• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GERAKAN EKUMENISME DI TORAJA

3.5 Hasil Penelitian

3.5.2 Dinamika Kehidupan Umat Beragama di Toraja

Toraja sebagaimana dengan daerah-daerah di Indonesia lainnya juga memiliki penduduk yang plural. Di Toraja dijumpai adanya lima agama besar yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu (kepercayaan Aluk To Dolo), dan Budha.

Hanya saja daerah Toraja menjadi khas dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya di Sulawesi Selatan, karena penduduknya mayoritas beragama Kristen.

Hampir di setiap desa dijumpai gedung gereja yang berdiri megah. Toraja juga sering disebut ‘Lambung Kekristenan di Sul-Sel’.

Hubungan antarumat beragama berjalan harmonis, tidak ada isu-isu yang sampai mengarah pada konflik antaragama. Di Toraja dapat dijumpai masjid yang dibangun tidak jauh dari gereja. Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan antarsesama masyarakat berjalan harmonis. Situasi dan kondisi demikian tercipta, karena budaya Toraja sangat menjunjung tinggi nilai keterbukaan dan semangat kekeluargaan199. Keharmonisan di antara semua masyarakat tampak paling jelas dalam upacara-upacara adat seperti rambu solo’ (upacara kematian) dan rambu tuka’ (upacara syukuran). Saat seperti itu semua masyarakat terlibat aktif tanpa harus memandang agamanya.

199 Bdk. Hasil wawancara dengan P. Frans Arring, Lampiran III, 70.

Wadah yang menjamin kerjasama antaragama adalah Forum Kerjasama Umat Beragama (FKUB) yang bertugas mencari solusi untuk mengatasi persoalan-persoalan keagamaan yang ada di Toraja. FKUB berusaha membangun opini-opini damai di tengah-tengah masyarakat200. Keanggotaan dalam forum ini berasal dari wakil semua agama yang ada di Toraja.

3.5.2.2 Hubungan Gereja-Gereja di Toraja

Tahun 2013, Gereja di Toraja memperingati 100 tahun masuknya pekabaran Injil yang ditandai dengan pembaptisan pertama 23 orang Toraja di Makale pada tahun 1913. Dalam kurun waktu tersebut, telah berkembang dengan subur 30 denominasi Gereja Reformasi dan Gereja Katolik. Perjalanan sejarah Gereja di Toraja diwarnai dengan berbagai hambatan baik itu dari luar maupun dari dalam Gereja sendiri. Hambatan dari luar antara lain pemberontakan DI/TII oleh Kahar Muzakar di SULSEL pada awal kemerdekaan RI. Banyak orang Kristen yang dipaksa meninggalkan imannya atau dibunuh. Hambatan dari dalam berupa pertentangan-pertentangan di antara sesama pengikut Kristus yang menyebabkan perpecahan Gereja. Pendeta senior dari Gereja Kibaid, Pdt.

Benyamin Raba Sumule Tinggi (72 tahun) mengatakan bahwa cukup lama Gereja-Gereja berjalan sendiri-sendiri; jika diibaratkan, situasinya seperti orang yang sedang berjalan bersama tetapi saling senggol-menyenggol201.

Lalu bagaimana dengan situasi sekarang ini? P. Marsel Lolo Tandung, Ketua Komisi HAK KAMS, menyatakan bahwa kalau kita menempatkan Gereja

200 Bdk. Hasil wawancara dengan P. Marsel Lolo Tandung, Pr, Lampiran III, 81-82.

201 Bdk. Hasil wawancara dengan Pdt. B. R. S. Tinggi, Lampiran III, 86.

sebagai urusan personal, hubungan kerjasama antar-Gereja selalu ada, sebab hubungan kerjasama itu tidak dapat dipisahkan dengan hubungan kekerabatan dan hubungan kemasyarakatan yang melibatkan Gereja lain. Tetapi kalau Gereja dipahami sebagai institusi atau lembaga, maka hubungan antar-Gereja di Toraja belum berjalan dengan optimal, belum ada kerjasama yang berkelanjutan, yang terpola dan terprogram202.

Hal senada disampaikan juga oleh Pdt. Jhony Madika yang melihat dinamika hubungan antar-Gereja ‘tidak terlalu dekat dan tidak terlalu renggang.’

Hubungan antar-Gereja tampak dalam event-event khusus, seperti natal, paskah, pesta-pesta adat, dan kegiatan kemasyarakatan lainnya. Namun, pada tingkat jemaat belum ada kerjasama yang terencana dan terstruktur203. Pdt. Musa Salusu, Ketua Sinode Gereja Toraja, menyebutkan bahwa di satu pihak hubungan antarumat beragama cukup baik, ada hubungan-hubungan kerjasama, tetapi di lain pihak, masih ada perasaan curiga di antara Gereja, khususnya usaha-usaha Gereja tertentu untuk menjaring umat dari Gereja lain204.

Pdt.Yunus Padang, dari GPdI, membagi hubungan antar-Gereja di Toraja ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah hubungan antar-Gereja yang seasas. Hubungan kerjasama, keakraban, dan keterbukaan dalam kelompok yang pertama ini sangat baik, misalnya hubungan kerjasama di antara Gereja yang beraliran Karismatik-Pentakosta yang tergabung dalam PGPI, seperti GPdI, Gereja Tabernakel, Gereja Siloam, dan Gereja lainnya. Kelompok kedua adalah hubungan Gereja-Gereja Reformasi yang tidak seasas. Hubungan di antara

202 Bdk. Hasil wawancara dengan P. Marsel Lolo Tandung, Lampiran III, 83-84.

203 Bdk. Hasil wawancara dengan Pdt. Johny Madika, Lampiran III, 63-64.

204 Bdk. Hasil wawancara dengan Pdt. Musa Salusu, Lampiran III, 2.

Gereja-Gereja Reformasi berjalan dengan baik, ada hubungan kerjasama.

Misalnya, hubungan kerjasama antara GPdI dan Gereja Toraja, terkadang pemimpin dari Gereja Pentakosta diminta untuk memberikan seminar tentang doktrin, ajaran, dan kepemimpinan Gereja Pentakosta di sekolah pendeta Gereja Toraja. Kelompok ketiga adalah hubungan antara Gereja Reformasi dan Gereja Katolik. Hubungan ini tidak berjalan dengan baik, masih kurang komunikasi, pendeta dan pastor jarang bertemu satu sama lain205. Hal senada juga dikatakan oleh Pdt. Benyamin Raba Sumule Tinggi, yang menyatakan hubungan Gereja Reformasi dengan Gereja Katolik masih belum berjalan dengan baik. Gereja-Gereja Reformasi memandang Gereja-Gereja Katolik sebagai kelompok yang eksklusif206.

Sampai saat penelitian ini dilaksanakan, belum ada wadah kerjasama atau program khusus yang dibuat oleh Gereja-Gereja untuk menjalin kerjasama ekumenis. Kerjasama ekumene yang selama ini dilaksanakan hanya merupakan program dari pemerintah daerah atau program dari Gereja-Gereja tertentu yang bersifat aksidental. Kementerian Agama, baik itu dari Bimas Kristen maupun Bimas Katolik, belum mempunyai program khusus untuk meningkatkan gerakan ekumenis di Toraja.

Menurut Pdt. Musa Salusu, pada tahun 70an ̶ 80an, sudah ada Badan Kerjasama Gereja-Gereja (BKSG) di Toraja yang dipelopori oleh seorang tokoh masyarakat yang memiliki jiwa ekumenis, yaitu Bpk. Tangke Salu. Hanya saja, Gereja Katolik tidak terlibat di dalam BKSG yang berperan sebagai wadah

205 Bdk. Hasil wawancara dengan Pdt. Yunus Padang, Lampiran III, 20-21.

206 Bdk. Hasil wawancara dengan Pdt. Benyamin Raba Sumule Tinggi, Lampiran III, 56.

kerjasama di antara Gereja denominasi Kristen Reformasi. Banyak program yang direncanakan berjalan dengan baik, seperti pelatihan-pelatihan pemimpin Gereja, pertemuan antarpimpinan Gereja, doa bersama, dan lain sebagainya. Namun, setelah Bpk. Tangke Salu meninggal, BKSG tidak berjalan lagi207.

Pada tahun ini Gereja Toraja, sebagai Gereja yang paling besar jemaatnya, berusaha untuk membentuk badan kerjasama Gereja-Gereja yang melibatkan semua Gereja Reformasi dan Gereja Katolik. Sudah beberapa kali diadakan pertemuan pemimpin Gereja untuk membicarakan pembentukan BKSG; dan ini disetujui oleh semua pimpinan Gereja. Tujuan BKSG sebagaimana yang disampaikan oleh Pdt. Musa Salusu adalah supaya Gereja-Gereja di Toraja dapat saling menghormati, sehingga dapat menghindari ‘gesekan-gesekan,’ dan saling

‘mengakui’ serta ‘menghargai’ perbedaan. BKSG juga menjadi wadah untuk menampung suara kenabian Gereja-Gereja dan bergandengan tangan guna menghadapi masalah-masalah sosial, khususnya maraknya café-café, diskotik, tempat prostitusi, kenakalan remaja, dan narkoba yang ada di Toraja. Rencananya BKSG akan dideklarasikan pada tanggal 08 Oktober 2012, yang melibatkan pemimpin-pemimpin Gereja dan akan mengundang dua bupati di Toraja208.

207 Menurut Pdt. Johny Madika dan Pdt. Titus Sampe, BKSG ini mandek karena memang tidak mengakar pada Gereja-Gereja. Bpk. Tangke Salu memegang peranan penting dalam BKSG, termasuk dalam fasilitas dan sarana yang diperlukan. Selain itu, BKSG juga tidak memiliki program kerja yang jelas, sehingga banyak program-program yang dijalankan bukan keputusan rapat tetapi keputusan sepihak dari Bpk. Tangke Salu. Seringkali BKSG juga digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menarik umat dari Gereja lain. BKSG juga jatuh pada sinkretisme yang dinilai menyamaratakan semua Gereja. (Bdk. Hasil wawancara dengan Pdt.

Johny Madika, 30 September 2012, lampiran III, 64 dan hasil wawancara dengan Pdt. Titus Sampe, Lampiran III, 13).

208 BKSG akhirnya terbentuk yang menjadi wadah Gereja-Gereja Kristen Reformasi dari berbagai Denominasi. Gereja Katolik memilih untuk tidak menjadi anggota dari badan kerjasama ini.