• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dinamika peubah indikator indeks resiliens

DAFTAR LAMPIRAN

4 UJI COBA PENGGUNAAN INDEKS DALAM MENILAI PERUBAHAN TEMPORAL RESILIENSI TERUMBU KARANG

4.2 Metode Penelitian 1 Pengambilan data

4.3.2 Dinamika peubah indikator indeks resiliens

Dinamika peubah indikator dapat dilihat pada dua skala, dalam skala ribuan kilometer dan skala puluhan kilometer. Dalam skala ribuan kilometer, terumbu karang di Indonesia mempunyai dinamika peubah indikator resiliensi yang bervariasi antara di kawasan barat dengan di kawasan timur Indonesia, kecuali peubah CFG, CHQ, COC, dan USS yang memiliki pola perubahan relatif sama (Gambar 18). Dalam empat tahun terakhir, peubah CSN memiliki fluktuasi yang besar dengan pola yang berlawanan antara terumbu karang di kawasan Indonesia Timur dengan Indonesia Barat. Peubah AOF memiliki kecenderungan yang berlawanan antara kedua kawasan. Peubah AOF cenderung meningkat di Indonesia Timur, sebaliknya menurun secara kontinyu di Indonesia Barat.

Peubah CFG dan COC mengalami fluktuasi yang paling kecil dan relatif stabil. Walaupun demikian kedua kawasan mempunyai kualitas yang berbeda pada kedua peubah tersebut. Sejak tahun 2006 sampai 2009, peubah CFG secara

konsisten lebih tinggi di terumbu karang kawasan timur, sedangkan peubah COC lebih tinggi di kawasan barat. Temuan ini sangat menarik karena mengkonfirmasi perbedaan keunggulan kedua kawasan di Indonesia.

Gambar 18 Perbandingan dinamika rata-rata (±1SE) peubah indikator indeks resiliensi dalam skala ribuan kilometer, atau antara kawasan timur dan barat Indonesia.

Dinamika peubah yang menjadi indikator indeks resiliensi juga sangat bervariasi dalam skala puluhan sampai ratusan kilometer (kabupaten). Pada skala kabupaten di kawasan timur Indonesia, peubah CHQ dan AOF dapat meningkat sekitar tiga kali dalam waktu dua tahun (2007-2009), misalnya CHQ di Sikka dan AOF di Raja Ampat (Gambar 19). Gambar 19 juga menunjukkan bahwa Wakatobi memiliki keunggulan pada peubah CFG dan COC, sedangkan Biak unggul pada peubah CSN.

Gambar 19 Dinamika rata-rata (±1SE) peubah indikator indeks resiliensi terumbu karang, di empat kabupaten kawasan Indonesia Timur, dalam empat tahun pengamatan.

Di kawasan Indonesia Barat, peubah CSN tetap merupakan peubah yang mengalami fluktuasi besar di semua kabupaten. Fluktuasi yang terbesar terjadi pada peubah AOF di Nias dan Mentawai, dimana AOF turun secara drastis (Gambar 20). Peubah CFG menjadi peubah pembeda dari ke-empat kabupaten, dengan nilai tertinggi dimiliki oleh Bintan diikuti Batam, Nias, dan Mentawai. Peubah COC yang mengalami fluktuasi kecil merupakan pemisah antara terumbu karang di Kepulauan Riau dengan di Samudra Hindia.

Gambar 20 Dinamika rata-rata (±1SE) peubah indikator indeks resiliensi di empat kabupaten kawasan Indonesia Barat, dalam tiga tahun pengamatan.

Perubahan peubah USS yang besar dapat menunjukkan pengamatan transek permanen yang bergeser dari lokasi sebelumnya. Kemungkinan lainnya yang jarang terjadi adalah adanya kolonisasi besar-besaran substrat berpasir oleh karang bentuk jamur, dari famili Fungidae, serta bertambahnya atau hilangnya substrat lumpur dan pasir. Tidak dijumpai perubahan USS lebih dari 5% per tahun di Indonesia baik di kawasan bagian timur maupun bagian barat (Gambar 19 dan 20).

Di kawasan Indonesia bagian timur, perubahan peubah indikator indeks antar waktu bersifat sangat khusus pada masing-masing lokasi. Secara umum dalam kurun waktu empat tahun peubah indeks yang mengalami kenaikan tertinggi adalah AOF (15.28% per tahun) disusul COC (6.48% per tahun) dan CHQ (3.34% per tahun) (Tabel 9). Peubah yang mengalami penurunan besar adalah AOF (-12.65% per tahun), USS (-3.38% per tahun), dan COC (-3.67% per tahun). Komponen indeks lainnya relatif tidak banyak berubah. Tidak ditemukan pola umum dari perubahan komponen indeks resiliensi tersebut.

Tabel 9 Perubahan rata-rata peubah indikator indeks selama dua kurun waktu, pertama (setahun, 2006-2007) dan kedua (dua tahun, 2007-2009) di kawasan timur Indonesia. Angka di belakang nama lokasi menunjukkan kurun waktu pertama dan kedua. Tanda (-) berarti penurunan. Perubahan yang besar pada USS dapat menunjukkan pergeseran lokasi transek permanen.

Lokasi, waktu

Perubahan peubah indikator indeks CFG (kelompok) CSN (koloni) CHQ (%) COC (%) AOF (%) USS (%) Wakatobi, 1 0.18 -0.21 -1.94 1.05 -12.65 -1.72 Wakatobi, 2 0.45 2.69 0.31 -1.08 19.01 0.04 Rajaampat, 1 -0.78 0.64 -1.27 -3.67 6.56 -3.88 Rajaampat, 2 0.72 0.08 0.93 6.26 30.57 1.43 Biak, 1 0.13 -2.71 -0.18 6.48 -0.21 1.95 Biak, 2 0.13 2.34 -0.70 -1.40 1.37 3.40 Sikka, 1 0.16 0.05 0.00 -1.65 2.39 -2.66 Sikka, 2 -0.05 -0.47 6.68 -2.25 4.08 -1.42

Di kawasan Indonesia bagian barat, dalam kurun waktu tiga tahun peubah indeks yang paling banyak mengalami kenaikan adalah AOF (9.66% per tahun),

disusul oleh COC (8.03% per tahun) (Tabel 10). Peubah yang mengalami penurunan sangat besar adalah AOF (-55.23% per tahun). Peubah lain yang mengalami penurunan paling besar adalah COC (-6.11% per tahun), dan USS (- 3.15% per tahun). Sedangkan peubah yang lainnya relatif stabil.

Tabel 10 Perubahan rata-rata peubah indikator indeks selama dua kurun waktu, pertama (2007-2008) dan kedua (2008-2009), di kawasan Indonesia Barat. Angka di belakang nama lokasi menunjukkan kurun waktu pertama dan kedua. Tanda (-) berarti penurunan.

Lokasi, waktu

Perubahan peubah indikator indeks CFG (kelompok) CSN (koloni) CHQ (%) COC (%) AOF (%) USS (%) Batam 1 -0.17 1.85 -1.43 -6.11 -10.99 1.83 Batam 2 -0.07 -0.35 0.19 4.52 6.44 -3.11 Bintan 1 -0.87 -1.07 -2.58 5.35 -16.08 0.03 Bintan 2 0.40 -2.07 -0.23 -5.30 9.66 -0.09 Nias 1 0.50 3.03 0.02 2.84 2.58 -3.15 Nias 2 -0.20 -2.50 1.89 8.03 -55.23 1.34 Mentawai 1 0.70 2.78 -1.16 -3.07 2.68 -2.19 Mentawai 2 -0.44 -2.15 0.24 3.57 -45.35 2.29

Data yang tersedia menunjukkan bahwa setiap peubah indikator indeks tidak selalu mengalami kenaikan atau penurunan. Dalam waktu dua tahun (tiga tahun pengamatan) yang berurutan di lokasi yang sama, suatu indikator indeks dapat mengalami keduanya, peningkatan dan penurunan. Penggunaan rata-rata kenaikan peubah indikator indeks menjadi tidak relevan. Tutupan karang, misalnya, tidak selalu menunjukkan peningkatan setiap tahun. Jika pengukuran dilakukan ketika terumbu karang mengalami penurunan tutupan karang, maka dapat terjadi kesalahan kesimpulan tentang kondisi terumbu karang. Padahal sebenarnya penurunan tutupan karang itu merupakan fluktuasi antar waktu. Dinamika ekosistem terumbu karang memang sangat kompleks, dimana gangguan dan tekanan lingkungan berjalan bersama dengan proses-proses alami dalam suksesi, seperti predasi dan kompetisi.

4.4 Pembahasan

Hasil penelitian di dalam bab ini menunjukkan, bahwa terumbu karang yang mempunyai indeks resiliensi tinggi mengalami fluktuasi kecil stabil atau ke arah penurunan indeks, sedangkan terumbu karang yang mempunyai indeks resiliensi rendah, cenderung mengalami peningkatan indeks dalam kurun waktu tertentu. Perbedaan dinamika indeks tersebut berkaitan dengan kondisi terumbu karang pada masa pemulihan dan masa pasca pemulihan.

Walaupun secara umum indeks resiliensi cenderung stabil dalam kurun waktu tiga tahun, dinamika masing-masing peubah indikator indeks resiliensi relatif tinggi. Kenaikan dan penurunan nilai peubah indikator tidak menunjukkan pola yang sama, karena masing-masing terumbu karang memiliki kondisi lingkungan dan gangguan yang berbeda, baik secara spasial maupun temporal. Kenaikan dan penurunan nilai peubah indikator merupakan fluktuasi dari peubah tersebut secara temporal. Fluktuasi peubah indikator akan mengakibatkan dinamika di dalam nilai indeks resiliensi.

Terumbu karang di Indonesia memiliki fluktuasi rata-rata indeks tahunan dengan kenaikan tertinggi 0.066 (di Nias tahun 2008), dan penurunan terbesar 0.058 (di Bintan pada tahun 2009). Fluktuasi ini merupakan data awal yang belum ada pembandingnya. Fluktuasi tersebut terjadi dalam kondisi terumbu karang yang sedang dalam pemulihan maupun yang sudah pulih. Angka fluktuasi ini sangat penting di dalam meramalkan pemulihan terumbu karang. Dengan laju pertambahan indeks yang cepat (0.066 per tahun), maka kenaikan indeks sebesar 0.100 dapat dicapai dalam waktu dua tahun. Jika suatu terumbu karang memiliki indeks resiliensi 0.600 kemudian turun menjadi 0.300 akibat suatu gangguan yang akut langsung, maka dapat diharapkan jika terumbu karang tersebut dapat pulih dalam waktu 5 (lima) tahun. Perkiraan kasar ini dengan asumsi bahwa kondisi lingkungan tidak banyak berubah dan tidak ada gangguan besar yang terjadi selama masa pemulihan tersebut. Walaupun demikian, perkiraan waktu pemulihan tersebut masih belum matang.

Laju pertambahan indeks resiliensi terumbu karang akan berbeda pada kondisi terumbu karang yang sedang pulih dari gangguan, dengan terumbu karang yang sudah hampir mencapai nilai maksimum di lokasi tersebut. Di the Great

Barrier Reef (GBR), Australia, pertambahan tutupan karang dilaporkan berbeda pada terumbu karang yang mengalami gangguan bintang laut Achantaster plancii

dengan yang tidak diserang A. plancii (Lourey et al. 2000). Tutupan karang merupakan peubah indikator indeks yang sangat penting, karena memiliki bobot yang besar dan keterkaitan dengan peubah indikator lainnya, seperti CFG, CHQ, dan CSN. Terumbu karang yang sedang dalam proses pemulihan akan mengalami kenaikan nilai indeks resiliensi yang lebih cepat dan kontinyu. Terumbu karang yang memiliki tingkat resiliensi tinggi dan relatif lebih konstan dalam kurun waktu yang lama dapat merupakan indikasi bahwa terumbu karang tersebut sudah melewati proses pemulihan.

Terumbu karang di Nias memiliki karakteristik sebagai terumbu karang yang sedang mengalami proses pemulihan. Peningkatan nilai indeks lebih cepat daripada fluktuasi indeks biasa. Disamping itu, pertambahan nilai indeks berlangsung secara kontinyu selama tiga tahun pengamatan. Meskipun dampak gempa yang disertai tsunami tahun 2004 dan gempa tanpa tsunami tahun 2005 pada terumbu karang di Nias tidak secara jelas dideskripsikan, Siringoringo dan Salatalohi (2009) menyatakan bahwa terumbu karang di Nias dalam proses pemulihan. Terumbu karang di Mentawai juga menunjukan tipe yang serupa walaupun tidak sejelas terumbu karang di Nias. Buku laporan pemantauan terumbu karang di Kabupaten Mentawai tidak menyebutkan tentang adanya gangguan dan pemulihan terumbu karang (Makatipu & Ulumuddin 2009; Makatipu & Leatemia 2009). Di Mentawai, laju pertambahan indeks sebesar 0.015-0.026 per tahun, yang tidak jauh berbeda dengan pertambahan indeks di Wakatobi 0.016 per tahun. Dengan demikian, laju pertambahan indeks di Mentawai dapat dianggap merupakan angka pertambahan fluktuatif yang normal. Nilai pertambahan indeks di Nias, 0.044-0.066 per tahun, dapat digunakan sebagai nilai pertambahan indeks dalam masa pemulihan di Indonesia.

Kenaikan indeks fluktuatif sebesar 0.016 per tahun merupakan peningkatan indeks yang relatif tinggi. Peningkatan tersebut setara dengan kenaikan peubah tutupan karang (COC) saja (CFG dan CSN tetap) sebesar 9%, dari tutupan awal 35%. Kenaikan tersebut juga dapat disetarakan dengan penambahan satu kelompok fungsional dari nilai CFG sebesar 4 (empat) kelompok, atau

penambahan 2 (dua) koloni karang ukuran kecil dari nilai CSN sebesar 4 (empat) koloni, atau penurunan AOF dari 50% menjadi 27%. Penurunan USS dari 50% menjadi 29% juga menghasilkan kenaikan indeks sebesar 0.010,

Dilihat dari perubahan peubah indikator indeks resiliensi, maka peubah AOF merupakan peubah yang paling banyak berubah. Perubahan nilai AOF terutama disebabkan oleh perubahan tutupan turf algae, yaitu komunitas algae berfilamen yang mudah mengkolonisasi karang yang baru mati dan juga mudah hilang karena kompetisi eksklusi maupun herbivori. Algae berfilamen dapat menghalangi penempelan larva karang dan menyebabkan kematian anakan karang (Sato 1985; Birrel et al. 2005), sehingga merupakan penghalang atau bottle neck

dari rekruitmen karang. Tingginya algae befilamen merupakan hasil kombinasi dari herbivori yang rendah dan nutrien yang rendah (Littler et al. 2006). Kelimpahan ikan herbivora yang rendah diduga terjadi di sebagian besar terumbu karang di Indonesia, tetapi negara kepulauan ini memiliki keanekaragaman herbivora yang tinggi.

Anggota peubah AOF lain yang sangat penting adalah karang lunak (Alcyonacea). Karang lunak juga merupakan kompetitor dari karang yang berpotensi menghalangi rekruitmen karang (Sammarco et al. 1983; Maida et al.

1995; Atrigenio & Alino 1996). Karang lunak biasanya merupakan komunitas yang dominan pada terumbu yang rusak karena pengeboman ikan. Karang lunak tumbuh di atas pecahan karang dan menghambat rekruitmen karang.

Peubah CSN merupakan indikator indeks yang banyak berfluktuasi baik di kawasan barat maupun timur Indonesia. Sebagai hewan klonal, fisiologi dan ekologi karang sangat tergantung pada ukuran koloninya. Reproduksi karang ditentukan oleh ukuran koloni (Soong 1993), demikian juga kelulushidupan karang (Hughes 1984). Koloni karang dengan ukuran 10 cm atau lebih kecil merupakan ukuran yang tidak stabil, mudah datang dari rektuitmen dan mudah mati karena mortalitasnya tinggi, sehingga peubah CSN mempunyai fluktuasi yang besar.

Pertambahan tutupan karang (COC) maksimum di dalam penelitian ini menunjukkan laju yang tinggi. Dari delapan kabupaten yang diamati, laju pertambahan rata-rata tutupan karang maksimum adalah 8.03% per tahun di

Kabupaten Nias tahun 2008 dan 6.48% di Kabupaten Biak tahun 2006. Data dari lokasi di luar Indonesia menunjukkan bahwa penambahan rata-rata tutupan karang di Kenya 6.5 % dalam 4 (empat) tahun (McClanahan et al. 2005), di the Great Barrier Reef 2% per tahun pada terumbu yang tidak terganggu dan 4% pada terumbu yang sedang pulih dari gangguan (Lourey et al. 2000). Laju pertambahan tutupan karang di Indonesia tersebut adalah laju rata-rata maksimum per kabupaten, sedangkan data dari luar Indonesia tersebut adalah laju pertambahan tutupan karang rata-rata di suatu kawasan, sehingga tidak dapat diperbandingkan secara langsung.

Peubah CFG dan CHQ merupakan indikator indeks yang tidak banyak berubah, kecuali CHQ di Kabupaten Sikka tahun 2009 yang bertambah 6.46% dalam satu tahun. Perubahan CFG umumnya tidak terpisah dari perubahan tutupan karang. Sedangkan CHQ akan meningkat jika terjadi peningkatan pada tutupan karang Acropora atau karang yang berbentuk masif dan submasif. Kehilangan tutupan karang dari ketiga kelompok karang tersebut akan menurunkan nilai CHQ.

Di dalam bab 4 ini, dinamika indeks resiliensi dilihat dalam kurun waktu yang relatif singkat, 3-4 tahun, dimana perubahan indeks yang terjadi adalah fluktuatif. Dinamika indeks resiliensi dalam waktu yang lebih panjang dapat membedakan dinamika indeks dalam masa yang fluktuatif dengan masa pemulihan terumbu karang. Perubahan indeks resiliensi dalam waktu yang lebih panjang (13 tahun) akan disajikan pada bab 5.

4.5 Kesimpulan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa indeks resiliensi terumbu karang dapat digunakan untuk melacak dinamika temporal tingkat resiliensi terumbu karang, dalam kurun 3-4 tahun. Terumbu karang yang mempunyai indeks resiliensi tinggi mengalami fluktuasi ke arah penurunan indeks atau stabil. Terumbu karang yang mempunyai indeks resiliensi rendah, sebaliknya, cenderung mengalami peningkatan indeks dalam kurun waktu tertentu. Hal ini diduga berkaitan dengan masa pemulihan. Pada masa pemulihan, pertambahan rata-rata indeks resiliensi sekitar 0.044 sampai 0.066 per tahun, di Nias, Indonesia.

Dinamika peubah indikator indeks secara temporal tidak menunjukkan pola tertentu. Di antara peubah indikator indeks, peubah AOF (tutupan algae dan fauna lain) merupakan peubah yang paling besar mengalami penurunan (55.37% per tahun) dan juga kenaikan (9.66% per tahun). Terumbu karang di Nias mengalami peningkatan peubah COC (tutupan karang) rata-rata sebesar 8.03% per tahun, yang merupakan peningkatan rata-rata COC terbesar di lokasi COREMAP.

5 UJI COBA PENGGUNAAN INDEKS RESILIENSI DALAM

MENILAI PEMULIHAN TERUMBU KARANG

5.1 Pendahuluan

Resiliensi suatu ekosistem merupakan ukuran besarnya potensi pemulihan ekosistem tersebut setelah terjadi gangguan. Pemulihan ekosistem terumbu karang setelah terjadinya gangguan belum mempunyai ukuran yang baku (standar). Ukuran yang paling banyak digunakan adalah kembalinya tutupan karang (Dollar & Tribble 1993; Tomascik et al. 1996; Lourey et al. 2000; Berumen & Pratchet 2006; Golbuu et al. 2007). Ukuran pemulihan yang lainnya meliputi pertumbuhan karang (Shinn 1975), struktur populasi atau ukuran koloni karang (Done 1988), tutupan dan struktur komunitas karang (Done et al. 1991; Smith et al. 2006), tutupan dan kekayaan spesies karang (Brown & Suharsono 1990). Pearson (1981) dalam kajiannya tentang pemulihan terumbu karang dari gangguan menginginkan adanya indeks pemulihan yang menggabungkan tutupan karang, indeks permukaan, rata-rata tinggi koloni, kekayaan spesies, dan indeks kesamaan. Sampai saat ini belum ada yang melakukan saran Pearson tersebut.

Cara pengukuran pemulihan terumbu karang yang paling baru, yang diusulkan sebagai pengganti tutupan karang, adalah SARCC (size-adjusted rate of change of cover) yang diperkenalkan oleh Mumby dan Harborne (2010). Penghitungan SARCC menggunakan ukuran koloni disamping tutupan karang yang kemudian dianalisis dengan pendekatan simulasi Monte Carlo. Walaupun kesimpulan yang diambil tetap sama, dibandingkan dengan tutupan karang pada terumbu karang di perairan Caribbean, perbedaan antara di dalam dan di luar kawasan konservasi lebih jelas dengan menggunakan SARCC daripada tutupan karang. Pengunaan SARCC jauh lebih rumit daripada transek garis biasa, karena data diambil dengan video transect dan dianalisis dengan statistik multifaktor. Karena itu aplikasinya diperkirakan terbatas pada peneliti terumbu karang, bukan pengelola terumbu karang biasa.

Jika persen tutupan karang hidup yang digunakan sebagai ukurannya, maka pemulihan terumbu karang dapat terjadi dalam skala kurang dari 10 tahun (Tomascik et al. 1996; Lovell & Sykes 2008). Tetapi jika pemulihan tersebut

diukur dari komposisi komunitas yang menyerupai kondisi sebelum gangguan, maka waktu pemulihan dapat lebih dari 25 tahun (Berumen & Pratchett 2006) atau bahkan ratusan tahun (Done 1995). Untuk mengganti koloni karang Porites

yang berukuran diameter satu meter, misalnya, membutuhkan waktu sekitar 100 tahun.

Di dalam penelitian ini, pemulihan terumbu karang akan dinilai berdasarkan indeks resiliensinya, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke indeks resiliensi sebelum gangguan. Dengan demikian, karang Porites yang mati dapat digantikan peran ekologisnya oleh karang dengan bentuk tumbuh yang sama (karang masif), misalnya Favia, Goniastrea, Goniopora dan sebagainya, yang fungsi ekologisnya sama tetapi pertumbuhannya lebih cepat.

Penelitian di dalam bab ini dimaksudkan untuk menilai pemulihan terumbu karang dengan menggunakan indeks resiliensi. Peningkatan indeks resiliensi terumbu karang terjadi jika ada peningkatan pada tutupan karang (COC), jumlah kelompok fungsional (CFG), jumlah koloni ukuran kecil (CSN), atau perimbangan tutupan karang Acroporidae dengan karang masif dan submasif (CHQ). Pemulihan indeks juga dapat terjadi jika ada penurunan tutupan algae dan fauna lain (AOF) atau pengurangan tutupan substrat yang tidak dapat ditempeli larva (USS). Walaupun cara ini berbeda dari yang disarankan Pearson (1981), pengukuran pemulihan dengan indeks resiliensi merupakan alternatif yang potensial digunakan oleh pengelola terumbu karang.

5.2 Metode Penelitian 5.2.1 Pengambilan data

Data terumbu karang berasal dari data pemantauan lingkungan yang tersedia di sebuah perusahaan tambang tembaga-emas di Kabupaten Sumbawa Barat. Pemantauan tersebut dilakukan pada 6 (enam) transek permanen, yang tersebar di Teluk Benete (3 transek), Maluk (1 transek), dan Tanjung Amat (2 transek) (Gambar 21). Data runut waktu selama 13 tahun merupakan data yang sulit ditemukan di Indonesia. Data terumbu karang tersebut diduga merupakan satu- satunya data runut waktu yang masih dapat diakses dengan kurun waktu lebih dari 10 tahun.

Gambar 21 Peta lokasi pengambilan data terumbu karang di Kabupaten Sumbawa Barat. BN= Benete, TA= Tanjung Amat, MA= Maluk.

Sebagai data sekunder yang tidak diambil sendiri oleh peneliti, data di dalam penelitian ini juga rentan terhadap tuntutan kualitas, sehingga informasi tentang data itu sendiri menjadi sangat penting. Data pemantauan terumbu karang tersebut diambil oleh peneliti (konsultan) yang berbeda-beda, sehingga memberi peluang terjadinya ketidak-konsistenan di dalam pencatatan (perekaman) kategori benthos. Sebagian besar data secara jelas membedakan antara kategori S (pasir), Si (lumpur) dan R (pecahan karang). Sebagian kecil lainnya, mencatat secara bersama-sama dua atau tiga kategori tersebut di dalam satu potongan transek sehingga masing-masing kategori tidak dapat dihitung secara tepat. Jika kategori S dicatat lebih awal, misalnya: S, R, dan Si, maka data akan dimasukkan ke dalam kategori S. Sebaliknya jika tercatat sebagai R, Si, dan S, maka data akan diolah sebagai kategori R.

Di dalam pemantauan tersebut, panjang transek permanen baku yang digunakan adalah 30 meter. Walaupun demikian, sebagian pengambilan data di transek permanen menggunakan panjang 20 meter atau 25 meter. Pengambilan data di bawah air memang tidak selalu dalam kondisi optimal. Dalam kondisi cuaca yang buruk yang mengakibatkan peneliti dalam kondisi yang kurang baik, maka pengambilan data dapat menjadi kurang cermat dan kurang akurat. Pada pemantauan September 2007, di Tanjung Amat 2, misalnya, pengambilan data dilakukan hanya dalam waktu 20 menit, sedangkan pengambilan data dari transek yang sama biasanya membutuhkan waktu 70-90 menit. Data yang dihasilkan dari pengambilan data 20 menit tersebut juga tidak konsisten dengan data sebelum dan sesudahnya. Data tersebut tidak digunakan di dalam analisis.

Data runut waktu ini sebenarnya merupakan data yang ideal untuk penelitian ini, karena dalam kurun waktu pengambilan data terjadi gangguan yang besar, yaitu pemutihan karang yang berdampak pada kematian masal karang. Pemutihan karang tersebut terjadi pada akhir tahun 1997 hingga pertengahan pertama tahun 1998, di Indonesia. Akan tetapi, data dua pengamatan penting ketika terjadi gangguan, yaitu September 1997 dan April 1998, tidak tersedia sehingga tidak dapat secara pasti ditentukan kapan gangguan memiliki dampak perubahan pada indeks. Kelemahan lainnya adalah jumlah replikasi yang kurang untuk kebutuhan penelitian ini.

Pemantauan pada transek permanen di Sumbawa Barat dilaksanakan dua kali setahun, setiap bulan Maret/April dan September/Oktober. Walaupun pe- ngambilan data di transek permanen lebih sering dilakukan daripada di lokasi COREMAP, kasus peneliti tidak dapat menemukan kembali transek permanen karena hilang tanda-tandanya juga terjadi. Jika konsultan peneliti terumbu karang ditemani oleh staff perusahaan, maka transek yang baru dapat dibuat di lokasi yang hampir sama dengan transek permanen sebelumnya.

Data primer terumbu karang diambil pada transek permanen yang sama di Sumbawa Barat, pada bulan April 2010. Data ini sebagai pelengkap dari data runut waktu yang telah tersedia sebelumnya. Hampir semua transek permanen tersebut dibuat pada kedalaman sekitar 5 (lima) meter. Transek permanen ditandai

dengan tonggak besi sepanjang satu meter, setiap 10 meter, dengan panjang transek 30 meter.

Data suhu air laut juga merupakan data sekunder yang diperoleh dari dokumen pemantauan kondisi lingkungan di Teluk Benete. Data suhu air laut tersebut diambil menggunakan temperature data logger Starmon Mini (Star-Oddi Ltd), dengan akurasi 0.05OC, dari Oktober 1999-Oktober 2007. Data logger diletakkan di Teluk Benete pada kedalaman 5 meter. Pencatatan suhu oleh data logger dilakukan dengan frekuensi setiap 10 menit.

5.2.2 Analisis data

Pemulihan terumbu karang dapat dilihat dari berbagai skala spasial, puluhan meter hingga ribuan kilometer. Semakin besar skala yang digunakan semakin besar ragam yang dijumpai. Kondisi terumbu karang umumnya memiliki ragam yang besar baik secara spasial maupun temporal. Interaksi antara kedua ragam tersebut menghasilkan ragam yang lebih besar, dengan bertambahnya skala yang digunakan. Somerfield et al. (2008) meneliti perubahan komunitas karang dari tahun 1996-2003 di Florida Keys. Dengan skala spasial ratusan kilometer dan skala temporal tujuh tahun, sulit menemukan pola umum pemulihan terumbu karang setelah kematian masal tahun 1998. Terumbu karang yang dikenal memiliki kondisi stabil ganda (multiple stable states), dapat mengalami pemulihan