Waode Suarni
KESIMPULAN DAN IMPLIKAS
Tiga temuan utama penelitian ini adalah: 1) motivasi berprestasi tidak berhubungan dengan perilaku menyontek; 2) orientasi performance goals berhubungan dengan perilaku menyontek;
dan 3) orientasi mastery goals berhubungan secara negatif dengan perilaku menyontek.
Kesimpulan penelitian ini mempunyai implikasi praktis bagi pendidik maupun pengelola pendidikan. Pertama, mahasiswa yang mempunyai orientasi performance lebih mungkin untuk menyontek. Oleh sebab itu, untuk mengurangi perilaku menyontek maka dipandang perlu menyeimbangkan orientasi tujuan yang performance dan yang mastery, tidak terlalu menekankan pada performance sebagaimana yang menjadi orientasi utama saat ini. Praktek penilaian hendaknya tidak menekankan semata pada hasil namun perlu pula menggunakan sumber-sumber penilaian lainnya, seperti tugas-tugas individual. Kedua, mahasiswa dengan orientasi mastery goals cenderung tidak menyontek. Hal ini menuntut pendidik untuk menerapkan pedagogi yang menunjukkan pentingnya belajar demi belajar itu sendiri, bukan semata demi nilai, dan juga menggunakan sumber penilaian lain selain ujian. Namun, tetap penting untuk mendorong mahasiswa untuk menunjukkan performance yang baik.
Penelitian ini mempunyai kelemahan yang perlu diatasi dalam penelitian selanjutnya. Pertama, data penelitian diperoleh dari sampel dalam jumlah terbatas sehingga generalisasi hasil perlu dipertimbangkan. Penelitian lebih lanjut perlu menggunakan sampel yang lebih besar dan dari berbagai jenjang atau program studi untuk meningkatkan daya generalisasi hasil. Kedua, pengukuran motivasi beprestasi, orientasi tujuan belajar, maupun perilaku menyontek menggunakan persepsi dalam bentuk laporan-diri mahasiswa. Oleh sebab itu, masalah-masalah terkait dengan persepsi lewat laporan diri perlu pula dipertimbangkan.
Penelitian ini terbatas hanya mengkaji hubungan antara perilaku menyontek dengan motivasi berprestasi dan orientasi tujuan belajar. Dari literatur diketahui berbagai sebab, korelat, komorbid, dan preseden dari perilaku menyontek sehingga penelitian lebih lanjut perlu mengkaji faktor-faktor personal (perkembangan moral, sikap), faktor-faktor situasional (teman sebaya, banyaknya insiden menyontek, sanksi), dan praktek pedagogi guru di kelas yang diduga terkait erat dengan perilaku menyontek.
Hasil penelitian ini penting sebab mencerminkan situasi terkini di dalam dunia
83 pendidikan. Seperti di banyak negara lainnya, masalah ketidakjujuran akademik di dunia pendidikan tinggi tampaknya cukup parah. Keprihatinan ini perlu ditindaklanjuti mengingat mahasiswa adalah tenaga kerja utama dalam masyarakat di masa yang akan datang. Perilaku tidak etis mereka di kampus saat ini dapat menjadi masalah di dunia kerja mereka kelak. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Swift (dalam Nonis & Swift, 2001) bahwa “mahasiswa yang terlibat dalam perilaku tidak jujur di tempat kuliahnya berpeluang lebih besar untuk terlibat dalam perilaku tidak jujur di dalam pekerjaannya”. DAFTAR PUSTAKA
Ames, C. & Archer, J. (1988). Achievement goals in the classroom: student learning strategies and motivation process. Journal of Educational Psychology, 80: 260-267. Anderman, E. M., Griesinger, T., & Westerfield,
G. (1998). Motivation and cheating during early adolescence. Journal of Educational Psychology, 90, 84–93.
Bracey, C.W. (2005). A nation of cheats. Phi Delta Kappan: 412-413.
Elliot, E. S. & Dweck, C. S. (1988). Goals: An approach to motivation and achievement. Journal of Personality and Social Psychology, 54 (1): 5-12.
Gage, N. L. & Berliner, D. C. (1992). Educatonal Psychology. 5th Ed. Boston: Houghton Mifflin.
Genereux, R. L. & McLeod, B. A. (1995). Circumstances surrounding cheating: A questionnaire study of college students. Research in Higher Education, 36: 687- 704.
Jordan, A. E. (2001). College student cheating: The role of motivation, perceived norms,
attitudes, and knowledge of institutional policy. Ethics & Behavior, 11(3), 233–247. Klausmeier, H. J. (1985). Educational Psychology.
5th Ed. New York: Harper & Row.
Morgan, C. T, King, R. A. & Robinson, N. M. (1990). Introduction to Psychology. 7th Ed. New York: McGraw-Hill.
Murdock, T. B. dan Anderman, E. M. (2006). Motivational perspectives on student cheating: Toward an integrated model of academic dishonesty. Educational Psychologist, 41(3), 129–145.
Newstead, S. E. dkk. 1996. Individual differences in student cheating. Journal of Educational Psychology, 88 (2): 229-241. Nonis, S., & Swift, C. O. (2001). An examination
of the relationship between academic dishonesty and workplace dishonesty: A multicampus investigation. Journal of Education for Business,77(2), 69–77.
Sadili, L. (1993). Studi tentang pola penanggulangan kasus menyontek yang terjadi pada murid-murid SMA Propinsi Jawa Barat. Jakarta: PDII-LIPI.
Santrock, J. W. (1996). Adolescence: An Introduction. 6th Ed. London: Brown & Bench Mark.
Slavin, R. E. (1994). Educational Psychology: Theory and Practice. 4th Ed. New Jersey: Allyn & Bacon.
Sukadji, S. (1990). Psikologi Pendidikan dan Psikologi Sekolah. Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Woolfolk, A. E. (2009). Educational Psychology. 5th Ed. New Jersey: Allyn & Bacon.
84
STUDI PEMANFAATAN DAUN JATI (Tectona grandis L.F) ASAL KABUPATEN MUNA PROVINSI SULAWESI TENGGARA SEBAGAI ANTIDIABETES1
Oleh : Nasrudin2 Ardiansyah3
Abstrak. Studi pemanfaatan daun jati (Tectona grandis L.F) asal Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai antidiabetes telah dilakukan melalui uji antidiabetes dari ekstrak metanol daun jati terhadap mencit (Mus musculus) jantan dengan metode tes toleransi glukosa oral pada variasi dosis 5,6 mg/kg bb, 8,4 mg/kg bb, dan 12,6 mg/kg bb. Hasil uji antidiabetes menunjukkan ekstrak metanol dengan dosis 8,4 mg/kg bb memberi penurunan kadar glukosa darah yang lebih bermakna mulai jam pertama hingga jam ke 3 yakni 28,5%. Ekstrak daun jati dosis 5,4 mg/kg bb dan dosis 12,6 mg/kg bb juga menunjukkan aktivitas hipoglikemik yang signifikan dibandingkan kontrol normal yaitu berturut-turut 22,5% dan 23,3%.
Kata Kunci : Daun jati (Tectona grandis L.F); antidiabetes.
1 Ringkasan Hasil Penelitian 2 Dosen Pend. Kimia FKIP Unhalu 3 Dosen Jurusan Biologi F.MIPA Unhalu PENDAHULUAN
Jati (Tectona grandis L.F) asal Kabupaten Muna merupakan tanaman berkayu yang mempunyai nilai ekonomi tinggi karena mempunyai empat keunggulan yaitu kekuatan, kerapatan, kekerasan dan fisik kimia (Khaeruddin, 1994). Namun, pemanfaatan jati khususnya jati asal Muna selama ini hanya pada kayunya yang banyak digunakan dalam industri meubel (perkakas), furniture, bahan bangunan, alat musik, tiang listrik, patung, popor senjata, dan papan kapal (Pika, 2000). Sementara untuk memanen kayu jati membutuhkan waktu yang cukup lama yakni kurang lebih dua puluh tahun keatas. Untuk menanam pohon jati membutuhkan lahan yang cukup luas. Selain itu, lahan yang sudah ditanami pohon jati setelah usia tanam satu tahun keatas, lahan tersebut sudah tidak produktif lagi. Akibatnya, petani jati tidak dapat mengambil manfaat apapun terhadap pohon jati yang ditanamnya setelah usia tanam satu tahun hingga dua pulu tahun keatas. Pada saat yang sama dengan bertambahnya jumlah penduduk akan
meningkatkan kebutuhan kayu jati dan semakin sempitnya areal pertanian.
Bagian lain dari pohon jati yang dapat dimanfaatkan selain kayunya adalah daun. Secara tradisional, daun jati biasa dimanfaatkan sebagai pembungkus makanan (tempe kedelai) dan bahan pewarna tikar (Astuti, 2009). Hasil penelitian yang dilaporkan Swandari dkk., (2004) bahwa ekstrak etanol daun jati yang tumbuh di Jawa sangat berpotensi sebagai antidiabetes. Hasil fitokimia ekstrak tersebut mengandung metabolit sekunder golongan senyawa flavonoid, saponin, tanin galat, tanin katekat, kuinon dan steroid/triterpenoid, serta senyawa asam fenolat (Hartati dkk, 2005). Sedangkan hasil fitokimia daun jati asal Muna usia tanam satu tahun dan dua puluh tahun menunjukkan komposisi kimia yang sama khususnya daun tua yang dilaporkan Sahumena (2011), mengandung alkaloid, flavonoid, steroid, saponin triterpen, polifenol dan tanin. Secara fitokimia menunjukkan bahwa daun jati Muna dan jati Jawa mempunyai banyak kesamaan, sehingga bioaktifitas senyawa pada daun jati Muna pun diduga berpotensi antidiabetes, karena menurut Manitto (1981), bahwa aktivitas fisiologis sebagai
85 obat disebabkan oleh adanya metabolit sekunder yang terdapat di dalamnya.
Studi pemanfaatan daun jati asal Muna sebagai antidiabetes perlu dilakukan bukan hanya karena potensi kimiawi jati Muna, tetapi juga kerena penyakit Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit yang sampai sekarang belum ditemukan obat penyembuhannya, yang ada hanyalah obat menurunkan kadar gulanya saja (Lisa, 2011). Penyakit diabetes dapat menyerang siapa saja, tua- muda, kaya-miskin, atau kurus-gemuk. Penyakit diabetes tidak dapat disembuhkan, namun dapat dicegah (Wahdah, 2011).
Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan bertujuan untuk membuktikan bahwa daun jati asal Kabupaten Muna berpotensi sebagai obat antidiabetes. Dengan demikian manfaat yang diharapkan petani jati tidak hanya menunggu kayunya hingga dua puluh tahun keatas, tetapi ada bagian lain dari pohon jati yakni daun yang dapat dimanfaatkan setelah usia tanam satu tahun atau ketika lahan jati tidak produktif lagi.
METODE PENELITIAN