• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GERAKAN EKUMENISME DALAM GEREJA KATOLIK

2.5 Pedoman Gerakan Ekumenisme

2.5.3 Dialog Ekumenis

Dewan Kepausan Untuk Persatuan Kristen menyebut dialog sebagai jantung kerjasama ekumenis yang menyertai semua bentuk kerjasama ekumenis143. Dialog mencakup baik mendengarkan maupun menjawab sambil berusaha untuk mengerti dan dimengerti, sehingga kita dapat menampakkan diri apa adanya dan memahami orang lain apa adanya sesuai dengan apa yang mereka katakan tentang dirinya sendiri. Dialog berarti pertukaran pikiran dengan maksud supaya pendapat/keyakinan masing-masing pihak semakin jelas, sehingga dapat dipahami (bukan hanya diketahui) dengan lebih tepat144. Dalam ranah teologi, dialog dipahami sebagai diskusi yang jujur antardua orang yang mempunyai keyakinan berbeda dengan harapan mencapai kesepakatan atau sekurang-kurangnya mendekatinya145.

142 KHK 844 § 4: Jika ada dalam bahaya mati atau menurut penilaian uskup diosesan atau konferensi para uskup ada keperluan berat lain yang mendesak, pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licik sakramen-sakramen tersebut juga kepada orang-orang Kristen lain yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, dan tidak dapat menghadap pelayan jemaatnya sendiri serta secara sukarela memintanya, asalkan mengenai sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman katolik dan berdisposisi baik.

143 Dewan Kepausan Untuk Persatuan Kristiani, Pedoman Pelaksanaan Prinsip-Prinsip Dan Norma-Norma Ekumenisme, 93.

144 A. Hauken SJ., Ensiklopedi Gereja 2, 61.

145 Menurut Kevin Mcdonald, mengutip dokumen Dialogue and Proclamation Art. 9 (Dokumen Kongregasi Evangelisasi Bangsa-bangsa dan Sekretariat untuk dialog antar Agama), dialog dapat dipahami dalam tiga cara yang berbeda. Pertama, dialog dipahami sebagai komunikasi timbal-balik antar manusia untuk tujuan tertentu dan pada pada tingkat yang lebih luas antar komunitas. Kedua, dialog dipahami sebagai sikap hormat dan persahabatan dan juga menjadi medan penginjilan Gereja. ketiga dalam konteks pluralitas agama, dialog dipahami sebagai bentuk hubungan yang positif dan kostruktif antar agama yang diarahkan untuk saling memahami dan saling pengertian. (Bdk. Kevin Mcdonald, “Dialogue and Proclamation: A Comment from Ecumenical Perspective”, dalam Buletin Pontificum Consilium pro Dialogo Inter Religiones, 128).

Dialog memberikan ruang kepada setiap peserta untuk secara lebih mendalam menguraikan ajaran persekutuannya dan dengan jelas menguraikan ciri-cirinya (UR 4). Dalam dialog, semua peserta memperoleh pengertian yang lebih cermat mengenai ajaran dan peri hidup dua pesekutuan, serta penghargaan yang lebih sesuai dengan kenyataan.

Paus Yohanes Paulus II menambahkan bahwa dialog merupakan langkah yang mutlak perlu pada jalan menuju perwujudan diri manusiawi, realisasi diri baik bagi tiap orang maupun paguyuban manusiawi. Konsep ‘dialog’ barangkali terkesan mengutamakan dimensi ‘mengetahui’ (dia-logos)146. Paus Yohanes Paulus II menyatakan bahwa buah berharga yang dihasilkan oleh kontak-kontak antara umat kristiani adalah pertumbuhan persekutuan147.

Gerakan ekumenisme dilaksanakan d engan memupuk kerjasama dalam dialog. Dialog ekumenis mengajak semua pihak untuk mengadakan pemeriksaan batin untuk memahami kehendak Kristus. Dialog ekumenis memungkinkan orang belajar mengenal kekayaan jemaat lain, sehingga memperoleh gambaran yang jelas mengenai dimensi kehidupan rohani yang lebih luas dan tepat dari Gereja lain.

2.5.3.1 Sifat dan Tujuan Dialog Ekumenis

Dewan Kepausan Untuk Persatuan Kristen merumuskan tujuan dialog sebagai berikut148:

146 Paus Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint, 27.

147 Paus Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint, 27.

148 Sekretariat Pembinaan Kesatuan Kristen, Dialog Ekumene, Ende, Nusa Indah, 1971, 11-12.

Jadi jelaslah bahwa dialog ekumenis tidak terbatas pada tingkat akademis atau semata-mata ada pada pikiran saja, tetapi dialog ekumenis juga memperjuangkan persatuan yang lebih seksama di antara persekutuan-persekutuan Kristen, memperjuangkan pengabdian bersama kepada Injil dan kerjasama yang lebih erat pada tingkat pikiran dan kegiatan;

dialog ekumenis menolong mengubah cara-cara berpikir, berlaku dan hidup sehari-hari dan persekutuan itu. Dengan cara ini dialog ekumenis bertujuan mempersiapkan jalan bagi kesatuan iman dalam wadah sebuah Gereja yang satu dan kelihatan; dengan demikian sedikit demi sedikit, bila rintangan-rintangan yang menghalang-halangi kesempurnaan persekutuan antar-Gereja telah teratasi, seluruh umat Kristen akan dikumpulkan dalam perayaan Ekaristi bersama, ke dalam kesatuan Gereja yang esa dan itu juga yang diberikan oleh Kristus kepada Gereja-Nya sejak semula. Kami percaya bahwa kesatuan ini hidup di Gereja Katolik sebagai sesuatu yang tidak pernah akan hilang, dan kami harap bahwa kesatuan ini akan terus bertambah kuat hingga akhir zaman.

Tujuan ini memiliki beberapa segi. Pertama segi perutusan, dengan dialog umat Kristiani belajar bersama mengambil bagian dalam perutusan Kristus menjadi garam dan terang di dunia. Kedua segi kesaksian, dengan dialog umat Kristiani belajar untuk memberi kesaksian bersama atas tugas yang mereka miliki sebagai saksi-saksi Kristus sehingga semua orang yang melihat kesaksian itu menjadi percaya. Ketiga segi partisipatif, dengan dialog umat Kristiani secara bersama-sama mendengarkan dan mencoba memahami masalah yang dihadapi dunia dan mencari solusi atas masalah itu. Bila dalam dialog hanya ada satu Gereja atau Jemaat sebagai partner, maka disebut ‘dialog bilateral’, tetapi jika banyak mitra dalam dialog, maka disebut ‘dialog multilateral’149.

2.5.3.2 Asas-asas Dialog Ekumenis150

Dialog ekumenis tidak hanya dipandang sebagai usaha persatuan umat Kristiani semata tanpa pendasaran. Dialog ekumenis berakar dari sejumlah fakta doktrinal dan pastoral yang menjadi asas-asas pelaksanaan dialog ekumenis. Asas

149 Dewan Kepausan Untuk Persatuan Kristiani, Pedoman Pelaksanaan Prinsip-Prinsip Dan Norma-Norma Ekumenisme, 94.

150 Sekretariat Pembinaan Kesatuan Kristen, Dialog Ekumene, 13-14.

pertama adalah kekayaan rohani yang dimiliki oleh semua umat Kristiani. Dengan baptisan, umat Kristiani mengambil bagian sebagai ahli waris kekayaan sebagai umat Allah. Kekayaan itu berupa Sabda Allah, kehidupan rahmat, iman, harapan, cinta kasih serta anugerah lainnya dari Roh Kudus. Maka, semua umat saling terhubung karena memiliki sumber kekayaan yang sama.

Asas kedua yaitu jalan keselamatan dalam Yesus Kristus. Meskipun terpecah dalam banyak persekutuan-persekutuan Gerejani. Namun, kekayaan rohani itu dapat dinikmati dalam persekutuan-persekutuan yang berbeda. Konsili menyatakan bahwa banyak perbuatan-perbuatan suci yang mereka (Gereja Kristen lainnya) lakukan diakui (oleh Gereja Katolik) sebagai perbuatan yang mampu membuka jalan kepada persekutuan keselamatan (UR 3). Maka, jelaslah bahwa ada kesatuan tertentu yang telah ada dalam Gereja Kristen bukan Katolik dengan Gereja Katolik yang bisa menjadi titik temu untuk dialog.

Asas ketiga adalah usaha untuk pembaruan diri. Pada hakekatnya usaha pembaruan Gereja terletak pada kesetiaan terhadap panggilannya (UR 6). Selama berziarah dalam dunia, Gereja dipanggil untuk terus menerus membarui dan merombak dirinya seturut dengan perkembangan zaman. Maka, konsili mengajak untuk selalu menilik situasi zaman, di bidang moral dan tata tertib gerejawi pada saat yang baik untuk diperbarui kembali. Paus Yohanes Paulus II menyatakan bahwa ada kaitan yang sangat jelas antara pembaruan, pertobatan, dan perombakan151. Dalam rana ekumenis banyak contoh dalam kehidupan gerejawi yang telah diperbarui, misalnya gerakan Kitab Suci, liturgi, pewartaan sabda

151 Paus Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint, 16-19.

Allah, Katekese, kerasulan awam, bentuk-bentuk baru hidup religius, spiritualitas perkawinan, dan kegiatan di bidang sosial. Pembaruan-pembaruan ini dapat menjadi tanda dan jaminan bahwa di masa mendatang ekumenisme akan berjalan dengan baik.

2.5.3.3 Syarat-syarat Dialog Ekumenis152

Dialog dimulai dengan sikap simpati dan terbuka di antara semua peserta.

Sikap saling mencurigai, mencela atau memandang rendah pihak lain harus dihindari, sebab akan menghambat proses dialog. Keterbukaan peserta dialog membuat relasi dapat berjalan dengan lebih baik, sehingga dengan leluasa dapat mengemukakan pandangan, pendapat serta mengeskpresikan diri dalam kerjasama. Keterbukaan itu juga akan membangkitkan saling percaya di antara peserta dialog.

Dialog ekumenisme dilakukan di antara peserta yang sederajat. Pada taraf praktis, kesamaan derajat berarti ada kesamaan tingkatan pengetahuan tentang keagamaan, misi duniawi, dan tingkat tanggungjawab yang mereka pikul.

Didapati adanya kesatuan yang ada dalam persekutuan-persekutuan Kristen, tetapi didapati pula ada banyak perbedaan pokok dalam jemaat-jemaat Kristen. Dengan demikian ditolak indiferentisme doktrinal yang menyatakan bahwa dihadapan rahasia Kristus, semua persekutuan gerejani sama. Salah satu contoh dialog di antara peserta yang sederajat misalnya dialog teologi antara Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks mengenai Sakramen Tobat. Dialog ini hanya mungkin bisa

152 Sekretariat Pembinaan Kesatuan Kristen, Dialog Ekumene, 14-19.

dilakukan dengan Gereja Ortodok yang memiliki kesamaan pengertian dan maksud dengan Gereja Katolik tentang Sakramen Tobat. Namun, tidak dengan Gereja Reformasi yang dengan sangat jelas menolak Sakraman Tobat.

Dialog akan berjalan dengan baik jika para peserta memiliki kemampuan yang memadai untuk berdialog. Kemampuan dibutuhkan untuk dapat memahami secara penuh pemikiran saudara-saudari yang terpisah. Kemampuan juga dibutuhkan untuk dapat menjelaskan secara penuh dan baik iman kita pada mereka. Kemampuan itu seperti pengetahuan dalam bidang teologi, hukum gereja, tradisi, dan ajaran Gereja serta lain sebagainya. Syarat ini mengandaikan juga pembinaan, pendidikan ekumenis, dan pengetahuan iman kepada jemaat-jemaat dalam persekutuan Gerejani.

Beberapa hal mendapat perhatian khusus ketika berdialog mengenai doktrin Gereja. Peserta Katolik harus sungguh-sungguh mendalami kepercayaan Gerejanya, tanpa membesar-besarkan maupun meremehkan sesuai dengan pendapat Gereja bukan pada pendapat perorangan. Dalam dialog harus dipahami urutan nilai atau hierarki pengajaran iman yang mengandaikan adanya pemahaman yang sepenuhnya153.

Untuk memulai dialog, umat Katolik terlebih dahulu mengedepankan secara sungguh-sungguh perasaan saling menghargai dengan menghormati perbedaaan yang ada, memperhatikan prinsip-prinsip, dan norma-norma gerakan ekumenis sesuai dengan ajaran Gereja serta dituntut untuk mengikuti pembaruan-pembaruan yang terjadi dalam Gereja. Umat Katolik juga dituntut untuk memiliki

153 J.B. Banawiratma, “Gerakan Ekumenis mau ke mana?”, dalam J. B. Banawiratma (ed), Tempat dan Arah Gerakan Ekumenis, 47-52.

kesetiaan yang besar terhadap iman dan Gereja. Kesetiaan tanpa menjadi fanatik atau meremehkan Gereja lain merupakan unsur mendasar dalam dialog ekumenis.

2.5.3.4 Bentuk-bentuk Dialog Ekumenis

Dialog ialah pertukaran pikiran dengan maksud supaya pendapat/

keyakinan setiap pihak semakin jelas, sehingga dapat dipahami (bukan hanya diketahui) dengan lebih tepat. Maka, perlulah sikap untuk beralih dari sikap berlawanan (antagonisme) dan konflik, pada situasi sikap yang mengakui pihak lain sebagai mitra dialog. Oleh sebab itu, jika hendak melakukan dialog, setiap pihak hendaknya mengandaikan pihak lain memiliki sikap kerinduan untuk saling berdamai dan juga kesatuan dalam kebenaran154.

Bentuk-bentuk dialog ekumenis sebagai berikut. Dialog kehidupan; Dialog kehidupan sering juga disebut dialog informal yang mencakup bentuk pergaulan, kerjasama, dan hubungan sosial155. Memang dialog kehidupan bukan pertama-tama terkait dengan iman dan isi iman tetapi lebih tentang kesamaan sebagai sifat dasar manusiawi. Namun, tidak berarti bahwa dialog ini tidak bisa menjadi rana dialog ekumenisme. Dialog kehidupan dapat menjadi medan kesaksian untuk memperlihatkan nilai-nilai Kristiani dalam diri umat Kristiani dari berbagai Gereja dan Jemaat.

Dialog karya yaitu kerjasama yang lebih mendalam dan intensif dalam kehidupan konkret, karena umat Kristiani bersama-sama membangun keutuhan

154 Paus Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint, 28.

155 A. Hauken SJ., Ensiklopedi Gereja 2, 61.

dan kebebasan manusia156. Dalam dialog lahir dari usaha kerjasama menanggapi persoalan-persoalan aktual yang dihadapi Gereja dan dunia. Dialog karya secara konkret diwujudkan misalnya dalam kerjasama membantu masyarakat yang tertimpa bencana alam, memperjuangkan keadilan sosial, kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan berbagai bentuk kehidupan lainnya. Karya kerasulan gerejani seperti evangelisasi, kerjasama dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pendidikan moral Kristiani juga menjadi bentuk kerjasama dari dialog karya.

Secara konkret, misalnya dalam bidang evangelisasi, dengan penerjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa setempat.

Dewan Kepausan Untuk Persatuan Kristiani menyatakan bahwa dialog ekumenis dapat diselenggarakan di antara ahli-ahli teologi, anggota lembaga-lembaga ekumenis, universitas-universitas, fakultas-fakultas teologi, dan seminari-seminari157. Dialog pertama-tama dimaksudkan sebagai pertemuan para ahli teologi untuk mendalami dan memperkaya tradisi setiap Gereja (UR 4). Salah satu prestasi besar yang dihasilkan oleh dialog para pakar teologi untuk pemulihan persatuan Kristen yaitu deklarasi bersama tentang pembenaran158. Pada tanggal 31 Oktober 1999 di Augsburg dihasilkanlah deklarasi bersama tentang pembenaran antarGereja Katolik dengan Lutheran World Federation. Deklarasi bersama ini merupakan hasil dialog panjang dalam kurun waktu 30 tahun. Para teolog mencoba berdialog mengenai hubungan antara iman dan perbuatan untuk memperoleh pembenaran.

156 Kevin Mcdonald, “Dialogue and Proclamation: A Comment from Ecumenical Perspective”, dalam Buletin Pontificum Consilium pro Dialogo Inter Religiones, 128.

157 Sekretariat Pembinaan Kesatuan Kristen, Dialog Ekumene, 27.

158 Edward Idris Kardinal Cassidy, “Unitatis Redintegratio Forty Years after the Council”, 318.

Together we confess: By grace alone, in faith in Christ’s saving work and not because of any merit on our part, we are accepted by God and receive the Holy Spirit, who renews our hearts while equipping and calling us to good works.

Deklarasi bersama ini juga diterima oleh World Methodist Council.

Dialog pengalaman religius terjadi jika seseorang, yang berakar dalam tradisi Gerejanya sendiri, berbagi kekayaan rohani dengan orang lain dari Gereja lain159, misalnya dalam hal doa, meditasi, iman, dan ungkapan imannya untuk menemukan Allah. Sharing pengalaman iman dimaksudkan untuk saling memperkaya dan memajukan nilai-nilai rohani setiap pribadi. Dialog ini mengandaikan adanya iman yang mantap dan mendalam dari setiap peserta dialog. Salah satu contoh konkret dari dialog ini adalah komunitas Taize di Perancis. Umat dari berbagai Gereja dan Jemaat berkumpul dan saling memperkaya pengalaman iman dalam kelompok-kelompok kecil.