• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISA DAN REFLEKSI DARI GERAKAN EKUMENISME

4.1 Analisis SWOT atas Hasil Penelitian

4.1.1 Kekuatan (Strengths)

4.1.1.3 Kesadaran Adanya Unsur Kesatuan di antara Gereja-Gereja

4.1.1.3.3 Kesamaan Paham Gereja di antara Pemimpin Gereja …

Pemimpin-pemimpin Gereja di Toraja yang menjadi responden dalam penelitian ini, memahami Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus. Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus menempatkan Kristus sebagai Kepala dan umat beriman adalah anggotanya. Ada juga yang memahami Gereja sebagai Tubuh mistik Kristus dengan istilah lain yakni Gereja yang tidak kelihatan yang anggotanya tidak diikat oleh organisasi gerejani tetapi mengikat semua orang yang percaya301.

Pemimpin-pemimpin Gereja di Toraja mendasarkan refleksi Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus pada Surat Rasul Paulus yang pertama kepada Jemaat di Korintus302. Paulus berbicara tentang tubuh mistik Kristus berhadapan dengan Jemaat Korintus yang terpecah-pecah dalam golongan-golongannya. Ada yang mengatakan bahwa mereka dari golongan Paulus, ada juga yang mengatakan

300 Lembaga Biblika Indonesia (LBI) dirintis oleh imam-imam Fransiskan yang mengusahakan penerjemahan dan penerbitan Kitab Suci tahun 1956. LBI menjadi lembaga KWI sejak tahun 1971 dengan maksud mengembangkan publikasi di bidang Kitab Suci. LBI bekerjasama dengan LAI dalam usaha penerjemahan dan penerbitan Kitab Suci bersama-sama.

LBI menjadi anggota dari Wold Catholic Federation for Biblical Apostolate yang berkedudukan di Stuttgart, Jerman. (Bdk. Bdk. A. Heuken SJ, Ensiklopedi Gereja 5, 118-119).

301 Teolog-teolog protestan seperti Paul Tillich membedakan antara komunitas rohani yang dipandang sebagai satu dan tak terpecahkan dengan gereja sebagai institusi yang dibuat oleh manusia. Persatuan rohani bukan suatu tubuh yang terorganisir melainkan suatu realitas mistik yang tersembunyi dalam Gereja-Gereja yang tampak. Menurut Paul Tillich, komunitas rohani sungguh satu, walaupun tidak kelihatan sedangkan Gereja yang tampak tidak bersatu dan tidak perlu bersatu. bdk. Paul Tillich, Systematic Theology, Vol 3: Life and The Spirit; History and the Kindom of God, Chocago. University of Chicago Press, 1962, 162-172.

302 1Kor 12:12-31

dari golongan Apolos, dan lain sebagainya. Paulus menegur Jemaat Korintus, karena lebih menonjolkan sisi pelayanannya bukan sisi rohaninya.

4.1.1.4 Sikap Mau Bekerjasama yang Ditunjukkan oleh para Pemimpin Gereja di Toraja dan Uskup KAMS

Keseriusan umat Kristiani dan para pemimpinnya untuk memperjuangkan kesatuan di antara Gereja merupakan dukungan terbesar untuk ekumenisme.

Konsili Vatikan II menyatakan dalam gerakan penyatuan berperan-sertalah semua orang bukan hanya setiap orang, melainkan sebagai jemaat (UR 1).

Keseriusan untuk menciptakan iklim ekumenisme yang lebih baik ditunjukan oleh para pemimpin Gereja di Toraja. Para pemimpin Gereja di Toraja mengharapkan adanya kerjasama ekumenis yang lebih baik di antara Gereja.

Kerjasama ekumenis yang lebih baik dipahami sebagai salah satu bentuk kesaksian pada dunia akan keesaan Gereja303. Oleh karena itu, para pemimpin Gereja menginginkan terciptanya satu kerjasama ekumenis yang lebih terstuktur dan terpola yang melibatkan semua Gereja di Toraja. Upaya-upaya untuk memajukan kerjasama ekumenis ditunjukkan dengan memilimalisir hambatan-hambatan ekumenis dan menghindari penilaian-penilaian yang dapat merusak hubungan baik di antara Gereja304. Keseriusan ini juga ditunjukkan dengan menanamkan rasa persaudaraan di antara sesama pengikut Kristus.

303 Kerjasama yang baik di antara Gereja menjadi bentuk kesaksian pada dunia akan keesaan Gereja. Aspek ini merupakan salah satu bentuk kerjasama dalam bidang missiologi.

304 Salah satu contohnya adalah dengan menghindari penilaian bidaah atau sesat kepada ajaran Gereja lain, menghindari penilain tidak alkitabiah pada Gereja lain, dan penilain-penilain negatif lainnya.

Keuskupan Agung Makassar sebagai bagian dari Gereja semesta juga memberikan perhatian pada gerakan ekumenisme. Keseriusan KAMS dalam memperjuangkan upaya ekumenisme tampak dalam perumusan arah dasar pastoral yang disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan umat di wilayah KAMS.

Berikut adalah pertemuan-pertemuan pastoral KAMS yang memberikan perhatian khusus pada masalah ekumenisme.

Pertama adalah Perumusan Pedoman Umum Pelayanan Keuskupan Agung Ujung Pandang305 (PPUP KAUP) pada tanggal 10 ̶ 14 tahun 1989306. PPUP KAUP merumuskan visi; Gereja lokal KAUP sebagai sakramen keselamatan utuh menyeluruh dalam Kristus. Tugas pokok dirumuskan sesuai dengan skala prioritas sebagai berikut: (1) Membangun Gereja yang sungguh Lokal, (2) Membangun dunia/masyarakat, (3) Penginjilan, (4) Hubungan dengan agama lain. Prioritas keempat yakni hubungan dengan agama lain dijabarkan dalam dua bab yakni gerakan ekumenis dan dialog dengan agama-agama non-Kristen. Pedoman Umum Pelayanan KAUP kemudian diimplementasikan di regio-regio (sekarang Kevikepan). Di setiap regio diadakan sarasehan yang dihadiri oleh para pastor, ketekis, dan anggota dewan paroki untuk menindaklanjuti dan mendalami

305 Sebelum tahun 2002, Keuskupan Agung Makassar (KAMS) bernama Keuskupan Agung Ujung Pandang (KAUP). Pergantian nama ini tidak lepas dari pergantian nama ibu kota Sulawesi Selatan. Pada tahun 2002, kota Ujung Pandang sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan dikembalikan pada nama aslinya yakni Makassar. Pergantian nama ini berakibat juga pada pergantian nama keuskupan.

306 Setahun setelah ditahbiskan menjadi Uskup Agung untuk Keuskupan Agung Ujung Pandang (KAUP), Mgr. Van Roessel CICM, mengadakan pertemuan seluruh imam KAMS di Wisma Kare Makassar untuk membicarakan pedoman pastoral di KAUP. Pertemuan selama empat hari tersebut, menghasilkan PPUP KAUP yang berisi Mukadimah, arah dasar, berupa visi dan misi (tugas pokok menurut prioritas), penjabaran tugas pokok menurut prioritas pada tingkat region, kontrol dan evaluasi, penutup (bdk. Mgr. John Liku Ada’, “Gereja Lokal KAMS 75 Tahun”, dalam majalah Koinonia Volume 7, No. 2, Makassar, 2012, 8-10).

Pedoman Umum Pelayanan KAUP. Sedangkan pada tingkat keuskupan, diupayakan memperlengkapi komisi-komisi dan lembaga-lembaga.

Kedua adalah sinode diosesan yang pertama pada tanggal 26 ̶ 30 Oktober 1999307. Sinode diosesan yang pertama menghasilkan arah dasar Keuskupan Agung Ujung Pandang (ARDAS KAUP) yang memuat tiga butir pokok yakni visi, misi dan spiritualitas. Visinya adalah Gereja Lokal KAUP sebagai persaudaraan sejati, tanda kehadiran Kerajaan Allah di tengah umat manusia.

Misinya disebutkan dalam lima tugas pokok; (1) menjadi Gereja yang mandiri-dewasa, (2) menjadi Gereja yang misioner, (3) menjadi Gereja yang memasyarakat, (4) menjadi Gereja yang komunikatif, dan (5) menjadi Gereja yang bersaksi total. Spiritualitas yang mendasari Ardas hasil sinode adalah spiritualitas transformatif yang berisi dua hal yakni transformasi personal yang disebut pertobatan (dengan slogan “Ubalah dunia dengan mulai pada dirimu sendiri”) dan transformasi sosial/gerejani (bdk. semboyan “Ecclesia semper reformanda”). Dalam misi Komunikatif, Gereja KAMS menekankan

persaudaraan sejati dengan membangun sikap komunikatif di antara sesama umat beriman Kristiani.

307 Sinode diosesan yang pertama dilatarbelakangi dari keprihatinan menghadapi krisis moneter yang melanda Asia termasuk indonesia dan juga krisis multidimensi berkepanjangan yang diwarnai dengan konflik horizontal antaretnis dan agama. Sejumlah daerah di wilayah gerejani KAMS juga tidak luput dari krisis itu. Terjadi pembakaran gereja, sekolah, gedung-gedung lainnya serta penyiksaan dan penganiayaan terhadap orang-orang Kristiani melalui sweeping KTP di jalan-jalan. Dari latar belakang inilah maka diambil keputusan untuk mengadakan sinode diosesan yang pertama sebagai wadah resmi dan tertinggi dalam keuskupan untuk membicarakan arah dasar pastoral keuskupan. Sinode dilaksanakan pada tanggal 26-30 Oktober 1999 (bdk. Mgr. John Liku Ada’, “Gereja Lokal KAMS 75 Tahun”, dalam majalah Koinonia Volume 7, No. 2, 11-13).

Ketiga adalah sinode diosesan yang kedua pada tanggal 27 ̶ 31 Mei 2012308. Bahan-bahan yang didapatkan dari setiap paroki dan kevikepan kemudian diolah melalui proses pra-sinode. Bahan-bahan itu kemudian diolah dalam 8 bidang yakni keluarga, pendidikan, kesehatan, sosial-ekonomi, sosial-politik, sosial-budaya, sarana prasarana-dana, dan evangelisasi baru. 6 bidang pertama menyangkut misi Gereja lokal ke luar (ad extra) sedangkan misi ke-7 menjadi pendukung dalam pelaksanaan misi Gereja, misi ke-8 merupakan misi ke dalam (ad intra). Visi Gereja Lokal KAMS adalah ‘Gereja sebagai pelayan’. Kerjasama ekumenis dihadirkan dalam sikap pelayanan di antara sesama umat beriman Kristiani.

Keseriusan Gereja KAMS dalam mendorong kemajuan ekumenisme juga dinyatakan dalam surat-surat gembala yang di tulis oleh Uskup Agung KAMS, Mgr. John Liku Ada’ kepada umat di wilayah gerejani KAMS yang tersebar di tiga provinsi yakni Sul-Sel, Sul-Tra, dan Sul-Bar. Pada tahun 2000, Uskup Agung Makassar mengeluarkan surat gembala menanggapi banyaknya kerusuhan yang berakibat pada rusaknya hubungan antarsesama masyarakat. Mgr. John Liku Ada’

menekankan empat usaha untuk menjalin persaudaraan antarumat beragama.

Pertama, menjauhi sikap superioritas, yaitu mengganggap diri benar dan memandang yang lain sesat atau salah. Kedua, perlu membangun sikap ingin

308 Tahun 2012, Gereja lokal KAMS merayakan 75 tahun Keuskupan. Moment yang sangat berharga ini dijadikan kesempatan untuk kembali merefleksikan arah dasar pastoralnya dengan mengundang seluruh elemen dalam Gereja lokal KAMS dari tingkat keuskupan sampai paroki dan lembaga-lembaga lainnya untuk mengadakan sinode Diosesan yang kedua. Gereja lokal KAMS merefleksikan diri sebagai sosok “kawanan Kecil” yang terpencar dalam wilayah seluas 100.623 KM2, yang tersebar dalam 44 Paroki, 1 paroki persiapan, 538 stasi dan dilayani 103 imam.

Menurut data dari Keuskupan, jumlah umat KAMS sebanyak 224.650 jiwa dari total penduduk sebesar 11.381.578 jiwa (bdk. Mgr. John Liku Ada’, “Gereja Lokal KAMS 75 Tahun”, dalam majalah Koinonia Volume 7, No. 2, 13).

mengerti. Ketiga, membangun sikap kejujuran. Keempat, memandang jauh ke depan dengan perspektif harapan. Mgr. John Liku Ada’ menaruh harapan besar agar umat Katolik mengusahakan persaudaraan sejati dengan semua agama, termasuk umat Kristiani dari Gereja lain309.

Pada tahun 2003, Mgr. John Liku Ada’ melalui surat gembalanya, menekankan toleransi antarumat beragama di wilayah gerejani KAMS. Mgr. John Liku Ada’ mengajak umat di KAMS untuk memajukan toleransi dengan merubah sikap (pertobatan batin), berperan serta dalam kegiatan-kegiatan bersama lintas agama dan membenahi mekanisme organisatoris (transformasi struktural)310. Pada tahun 2004, tema persaudaraan sejati diangkat kembali. Mgr. Jhon Liku Ada’

mengajak umat Katolik untuk memperjuangkan persaudaraan sejati dengan semua orang311. Tema yang sama diangkat tahun 2009 dengan judul “Kesejatian hidup dalam hubungan antaragama”312. Dalam ranah ekumenisme, Mgr. John Liku Ada’

mendukung dan mengajak semua umat beriman Katolik dalam wilayah gerejani KAMS terlibat aktif mengusahakan persaudaraan sejati.