

B. Prosedur Penelitian

Langkah-langkah proses penelitian dan pengembangan model meliputi tahap persiapan penelitian, tahap pelaksanaan studi dan tahap akhir.

1. Tahap Persiapan

a. Studi pustaka, dilakukan untuk memperoleh landasan teoritis yang relevan.

b. Studi kurikulum, dilakukan untuk memperoleh data mengenai tuntutan kurikulum yang harus dikuasai oleh siswa, kedalaman dan keluasan materi serta alokasi waktu yang diperlukan.

c. Studi pendahuluan, dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data mengenai kondisi dilapangan yang mencakup kondisi lokasi penelitian, kondisi siswa dan alat bantu pengajaran.

d. Wawancara kepada guru fisika.

e. Menyusun Rencana Pembelajaran dan Alat Evaluasi.

2. Tahap Pelaksanaan

Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan pada tahap pelaksanaan adalah:

a. Melakukan observasi, untuk mengetahui data awal siswa.

b. Pelaksanaan uji coba instrumen, untuk memperoleh instrumen penelitian yang baik.

c. Melakukan Pretest, untuk memperoleh data prestasi awal belajar siswa sebelum melakukan pembelajaran.

d. Memberikan perlakuan, berupa pembelajaran fisika dengan model pembelajaran STM.

e. Melakukan posttest diakhir pembelajaran, untuk memperoleh data prestasi belajar siswa setelah melakukan pembelajaran.

f. Memberikan angket kepada siswa.

g. Mengolah data hasil pretest dan postest, angket, dan hasil observasi.

Hasil Penelitian

Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh beberapa observer mengenai keterlaksanaan proses pembelajaran, seluruhnya fase-fase dalam model pembelajaran STM ini dapat disimpulkan hampir terlaksana. Hal tersebut dapat dilihat pada lembar observasi pembelajaran yang diisi oleh observer pada saat penelitian dan yang menunjukan bahwa guru dan siswa dapat bekerjasama dengan baik, namun untuk aktivitas yang dilakukan oleh siswa masih terdapat kekurangan, yakni perhatian siswa pada saat pembelajaran terutama pada fase pembentukan konsep dan keaktifan dalam mengikuti kegiatan percobaan atau eksperimen.

Pembelajaran dengan model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) dimulai dengan memunculkan isu atau permasalahan mengenai teknologi yang berkembang di masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Penyajian permasalahan mengenai perkembangan teknologi yang terdapat di masyarakat disajikan dengan fenomena dalam kegiatan demonstrasi serta dalam bentuk diskusi tanya jawab. Selanjutnya untuk lebih memahami konsep sains yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi dalam masyarakat, guru mengkondisikan siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil beranggotakan 6-7 orang untuk melakukan kegiatan penyelidikan dengan arahan dan bimbingan guru. Tiap kelompok memperoleh lembar kegiatan siswa (LKS) yang memuat arahan dalam melakukan kegaitan penyelidikan disertai pertanyaan-pertanyaan untuk didiskusikan secara berkelompok.

Kegiatan penyelidikan ini bertujuan agar siswa dapat mengkonstruksi atau membentuk konsep sendiri melalui kegiatan pengalaman belajar dan pengetahuan yang mereka miliki sebelumnya.

127 Pembelajaran diawali dengan demonstrasi yang dilakukan oleh perwakilan siswa di depan kelas, selama kegiatan demonstrasi siswa dibimbing untuk mengajukan hipotesis awal lewat pertanyaan arahan yang diajukan oleh guru. Guru meminta siswa untuk menanggapi demonstrasi yang dilakukan dan kaitannya dengan teknologi yang ada di masyarakat serta pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari. Penyajian fenomena melalui kegiatan demonstrasi ternyata dapat memotivasi siswa, karena siswa dapat menyaksikan secara langsung pengamatan produk teknologi yang ada, dan pada akhirnya siswa akan menjadi paham.

Pembahasan .

Materi yang dijadikan topik pembelajaran dalam pengolahan data gabungan ini adalah cermin datar, cermin cekung, dan cermin cembung. Data diambil dari soal-soal yang masih dapat digunakan dalam pembelajaran. Dari 18 soal tentang cermin, hanya 15 soal yang digunakan dalam pengolahan data ini, dengan indikator yang telah disesuaikan dengan kurikulum. Dimana desain pembelajaran telah dituangkan dalam rencana pembelajaran yang dapat terlihat pada halaman lampiran.

1. Rata-rata Skor Tes Ranah Kognitif Pada Aspek Ingatan (C1)

Soal yang diberikan sebanyak tiga buah dengan aspek yang diuji yaitu kemampuan dalam mengingat (C1), hasil pengolaha data dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Rata-rata Skor Tes Ranah Kognitif Pada Aspek Ingatan (C1)

Dari tiga soal yang menggunakan kemampuan mengingat, ternyata skor pretest yaitu 1,61 dan skor postes yaitu 2,67. Sedangkan skor rata-rata gain yang dinormalisasi yaitu 0,76.

Skor rata-rata gain ini termasuk dalam kategori tinggi.

1. Rata-rata Skor Tes Ranah Kognitif Pada Aspek Pemahaman (C2)

Soal yang diberikan sebanyak lima buah dengan aspek yang diuji yaitu pemahaman (C2), hasil pengolaha data dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Rata-rata Skor Tes Ranah Kognitif Pada Aspek Pemahaman (C2)

pretest posttest <g>

1,61

2,67

0,76

pretest posttest <g>

2,47

4,47

0,79

128 Aspek pemahaman ini dianalisis pada lima soal fisika yang diberikan , ternyata setelah dianalisis skor pretes didapat yaitu 2,47 dan skor posttes yaitu 4,47. Sedangkan skor rata-rata gain yang di normalisasi yaitu 0,79.

2. Rata-rata Skor Tes Ranah Kognitif Pada Aspek Aplikasi (C3)

Soal yang diberikan sebanyak enam buah dengan aspek yang diuji yaitu aplikasi (C3), hasil pengolaha data dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar 3. Rata-rata Skor Tes Ranah Kognitif Pada Aspek Aplikasi (C3) Seperti tampak pada gambar di atas

ternyata setelah dianalisis skor pretes didapat yaitu 1,64 dan skor posttes yaitu 5,47.

Sedangkan skor rata-rata gain yang di normalisasi yaitu 0,88.

Berdasarkan grafik pada Gambar 1, 2 dan 3 diatas yang menunjukan prestasi belajar siswa pada aspek ingatan (C1), pemahaman (C2) dan aplikasi (C3), menunjukan peningkatan prestasi yang baik, hal ini terlihat dari skor rata-rata gain yang dinormalisasi, gain termasuk dalam kategori tinggi. Analisis di atas menyatakan bawha model pembelajaran STM ternyata dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada ketiga aspek (ingatan, pemahaman, dan aplikasi).

Secara keseluruhan peningkatan prestasi belajar siswa yang diukur dengan menggunakan 14 soal pembelajaran, dapat dilihat pada Gambar 4.

Berdasarkan Gambar 4. di atas menunjukan bahwa rata-rata nilai prestasi belajar siswa sebelum dilakukan pembelajaran (pretest) lebih kecil dibandingkan dengan nilai rata-rata nilai prestasi belajar siswa setelah diimplementasikan model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat. Peningkatan nilai prestasi belajar siswa ditunjukan dengan nilai gain yang dinormalisasi sebesar 0.7. Berdasarkan kategori peningkatan gain normalisasi ternyata peningkatan prestasinya termasuk dalam kategori tinggi yaitu 0.7.

Gambar 4. Rekapitulasi Nilai Rerata Pre-test dan Post-test posttest

Pretest <g

pretest posttest <g>

1,64

5,47

0,88

129 Berdasarkan pembahasan data prestasi belajar tersebut dapat simpulkan bahwa pembelajaran (STM ) berpengaruh positif terhadap peningkatan prestasi belajar siswa.

Peningkatan nilai disebabkan oleh konsep-konsep yang dipelajari berangkat dari permasalahan di kehidupan sehari-hari dan didiskusikan dalam proses pembelajaran, sehingga siswa termotivasi untuk dapat memecahkan permasalahan yang terjadi dilingkungannya.

Pada saat pembelajaran, guru menyadari kesalahan-kesalahan yang dilakukan terutama dalam mengatur waktu pada saat melaksanakan pembelajaran, kemudian guru berusaha untuk memperbaiki pada pembelajaran selanjutnya.

begitupun dengan para siswa pada awal pembelajaran mereka banyak membuang-buang

waktu dalam melakukan percobaan, yang pada akhirnya saat pengerjaan posttest sebagian siswa banyak yang menjawab dengan cara menebak karena mereka terburu-buru oleh jam pelajaran yang telah habis dan ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan nilai mereka rendah.

C. Respon Siswa dan Guru Terhadap Model

Garis besar

Dokumen terkait