• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh: Sulfa

METODE PENELITIAN Setting Penelitian

A. Deskripsi Per Siklus Siklus

1. Perencanaan

Peneliti sebagai guru pengajar merencanakan kegiatan pembelajaran dengan melakukan hal-hal sebagai berikut:

1)

Membuat Rencana Perbaikan Pembelajaran siklus I dengan submateri persamaan kedudukan warga negara

2)

Membuat skenario pembelajaran siklus I

3)

Menyiapkan media pembelajaran berupa peta konsep dengan submateri persamaan kedudukan warga negara

4)

Membuat lembar observasi aktivitas mengajar guru dalam pembelajaran quantum teaching siklus I

5)

Membuat lembar observasi aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran quantum teaching siklus I

106

6)

Menyusun soal-soal evaluasi dalam bentuk kuis mengukur hasil belajar siswa pada siklus I

7)

Membuat kunci jawaban soal-soal evaluasi pada siklus I.

2. Pelaksanaan Tindakan

Kegiatan pembelajaran dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 25 Februari 2011 dengan jumlah siswa 43 orang. Peneliti bertindak sebagai guru yang melakukan pembelajaran mengacu pada Rencana Perbaikan Pembelajaran yang telah dipersiapkan sebelumnya. Kegiatan pembelajaran di kelas X-2 dilaksanakan dengan menerapkan model quantum teaching. Adapun langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan berdasarkan Rencana Perbaikan Pembelajaran dibagi dalam 3 kegiatan sebagai berikut:

1) Kegiatan Awal

Guru membuka pelajaran dengan menyampaikan salam, menanyakan kesiapan belajar siswa dan mengecek kehadiran siswa. Selanjutnya guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada akhir pembelajaran, guru menyampaikan pula model pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran. Guru memberikan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan, motivasi siswa dan membuat kaitan materi yang baru dengan materi sebelumnya.

2) Kegiatan inti

Dalam kegiatan inti, guru menjelaskan submateri persamaan kedudukan warga negara guru memberikan contoh-contoh atau pengalaman umum yang mudah dipahami oleh siswa. Tahapan selanjutnya, siswa diberikan kesempatan untuk bertanya tentang materi pelajaran yang belum dipahami. Pertanyaan tersebut sebelum dijawab oleh guru, guru memberikan kesempatan kepada beberapa siswa untuk menjawab. Selanjutnya, beberapa orang siswa diberikan kesempatan untuk mendemostrasikan pengetahuannya tentang apa yang dipahami terkait submateri persamaan kedudukan warga negara di depan kelas atau di papan tulis dengan mengacu kepada peta konsep yang dibuatnya sendiri maupun guru. Siswa lain menyimaknya dan bersiap-siap untuk menanggapinya. Guru

memberikan pujian atau menyuruh siswa lain untuk memberikan tepuk tangan kepada siswa yang bisa menjawab atau mendemonstrasikan pengetahuannya.

3) Kegiatan penutup

Dalam kegiatan penutup ini, guru memberikan evaluasi/tes dalam bentuk kuis. Selanjutnya guru menutup pelajaran dengan salam.

3. Observasi Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan proses pembelajaran model quantum teaching. Kegiatan observasi dilakukan oleh St. Wardha Sanusi, S.Pd. selaku kolaborator atau guru bidang studi Pendidikan Kewarganegaraan dengan menggunakan lembar observasi yang dibuat oleh peneliti. Kegiatan observasi diarahkan kepada hal-hal yang telah disepakati pada tahap perencanaan penelitian yakni lembar observasi memuat skenario pembelajaran dengan pendekatan model quantum teaching dan teknik penilaian yang digunakan pada lembar observasi. Kegiatan observasi terbagi atas dua bagian yakni observasi terhadap aktivitas mengajar guru dan observasi terhadap aktivitas belajar siswa. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan observer ditetapkan aktivitas mengajar guru mencapai persentase keberhasilan sebesar 70%. Adapun aktivitas belajar siswa mencapai persentase keberhasilan hanya mencapai 50%. Hal ini menunjukkan aktivitas mengajar guru dan aktivitas belajar siswa belum maksimal karena belum mencapai indikator kinerja yang ditentukan dalam penelitian ini yaitu 80%.

4. Evaluasi Hasil Belajar Siswa

Pada akhir proses pembelajaran Siklus I, pada hari Jumat tanggal 25 Februari 2011 dilakukan evaluasi tes dalam bentuk kuis. Kuis tersebut diberikan dan dikerjakan siswa secara individual. Pemberian kuis ini harus dengan alokasi waktu yang cukup bagi siswa untuk menyelesaikannya. Hasil evaluasi siklus I diperoleh nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 66,21 dan ketuntasan belajar secara klasikal mencapai 55,8% atau hanya 24 siswa yang tuntas belajar dari 43 siswa. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus I secara klasikal siswa belum

107 tuntas belajarnya, karena siswa yang memperoleh nilai ≥ 67 hanya sebesar 55,8% lebih kecil dari persentase ketuntasan klasikal yang dikehendaki yaitu sebesar 80%.

5. Refleksi

Refleksi yang dilakukan peneliti dan kolaborator menghasilkan beberapa tindakan dalam proses pembelajaran yang masih perlu diperbaiki atau ditingkatkan pada siklus berikutnya baik dari aktivitas mengajar guru dan aktivitas belajar siswa. Sedangkam hasil belajar siswa mencapai persentase ketuntasan klasikal baru mencapai 55,8% atau 24 orang siswa yang tuntas dari 43 orang jumlah siswa sedangkan 44,2% atau masih 19 orang siswa yang belum tuntas. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan yang harus ditingkatkan nilainya minimal sebesar 24,2%. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa perlu peningkatan dari segi hasil belajar siswa, dan meningkatkan aktivitas mengajar guru dan aktivitas belajar siswa dalam memanfaatkan model pembelajaran quantum teaching. Hal ini yang mendorong dilanjutkan pada siklus II.

Tindakan siklus II 1. Perencanaan

Pada tahapan perencanaan tindakan siklus II, hal yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1) Membuat Rencana Perbaikan Pembelajaran Siklus II dengan submateri persamaan kedudukan warga negara tanpa membedakan ras, agama, gender, suku bangsa dan budaya 2) Membuat skenario pembelajaran siklus II 3) Membuat media pembelajaran berupa peta

konsep submateri dengan submateri persamaan kedudukan warga negara tanpa membedakan ras, agama, gender, suku bangsa dan budaya

4) Membuat/menyiapkan lembar observasi aktivitas mengajar guru dalam pembelajaran quantum teaching siklus II

5) Membuat/menyiapkan lembar observasi aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran quantum teaching siklus II

6) Menyusun soal-soal evaluasi dalam bentuk kuis siklus II untuk mengukur hasil belajar siswa

7) Membuat kunci jawaban kuis siklus II

2. Pelaksanaan tindakan

Kegiatan pembelajaran dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 25 Februari 2011 dengan jumlah siswa 46 orang. Pada tahap ini, model pembelajaran quantum teaching kembali diterapkan. Kegiatan pembelajaran dilakukan sama seperti pelaksanaan tindakan siklus I. Proses pembelajaran dilakukan sesuai dengan rencana pembelajaran yang dibuat sebelumnya yang mengacu pada model pembelajaran quantum teaching.

Materi yang diajarkan pada siklus II ini merupakan kelanjutan materi yang diajarkan pada siklus I yakni pada submateri persamaan kedudukan warga negara tanpa membedakan ras, agama, gender, suku bangsa dan budaya. Dalam proses pelaksanaan tindakan, lebih menekankan pada perbaikan kelemahan-kelemahan yang terjadi pada siklus sebelumnya. Hal ini dimaksudkan agar proses pelaksanaan model pembelajaran quantum teaching semakin maksimal, dengan demikian hasil belajar PKn siswa bisa meningkat.

3. Observasi

Kegiatan observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan proses pembelajaran model quantum teaching. Kegiatan observasi dilakukan oleh St. Wardha Sanusi, S.Pd. selaku kolaborator atau guru bidang studi Pendidikan Kewarganegaraan dengan menggunakan lembar observasi yang dibuat oleh peneliti. Kegiatan observasi diarahkan kepada hal-hal yang telah disepakati pada tahap perencanaan penelitian yakni lembar observasi memuat skenario pembelajaran dengan pendekatan model quantum teaching dan teknik penilaian yang digunakan pada lembar observasi. Kegiatan observasi terbagi atas dua bagian yakni observasi terhadap aktivitas mengajar guru dan observasi terhadap aktivitas belajar siswa. Berdasarkan hasil observasi siklus II, diketahui aktivitas mengajar guru telah mencapai persentase keberhasilan sebesar 90% dan aktivitas belajar siswa telah mencapai persentase keberhasilan sebesar 90%. Dengan demikian, aktivitas mengajar guru dan aktivitas belajar siswa telah memenuhi indikator kinerja yang ditetapkan dalam penelitian ini.

108 4. Evaluasi

Pada akhir proses pembelajaran Siklus II, pada hari Jumat tanggal 25 Februari 2011 dilakukan evaluasi tes dalam bentuk kuis, yang mana kuis tersebut diberikan dan dikerjakan siswa secara individual. Pemberian kuis ini diberikan dengan alokasi waktu yang cukup bagi siswa untuk menyelesaikannya. Berdasarkan hasil evaluasi siklus II diketahui nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 78,63 dan ketuntasan belajar secara klasikal mencapai 84,8% atau ada 39 siswa yang tuntas belajarnya dari 46 siswa. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus II secara klasikal siswa sudah tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai ≥ 67 telah mencapai 84,8% lebih besar dari persentase ketuntasan klasikal yang dikehendaki yaitu sebesar 80%.

5. Refleksi

Setelah kegiatan penelitian, tepatnya pada hari Jumat, 25 Februari peneliti bersama kolaborator mengadakan pertemuan untuk membahas kerberhasilan pelaksanaan penelitian siklus II yang telah dilakukan. Jika dibandingkan mulai dari siklus I sampai dengan siklus II, nilai hasil belajar yang diperoleh siswa kelas X-2 SMA Negeri 9 Kendari menunjukkan hasil yang sangat memuaskan yakni mengalami peningkatan sebesar 29%. Aktivitas mengajar guru mengalami peningkatan sebesar 20% (skor siklus I hanya 70% menjadi 90% pada siklus II) dan aktivitas belajar siswa juga meningkat sebesar 40% (skor siklus I hanya 50% menjadi 90% pada siklus II). Peningkatan presentase keberhasilan baik dari segi aktivitas mengajar guru, aktivitas belajar siswa maupun hasil belajar siswa di atas telah mencapai indikator kinerja keberhasilan yang ditetapkan dalam penelitian ini yaitu ≥ 80%. Hal ini berarti penelitian ini telah berhasil dan selesai sesuai dengan rencana dalam prosedur penelitian yaitu tindakan dilaksanakan sampai dengan siklus II. PEMBAHASAN

Aktivitas mengajar guru dalam pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran quantum teaching pada setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdasarkan analisis data yang diperoleh dalam penelitian ini di

mana hasil observasi aktivitas mengajar guru siklus I mencapai tingkat keberhasilan 70% dan siklus II mencapai 90%, dengan persentase peningkatan sebesar 20%. Hal ini sejalan dengan pendapat Porter dalam Nilandri (2009: 3) mengatakan quantum teaching menunjukkan kepada guru untuk menjadi lebih baik dan dengan menggunakan metodologi quantum teaching, guru akan dapat menggabungkan keistimewaan-keistimewaan belajar menuju bentuk perencanaan pengajaran yang akan melejitkan presetasi siswa. Hal ini menunjukkan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran akan terus membaik dan meningkat dengan menggunakan model pembelajaran quantum teaching. Adanya peningkatan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran juga memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran PKn pada materi persamaan kedudukan warga negara melalui model pembelajaran quantum teaching juga mengalami peningkatan pada setiap siklusnya yakni hasil observasi aktivitas belajar siswa siklus I mencapai tingkat keberhasilan 50% dan siklus II mencapai 90% dengan jumlah persentase peningkatan sebesar 40%. Hal ini sejalan dengan pendapat Porter dalam Nilandri (2009: 4) yang mengatakan dalam quantum teaching mencakup petunjuk spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar efektif, menyampaikan isi, dan memudahkan proses belajar. Selain itu, menurut A‟la (2010: 60) mengatakan cara-cara belajar dalam quantum teaching dapat meningkatkan motivasi dan minat belajar dengan menggunakan kerangka rancangan pembelajaran yang dikenal dengan istilah tandur (tumbuhkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi dan rayakan). Jadi, dapat dikatakan siswa sangat antusias dan aktif dalam belajar.

Dengan adanya peningkatan aktivitas mengajar guru dan aktitas belajar siswa akan berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa. Hal ini berdasarkan analisis data di mana diketahui pada hasil kuis formatif tindakan siklus I menunjukkan bahwa penguasaan siswa secara klasikal terhadap submateri persamaan kedudukan warga negara sebesar 55,8% atau hanya 24 siswa dari 43 siswa yang berkriteria tuntas atau memperoleh nilai ≥ 67 dengan nilai rata-rata 66,21. Hasil kuis tindakan siklus II yang menunjukkan

109 peningkatan yakni diperoleh penguasaan siswa secara klasikal terhadap materi pelajaran sebesar 84,8% dengan persentase peningkatan sebesar 29% atau sebanyak 39 siswa telah memperoleh nilai ≥ 70 dengan nilai rata-rata 78,63. Hal ini terjadi peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I hanya mencapai 55,8% siswa yang tuntas KKM. Peningkatan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan siswa kelas X-2 yang dicapai tersebut selain dipengaruhi oleh penerapan model quantum teaching, juga disebabkan peningkatan aktivitas mengajar guru dan aktivitas belajar siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Sanjaya (2006: 28) mengatakan bahwa untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa dengan: a) memperjelas tujuan yang ingin dicapai; b) membangkitkan minat siswa; c) ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar; d) berilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa; e) berilah penilaian; f) berilah komentar terhadap hasil pekerjaan siswa; dan g) ciptakan persaingan dan kerjasama.

Ketuntasan hasil belajar dalam penelitian ini telah mencapai 84,8%, aktivitas mengajar guru telah mencapai 90% dan aktivitas belajar siswa juga telah mencapai 90%, maka dapat dinyatakan bahwa ketuntasan hasil belajar dalam penelitian ini telah tercapai, dalam hal ini minimal 80% siswa memperoleh nilai ≥ 67 telah tercapai. Demikian pula kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dan siswa dalam pembelajaran model quantum teaching telah mencapai indikator kinerja keberhasilan yakni minimal 80% aspek yang diobservasi telah terlaksana berdasarkan uji siklus II. Berdasarkan pencapaian ketuntasan ketiga faktor yang diteliti tersebut maka penelitian ini dikatakan telah berhasil dan dihentikan sampai pada siklus II. Ini berarti bahwa hipotesis tindakan telah terjawab yaitu aktivitas mengajar guru, aktivitas belajar siswa, dan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan siswa kelas X-2 SMA Negeri 9 Kendari pada materi persamaan kedudukan warga negara dapat ditingkatkan melalui penerapan pembelajaran model quantum teaching.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa penerapan model quantum teaching dapat meningkatkan aktivitas mengajar guru, aktivitas belajar siswa, dan hasil belajar dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan materi persamaan kedudukan warga negara pada siswa kelas X-2 SMA Negeri 9 Kendari.

DAFTAR PUSTAKA

A‟la, Miftahul. 2010. Quantum Teaching. Yogyakarta: DIVA Press.

Hamilton dkk. 2000. The case for leaning outcome s(hhtp:/efcefc/ca/training connection? Learning.html).

Ibrahim dan Syaodin. 2003. Perencanaan pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta. Nastia. 2010. Skripsi: Upaya Meningkatkan

Keterampilan Sepak Sila Melalui Metode Demonstrasi Kontrol Bola Menggunakan Bola Kecil Pada Pembelajaran Sepak Takraw Siswa SMA DDI Kendari. Kendari: Unhalu.

Nilandri, Ary. 2009. Quantum Teaching. Bandung: Kaifa.

Riduwan, 2005. Dasar-Dasar Statistika. Jakarta: Alphabeta.

Rusyan, T. 1994. Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Roskadarya.

Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Sudjana. 1998. Teori-Teori Pembelajaran Untuk Pengajaran. Jakarta: Pusat Penerbit UT. ---. 2000. Dasar-Dasar Proses Belajar

Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Suprayekti. 2004. Interaksi Belajar-Mengajar. Jakarta: Depdiknas.

Winarno. 2006. Jurnal Civics Vol 3: Pendidikan Kewarganegaraan Persekolahan (Standar Isi dan Pembelajarannya). Surakarta: Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

110