• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indeks Resiliensi Terumbu Karang

DAFTAR LAMPIRAN

6 PEMBAHASAN UMUM

6.1 Indeks Resiliensi Terumbu Karang

Secara umum penelitian ini telah menghasilkan sebuah indeks yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat resiliensi terumbu karang. Indeks resiliensi tersebut merupakan cara baru untuk mengenali aspek penting lain dari kondisi terumbu karang, yang mengintegrasikan pentingnya tutupan karang, kualitas habitat, keanekaragaman kelompok fungsional, dan rekruitmen, serta ketersediaan substrat dan pesaing karang ke dalam sebuah angka tunggal. Indeks resiliensi terumbu karang ini merupakan kebaruan (novelty) di dalam ekologi terumbu karang.

Indeks resiliensi terumbu karang ini dibuktikan dapat digunakan untuk membandingkan tingkat resiliensi terumbu karang antar kabupaten dan antar wilayah (Indonesia Barat dan Timur). Dengan menggunakan indeks resiliensi ini kita dapat memetakan tingkat resiliensi terumbu karang secara nasional, dalam skala puluhan atau ribuan kilometer. Dengan adanya peta tersebut kita dapat melakukan prioritas pengelolaan secara nasional. Terumbu karang dengan tingkat resiliensi lebih tinggi sebaiknya lebih tinggi pula prioritasnya di dalam pengelolaan. Indeks ini juga dapat membantu untuk membedakan resiliensi terumbu karang di tingkat mikro, yaitu perbandingan antar stasiun (lokasi), dan makro, yaitu antar kabupaten atau proponsi dalam skala ratusan atau ribuan kilometer.

Secara temporal, indeks ini berpotensi untuk digunakan memprediksi laju pemulihan terumbu karang. Regresi antara indeks resiliensi awal dengan laju pertambahan indeks terbukti signifikan. Berdasarkan model persamaan regresi dapat diprediksi berapa besar laju pemulihan indeks atau laju pertambahan indeks per tahun. Laju pertambahan indeks pada masa pemulihan lebih besar daripada masa fluktuatif setelah pemulihan. Persamaan regresi tersebut, sayangnya, masih dihitung berdasarkan data yang kecil, empat transek di satu kabupaten. Generalisasi dari model pemulihan tersebut ke lain kabupaten masih perlu dibuktikan di dalam penelitian berikutnya. Secara alami, terumbu karang memiliki

variasi spasial yang tinggi. Tingginya ragam (variance) data di alam menuntut jumlah cuplikan atau sampel yang lebih besar. Sedangkan ketersediaan data pemantauan runut waktu (time series) lebih dari 10 tahun sangat sedikit. Penambahan data runut waktu akan dapat mengurangi pengaruh data yang mempunyai simpangan besar, sehingga kita dapat menggunakan indeks resiliensi untuk memprediksi laju pemulihan terumbu karang dengan presisi yang lebih baik.

Penggunaan indeks untuk menilai resiliensi terumbu karang juga sangat praktis, membutuhkan biaya yang standar dan keahlian yang sedang, sehingga dapat dilakukan oleh pengelola terumbu karang di Indonesia. Pengukuran indeks resiliensi dilakukan dengan metode transek garis atau LIT (line intercept transect), sebuah metode yang paling populer dilatihkan dan digunakan di Indonesia, dan negara-negara ASEAN lainnya (Erdinger & Risk 2000). Penghitungan indeks juga tidak membutuhkan statistik multifaktor (multivariate) sebagaimana indeks yang dikembangkan Obura dan Grimsditch (2009). Penghitungan indeks dapat dilakukan dengan perangkat lunak yang sangat umum, misalnya MS Excell atau Lotus. Diperkirakan terdapat lebih dari 1000 orang di Indonesia yang telah mendapat pelatihan metode penilaian terumbu karang (MPTK) dengan metode transek garis sebagaimana yang dibakukan di dalam English et al. (1994). Sebagian besar kabupaten di Indonesia diperkirakan dapat melakukan penilaian indeks resiliensi pada terumbu karang di kawasan masing- masing.

Rumus penilaian indeks resiliensi dapat dengan mudah disesuaikan dengan panjang transek yang berbeda. Di dalam penelitian ini, indeks dihitung berdasarkan panjang transek garis 10 meter. Penggunaan panjang transek yang lain dapat digunakan dengan modifikasi pada nilai maksimum peubah indikator CSN (coral small-size number), karena hanya CSN yang nilai maksimumnya ditentukan oleh data lapang. Lima peubah lainnya nilai maksimumnya secara teoritis sudah tidak dapat bertambah lagi. CSN merupakan peubah yang aditif (additive) sehingga semakin panjang transek semakin banyak pula nilai CSN. Jika panjang transek garis yang digunakan dua kali lipat, atau 20 meter, maka nilai CSN maksimum yang dimasukkan ke dalam rumus adalah 2 x 25 koloni menjadi

50 koloni. Cara penyesuaian yang sama juga berlaku pada transek dengan panjang yang lain, misalnya transek 30 dan 50 meter mempunyai nilai maksimum CSN berurutan 75 dan 125 koloni.

Indeks resiliensi yang dikembangkan di dalam penelitian ini nilainya akan menurun dengan adanya tekanan lingkungan atau gangguan. Pembandingan resiliensi terumbu karang secara spasial dengan gradient tekanan lingkungan dan gangguan yang berbeda juga dapat dilakukan secara langsung dengan indeks ini. Terumbu karang yang lebih dekat dengan sungai besar atau pemukiman penduduk akan berpeluang mempunyai indeks resiliensi yang lebih rendah. Rendahnya tutupan karang Acroporidae di perairan dekat daratan (Done 1982) akan memperkecil nilai CHQ dan menurunkan nilai indeks resiliensi. Terumbu karang yang jauh dari pemukiman juga cenderung memiliki indeks resiliensi yang rendah, terutama jika terumbu karang terdapat di lingkungan yang ideal sehingga mempunyai kelimpahan ikan terumbu yang tinggi. Hal ini disebabkan banyaknya gangguan langsung yang akut atau kronis, yaitu penangkapan ikan dengan bahan peledak.

Dibandingkan dengan metode penilaian resiliensi yang baru dikembangkan oleh IUCN (Obura & Grimsditch 2009), indeks resiliensi ini jauh lebih praktis. Di dalam buku panduan IUCN tersebut terdapat 6 (enam) protokol untuk menilai dan mengukur 61 peubah, yang menjadi indikator resiliensi terumbu karang. Sebagian data diambil secara semi-kuantitatif dengan skala Likart 1-5, sebagian yang lain secara kuantitatif. Pengambilan data menggunakan bermacam-macam metode, yaitu foto kuadrat atau transek garis, transek sabuk, kuadrat, long swim, dan penilaian individu (personal judgment). Analisis dari data multifaktor tersebut tidak dirinci secara jelas karena diserahkan kepada lembaga yang berpartisipasi di dalam proyek penilaian resiliensi. Dengan pengambilan data yang sangat besar dan sangat kompleks dibutuhkan biaya yang besar dan keahlian yang tinggi.

Tidak adanya protokol analisis data di dalam panduan IUCN membuat setiap peneliti dapat melakukan analisis yang berbeda dan menghasilkan angka yang berbeda pula. Dengan demikian, perbandingan resiliensi terumbu karang antar wilayah yang diinginkan oleh panduan tersebut hanya dapat dilakukan oleh lembaga yang sama, yang dapat menyeragamkan cara analisis data. Sebaliknya,

indeks resiliensi di dalam penelitian ini menghasilkan sebuah angka yang dengan mudah dapat digunakan untuk membandingkan resiliensi terumbu karang secara spasial (antar lokasi, kabupaten, wilayah, negara) dan temporal. Dengan tersedianya sebuah angka final sebagai angka indeks, peneliti dapat menghitung dugaan rata-rata indeks dan mengetahui galat bakunya.

Kompleksitas terumbu karang dan juga kompleksitas konsep resiliensi sendiri memang membutuhkan peubah indikator yang memadai. Walaupun demikian, tidak semua peubah indikator yang secara teoritis penting menunjukkan perbedaan atau variasi antar lokasi. Tidak semua peubah penting mempunyai sumbangan yang signifikan terhadap ragam total. Penggunaan peubah indikator perlu diseleksi dengan membuang peubah yang tidak penting, berdasarkan temuan data di lapang. Jika ada lebih dari satu peubah yang sama pentingnya dan mewakili komponen resiliensi yang sama, maka dapat dipilih yang lebih mudah dan murah pengukurannya. Seleksi peubah indikator tersebut tampaknya belum dilakukan di dalam panduan Obura dan Grimsdith (2009). Buku panduan tersebut baik untuk dilakukan oleh seorang kandidat doktor dengan dukungan dana sponsor lembaga internasional. Walaupun panduan IUCN jauh lebih lengkap dari indeks resiliensi di dalam penelitian ini, penggunaan panduan tersebut diperkirakan akan menemui banyak kesulitan finansial dan keahlian personil di Indonesia .

Metode yang dikembangkan oleh Maynard et al. (2010) dapat menjadi pelengkap dari indeks resiliensi di dalam penelitian ini. Maynard dan koleganya menyusun panduan penilaian resiliensi terumbu karang berdasarkan pendapat, pengamatan, dan penilaian dari para pemangku kepentingan (stakeholders). Hasil dari penilaian tersebut kemudian dijumlahkan menjadi sebuah angka sebagai ukuran resiliensi dari terumbu karang. Peubah yang digunakan sebagai indikator mencakup aspek ekologi, manajemen, dan oseanografi. Metode Maynard tidak mengikutsertakan peubah CFG, CHQ, CSN, dan USS. Indeks resiliensi ekologis yang dikembangkan di dalam penelitian ini dapat menunjang metode penilaian Maynard et al. yang kurang rinci dalam menilai peubah internal dari terumbu karang.