• Tidak ada hasil yang ditemukan

Yang pertama saya ingin menyampaikan suatu fakta juga bahwa berdasarkan Pasal 170 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 dinyatakan bahwa ini nanti ada hubungannya dengan belakang. Kenyataan bahwa perusahaan kontrak karya harus

melakukan pemurnian selama 5, tahun 2014, artinya 2014 harusnya sudah selesai. Oleh karena itu kita minta tadi melihat bahwa situasinya tidak memungkinkan, sebetulnya kontrak itu diberikan pilihan kita tidak mengharuskan valet berubah jadi UPK ataupun NHM menjadi mereka. Kalau kita ingin ekspor bahan mentah atau yang belum dimurnikan, itu yang pertama. Jadi itu pilihan, pilihan dari perusahaan karena valet NHM tidak perlu jadi UPK karena dia sudah pemurnian, itu yang pertama.

Yang kedua, pemerintah memahami apa yang diminta oleh perusahaan oleh karena itu pemerintah memberikan waktu 6 bulan. Itu maksimal Ibu, Pak kalau bisa kita pun maunya juga cepat Bu, seminggu kalau bisa selesai. Tapi tadi Pak Totok betul harus para pihak dan dalam waktu itu secara simultan diberikan izin ekspor. Jadi kita tidak menutup izin ekspor itu tidak ditutup dan dinnyatakan pula di SK itu bahwa ketentuan di dalam kontrak karya masih berlaku. Itu kami jelaskan juga dengan surat kami yang terakhir 2 hari yang lalu, ini loh Pak maksudnya SK UPK itu maksudnya ini, kami maksudnya ini, kami jelaskan Pak. Jadi ruang itu kita berikan 6 bulan dan kita juga sudah mendalami pemerintah ini membentuk tim Pak, kita sudah bicara dengan Kementerian Keuangan, dengan kementerian itu untuk menyiapkan yang diminta itu, tapi Pak kalau UPK itu bentuknya hanya bajunya saja dan didalamnya kontrak itu yang kemungkinan agak sulit sudah saya sampaikan. Jadi memang ada ruang itu mesti ada, itu jelas itu karena Kementerian Keuangan sudah merespon, kementerian nanti dengan Kementerian Dalam Negeri juga merespon diberikan. Jadi apa yang dimaksud dengan stabilitas investasi itu kita berikan, tapi harus melalui pembicaraan. Kita juga mau cepat Bu, jadi kalau bisa seminggu bisa selesai. Kami sudah bekerja, sudah bekerja dengan tim pemerintah itu tinggal kita menunggu Freeport dan tadi yang Ibu katakan, ekspor kita berikan Bu sambil kita melakukan ekspor kita berikan, itu bisa ekspor. Bahkan permintaan mereka kita berikan 1.113.000 untuk 1 tahun, sudah kita berikan.

Ini jadi ini juga fakta ini, artinya fakta ini juga perlu kami sampaikan sebetulnya pemerintah juga tidak kaku, tadi ibu katakan AlMaidah, nggak kaku kita memberikan ruang untuk bagaimana ketentuan kontrak tetep dihormati dan itu disebutkan juga surat ke kita, kalau kita setuju kembali kepada kontrak. Kalau itu tidak setuju pada UPK, pada saat 6 bulan enggak ketemu, enggak ketemu, apa itu enggak setuju itu kita kembalikan kontrak, sudah kami jelaskan semua Pak. Jadi itulah fakta kita yang juga memberikan akomodasi untuk itu semuanya bisa dilakukan secepatnya penyelesaian terhadap Freeport ini. Jadi kita bukan menutup tadi Ibu, izin ekspor kita berikan sejak kemarin, sejak tanggal 17 kalau enggak salah, tanggal 17 kemarin sudah kita keluarkan, jumlahnya adalah 1.113.000 ton, itu izin diberikan.

Demikian Pak Pimpinan, terima kasih. KETUA RAPAT:

Baik, terima kasih.

Saya kira memang kita pahami ya bahwa memang ada kewenangan, kalau soal fiskal kan tidak di Kementerian ESDM Pak, soal pajak dan seterusnya itu ada di Kementerian Keuangan, sehingga memang ada butuh waktu. Cuma memang Bu Peggi yang punya Dapil ya ingin waktu itu tidak terlalu berlama-lama karena ada implikasi besar kalau itu berlama-lama begitu Pak. Saya kira itu menjadi harapan lah.

Pak Mukhtar Tompo masih tambah. F-HANURA (MUKHTAR TOMPO, S.Psi):

Terima kasih Pimpinan.

Terkait ini karena ini berpolemik, kemudian saya menilai bahwa dua-duanya melakukan manuver. Saya sangat membutuhkan klarifikasi tertulis dari PT Freeport terkait persoalan ini, bukan masalah yang saya dengan Pak Cepi ya, masalah ini Pak karena ini menarik, penkelasan-penjelasan dari Freeport ini baru saya dengarkan Pak. Mungkin ini juga hikmah kita rapat terbuka begini dan saya juga meminta kepada Dirjen Minerba untuk diberikan via sekretariat tentunya, surat tanggal 26 Januari itu, kemudian surat tanggal 16 Februari, kemudian segala surat-menyurat antara pemerintah, Menteri ESDM lewat Dirjen Minerba ke Freeport dan Freeport ke pemerintah. Ini untuk kepentingan Rapat Internal kita dalam waktu dekat Pak Ketua, dan saya ingin mengingatkan bahwa pemerintah juga melakukan satu kesalahan langsung mengambil keputusan yang sangat strategik yang menimbulkan polemik yang besar ini dengan melanggar undang-undang yang sama, Undang-Undang Minerba Tahun 2004 di Pasal 5 ayat (1) mengambil kebijakan strategis dengan alasan nasional untuk kepentingan bangsa tetapi tidak melibatkan DPR. Bisa dibaca Pak Undang-Undang Minerba Tahun 2009 Nomor 4 Pasal 5 ayat (1), pemerintah bisa mengambil kebijakan strategis untuk kepentingan nasional setelah berkonsultasi dengan DPR.

Jadi kita kalau tidak ada polemik seperti kita juga tidak ngerti. Saya kira itu Pak Ketua dan menjadi kesimpulan rapat kita.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Baik, saya kira cukup lah ya cukup ya, cukup, kita sudah di ujung untuk saya kira kesimpulan kita terhadap 2 hal saja. Kami tampilkan draftnya untuk kita baca. F-GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):

Pak interupsi. KETUA RAPAT:

Iya.

F-GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):

Saya dukung pernyataan Pak Tompo yang terhormat, kritis Beliau. Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Baik, saya baca ya tolong kita sama-sama cermati draft kesimpulan kita yang pertama:

1. Komisi VII DPR RI meminta Dewan Komisaris PT Freeport Indonesia melakukan pembinaan kepada Dewan Direksi agar kejadian dalam Rapat Dengar Pendapat Umum pada tanggal 9 Februari 2013 yang dilakukan oleh Presiden Direktur PT Freeport Indonesia terhadap Anggota DPR tidak terulang kembali.

Melakukan pembinaan saya kira memang itu Tupoksinya Dewan Komisaris, nanti soal internal kita akan kita bicara secara internal ya karena tindak lanjut kan saya sudah teken surat tertanggal 14 terkait dengan keputusan kita tanggal 13 itu, nanti di internal saja kita bicara. Boleh sepakat ini ya, Pak Komisaris kan memang pembinaan Pak, saya kira Tupoksinya.

Iya Pak Andi. ANDI MATTALATTA:

Mungkin perlu ditambah sekedar usul saja, memberi pembinaan kepada Dewan Direksi sesuai dengan fungsinya karena fungsi komisaris juga terbatas, jangan sampai kita bina hal-hal yang di luar fungsi kita kan nggak benar juga.

KETUA RAPAT:

Iya Pak, ini bahasa mantan Menteri Kumham ini Pak Ramson. F-GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):

Tadi sih kalau saya mengusulkan Pak Andi juga ada bicara, apalagi tadi Pak Tompo kan sudah kasih tahu. Kalau di saya sih memang sudah Pemalang banyakan, tapi kalau saya ingat waktu di Sumatera Utara itu sudah hula-hula Beliau itu, pamannya istri iya kan, sangat hormat biasanya.

Terima kasih Pak Ketua. KETUA RAPAT:

Baik, ini Pak ramson ini Ramson S Pak, dulu Siagian waktu Beliau masih di Medan sekarang sudah banyak di Pemalang Ramson Sumarsono Pak.

Baik, saya kira itu Pak Andi kita tambah supaya tidak terlalu dibuat kewenangannya, begitu ya setuju ya.

(RAPAT:SETUJU) Baik.

2. Komisi VII DPR RI meminta Dirjen Minerba Kementerian ESDM RI dan Dewan Komisaris karena ini yang hadir di sini ya PT Freeport Indonesia untuk melakukan pembicaraan yang intensif guna mencari solusi yang terbaik terkait PT Freeport Indonesia.

F-PDIP (Ir. H. DARYATMO MARDIYANTO): Ketua, sebelah kiri Ketua.

KETUA RAPAT:

Silakan Pak Dar.

F-PDIP (Ir. H. DARYATMO MARDIYANTO):

Berkaitan dengan kesimpulan yang kedua, saya kira tadi materinya adalah di rumpun kesimpulan pertama. Kalau saya mengusulkan karena keterangan-keterangan yang diberikan sungguh berimbang dalam posisi kita untuk mengambil pandangan-pandangan apapun.

KETUA RAPAT:

Baik, satu saja kalau begitu tapi ini paling tidak Pak Komisaris menangkap aspirasi teman-teman ingin juga mengambil peran gitu ya, juga pemerintah tentu mulai Dirjen yang membidangi ini untuk mencari solusi cepat gitu loh. Itu kita drop

saja karena memang kita agendanya nomor 1 begitu Pak Dar ya. Tapi saya kira bapak-bapak komisaris maupun pemerintah menangkap lah keinginan kami di Komisi VII, supaya ada solusi yang tidak lama agar dampak dari pada kalau terjadi stuck itu kemudian tidak terlalu besar begitu.

Saya kira kita drop saja, setuju ya, satu saja tinggal. F-GERINDRA (RAMSON SIAGIAN):

Pak Ketua, kesimpulan hanya soal itu. KETUA RAPAT:

Baik, Pak Dar setuju itu.

F-PAN (H. TOTOK DARYANTO, SE.):

Setuju di drop, isinya saja disempurnakan jadi apa yang dimaksud solusi terbaik itu.

KOMISARIS PT FREEPORT INDONESIA: