Kooperatif tipe STAD
Rekapitulasi keterlaksanaan model pembelajaran STAD dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 6. Rekapitulasi Keterlaksanaan Model Pembelajaran Kooperatif STAD Pertemuan
ke-
Persentase Keterlaksanaan
(%)
Kriteria
1 73,2 Baik
2 94,6 Sangat Baik
3 100 Sangat Baik
Rata-rata 89,3 Sangat Baik Keterlaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat juga dilihat pada gambar berikut.
Gambar 2. Diagram Keterlaksanaan Model Pembelajaran Kooperatif STAD
Pertemuan pertama membahas tentang materi pengaruh kalor terhadap perubahan suhu suatu zat. Persentase keterlaksanaan model pembelajaran hanya mencapai 73,2 %. Hal ini karena faktor pengaturan waktu yang dilakukan oleh guru kurang maksimal dalam setiap tahapan dalam model pembelajaran, juga ada beberapa siswa yang belum terampil dalam penggunaan alat-alat praktikum sehingga melakukan percobaan berulang-ulang. Pada pertemuan kedua membahas tentang materi pengaruh kalor terhadap perubahan wujud zat. Persentase keterlaksanaan model pembelajaran mencapai 94,6%. Pada pertemuan ini, guru sudah mulai terbiasa dengan model pembelajaran STAD dan berusaha agar kesalahan pada pertemuan pertama tidak terulang kembali. Pada pertemuan ketiga membahas tentang materi perpindahan kalor. Pertemuan ketiga persentase Gain 〈〈〈〈g〉〉〉〉 Kriteria
〈g〉 ≥ 0,7 Tinggi 0,7 > 〈g〉 ≥ 0,3 Sedang
〈g〉 < 0,3 Rendah
90 keterlaksanaan model pembelajaran STAD mencapai 100 %. Maka persentase rata-rata keterlaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebesar 89,3 % yang termasuk kategori sangat baik.
Aktivitas Siswa
Tabel 7. Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Siswa
Pertemuan ke-
Persentase Keterlaksanaan
(%)
Kriteria
1 79,3 Baik
2 96,3 Sangat Baik
3 99,7 Sangat Baik
Gambaran aktivitas siswa selama pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut.
Gambar 3 Diagram Aktivitas Siswa tiap Pertemuan
Berdasarkan data diatas maka dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD mampu meningkatkan aktivitas siswa. Hal ini dilihat dari hasil analisis setiap tahapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dilakukan oleh siswa, dimana terlihat perubahan positif aktivitas belajar siswa setiap pertemuannya.
Peningkatan Pemahaman Konsep Siswa
Rata-rata peningkatan pemahaman konsep siswa dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 8.Rata-rata Skor Pretest dan Posttest Pemahaman Konsep Siswa
Rata-rata peningkatan pemahaman konsep siswa dapat digambarkan sebagai berikut.
Gambar 4. Diagram Peningkatan Pemahaman Konsep Siswa
Rata-rata gain yang didapat yaitu sebesar 8,27 dan gain ternormalisasi diperoleh 0,59, termasuk kriteria sedang. Dengan melihat adanya peningkatan pada rata-rata skor posttest pemahaman konsep dan melihat kriteria dari hasil rata-rata gain ternormalisasi maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa.
Untuk peningkatan pemahaman konsep siswa untuk setiap aspek pemahaman, maka akan dianalisis berdasarkan tiap aspek pemahamannya yaitu aspek pemahaman translasi (menerjemahkan), interpretasi (menafsirkan), dan ekstrapolasi (meramalkan).
Adapun rata-rata peningkatan untuk setiap aspek pemahaman dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 9. Rata-rata Skor Pretest dan Posttest Setiap Aspek Pemahaman
Rata-rata peningkatan pemahaman konsep fisika siswa untuk setiap aspek pemahaman, dapat digambarkan sebagai berikut.
Aspek Pemahaman
Skor Ideal
Pretest Posttest Skor % Skor % Translasi 7 2,27 32,43 4,86 69,49 Interpretasi 7 2,49 35,52 5,03 71,81 Ekstrapolasi 7 2,13 30,50 5,29 75,86
Pretest Posttest
Gain <g> Kriteria Skor % Skor %
6,89 32,82 15,16 72,20 8,27 0,59 Sedang
91 Gambar 5. Diagram rata-rata peningkatan untuk setiap aspek pemahaman
Rata-rata gain dan gain ternormalisasi setiap aspek pemahaman dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 10. Rata-rata gain dan gain ternormalisasi setiap aspek pemahaman
Rata-rata gain ternormalisasi yang diperoleh untuk setiap aspek pemahaman dapat pula digambarkan dalam bentuk diagram seperti gambar dibawah ini.
Gambar 6. Diagram rata-rata gain ternormalisasi setiap aspek pemahaman Secara keseluruhan semua siswa mengalami peningkatan pemahaman konsep setiap aspeknya. Maka disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa yaitu pemahaman translasi, interpretasi, dan ekstrapolasi.
Aspek
Pemahaman Gain <g> Kriteria Translasi 2,59 0,56 Sedang Interpretasi 2,54 0,56 Sedang Ekstrapolasi 3,16 0,64 Sedang
Studi Pustaka Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD
Studi Kurikulum Fisika SMP kelas VII
Studi Pendahuluan Populasi dan Sampel
Penelitian Penentuan Populasi
dan Sampel
Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Judgement
Uji Coba Instrumen
Analisis Hasil Uji Coba Instrumen Tahap
Persiapan Penelitian
Tahap Pelaksanaan
Penelitian
Tes Awal (pretest)
Penerapan model Pembelajaran kooperatif tipe STAD
Tes Akhir (posttest)
Tahap Akhir Penelitian
Pengolahan Data
Analisis Kesimpulan
Saran Gambar 1. Bagan Alur Proses Penelitian
92 Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD
Besarnya rata-rata skor gain ternormalisasi dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan pemahaman konsep fisika siswa adalah sebesar 0,59, yang termasuk dalam kriteria sedang.
Efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang sedang tersebut dapat disebabkan oleh :
1. Alokasi waktu yang dibutuhkan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD relatif lama agar dapat diterapkan secara optimal.
2. Belum terbiasanya siswa dengan penerapan model pembelajaran kooperatif STAD.
A. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1. Peningkatan pemahaman konsep fisika siswa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD diperoleh yaitu sebesar 0,59 dengan kriteria sedang. Untuk aspek pemahaman translasi dan interpretasi meningkat sebesar 0,56 termasuk kriteria sedang, dan aspek pemahaman ekstrapolasi meningkat sebesar 0,64 termasuk kriteria sedang.
2. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD membuat perubahan yang positif terhadap aktivitas siswa.
Sehingga dapat dikatakan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan aktivitas siswa.
3. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki tingkat efektifitas 0,59 yang termasuk dalam kriteria sedang. Maka dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD cukup efektif untuk meningkatkan pemahaman konsep fisika siswa SMP.
Saran
1. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat dijadikan sebagai salah satu model pembelajaran alternatif yang dapat diterapkan oleh guru untuk memfasilitasi
siswa dalam memahami konsep fisika dan meningkatkan aktivitas siswa.
2. Perlunya penelitian lebih lanjut dengan pengembangan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk aspek pemahaman yang lain dan dengan materi fisika yang berbeda.
3. Perlunya penelitian selanjutnya untuk mengukur aktivitas siswa dengan instrumen lembar observasi yang lebih menggali kemampuan aktivitas siswa secara spesifik, agar dapat melihat bagaimana kualitas aktivitas siswa dalam tim.
4. Pengaturan alokasi waktu yang dibutuhkan pada setiap tahapan STAD perlu diperhatikan agar pembelajaran lebih efektif. Sehingga akan dapat lebih mendapatkan hasil pemahaman konsep siswa yang lebih tinggi untuk setiap aspek pemahamannya.
B. DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Bloom,B.S. (1978). Taxonomy Of Educational Objectives, The Classification Of Educational Goals.
Handbook I: Cognitive Domain. New York : David McKay Company, Inc.
Dahar, R. Wilis. (1989). Teori-teori Belajar.
Jakarta : Erlangga.
Hake. (1998). Interactive Engagement Methods in Introductory Mechanic Course. Tersedia [online]:
http://www.Physics.indana/edu/sad/IE M_2bfdf. [20 November 2010]
Defri Ahmad Chaniago. (2010). Aktivitas Belajar. Tersedia [online]:
http://id.shvoong.com/social-sciences/1961162-aktifitas-belajar/. [8 Februari 2011]
Irawan, E. Indra. (2009). Pelajaran IPA-Fisika Bilingual untuk SMP/MTs Kelas VII.
Bandung: Yrama Widya.
Joyce, Bruce. dkk. (2009). Models of Teaching. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
93 Kanginan, Marthen. (2006). IPA Fisika untuk
SMP Kelas VII. Jakarta: Erlangga.
Koes, Supriyono. (2003). Strategi Pembelajaran Fisika. Malang:
Universitas Negeri Malang.
Panggabean, Luhut. (2001). Statistika Dasar.
Bandung: JICA.
Ruseffendi, H. T. (2005). Dasar-dasar Penelitian Pendidikan & Bidang Non-Eksakta Lainya. Bandung: Tarsito.
Sagala, Syaiful. (2009). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Slavin, Robert. (2008). Cooperative Learning Teori, Riset, dan Praktik. Bandung:
Nusa Media.
Sudjana, Nana. (2009). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suprijono, Agus. (2009). Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. (1991). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Kedua.
Jakarta: Balai Pustaka.
Trianto. (2007). Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontruktivistik.
Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
Universitas Pendidikan Indonesia. (2010).
Pedoman Penulisan karya Ilmiah.
Bandung: Universitas pendidikan Indonesia.
94
PENINGKATAN KEMAMPUAN GENERIK SAINS MAHASISWA