• Tidak ada hasil yang ditemukan

Waode Suarni

METODE Subyek

Penelitian ini melibatkan 67 subyek mahasiswa dari 4 program studi di FKIP Universitas Haluoleo yang diambil secara acak. Instrumen Penelitian

Semua data penelitian diperoleh melalui teknik pelaporan-diri dengan menggunakan 3 kuesioner, yakni kuesioner motivasi berprestasi, kuesioner orientasi achievement goals, dan kuesioner perilaku menyontek. Kuesioner motivasi berprestasi adalah hasil adaptasi dari skala Sukadji (1992) yang terdiri dari 19 butir dengan 5 pilihan yaitu Sangat Setuju (skor 5) sampai Sangat Tidak Setuju (skor 1). Kuesioner orientasi achievement goals adalah skala yang dikembangkan oleh Ames dan Archer (1984) yang terdiri dari 34 butir, 19 butir berkenaan dengan mastery goals dan 15 butir bekenaan dengan performance goals. Sementara kuesioner perilaku menyontek adalah hasil adaptasi dari Sadili (1993) dengan menambahkan 3 butir baru sehingga menjadi 22 butir pernyataan. Hasil uji instrumen ini menunjukkan α=0,88.

HASIL PENELITIAN

Lebih separuh (51%) dari subyek menunjukkan motivasi berprestasi sedang dan 16% bermotivasi tinggi, sementara sisanya tergolong rendah. Dalam hal orientasi tujuan belajar, 66% subyek menunjukkan performance goals dan sisanya mastery goals. Sementara terkait dengan perilaku menyontek, 42% mengaku jarang menyontek - tapi pernah melakukannya - 24% menyatakan cukup sering menyontek, dan sisanya 34% mengaku tidak pernah menyontek.

Hasil uji normalitas data motivasi berprestasi, orientasi tujuan belajar, dan perilaku menyontek dengan chi-square menunjukkan adanya distribusi normal (berturut-turut X2hitung

81 11,42; 14,58; 9,81 yang semuanya lebih kecil dari X2tabel 0,05 = 43,773).

Uji korelasi antara motivasi berprestasi dengan perilaku menyontek menghasilkan nilai r =0,093 (rendah) yang tidak signifikan (α=0,05; N=67; r=0,235). Ini menunjukkan bahwa motivasi berprestasi tidak berhubungan secara signifikan dengan perilaku menyontek subyek penelitian ini. Namun, hasil uji korelasi antara orientasi tujuan belajar performance goals dengan perilaku menyontek menunjukkan nilai r = 0,463 (korelasi sedang). Korelasi ini signifikan (α = 0,05; N= 67 r = 0,235). Ini menunjukkan adanya hubungan antara orientasi tujuan belajar yang performance goals dengan perilaku menyontek. Sementara itu, korelasi antara orientasi mastery goals dengan perilaku menyontek menunjukkan koefisien r = - 0,147 (korelasi negatif rendah). Korelasi ini juga signifikan sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan negatif antara orientasi mastery goals dengan perilaku menyontek. Semakin tinggi skor orientasi mastery goals semakin rendah skor perilaku menyontek.

PEMBAHASAN

Dalam penelitian korelasional dengan subyek mahasiswa ini ditemukan bahwa motivasi berprestasi tidak berhubungan dengan perilaku menyontek. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Hainess dkk (dalam Newstead, 1996) bahwa indeks prestasi berkorelasi negatif dengan jumlah insiden menyontek dengan anggapan bahwa indeks prestasi berhubungan dengan motivas berprestasi. Asumsi ini boleh jadi tidak menggambarkan keadaan sesungguhnya sebab terdapat sejumlah determinan kuat lain dari prestasi akademik, selain faktor motivasi. Hasil penelitian ini juga berbeda dengan temuan Bracey (2005) bahwa siswa dengan motivasi berprestasi yang tinggi lebih mungkin menyontek. Sedikitnya ada dua eksplanasi terkait dengan perbedaan hasil penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Pertama terkait dengan metodologi yakni karakteristik sampel yang berbeda – siswa sekolah menengah dan mahasiswa - dan jumlah subyek yang lebih sedikit. Kedua, konstruk motivasi berprestasi dan perilaku menyontek yang digunakan berbeda sehingga alat ukur yang digunakanpun berbeda. Namun,

keberbedaan hasil penelitian ini memerlukan lagi penelitian lebih lanjut.

Orientasi tujuan belajar subyek umumnya adalah untuk performance. Mereka cenderung memaknai kesuksesan sebagai mandapatkan nilai yang tinggi secara normatif, alih-alih pada perbaikan atau pengembangan diri. Yang dianggap bernilai oleh mereka bukan proses belajar melainkan kemampuan untuk berprestasi. Penekanan mereka cenderung pada hasil yang lebih baik, bukan pada proses, sebagaimana yang ditekankan oleh mereka yang dengan orientasi mastery goals. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara orientasi performance goals dengan perilaku menyontek. Ini menunjukkan bahwa subyek yang menekankan pada perolehan nilai yang tinggi atau prestasi lebih mungkin untuk melakukan tindakan menyontek. Hal ini sejalan dengan sejumlah hasil penelitian sebelumnya (Anderman dkk, 1998; Newstead dkk, 1996) yang menunjukkan adanya korelasi yang positif antara tujuan yang bersifat performance dan motivasi ekstrinsik dengan jumlah insiden perilaku menyontek di kalangan siswa sekolah menengah pertama. Jordan (2001) juga menemukan bahwa siswa-siswa yang menyontek selain karakteristik motivasionalnya cenderung ekstrinsik, orientasi belajar mereka juga umumnya bersifat performance. Dorongan untuk berhasil, takut gagal, dtekanan dari lingkungan, dan sistem pendidikan yang menekankan pada hasil boleh jadi merupakan faktor-faktor preseden yang perlu diteliti lebih lanjut.

Dalam penelitian ini juga terungkap bahwa orientasi mastery goals berkorelasi negatif dengan perilaku menyontek. Ini mengindikasikan bahwa semakin orientasi tujuan belajar mahasiswa bersifat mastery goals maka perilaku perilaku menyontek di kalangan mereka semakin kurang. Dengan kata lain, orientasi belajar yang mastery berkorelasi dengan perilaku tidak menyontek. Hasil ini konsisten dengan temuan Anderman dkk (1998) dan Jordan (2001) yang menunjukkan bahwa siswa yang orientasi tujuan belajarnya lebih pada mastery mempunyai kecenderungan menyontek yang lebih rendah. Mereka lebih mengutamakan proses belajar, alih-alih pada perolehan hasil. Hasil ini juga sejalan dengan temuan Newstead, dkk (1966) yang menunjukkan bahwa siswa yang orientasi tujuan belajarnya tergolong learning atau

82 mastery lebih kurang kemungkinannya untuk melakukan perilaku menyontek karena mereka cenderung bertahan lama dalam tugas-tugas yang menantang dan berusaha untuk menyelesaikannya. Namun demikian, hasil ini bertentangan dangan hasil penelitian Elliot dan Dweck (1988) yang menunjukkan bahwa orang dengan performance goals akan berusaha untuk mempertahankan penilaian positif mengenai kemampuan mereka dan menghindari penilaian negatif dengan mencoba untuk mensahkan atau membuktikan kebenaran akan kemampuannya dan tidak mencemarkannya (Elliot & Dweck, 1988). Elliot dan Dweck berasumsi bahwa termasuk dalam usaha mempertahankan penilaian positif dan tidak mencemarkan kebenaran kemampuan ini adalah dengan tidak melakukan perbuatan menyontek. Akan tetapi, asumsi ini tidak terbukti dalam penelitian ini. Meskipun mahasiswa ingin mempertahankan citra dirinya secara normatif, tetapi ketakutan akan kegagalan yang mencemaskan diduga memicu perbuatan menyontek. Alasan di baliknya mungkin adalah dorongan untuk mendapatkan hasil yang tinggi dan untuk mempertahankan citra, dan alasan-alasan lainnya seperti memenangkan persaingan yang ketat, atau “karena semua orang melakukannya”.

Dari penelitian ini juga terungkap adanya propensitas berperilaku menyontek yang cukup mengkhawatirkan di kalangan mahasiswa. 34% subyek menyatakan tidak pernah menyontek. Itu berarti 66% sisanya pernah menyontek. Prevalensi yang mungkin merupakan fenomena gunung es ini membenarkan hasil-hasil penelitian dan survei lainnya yang telah dilakukan oleh para ahli di sejumlah negara selama 3 dekade terakhir ini, seperti Jordan (2001), Murdock dan Anderman (2006) yang menunjukkan tingginya insiden menyontek baik di kalangan siswa maupun mahasiswa. Bahkan Bracey (2005) menganggap perilaku menyontek ini sebagai masalah nasional di Amerika Serikat.