• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dinamika Psikologis Antara Persepsi Keharmonisan Keluarga

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

C. Dinamika Psikologis Antara Persepsi Keharmonisan Keluarga

Perilaku prososial merupakan bagian dalam kehidupan manusia sehari-hari perilaku prososial dapat dilakukan oleh siapa saja baik anak kecil, remaja, maupun orang dewasa. Bahkan dari penelitian-penelitian terdahulu dapat diketahui bahwa perilaku prososial pun dilakukan tidak hanya oleh manusia bahkan juga oleh hewan.

Misalnya kasus yang diungkapkan oleh Siebenaler dan Caldwell (Sears dkk , 1991), seekor lumba-lumba pingsan karena adanya ledakan di air. Dua ekor lumba-lumba dewasa datang untuk menolong dengan mendukung temannya itu agar terapung sampai sadar dan mampu menolong dirinya sendiri. Jika lumba-lumba saja dapat memiliki belas kasih dengan sesamanya, tentu manusia yang dilahirkan dengan memiliki akal, pikiran, dan naluri seharusnya bisa lebih saling mengasihi satu sama lain.

Manusia sejak lahir sudah ditetapkan sebagai makhluk yang tidak dapat hidup sendiri tanpa kehadiran orang lain. Ini dibuktikan dengan manusia saat lahir membutuhkan seorang dokter untuk membantunya lahir ke dunia dan saat itu pun seorang anak membutuhkan perawatan orangtuanya agar dapat tumbuh berkembang dengan baik. Hal ini terus berlanjut hingga seorang anak tumbuh lebih besar dan anak tersebut harus berinteraksi dengan orang yang berada di luar lingkungan keluarganya, seperti teman, guru, atau bahkan orang yang tidak dikenalnya. Salah satu bentuk interaksi manusia dengan orang lain adalah perilaku prososial. Perilaku prososial sendiri menurut Shaffer (1994) dapat diwujudkan dengan berbagi, menghibur, bekerja sama, menolong, dan memberikan perasaan

nyaman pada orang lain. Perilaku prososial memang memberikan keuntungan dan manfaat bagi orang lain, namun tidak untuk yang memberikannya. Hal ini diungkapkan oleh Rushton (Baron & Byrne, 1994) mengatakan perilaku prososial berkisar dari tindakan altruisme yang tidak mementingkan diri sendiri atau tanpa pamrih sampai tindakan menolong yang sepenuhnya dimotivasi oleh kepentingan diri sendiri.

Masa remaja sendiri merupakan salah satu bagian dari siklus kehidupan manusia yang sangat penting karena berbagai tugas perkembangan telah menanti untuk diselesaikan agar remaja dapat menjalani hidupnya dengan normal di masa mendatang. Namun kondisi emosional remaja yang belum stabil sering membuatnya tak mampu menyelesaikan semua tugas perkembangan tersebut dengan baik.

Ironisnya, kondisi ini seringkali diperparah dengan kurangnya lingkungan keluarga yang kondusif, yang dapat membantu dan membimbing remaja melewati ini semua.

Anak pada usia remaja juga lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah, terutama bersama teman seusianya. Apabila remaja tersebut tidak dapat berinteraksi secara baik, maka remaja tersebut akan menjadi remaja yang tertutup dan tidak memiliki teman. Remaja juga cenderung egois dan tidak peduli pada orang lain yang ada di sekitarnya.

Peran keluarga sangat besar dalam membimbing dan menuntun remaja pada saat-saat tersebut. Keluarga khususnya orangtua sudah seharusnya memberikan pendidikan pada anak akan pentingnya berperilaku prososial.

Keluargalah yang pertama kali mengenalkan anak pada dunia luar.

Pada keluarga yang harmonis menurut Brooks (2004), anak akan belajar untuk peduli dan sensitif dengan orang lain. Pada keluarga yang harmonis anak dapat melihat bahwa manusia harus saling mengasihi, berbagi, dan saling tolong-menolong. Hal ini dapat diwujudkan dengan orangtua yang menyayangi anaknya, kakak dan adik yang saling berbagi makanan, dan kakak yang menolongi adiknya yang sedang kesusahan. Pada keluarga remaja dapat belajar menumbuhkan perilaku prososial yang nantinya dapat remaja terapkan dalam kehidupan sosialnya di luar rumah.

Shaffer (1994) menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi berkembangnya perilaku prososial pada remaja sebenarnya sangat banyak, diantaranya adalah kultur dan lingkungan sosial. Kultur yang dimaksud adalah kultur yang berkembang dalam keluarganya, apakah orangtua maupun anggota keluarga lainnya membiasakan diri untuk dapat saling mengasihi, berbagi, tolong-menolong, menghibur, memberikan perasaan nyaman, dan bekerja sama dengan sesama anggota keluarga lainnya. Lingkungan sosial khususnya keluarga juga dapat mempengaruhi berkembangnya perilaku prososial remaja, karena pada lingkungan keluarga remaja dapat belajar berperilaku prososial melalui modelling dan reinforcement (penguatan) yang diberikan oleh anggota keluarga khususnya orangtua. Remaja dapat mencontoh perilaku prososial yang dilakukan orangtuanya, misalnya adanya sikap saling mengasihi antara ayah dan ibunya, ibu dengan kakaknya, atau ibu dengan neneknya. Selain itu remaja juga dapat belajar bahwa sesama manusia harus saling tolong-menolong saat ia masih kecil dulu, yaitu dengan mencontoh saat ibunya memberikan sumbangan kepada pengemis yang

datang kerumahnya. Pemberian penguatan (reinforcement) juga dapat membuat seorang anak belajar berperilaku prososial, misalnya dengan memberikan imbalan berupa pujian saat anak memberikan sumbangan kepada pengemis yang datang ke rumahnya atau memberikan teguran dan nasehat saat anak tidak membantu temannya yang jatuh dari sepeda.

Penelitian yang dilakukan Hastings, dkk (2005) menunjukkan adanya peran orangtua dalam mengembangkan perilaku prososial anaknya. Pada penelitian ini Hastings, dkk meneliti perkembangan perilaku prososial anak berdasarkan dari jenis kelamin, larangan (inhibition), dan sosialisasi dari orangtua. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa perlakuan orangtua (protektif dan otoriter), khususnya dari ibu dapat mempengaruhi perkembangan perilaku prososial anak dikemudian hari.

Penelitian lain yang juga mengungkapkan adanya pengaruh kondisi keluarga, khususnya orangtua dengan perkembangan perilaku prososial adalah penelitian Duncan, dkk (2002) pada remaja berusia 10-14 tahun di Baratlaut Pasifik, disana terungkap bahwa remaja yang hidup di lingkungan keluarga yang memiliki sepasang orangtua memiliki keterlibatan yang lebih rendah pada perilaku menyimpang dan penggunaan obat-obatan terlarang. Remaja yang berasal dari keluarga yang memiliki orangtua lengkap juga lebih kuat minatnya pada kegiatan olah raga dan memiliki perilaku prososial yang lebih baik.

Keterlibatan keluarga dalam mempengaruhi perilaku prososial juga terlihat dalam penelitian yang dilakukan Kerr, dkk (2003) yang menggunakan subjek remaja Latin berusia 14-19 tahun. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa keterlibatan

keluarga dapat mempengaruhi perilaku prososial remaja. Rendahnya keterlibatan keluarga maka akan menguatkan keterlibatan remaja pada pesta minuman keras, penggunaan ganja, pesta-pesta, dan tindakan kekerasan pada orang lain. Kuatnya monitoring orangtua dan kultur sosial yang dianut remaja akan mempengaruhi kuatnya minat remaja untuk menjadi tenaga sukarelawan pada kegiatan sosial dan perilaku prososial lainnya

Berdasarkan beberapa penelitian di atas dapat dilihat bahwa peran keluarga khususnya orangtua sangat besar dalam mengembangkan perilaku prososial remaja. Perilaku prososial remaja tidak dapat berkembang baik, jika remaja tumbuh dalam lingkungan keluarga yang tidak harmonis. Pada keluarga yang tidak harmonis biasanya komunikasi antaranggota keluarga menjadi tidak lancar, hubungan anak dan orangtua menjadi tidak baik, suasana keluarga menjadi tegang dan tidak ada kehangatan antaranggota keluarga. Anak tidak bisa belajar untuk dapat saling mengasihi, berbagi, atau perilaku prososial lainnya. Bahkan terkadang yang ada justru anak belajar untuk saling menyakiti, hanya peduli pada diri sendiri, atau bersikap agresif dalam setiap usaha memenuhi keinginannya.

Dokumen terkait