• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GERAKAN EKUMENISME DALAM GEREJA KATOLIK

2.5 Pedoman Gerakan Ekumenisme

2.5.1 Prinsip-prinsip Ekumenisme

2.5.1.3 Kepemimpinan Gerejani

Konsili juga berbicara tentang stuktur kepemimpinan gerejani sebagai penjamin kesatuan. Arti sebutan Konsili Vatikan II dengan kata pemimpin Gereja adalah kedua belas rasul dan para penggantinya di dalam diri para uskup sebagai otoritas yang berwenang dan mempunyai tugas untuk mengusahakan dan menjaga kesatuan. Perhatian penuh diberikan pada peran Uskup Roma sebagai kepala dewan para Uskup yang secara khusus bertugas dan menjamin kesatuan itu95. Konsili Vatikan II mengatakan :

Untuk mendirikan Gereja-Nya yang kudus itu di mana-mana hingga kepenuhan zaman, Kristus mempercayakan tugas mengajar, membimbing dan menguduskan kepada kedua

secara khusus tentang kaum beriman Kristiani yang ada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik. (Konferensi Wali Gereja, Kitab Hukum Kanonik 1983, Jakarta, 2006, 80).

95 Bernard Leeming, SJ, The Vatican Council and Christian Unity, 93-97.

belas Rasul (Mat 28:18-20, Yoh 20:21-23). Di antara mereka itu Ia memilih Petrus. Ia memutuskan untuk membangun Gereja-Nya di atas Petrus sesudah pengakuan imannya.

Kepadanya dijanjikan-Nya kunci kerajaan surga (Mat 16:19; 18:18). Kepadanya pula sesudah pernyataan cinta kasihNya, Kristus mempercayakan semua domba-domba-Nya, supaya mereka diteguhkan dalam iman (Luk 22:32) dan digembalakan dalam kesatuan yang sempurna (Yoh 21:15-17), sedangkan Yesus sendiri untuk selamanya tetap menjadi batu penjuru (Ef 2:20) dan Gembala jiwa-jiwa kita (1Pet 2:25) (UR 2) .

Konsili Vatikan II berpegang pada ajaran konsili Vatikan I yang menekankan bahwa Yesus Kristus telah menetapkan para Rasul-Nya menjadi gembala Gereja-Nya dan menetapkan Petrus menjadi kepala di antara mereka (LG 19). Dalam diri Petrus ditetapkanlah azas dan dasar kesatuan seluruh Gereja yang kelihatan.

Kristus mempercayakan pengembalaan domba-domba-Nya kepada para Rasul dan para pengganti mereka96. Para rasul itu dibentuk-Nya menjadi sebuah badan yang diketuai oleh Petrus, yang dipilih di antara mereka97, supaya mereka mengambil bagian dalam kuasa-Nya, menjadikan bangsa-bangsa murid-murid-Nya, menguduskan, dan memimpin mereka serta mendapat peneguhan sepenuhnya ketika Roh Kudus turun atas mereka98. Berkat Karya Roh itulah mereka menghimpun Gereja semesta di atas St. Petrus sebagai ketuanya dan Yesus Kristus sebagai batu sendinya99(LG19).

Tugas perutusan yang didapatkan oleh para rasul kemudian dilanjutkan oleh para penggantinya seakan-akan sebagai wasiat untuk melanjutkan karya yang sudah dimulai. Perutusan Ilahi, yang dipercayakan kepada para rasul akan berlangsung sampai akhir zaman. Seperti tugas yang oleh Kristus diserahkan kepada Petrus, ketua para rasul dan harus diteruskan kepada para penggantinya, tetaplah adanya, begitu pula tugas para Rasul mengemban Gereja, yang tiada

96 Bdk Mrk 3:13-19; Mat 10:1-42.

97 Bdk. Yoh 21: 15-17.

98 Bdk. Mat 28:16-20; Mrk 16:15; Luk 24:45-48; Yoh 20:21-23.

99 Bdk. Why 21:14; Mat 16:18; Ef 2:20.

hentinya harus dilaksanakan oleh pangkat suci para uskup (LG 20). Menurut Konsili Vatikan II, Secara konkret tugas para uskup yaitu sebagai nabi untuk mengajar (LG 25), sebagai imam untuk menguduskan (LG 26), dan sebagai raja untuk menggembalakan serta menguduskan (LG 27).

J. B Banawiratma menyatakan; Ada perbedaan yang sangat besar antara Gereja Katolik dan Gereja Reformasi dalam pandangan mengenai struktur hierarki dan kepemimpinan Gereja. Gereja Katolik menekankan kontinuitas Gereja yang kelihatan dalam pergantian apostolik jabatan-jabatan Gereja.

Sedangkan Gereja Reformasi tidak melihatnya secara demikian; mereka melihat jabatan hierarki sebagai sesuatu yang dibuat manusia100.

Gereja menyadari bahwa prinsip kesatuan di bawah pengganti Petrus sebagai ketua para rasul menimbulkan ketidakpuasan bagi Gereja lainnya. Bahkan dapat dikatakan kesatuan di bawah pimpinan para uskup, yang dalam pandangan Gereja Katolik sebagai prinsip kesatuan, justru dipandang sebagai pemecah belah umat Allah. Gereja menganggap hal ini penting karena ditetapkan oleh Tuhan Yesus sendiri yang diberikan kepada para Rasul dan pengganti-penggantinya.

Namun demikian Gereja tidak memaksakan prinsip ini.

2.5.1.4 Aspek-Aspek Pembentuk Gereja

Konsili Vatikan II berusaha memandang persekutuan iman dengan saudara-saudari Kristen yang bukan Katolik sepositif mungkin. Dokumen Unitatis Redintegratio berusaha memaparkan unsur-unsur penting yang terdapat dalam

100 Bdk. J.B. Banawiratma. “Gerakan Oikumenis: Mau ke Mana” dalam J.B. Banawiratma (Edt.), Tempat dan Arah Gerakan Oikumene, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1994. 42.

Gereja Kristen bukan Katolik yang bisa menghubungkan mereka dengan Gereja Katolik. Konsili tidak memandang keterpisahan Gereja Kristen bukan Katolik seradikal mungkin, sebaliknya Konsili tetap memandang adanya kebersamaan meskipun tidak lengkap dan sempurna (UR 3).

Konsili tidak bermaksud memberikan daftar lengkap aspek-aspek yang terdapat dalam pelbagai Gereja atau persekutuan gerejani. Pada tempat pertama, dokumen menyebut Kitab Suci sebagai aspek pertama sebagai unsur konstitutif101. Jelaslah bahwa Konsili mau menyatakan Sabda Allah yang ditemukan dalam Kitab Suci menjadi aspek dasariah iman Gereja. Sebagaimana yang dikatakan oleh Konsili “Sebab memang banyaklah yang menghormati Kitab Suci sebagai tolak ukur iman dan kehidupan, menunjukkan semangat keagamaan yang sejati, penuh kasih beriman akan Allah Bapa yang Mahakuasa dan akan Kristus, Putera Allah penyelamat” (LG15).

Setelah Kitab Suci, Konsili menyebut kehidupan rahmat, iman, harapan dan cinta kasih sebagai aspek-aspek yang mempersatukan umat Kristiani dalam persekutuan gerejani. Iman, Harapan, dan Cinta kasih merupakan tiga keutamaan dasar dalam Kristus (bdk 1 Kor 12:27-13:13). Ketiga keutamaan ini tidak dapat dipisahkan tetapi boleh dibedakan. Cinta kasih selalu tergantung pada iman dan harapan. Harapan tergantung pada iman dan cinta kasih, dan iman tergantung pada harapan dan cinta kasih. Harapan umat Kristen adalah pengampunan dosa, kebangkitan badan, dan kehidupan yang kekal sebagaimana yang disyahadatkan

101 Konstitusi dogmatis Dei Verbum, menyatakan bahwa Kitab Suci dan Tradisi Suci selalu dipandang dan tetap dipandang sebagai norma iman yang tertinggi (DV 21). Dalam Gereja Kristen bukan Katolik, Kitab Suci mendapat kedudukan yang sangat tinggi dan menjadi tolak ukur iman dan kehidupan (LG 15). Kitab Suci memegang peranan yang penting dalam kehidupan Gereja sehingga bisa menjadi medan persekutuan (UR 21).

oleh umat beriman Kristiani102. Iman menjadi tanggapan manusia akan Allah yang mewahyukan Diri-Nya kepada manusia. Syahadat iman menyebut iman akan Tritunggal yang menjadi dasar persekutuan yaitu Allah Bapa yang Mahakuasa, Yesus Kristus, Putra Allah yang tunggal, dan akan Roh Kudus, Tuhan yang menghidupkan103. Cinta kasih merupakan hukum utama yang menjadi pegangan setiap umat beriman104. Ketika seorang ahli Taurat bertanya pada Yesus hukum mana yang utama, Yesus menjawab: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini (Mrk 12:30-31). Hukum ini selalu menjiwai perilaku umat Kristiani.

Mengenai upacara-upacara agama yang diselenggarakan oleh Gereja Kristen bukan Katolik, Konsili menyatakan bahwa perayaan itu dapat membuka jalan pada persekutuan keselamatan, dan menyalurkan rahmat sesungguhnya.

Namun, tidak dapat dikatakan bahwa sakramen yang dirayakan dalam Gereja Kristen bukan Katolik sama saja dengan perayaan Sakramen dalam Gereja Katolik, karena pelbagai Gereja itu memiliki pandangan yang berbeda-beda dalam mengartikan perayaan sakramen. Penting untuk melihat bahwa apa yang mereka rayakan bukanlah tanpa arti di hadapan Allah dan keselamatan manusia.

102 A. Hauken SJ., Ensiklopedi Gereja 3, 15-16.

103 Bdk. Hasil Syahadat iman hasil konsili Nice-Konstantinipel.

104 A. Hauken SJ., Ensiklopedi Gereja 2, 16-21.

2.5.1.5 Kerjasama Ekumenisme

Konsili Vatikan II menaruh harapan besar adanya tindakan-tindakan konkret untuk mewujudkan persatuan kristiani yang dilaksanakan di seluruh belahan dunia. Konsili suci mengajak umat beriman mengusahakan persatuan dalam seluruh bentuk kehidupannya dan menjauhkan diri dari sikap acak-acakan atau dari semangat yang tidak bijaksana yang justru dapat merugikan kemajuan kesatuan yang sesungguhnya (UR 16). Paus Yohanes Paulus II saat memperingati 25 tahun Dewan Kepausan Untuk Persatuan Kristen juga kembali menegaskan tujuan dan metode dialog105. Ia menyatakan bahwa kesatuan dalam pengakuan iman merupakan unsur fundamental dari persatuan Gereja. Gereja harus menemukan secara bersama-sama semua aspek dan tuntutan kebenaran yang disepakati bersama dalam mewujudkan persatuan Kristen.

Paus Yohanes Paulus II dalam ensikliknya, Ut Unum Sint, menyatakan bahwa ada tiga pilar utama yang menjadi dasar dalam usaha untuk mewujudkan persatuan Kristen106. Pilar pertama adalah Doa. Paus Yohanes Paulus II mengutip kalimat St. Agustinus, “Bila umat Kristen berdoa bersama, tujuan kesatuan tampak lebih dekat…. Dalam persekutuan doa Kristus sungguh hadir. Ia berdoa dalam diri kita dan untuk kita” (UUS 22). Pilar kedua adalah kerjasama ekumenis.

Kerjasama ekumenis dilakukan untuk membuat wajah Kristus yang penuh kasih lebih dialami oleh mereka yang menderita, sakit, dan mereka yang membutuhkan cinta serta perhatian. Hal ini senada dengan apa yang dihasilkan oleh faith and

105 Kevin Mcdonald, “Dialogue and Proclamation: A Comment from Ecumenical Perspective”, dalam Buletin Pontificum Consilium pro Dialogo Inter Religiones, 1993, 131.

106 Edward Idris Kardinal Cassidy, “Unitatis Redintegratio” Forty Years after the Council”, 314-317.

Order commission of the Word Council of Churches yang bertemu di Lund, Swiss tahun 1952, yang menantang semua umat Kristiani untuk bertindak bersama-sama demi mewujudkan persatuan Kristen. Pilar ketiga adalah Dialog Teologis. Dialog Teologis merupakan elemen penting dalam upaya mengatasi perpecahan masa lalu dan mengusahakan pemulihan persatuan. Berbagai bentuk dialog telah dilakukan oleh Dewan Kepausan Untuk Persatuan Kristen dengan organisasi-organisasi internasional dari Gereja-Gereja lain seperti; the Oriental Orthodox Churches, the Orthodox Churches, the Anglican Communion, the Lutheran World Federation, the World Methodist Council, the Alliance of Reformed Churches, the Disciples of Christ, the Babtist Word Alliance, the Mennonite World Conference, dan organisasi-organisasi lainnya.

2.5.2 Usaha Praktis untuk Memajukan Persatuan

Pada tanggal 14 Mei 1967, di hari raya Pentakosta, Dewan Kepausan untuk Persatuan Kristiani, yang pada saat itu masih bernama Sekretariat untuk Membina Pesatuan Kristen, telah mengeluarkan sebuah pedoman Pelaksanaan Keputusan-Keputusan Konsili Vatikan II Mengenai Gerakan Ekumenisme.

Pedoman ini dikeluarkan untuk lebih menindaklanjuti Dokumen “Unitatis Redintegratio” yang menjadi hasil keputusan Konsili dan juga desakan dari bapak-bapak Konsili. Pedoman ini menyarankan agar dibentuknya komisi-komisi yang dapat mengadakan, mendorong, mengatur, dan bila diperlukan menertibkan segala usaha ekumenisme di salah satu negara atau salah satu diosesan107.

107 Josef Kongnigsmann, Gerakan dan Praktek Ekumene, 70.

Menanggapi pedoman ini, uskup-uskup Indonesia membentuk sebuah komisi yang bertugas untuk menjalin hubungan Gereja Katolik dengan Gereja-Gereja lain dan agama-agama lain108. Komisi ini memiliki dua seksi yaitu seksi yang menjalin hubungan dengan saudara-saudara Kristen bukan Katolik dan seksi yang menjalin hubungan dengan saudara-saudara yang bukan Kristen109. Komisi ini pertama kali di ketuai oleh Mgr. Dr. N. Geise OFM, uskup Bogor, yang dibantu oleh dua sekertaris untuk setiap seksi dan dua puluh anggota yang tersebar di keuskupan-keuskupan di seluruh wilayah Indonesia. Tugas pertama dari komisi ini adalah menciptakan iklim ekumenisme di kalangan umat Allah, mendidik ke arah pemikiran, dan perasaan ekumenisme. Pendidikan tidak hanya dilaksanakan pada tataran teoretis belaka tetapi juga secara praktis seperti kegiatan-kegiatan dalam bidang sekolah, olahraga, kesehatan, dan sebagainya110.

Pedoman Pelaksanaan Prinsip-Prinsip dan Norma-Norma Ekumenisme, yang dikeluarkan oleh Dewan Kepausan Untuk Persekutuan Kristiani pada tanggal 25 Maret 1993, mendesak agar Konferensi Wali Gereja, keuskupan-keuskupan, paroki, tarekat religius, dan juga lembaga-lembaga Gerejani, membentuk struktur-struktur atau instansi-instansi yang bergerak dalam

108 Pada tahun 1970, terjadi perubahan penting dalam struktur dan cara kerja MAWI (Majelis Waligereja Indonesia) yakni penyusunan statuta MAWI, dibentuknya badan baru yakni badan penerangan, dan disusunnya pembagian struktur Sekretariat jendral yang terdiri dari tiga unsur.

Salah satu unsurnya adalah dibentuknya PWI (Panitia Waligereja Indonesia) yang juga meliputi PWI Ekumene. (Bdk. Stefanus P. Elu, Sejaran Berdirinya KWI, dalam majalah Hidup edisi 48 tahun ke66, 25 November 2012 dan juga www.Kawali.org).

109 Dalam kata pengantar untuk menanggapi Pedoman Pelaksaan Keputusan-Keputusan Konsili Ekumenis Vatikan II Mengenai Gerakan Ekumenis yang diterbitkan oleh Sekretariat untuk Membina Persatuan Kristen (Sekretariat untuk Membina Persatuan Kristen, Pedoman Pelaksaan Keputusan-Keputusan Konsili Ekumenis Vatikan II Mengenai Gerakan Ekumenis, 51-52).

110 Sekretariat untuk Membina Persatuan Kristen, Pedoman Pelaksaan Keputusan-Keputusan Konsili Ekumenis Vatikan II Mengenai Gerakan Ekumenis, 49-50.

mengusahakan persatuan umat Kristani111. Berbagai instansi itu bertugas mengusahakan kerjasama yang bertujuan untuk menjalin kerjasama dan mengusahakan persatuan dengan berbagai pihak dari berbagai Gereja112. Beberapa kegiatan yang dapat menjadi langkah-langkah praktis yang dapat mengarah pada usaha persatuan umat Kristen;

2.5.2.1 Pembaruan Gereja

Sebelum Konsili Vatikan II, Gereja membangun tembok pemisah dan sulit berdialog dengan saudara-saudari dari Gereja lain. Kesan ini sangat jelas dalam perumusan ajaran, hukum Gereja, dan eklesiologi yang eksklusif dengan memandang Gereja lain sebagai bidaah atau skismatik. Namun, melalui Konsili Vatikan II, Gereja menyadari perlunya pembaruan dengan kembali mengevaluasi perumusan ajaran, hukum Gereja dan pandangan eklesiologinya,

Konsili menyatakan bahwa:

Selama ziarahnya Gereja dipanggil oleh Kristus untuk terus menerus merombak dirinya, seperti memang selamanya dibutuhkan olehnya sebagai suatu lembaga manusiawi dan duniawi. Oleh karena itu, bila menilik situasi zaman, baik di bidang moral dan tata tertib gerejawi, maupun dalam cara merumuskan ajaran, dan itu harus dibedakan dengan cermat dari perbendaharaan iman sendiri, ada hal-hal yang telah dilestarikan secara seksama, hendaknya itu pada suatu saat yang baik dipulihkan secara tepat sebagaimana seharusnya (UR 6).

111 Dewan Kepausan Untuk Persatuan Kristiani, Pedoman Pelaksanaan Prinsip-Prinsip dan Norma-Norma Ekumenisme, 28-38.

112 Kitab Hukum Kanonik kanon 755 CHC 1983: § 1. Seluruh Kolegium Para Uskup dan That Apostolik mempunyai tugas utama memajukan dan membimbing gerakan ekumenis dikalangan umat katolik, yang tujuannya ialah pemulihan kesatuan antara semua orang kristiani yang menurut kehendak Kristus harus diperjuangkan oleh Gereja. § 2. Demikian pula para Uskup dan, menurut norma hukum, Konferensi Para Uskup, wajib memperjuangkan kesatuan tersebut dan, sesuai dengan bermacam-macam kebutuhan atau kesempatan, wajib memberikan norma-norma praktis dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan oleh otoritas tertinggi Gereja.

Konsili mau mengatakan bahwa kekurangan yang terjadi pada zaman lampau baik dalam struktur Gerejani, kepemimpinan Gerejani, perumusan ajaran, dan sebagainya juga terjadi pada masa ini. Oleh sebab itu, perlulah sebuah pertimbangan yang jujur untuk memperbaikinya. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Paus Paulus VI pada pembukaan sesi kedua Konsili Vatikan II:

“Christ summons the Church to countinue reformation in her pilgrimage on earth”113.

Pembaruan Gereja lebih berarti Gereja harus lebih setia pada panggilannya sendiri114. Perpecahan yang terjadi pada masa lampau memang bukan tanggungjawab orang Kristen dewasa ini. Namun, mereka juga harus bertanggungjawab atas perpecahan yang terus menerus terjadi sampai saat ini.

Maka, diperlukan sikap saling menghargai, bersikap rendah hati, tidak egois, dan pertobatan batin (bdk. UR 7).

Pembaruan dalam Gereja mendapat makna ekumenis yang istimewa.

Aneka bentuk kehidupan Gereja sudah mengalami bentuk pembaruan misalnya gerakan Kitab Suci dan liturgi, pewartaan Sabda Allah, katekese, kerasulan awam, bentuk-bentuk baru kehidupan religius, spiritualitas perkawinan, ajaran, dan kegiatan Gereja di bidang sosial115. Semua ini dapat dipandang sebagai jaminan dan pertanda yang dapat meramalkan bahwa di masa mendatang gerakan ekumenis akan berkembang dengan baik (UR 6).

113 Bernard Leeming, SJ., The Vatican Council and Christian Unity, London: Darton, Longman and Todd, 121-122.

114 Georg Kirchberger, Gerakan Ekumene, 80-81.

115 Bernard Leeming, SJ., The Vatican Council and Christian Unity, 124-130.

2.5.2.2 Pendidikan Ekumenisme

Keprihatinan untuk memulihkan kesatuan menjadi tanggungjawab semua umat beriman (UR 5)116. Maka, diperlukan pendidikan yang memadai untuk para awam dan pelayan pastoral agar dapat memahami sepenuhnya gerakan ekumenis.

Pertama-tama pendidikan ekumenis dihayati dalam keluarga, dikembangkan dalam kehidupan paroki, dan pendidikan-pendidikan agama di sekolah-sekolah.

Dewan Kepausan Untuk Persatuan Kristiani memberikan perhatian khusus dengan memberikan pedoman pendidikan ekumenisme untuk semua orang Kristen117. Tujuan dari pedoman ini agar semua orang kristiani, entah apapun perutusan dan tugas mereka dalam dunia dan masyarakat selalu dijiwai oleh semangat ekumenis118.

Berdasarkan pedoman itu beberapa sarana yang dapat menjadi wadah pembinaan antara lain119; Pertama, mendengarkan dan mempelajari Kitab Suci, Sabda Allah yang satu dan sama untuk semua orang Kristiani, secara bertahap akan memperkokoh kesatuan antarsesama Kristen. Kedua Khotbah, khotbah dapat digunakan untuk menjelaskan kepada umat beriman misteri pewahyuan persatuan Gereja dan mendorong persatuan umat Kristiani120. Ketiga Katekese, seperti yang dikatakan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam exhortasi Apostolik Catechesi

116 Bernard Leeming, SJ., The Vatican Council and Christian Unity, 120-121.

117 Dewan Kepausan Untuk Persatuan Kristiani, Pedoman Pelaksanaan Prinsip-Prinsip dan Norma-Norma Ekumenisme, 39-63.

118 Dewan Kepausan Untuk Persatuan Kristiani, Pedoman Pelaksanaan Prinsip-Prinsip dan Norma-Norma Ekumenisme, 42.

119 Dewan Kepausan Untuk Persatuan Kristiani, Pedoman Pelaksanaan Prinsip-Prinsip dan Norma-Norma Ekumenisme, 42-47.

120 Paus Paulus VI; “Sebagai penginjil-penginjil, kita harus memberi umat yang beriman kepada Kristus bukannya wajah suatu umat yang terbagi-bagi dan terpisah kerena perselisihan-perselisihan yang tak pernah berhenti, tetapi wajah umat yang dewasa dalam imam dan mampu menemukan titik temu di balik ketegangan-ketegangan yang real, karena adanya usaha untuk mencari kebenaran secara bersama-sama, jujur dan tanpa pamrih” (EN 77).

Tradendae (CT 32-33), katekese memiliki dimensi ekumenis bila dimulai dengan mempersiapkan anak-anak, kaum muda, dan juga orang dewasa untuk berhubungan dengan umat Kristiani lainnya. Keempat liturgi, liturgi merupakan sumber utama dari mana umat beriman menimba kesatuan Kristen sejati. Kelima hidup rohani, gerakan ekumenis selalu mengandaikan adanya pertobatan batin, hidup rohani, dan pembaruan hidup rohani. Orang Kristen secara bersama-sama menghayati hidup rohani yang berpusat pada Kristus. Keenam inisiatif-inisiatif lainya, kerjasama dalam bidang sosial dan karya karitatif merupakan sarana yang penting untuk gerakan ekumenisme.

Lingkungan yang paling cocok untuk pembinaan ekumenis dapat dilakukan dibeberapa tempat. Pertama adalah Keluarga. Keluarga merupakan tempat pertama untuk membentuk kesatuan melalui pertemuan-pertemuan pribadi dan saling menerimakan kasih satu sama lain. Kedua adalah Paroki. Paroki memiliki tugas besar untuk mendidik anggotanya agar memiliki semangat ekumenis yang dikonkretkan dalam isi dan bentuk pewartaan homili dan katekese juga dalam perencanaan program pastoral. Ketiga adalah Sekolah. Sekolah hendaknya memberikan nuansa ekumenis pada pelajaran agama untuk para siswanya dengan mengarahkan pada pendidikan hati dan pikiran dalam nilai-nilai manusiawi dan keagamaan, sehingga mampu berdialog dan menghapus prasangka-prasangka terhadap Gereja lain. Keempat adalah kelompok, perkumpulan, dan gerakan-gerakan gerejawi. Mereka yang terlibat dalam kelompok-kelompok gerejani hendaknya diresapi semangat ekumenisme dalam

menghayati keterlibatan mereka berdasarkan baptisan dan mengembangkan kehidupan dialog dengan Gereja lain121.

Perhatian khusus diberikan juga untuk para pelayan pastoral khususnya para pelayan tertahbis dan juga pelayan pastoral yang tak tertahbis. Untuk para pelayan tertahbis, pendidikan ekumenisme sudah harus diberikan sejak menjadi calon imam. Pedoman Pelaksanaan Prinsip-Prinsip dan Norma-Norma Ekumunisme menyebutkan bahwa para calon pelayan tertahbis perlu mengembangkan sikap-sikap manusiawi yang dapat membentuk menjadi seorang pribadi yang dapat diterima, dipercaya orang-orang, dan mengembangkan sikap dialog, sehingga memiliki kemampuan ekumenis yang otentik122.

Pendidikan ekumenisme pada para calon pelayan tertahbis menjadi tanggung jawab konferensi-konferensi wali Gereja untuk merancang rencana studi yang memiliki dimensi ekumenis. Dimensi ekumenis ini ada dalam macam-macam pokok kuliah, dalam pelajaran-pelajaran teologi pada umumnya, dalam setiap ilmu teologi, dan kursus-kursus teologi. Pendidikan ekumenisme juga perlu diwujudkan secara real bukan hanya sebatas teori, melainkan juga berakar dalam kehidupan, dalam pengalaman hidup jemaat, dalam perjumpaan, dan diskusi dengan jemaat dari Gereja lain. Kegiatan ini dapat dilakukan dalam tingkat lokal maupun universal dengan tetap mengindahkan norma-norma yang berkaitan dalam tradisi Gereja Katolik123. Sebagaimana yang dikatakan oleh konsili;

121 Dewan Kepausan Untuk Persatuan Kristen, Pedoman Pelaksanaan Prinsip-Prinsip Dan Norma-Norma Ekumenisme, 47-49.

122 Dewan Kepausan Untuk Persatuan Kristen, Pedoman Pelaksanaan Prinsip-Prinsip Dan Norma-Norma Ekumenisme, 50.

123 Dewan Kepausan Untuk Persatuan Kristen, Pedoman Pelaksanaan Prinsip-Prinsip Dan Norma-Norma Ekumenisme, 51-56.

Pendidikan Teologi dan fak-fak124 lain, terutama sejarah, harus diberikan juga dalam perspektif ekumenis, supaya lebih cermat mengungkapkan kebenaran. Sebab bagi calon gembala dan imam penting sekali mendalami teologi yang dikembangkan dengan seksama secara demikian, bukan lagi secara polemis, terutama dalam hal-hal yang menyangkut hubungan-hubungan saudara-saudari yang terpisah dengan Gereja Katolik (UR 10).

Pendidikan ekumenis juga diberikan kepada para pelayan pastoral yang tidak tertahbis. Para pelayan pastoral yang tidak tertahbis adalah para katekis, para guru, dan sekarelawan awam lainnya. Lembaga-lembaga pendidikan lokal tempat para ketekis, guru agama menuntut ilmu diharapkan juga memiliki program kuliah ekumenisme yang membantu para mahasiswanya untuk memiliki pemahaman

Pendidikan ekumenis juga diberikan kepada para pelayan pastoral yang tidak tertahbis. Para pelayan pastoral yang tidak tertahbis adalah para katekis, para guru, dan sekarelawan awam lainnya. Lembaga-lembaga pendidikan lokal tempat para ketekis, guru agama menuntut ilmu diharapkan juga memiliki program kuliah ekumenisme yang membantu para mahasiswanya untuk memiliki pemahaman