• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN LARI CEPAT 30 METER DAN DAYA AMORTISASI TERHADAP

KEMAMPUAN SMASH BOLA VOLI PADA SISWA SMA NEGERI 1 KABAWO

1

Oleh:

Muhammad Rusli

2

Abstrak. Penelitian ini termasuk penelitian korelasional yang ingin mengetahui hubungan kecepatan lari 30 meter dan daya amortisasi dengan kemampuan smash bola voli. Subyek penelitian adalah siswa putra SMA Negeri 1Kabawo yang berjumlah 115 orang. Sampel diambil sebanyak 40 orang, diambil dengan teknik proposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah test kecepatan lari 30 meter, test daya amortisasi dan test smash bola voli dengan awalan. Untuk menganalisa data yang diperoleh digunakan teknik statistik korelasi produc moment dan korelasi ganda. Selanjutnya dari pengolahan data diketahui bahwa antara kecepatan lari 30 meter dengan kemampuan smash bola voli mempunyai hubungan yang signifikan dimana r x1y = 0,75 > r tabel (0,05:40=0,312, sedangkan koefisien determinasinya (r2) =0,57 atau 57%. Antara daya amortisasi dengan kemampuan smash bola voli tidak diperoleh hubungan yang signifikan dimana koefisien korelasi (rx2y) = 0,39 > r tabel (0,05:40) = 0,312, koefisien determinasi 0,15. Sedangkan pada korelasi ganda antara kecepatan lari 30 meter dan daya amortisasi terhadap kemampuan smash bola voli diperoleh f hitung = 48,17 > f tabel (0,05:2:39) = 4,21. Hal ini menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kecepatan lari 30 meter dan daya amortisasi terhadap kemampuan smash bola voli. Kata kunci : Lari cepat 30 meter, daya amortisasi, smash bola voli.

1 Ringakasan hasil penelitian 2 Dosen Penjaskes-rek FKIP Unhalu PENDAHULUAN

Olahraga permainan khususnya bola voli membutuhkan keterampilan khusus untuk menghasilkan atlet yang berprestasi. Salah satu teknik dasar yang harus dikuasai oleh setiap atlet bola voli adalah teknik smash , melalui pendekatan kemampuan biomotorik seorang atlet dapat menunjukkan performance terbaiknya saat melakukan perlombaan atau pertandingan. Untuk menciptakan seorang pesmash bola voli yang berprestasi maka atlet tersebut harus memiliki kriteria yang sesuai dengan bidang itu. Krteria yang dimaksud menurut Balesteros JM (1978) adalah memiliki tubuh atletis (mesomrph), memiliki kemampuan biomotor yang baik seperti kekuatan, kecepatan dan daya ledak.

Secara teknik nomor smash bola voli didahului dengan ancang-ancang . Ancang-ancang ini dimaksudkan untuk membantu daya dorong

kedepan setelah smasher menerima bola lambung dari timnya. Oleh karena rangkaian gerakan terjadi sangat cepat antara ancang-ancang dengan lompatan untuk melakukan smash , maka diperlukan daya amortisasi.

Menurut Paulus Pasurney (2004), daya amortisasi adalah aalah kemampuan menerima berat badan yang dalam keadaan bergerak kemudian mendorong berat badan tadi kearah yang diinginkan, hal ini terjadi karena kekuatan otot-otot tungkai dan sekitar sendi tungkai bawah. Kekuatan yang dihasilkan oleh otot-otot tadi tadi menerima berat badan sebagai beban dan melawan beban tersebut merupakan daya amortisasi.

Daya amortisasi, selain dimanfaatkan pada nomor smash bola voli juga dapat dimanfaatkan pada cabang olahraga lain seperti pada lompat jauh, daya amortisasi dapat dilihatr pada waktu pemain melakukan tumpuan, nomor lompat jangkit ketika atlet melakukan jingkat dan langkah

117 kemudian melompat, pemai bola basket ketika pemain melakukan jump shoot, deffensive/offensive rebound; pada pemain sepak bola, ketika pemai melakuan heading yang didahului dengan ancang-ancang dan olahraga lain yang memerlukan lompatan.

Dari beberapa cabang olahraga yang disebutkan di atas, pada prinsipnya memerlukan daya amortisasi yaitu suatu aksi yang didahului dengan ancang-ancang, kemudian melompat yaitu membawa titik berat badan kearah horisontal dan vertikal. Khusus dalam nomor smash bola voli, daya amortisasi ditentukan oleh dua vektor yaitu vektor horisontal yang dihasilkan oleh kecepatan awalan yang disebut momentum dan vektor vertikal yang dihasilkan oleh daya amortisasi yang disebut vertikal impluse.

Menurut Balley (1986) smash bola voli terdiri dari unsur-unsur awalan, tolakan, melayang diudara dan mendarat. Setiap unsur memiliki mekanisme tetapi merupakan suatu kesatuan gerakan yang tidak dapat terputus. Sedangkan menurut Arma Abdullah (1984) mengatakan bahwa pada dasarnya nomor smash bola voli dibagi dalam dua bagian utama yaitu lari awalan yang diahiri dengan tolakan, melayang dan mendarat. Melayang dan mendarat ditentukan oleh lari awalan dan tolakan, oleh karena itu lari awalan dan tolakan merupakan dua bagian yang terpenting dari gerak smash bola voli.

Untuk memperoleh hasil smash yang optimal, selain sipelompat memiliki kecepatan, ketepatan, kekuatan, kelentukan dan koordinasi gerakan juga harus menguasai tekniknya. Teknik smash bola voli yang harus dikuasai oleh seorang atlet adalah awalan atau ancang-ancang, pukulan, sikap badan di udara, dan sikap mendarat. awalan adalah gerakan permulaan untuk mendapatkan ketepatann pada waktu akan melakukan smash. Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara lari cepat 30 meter dengan kemampuan smash bola voli?, daya amortisasi dengan kemampuan smash bola voli?, kecepatan lari 30 meter dan daya amortisasi dengan kemampuan smash bola voli?.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey, sedangkan sampelnya adalah siswa putra SMA Negeri 1Kabawo yang

duduk dikelas XI pada tahun ajaran 2011/2012 dengan jumlah 40 orang yang diambil dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah: tes lari cepat 30 meter, tes daya amortisasi dan tes smash bola voli dengan awalan. HASIL PENELITIAN

1. Deskriptif Variabel Penelitian

Hasil statistik deskriptif rata-rata danstandar deviasi dari variabel-variabel penelitian adalah:

Tabel 1.Deskripsi kecepatan lari 30 meter (X1) dan Daya Amortisasi (X2) dengan kemampuan Smash bola voli (Y)

Variabel Rata-rata Standar Deviasi

X1 4,50 0,43

X2 2,47 0,08

Y 4,20 0,29

Dari tabel 1 diatas diketahui bahwa :

a. Rerata kecepatan lari 30 meter adalah 4,50 detik, standar deviasi = 0,43

b. Rerata daya amortisasi adalah 2,47 meter, standar deviasi = 0,08

c. Sedangkan rerata kemampuan smash bola voli adalah 4,20 meter, standar deviasi = 0,29. 2. Uji Korelasi Producmoment

Tabel 2. Hasil uji Korelasi kecepatan lari 30 m (X1) dengan kemampuan Smash bola voli (Y)

Variabel rx1y r2

X1

Y 0,75 0,57

Dari tabel 2 diatas diketahui bahwa ada hubungan yang signifikan antara kecepatan lari 30 meter dengan kemampuan smash bola voli dimana rx1y= 0,75 > r tabel 90,05:40) = 312. Sedangkan koefisien determinasi (r2) = 0,57 atau 57%.

Tabel 3. Hasil Uji Daya Amortisasi (x2) dengan kemampuan Smash bola voli (Y)

Variabel rx2y r2

118

Y 0,39 0,15

Berdasarkan tabel 3 diatas dapat diketahui bahwa ada hubungan yang signifikan antara daya amortisasi dengan kemampuan smash bola voli dimana rx2y = 0,39 > r tabel (0,05:40) = 0,312 Sedangkan koefisien determinasi (r2) = 0,15 atau 15%.

Tabel 4. Hasil Uji Korelasi Ganda kecepatan lari 30 meter dan daya amortisasi (x1,2) dengan kemampuan Smash bola voli (Y)

Variabel r hitung r tabel X1.2

Y 0,85 0,312

Berdasarkan tabel 4 diatas dapat diketahui ada hubungan yang signifikan secara bersama- sama antara kecepatan lari 30 meter dan daya amortisasi dengan kemampuan smash bola voli dimana r x1x2Y hitung = 0,85 > r tabel (0,05:40) b = 0,312. Tabel 5. Hasil Uji Kebermaknaan Korelasi Ganda

Variabel F hitung F tabel X1.2

Y 48,17 4,21

Berdasarkan tabel 5 diatas dapat diketahui bahwa hubungan bersama antara kecepatan lari 30 meter dan daya amortisasi dengan kemampuan smash bola voli adalah sangat signifikan dengan F hitung = 48,17 > F tabel (0,05:2:39) =4,21.

PEMBAHASAN

Terdapat hubungan positif antara lari cepat 30 meter, daya amortisasi dengan kemampuan smash bola voli, baik sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama. Secara teori hubungan kecepatan lari 30 meter dengan kemampuan smash bola voli dapat memberi keuntungan pada aspek biomekanika, dimana dengan kecepatan yang dihasilkan pada lari awalan akan dapat memperbesar powerpada saat menumpu sehingga kecepatan horisontal dapat dipenuhi. Sedangkan daya amortisasi dapat memberi kontribusi untuk menambah kekuatan dan kecepatan otot tungkai saat tubuh bergerak secara

vertikal, dengan demikian kecepatan vertikal juga dapat dipenuhi.

Berdasarkan uji korelasi producmoment antara kecepatan lari 30 meter dengan kemampuan smash bola voli diperoleh hasil (r x1y) = 0,75 > r tabel = 0,312. Artinya kemampuan smash bola voli secara nyata dapat diterangkan oleh faktor kecepatan lari, sedangkan determinasi (r2) diperoleh sebesar 0,57 artinya bahwa 57% kecepatan lari 30 meter memberi kontribusi positif terhadap kemampuan smash bola voli. Jika dilihat dari peta korelasi, maka hubungan kecepatan lari 30 meter dengan kemampuan smash bola voli berada pada kategori korelasi tingi. Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi kecepatan lari terhadap kemampuan smash bola voli adalah sangat dominan.

Hubungan daya amortisasi dengan kemampuan smash bola voli juga menunjukkan hubungan yang positif karena koefisien korelasi yang didapat (r x2y) = 0,39 > r tabel = 0,361. Artinya bahwa kemampuan smash bola voli secara nyata dapat diterangkan oleh faktor daya amortisasi, sedangkan koefisien determinasi (r2) = 0,15. Hasil koefisien determinasi tersebut memberi petunjuk bahwa ada 15% kontribusi daya amortisasi dengan kemampuan smash bola voli. Jika dilihat dari peta korelasi maka dapat diketahui bahwa daya amortisasi dengan kemampuan smash bola voli berada pada kategori korelasi rendah, artinya bahwa daya amortisasi bukan merupakan faktor yang paling dominan dalam menentukan jauhnya lompatan pada nomor smash bola voli, namun demikian bahwa variabel daya amortisasi merupakan variabel yang ikut menunjang pencapaian prestasi nomor smash bola voli sebab secara teori daya amortisasi memberi keuntungan pada aspek biomekanika yakni dengan besarnya daya amortisasi berarti dapat memperbesar sudut alfa tolakan.

Hasil uji korelasi ganda antara kecepatan kari 30 meter dan daya amortisasi dengan kemampuan smash bola voli diperoleh hubungan positif karena berdasarkan uji korelasi ganda diperoleh r x1x2y = 0,85 > r tabel (0,05:40) = 0,312, sedangkan koefisien determinasi sebesar 0,72 atau 72%. Hasil koefisien determinasi ganda tersebut memberi makna bahwa ada 28% faktor lain yang ikut menentukan kemampuan smash bola voli selain kecepatan lari dan daya amortisasi.

119 Unsur lain yang dimaksud adalah kekuatan, kelenturan, sudut elevasi tolakan dan teknik lompatan.

Kekuatan memegang peranan penting dalam semua aspek nomor smash bola voli karena tanpa kekuatan tidak dapat mencapai power maksimal, juga tidak dapat melaksanakan teknik yang benar dan maksimal. Demikian pula dengan kelenturan saat melompat cukup memberi andil yang penting saat melayang diudaramaupun saat mendarat. Demikian pula dengan sudut elevasi lompatan juga memegang peranan penting sebab walaupun kekuatan, power, dan kelenturan telah dipenuhi tetapi jika atlet melompat dengan sudut elevasi yang terlalu kecil ataupun terlalu besar juga akan mengurangi jarak atau jauh lompatan.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, maka dapat disimpulkan bahwa

(1) kecepatan lari 30 meter mempunyai hubungan positif dengan kemampuan smash dalam permainan bola voli,

(2) daya amortisasi mempunyai hubungan positif dengan kemampuan smashdalam permainan bola voli,

(3) kecepatan lari 30 meter, daya amortisasi secara bersama mempunyai hubungan positif dengan kemampuan smash dalam permainan bola voli.

SARAN

Dalam menyusun program latihan fisik untuk meningkatkan kemampuan smash bola voli, hendaknya kecepatan lari dan daya amortisasi dijadikan prioritas utama, selain itu juga unsur lain yang perlu diperhatikan adalah kekuatan, kelenturan, sudut elevasi tolakkan dan teknik lompatan.

DAFTAR PUSTAKA

Aip Syarifuddin, Muhadi, 1996 Pendidikan Jasmani dan Kesehatan; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta. Engkos Kosasi, 1984 Olahraga dan Program

Latihan; Mutiara Jakarta.

Moh. Ihsan, Olahraga dan Kesehatan; Depdikbud, Dirjen Dikti Jakarta.

Paulus Pasurnei, 2004 jurnal IPTEK Olahraga, Litbang KONI Pusat Jakarta.

Sajoto, 1988 Pembinaan Kondisi Fisik dalam Olahraga; Depdikbud, Dirjen Dikti Jakarta.

Soekarman, 1989 Dasar-Dasar Olahraga, Pembina, Pelatih dan Atlet; PT Gelora Aksara Pratama Jakarta.

Soedarminto, 1996 Kinesiologi, Modul untuk Guru Penjaskes setara D-III Dirjen Dilti Jakrata.

Suharno, 1985. Permainan Bola Voli, Yogyakarta. IKIP Yogyakarta