DAFTAR LAMPIRAN
4 UJI COBA PENGGUNAAN INDEKS DALAM MENILAI PERUBAHAN TEMPORAL RESILIENSI TERUMBU KARANG
4.2 Metode Penelitian 1 Pengambilan data
4.3.1 Dinamika temporal indeks resiliens
Di kawasan Indonesia Timur, dinamika temporal indeks resiliensi terumbu karang tidak menunjukkan perubahan yang signifikan antar waktu (F = 1.103, P > 0.05). Pengaruh interaksi antara waktu dan lokasi terhadap indeks resiliensi juga tidak signifikan (F = 0.854, P > 0.05). Perbedaan yang signifikan hanya ditemukan pada rata-rata indeks resiliensi antar kabupaten (F = 23.726, P < 0.01) sebagaimana yang sudah diuji pada bab 3 sebelumnya.
Tidak adanya pengaruh waktu yang signifikan menunjukkan bahwa perubahan indeks antar waktu relatif kecil dibandingkan perbedaan indeks antar transek di dalam kabupaten pada waktu yang sama. Indeks resiliensi terumbu karang di Kabupaten Wakatobi dan Sikka mengalami sedikit peningkatan yang tidak berarti dalam kurun waktu empat tahun, dari tahun 2006 sampai 2009 (Gambar 12). Di Kabupaten Raja Ampat dan Biak, indeks resiliensi juga relatif sama selama tiga tahun dengan fluktuasi menurun yang sangat kecil. Walaupun perubahan antar waktu tidak signifikan, pola dan laju perubahan indeks pada masing-masing kabupaten masih dapat diketahui secara kuantitatif.
Laju perubahan indeks dapat digunakan sebagai dasar di dalam memprediksi laju pemulihan terumbu karang. Kenaikan indeks terbesar terjadi di Wakatobi dengan nilai 0.033 selama dua tahun, atau rata-rata 0.016 per tahun. Penurunan indeks resiliensi paling cepat terjadi di Raja Ampat dengan nilai 0.045 per tahun. Di dalam kurun waktu ini (2006-2009) tidak ada penjelasan tentang adanya gangguan yang besar, sehingga kenaikan maupun penurunan indeks dapat merupakan dampak dari tekanan atau sekedar variasi fluktuatif musiman atau tahunan.
Gambar 12 Dinamika temporal rata-rata (±1SE) indeks resiliensi terumbu karang di kawasan Indonesia Timur. Nomor dalam legenda menunjukkan besar sampel (jumlah transek).
Dari keempat kabupaten tersebut, semuanya memiliki indeks resiliensi awal (tahun 2006) dalam kategori resiliensi sedang. Dengan demikian kita tidak dapat melihat adanya pengaruh indeks resiliensi awal terhadap laju pemulihan terumbu karang, yang diukur berdasarkan perubahan indeks resiliensi terumbu karang. Pada tahun 2009, rata-rata indeks resiliensi di Wakatobi telah meningkat ke dalam kategori baik.
Perubahan proporsi kategori indeks di empat kabupaten kawasan Indonesia Timur tidak menunjukkan pola yang kontinyu, melainkan menunjukkan pola fluktuasi tahunan. Tidak ada kabupaten dengan terumbu karang yang mengalami peningkatan proporsi yang besar pada indeks kategori baik atau baik sekali (Gambar 13). Di Wakatobi, peningkatan proporsi terjadi pada indeks dengan ketegori baik dan baik sekali berurutan sebesar 2.98% dan 7.14% antara tahun 2007-2009. Dalam waktu yang sama di Biak terjadi peningkatan proporsi indeks kategori baik sebesar 13.16%.
Gambar 13 Perubahan proporsi status resiliensi terumbu karang selama empat tahun di kawasan Indonesia Timur. Tahun 2008 pemantauan dilakukan dengan metode lain (transek titik) sehingga datanya tidak digunakan.
Dilihat dari kondisi indeks resiliensi di awal pengamatan, terdapat perbedaan kecenderungan antara terumbu karang dengan indeks resiliensi yang termasuk kategori tinggi dan rendah. Terumbu karang dengan indeks resiliensi kategori baik dan baik sekali mengalami penurunan pada tahun pertama dan relatif tidak berubah pada dua tahun berikutnya (Gambar 14). Terumbu karang yang memiliki indeks resiliensi kategori kurang dan buruk menunjukkan kecenderungan pertambahan indeks secara kontinyu dalam tiga tahun pengamatan.
Di kawasan Indonesia Barat, rata-rata indeks juga relatif tidak berubah selama dua tahun pengamatan (F = 1.437, P > 0.05), sebagaimana yang ditemukan di kawasan Indonesia Timur. Interaksi antara waktu dengan lokasi juga tidak
signifikan pengaruhnya (F = 1.592, P > 0.05). Perbedaan pada rata-rata indeks resiliensi antar kabupaten terbukti signifikan (F = 115.274, P < 0.01), sebagaimana yang sudah diketahui dan dibahas pada bab 3.
Gambar 14 Perbedaan pola perubahan rata-rata (±1SE) indeks antar lima kategori resilieni terumbu karang di kawasan Indonesia Timur. Nomor dalam legenda menunjukkan jumlah transek.
Di kawasan barat, indeks resiliensi terumbu karang memiliki dua arah kecenderungan, meningkat atau stabil. Di Kabupaten Nias dan Mentawai, indeks resiliensi terumbu karang cenderung meningkat (Gambar 15). Di Kabupaten Nias peningkatan yang relatif besar terjadi antara tahun 2007 dan 2009. Dalam kurun waktu yang sama, di Kabupaten Mentawai, peningkatan indeks resiliensi juga berlangsung terus dengan laju yang lebih kecil. Kedua kabupaten tersebut memiliki indeks resiliensi yang rendah dan terletak di perairan Samudra Hindia (Indian Ocean). Dua kabupaten yang lain, Kabupaten Batam dan Bintan, indeks resiliensi terumbu karang bergerak fluktuatif dan relatif stabil. Kedua kabupaten ini memiliki indeks resiliensi yang tinggi, dan keduanya terletak di perairan Laut Natuna.
Gambar 15 Dinamika rata-rata (±1SE) indeks resiliensi terumbu karang di empat kabupaten di kawasan barat Indonesia. Angka di dalam legenda menunjukkan jumlah sampel.
Di kawasan Indonesia Barat laju peningkatan indeks resiliensi lebih besar daripada di Indonesia Timur, sedangkan laju penurunan indeks hampir sama. Peningkatan indeks yang paling cepat terjadi di terumbu karang Kabupaten Nias dengan laju 0.044 dan 0.066 per tahun (Gambar 15), antara tahun 2007-2008. Penurunan indeks paling besar terjadi di Kabupaten Bintan dengan laju 0.058 per tahun. Laju peningkatan indeks di Nias tersebut empat kali lebih cepat daripada di Indonesia Timur, sedangkan laju penurunannya tidak jauh berbeda. Di Mentawai, indeks meningkat 0.026 dan 0.015 per tahun dalam dua tahun pemantauan tersebut.
Dilihat dari proporsi kategori indeks, peningkatan proporsi terumbu karang dengan indeks resiliensi kategori baik dan baik sekali yang kontinyu terjadi di Kabupaten Nias (Gambar 16). Peningkatan dengan pola yang serupa, dengan laju yang lebih rendah, juga terjadi di Mentawai, khususnya pada indeks resiliensi kategori sedang dan baik. Pada dua kabupaten lainnya, Batam dan Bintan,
perubahan-perubahan proporsi kategori indeks yang terjadi lebih bersifat fluktuatif dan cenderung menurun secara perlahan.
Gambar 16 Perubahan proporsi status resiliensi terumbu karang di empat kabupaten selama empat tahun, di kawasan Indonesia Timur. Perubahan ke arah kualitas yang lebih baik terjadi di Nias dan Mentawai.
Kondisi awal indeks resiliensi juga berkaitan dengan perbedaan perubahan indeks di Indonesia Barat. Terumbu karang dengan indeks resiliensi baik sekali menunjukkan penurunan pada tahun pertama pengamatan, kemudian relatif tetap pada tahun berikutnya (Gambar 17). Terumbu karang dengan indeks resiliensi kategori sedang dan baik tidak banyak berubah dalam dua tahun pengamatan. Tetapi terumbu karang dengan indeks resiliensi kategori kurang dan buruk menunjukkan peningkatan nilai indeks yang jelas pada tahun pertama yang diikuti dengan kondisi tidak banyak berubah sesudahnya.
Gambar 17 Perbandingan pola perubahan rata-rata (±1SE) indeks antara terumbu karang yang memiliki indeks resiliensi awal berbeda, di kawasan Indonesia Barat.