• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISA DAN REFLEKSI DARI GERAKAN EKUMENISME

4.1 Analisis SWOT atas Hasil Penelitian

4.1.2 Kelemahan (Weakness)

Weakness merupakan kondisi atau faktor-faktor yang menghambat gerakan ekumenisme, sehingga tidak dapat berjalan dengan baik. Konsili Vatikan II menyerukan agar semua umat Kristiani menanggapi bermacam-macam kebutuhan Gereja dan berbagai situasi yang mendukung kesatuan umat Kristen.

309 Mgr. John Liku Ada’, Surat Puasa 2000, 4-7.

310 Mgr. John Liku Ada’, Surat Puasa 2003, 1-7.

311 Mgr. John Liku Ada’, Surat Puasa 2004, 1-10.

312 Mgr. John Liku Ada’, Surat Puasa 2000, 1-7.

Salah satu bentuk dukungan yang diberikan adalah dengan menghindarkan kata-kata, penilaian-penilaian serta tindakan-tindakan, yang ditinjau dari sudut keadilan dan kebenaran tidak cocok dengan saudara-saudari yang terpisah, karena itu mempersulit hubungan-hubungan Gereja-Gereja (UR 4). Beberapa sikap, penilaian, dan kegiatan yang oleh peneliti dinilai sebagai penghambat gerakan ekumenisme di Toraja:

4.1.2.1 Adanya Arogansi Organisasi di antara Gereja

Arogansi organisasi313 merupakan sikap yang memandang rendah Gereja lain. Menurut responden dalam penelitian ini, arogansi organisasi terdapat dalam semua Gereja di Toraja. Arogansi organisasi dapat terjadi karena perbedaan jumlah jemaat. Gereja yang lebih besar jemaatnya cenderung mengabaikan Gereja yang lebih kecil jemaatnya. Sebaliknya, Gereja yang jemaatnya kecil selalu merasa tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan bersama dan cenderung diabaikan pendapatnya sehingga menimbulkan respon negatif terhadap kegiatan-kegiatan bersama.

Arogansi organisasi juga disebabkan karena keangkuhan dari Gereja-Gereja. Banyak contoh yang disebutkan oleh responden untuk menggambarkan arogansi Gereja-Gereja. Misalnya, Gereja Katolik seringkali mengganggap dirinya sebagai Gereja yang paling kuat, Gereja pertama, Gereja yang punya akar dalam tradisi, Gereja yang universal, sedangkan Gereja lainnya tidak seperti

313 Arogansi organisasi adalah sebuah istilah yang dipakai responden untuk menunjukkan sikap egois.

Gereja Katolik314. Arogansi juga bisa muncul dalam Gereja Toraja yang menyatakan bahwa mayoritas penduduk di Toraja adalah jemaat Gereja Toraja, sehingga Gereja lainnya berada di bawah Gereja Toraja. Kaum Kristiani dari Gereja Injili dan Pentakosta juga mengatakan bahwa Gereja mereka lebih alkitabiah, sedangkan yang lainnya sudah tidak alkitabiah lagi.

Situasi yang digambarkan di atas menjadi hambatan ekumenisme di Toraja. Jelas arogansi organisasi tidak sesuai dengan amanat Konsili Vatikan II yang selalu menyerukan untuk menciptakan hubungan yang baik dengan semua anggota dari aneka Gereja.

Konsili suci mengundang segenap umat katolik, untuk mengenali tanda-tanda zaman, dan secara aktif berperan dalam kegiatan ekumenis. Yang dimaksud dengan gerakan ekumenis ialah kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha yang menanggapi bermacam-macam kebutuhan Gereja dan berbagai situasi diadakan dan ditujukan untuk mendukung kesatuan umat Kristen; misalnya: pertama, semua daya upaya untuk menghindari kata-kata, penilaian-penilaian serta tindakan-tindakan, yang ditinjau dari sudut keadilan dan kebenaran tidak cocok dengan situasi saudara-saudari yang terpisah, dan karena itu mempersukar hubungan-hubungan dengan mereka (UR 4).

4.1.2.2 Ketakutan dan Kecurigaan Untuk Terlibat dalam Kegiatan Ekumenisme

Salah satu hambatan ekumenisme yang banyak disebutkan oleh responden dalam penelitian ini adalah ketakutan dan kecurigaan dari para pemimpin Gereja terhadap kegiatan-kegiatan ekumenis. Pengalaman adanya upaya-upaya Gereja tertentu yang berusaha menjaring jemaat dengan mempengaruhi jemaat dari Gereja lain, membuat banyak pemimpin Gereja bersikap hati-hati terhadap kegiatan-kegiatan bersama.

314 Bdk. Hasil wawancara dengan P. Yohanis Manta, Lampiran III, 95.

Pemimpin-pemimpin Gereja mencurigai bahwa kegiatan-kegiatan ekumenis dapat menjadi sindikat atau kesempatan Gereja tertentu untuk menjaring jemaat Gereja lain. Ketakutan dan kecurigaan ini membuat banyak pemimpin Gereja melarang umatnya untuk mengikuti atau terlibat dalam kegiatan ekumenis. Akibatnya, kegiatan-kegiatan ekumenis tidak dapat sepenuhnya diikuti oleh umat Kristiani315. Ketakutan dan Kecurigaan untuk terlibat dalam kegiatan ekumenisme, juga berakibat pada ketidakpercayaan di antara pemimpin Gereja.

4.1.2.3 Perbedaan Teologi dan Ajaran Gereja

Perbedaan teologi dan ajaran setiap Gereja menjadi hambatan terbesar ekumenisme di Toraja. Perbedaan teologi dan ajaran semakin membuat Gereja terpecah-pecah dalam berbagai denominasi dan ini justru bertentangan dengan semangat ekumenisme yang berusaha mempersatukan Gereja. Setiap Gereja mengklaim kebenaran teologi dan ajarannya, sehingga menilai teologi dan ajaran Gereja lain sebagai sesat atau bidaah. Banyak pemimpin Gereja di Toraja enggan menjalin kerjasama dengan Gereja yang dianggap sesat, karena dinilai dapat mengaburkan iman yang benar.

Dari hasil wawancara dan pengalaman live in, peneliti dapat menyebutkan tiga faktor utama sebagai alasan banyaknya perbedaan teologi dan ajaran di antara Gereja di Toraja. Pertama adalah adanya perbedaan penafsiran terhadap Kitab Suci di antara pemimpin Gereja. Meski Gereja-Gereja memiliki dasar iman yang

315 Menurut sharing dari beberapa pendeta, umat yang paling sedikit hadir dalam kegiatan-kegiatan ekumenime adalah umat dari Gereja Katolik. Pastor sebagai pemimpin Gereja Katolik juga jarang menghadiri kegiatan ekumenisme.

sama yakni Kitab Suci316, tetapi penafsiran terhadap Kitab Suci bersifat terbuka, sehingga berakibat pada perbedaan ajaran317. Kedua adalah pendidikan para pemimpin Gereja. Banyaknya Sekolah Tinggi Teologi (STT), berakibat pada perbedaan tekanan Teologi yang dimiliki pemimpin-pemimpin Gereja. Misalnya, pemimpin Gereja yang pernah mengecap pendidikan STT Jefray Makassar memiliki penekanan teologi berbeda dengan pemimpin Gereja yang pernah mengecap pendidikan di STT INTIM Makasar dan STT atau STFT yang lainnya.

Ketiga adalah perbedaan ajaran doktrinal dalam Gereja-Gereja. Sebagaimana yang telah dibahas pada bab sebelumnya, selain Gereja Katolik masih ada tiga aliran Gereja Kristen Reformasi yang berkembang di Toraja yakni aliran Kalvinis, aliran Karismatik-Pentakosta, dan aliran Injili. Meski ketiga aliran ini memiliki semboyan yang sama yakni Sola Scriptura, tetapi implementasi dalam ajaran khususnya kehidupan konkret masyarakat Toraja berbeda satu dengan yang lainnya, bahkan terkadang bertentangan318.

316 Kitab Suci sebagai sabda Tuhan merupakan dasar iman yang paling utama. Unitatis Redintegratio artikel 21 menyebutkan bahwa hormat terhadap Kitab Suci merupakan cirri khas saudara-saudar dari Gereje Reformasi. Bdk. T. Jacobs, Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium Mengenai Gereja, terjemahan, Introduksi, Komentar, 312.

317 Contohnya adalah persolan soal teologi pembaptisan. Gereja-Gereja Katolik percaya bahwa Pembabtisan menghapus dosa manusia sehingga bisa membawa keselamatan. Gereja Injili menyakini bahwa Pembaptisan tidak menyelamatkan manusia yang menyelamatkan adalah Yesus, maka baptis tidak penting, hanya sebagai simbol penerimaan seseorang pada Kristus.

318 Contoh yang paling banyak adalah persoalan upacara kematian di Toraja. Gereja Katolik dan Gereja Toraja masih menginjinkan diadakannya pemotongan hewan pada upacara-upacara pemakaman sejuah pemotongan hewan itu tidak dimaksudkan sebagai kurban untuk arwah mereka yang meninggal dan tidak menjadi beban berat bagi keluarga yang berduka. Sedangkan Gereja Pentakosta dengan sangat keras menentang adanya pemotongan hewan saat upacara pemakaman.

Dalam penafsiran Gereja Pentakosta, pemotongan hewan itu masih berbauh kafir dan juga pemborosan financial. Sebagaiman telah dibahas dalam bab sebelumnya, Gereja-Gereja memiliki pandangan yang berbeda dalam menilai budaya Toraja. Ada Gereja yang bersikap adaptis artinya menyesuiakan diri dalam menggunakan budaya untuk mengembangkan iman. Sehingga ada unsur-unsur budaya yang digunakan dalam pengembangan iman. Ada Gereja yang bersifat inkulturatif artinya menggunakan unsur-unsur budaya untuk mengembangkan iman Kristen. Ada juga Gereja yang menolak unsur budaya dalam liturgi.

4.1.2.4 Eksklusivisme

Salah satu hambatan ekumenisme di Toraja yang banyak disebutkan oleh responden dalam penelitian ini adalah eksklusivisme. Eksklusivisme pertama-tama disebabkan masih banyaknya pemimpin Gereja yang menghidupi warisan-warisan doktrinal yang menilai Gereja lain sebagai bidaah. Akibatnya, banyak pimpinan Gereja yang tertutup dan alergi terhadap kegiatan-kegiatan bersama.

Bahkan banyak ditemui pemimpin-pemimpin Gereja tidak saling mengenal meski berada dalam lingkungan RT yang sama.

Eksklusivisme jelas menghambat terciptanya iklim ekumenis yang lebih baik. Konsili Vatikan II menyerukan supaya Gereja selalu mengadakan pembaharuan untuk menciptakan iklim ekumenis yang lebih baik (UR 6).

Pembaruan yang dimaksudkan pertama-tama menyangkut pembaruan tata tertib gerejawi yang tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman sekarang ini.

Kenyataannya masih ada juga paham-paham dan sikap-sikap bahkan warisan-warisan doktrinal yang tidak lagi sesuai dengan kebutuhan zaman saat ini319.

4.1.2.5 Paham Ekumenisme yang tidak Memadai

Salah satu hambatan gerakan ekumenisme di Toraja adalah kurangnya pemahaman yang benar tentang ekumenisme di antara umat Kristiani.

319 Salah satu contoh yang ditunjukkan oleh Pdt. Musa Salusu ialah; Kadang-kadang jika ada suatu kegiatan yang dilaksanakan di Gereja Toraja, ada orang/jemaat yang mengatakan bahwa ini sudah berbau Katolik, ini sudah berbau Karismatik. Ungkapan ini mau menunjukkan bahwa liturgi Gereja Katolik, liturgi Gereja Karismatik itu salah/sesat. Dalam Gereja Katolik, P. Yohanis Manta menyebutkan bahwa tidak sedikit dari pemimpin Gereja mengganggap Gereja Katolik sebagai Gereja yang paling kuat, Gereja pertama, Gereja yang punya akar dalam tradisi, Gereja yang universal, sedangkan Gereja lainnya tidak seperti Gereja Katolik.

Pamahaman umat Kristiani terhadap gerakan ekumenisme berbeda-beda. Ada yang memahami ekumenisme sebagai usaha-usaha untuk mempersatukan Gereja dalam satu organisasi. Ada yang memandang ekumenisme sebagai kegiatan bersama yang justru mengaburkan iman dan dapat sampai pada indiferentisme iman. Ada yang memandang ekumenisme sekadar sebagai pertemuan untuk berkumpul dan berdoa bersama. Namun, ada juga pemimpin Gereja yang memiliki keprihatinan dan perhatian yang besar terhadap perkembangan ekumenisme, tetapi tidak mengetahui usaha-usaha apa saja yang dapat dilakukan untuk merealisasikannya.