• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN

A. Orientasi Kancah dan Persiapan

2. Persiapan

a. Persiapan Administrasi

Sebagai langkah awal penelitian, penulis membuat surat ijin melakukan penelitian di SMU UII yang akan dijadikan penulis sebagai tempat melakukan try out. Pemilihan SMU UII sebagai tempat melakukan try out

adalah untuk efisiensi waktu. Setelah try out penulis membuat surat ijin melakukan penelitian di SMAN 2 Kota Bekasi yang akan dijadikan tempat pengambilan data. Surat ijin tersebut dikeluarkan oleh Fakultas Psikologi dan Ilmu sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia dengan penjelasan sebagai berikut :

1. Surat permohonan ijin try out skripsi dengan nomor : 336/Dek/70/Akd/IV/2007, tanggal 26 april 2007.

2. Surat permohonan ijin skripsi dengan nomor : 441/Dek/70/Akd/V/2007, tanggal 30 Mei 2007.

Namun sebelumnya penulis juga telah berbicara secara langsung dengan Wakil Kepala Sekolah SMAN 2 Kota Bekasi dapat atau tidaknya penulis mengadakan penelitian di sekolah tersebut. Hal ini dilakukan untuk mempermudah dalam proses perijinan. Setelah ada surat ijin penulis kembali bertemu dengan Wakil Kepala Sekolah SMAN 2 Kota Bekasi untuk menentukan waktu pelaksanaan penelitian.

b. Persiapan Alat ukur

Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari dua buah skala, yaitu :

1) Skala Intensi Prososial

Skala ini disusun sendiri oleh penulis berdasarkan aspek intensi prososial yang dikemukakan oleh Shaffer (1994) ), yaitu : Berbagi dengan orang lain yang mengalami nasib lebih buruk darinya, menghibur dan menolong orang yang tertekan karena memiliki masalah, menolong dan

bekerja sama dengan orang lain hingga mencapai sasaran yang memang ingin dicapainya, memberikan perasaan nyaman pada orang lain atas penampilan atau prestasinya. Skala ini disuat bertujuan untuk mengukur tinggi rendahnya intensi prososial remaja. Sebelum diujicobakan maka perlu dibuat blue print untuk mengetahui sejauhmana alat tersebut mencakup keseluruhan kawasan yang akan diukur. Terdapat 50 aitem pada skala intensi prososial tersusun dengan metode likert siap diujicobakan.

2) Skala Persepsi keharmonisan Keluarga

Skala ini disusun sendiri oleh penulis berdasarkan aspek persepsi keharmonisan keluarga yang diungkapkan oleh Stinnet dan De Frain (Hawari, 1999), yaitu : Kehidupan beragama dalam keluarga, mempunyai waktu untuk bersama, mempunyai pola komunikasi yang baik bagi sesama anggota keluarga, saling menghargai satu dengan yang lainnya, masing-masing anggota keluarga merasa terikat dalam ikatan keluarga sebagai kelompok, bila terjadi suatu permasalahan dalam keluarga mampu menyelesaikan secara positif dan konstruktif. Skala ini dibuat bertujuan untuk mengukur tinggi rendahnya persepsi keharmonisan keluarga yang dimiliki remaja. Sebelum diujicobakan maka perlu dibuat blue print untuk mengetahui sejauhmana alat tersebut mencakup keseluruhan kawasan yang akan diukur. Terdapat 50 aitem pada skala persepsi keharmonisan keluarga tersusun dengan metode likert siap diujicobakan.

c. Uji Coba Alat Ukur

Uji coba alat ukur ini bertujuan untuk menguji validitas dan reliabilitas alat ukur. Alat ukur yang telah diujicobakan tersebut dianalisis validitas dan reliabilitas aitem-aitemnya, selanjutnya hasil uji coba alat ukur ini akan digunakan untuk pengambilan data penelitian. Uji coba dilakukan dengan membagikan 80 eksemplar skala intensi prososial dan skala persepsi keharmonisan keluarga pada siswa-siswi SMU UII. Dari hasil uji coba ini, hanya 74 eksemplar yang layak untuk dianalisis reliabilitas aitemnya, sedangkan 6 eksemplar lainnya tidak layak untuk dianalisis karena umur siswa-siswi tersebut tidak sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Uji coba ini dilakukan pada tanggal 4, 5April dan 15 Mei 2007.

d. Hasil Uji Coba Alat Ukur 1) Uji validitas aitem

Uji validitas alat ukur dilakukan terhadap kedua skala. Yang pertama yaitu skala intensi prososial. Pada skala intensi prososial penulis memakai batas kritis > 0,25. hal ini dikarenakan jika memakai batas kritis

> 0,30 maka aitem yang diperoleh tidak memadai untuk digunakan dalam proses pengambilam data. Dari uji coba diperoleh hasil koefisien validitas aitem bergerak antara 0,259 sampai dengan 0,715 didapatkan 35 aitem yang sahih. Adapun aitem yang gugur adalah nomer 1, 4, 10, 11, 12, 13, 14, 21, 23, 24, 26, 27, 30, 31, dan 44. Berikut ini distribusi penyebaran aitem skala intensi prososial setelah uji coba dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5

Distribusi Penyebaran Aitem Skala Intensi Prososial Setelah Uji Coba Aspek Butir favorable Butir unfavorable Jumlah Berbagi dengan

Catatan : angka dalam kurung ( ) adalah nomor urut butir baru setelah uji coba.

Skala yang kedua, yaitu skala persepsi keharmonisan keluarga, dari 50 aitem dengan menggunakan batas kritis > 0,25 bergerak dari 0,266 sampai dengan 0,627 didapatkan 39 aitem yang sahih. Adapun aitem yang gugur adalah nomer 6, 12, 14, 18, 22, 28, 38, 43, 47, 48, dan 50.

Berikut ini distribusi penyebaran aitem skala persepsi keharmonisan keluarga setelah uji coba dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6

Distribusi Penyebaran Aitem skala Persepsi Keharmonisan Keluarga Setelah Uji coba

Aspek Butir favorable Butir

unfavorable

Catatan : angka dalam kurung ( ) adalah nomor urut butir baru setelah uji coba

2) Uji reliabilitas alat ukur

Uji reliabilitas terhadap kedua alat ukur ini hanya dikenakan pada aitem-aitem yang telah memenuhi syarat validitas, setelah butir-butir yang tidak sahih dihilangkan. Uji reliabilitas kedua skala ini menggunakan teknik korelasi alpha product moment yang menggunakan fasilitas komputer SPSS 12.0 for windows. Hasil menunjukkan bahwa dari 35 aitem skala intensi prososial yang sahih

dihasilkan koefisien alpha sebesar 0,914, sedangkan dari 39 aitem skala persepsi keharmonisan keluarga yang sahih dihasilkan koefisien alpha sebesar 0,898. Dapat dikatakan bahwa kedua skala tersebut memenuhi syarat sebagai alat ukur yang baik untuk digunakan dalam penelitian.

B. Laporan Pelaksanaan penelitian

Pengambilan data dilakukan pada hari Kamis, 19 Juli 2007 sesuai dengan waktu yang diberikan pihak SMAN 2 Kota Bekasi. Penelitian dilakukan terhadap beberapa siswa-siswi yang sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar. Penulis mengambil dua kelas siswa kelas XI dengan jumlah masing-masing kelas 45 orang sehingga total jumlah subjek adalah 90 orang. Penentuan jumlah subjek penelitian ditentukan penulis dengan bimbingan dari dosen pembimbing dan dianggap dapat merepresentasikan populasi sehingga siswa yang menjadi subjek penelitian ini pun dianggap telah cukup mewakili responden remaja.

Prosedur pelaksanaan pengambilan data penelitian ini diawali dengan pengantar yang diberikan oleh guru mata pelajaran untuk menjelaskan kepada para siswa tentang keberadaan penulis yang akan melakukan pengambilan data penelitian di kelas tersebut. Selanjutnya, giliran penulis yang memperkenalkan diri kepada siswa dan menjelaskan secara singkat mengenai maksud dan tujuan pengambilan data ini.

Setelah kuesioner dibagikan, proses pengisian kuesioner diawali dengan lembar identitas dan konfirmasi (confirm list) yang dilakukan secara bersama-sama

dibawah panduan penulis. Kemudian penulis menjelaskan intruksi pengerjaan kuesioner bagian 1 dan 2 sekaligus. Setelah dirasa responden cukup memahami apa yang harus dilakukannya, maka pengerjaan pengisian kuesioner pun segera dilakukan. Waktu yang dibutuhkan untuk proses pengambilan data di masing-masing kelas rata-rata 30 menit.

Pada akhir proses pengambilan data penelitian ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada guru mata pelajaran dan semua responden, serta tak lupa mendoakan agar kiranya bantuan dan kerjasama yang telah diberikan kepada penulis menjadi catatan amal kebaikan di hadapan Allah SWT.

Kuesioner yang dibagikan berjumlah 90 buah dengan masing-masing kelas berjumlah 45 buah. Dari 90 buah kuesioner yang dibagikan, semuanya layak untuk dianalisa.

C. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Subjek Penelitian

Berdasarkan data-data yang didapat dari alat pengumpul data (kuesioner), maka diperoleh gambaran umum mengenai kondisi subjek seperti yang diperlihatkan oleh Tabel 7.

Perbandingan antara subjek laki-laki dan subjek perempuan menunjukkan jumlah yang tidak seimbang, dimana lebih dari 60% subjek yang menjadi responden berjenis kelamin perempuan. Namun hal tersebut menurut penulis tidaklah menjadi persoalan besar, sebab meskipun jumlahnya tidak banyak, adanya subjek laki-laki diantara responden dirasa sudah cukup merepresentasikan karakteristik populasi.

Tabel 7

Deskripsi Subjek Penelitian

No Faktor kategori Jumlah Prosentase

1 Umur a. 15 tahun

Dari hasil perhitungan yang dilakukan berdasarkan data-data yang diperoleh dari alat pengumpul data (kuesioner), diperoleh fungsi-fungsi statistik dasar yang berupa data peneltian mengenai skor hipotetik dan skor empirik yang meliputi skor maksimal, skor minimal, rerata dan standar deviasi pada masing-masing skala.

Untuk variabel intensi prososial, skor hipotetik minimumnya adalah 35 dengan skor hipotetik maksimum 140, rerata hipotetik variabel ini adalah 87,5 dengan deviasi standar 17,5. Sementara untuk variabel persepsi persepsi keharmonisan keluarga skor hipotetik minimumnya adalah 39 dengan skor hipotetik maksimum 156, rerata hipotetik variabel ini adalah 97,5 dengan deviasi standar 19,5.

Tabel 8

Deskripsi Data Penelitian

Variable Hipotetik Empirik

Dari deskripsi data intensi prososial tersebut diperoleh hasil rerata empirik lebih besar daripada rerata hipotetik. Hal ini menunjukkan bahwa subjek cenderung memiliki intensi prososial yang tinggi. Sedangkan, pada deskripsi data persepsi keharmonisan keluarga diperoleh hasil rerata empirik juga lebih besar daripada rerata hipotetik. Hal ini juga menunjukkan persepsi keharmonisan keluarga yang dimiliki subjek cenderung tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disusun suatu kategorisasi subjek penelitian. Kategorisasi ini dapat dilakukan sebab sebaran hasil penelitian pada kedua variabel memenuhi kriteria normal.

Kategorisasi subjek berdasarkan skor intensi prososial terbagi dalam lima kategori, yaitu :

a) Sangat tinggi : (M + 1,8 SD > X)

b) Tinggi : (M + 0,6 SD ≤ X ≤ M + 1,8 SD) c) Sedang : (M - 0,6 SD ≤ X < M + 0,6 SD) d) Rendah : (M- 1,8 SD ≤ X < M - 0,6 SD) e) Sangat rendah : ( X < M - 1,8 SD)

Kategorisasi sedang berarti tingkat intensi prososial subjek berada pada level yang tidak bertendesi ke arah tinggi ataupun rendah.

Tabel 9

Kategorisasi Subjek Skor Intensi Prososial

Kategori Skor Jumlah Prosentase

Sangat tinggi X > 119 14 15,6%

Tinggi 98 ≤ X ≤ 119 67 74,4%

Sedang 77 ≤ x < 98 8 8,9%

Rendah 56 ≤ X < 77 1 1,1%

Sangat rendah X < 56 0 0%

Berdasarkan hasil penelitian tampak bahwa sebagian besar subjek memiliki tingkat intensi prososial pada kategori tinggi sebanyak 67 orang (74,4%). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar subjek mempunyai kecenderungan tingkat intensi prososial yang tinggi.

Kategorisasi subjek berdasarkan skor persepsi keharmonisan keluarga juga dapat terbagi dalam lima kategori, yaitu :

a) Sangat tinggi : (M+1,8 SD > X)

b) Tinggi : (M+0,6 SD ≤ X ≤ M+1,8 SD) c) Sedang : (M-0,6 SD ≤ X < M+0,6 SD) d) Rendah : (M-1,8 SD ≤ X < M-0,6 SD) e) Sangat rendah : (X< M-1,8 SD)

Subjek yang mempunyai skor pada kategori sedang adalah subjek yang mempunyai kecenderungan persepsi keharmonisan keluarga yang tidak bertendesi ke arah tinggi ataupun rendah.

Tabel 10

Kategorisasi Subjek skor Persepsi Keharmonisan Keluarga

Kategori Skor Jumlah Prosentase

Sangat Tinggi X > 132,6 11 12.2%

Tinggi 109,2 ≤ X ≤ 132,6 53 58,9%

Sedang 85,8 ≤ X < 109,2 25 27,8%

Rendah 62,4 ≤ X < 85,8 1 1,1%

Sangat rendah X< 62,4 0 0%

Berdasarkan hasil penelitian tampak bahwa sebagian besar subjek memiliki tingkat persepsi keharmonisan keluarga pada kategori tinggi sebanyak 53 orang (58,9%). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar subjek mempunyai kecenderungan tingkat persepsi keharmonisan keluarga yang tinggi.

3. Uji Asumsi

Untuk melihat apakah data yang terkumpul telah memenuhi syarat asumsi analisis yang akan digunakan, maka terlebih dahulu dilakukan uji asumsi. Dengan melakukan uji normalitas dan linearitas yang merupakan syarat sebelum dilakukan pengetesan nilai korelasi agar kesimpulan yang ditarik tidak menyimpang dari kebenaran yang seharusnya. Syarat yang perlu dilakukan dalam penggunaan teknik korelasi adalah hubungan antara variabel X dan variabel Y adalah linear, dan distribusi variabel X dan variabel Y mendekati distribusi normal.

a. Uji Normalitas

Uji asumsi normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran skor subjek bervariasi secara normal. Sebaran yang normal merupakan gambaran bahwa data yang diperoleh telah mewakili keseluruhan data.

Hasil uji normalitas terhadap kedua skala menunjukkan sebaran yang normal dengan koefisien KS-Z 1,005 dengan p = 0,264 (> 0,05) untuk skala intensi prososial. Sedangkan skala persepsi keharmonisan keluarga mempunyai koefisien KS-Z 0,680 dengan p = 0,745 (> 0,05). Hasil uji normalitas ini menunjukkan bahwa kedua skala tersebut memiliki sebaran normal.

b. Uji Linearitas

Uji asumsi linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah kedua variabel penelitian memiliki hubungan yang linear. Hal ini diperlukan untuk dapat menentukan taraf hubungan antara keduanya secara tepat.

Hasil uji asumsi linearitas menunjukkan bahwa koefisien F sebesar 31,276 dengan p = 0,000 (< 0,05). Hal ini berarti hubungan antara variabel intensi prososial dan persepsi keharmonisan keluarga memenuhi asumsi linearitas.

4. Uji Hipotesa

Data penelitian yang telah memenuhi asumsi linearitas dan normalitas kemudian dianalisa dengan teknik korelasi Product Moment Pearson. Hasil analisa menunjukkan koefisien korelasi r sebesar 0,512 dengan p = 0,000 (<0,01) pada uji satu ekor. Hal ini menunjukkan bahwa ada korelasi positif yang sangat signifikan antara persepsi keharmonisan keluarga dan intensi prososial. Dengan demikian, hipotesa yang mengungkapkan ada hubungan positif antara persepsi keharmonisan keluarga dan intensi prososial remaja diterima.

5. Analisis Tambahan

Analisa tambahan yang dilakukan penulis berdasarkan data-data statistik yang ada menunjukkan koefisien Rsquared sebesar 0,262. Hasil ini berarti bahwa persepsi keharmonisan keluarga mempunyai sumbangan efektif sebesar 26,2%

terhadap variabel intensi prososial, sedangkan sisanya sebesar 73,8% merupakan pengaruh dari faktor-faktor lain.

D. Pembahasan

Tujuan penelitian yang ingin mengetahui apakah ada hubungan positif antara persepsi keharmonisan keluarga dengan intensi prososial remaja berhasil diungkap melalui analisa statistik dari data-data yang diperoleh. Perhitungan statistik yang telah dilakukan memperoleh hasil koefisien korelasi r sebesar 0,512 dengan p =

0,000 (<0,01) pada uji satu ekor. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara persepsi keharmonisan keluarga dengan intensi prososial remaja. Hal ini berarti bahwa persepsi keharmonisan keluarga sebagai variabel bebas dapat menjadi salah satu indikator tingkat intensi prososial remaja.

Dari deskripsi data penelitian ini diperoleh hasil intensi prososial tersebut memiliki rerata empirik 110,1444 dan rerata hipotetik 87,5 maka diketahui bahwa rerata empirik intensi prososial lebih besar daripada rerata hipotetiknya. Hal ini menunjukkan bahwa subjek cenderung memiliki intensi prososial yang tinggi.

Pada deskripsi data persepsi keharmonisan keluarga diperoleh hasil rerata empirik 118,1000 dan rerata hipotetik 97,5 maka rerata empirik juga lebih besar daripada rerata hipotetik. Hal ini juga menunjukkan persepsi keharmonisan keluarga yang dimiliki subjek cenderung tinggi.

Subjek pada penelitian ini sendiri sebagian besar masuk pada kategori yang memiliki intensi prososial tinggi, yaitu 67 orang (74,4%) dan persepsi keharmonisan keluarga yang juga tinggi, yaitu 53 orang ( 58,9%). Hal ini menunjukkan bahwa anak yang tumbuh pada lingkungan keluarga yang harmonis akan menjadi remaja yang memiliki intensi prososial yang baik. Keadaan ini sejalan dengan pernyataan Brooks (2004) bahwa kondisi keluarga yang harmonis akan membuat anak dapat melihat bahwa manusia harus saling mengasihi, berbagi, dan saling tolong-menolong Orangtua dapat menjadi contoh bagi anak-anak mereka dalam mengembangkan perilaku prososial. Anak belajar untuk mengasihi, berbagi, bekerja sama, tolong-menolong, perhatian dan peduli pada orang lain dari kedua orangtuanya.

Selain itu, adanya pembinaan IMTAQ yang diberikan sekolah juga dapat menjadi sarana dalam mengembangkan perilaku prososial subjek, yaitu dengan adanya pendalaman pengetahuan agama, di sana dapat dijelaskan bahwa agama mengajarkan manusia untuk dapat saling mengasihi, peduli, dan tolong-menolong dengan sesamanya. Berdasarkan orientasi kancah diketahui bahwa siswa-siswi di SMAN 2 Kota Bekasi diwajibkan untuk memilih salah satu atau lebih ekstrakulikuler yang ada di sekolah, ekstrakulikuler dapat dijadikan tempat untuk mengembangkan perilaku prososial mereka. Pada kegiatan ekstrakulikuler yang diikutinya anak dapat belajar untuk dapat mengasihi, berbagi, bekerja sama, perhatian, tolong-menolong, dan peduli dengan apa yang dialami oleh temannya.

Menurut penulis sendiri peran keluarga khususnya orangtua tetap yang paling penting dalam mengembangkan perilaku prososial anak, karena sejak baru lahir hingga anak siap untuk berinteraksi dengan orang di luar lingkungan keluarganya, anak mendapatkan pendidikan, pengetahuan dan contoh dari keluarga khususnya orangtua, seperti dalam penelitian yang dilakukan Kerr, dkk (2003) yang menggunakan subjek remaja Latin berusia14-19 tahun. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa keterlibatan keluarga dapat mempengaruhi perilaku prososial anak.

Rendahnya keterlibatan keluarga maka akan menguatkan keterlibatan anak pada pesta minuman keras, penggunaan ganja, pesta-pesta, dan tindakan kekerasan pada orang lain. Kuatnya monitoring orangtua dan kultur sosial yang dianut anak akan mempengaruhi kuatnya minat anak untuk menjadi tenaga sukarelawan pada kegiatan sosial dan perilaku prososial lainnya.

Pada analisis tambahan penelitian ini diketahui bahwa sumbangan efektif yang diberikan oleh persepsi keharmonisan keluarga terhadap tingkat intensi prososial remaja tidaklah cukup besar, yaitu hanya 26,2% saja. Artinya, ada faktor-faktor lain sebesar 73,8% yang mempengaruhi tingkat intensi prososial remaja.

Faktor-faktor tersebut antara lain menurut Syafriman dan Wirawan (2004) adalah faktor situasional, seperti kehadiran orang lain dan faktor tanggung jawab, Selain itu, ada faktor dari si penerima bantuan, seperti karakteristik yang memerlukan pertolongan dan kesamaan penolong dengan yang memerlukan pertolongan, atau faktor-faktor lainnya.

Secara keseluruhan, penulis mengakui bahwa penelitian ini masih mempunyai banyak kelemahan, antara lain: skala persepsi keharmonisan keluarga yang digunakan tidak mengungkap data apakah subjek berasal dari keluarga yang utuh atau berantakan (broken-home), sehingga keharmonisan keluarga yang ada belum begitu akurat untuk mengukur keharmonisan keluarga dalam arti yang paling ideal. Selain itu, jumlah subjek yang digunakan dalam penelitian masih tergolong sedikit dibandingkan populasi remaja yang begitu banyak, perbandingan subjek berdasarkan jenis kelamin yang tidak seimbang, rentang usia subjek penelitian yang kurang bervariati, serta tidak diketahui bagaimana perilaku prososial orangtua pada lingkungan sekitar. Oleh karena itu, demi generalisasi hasil penelitian yang lebih akurat, hendaknya penelitian yang akan datang lebih memperhatikan hal-hal tersebut.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi positif yang sangat signifikan antara persepsi keharmonisan keluarga dengan intensi prososial remaja.

Artinya, semakin tinggi tingkat persepsi keharmonisan keluarga, maka semakin tinggi tingkat intensi prososial remaja. Sebaliknya, semakin rendah tingkat persepsi keharmonisan keluarga, maka semakin rendah tingkat intensi prososial remaja.

Sumbangan efektif persepsi keharmonisan keluarga terhadap variabel intensi prososial sebesar 26,2%.

B. Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ada beberapa saran yang dapat penulis berikan berkaitan dengan proses dan hasil yang diperoleh dari penelitian ini. Saran-saran tersebut, antara lain:

1. Bagi Praktisi Psikologi

Dengan latarbelakang ilmiah yang mendasarinya, kiranya para praktisi psikologi dapat mulai mengkampanyekan pentingnya keharmonisan keluarga dalam kaitannya dengan tingkat intensi prososial remaja. Di samping itu, penanganan terhadap remaja-remaja yang mengalami krisis akibat tumbuh di lingkungan keluarga yang harmonis agar mulai dilakukan dengan pendekatan yang lebih terpadu, yang melibatkan keberadaan keluarganya secara nyata.

2. Bagi Orangtua

Agar terus dilakukan upaya-upaya nyata di lingkungan keluarganya masing-masing untuk membentuk keluarga yang berfungsi seutuhnya di era modern ini, karena arti dan keberadaan keluargalah yang pada akhirnya menentukan kualitas remaja. Keluargalah yang membentuk remaja apakah remaja tersebut tumbuh menjadi remaja yang berguna bagi agama, lingkungan sekitar, bangsa dan negaranya.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Bagi yang tertarik untuk melakukan penelitian dengan tema serupa, hendaknya lebih memperbanyak jumlah subjek penelitian dengan komposisi jenis kelamin yang relatif seimbang, kelompok usia yang lebih variatif, riwayat keutuhan keluarga yang lebih lengkap, serta laporan perilaku prososial orangtua subjek pada orang-orang di lingkungan sekitarnya sehingga generalisasi hasil penelitian dapat dilakukan secara lebih akurat

DAFTAR PUSTAKA

Ajzen. 2006. Constructing a TpB Questionnaire : Conceptual and Methodological Considerations. http://www.people-umass.edu.9/1/07

Azwar, S. 1997. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Penerbit Pustaka Pelajar Azwar, S. 2004. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Penerbit Pustaka Pelajar Baron, R. A. & Byrne, D. 1994. Social Psychology : Understanding Human

Interaction. Massachusetts : Allyn and Bacon

Baron, R. A. & Byrne, D. 2003. Psikologi Sosial. Jilid 1. Edisi Kesepuluh. Jakarta : Penerbit Erlangga

Baron, R. A. & Byrne, D. 2005. Psikologi Sosial. Jilid 2.Edisi Kesepuluh. Jakarta : Penerbit Erlangga

Brigham, J. C. 1991. Social Psychology. Second Edition. New York : Harper Collins Publishers

Brooks, J. 2004. The Process Of Parenting. Sixth Edition. New York : McGraw-Hill, Inc

Dayakisni, T. & Hudaniah. 2003. Psikologi Sosial. Malang : UMM Press

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Edisi Kedua. Jakarta : Balai Pustaka

Duncan, dkk. 2002. Relation Between Youth Antisocial and Prosocial Activities.

http://www.proquest.umi.com.23/2/07

Fishbein & Ajzen. 1975. Belief, Attitude, Intention And Behavior. Philippines : Addison-Wesley Publishing Company. Inc

Gerungan, W. A. 1988. Psikologi Sosial. Bandung : P.T Eresco

Hastings, dkk. 2005. Links among Gender, Inhibition, and Parental Socialization in

the Developmental of Prosocial Behavior.

http://www.proquest.umi.com.23/2/07

Hawari, D. 1999. Alqur’an : Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa. Yogyakarta : PT. Dana Bhakti Prima Yasa

Hurlock, E. B. 1980. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang rentang Kehidupan. Jakarta : Penerbit Erlangga

Jattina, V. 1994. Tingkat Keintiman Keluarga Terhadap Penyesuaian Sosial Pada Remaja. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada

Kerr, M. H, dkk 2003. Family Involvement, Problem and Prococial Behavior Outcomes of Latino Youth. http://www.proquest.umi.com.23/2/07

Rakhmat, J. & Gandaatmaja, M. 1993. Keluarga Muslim Dalam Masyarakat Modern.

Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

Santrock. 2001. Adolescence. Eighth Edition. New York : McGraw-Hill

Sarwono, S. W. 2002. Psikologi Remaja. Edisi Revisi. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada

Sears, dkk. 1991. Psikologi Sosial. Jilid 2. Jakarta : Penerbit Erlangga

Shaffer, D. R. 1994. Social & Personality Development. Third Edition. Brook/Cole Publishing Company. California : Pacific Grove

Suhendi, H. & Wahyu, R. 2001. Pengantar Studi Sosiologi Keluarga. Bandung : Pustaka Setia

Sulistyandari, E. 1988. Perbedaan Intensi Prososial Ditinjau Dari Status Anak Dalam Keluarga. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada

Syafriman & Wirawan, Y.G. 2004. Perbedaan Orientasi Nilai dan Perilaku Prososial Antara Suku Bangsa Melayu dan Suku Bangsa Tionghoa.

http://www.depsos.go.id.13/1/07

Walgito, B. 2002. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Andi Offset

Descriptives

Normal Parameters(a,b) Mean 110.1444 118.1000

Std. Deviation 11.23254 13.19691 Most Extreme

Std. Deviation 11.23254 13.19691 Most Extreme

Dokumen terkait