• Tidak ada hasil yang ditemukan

Desain Sampel dan Metodologi

Bab 2 Desain dan Metodologi

2.1   Desain Sampel dan Metodologi

Metodologi penelitian ini mencakup pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif termasuk survei, wawancara/FGD dan studi kasus.

Desain sampel meliputi stratifikasi tiga tahap, penentuannya dilakukan setelah melalui proses konsultasi dan mempertimbangkan konteks lokal. Langkah pertama adalah dengan membangun kerangka sampel penelitian dengan menggunakan data sekolah-sekolah yang diperoleh dari

Bab 2 Desain dan Metodologi

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Kerangka ini dibangun dengan mempertimbangkan berbagai masukan dari pemerhati sekolah dan memastikan apakah sekolah tersebut dilengkapi dengan materi program-program TIK. Selanjutnya ditentukan perwakilan kabupaten berdasarkan wilayah geografis dan topografi yang berbeda, lalu setelah berkonsultasi dengan pihak otoritas pendidikan setempat, terpilihlah 4 pasang kabupaten yang kan menjadi sampel wilayah.

Tahap kedua dilakukan dengan mempertimbangkan biaya yang dibutuhkan untuk mencapai kabupaten-kabupaten tersebut dan aspek keamanannya. Kabupaten yang lebih mudah dicapai dan aman, kemudian dipilih menjadi sampel.

Tahap akhir adalah melakukan pemilihan sekolah, yaitu ada sekitar 80% sekolah yang memiliki Program TIK dan sekitar 20% sekolah yang tidak memiliki program TIK. Sampel terdiri dari sekolah jenjang SD dan SMP dengan proporsi yang hampir sama, dan jumlah sekolah negeri dan swasta yang juga hampir sama, sehingga sampel yang dipilih dapat mencerminkan populasi sekolah-sekolah di Papua secara keseluruhan.

2.1.1 Sampel Kabupaten dan Distrik

Penentuan sampel distrik dan kabupaten dilakukan dengan beberapa proses stratifikasi/ bertingkat. Stratifikasi tahap pertama menggunakan sebuah kerangka sampel yaitu lokasi sekolah, jenis, status dan jenjang sekolah. Identifikasi juga dilakukan terhadap sekolah yang dilengkapi dengan paket TV-E dan koneksi internet pada tahun 2005-2013. Dalam mengidentifikasi kabupaten, aspek-aspek lain yang memiliki kaitan dengan lokasi, juga dilakukan, seperti letaknya berdasarkan ketinggian tempat (topografi) yaitu dataran tinggi, tengah (antara dataran tinggi dan pesisir pantai) dan lokasi pesisir (pantai) utara dan selatan.

Sampel survei berdasarkan topografi lokasi adalah sebagai berikut:

1. Terpencil/Dataran Tinggi : Kabupaten Deiyai dan Lanny Jaya 2. Dataran Tengah : Kabupaten Jayapura dan Keerom 3. PesisirUtara : Kabupaten Nabire dan Supiori

4. Pesisir Selatan : Kabupaten Merauke dan Boven Digoel

Setiap wilayah diwakili oleh dua kabupaten yang berdekatan, ini untuk memastikan bahwa jika di kabupaten yang pertama jumlah sekolah sampelnya tidak mencukupi atau tidak memenuhi persyaratan, maka sampel dapat diambil dari kabupaten kedua.

Wilayah di setiap kabupaten yang dipilih mencakup wilayah perkotaan, pinggiran kota dan terpencil. Pada tahap kedua, biaya yang akan dikeluarkan untuk mencapai wilayah tertentu dan untuk mengunjungi sekolah-sekolah, menjadi bahan pertimbangan. Jika dibandingkan dengan populasi pada umumnya, distrik yang sulit dijangkau, agak kurang terwakili dalam sampel. Dalam penentuan sampel, beberapa distrik yang dianggap memiliki kekhususan atau distrik yang lebih mudah dijangkau, diberi peluang untuk terpilih yang lebih tinggi, distrik seperti ini lebih banyak dipilih menjadi sampel. Sebagai contoh, Kabupaten Deiyai dan Lanny Jaya mewakili distrik-distrik yang terpencil/dataran tinggi. Pertimbangan dalam memilih kedua kabupaten ini adalah karena pada tahun 2011, sekolah-sekolah di Lanny Jaya ada yang menerima perangkat penerima TV-E dan baru-baru ini Gubernur Papua meluncurkan program yang disebut dengan "Gerbang mas Papua" yang mana program ini memberi perhatian khusus dalam pengelolaan pendidikan di lima Kabupaten. Kabupaten-kabupaten itu adalah Kabupaten Deiyai dan Lanny Jaya. Akses menuju distrik-distrik di

kabupaten-kabupaten ini relatif lebih mudah dan aman, dibandingkan dengan distrik-distrik lain yang ada di dataran tinggi.

Distrik di wilayah tengah diwakili oleh Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Keerom. Pertimbangannya adalah karena pada rentang tahun 2006, 2007, 2010 dan 2011, kabupaten-kabupaten ini masing-masing menerima 29 dan 31 paket perangkat penerima TV-E. Akses menuju ibukota Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Keerom pun relatif mudah dan aman.

Distrik di pesisir utara diwakili oleh Kabupaten Nabire dan Kabupaten Supiori. Empat puluh dua paket TV-E dan 18 paket perangkat penerima (receiver) TV-E masing-masing dibagikan pada rentang tahun 2006, 2007, 2010, dan 2011. Distrik di pesisir selatan diwakili oleh Kabupaten Merauke dan Kabupaten Boven Digoel yang telah menerima masing-masing 61 dan 28 paket paket penerima TV-E pada tahun 2006, 2007, 2010, dan 2011. Merauke dan Boven Digoel pun dianggap aman dan terdapat penerbangan langsung dari Jayapura.

Di semua kabupaten ini juga terdapat pusat TIK yang terdiri atas sekolah induk dan sekolah-sekolah lain yang terhubung dengan sekolah-sekolah induk. Sekolah-sekolah-sekolah induk di Jayapura, Keerom, Nabire dan Merauke merupakan sekolah-sekolah yang dianggap mempunyai daya tarik khusus untuk kegiatan evaluasi ini, di mana di masing-masing kabupaten ini terdapat setidaknya satu sekolah induk dan dua sampai lima belas sekolah yang terhubung.

2.1.2 Sampel Sekolah dalam Kabupaten

Dalam memilih sekolah diempat pasang kabupaten ini, jumlah seluruh sekolah SD dan SMP dihitung, lalu diidentifikasi apakah sekolah tersebut merupakan sekolah swasta atau negeri. Kemudian sekolah-sekolah tersebut dipilah berdasarkan lokasi (perkotaan, pinggiran kota dan daerah terpencil) dan dipastikan apakah sekolah itu memiliki program TIK atau tidak (non-TIK).

Setelah seluruh informasi sekolah tersedia, sekolah dengan jumlah guru dan siswa yang besar diberi peluang sedikit lebih tinggi untuk dipilih. Hal ini untuk memastikan bahwa jumlah respons yang diperoleh dari survei ini cukup besar. Selain itu, untuk sekolah yang informasi tentang jumlah guru dan siswa tidak tersedia, dilakukan konsultasi dengan pihak otoritas pendidikan.

Dua ratus dua puluh sekolah akhirnya dipilih melalui proses penentuan sampel (sampling), termasuk didalamnya 175 sekolah yang menerima materi program TIK. Dokumen Kerangka Acuan Kerja (Term of Reference) mensyaratkan jumlah minimal sekolah yang dievaluasi adalah 200 sekolah. Sekitar 80% dari sampel adalah sekolah program TIK. Sample ini mewakili sekitar 10% sekolah di seluruh Papua. Tabel 3 menunjukkan sampel awal yang berada diempat pasang kabupaten, yang meliputi perkotaan, pinggiran kota dan daerah terpencil, jenis sekolah, dan apakah sekolah tersebut merupakan sekolah dengan program TIK atau tanpa program TIK (non-TIK).

Tabel 3. Sampel Awal Sekolah, berdasarkan Jenis Lokasi, Jenis Sekolah dan Program TIK atau Non TIK

Jenis Lokasi Jenis Sekolah Jenis TIK/Non-TIK

Kota

Pinggir -an Kota

Terpen-cil SD SMP Jumlah TIK

Non-TIK Kab. Jayapura 14 9 5 10 18 28 22 6

Bab 2 Desain dan Metodologi

Jenis Lokasi Jenis Sekolah Jenis TIK/Non-TIK Kab. Boven Digoel 8 4 0 7 5 12 10 2 Kab. Merauke 27 16 11 19 35 54 43 11 Kab. Supiori 7 6 5 12 6 18 14 4 Kab. Nabire 24 16 10 19 31 50 40 10 Kab. Deiyai 0 0 4 4 0 4 3 1

Kab. Lanny Jaya 9 11 3 14 9 23 18 5

Jumlah 104 74 42 104 116 220 175 45

Mengingat adanya ketidakpastian data yang dicatat tentang sekolah di Papua, maka sekolah-sekolah pengganti juga disiapkan dan ditentukan menurut kerangka sampel pada masing-masing kabupaten, lokasi distrik, dan jenis sekolah. Jika partisipasi sekolah sampel yang dirujuk tidak cukup, akan dipilih sekolah pengganti yang memiliki karakteristik sesuai stratifikasi (jenjang sekolah, status sekolah dan juga apakah sekolah mempunyai program TIK atau tidak). Untuk mengantisipasi terjadinya cuaca buruk pada saat survei, sekolah pengganti tambahan juga disiapkan dari kabupaten tetangga, agar proporsi sampel dapat mendekati 80% sekolah program TIK/20% sekolah program non-TIK. Lampiran B memberikan rincian sekolah dalam sampel yang sebenarnya.

2.1.3 Sampel Guru dan Siswa di Sekolah-sekolah

Tahap akhir pemilihan sampel meliputi penentuan sampel guru dan siswa di sekolah-sekolah. Setibanya di sekolah sebelum survei dimulai, enumerator mengambil sampel 15 guru secara acak dari daftar kehadiran guru (guru yang hadir di sekolah pada hari itu). Pemilihan menggunakan tabel sample acak (random sampling) sesuai dengan jumlah total guru. Sama seperti penentuan sampel guru, sampel siswa dipilih dari daftar siswa kelas 5 dan 6 SD (yang hadir di sekolah pada saat survei dilakukan) atau siswa kelas 7-9 SMP. Jika di sekolah hanya ada kurang dari 15 guru atau siswa kurang dari 15 pada kelas-kelas yang dimaksud, semua guru maupun siswa dijadikan sampel.

2.2 Pengembangan Instrumen Data