• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI PENGARUSUTAMAAN ISU-ISU KORUPSI DAN INTEGRITAS PADA PERGURUAN TINGGI UNHALU KENDARI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STRATEGI PENGARUSUTAMAAN ISU-ISU KORUPSI DAN INTEGRITAS PADA PERGURUAN TINGGI UNHALU KENDARI"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI PENGARUSUTAMAAN ISU-ISU KORUPSI DAN

INTEGRITAS PADA PERGURUAN TINGGI UNHALU KENDARI

1

Oleh: H. Barlian2

ABSTRAK. Data Internation Transparency Tahun 2009, Indonesia berada pada posisi pertama negara terkorup di Asia Tenggara, sedangkan hasil survey yang juga dilansir Internation Transparency tahun 2011 Indonesia masuk 10 besar negara terkorup di dunia, padahal data tahun 2009 Indonesia masih berada pada peringkat 111 dari 180 negara. Kondisi ini menunjukan bahwa betapa negara kita masih sangat rapuh dari aspek pendidikan integritas, minim kejujuran dan tanggungjawab. Mengklasifikasi pihak-pihak yang terlibat dalam beberapa kasus korupsi, kenyataannya sebagian besar mereka yang memiliki pendidikan tinggi, atau luaran pendidikan tinggi. Tentunya kondisi ini sangat kontraproduktif dengan tujuan pendidikan itu sendiri baik secara filosofis maupun menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional, yang pada garis besarnya ingin melahirkan generasi bangsa yang berakhlak mulia, jujur, cakap, mandiri, kreatif, tanggungjawab, dan demokratis. Prilaku korupsi termasuk bentuk kecurangan yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan karena berdampak pada masyarakat dan bangsa secara luas.

Lembaga pendidikan dan lembaga penegak hukum sama-sama memiliki peran penting dalam memberantas praktik korupsi di negeri ini. Akan tetapi, baik lembaga penegak hukum maupun lembaga pendidikan yang diharapkan dapat melakukan upaya-upaya preventif melalui pendidikan integritas dan karakter, penguatan nilai-nilai budaya, dan nilai-nilai agama, pada umumnya belum berjalan dengan baik. Persoalan mendasar 95 persen pelaku korupsi adalah luaran strata satu (S1). Kondisi ini jelas kontra produktif dengan tujuan pendidikan. Hasil penelitian menunjukan internalisasi nilai-nilai integrasi dan karakter dalam pendidikan belum berjalan dengan baik, baik melalui proses pembelajaran maupun dalam sikap dan prilaku akademik mahasiswa dan dosen. Strategi utama yang harus dilakukan adalah gerakan bersama melawan korupsi baik secara struktural (kebijakan) maupun secara kultural. Mengawali dengan hal-hal yang kecil, anti plagiat dan anti mencontek harus dibudayakan dalam tradisi akademik, gerakan kampanye secara reguler, dan konsistensi kebijakan dalam memberikan punishman bagi yang melanggar kode etik dosen dan mahasiswa.

Kata Kunci: Korupsi dan Pendidikan Integritas

1 Ringkasan Hasil Penelitian 2 Dosen FKIP Unhalu Kendari PENDAHULUAN

Latar Belakang

Salah satu aspek tujuan bernegara adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana dalam Pembukaan UUD 1945. Instrumen negara dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa adalah penyelenggaraan pendidikan secara utuh dan menyeluruh. Oleh karenanya, tujuan, proses, dan output pendidikan seharusnya berorientasi pada mencerdaskan kehidupan bangsa, hal ini memiliki makna yang dalam dan fundamental.

(2)

2 Begitu dalamnya manfaat pendidikan bagi pembentukan diri dan karakter seserorang, sehingga Plato (428-347 SM) pernah mengutarakan “jika anda bertanya apa manfaat pendidikan, maka jawabannya sederhana: pendidikan membuat orang menjadi baik dan orang baik tentu berprilaku mulia” (Naim, 2008: th). Pandangan tersebut pendidikan harus diarahkan pada pembentukan sikap dan karakter melalui penguatan ranah afektif, kretaif dan profesional melalui penguatan ranah psikomotorik, pemahaman dan daya kritis melalui penguatan ranah kognitif.

Secara formal, penguatan tiga ranah tersebut sesungguhnya telah dirumuskan secara konprehensif dan integratif dalam UU No 2 Tahun 1989, kemudian dirumuskan kembali dalam UU Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 Tahun 2003, yang memiliki enam dimensi, yaitu; beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat jasmani dan rohani, memiliki pengetahuan dan keterampilan, memiliki kepribadian mantap dan mandiri, demokratis dan bertanggungjawab terhadap masyarakat dan bangsa (Hasbullah, 2009:11).

Jika ditarik pada pemahaman yang lebih spesifik tentang hakikat pendidikan di sini adalah: pertama, untuk membangun spiritual quotient atau kecerdasan spiritual (SQ); kedua, intelektual quotient atau kecerdasan intelektual (IQ); dan ketiga, emosional quotient atau kecerdasan emosional (EQ); Ketiga aspek tersebut merupakan bagian yang integral sehingga pada akhirnya akan membentuk manusia seutuhnya sebagaimana cita-cita dalam bernegara.

Kenyataannya, cita-cita itu masih jauh, atau dalam istilah peribahasa jauh panggang dari api. Bangsa kita masih diselimuti oleh segudang krisis multi aspek. Hal yang paling mencengangkan adalah kasus korupsi. Setiap hari berbagai pemberitaan media, baik cetak maupun elektronik tidak pernah luput dari kasus korupsi. Hal yang paling mengagetkan lagi ketika hasil survey Indonesian Partnership Tahun 2006, menempatkan Indonesia sebagai negara terkorup urutan pertama di Asia. Hal yang sama juga ditunjukan oleh hasil survey yang dilakukan oleh PERC, sejak 3 tahun terkahir Indonesia masih

menempati peringkat pertama kasus korupsi di Asia. Sedangkan Survey International Transparency Tahun 2009 menempatkan Indonesia berada pada ranking 111 dari 180 negara dengan skor 2,8 (Tjandra Sridjaja, 2010:17). Sedangkan data terbaru tahun 2011 dari IT bahwa Indonesia telah masuk 10 besar

negara terkorup di dunia.

(http://www.unpad.ac.id/archives/46805). Dalam konteks Sulawesi Tenggara juga tiap hari kita disuguhkan dengan pemberitaan kasus korupsi. Fakta-fakta ini tidak terlepas dari bagian kegagalan pendidikan, krisis integritas dan kehilangan roh spritualitas pendidikan.

Kebohongan dan inkonsistensi seringkali terjadi dan menjadi hal biasa dalam parkatik kehidupan kita, baik dalam proses pendidikan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Melakukan pembiaran mencontek atau bahkan membantu siswa dalam proses pelaksanaan evaluasi dan ujian pendidikan adalah merupakan bentuk krisis integritas dan embrio untuk membangun generasi pembohong dan korup.

(3)

Rumusan Masalah

Untuk menfokuskan arah dan capaian penelitian, maka rumusan masalah dari penelitian ini yaitu:

1. Bagaimana kondisi permasalahan pendidikan di Unhalu kaitannya dengan pengarusutamaan isu-isu korupsi dan integritas?

2. Bagaimana kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan Unhalu dalam mengembangkan pengarusutamaan Isu-isu korupsi dan ingetritas?

3. Bagaimana strategi melakukan pengarusutamaan isu-isu korupsi dan integritas di Unhalu Kendari?

Tujuan Penelitian

Mengacu pada latar belakang dan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Melakukan identifikasi kondisi permasalahan pendidikan di Unhalu kaitannya dengan pengarusutamaan isu-isu korupsi dan integritas?

2. Melakukan identifikasi dan rumusan kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan

Unhalu dalam mengembangkan

pengarusutamaan Isu-isu korupsi dan ingetritas?

3. Merumuskan strategi pengarusutamaan isu-isu korupsi dan integritas di Unhalu Kendari?

STUDI PUSTAKA DAN ROADMAP

PENELITIAN Fenomena Korupsi

Menurut data Transparency International Corruption Perception tahun 2011 fenomena korupsi di Indonesia meningkat yaitu berada pada angka 2,5, hal ini menempatkan Indonesia masuk sepluh besar negara terkorup di dunia, hal ini sejajar dengan dengan Nigeria, dan negara-negara miskin lainnya di Afrika dan Asia (http://www.unpad.ac.id/archives/46805). Fakata ini meningkat drastis bila dibandingkan oleh hasil survey yang juga dilakukan oleh Transparency International Corruption Perception tahun 2009 yang menempatkan Indonesia pada urutan 111 negara terkorup di dunia. Menurut Tjandra

Sridjaja (2010) fenomena tersebut harus menjadi perhatian serius oleh bangsa ini, masalah ini tidak sekedar masalah hukum dan penegak hukumnya saja, akan tetapi merupakan bagian yang kompleks karena terkait dengan mental dan sikap atas seluruh pelaku-pelaku birokrasi.

Hasil penelitian Indonesia Corruption Watch (ICW) yang diapload dari http://gorontalonews.wordpress.com/2011/02/24, Semester II periode 1 Juli sampai 31 Desember 2010 menunjukkan peningkatan jumlah kasus korupsi mencapai 272 kasus yang sudah masuk penanganan penegak hukum. Sebelumnya pada penelitian ICW Semester I sejak Januari sampai Juni 2010, jumlah kasus korupsi mencapai 176 kasus. Sektor dengan jumlah kasus terbesar adalah sektor infrasuktur berjumlah 53 kasus. Sebelumnya sektor keuangan daerah menjadi catatan ICW sebagai sektor kasus tertinggi di semester I mencapai 38 kasus. Dengan demikian terjadi peningkatan jumlah kasus korupsi di daerah maupun pusat. Menurut Ermansjah (2009:23) kasus-kasus korupsi yang melibatkan hampir sebagian besar birokrasi di Indonesia harus dilakukan dengan pendekatan secara konfrehensif dan lebih mengedepankan upaya pencegahan.

Dalam konteks Sulawesi Tenggara, kasus korupsi masih banyak menghiasi berbagai pemberitaan berbagai media. Hasil kajian berita yang dilakukan oleh Lembaga Diskusi dan Kajian Jurnalis (2011), dari rentang pemberitaan yang dimuat oleh koran harian Kendari Pos dan Koran Harian Kendari Ekspres, mulai Januari 2009 sampai Mei 2011, pada rubrik Headline (berita utama) kasus atau isu korupsi menempati urutan kedua setelah isu politik. Kondisi ini menunjukan bahwa pemberitaan masalah korupsi baik skala propinsi maupun kabupaten/kota hampir berbanding dengan berita politik.

Hasil penelitian Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) Sultra tahun 2010, menunjukkan bahwa dari beberapa kasus korupsi baik yang sudah diputus maupun yang sedang diproses, baik ditingkat kabupaten/kota maupun ditingkat propinsi Sultra, banyak terjadi akibat penyelewengan dana APBD.

(4)

4 penyebabnya sangat kompleks. Menurut studi yang dilakukan oleh Muh Yasin dalam Ermansjah Djaja (2010: 19), beberapa faktor penting yang menyebabkan korupsi yaitu:

 Rendahnya integritas dan

profesionalisme.

 Lemahnya komitmen dan konsistensi penegakan hukum dan peraturan perundang-undangan.

 Adanya peluang dilingkungan kerja jabatan dan dilingkungan masyarakat yang mendukung timbulnya korupsi.  Sikap yang tamak, lemahnya keimanan,

kejujuran dan rasa malu.

 Sistim penggajian yang tidak professional.

Lemahnya Pendidikan Integritas

Secara sosiologis, pendidikan merupakan lembaga yang dapat melakukan transformasi sikap dan integritas, mebangun nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab yang tinggi. Menurut KH Dewantara pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya (Hasbullah, 2009: 22). Pengertian tersebut memiliki unsur-unsur fundamental dan relevan dengan konsepsi yang dirumuskan dalam Undang-Undang No 22 Tahun 2003 tentang sistim pendidikan nasional yaitu Pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan darinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Prilaku korupsi adalah bentuk penyelewengan dari hakekat dan tujuan pendidikan itu sendiri, dengan kata lain apa yang menjadi harapan dan tujuan pendidikan belum terjewantahkan dalam kehidupannya. Beberapa fakta menunjukan bahwa sebagian besar pihak yang melakukan tindakan korupsi adalah mereka yang berpredikat sarjana. Penelitian ICW tahun 2009 menunjukan tingkat pendidikan tenyata tidak memiliki korelasi dengan sikap integritas

seseorang termasuk prilaku korupsi. Tingkat pendidikan pada strata S1 dan S2 paling banyak yang terkait dengan kasus korupsi, hal ini bila dibandingkan dengan tamatan SMA maupun SMP jauh lebih rendah.

Data-data tersebut menjukkan masih lemahnya konsep dan muatan pendidikan yang mengarah pada penguatan integritas seorang anak. Menurut Tillaar (2009:12) faktor kelemahan pendidikan saat ini adalah lebih menekankan pada evaluasi yang bersifat kognitif saja yaitu pendidikan intelektual dan hafalan anak, sehingga pada tataran sikap dan mental berupa atitute anak sangat lemah. Kondisi ini sangat relevan dengan kajian Muh Yasin dalam Ermansjah Djaja (2010:6) menempatkan lemahnya integritas dan profesionalisme sebagai faktor utama yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan korupsi.

Integritas, kejujuran, dan tanggung jawab lebih tepat dibangun dari lembaga pendidikan sejak dini. Muh. Padil (2007:65) menekankan bahwa seharusnya lembaga keluarga harus lebih banyak menanamkan nilai-nilai pada anak sejak kecil, akan tetapi pengaruh lingkungan begitu kuat, maka perlu ada penguatan yang lebih sistematis melalui pendidikan. Pendidikan integritas dengan cara terintegrasi dalam materi pembelajaran, atau berdiri sendiri atau melalui gerakan simultan dari kalangan pelajar, guru, mahasiswa dan dosen, melalui hal-hal yang kecil dan berkelanjutan.

Peranan Dunia Kampus dalam Pengembangan Pengarusutamaan Isu-Isu Korupsi dan Integritas

(5)

lahirnya perpecahan dan konflik sosial masyarakat; (4) sebagai sumber inovasi sosial.

Untuk itu, lembaga pendidikan termasuk PT harus mampu mengembalikan fungsi pendidikan bagi penataan kehidupan sosial masyarakat. Korupsi adalah merupakan kejahatan sosial yang memiki dampak yang kuat bagi hancurnya tatanan kehidupan sosial. Tidak cukup pengendalian korupsi hanya dengan pendekatan struktural misalnya; penegakan hukum atau memperketat sistem, akan tetapi paling urgen juga harus pendekatan kultural yaitu pendidikan anti korupsi sedini mungkin. PT harus dapat memotori ini, sebagaimana selama ini telah di mulai oleh Universitas Paramadina.

Sebagai lembaga yang memiliki peran mencetak Sumberdaya Manusia, PT haruslah bersifat dinamis, fleksibel dan mampu merespon segala persoaln-persoalan kebangsaan dan kemanausiaan. Tantangan globalisasi tidak sekedar mengejar ketertinggalan akademik dengan terminologi modernisasi yang kaku. Muhamad Karim (2009) misalnya mengkritisi ideologi pendidikan saat ini yang terjebak pada terminologi korporasi yang hanya fokus pada keterukuran dan hal-hal yang material, misalnya membangun kelas baru, fasilitas baru, memodernkan peralatan sekolah dengan alat-alat yang canggih, dan sebagainya; tetapi lupa dengan hakikatnya sebagai lokomotif perubahan karakter, kepribadian kemanusiaan yang harusnya terintegrasi dalam proses pendidikan.

Dalam konteks Sulawesi, dengan trend perkembangan kasus-kasus korupsi yang terus meningkat, tentunya Unhalu sebagai PT Terkemuka dan menjadi pusat inovasi pengembangan pendidikan di sultra harus berperan aktif dengan segala potensi yang dimilikinya.

METODE PENELITIAN Jenis penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif yaitu mendiskripsikan data yang diperoleh secara kualitatif sesuai dengan fakta dan informasi yang diperoleh dari informan. Tipe penelitian kualitatif yang dilakukan ini mengacu pada Iskandar

(2010:204) penggambungan antara fenomenologi organisaction dan case studi.

Sasaran dan Penentuan Informan

Sasaran utama dalam penelitian ini lebih mengarah pada membangun id participation dari informan dan pakar yang akan ditentukan secara sengaja dengan teknik snow ball sampling. Teknik ini mengacu pada Syah (2003:5) yang menyatakan bahwa strategi dasatr teknik bola salju (snowball sampling) dimulai dengan menetapkan satu atau bebarapa orang informan kunci (key informants) untuk melakukan intevew dan wancara atau disksusi kepada mereka. Selanjutnya pada merekalah mendapatkan petunjuk tentang infoman-infoman selanjutnya khususnya keterkaitan pengetahuan dan pengalamn dengan subjek yang diteliti.

Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian dilakukan dengan teknik pertama, (1) Inventarisasi dan kajian Dokumen terkait, yaitu mengumpulkan domumen-dokumen terkait berupa dokumen rencana strategis (renstra) Unhalu, renstra FKIP, Laporan terkahir Rektor Unhalu tahun 2010. (2) wawancara mendalam, yaitu melakukan wawancara secara mendalam kepada informan yang dipilih secara sengaja sesuai dengan kepakaran dan bidang yang dibutuhkan. Dalam penelitian ini jumlah informan kunci sebanyak 8 orang. (3) Focus Group Discussion yaitu untuk mengkroscek dan mendalami berbagai infomasi yang diperoleh juga terkait dengan membangun konsensus pemahaman dan partisipasi untuk melakukan rumusan strategi. Beberapa kelompok yang terlibat dalam FGD ini yaitu kelompok dosen muda, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Kendari, Himpunan Mahasiswa Islam Indoensia (HMI) komisariat FKIP, dan Lingkar Studi Ilmiah Mahasiswa Unhalu.

HASIL PENELITIAN

(6)

6 maupun melalui FGD. Pertama, Faktor Input yang meliputi; (1) Komitmen pemerintah pusat dan daerah untuk memberikan pelayanan dan pemerataan akses pendidikan yang layak dalam berbagai jenjang pendidikan pada seluruh pelosok melum merata dengan kata lain masih ada kesenjangan. (2) Arah dan kebijakan, serta sumberdaya/kapasitas pengelolah pendidikan dalam mengembangkan pendidikannya belum relevan dengan kondisi lingkungannya. (3) Belum ada sinergis antara jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal, sehingga beban pendidikan karakter dan integritas seolah-seolah hanya menjadi kewenangan dan tanggung jawab sekolah formal, padahal peran lingkungan pendidikan masyarakat dan pendidikan keluarga tak kalah pentingnya dalam pendidikan anak tersebut. (4) Budaya Patriarki yang masih kuat: anak-anak perempuan belum ditempatkan setara dengan laki-laki terkait hak-haknya memperoleh pendidikan dan keterampilan memadai dalam lingkungan masyarakat dan keluarganya. (4) Komitmen perencanaan keluarga secara umum belum tertata dengan baik; keluarga besar resiko tanggungan pendidikan dan kesejahteraan anggota keluarga. Semakin besar jumlah anggota keluarga maka mestinya semakin besar pula persediaan untuk tanggungan pendidikan, tetapi kenyataannya masih banyak keluarga yang tidak seimbang, sehingga menyebabkan anak-anak mereka terlantar. (5) Iklim Sosial Politik cenderung mempengaruhi eksistensi dan otonomi penyelenggaraan pendidikan yang kondusif dan berkelanjutan. Bahkan berdampak sampai peserta didik termasuk mahasiswa ikut terlibat dalam permainan kepentingan politik, pada akhirnya mereka ini tidak memiliki independensi, integritas dan cenderung memainkan praktik-praktik politik busuk.

Kedua, Faktor Proses yang meiputi (1) Kapasitas/kompotensi pendidik yang terbatas: akibatnya pendidikan masih bersifat konvesional dan stagnan, kondisi ini bisa dilihat dari metode dan pedekatan pembelajaran yang dipraktekan di kelas. Masalah terjadi tidak terlepas dari kurangnya penguatan-penguatan kapasitas dan sumberdaya serta kemauan mengembangkan diri bagi setiap tenaga pendidik. (2) Lemahnya pendidikan integritas. (3) Sistim evaluasi pendidikan yang masih dominan pada ranah

kognitif bahkan aspek afektif tidak masuk dalam bagian penilaian pendidikan anak. (4) Masalah fundamental yaitu spiritual quotient atau kecerdasan spiritual (SQ); intelektual quotient atau kecerdasan intelektual (IQ); dan emosional quotient atau kecerdasan emosional (EQ) belum belum berjalan sebagai satu kesatauan yang utuh dalam pendidikan. (5) Interaksi dan integrasi sosial (kaitannya dengan pendidikan multi kultural) belum berjalan dengan baik di kelas. (6) Pendidikan sebagai transformai dan transmisi budaya juga belum efektif berjalan. (7) Pengembangan bahan ajar yang kurang mengakomodir kearifan lokal. Hal ini selain karena kurangnya pemahaman akan berbagai kearifan lokal yang dapat dijadikan sebagai input bahan ajar juga kaku dalam menerapkan media pembelajaran.

Kedua, Faktor Output yaitu (1) Alumni lembaga pendidikan (khususnya pendidikan formal) menjadi biangkerok kerusakan pengelolaan berbagai instansi pemerintah. Hal ini terjadi karena pendidikan formal hanya berpikir bagaiamana melahirkan generasi pintar tetapi minus moralitas dan tanggungjawab. (2) Image dan persepsi publik dan masyarakat bahwa pekerjaan yang terhormat adalah PNS; akibatanya generasi enterpreneur dan upaya alumni membuka lapangan kerja sendiri kurang berjalan dengan baik, akibat selanjutnya pengangguran meningkat. (3) Tarikan politik oportunisme; menjadikan alumni banyak menghalakan segala cara untuk kepentingan politik; arus Pilkada, Lesgilatif , bahkan Pilkades. Padahal prilaku tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip manusia terdidik, cenderung mengarahkan menjadi manusia yang korup.

Dalam kontek Unhalu, ternyata masih menyisihkan berbagai masalah terkait dengan masih lemahnya gerakan pengarusutamaan isu-isu korupsi dan pendidikan integritas. Hasil identifikasi menunjukan yaitu: pertama

Kebijakan yang belum terlaksana dengan baik.

(7)

kepribadian (MPK) dapat diterapkan pada seluruh program studi. Kenyataannya masih ada beberapa program studi yang belum menerapkannya. Hasil penulusuran yang dilakukan misalnya prodi yang belum menerapkannya yaitu prodi berada dibawah naungan jurusan pendidikan MIPA, dan beberapa prodi di FMIPA. Selanjutnya masih ada program studi yang belum memiliki dan menerapkan Standar Operasional Prosedure (SOP), serta tim penegakan Kode Etik yang berjalan dengan baik.

Kedua, Komitmen tenaga pendidik

(dosen) dan tenaga administrasi. Salah satu kompotensi yang mestinya dimiliki oleh dosen dan tenaga administrasi adalah kompotensi profesional dan personal yang harus ditunjukan dalam setiap kinerjanya. Hasil FGD dengan mahasiswa menunjukan bahwa masih ada model pembelajaran yang menekan dan tidak memberikan contoh yang baik pada mahasiswa. Disamping itu pula tenaga administrasi masih ada oknum yang tidak memberikan pelayanan yang prima jauh dari sikap dan bentuk profesionalisme. Padahal salah satu kebijakan pimpinan periode ini adalah memberikan pelayanan secara profesional dan ikut serta melawan tindakan korupsi.

Ketiga, Evaluasi pendidikan yang belum integral (kognitif, afektif dan psikomotorik). Evaluasi pembelajaran mahasiswa yang dilakukan selama ini, dari hasil wawancara pada beberapa dosen menunjukan evaluasi hanya pada aspek kognitif saja. Hal terjadi karena sampai saat ini belum ada instrumen yang tepat untuk melakukan evaluasi dari aspek efektif. Disamping itu tentunya membutuhkan komitmen dan kemauan dosen dalam menerapkan aspek-aspek afektif dan psikomotorik. Penilaian afektif tentunya membutuhkan rubrik pengamatan dan membutuhkan kesabaran dan keseriusan bersama.

Keempat, Belum ada konsistensi antara nilai dengan sikap. Masalah ini tidak saja terjadi pada mahasiswa, juga terjadi pada dosen dan tenaga administrasi.

Kelima, Anti korupsi belum menjadi

gerakan bersama. Isu perlawanan terhadap korupsi atau biasa disebut dengan gerakan anti korupsi sebenarnya telah menjadi gerakan nasional dan isu yang sudah tidak asing lagi dalam dunia akademik seperti Unhalu.

Keenam, Gerakan mahasiswa dan

tarikan oportunisme. Prilaku korupsi yang melibatkan beberapa oknum pemerintahan, legislatif dan swasta tidak terlepas dari pengaruh dan prilaku negatif saat mereka menjadi mahasiswa, salah satu diantaranaya adalah gaya hidup hedonis dan tarikan oportunisme.

Ketuju, Proses pembelajaran yang tidak sehat dan profesional. Salah satu bagian dan moment yang tepat dalam membentuk karakter dan integritas mahasiswa adalah dalam proses pembelajaran. Misalnya disiplin, adil dan demokratis serta metode pembelajaran yang partisipatif dan menyenangkan. Melalui metode yang tepat dan gerakan kecil-kecilan akan berdampak besar bagi pembinaan dan pembentukan karakter. Sebaliknya dengan metode pembelajaran yang tidak tepat misalnya menakut-nakuti, menegangkan, dosen sebagai otoritas penentu kebenaran, tidak adil dalam penilaian, tidak menegakan sistim reward dan punishman, dan tidak berbabsis budaya dan lingkungan sisiwa semuanya akan berdampak pada pembentukan karakter pembangkan dan penipu, tentunya ini merupakan embrio prilaku korupsi.

Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Tantangan

Kekuatan

(8)

8 mengembangkan diri dan melakukan bentuk-bentuk pemberdayaan dan pembelajaran di luar perkualiahan, jika dikembangkan dan disuport tentunya menjadi suatu kekuatan besar, karena hampir sebagian besar pelaku-pelaku yang mengatur negara kita (eksekutif, legislatif maupun yudikatif) ditempa melalui organisasi tersebut.

Kelemahaman

Hasil identifikasi kelemahan, secara internal diperoleh beberapa masalah yaitu (1) Nilai-nilai integritas belum terinternalisasi dalam sikap maupun proses pembelajaran, misalnya; sikap seorang dosen, prilaku mencontek, dan plagiat dalam penulisan karya ilmiah. (2) Materi anti korupsi belum terintegrasi dalam pembelajaran, apakah terintegrasi dalam mata kuliah tertentu atau berdiri sendiri. (3) Beberapa mata kuliah untuk pembelajaran etika dan karakter belum merata diterapkan pada semua program studi. (4) Sistim penilaian hanya spek kognitif saja, padahal aspek yang paling vital dalam mengukur sikap da karakter seorang anak adalah harus melalui penilaian afektifnya. (5) Belum ada kebijakan khusus dalam bentuk program untuk gerakan anti korupsi di dalam kampus, baik terstruktur dalam lembaga resmi kampus maupun lembaga-lembaga kemahasiswaan. (6) Gerakan mahasiswa yang terkontaminasi dengan kepentingan politik dan oportunisme, akhirnya berdanpak pada praktek-praktek yang identik dengan prilaku korup khususnya terjadi saat mereka setelah sarjana.

Peluang

Secara eksternal, beberapa peluang diidentifikasi dan dirumuskan antara lain (1) Jaringan dan kerjasama yang sudah mulai terbangun dengan baik, baik dalam maupun luar negeri. Beberapa universitas yang sudah mengembangkan dan dapat dijadikan kerjasama misalnya Universitas Paramadina, TIRI ataupun USAID. (2) Unhalu sebagai pencetak SDM di Sultra, memiliki peran strategis dan memiliki legitimasi yang kuat dibidang pengembangan SDM di Sultra. (3) Unhalu sebagai lumbung pakar dan refrensi bagi pembangunan daerah di Sultra, peluang ini dapat menjadi satu alasan

peluang untuk menawarkan kerjasama untuk mengembangkan program pengarusutamaan isu-isu korupsi. (4) Dukungan pemerintah pusat dan daerah. Hal ini jelas sebagai lembaga pendidikan resmi dan terkemuka di Sultra menunjukan dukungan PEMDA sangat kuat. (5) Legitimasi dan kepercayaan masyarakat bagi Unhalu masih kuat indikatornya jumlah peminat semakin meningkat untuk masuk dan ditempa di Universitas ini.

Tantangan

Hasil identifikasi dan rumusan aspek tantangan diperoleh (1) Prilaku dan budaya nakal, manja dan suka mencontek saat sekolah tingkat SMA atau SMP, hal ini terbawa-bawa pada tingkat ketika mereka menjadi mahasiswa. (2) Tarikan kepentingan politik, hal ini sangat jelas karena dengan adanya sistim pemilihan langsung baik kepala daerah maupun legislatif menuntut mereka meluaskan jaringan dan permintaan dukungan dari pihak kampus baik dari kalangan dosen maupun mahasiswa. (3) Gaya hidup oportunisme dan budaya korup yang menjangkit dan menular, hal ini melanda hampir sebagian besar mahasiswa karena ideologi kapitalisme dan tuntutan gaya hidup, padahl jauh dari nilai-nilai budaya dan agama. (4) Para koruptor dan politisi busuk cenderung mencari perlindungan dan dukungan dari kalangan kampus baik pada dosen maupun mahasiswa. Tidak jarang mahasiswa melakukan demonstrasi hanya karena mendukung kepentingan individu bukan rakyat. (4) Keprihatinan dan perhatian publik terhadap masalah korupsi belum besar. (5) Lemahnya pendidikan luar formal (masyarakat dan keluarga). Padahal pendidikan sikap anak sangat besar pengaruhnya dari jalur keluarga dan lingkngannya.

Strategi Pengarusutamaan Isu-Isu Korupsi dan Integritas di Unhalu

(9)
(10)

10

Visi Civitas akademik dan alumni Unhalu memiliki nilai-nilai integritas dan komitmen untuk melawan korupsi dimanapun mereka berada.

Misi Strategis 1. Membangun gerakan anti korupsi dan pendidikan integritas secara berkelanjutan dan simultan oleh seluruh lembaga kampus dan kemahasiswa melalui suatu bentuk kerjasama

2. Penguatan kapasitas dan kesadaran melalui suatu kebijakan dan program terkait dengan pendidikan integritas dan isu-isu anti korupsi. 3. Internalisasi pendidikan integritas dan pendidikan anti korupsi dalam

proses pembelajaran mahasiswa.

Misi Strategis 1:

Tujuan Strategis

Sasaran Startegis

Output Program strategis

1. Mengembangkan bentuk gerakan dan program anti korupsi melalui suatu bentuk kerjasama

Adanya suatu bentuk gerakan dan program kerjasama untuk melakukan gerakan anti korupsi di dalam kampus

1.Dalam waktu 2 tahun Unhalu telah melakukan kerjasama dengan TIRI, Universitas

Paramadina maupun lembaga donor luar negeri, yang ditandai dengan suatu bentuk MOU

2.Seminar, workshop, maupun kampanye-kampnye anti korupsi tiap tahun meningkat minimal 10 %.

2. Meningkatnya bentuk gerakan dari lembaga-lembaga

kemahaiswaan baik melalui bentuk kampanye maupun diskusi-diskusi intensif

Terjalinnya kerjasama antara lembaga

kemahasiswaan baik ekstra maupun intra kampus dalam melakukan

kegiatan-kegiatan anti korupsi dan penguatan integritas.

1. BEM mapun lembaga ekstra seperti PMII, HMI, IMM, dan Kelompok Mushola rutin melakukan gerakan anti korupsi.

2. Dalam programnya melakukan bentuk-bentuk pertanggungjawaban yang sesuai dengan nilai-nilai integritas dan transparan.

3. Tidak melakukan kekerasan dalam setiap gerakannya.

4. Mendukung suasana akademik yang disiplin, demokratis dan bermutu melalui tindakan kongkrit terhadap anggotanya.

5. Mengembangkan budaya jujur dalam kegiatan akademik, tidak mencontek dan memalsukan tulisan orang lain sebagai karya ilmiahnya.

Misi Strategis 2:

Tujuan Strategis

Sasaran Startegis

Output Program strategis

Meningkatkan kapasitas dan kesadaran melalui suatu kebijakan dan program terkait dengan pendidikan integritas dan isu-isu anti korupsi

Adanya kebijakan yang kuat dan meningkatnya kapasitas dan kesadaran para dosen dan tenaga administrasi dalam

1. Optimalisasi pelatihan dosen dan tenaga

administrasi terkait pelayanan pendidikan secara prima dan profesional sesuai nilai-nilai integritas 2. Optimalisasi pelatihan pekerti secara bertingkat

dan berkelanjutan

(11)

mendukung pengarusutamaa n isu-isu korupsi dan integritas

4. Gerakan anti mencontek dan anti palagiat ditandai dengan suatu bentuk workshop dan langkah-langkah inforcemen.

5. Kampanye anti korupsi dan anti suap dapat dilakukan baik dalam bentuk talk show, baleho yang dapat dipasang pada pusat-pusat pelayanan, setiap prodi dan melalui suatu disksui reguler. 6. Melakukan evaluasi bersama masing-masing

fakultas dalam bentuk “talk breek” setiap awal semester untuk mengevaluasi semester

sebelumnya dan merancang perbaikan proses semester yang akan berjalan, dihadiri oleh seluruh dosen di masing-masing fakultas.

Misi Strategis 3:

Tujuan Strategis

Sasaran Startegis

Output Program strategis

Internalisasi pendidikan integritas dan pendidikan anti korupsi dalam proses

pembelajaran mahasiswa

Terselenggaranya proses pendidikan yang berbasis pendidikan integritas dan pendidikan anti korupsi.

1. Setiap program studi merancang suatu mata kuliah yang memuat nilai-nilai anti korupsi apakah berdiri sendiri dalam satu mata kuliah, maupun terintegrasi dalam beberapa mata kuliah tertentu.

2. Dalam waktu minimal 1 tahun semua dosen yang menyelenggarakan pembelajaran dengan

mengacu pada SAP yang berbasis karakter sehingga dapat dilengkapi dengan rubrik penilaian pengamatan afektif.

3. Penilaian dosen harus berbasis pada tiga bentuk penilaian yaitu penilaian kognitif, afektif dan psikomotorik, sehingga dalam waktu 1 tahun telah ada suatu konsesus tentang interumen yang dipakai bersama dalam mengimpelementasikan penilaian tersebut.

4. Semua prodi telah mengembangkan dan

menerapkan SOP dalam pelayanan akademik baik dosen maupun mahasiswanya.

(12)

12 KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan uraian dan rancangan rumusan strategis tersebut maka dapat disimpulkan (1) Secara umum perkembangan dan kebijakan pendidikan nasional telah menunjukan perbaikan dan perkembangan yang lebih baik namun masih menyisahkan masalah berupa luaran pendidikan yang minim karakter dan integritas, hal ini disebabakan beberapa masalah baik dari segi input proses maupun output, kondisi ini juga terjadi di lingkup Unhalu. (2) Sebagai perguruan tinggi negeri terkemuka di Sultra, Unhalu memiliki kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan, dapat dianalisis dalam melahirkan suatu rancangan strategis kuat dan realistis. (3) Strategi pengarusutamaan isu-isu korupsi di lingkup Unhalu mengembangkan bentuk gerakan bersama civitas akademik, melalui kampanye, diskusi-diskusi intensif, regulasi kebijakan dan program terkait dengan pendidikan integritas dan isu-isu anti korupsi, dan Internalisasi pendidikan integritas dan pendidikan anti korupsi dalam proses pembelajaran mahasiswa.

Hal-hal yang dapat disarankan yaitu (1) Kepada pemerintah untuk segerah melakukan langkah-langkah antisipatif dan kebijakan tentang pembangunan karakter dan nilai-nilai integrasi melalui pendidikan formal. (2) Kepada pimpinan Universitas Haluoleo untuk segera merumuskan kebijakan dan langkah-langkah kongkrit terkait dengan permasalahan minimnya integritas dosen dan mahasiswa misalnya perlunya gerakan anti mencontek, anti plagiat, gerakan anti demonstrasi bayaran, termasuk mendorong program studi untuk melakukan internalisasi nilai-nilai integritas dan karakter dalam mata kuliahnya.

DAFTAR PUSTAKA

Barlian. 2010. Gerakan Mahasiswa di Kota Kendari Sulawesi Tenggara. Makassar: Disertasi UNM.

Djaja, Ermansjah. 2010. Memberantas Korupsi Bersama KPK. Jakarta: Sinar Grafika. Freire, Paulo. 2000. Politik Pendidikan,

Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan. Yogyakarta: Pusataka Pelajar.

Hasbullah. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. http://www.unpad.ac.id/archives/46805

Indonesia Coruption Watch (ICW), 2011. Data Korupsi di Indonesia, diapload dari http://gorontalonews.wordpress.com/2011 /02/24

Karim, Muhamad. 2009. Pendidikan Kritis Transformatif. Jogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Latif, Yudi. Pesona yang Pudar. Media Haria Kompas, 19 Juli 2011

Laporan Rektor Unhalu, 18 Agustus 2011. Lembaga Diskusi dan Kajian Jurnalis (LDKJ),

2011. Pemetaan Rubrik Media Cetak Kendari Pos dan Kendari Ekspress di Sultra.

Naim, Ngainun. 2008. Pendidikan Multi Kultural; Konsep dan Aplikasi. Cv. Ar-Ruzz Media. Jogyakarya.

Padil, Mohamad. 2007. Sosiologi Pendidikan. Malang: UIN- Malang Press.

Pusat Studi Hukum dan Kebijakan. 2010. Orientasi Kebijakan Pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah di Kabupaten Konawe Selatan dan Kolaka.

Renstra Unhalu Tahun 2009-2014

Sridjaja, Tjandra. 2010. Sifat Melawan Hukum dalam Tindak Pidana Korupsi. Jakarta: Indonesia Lawyers Club.

Tilaar, HAR. 2001. Membanahi Pendidikan Nasional. Jakarta: PT Rineka Cipta Tunggal, Amin Widjaja. 2010. Pencegahan dan

(13)

PROFIL PEMETAAN HASIL UJIAN NASIONAL SMA

DI KABUPATEN BOMBANA

1

Oleh: Jamiludin2

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan hasil Ujian Nasional (UN) SMA di Kabupaten Bombana. Prosedur penelitian terdiri dari: (1) Persiapan, (2) Studi dokumentasi (dokumen nilai UN), (3) Pengolahan dan analisis data, dan (4) Penyusunan laporan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil UN di kabupaten Bombana berada pada kategori sedang dan berada di atas standar minimal kelulusan yang ditetapkan.

Kata kunci: Pemetaan, Ujian Nasional, kompetensi dasar

1 Ringkasan Hasil Penelitian PPMP tahun 2011 2 Dosen Pend. Sejarah FKIP Unhalu

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan salah satu prasyarat utama dalam meningkatkan martabat dan kualitas bangsa. Berbagai cara ditempuh agar mendapatkan hasil yang optimal, mulai dari penyusunan program sampai evaluasi dan perbaikan serta pengayaan. Masyarakat atau pengguna dari hasil pendidikan umumnya hanya melihat dari satu sisi bahwa keberhasilan pendidikan ditentukan oleh hasil ujian akhir nasional.

Ujian Nasional (UN) adalah kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi siswa secara nasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Ujian ini bertujuan menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi. Hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk pemetaan mutu pendidikan, seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, serta sebagai penentuan kelulusan siswa.

Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya nilai UN yang dicapai oleh siswa, antara lain: Pertama, kurangnya motivasi siswa didik untuk meraih nilai akademis yang tinggi. Hal itu disebabkan oleh situasi dan kondisi pendidikan dalam lingkungan keluarga yang kurang mendukung. Kedua, merebaknya sikap instan yang melanda kehidupan kaum remaja. Hal ini

disebabkan oleh kuatnya sikap permisif masyarakat yang cenderung membiarkan berbagai perilaku anomali sosial berlangsung di tengah-tengah panggung kehidupan sosial. Ketiga, guru dinilai kurang kreatif dalam melakukan inovasi pembelajaran, baik dalam pemilihan materi ajar, metode pembelajaran, maupun media pembelajaran, sehingga siswa didik cenderung pasif dan bosan dalam menghadapi atmosfer pembelajaran di kelas.

Berdasarkan data Nilai UN Murni persentase siswa dengan nilai < 6.00 sebagai berikut. Untuk jurusan IPA pada tahun 2007/2008, BIND (7.52), BING (5.26), MAT (20.68), FIS (21.43), KIM (2.26), BIO (4.89). Tahun 2008/2009, BIND (42.66), BING (5.78), MAT (0.88), FIS (7.1), KIM (0.00), BIO (37.33). Sedangkan tahun 2009/2010, BIND (22.04), BING (24.91), MAT (12.66), FIS (10.61), KIM (8.57), BIO (58.37).

(14)

14 Dari data di atas terlihat bahwa untuk jurusan IPA mata pelajaran Fisika, Bahasa Indonesia dan Biologi merupakan mata ujian dengan jumlah siswa yang memiliki nilai < 6.00 adalah yang terbesar. Sementara itu, untuk jurusan IPS, mata pelajaran dengan persentase tertinggi dari siswa yang memiliki nilai < 6.00 adalah mata pelajaran Geografi, Matematika, Sosiologi, Bahasa Indonesia, dan Ekonomi. Kenyataan ini memberi indikasi bahwa penguasaan terhadap beberapa kompetensi dasar yang ada masih relatif rendah.

RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: ”bagaimanakah gambaran profil hasil UN Jurusan IPA dan IPS siswa SMA di kabupaten Bombana?”

TUJUAN

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran profil hasil UN Jurusan IPA dan IPS siswa SMA di kabupaten Bombana.

METODE

Penelitian ini dilaksanakan di kabupaten Bombana tahun 2011. Pengumpulan data dilakukan melalui metode studi dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu (1) reduksi data, (2) organisasi data, dan (3) interpretasi data.

TINJAUAN PUSTAKA Mutu Pendidikan

Dalam dunia pendidikan, mutu adalah agenda utama dan senantiasa menjadi tugas yang paling penting. Jerome S. Arcaro, (2007) mutu adalah sebuah proses struktur untuk memperbaiki keluaran yang di hasilkan. Umaedi, (1999) menjelaskan bahwa mutu mengandung makna derajat (tingkat) keunggulan suatu produk (hasil kerja) baik berupa barang maupun jasa; baik yang tangible maupun yang intangible. Dalam konteks pendidikan pengertian mutu, dalam hal ini

mengacu pada proses

pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam proses pendidikan yang bermutu terlibat berbagai input,

seperti; bahan ajar (kognitif, afektif, atau psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru), sarana sekolah, dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif. Manajemen sekolah, dukungan kelas berfungsi mensinkronkan berbagai input tersebut atau mensinergikan semua komponen dalam interaksi (proses) belajar mengajar baik antara guru, siswa dan sarana pendukung di kelas maupun di luar kelas; baik konteks kurikuler maupun ekstrakurikuler, baik dalam lingkup subtansi yang akademis maupun yang non-akademis dalam suasana yang mendukung proses pembelajaran.

Antara proses dan hasil pendidikanyang bermutu saling berhubungan. Akan tetapi, agar proses yang baik itu tidak salah arah, maka mutu dalam artian hasil (ouput) harus dirumuskan lebih dahulu oleh sekolah, dan harus jelas target yang akan dicapai untuk setiap tahun atau kurun waktu lainnya. Berbagai input dan proses harus selalu mengacu pada mutu-hasil (output) yang ingin dicapai. Dengan kata lain tanggung jawab sekolah dalam school based quality improvement bukan hanya pada proses, tetapi tanggung jawab akhirnya adalah pada hasil yang dicapai. Untuk mengetahui hasil/prestasi yang dicapai oleh sekolah terutama yang menyangkut aspek kemampuan akademik atau "kognitif" dapat dilakukan benchmarking (menggunakan titik acuan standar, misalnya: NEM oleh PKG atau MGMP). Evaluasi terhadap seluruh hasil pendidikan pada tiap sekolah, baik yang sudah ada patokannya (benchmarking) maupun yang lain (kegiatan ekstrakurikuler) dilakukan oleh individu sekolah sebagai evaluasi diri dan dimanfaatkan untuk memperbaiki target mutu dan proses pendidikan tahun berikutnya. Dalam hal ini RAPBS harus merupakan penjabaran dari target mutu yang ingin dicapai dan skenario bagaimana mencapainya.

(15)

berlangsungnya proses disebut input, sedangkan sesuatu dari proses disebut output.

Dalam konteks pendidikan mikro (tingkat kelembagaan/sekolah) proses dimaksud adalah pengambilan keputusan, proses pengelolaan kelembagaan, proses pengelolaan program, proses belajar mengajar, dan proses monitoring dan evaluasi. Output pendidikan adalah merupakan kenerja sekolah. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses/prilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat di ukur dari kualitasnya, efektifitasnya, produktifitasnya, efisiensinya, inovasinya, kualitas kehidupan kerjanya serta moral kerjanya.

Sedangkan dalam konteks pendidikan sebagai suatu sistem, maka pencapaian standar proses untuk meningkatkan mutu pendidikan dimulai dari menganalisis setiap komponen yang dapat membentuk dan mempengaruhi proses pendidikan tersebut. Terdapat banyak faktor penentu mutu pendidikan yang dikemukakan oleh Sanjaya (2006) meliputi:

a) Tujuan

Tujuan adalah pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Kepastian dari perjalanan proses belajar mengajar berpangkal tolak dari jelas tidaknya perumusan tujuan pengajaran. b) Guru

Guru adalah komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran. Keberhasilan implementasi suatu strategi pembelajaran akan tergantung pada kepiawaian guru dalam menggunakan metode, teknik dan strategi pembelajaran. Aspek yang dapat mempengaruhi kualitas proses pembelajaran dilihat dari faktor guru diantaranya: (1) Teacher formative experience, meliputi jenis kelamin serta semua pengalaman hidup guru yang menjadi latar belakang sosial mereka; (2) Teacher training experience, meliputi pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan aktivitas dan latar belakang pendidikan guru misalnya pengalaman latihan profesional, tingkatan pendidikan, pengalaman jabatan; dan (3) Teacher properties, adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat yang dimiliki guru misalnya sikap guru terhadap siswa,

kemampuan atau intelegensi guru, motivasi dan kemampuan dalam penguasaan materi. c) Siswa

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran dilihat dari aspek siswa meliputi : (1) Latar belakang siswa (pupil formative experience); dan (2) Sifat yang dimiliki siswa (pupil properties).

d) Sarana dan prasarana

Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses pembelajaran. Kelengkapan sarana dan prasarana akan membantu guru dalam menyelenggarakan proses pembelajaran. e) Kegiatan pembelajaran

Pola umum kegiatan pembelajaran adalah terjadinya interaksi antara guru dan anak didik dengan bahan sebagai perantaranya.

f) Lingkungan

Dilihat dari dimensi lingkungan ada dua faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran yaitu: (1) Faktor organisasi kelas, yang di dalamnya meliputi jumlah siswa dalam satu kelas merupakan aspek penting yang bisa mempengaruhi proses pembelajaran dan (2) Faktor iklim sosial–psikologis meliputi keharmonisan hubungan antara orang yang terlibat dalam proses pembelajaran.

g) Bahan dan alat evaluasi

Bahan dan alat evaluasi adalah suatu bahan dan alat yang terdapat di dalam kurikulum yang sudah dipelajari oleh anak didik guna kepentingan ulangan.

h) Suasana evaluasi

Pelaksanaan evaluasi biasanya dilaksanakan di dalam kelas. Semua anak didik dibagi menurut kelas masing dan tingkatan masing-masing. Besar kecilnya jumlah anak didik yang dikumpulkan di dalam kelas akan mempengaruhi suasana kelas sekaligus mempengaruhi suasana evaluasi yang dilaksanakan.

(16)

16 model ini terdiri dari 3 (tiga) kegiatan inti yang meliputi: pengkajian mutu, analisis dan pelaporan, serta peningkatan mutu. Sebagai acuan atau tolok ukur mutu pendidikan adalah Standar Nasional Pendidikan meliputi: (1) Standar Isi; (2) Standar Kompetensi Lulusan; (3) Standar Penilaian; (4) Standar Proses; (5) Standar Pengelolaan; (6) Standar Sarana dan Prasarana; (7) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan; dan (8) Standar Pembiayaan. Sehingga diharapkan dokumen delapan standar nasional pendidikan ini menjadi dokumen wajib bagi setiap sekolah untuk dimiliki, dikaji, dianalisis dan diimplementasikan di sekolah masing-masing.

Sekolah Bermutu

Sekolah bermutu sangat erat kaitannya dengan adanya keterlibatan masyarakat secara totalitas di dalamnya. Mutu menuntut adanya komitmen pada kepuasaan pelanggan yang memungkinkan adanya perbaikan pada para karyawan, siswa dalam mengerjakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.

Berkenaan dengan sekolah bermutu, ada beberapa model (karakteristik) sekolah bermutu yang dikemukakan oleh Jerome S. Arcaro, (2007) diantaranya adalah:

a) Fokus pada kostumer. Dalam meningkatkan penyelenggaraan mutu pendidikan sekolah harus melayani kebutuhan kostumer baik internal maupun eksternal.

b) Keterlibatan total. Semua komponen yang berkepentingan (warga sekolah dan warga masyarakat dan pemerintah) harus terlibat secara langsung dalam pengembangan mutu pendidikan.

c) Pengukuran. Pengukuran dilakukan dengan cara evaluasi, evaluasi ini dijadikan acuan dalam meningkatkan penyelenggaraan mutu pendidikan. Salah satu bagian yang sering dijadikan instrumen pengukuran adalah nilai prestasi siswa.

d) Komitmen. Hal lain yang menyangkut pendidikan bermutu adalah adanya komitmen bersama terhadap budaya mutu utamanya komite sekolah dan pemerintah.

e) Memandang pendidikan sebagai sistem. Pandangan seperti ini akan mengeliminasi

pemborosan dari pendidikan dan dapat memperbaiki mutu setiap proses pendidikan. f) Perbaikan berkelanjutan. Prinsip dasar mutu

adalah perbaikan secara terus-menerus (berkelenjutan) langkah ini dilakukan secara konsisten menemukan cara menangani masalah dan membuat perbaikan yang diperlukan.

Kompetensi siswa

Kompetensi adalah kemampuan yang harus dikuasai seseorang. Becker, (1977) dan Gordon, (1988) mengemukakan bahwa kompetensi meliputi pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai, sikap dan minat. Dalam dokumen kurikulum (Boediono, 2000:4) mengemukakan bahwa kemampuan dasar diartikan sebagai uraian kemampuan atas bahan dan lingkup ajar secara maju dan berkelanjutan seiring dengan perjalanan siswa untuk menjadi mahir dalam bahan dan lingkup ajar yang bersangkutan. Bahan ajar itu sendiri dapat berupa : lahan ajar, gugus isi, proses, dan pengertian konsep”. Kemudian, dokumen Kurikulum Berbasis Kompetensi yang diterbitkan bulan Agustus 2001, Balitbang mengganti istilah kemampuan dasar dengan kompetensi. Kompetensi dirumuskan sebagai berikut: “kompetensi dasar merupakan uraian kemampuan yang memadai atas pengetahuan, keterampilan, dan sikap mengenai materi pokok. Kemampuan itu harus dikembangkan secara maju dan berkelanjutan seiring dengan perkembangan siswa”. Selanjutnya dikemukakan “dalam kurikulum berbasis kompetensi, metode, penilaian, sarana dan alokasi waktu yang digunakan tidak dicantumkan agar guru dapat mengembangkan kurikulum secara optimal berdasarkan kompetensi yang harus diicapai dan disesuaikan dengan kondisi setempat.” (Balitbang, 2001).

Pengertian kompetensi diartikan sebagai kemampuan yang harus dikuasai seorang peserta didik. Dalam pengertian ini berbagai definisi telah dikemukakan orang. Pengertian di atas dapat dikatakan sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Wolf, (1995), Debling, (1995), Kupper dan Palthe. Wolf, (1995:40) mengatakan bahwa Debling, (1995:80) mengatakan “competence pertains to the ability to perform the activities within a function or an occupational area to the

(17)

Sedangkan Kupper dan Palthe mengatakan

“competencies as the ability of a student/worker enabling him to accomplish tasks adequaletym to find solutions and to realize them in work situations.

Selanjutnya, Tucker dan Coding, (1998) standar dirumuskan sebagai pernyataan mengenai kualitas yang harus dikuasai dan dapat dilakukan siswa dalam sustu pelajaran, yang ditentukan sejak awal, disetujui oleh para akhli pendidikan dan masyarakat, terukur, dan digunakan untuk mengembangkan materi, proses belajar serta evaluasi hasil belajar. Sehubungan dengan kompetensi seorang siswa, pemerintah telah menyatakan merumuskan standar kompetensi lulusan (SKL) yang merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap pengetahuan dan keterampilan (PP Nomor 19 Tahun 2005 Bab I Pasal 1 butir 4). Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran (Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006' pasal 1 ayat 2); Selanjutnya, dinyatakan Standar Kompetensi Lulusan pada satuan pendidikan menengah umum bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan pengetahuan kepribadian akhlak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut (PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 26 ayat 2).

Komponen SKL terdiri atas SKL Satuan Pendidikan, SKL Kelompok Mata Pelajaran' dan SKL Mata Pelajaran (Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006). Sedangkan SKL Ujian merupakan representasi dari keseluruhan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran; Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik (Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006' pasal 1 ayat 1).

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Sebaran Sekolah di Kabupaten Bombana Jumlah SMA di kabupaten Bombana saat ini sebanyak 16 unit dengan rincian 7 unit sekolah negeri dan 9 unit sekolah swasta. (BPS Bombana, 2011).

2. Perkembangan Siswa yang Mengikuti UN di Kabupaten Bombana

Jumlah siswa yang mengikuti UN di kabupaten Bombana, untuk jurusan IPA: tahun 2008 berjumlah 266 siswa tersebar pada 6 sekolah, tahun 2009 berjumlah 225 siswa tersebar pada 6 sekolah (turun 15.41%), dan tahun 2010 berjumlah 245 yang tersebar pada 7 sekolah (naik 8.88%). Untuk jurusan IPS: tahun 2008 berjumlah 582 siswa yang tersebar pada 9 sekolah, tahun 2009 berjumlah 784 siswa yang tersebar pada 11 sekolah (naik 34.70%), dan tahun 2010 berjumlah 808 siswa yang tersebar pada 16 sekolah (naik 3.06%).

3. Persentase kelulusan siswa di Kabupaten Bombana

Peningkatan jumlah siswa peserta ujian UN dalam kenyataannya belum diikuti dengan meningkatnya persentase kelulusan siswa jurusan IPA dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009 persentase kelulusan mencapai 100%, namun tahun berikutnya turun 14.69%. Hal serupa untuk jurusan IPS juga naik pada tahun 2009 sebesar 91.45%, namun pada tahun 2010 persentase kelulusan turun signifikan sebesar 21.41% dari tahun sebelumnya.

Data ini memperlihatkan dengan jelas dalam kurun waktu tiga tahun terakhir kelulusan siswa menurun. Lebih dari itu, penurunan terbesar terjadi pada tahun 2010. Hal ini juga menunjukkan bahwa rata-rata angka siswa mengulang lebih dari 1 % per tahun belum memenuhi kriteria standar pelayanan minimal untuk aspek produk sekolah.

4. Gambaran Pemetaan Kompetensi Siswa SMA di Kabupaten Bombana

(18)

18

a. Deskripsi Nilai UN Murni di kabupaten Bombana

Tabel 1. Nilai UN Murni Jurusan IPA di Kabupaten Bombana

Nilai UN Murni Bahasa Indo. Bahas a Inggris Mate-

matika Fisika Kimia Biolog i Jumla h Nilai Rerata St. min. kelulusan

2008 (5.25), 2009 (5.50), 2010 (5.50)

Rata-Rata 7.13 6.02 6.83 7.31 7.29 6.46 6.80 8.54 7.24 7.09 7.38 7.01 7.71 8.83 7.41 7.02 6.64 5.60 43.06 44.70 40.55 Terendah 4.40 4.00 2.00 4.80 5.00 1.60 0.75 5.00 2.50 4.25 4.00 2.00 5.25 7.00 4.75 5.25 4.00 3.00 37.15 36.95 26.00 Tertinggi 9.20 7.80 9.00 9.00 9.40 8.00 9.00 10.00 9.50 8.50 9.25 9.00 9.50 10.00 9.25 9.25 9.00 8.50 51.00 52.75 49.00

Tabel 2. Nilai UN Murni Jurusan IPS di Kabupaten Bombana

Nilai UN Murni Bahasa Indo. Bahas a Inggris Mate- matika Eko- nomi Sosio- logi Geo- grafi Jumla h Nilai Rerata St. min. kelulusan

2008 (5.25), 2009 (5.50), 2010 (5.50)

Rata-Rata 6.55 5.84 6.11 6.51 7.21 6.26 5.74 7.45 7.58 7.33 6.78 5.83 6.98 6.37 5.84 6.01 6.62 6.80 39.12 40.27 38.42 Terendah 2.00 2.60 1.80 2.60 3.80 1.20 1.25 1.00 0.75 3.25 2.50 1.50 2.75 2.50 1.40 2.25 2.75 1.60 24.65 28.35 13.85 Tertinggi 8.60 8.60 9.20 9.20 9.20 8.60 9.25 9.50 9.50 9.25 8.75 8.50 9.00 8.25 8.40 8.50 8.25 9.20 49.85 47.95 46.20

Berdasarkan data di atas, dapat dikatakan bahwa secara kumulatif rerata nilai UN murni baik jurusan IPA maupun IPS di kabupaten Bombana cenderung menurun pada beberapa mata pelajaran, seperti tampak pada grafik berikut.

(19)

Grafik 2. Nilai UN Murni Jurusan IPS di Kabupaten Bombana

b. Distribusi Nilai UN Murni Tahun di kabupaten Bombana

Selanjutnya, gambaran sebaran nilai UN murni jurusan IPA di kabupaten Bombana tahun 2008 sebagai berikut: rentang nilai < 6.00 bahasa Indonesia (7.52%), bahasa Inggris (5.26%), matematika (20.68%), fisika (21.43%), kimia (2.26%), biologi (4.89%). Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3. Distribusi Nilai UN Murni Jurusan IPA Tahun 2008 Rentang

Nilai Bhs. Indo Bhs. Inggris Matematika Fisika Kimia Biologi Rerata Nilai Real % Real % Real % Real % Real % Real % Real % 10.00 - - - -

9.00 - 9.99 3 1.13 3 1.13 2 0.75 - - 31 11.65 1 0.38 - -

8.00 - 8.99 56 21.05 82 30.83 53 19.92 81 30.45 97 36.47 55 20.68 22 8.27

7.00 - 7.99 104 39.10 82 30.83 65 24.44 95 35.71 81 30.45 63 23.68 137 51.50

6.00 - 6.99 83 31.20 85 31.95 91 34.21 33 12.41 51 19.17 134 50.38 107 40.23

5.25 - 5.99 11 4.14 12 4.51 36 13.53 32 12.03 6 2.26 13 4.89 - -

4.25 - 5.24 9 3.38 2 0.75 18 6.77 25 9.40 - - - -

3.00- 4.24 - - - -

2.00 - 2.99 - - - -

1.00- 1.99 - - - -

0.01 - 0.99 - - - - 1 0.38 - - - -

0/TdkLkp - - - -

(20)

20

Tabel 4. Distribusi Nilai UN Murni Jurusan IPS Tahun 2008 Rentang

Nilai Bhs. Indo Bhs. Inggris Matematika Ekonomi Sosiologi Geografi Rerata Nilai Real % Real % Real % Real % Real % Real % Real % 10.00 - - - -

9.00 - 9.99 - - 6 1.03 1 0.17 9 1.55 2 0.34 - - - -

8.00 - 8.99 60 10.31 90 15.46 9 1.55 190 32.65 160 27.49 32 5.50 1 0.17

7.00 - 7.99 196 33.68 137 23.54 84 14.43 192 32.99 148 25.43 153 26.29 117 20.10

6.00 - 6.99 173 29.73 134 23.02 213 36.60 145 24.91 171 29.38 139 23.88 364 62.54

5.25 - 5.99 60 10.31 108 18.56 92 15.81 35 6.01 63 10.82 90 15.46 88 15.12

4.25 - 5.24 67 11.51 89 15.29 140 24.05 9 1.55 31 5.33 120 20.62 11 1.89

3.00 - 4.24 24 4.12 15 2.58 29 4.98 2 0.34 6 1.03 43 7.39 1 0.17

2.00 - 2.99 2 0.34 3 0.52 11 1.89 - - 1 0.17 5 0.86 - -

1.00- 1.99 - - - - 3 0.52 - - - -

0.01 - 0.99 - - - -

0/TdkLkp - - - -

Untuk jurusan IPA sebagai berikut: rentang nilai < 6.00 bahasa Indonesia (42.66%), bahasa Inggris (5.78%), matematika (0.88%), fisika (7.10%), kimia (0.00%), biologi (37.33%). Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 5. Distribusi Nilai UN Murni Jurusan IPA Tahun 2009 Rentang

Nilai Bhs. Indo Bhs. Inggris Matematika Fisika Kimia Biologi Rerata Nilai Real % Real % Real % Real % Real % Real % Real % 10.00 - - - - 19 8.44 - - 8 3.56 - - - -

9.00 - 9.99 - - 2 0.89 71 31.56 12 5.33 108 48.00 4 1.78 - -

8.00 - 8.99 - - 52 23.11 77 34.22 62 27.56 86 38.22 57 25.33 42 18.67

7.00 - 7.99 42 18.67 99 44.00 48 21.33 85 37.78 23 10.22 36 16.00 128 56.89

6.00 - 6.99 87 38.67 59 26.22 8 3.56 50 22.22 - - 44 19.56 55 24.44

5.50 - 5.99 25 11.11 7 3.11 1 0.44 12 5.33 - - 47 20.89 - -

4.25 - 5.49 66 29.33 6 2.67 1 0.44 3 1.33 - - 34 15.11 - -

(21)

2.00 - 2.99 - - - -

1.00- 1.99 - - - -

0.01 - 0.99 - - - -

0/TdkLkp - - - -

Untuk jurusan IPS sebagai berikut: rentang nilai < 6.00 bahasa Indonesia (51.54%), bahasa Inggris (6.76%), matematika (11.86%), ekonomi (24.23%), sosiologi (26.41%), geografi (31.00%). Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 6. Distribusi Nilai UN Murni Jurusan IPS Tahun 2009 Rentang

Nilai Bhs. Indo Bhs. Inggris Matematika Ekonomi Sosiologi Geografi Rerata Nilai Real % Real % Real % Real % Real % Real % Real % 10.00 - - - -

9.00 - 9.99 - - 10 1.28 54 6.89 - - - -

8.00 - 8.99 4 0.51 137 17.47 369 47.07 32 4.08 14 1.79 101 12.88 - -

7.00 - 7.99 137 17.47 390 49.74 158 20.15 480 61.22 233 29.72 288 36.73 306 39.03

6.00 - 6.99 239 30.48 194 24.74 110 14.03 82 10.46 330 42.09 152 19.39 347 44.26

5.50 - 5.99 102 13.01 22 2.81 23 2.93 52 6.63 102 13.01 119 15.18 100 12.76

4.25 - 5.49 251 32.02 27 3.44 23 2.93 129 16.45 90 11.48 117 14.92 31 3.95

3.00 - 4.24 50 6.38 4 0.51 18 2.30 8 1.02 14 1.79 4 0.51 - -

2.00 - 2.99 1 0.13 - - 24 3.06 1 0.13 1 0.13 2 0.26 - -

1.00- 1.99 - - - - 5 0.64 - - - -

0.01 - 0.99 - - - -

0/TdkLkp - - - 1 0.13 - -

(22)

22

Tabel 7. Distribusi Nilai UN Murni Jurusan IPA Tahun 2010 Renta

ng Nilai

Bhs. Indo Bhs. Inggris Matematika Fisika Kimia Biologi Rerata Nilai R

e al

% Real % Real % Real % Real % Real % Real % 10

.00 - - - - 9.00 -

9.99 4 1.63 - - 14 5.71 5 2.04 2 0.82 - - - - 8.00 -

8.99 4

1 16.73 2 0.82 64 26.12 53 21.63 78 31.84 10 4.08 4 1.63 7.00-

7.99 8

2 33.47 103 42.04 103 42.04 103 42.04 109 44.49 11 4.49 100 40.82 6.00 -

6.99 6

4 26.12 79 32.24 33 13.47 58 23.67 35 14.29 81 33.06 111 45.31 5.50 -

5.99 2

1 8.57 19 7.76 8 3.27 1 0.41 14 5.71 56 22.86 8 3.27 4.25 -

5.49 2

5 10.20 34 13.88 12 4.90 4 1.63 7 2.86 63 25.71 22 8.98 3.00 -

4.24 6 2.45 7 2.86 10 4.08 16 6.53 - - 24 9.80 - - 2.00 -

2.99 2 0.82 - - 1 0.41 5 2.04 - - - - 1.00-

1.99 - - 1 0.41 - - - - 0.01 -

0.99 - - - - 0/TdkL

kp - - - -

Untuk jurusan IPS sebagai berikut: rentang nilai < 6.00 bahasa Indonesia (41.35%), bahasa Inggris (31.80%), matematika (14.60%), ekonomi (49.99%), sosiologi (49.01%), geografi (23.89%). Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 8. Distribusi Nilai UN Murni Jurusan IPS Tahun 2010 Rentang

Nilai Bhs. Indo Bhs. Inggris Matematika Ekonomi Sosiologi Geografi Rerata Nilai Real % Real % Real % Real % Real % Real % Real % 10.00 - - - -

9.00 - 9.99 3 0.37 - - 169 20.92 - - - - 28 3.47 - -

8.00 - 8.99 59 7.30 11 1.36 308 38.12 11 1.36 51 6.31 153 18.94 - -

7.00- 7.99 218 26.98 334 41.34 147 18.19 110 13.61 187 23.14 228 28.22 211 26.11

6.00 - 6.99 194 24.01 206 25.50 66 8.17 283 35.02 174 21.53 206 25.50 408 50.50

5.50 - 5.99 99 12.25 56 6.93 20 2.48 131 16.21 77 9.53 64 7.92 92 11.39

4.25 - 5.49 121 14.98 145 17.95 57 7.05 251 31.06 201 24.88 98 12.13 77 9.53

(23)

2.00 - 2.99 44 5.45 14 1.73 14 1.73 5 0.62 28 3.47 10 1.24 4 0.50

1.00 - 1.99 2 0.25 9 1.11 11 1.36 1 0.12 1 0.12 2 0.25 - -

0.01 - 0.99 - - - - 2 0.25 - - - -

0/TdkLkp - - - - 1 0.12 - - - - 1 0.12 - -

PENUTUP Kesimpulan

Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa di kabupaten Bombana baik jurusan IPA maupun IPS semua mata pelajaran sudah berada di atas nilai standarnya meskipun dalam tiga tahun terakhir sebagian besar mata pelajaran cenderung menurun dan fluktuatif. Di samping itu, masih terdapat perbedaan nilai yang signifikan yaitu ada yang memperoleh nilai hampir sempurna tetapi di sisi lain ada yang memperoleh nilai yang sangat rendah.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik, 2011. Kabupaten Bombana dalam Angka.

DP2M Dikti. 2011. Software PPMP. Jakarta: Kemdiknas

Jerome S. Arcaro, “Quality in Education: an

Implementation Handbook”

diterjemahkan oleh Yosal Iriantara, Pendidikan Berbasis Mutu: Prinsip-Prinsip dan Tata Langkah Penerapan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2007), 38-44.

Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23

Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta.

Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta : Kencana

Semiawan, Conny R., dan Soedijarto, 1991. Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional Menjelang Abad XXI, PT. Grasindo, Jakarta.

(24)

24

PENERAPAN MEDIA COMPACT DISC (CD ) INTERAKTIF DENGAN KONSEP E- LEARNING

UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA KULIAH STRUKTUR HEWAN PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MIPA1

Oleh: H. M. Sirih2 Sal Amansyah3

Abstrak. Masalah dalam penelitian ini adalah apakah dengan menerapkan media Compact Disc

(CD) interkatif dengan konsep E-Learning dapat meningkatkan hasil belajar mata kuliah struktur hewan pada mahasiswa program studi pendidikan biologi jurusan pendidikan MIPA. Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 3 siklus, meliputi tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Sumber data dalam penelitian ini adalah mahasiswa dan dosen pengajar mata kuliah. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan media CD interaktif dengan konsep E-Learning dapat meningkatkan aktivitas belajar mahasiswa dan aktivitas mengajar dosen pada materi sistem peredaran darah. Peningkatan ini ditandai dengan meningkatnya nilai persentase aktivitas belajar mahasiswa dari siklus I, ke siklus II dan siklus III. Begitupula dengan hasil belajar mahasiswa terlihat bahwa dengan menerapkan media CD interaktif dengan konsep E-Learning dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa pada materi sistem peredaran darah dari siklus I ke siklus berikutnya. Namun peningkatan yang diperoleh belum mencapai ketuntasan yang telah ditetapkan yaitu baru 70% mahasiswa memperoleh nilai ≥ 76. (KKM yang ditetapkan 75% mahasiswa memperoleh nilai ≥ 76).

Kata Kunci : Compact Disc (CD), Konsep E-Learning, Hasil Belajar dan Sistem Peredaran Darah

1 Ringkasan Hasil Penelitian 2

Dosen Pendidikan Biologi FKIP Unhalu

3

Dosen Pendidikan Biologi FKIP Unhalu

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan syarat utama dalam upaya meningkatkan kualitas manusia baik ditinjau dari aspek sosial, spiritual, dan intelektual karena manusia sebagai obyek dan subyek utama pembangunan. Mutu pendidikan akan menentukan tingkat keberhasilan pembangunan. Peningkatan mutu pendidikan yang dilaksanakan di perguruan tinggi, dituntut dosen sebagai pendidik memegang peranan yang sangat penting dalam upaya membelajarkan dan mencerdaskan peserta didiknya. Sejalan dengan peningkatan mutu pendidikan tersebut, maka dosen dituntut untuk memiliki kemampuan dan keterampilan dalam menetapkan berbagai model pembelajaran dan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi pokok dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam

tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain (Joyce dalam Trianto, 2007: 5).

(25)

masih berada di bawah nilai Kriteria Ketuntasan minimal yakni 75% mahasiswa memperoleh nilai ≥ 76 (sesuai dengan kriteria evaluasi keberhasilan studi setiap mata kuliah yang telah ditetapkan oleh FKIP Unhalu, Pedoman Akademik, 2010).

Rendahnya pencapaian hasil belajar tersebut diduga disebabkan oleh metode pembelajaran yang diterapkan selama ini yaitu metode ceramah bervariasi dan model pembelajaran langsung yang mengakibatkan kurang efektifnya proses pembelajaran di kelas. Disamping itu, mungkin juga disebabkan oleh media yang digunakan kurang sesuai dengan metode dan materi yang diajarkan sehingga mempengaruhi pencapaian hasil belajar yang belum memenuhi syarat tersebut.

Untuk mengatasi masalah tersebut, peneliti mencoba memilih model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Divisions) dengan menerapkan media CD interaktif yang dalam pembelajaran ini peserta didik berinteraksi langsung dengan komputer dan komputer mempresetasikan materi pembelajaran sekaligus berinteraksi secara individual dengan peserta didik lainnya.

Aplikasi teknologi komputer dalam pembelajaran umumnya dikenal dengan istilah Computer Asisted Instruction (CIA). CIA adalah suatu program pembelajaran yang dibuat dalam sistem komputer pengguna. Materi pelajaran yang sudah terprogram dapat disajikan secara serentak antara komponen gambar, tulisan, warna dan suara sehingga tidak ada interpretasi yang keliru dalam proses pemahaman.

Berdasarkan latar belakang, maka permasalahan yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah Apakah dengan menerapkan media CD interaktif dengan konsep E-Learning dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa program studi pendidikan biologi pada mata kuliah struktur hewan tahun akademik 2011/2012 ?

KAJIAN TEORITIK DAN KERANGKA BERFIKIR

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalam tujuan pengajaran, material/perangkat pembelajaran (bu

Gambar

Tabel 1. Nilai UN Murni Jurusan IPA di Kabupaten Bombana
Tabel 3. Distribusi Nilai UN Murni Jurusan IPA Tahun 2008
Tabel 4. Distribusi Nilai UN Murni Jurusan IPS Tahun 2008
Tabel 8. Distribusi Nilai UN Murni Jurusan IPS Tahun 2010
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kegiatan pengamatan dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan proses pembelajaran atau tindakan, tujuan diadakannya pengamatan untuk mengenali, merekam, mendokumentasikan

Kegiatan observasi ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan pelaksanaan tindakan. Kegiatan ini dilakukan oleh observer sebagai rekan peneliti. Pada tahap ini guru mengenali

Pelaksanaan PKM ini telah mencapai 70%. Dalam hal ini beberapa kegiatan yang diselenggarakan yaitu observasi awal, pembukaan kegiatan pelatihan oleh kepala pusat

Strategi yang dapat dilakukan untuk mengeliminasi potensi praktik korupsi pada kegiatan pelayanan perizinan untuk pemenuhan komitmen dan pengawasan pelaksanaan penanaman

Penelitian adalah salah satu kegiatan tridarma perguruan tinggi yang dilakukan oleh setiap dosen yang akan memberikan kontribusi kepada proses

Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan melakukan observasi dan menganalisis proses kegiatan belajar di beberapa perguruan tinggi sebagai dasar untuk menciptakan

Penelitian adalah salah satu kegiatan tridarma perguruan tinggi yang dilakukan oleh setiap dosen yang akan memberikan kontribusi kepada proses

Pelaksanaan evaluasi tersebut dilakukan agar Cetak Biru Komunikasi PBAK selaras dengan aspek praktis pelaksanaan kegiatan di setiap lingkungan aparatur pemerintah, khususnya