BAB IV ANALISA DAN REFLEKSI DARI GERAKAN EKUMENISME
4.1 Analisis SWOT atas Hasil Penelitian
4.1.1 Kekuatan (Strengths)
4.1.1.1 Adanya Kerjasama Ekumenisme dalam Bidang Sosial, Bidang
Kehidupan sosial dan masalah-masalah sosial yang dihadapi umat Kristiani di Toraja menjadi ranah kerjasama ekumenis di antara Gereja. Hal ini sesuai dengan amanat Konsili Vatikan II yang menyatakan;
“Hendaknya segenap umat Kristen dihadapan segala bangsa menyatakan iman mereka akan Allah Tritunggal, akan Putera Allah yang menjelma, penebus dan Tuhan kita.
Hendaknya mereka melalui usaha-usaha bersama yang ditandai sikap saling menghargai memberi kesaksian tentang harapan kita yang tidak akan sia-sia. Zaman sekarang ini sangat meluaslah kerjasama dibidang sosial. Memang semua orang tanpa terkecuali dipanggil untuk menggalang kerjasama itu, terutama mereka yang beriman akan Allah, pertama-tama semua orang Kristen secara cemerlang mengungkapkan persatuan yang sudah ada di antara mereka dan lebih jelas menampilkan wajah Kristus Sang Hamba” (UR 12).
Konsili Vatikan II mendorong umat Kristiani untuk bekerjasama menanggapi kebutuhan sosial dalam masyarakat. Bila orang Kristiani hidup dan bekerjasama dalam semua aspek kehidupan, mereka memberikan kesaksian mengenai iman mereka275. Pertemuan-pertemuan di antara umat Kristiani melalui usaha-usaha kerjasama dapat menumbuhkan sikap persaudaraan, saling menghargai, saling berbagi kekayaan rohani, dan membuka jalan menuju kesatuan. Kerjasama ekumenis dalam berbagai bidang sudah terlaksana di Toraja.
Kerjasama itu tampak dalam bidang sosial, bidang kerohanian, dialog, dan bidang misioner.
Kerjasama ekumenis dalam bidang sosial dilakukan dengan peningkatan ekonomi masyarakat melalui koperasi yang dikelola oleh Gereja. Kerjasama ekumenis dalam bidang ini tampak dalam keanggotaan koperasi yang tidak dibatasi pada anggota Gereja tertentu saja melainkan dari berbagai Gereja. Ada
275 Dewan Kepausan untuk Persatuan Kristen, Pedoman Pelaksanaan Prinsip-Prinsip Dan Norma-Norma Ekumenisme, 88-89.
beberapa unit koperasi di Toraja yang dikelola oleh Gereja, seperti Koperasi Syalom yang dikelola oleh Gereja Toraja dan dua koperasi yang dikelola oleh Gereja Katolik yakni CU Sauan Sibarrung dan Koperasi Marendeng. Melalui usaha-usaha ini, Gereja bersama-sama membantu masyakat meningkatkan kesejahteraan. Kerjasama dalam bidang sosial juga dilaksanakan dalam bidang pendidikan dan karya-karya karitatif Gereja seperti membantu masyarakat yang tertimba bencana alam, banjir, dan tanah longsor.
Kerjasama ekumenis juga dilaksanakan dalam bidang rohani.
Sebagaimana telah dipaparkan dalam bab sebelumnya, di Toraja sudah terlaksana berbagai bentuk kerjasama ekumenis dalam bidang rohani seperti doa bersama pada perayaan hari-hari raya besar umat Kristiani, Natal, dan Paskah. Dalam kesempatan-kesempatan itu, umat Kristiani berkumpul untuk merayakan perayaan iman dengan penuh sukacita, dan rasa persaudaran. Pemimpin-pemimpin Gereja, para pastor dan pendeta, dilibatkan untuk memimpin salah satu bagian dalam perayaan tersebut; dan itu dilaksanakan secara bergantian setiap tahunnya. Selain perayaan besar umat Kristiani, kerjasama dalam bidang rohani juga dilakukan melalui doa bersama pada event-event tertentu, seperti saat ulang tahun Kabupaten. Perwakilan Gereja-gereja diundang dan dilibatkan untuk melaksanakan doa bersama dan untuk memohon berkat dari Tuhan demi kesejahteraan daerah dan kebijaksanaan bagi para pemimpin negara.
Bentuk kerjasama dalam bidang kerohanian ini tentu saja sejalan dengan amanat Konsili Vatikan II yang menyatakan bahwa pertobatan batin dan kesucian hidup yang disertai dengan doa permohonan demi kesatuan umat Kristen
dipandang sebagai jiwa seluruh gerakan ekumenisme (UR 8)276. Paus Yohanes Paulus II, yang mengutip kalimat St. Agustinus, menyatakan “Bila umat Kristen berdoa bersama, tujuan kesatuan tampak lebih dekat…. Dalam persekutuan doa, Kristus sungguh hadir. Ia berdoa dalam diri kita dan untuk kita” (UUS 22)277. Doa menjadi upaya efektif untuk memperoleh rahmat kesatuan dan menjadi ikatan otentik di antara umat kristiani. Doa bersama pada hakekatnya merupakan salah satu jalan menuju ke rekonsiliasi rohani278. Kardinal Edward Idris Cassidy menyatakan bila umat Kristiani berdoa bersama, tujuan kesatuan tampak lebih dekat279.
Kerjasama ekumenis juga terlaksana dalam bidang dialog di antara pemimpin Gereja. Salah satu bentuk kerjasama ekumenis yang pernah dilakukan di Toraja adalah dialog ekumenis Toraya Ma’kombongan untuk menyikapi masalah budaya Toraja. Toraya Ma’kombongan diselenggarakan pada bulan Juni 2012 dalam rangka peringatan 100 tahun Injil masuk di Toraja. Perbedaan ajaran di antara Gereja dalam menyikapi budaya Toraja membuat masyarakat bingung, sebab ajaran yang berbeda-beda itu didasarkan pada Kitab Suci yang sama.
Perbedaan ajaran ini juga membuat Gereja-gereja saling mengklaim ajarannyalah
276 Bernard Leeming, SJ, The Vatican Council and Christian Unity, London: Darton, Longman and Todd,137-138.
277 Paus Yohanes Paulus II dalam ensikliknya, Ut Unum Sint, menyatakan bahwa ada tiga pilar utama yang menjadi dasar dalam usaha untuk mewujudkan persatuan umat Kristiani. Pilar pertama adalah Doa. Pilar kedua adalah kerjasama ekumenis. Kerjasama ekumenis dilakukan untuk membuat wajah Kristus yang penuh kasih lebih dialami oleh mereka yang menderita, sakit, dan mereka yang membutuhkan cinta serta perhatian. Pilar ketiga adalah dialog teologis. Dialog teologis merupakan elemen penting dalam upaya mengatasi perpecahan masa lalu dan mengusahakan pemulihan persatuan. (Edward Idris Kardinal Cassidy, “Unitatis Redintegratio Forty Years after the Council”, dalam majalah Gregorian 88, 2007, 314-317).
278 Dewan Kepausan untuk Persatuan Kristen, Pedoman Pelaksanaan Prinsip-Prinsip Dan Norma-Norma Ekumenisme, 71.
279 Edward Idris Kardinal Cassidy, “Unitatis Redintegratio Forty Years After the Council”, dalam majalah Gregoriam 88, 315.
yang paling benar dan menilai ajaran Gereja lain sesat. Oleh sebab itu, diadakanlah diskusi bersama dalam suasana persaudaraan agar dapat saling memahami, saling menghargai, dan saling memperkaya satu sama lain.
Kerjasama dalam bidang dialog ekumenis sejalan dengan anjuran yang dikeluarkan oleh Dewan Kepausan untuk Persatuan Kristiani yang menyebut dialog sebagai jantung kerjasama ekumenis yang menyertai semua bentuk kerjasama ekumenis280. Dialog memberikan ruang kepada setiap peserta untuk secara lebih mendalam menguraikan ajaran persekutuannya dan dengan jelas menguraikan ciri-cirinya (UR 4). Dengan demikian, dialog ekumenis akan membantu umat beriman untuk menghindari pernyataan-pernyataan, penilaian-penilaian serta tindakan-tindakan, yang ditinjau dari sudut keadilan dan kebenaran tidak cocok dengan situasi saudara-saudari dari Gereja lain. Sasaran dialog ekumenis adalah saling pengertian, menghalau prasangka-prasangka, dan menunjang proses saling mengenal serta menghargai serta proses saling memperkaya281.
Kerjasama ekumenis juga dilakukan dalam bidang misioner. Salah satu bentuk kerjasama ekumenis dalam bidang misoner di Toraja adalah penerimaan terjemahan Kitab Suci dalam bahasa Toraja282. Kitab Suci dalam bahasa Toraja
280 Dewan Kepausan untuk Persatuan Kristiani, Pedoman Pelaksanaan Prinsip-Prinsip Dan Norma-Norma Ekumenisme, 93.
281 Theological Advisory Commission FABC, “Tesis-tesis Mengenai Dialog Antaragama:
Suatu Refleksi Teologis Pastoral”, dalam Georg Kirchberger (ed.), Gereja Berwajah Asia, Ende, Nusa Indah, 1995, 144-146.
282 Gereja Katolik bekerjasama dalam penerjemahan dan penerbitan Kitab Suci dengan banyak cara dan bermacam-macam tingkat. Pada tingkat Kepausan, Dewan Kepausan untuk Persatuan Kristiani terlibat dengan pendirian ‘World Catholic Federation for the Biblical Apostolate’ (Federasi Katolik sedunia untuk Kerasulan Kitab Suci) pada tahun 1969 yang sekarang berganti nama menjadi ‘Catholic Biblical Federation’. Pada tingkat wilayah Wali gerejani, KWI (Konferensi Wali Gereja Indonesia) sebagai wadah pemerintah yang mewakili
keuskupan-disebut Sura’ Madatu dan diterima semua Gereja sebagai Kitab Suci yang resmi dalam bahasa Toraja283. Kerjasama ekumenis juga nyata dalam bidang liturgi seperti penerjemahan doa-doa bersama seperti doa Bapa Kami dan juga buku-buku nyayian ke dalam bahasa Toraja. Sebab bila orang-orang Kristiani berdoa dan bernyanyi bersama-sama dengan satu suara, kesaksian mereka akan mencapai surga284.
Kerjasama dalam bidang missioner juga ditunjukkan dengan memberikan pendidikan ekumenisme kepada calon-calon pemimpin Gereja. Di Toraja, dijumpai banyak Sekolah Tinggi Teologi (STT) tempat pendidikan calon-calon pemimpin Gereja Reformasi, misalnya STT Kibaid. Para mahasiswanya dibekali dengan pemahaman ekumenisme melalui kuliah ekumenisme. Pendidikan seperti ini penting agar para calon pemimpin Gereja mendapatkan pemahaman yang benar tentang ekumenisme dan dapat menumbuhkan semangat ekumenis dalam seluruh pelayanannya.
Kerjasama di antara pemimpin Gereja untuk pendidikan ekumenisme di Sekolah-sekolah Tinggi Teologi di Toraja sangat baik. Sesekali Pastor dan Pendeta diundang oleh STT tertentu untuk memberikan penjelasan tentang ajaran Gerejanya pada mahasiswa-mahasiswi STT. Dengan demikian para mahasiswa
keuskupan di negara Indonesia, bekerjasama dengan PGI (Persekutuan Gereja Indonesia) sebagai wadah yang mewakili Gereja-Gereja Reformasi, untuk menerjemahkan dan menerbitkan Kitab Suci dalam bahasa Indonesia. Pada tingkat Keuskupan, misalnya di Keuskupan Agung Makasar, KAMS, bekerjasama dengan Dewan Sinode dari Gereja Reformasi untuk menerjemahkan dan menerbitkan Kitab Suci dalam daerah seperti bahasa Toraja.
283 Surak Ma’datu diterjemahkan oleh Gereja Toraja ke dalam bahasa Toraja. Isi Surak Ma’datu belum mencakup 9 kitab deuterokanonika hanya kitab-kitab yang diakui oleh Gereja Reformasi saja yang berjumlah 62 Kitab. Meskipun demikian, Gereja Katolik mengakui Surak Ma’datu sebagai Kitab Suci resmi dalam bahasa Toraja dan digunakan dalam peribadatan inkulturatif yang menggunakan bahasa Toraja.
284 Dewan Kepausan untuk Persatuan Kristen, Pedoman Pelaksanaan Prinsip-Prinsip Dan Norma-Norma Ekumenisme, 101.
STT mendapatkan pemahaman yang menyeluruh dan original tentang ajaran Gereja tertentu dari sumber aslinya. Pemahaman yang benar pada ajaran Gereja tertentu dapat menumbuhkan sikap saling menghargai dan menghindari penilaian-penilaian yang tidak benar. Event seperti ini juga menjadi kesempatan bagi para pemimpin Gereja untuk menjelaskan inti ajaran Gerejanya agar dapat dipahami dan dimengerti oleh umat Kristiani lainnya.
Perpecahan di antara umat Kristen akan merugikan perutusan suci kepada semua orang dan menutup pintu iman bagi banyak orang (AG 6). Paus Paulus VI menyatakan; “Daya-Kekuatan evangelisasi akan banyak berkurang, bila dengan pelbagai cara para pewarta Injil terpecah-pecah antarmereka sendiri” (EN 77).
Oleh karena itu, diperlukan suatu usaha memperjuangkan gerakan ekumenisme yang dapat memberikan kesaksian akan tugas misioner Gereja kepada dunia.
4.1.1.2 Adanya Wadah Kerjasama dan Dukungan Komisi HAK KAMS