• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDEKATAN DALAM MEMPELAJARI PERILAKU MOTORIK DAN KONSEP-

KONSEP DASAR KAJIAN PERILAKU MOTORIK

1

Oleh:

Sahrun

2

1 Ringkasan Makalah

2 Dosen Penjaskes-Rek FKIP Unhalu PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pada saat sekarang ini prestasi olahraga masih terus diciptakan dan ditingkatkan. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka diperlukan adanya pendekatan ilmiah untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pembinaan.Telah disadari bahwa untuk meningkatkan prestasi diperlukan konsep-konsep dan teori-teori dalam belajar motorik sebagai pedoman dengan menentukan metode melatih dalam usaha meningkatkan prestasi. Bower dan Hilgard (1981: 11) mengatakan bahwa belajar sebagai perobahan perilaku yang potensial terhadap situasi tertentu yang diperoleh dari pengalaman yang dilakukan berulang kali.

Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan tentang keterampilan motorik, Oxendine (1984: 20) mendefenisikan penekanan utama pada efisiensi. Schimidt (1988: 17) menyatakan bahwa keterampilan merupakan gerakan-gerakan yang tergantung kepada latihan dan pengalaman karena pelaksanaannya itu tidak ditentukan oleh keturunan. Singer (1980: 59) mendefenisikan keterampilan motorik sebagai gerakan tubuh untuk mensukseskan pelaksanaan aktiffitas yang diinginkan selanjutnya, Cecco dan Crawford (1974: 252) menjelaskan keterampilan motorik adalah suatu respons motorik berangkai yang melibatkan koordinasi gerakan untuk menjadi pola respons yang lebih kompleks.

Proses belajar gerak berbentuk kegiatan mengamati gerakan dan kemudian mencoba menirukan berulang-ulang, dan menerapkan pola- pola gerak tertentu pada situasi tertentu yang dihadapi, dan juga dalam bentuk menciptakan

pola-pola gerak baru untuk tujuan-tujuan tertentu. Dalam belajar gerak, karena atlet harus memahami gerakan untuk mampu melakukannya, maka selain unsur fisik disitu juga terlibat unsur fikir. Unsur emosi dan perasaan juga terlibat dalam belajar gerak, karena emosi dan perasaan merupakan unsur psikis yang merupakan daya penggerak dalam berprilaku. Seseorang akan melakukan gerakan tertentu apabila mempunyai kemauan untuk bergerak dan merasa perlu untuk melakukan gerakan. Dalam melakukan suatu gerakan apabila ia tahu atau mengerti gerak apa yang harus dilakukan, dan gerakan tertentu itu akan terwujud apabila ia memiliki cukup kemampuan untuk bergerak.

Dalam belajar gerak, dapat kita temui rana gerak yang merupakan terjemahan dari kata “domain” yang diartikan baagian atau unsure gerak. Gerak tubuh merupakan salah satu kemampuan manusia untuk melaksanakan hidupnya. Gerak tubuh manusia dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam. Anita J. Harrow (dalam Sugianto, 1993: 3) membedakan gerak tubuh menjadi 6 klasisifikasi yang merupakan satu kesatuan yang membentuk gerak tubuh manusia, mulai dari yang bersifat bawaan sejak lahir sampai tarafnya yang paling tinggi. Permasalahan

Yang menjadi permasalahan dalam makalah ini adalah penulis lebih menekankan pada masalah diantaranya :

1. Bagaimana pendekatan dalam mempelajari perilaku motorik ?

2. Apakah yang menjadi konsep – konsep dasar bidang kajian perilaku motorik ?

92 Tujuan

Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah : 1. Untuk mengetahui pendekatan dalam mempelajari perilku motorik.

2. Untuk mengetahui konsep – konsep dasar bidang kajian perilaku motorik.

Manfaat

Manfaat yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah agar para pelatih, guru dan pelaku olahraga dapat memahami dan menerapkan pendekatan dalam mempelajari perilaku motorik dan konsep – konsep dasar kajian perilaku motorik sebagai salah satu faktor dalam upaya untuk meningkatkan salah satu belajar gerak maupun untuk meningkatkan keterampilan untuk mencapai suatu prestasi.

PEMBAHASAN

PENDEKATAN DALAM MEMPELAJARI PERILAKU MOTORIK

a. Perkembangan Penelitian Perilaku Motorik Beberapa kegiatan penelitian tentang kegiatan keterampilan motorik dilakukan sekitar tahun 1820 oleh astronom Bessel (dikutip oleh Welford, 1968) dalam upaya untuk memahami perbedaan antara keterampilan para koleganya dalam mencatat perubahan waktu dari gerakan bintang-bintang. Bessel tertarik mempelajari gejala di balik keterampilan yang kompleks, termasuk masalah.

Perkembangan selanjutnya, studi dilakukan untuk mempelajari kontribusi penginderaan mata terhadap gerakan tangan dalam target yang dilokalisasi. Bowditch & Southhard, (1882), danLeuba, (1909) mempelajari akurasi gerakan tubuh bagian atas.

Hasil-hasil studi Thorndike (1914) yang banyak membahas proses dibalik kegiatan belajar keterampilan memberikan pengaruh yang besar pada waktu itu. Hukum Thorndike “Law of Effect” yang berpengaru terus dalam psikologi menyatakan bahwa respons yang diikuti oleh hadiah cenderung akan diulangi, sementara respons yang tidak diikuti oleh hadiah (atau yang diikuti hukuman) cenderung tidak akan diulangi. Ide ini merupakan batu

loncatan bagi pembangunan teori tentang belajar yang selanjutnya diteruskan pada abad ini.

Perkembangan berikutnya ialah penelitian tentang struktur otak. Herrick (1924) mengajukan beberapa hipotesis tentang fungsi dari cerebellum yang diantaranya nampak beralasan pada massa sekarang. Pasien-pasien yang menderita cedera pada bagian otak dipelajari (misalnya oleh Holmes, 1939) dalam upaya untuk menunjukkan hilang beberapa kontrol gerak yang berkaitan dengan struktur tersebut. Struktur otak lainnya juga dipelajari dengan memanfaatkan pasien-pasien yang menderita berbagi cedera otak.

Perilaku motorik memiliki akar yang kuat dalam psikologi eksperimental dan selama beberapa tahun mempergunakan teori, metode dan majalahnya. Tapi beberapa ahli merasa bahwa sudah waktunya untuk memgembangankan bidang itu dengan metodenya sendiri dan mempublikasikan teori-teorinya melalui majalahnya sendiri. Kombinasi tehnik dan pengetahuan tentang gerak, bidang kontrol persyarafan dalam kaitannya dengan gerak, psikologi eksperimenal dan pendidikan jasmani dalam kaitannya dengan masalah gerak kesemuanya menyatu bersama-sama membentuk satu wilayah yang unik yang di sebut motor control dan learning. Yang akan banyak dibahas banyak dalam buku ini wilayah motor learning itusendiri serta aplikasinya dalam kegiatan belajar - mengajar atau melatih olahraga.

b. Pendekatan dalam Mempelajari Perilaku Motorik

Pendekatan pertama adalah psikologi. Psikologi adalah suatu bidang studi perilaku manusia. Disiplin ilmu ini berupaya untuk mempelajari dan memahami perilaku manusia. Istilah perilaku diartikan dalam pengertian luas yaitu mencakup berbagai kegiatan manusia seperti mengindra, mempersepsi, memperhatikan, belajar, dan berbuat dengan gerak nyata (Sage, 1984). Pendekatan lain adalah psikologi kognitif yang ditekankan pada ikhtiar memanipulasi lingkungan untuk mempelajari perilaku manusia dan pendekatan fisiologis-psikologi yang mempelajari mekanisme fisiologis yang melandasi perilaku.

Dalam buku ini pendekatan yang di pakai adalah untuk mempelajari perilaku motorik, khususnya ketempilan motorik ialah pendekatan

93 fungsional-integratif. Maksudnya ialah gejala perilaku motorik ditelaah bukan saja dari pendekatan behavioral yang meniti beratkan interpretasi perilaku yang teramati, tapi juga dari aspek neurofisiologi dan sosial budaya.

c. Pemilihan Tugas Gerak

Penelitian belajar motorik dapat berlangsung dalam kondisi (a) laboratorium, (b) lapangan. Dalam kondisi labortorium variabel yang termasuk ke dalam penelitian dan yang di luar penelitian dapat dikontrol hingga mencapai tingkat kecermatan tertentu yang dianggap lebih teliti daripada penelitian dalam kondisi di lapangan. Kondisi lapangan misalnya berupa kegiatan olahraga yang kompleks atau kegiatan alamiah lainnya di mana variabel internal dan eksternal kurang terkontrol. Penelitian dalam kondisi laboratorium lazimnya memanfaatkan metode eksperimen dan yang non laboratorium dapat menggunakan metode quasi-eksperimen.

d. Pengukuran penampilan gerakan (Performance)

Sejalan dengan makna belajar sebagai suatu perubahan internal dari seseorang yang ditafsirkan berdasarkan perubahan menetap (permanen) dalam penampilan gerak sebagai hasil dari berlatih, maka yang penting adalah bagaimana mengukur penampilangerak yang bersangkutan. Schmidt (1975) misalnya mengklasifikasi penampilan gerak atas tiga kategori :

1. kecemasan 2. ketepatan, dan

3. respon berwujud “jumlah” atau ukuran besar KONSEP BELAJAR MOTORIK

Pengertian istilah balajar motorik tak terlepas dari pengertian istilah belajar pada umumnya ,oleh karena itu bagian ini mengungkapkan makna belajar pada umumnya dan belajar motorik pada khususnya akan dibahas secara mendalam

Proses belajar itu sendiri merupakan masalah yang amat kompleks dimana berkenaan dengan teori belajar itu sendiri maka akar perkembangannya terdapat dalam disiplin psikologi.karena itu para psikologi memberikan andil besar dalam pembangunan teori belajar.

Menurut oxendine(1968)menggambarkan belajar sebagai :

(1) Akumulasi pengetahuan

(2) Penyempurnaan dalam suatu kegiatan. (3) Pemecahan suatu masalah ,dan

(4) Penyesuaian terhadap situasi yang berubah. Konsep belajar pada umumnya dan belajar motorik sebagai belajar perilaku motorik pada khususnya.telah dirumuskan terhadap beberapa defenisi oleh para ahli oleh karena itu belajar dapat diartikan semacam seperangkat peristiwa,kejadian ,atau perubahan yang terjadi apabilah seorang berlatih yang memungkinkan seseorang dapat menjadi terampil dalam melaksanakan suatu kegiatan.Kedua,Belajar adalah hasing langsung dari praktek atau pengalaman,Ketiga,Belajar tak dapat diukur secara langsung karena proses yang mengantarkan pencapaian perubahan prilaku berlangsung secara internal atau dalam diri manusia.Keempat, Belajar dipandang sebagai proses yang menghasilkan perubahan relative permanen dalam suatu keterampilan .

Sebagai sintesis dari keempat aspek tersebut ,dihasilkan defenisi sebagai berikut : Belajar motorik Adalah Seperangkat proses yang bertalian dengan latihan dan pengalaman yang mengantarkan perubahan permanen dalam perilaku terampil.

(Schmidt,1982).

Untuk kebutuhan analisis ,keempat karakteristik belajar motorik yang dipaparkan oleh (Schmidt,1982) diatas perlu dikupas secara lebih lanjut sebagai berikut ,:

1. Belajar Sebagai Sebuah Proses

Dalam Psikologi kognitif

dijelaskan,sebuah proses adalah seperangkat kejadian atau peristiwa yang berlangsung bersama yang menghasilkan beberapa prilaku tertentu.Sebagai contoh dalam membaca proses diasosiasikan dengan gerakan mata,menangkap kode dan simboldalam teks ,memberikan pengertian sesuai dengan perbendaharaan kata yang tersimpan dalam ingatan ,Dan seterusnya. 2. Belajar Motorik Adalah Hasil Langsung Dari

Latihan

Dalam makalah ini, Perubahan perilaku motorik berupa keterampilan dipahami sebagai hasil oada suatu latihan dan pengalaman .hal ini perlu dipertegas untuk membedakan perubahan

94 yang terjadi karena fektor kematangan dan pertumbuhan.Faktor –Faktor itu juga dapat menyebabkan perubahan perilaku.

3. Belajar Motorik Tak Teramati Secara Langsung

Belajar motorik atau keterampilan olahraga tak teramati secara langsung .Proses yang terjadi dibalik perubahan keterampilan itu mungkin sejali amat kompleks dalam system persyarafanseperti misalnya bagaimana informasi sensorik diproses,diorganisasi ,dan kemudian diubah menjadi pola gerak otot –otot. 4. Belajar Menghasilkan Kapabilitas Untuk Bereaksi (Kebiasaan )

Istilah Kapabilitas disini penting maknanya karena berimplikasi pada keadaan sebagai berikut :Jika telah tercipta kebiassan dan kebiasaan itu “Kuat” keterampilan itu dapat diperagakan jika terdapat kondisi yang mendukung ,Tapi jika kondisinya tidak mendukung misalnya lelah keterampilan yang maksud tak akan terjadi.

5. Belajar Motorik Relatif Permanen

Ciri lain dari belajar motorik adalah relative permanen.hasil belajar itu bertahan hingga waktu relative lama,Misalnya saja ,seseorang mengendarai sepeda ,meskipun selama beberapa tahun dia tedak mengendarai sepeda namun pada suatu ketika dia tetap dapat mengendarai sepeda.

6. Belajar Motorik Bisa Menimbulkan Efek Negatif

Kesan umum yang kita peroleh dari uraian terdahulu ialah bahwa belajar dapat menimbulkan efek positif yakni penyempurnaan keterampilan atau keterampilan gerak seseorang .Namun anggapan ini mengandung persoalan karena apa yang disebut kemajuan tak lepas dari persepsi sipengamat.

7. Kurva Hasil belajar

Apakah yang dimaksud kurva belajar? Grafik yang menggambarkan penguasaan kapabilitas untuk bereaksi (yaitu Kebiasaan)dalam suatu jenis tugas setelah dilakukan berulang-ulang disebut kurva belajar.grafik tersebut menampilkan perkembangan penampilan kemampuan geraksebagai cerminan suatu proses belajar

internal yang berlangsung dalam diri seseorang.Namun hasilnya tak mampu menggambarkan dan mengungkap kondisi internal yang sebenarnya tapi kurva ini dapat digunakan untuk kebutuhan praktis atas dasar penampilan yang nyata itulah dapat ditafsirkan kemajuan, sehingga menghasilkan beberapa tipe kurva ,Seperti :

(1) Penurunsn jumlah Waktu dalam menyelesaikan suatu tugas.

(2) Pengukuran kecermatan seperti mengarahkan suatu obyek kesebuah target (3) Penurunan dalam jumlah kesalahan ketika mempelajari suatu keterampilan

(4) Kombinasi dari dua tipe atau lebih dari teknik pengukuran tersebut diatas

PENUTUP

Dalam implementasinya pelatih, guru olahraga, atlet, manajer harus memperhatikan pada tahap persiapan khusus, pra-kompetisi dan kompetisi diharapkan dapat memahami peranan motor learning dalam menunjang teknik dasar, baik untuk membetulkan, meningkatkan dan mengembangkan segala teknik ketaraf otomatisasi gerak sehingga menampakkan keterampilan gerak yang baik untuk mencapai prestasi yang optimal. Diharapkan dalam menyusun jadwal pelatihan pada tiap siklus mikro harus ada jadwal untuk teori dalam membentuk dan mengembangkan kognisi atlet atau siswa sejalan dengan tuntutan cabang olahraga tersebut. Dalam proses pembentukan dan pengembangan kognisi, atlet/siswa diharapkan dapat mengikutinya dan dapat membangun interaksi untuk memperbaiki dan melengkapi atlet/siswa dalam latihan-latihan selanjutnya. Diharapkan para manajer dapat memperhatikan kebutuhan yang dituntut dalam cabang olahraga yani ia tangani agar dapat menunjang penampilan atlet untuk meraih prestasi yang diinginkan, sebagai hasil feedback dari pengkajian motor learning.

95 DAFTAR PUSTAKA

Bower, G.H, and Hilgord. E.R, 1984. Theories of Learning, Prentice Hall, Inc Jersey.

De Cocco.J.P, and Crawford.W.R. 1974. The Psycology of Learning and Instruction, Englewood Cliffs Inc.

Kosasih Nana, 1987. Metode Belajar Keseluruhan Bagian dan Bagian Keseluruhan Terhadap Prestasi Belajar Panahan Bagi Mahasiswa Yang Mempunyai Kekuatan Otot Punggung dan Ketepatan Membidik Berbeda, IKIP Jakarta. Jakarta.

Oxidine.J.B. 1980. Psycology of Motor Learning, Prentice Hall, Inc. New York. Rahantoknam, B.E. 1983. Pengaruh Metode

Penyajian Informasi Balikan Dan Tingkat Intelegensi Terhadap Prestasi Belajar Motorik, IKIP Jakarta. Jakarta

Rink, Judith E., (1985), Teaching Physical Education for Learning, St Louis, Toronto, Santa Clara : Mosby College Publishing. Rusli Lutan, (1984). Beberapa Isu dalam Olahraga,

Makalah.

Saidel. Beverly. L. 1975. Sport Skill: A Conceptual Approach to Meaningful Movement, WM.C. Brown Company Publishers, Duduque. Singer. Robert. N, and Dick Wolter, 1980.

Teaching Physical Education, Houngton Miffiln Company. Boston.

Schimid.R.A. 1988. Motor Control and Learning Behavioral Emphasis, Human Kinetics Publihers. Illionis.

Schmidt, Richard A., (1982). Motor Control and Learning, Champaign : Human Kinetics Publishers. Inc.

Singer, Robert N., (1968), Motor Learning ang Human Performance, New York : The Macmillan Company.

Stallings, Loretta M., (1982), Motor Learning : From Theory to Practice. Washington DC. Wm C. Brown Company.

Wade, M.G. (ed.), (1986), Motor Skill Acquisition of Mentally Handicapped, Amsterdam : Elsevier Science Publisher.

Whiting, H. T. A., (1975), Concepts in Skill Learning, London :Lepus Book.

Wittrock, Merlin C, (ed), (1986), Handbook of Research on Teaching, New York : Macmillan Publishing Company

.

96

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SAINS BAGI SISWA SD