METODE PENELITIAN 1. Subyek penelitian
A. Kemampuan Mahasiswa PGSD dalam Asesmen IPA
1. Prestasi Mahasiswa pada Matakuliah (MK) Evaluasi Pembelajaran
Tabel 1 adalah rekapitulasi hasil penilaian terhadap kualitas instrumen penilaian buatan mahasiswa dari ketiga LPTK (n=59). Melihat hasil pada tabel 1, tampaknya kemampuan rata-rata responden untuk dapat melakukan penilaian IPA masih belum sesuai dengan harapan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16 Tahun 2007 tentang Standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru menegaskan guru di SD harus memiliki kemampuan dalam menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar serta memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi tersebut untuk kepentingan pembelajaran, sebagai bagian dari kompetensi pedagogiknya (http: www.bsnpindonesia.org/files/dokumen /LampiranPermenNo.16 Tahun 2007 .pdf).
Apabila dibandingkan, kemampuan mahasiswa PGSD UHAMKA dalam asesmen IPA cenderung lebih rendah dari mahasiswa PGSD
UNIB dan UPI. Salah satu penyebabnya diduga dari kualitas masukan yang diterima. Sistem rekrutmen mahasiswa di UHAMKA yang merupakan perguruan tinggi swasta belum bisa seketat yang dilakukan UNIB dan UPI sebagai LPTK negeri, sehingga perbedaan ini berdampak pada perbedaan kualitas input yang diterima.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kemampuan dalam asesmen IPA
1. Prestasi Mahasiswa pada Matakuliah (MK) Evaluasi Pembelajaran
Kemampuan mahasiswa dalam asesmen yang diperoleh dari PGSD dengan indikator nilai MK Evaluasi Pembelajaran seharusnya memiliki hubungan sebab akibat dengan kemampuan Gambar 1. Persentase Penguasaan Konsep Asesmen IPA Mahasiswa PGSD Semester
VII tahun 2010/2011 (n=88) dari Responden Total (T), UPI (I) , UNIB (B) dan UHAMKA (A).
Gambar 2. Persentase Kemampuan Menyusun Instrumen Asesmen IPA Mahasiswa PGSD Semester VII tahun 2010/2011 (n=88) dari Responden Total (T), UPI (I), UNIB (B) dan UHAMKA (A).
70
Tabel 1. Distribusi responden dari ketiga LPTK (n=59) berdasarkan skor yang diperoleh (skala 1-5) pada aspek-aspek kemampuan menyusun instrumen asesmen IPA.
No Aspek yang dinilai Skor
1 2 3 4 5 %
1 Kejelasan pokok soal/kemampuan merumuskan pertanyaan/ menyajikan konsep dan pilihan jawaban
1 11 22 23 2 3,24 64,8 2 Kelengkapan instrument penilaian
(rubrik, kunci jawaban, penyekoran) 1 23 14 19 2 2,97 59,4 3 Kesesuaian antara jenis penilaian yang
dipilih dengan indikator – KD – SK 1 3 39 14 2 3,22 64,4 4 Kesesuaian antara setiap butir
instrument penilaian dengan indikator/tujuan pembelajaran
1 23 21 13 1 2,83 56,6
Gambar 3. Hubungan antara Nilai MK Evaluasi Pembelajaran dengan Penguasaan Konsep Asesmen IPA Mahasiswa PGSD Semester VII ] 2010/ 2011 (n=87) dari Responden Total (T), UPI (I), UNIB (B) dan UHAMKA (A).
asesmen IPA yang diukur dalam penelitian ini.
Namun ternyata hal tersebut tidak sesuai dengan harapan. Hasil analisis melalui teknik korelasi produk momen menunjukkan tingkat hubungan kedua faktor tersebut sangat rendah dan tidak signifikan (r= -0,11 pada α=0,05 dan n=87). Hal ini juga terjadi pada data dari masing-masing perguruan tinggi.
Nilai MK Evaluasi Pembelajaran juga praktis tidak berhubungan dengan kemampuan mahasiswa dalam menyusun instrumen penilaian konsep IPA dan KPS di UHAMKA (n=33) dan UPI (n=24). Hal ini mengindikasikan kurangnya kontribusi bekal yang diperoleh mahasiswa melalui matakuliah ini terhadap kemampuannya dalam menyusun instrumen penilaian, baik untuk mengukur konsep IPA maupun KPS.
Hasil yang agak berbeda diperoleh dari UNIB (n=30). Koefisien korelasi antara nilai MK Evaluasi Pembelajaran mahasiswa dengan
kemampuannya dalam menyusun instrumen penilaian konsep IPA tergolong cukup (r= 0,41).
Namun demikian koefisien korelasi antara MK Evaluasi Pembelajaran dengan kemampuan menyusun instrumen penilaian KPS masih sangat rendah (r= 0,12).
Kurangnya kontribusi MK Evaluasi Pembelajaran terhadap kemampuan menyusun asesmen konsep IPA mahasiswa di UPI dan UHAMKA, serta sebaliknya adanya kontribusi matakuliah ini terhadap kemampuan yang sama pada mahasiswa UNIB ternyata relevan dengan respon mahasiswa pada saat diminta penilaiannya terhadap kontribusi matakuliah-matakuliah di PGSD dalam membekali kemampuan melakukan asesmen IPA.
Berdasarkan urutan kontribusi, mahasiswa dari UPI hanya menempatkan MK Evaluasi Pembelajaran pada urutan terakhir dari 6 matakuliah yang dijadikan alternatif dengan skor
71 penilaian 7,4 pada skala 1-10, sedangkan di UHAMKA matakuliah ini menempati urutan keempat dengan skor 8. Di UNIB, rankingnya ada di urutan ketiga dengan skor 8,3.
Gambar 4. Hubungan antara Nilai Matakuliah Evaluasi Pembelajaran dengan Persentase Kemampuan Menyusun Asesmen Konsep IPA Mahasiswa PGSD Semester VII tahun 2010/2011 (n=87) dari UPI (I), UNIB (B) dan UHAMKA (A).
Gambar 5. Hubungan antara Nilai Matakuliah Evaluasi Pembelajaran dengan Persentase Kemampuan Menyusun Asesmen KPS Mahasiswa PGSD Semester VII tahun 2010/2011 (n=87) dari UPI (I), UNIB (B) dan UHAMKA (A).
Evaluasi Pembelajaran merupakan matakuliah utama yang diharapkan mampu membangun kemampuan dasar mahasiswa dalam melakukan asesmen. Namun demikian gambaran kompetensi asesmen IPA mahasiswa yang terukur dalam penelitian ini dapat dikatakan tidak menggambarkan pencapaian nilai yang diperoleh dalam MK Evaluasi Pembelajaran. Ini mengindikasikan mahasiswa memiliki masalah pada saat harus menggunakan kemampuan dasar asesmennya dalam konteks IPA. Kemungkinan besar ini terjadi karena strategi pembekalan melalui matakuliah Evaluasi Pembelajaran yang cenderung terlalu bersifat teoritis, dan kurang melatih siswa untuk menerapkannya dalam mata
pelajaran tertentu, termasuk IPA. Ini ditunjang oleh data dari hasil tanggapan mahasiswa pada saat diminta mengajukan saran untuk pengelola PGSD berkenaan dengan upaya lebih meningkatkan kualitas kompetensi mahasiswa dalam asesmen IPA. Mereka menilai upaya yang paling harus dilakukan adalah latihan pembuatan berbagai instrumen penilaian IPA(Jawaban Hasil Wawancara, 2010).
Hasil analisis silabi MK Evaluasi Pembelajaran di PGSD UHAMKA mencatat antara lain :
a. Dalam konteks pembekalan asesmen IPA secara khusus, matakuliah ini kurang dapat menjawab kebutuhan khas IPA, seperti tidak
72 adanya bahasan tentang keterampilan proses sains dan sikap ilmiah sebagai sasaran penilaian, serta berbagai teknik penilaian yang spesifik digunakan dalam IPA.
b. Tidak dinyatakannya secara jelas tentang rencana uji coba penilaian di SD menimbulkan keraguan akan diperolehnya pengalaman langsung mahasiswa dalam melakukan penilaian dalam kondisi sebenarnya.
Pelaksanaan ujicoba yang dilanjutkan dengan pengolahan dan analisis hasil penilaian buatannya sendiri yang tentu saja spesifik untuk mata pelajaran tertentu, termasuk IPA, akan membuat mahasiswa lebih terasah kompetensinya dalam melakukan asesmen. Di Amerika Serikat ini merupakan indikator kompetensi dalam asesmen IPA bagi calon guru (NSTA & AETS, 1998)
c. Penempatan matakuliah ini pada semester 4 pada saat mahasiswa belum memilih IPA sebagai konsentrasi bidangnya, membuat mahasiswa kesulitan untuk mengintegrasikan pemahamannya tentang konsep penilaian dengan konten bidang studi. Perlu dipikirkan kemungkinan menempatkan matakuliah ini pada semester 5, seperti yang dilakukan UPI dan UNIB.
2. Penguasaan Konsep Dasar Biologi (KDB) dan