• Tidak ada hasil yang ditemukan

Baik, saya persilakan.

F-PAN (H. TOTOK DARYANTO, SE.): Ketua boleh.

KETUA RAPAT:

Sebentar Pak Totok, masih ada Pak Dar dari tadi sudah mendaftar. Pak Daryatmo kami persilakan, nanti setelahnya boleh Pak Totok. Silakan Pak.

F-PDIP (Ir. H. DARYATMO MARDIYANTO): Baik.

Assalammu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam dan salam sejahtera untuk kita semua. Yang terhormat Ketua Komisi VII, dan

Yang terhormat Anggota Komisi VII yang hadir di sini, dan Bapak-Ibu sekalian. Mitra kita pada hari ini Pak Kementerian ESDM, Pak Dirjen dan PT Freeport Indonesia. Ingin Bapak-Ibu sekalian, sebenarnya mengikuti semua pembicaraan karenanya sebenarnya saya ingin mengulang maksud rapat hari ini. Di dalam undangan yang kita terima maka materi pada pokok materi hari ini adalah Rapat Dengar Pendapat dengan Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM RI dan Dewan Komisaris PT Freeport Indonesia, yang diselenggarakan pada hari ini, intinya acaranya adalah tindak lanjut Rapat Dengar Pendapat Umum tanggal 9 Februari 2017 dan terkait kejadian paska rapat yang dilakukan oleh Direktur Utama PT Freeport Indonesia kepada Anggota Komisi VII DPR RI.

Inilah sebenarnya kembali ke laptop, saya ingin menyampaikan hal itu. Oleh sebab itu Bapak-Ibu sekalian, terima kasih atas kehadrirannya dari Kementerian ESDM dan dari jajaran Dewan Komisaris yang sangat senior yang kami kenal. Oleh karenanya ... kita ingin menyampaikan jalannya rapat yang kita harapkan pada hari ini. Yang pertama adalah pada rapat tanggal yang lalu itu tidak dihadiri oleh Kementerian ESDM, rapat itu dihadiri oleh para perusahaan-perusahaan di bidang

pertambangan. Karenanya kemudian terima kasih Pak Andi Jamaro yang kemudian membacakan kesimpulan tersebut, kesimpulan setelah kita melakukan pertemuan tanggal 9 dan kemudian kita follow up-i dalam sebuah rapat khusus untuk itu.

Dengan demikian maksud di dalam rapat tersebut untuk mengacarakan hal ini, tentu dalam pandangan kami tidak terlepas dari peristiwa tersebut. Oleh karenanya inisiatif untuk mengundang Dewan Komisaris itu mestinya di dalam, mestinya pada awal mohon maaf saya terlambat, tapi giliran agak terakhir. Maka sebenarnya yang ingin kita ketahui terhadap hal tersebut pemahaman saya terlalu sederhana menyangkut tentang ketentuan-ketentuan perusahaan ataupun BUMN ataupun perusahaan lainnya. Maka terkait dengan peristiwa itu, sebenarnya pada awal kita ingin harapkan, apakah dapat kita ketahui Tupoksi dari Dewan Komisaris di dalam sebuah perusahaan yang namanya Freeport. Dengan Tupoksi itulah akan kita ketahui jalannya peristiwa ini karena di dalam hal yang umum, selain itu ada istilah direktur ataupun direksi dan ada komisaris. Maka di dalam pembahasan internal marilah kita undang, keputusan Komisi VII mengundang komisaris. Kemudian kita ingin memperoleh harapan dan jawaban terhadap kondisi-kondisi yang terjadi yang disampaikan kejadian yang terjadi pada tanggal 9 Februari tersebut.

Dengan demikian pandangan sisi lain dalam sebuah institusi Freeport di dalam posisi Dewan Komisaris, apakah juga mencakup hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan, peristiwa, performen dari seseorang yang mewakili institusi Freeport. Dan kemudian ketika itu akan dilakukan, apakah sudah ada langkah-langkah lainnya. Saya kira itu yang sebetulnya menjadi pikiran-pikiran untuk mengadakan rapat hari ini. Kemudian ketika kita juga mengundang Dirjen Minerba tentu dapat dipahami bahwa hari ini tidak mengundang Dirjen Migas karena Dirjen Minerba adalah Direktorat Jenderal dari sebuah kementerian yang tentu sedikit banyak erat hubungannya dengan kegiatan-kegiatan yang mencakup kegiatan bidang pengusahaan mineral, khususnya dalam hal ini Freeport. Maka kita juga mengundang hal tersebut untuk memperoleh keterangan lebih jauh, apakah kapasitas Direktorat Jenderal Minerba itu juga sampai menjangkau pada langkah-langkah kegiatan peristiwa yang berkaitan dengan perusahaan-perusahaan pertambangan. Seringkali kita kalau ada kecelakaan, ada peristiwa lain selalu bertanya apa fungsi atau peran dari kementerian maupun dari kedirjenan itu.

Jadi Bapak-Ibu sekalian, barangkali ini yang ingin kami sampaikan karena pada awalnya sebetulnya tidak ingin menyampaikan hal-hal tersebut, tetapi supaya masalah-masalah ini tidak melebar ke mana-mana. Saya sungguh berbahagia kalau memang kita bisa melangkah pada materi berikutnya, tetapi dalam kapasitas yang kita hormati Bapak-bapak para ...yang ada di Dewan Komisaris juga apakah mempunyai juga untuk dapat memberikan penjelasan bagi masalah-masalah ini. Saya sungguh sebenarnya agak ingin membatasi hal ini. Dengan demikian kita ingin kembali kepada pokok acara undangan dan materi, supaya bisa menjadi lebihfokus, lebih sederhana, sehingga ada sebuah kesimpulan-kesimpulan yang sifatnya terkait

dengan undangan rapat.

Barangkali ini Ketua yang kita ingin sampaikan karena ingin kembali pada pokok acara ini yaitu berkaitan dengan undangan rapat dan berkaitan dengan kesimpulan-kesimpulan tersebut. Dengan harapan karena kita menyampaikan ini kepada siapa, tentu tidak kepada publik ya, kepada instansi yang ada di dalam Freeport. Salah satunya adalah institusi komisaris, itulah yang sebenarnya menjadi harapan dan keinginan kami sehingga menjadi agak khusus gitu Ketua. Banyak materi kalau ada lain tentu dalam instansi lain dan dalam tingkat institusi yang dapat mewakili sepenuhnya terhadap hal-hal tersebut yang berkaitan dengan Freeport.

Terima kasih Ketua.

F-PAN (H. TOTOK DARYANTO, SE.):

Baik Ketua, saya ingin menanggapi persoalan yang esensial yang tadi sebenarnya sudah diungkap oleh Ibu Peggy dari Dapil Papua ya. Bahwa harus secepatnya ada final, ada keputusan negosiasi antara Freeport dengan Indonesia. Tapi saya ingin mengingatkan kepada Bu Peggi dan masyarakat di Papua dan kita semua Bangsa Indonesia juga Freeport juga bahwa untuk bisa cepat selesai itu kan membutuhkan keterlibatan atau partisipasi kedua belah pihak namanya negosiasi. Jadi enggak bisa pemerintah mau cepet-cepet, Freeportnya tidak mau cepat-cepat. Freeport mau cepet-cepet, pemerintah tidak mau itu juga nggak bisa. Tapi yang jadi masalah sebenarnya kan mesti didudukkan dulu pada pokok persoalannya, bahwa sebenarnya Undang-Undang Nomor 4/2009 itu, itu adalah sebuah rezim baru yang tidak mengenal lagi kontrak karya. Sehingga pilihan IUP atau IUPK itu ya memang itulah yang bisa dijamin oleh Undang-Undang yang ada sekarang. Bahwa masih ada kontrak karya pada saat Undang-Undang itu diundangkan karena kontrak karya sudah ditandatangani, maka masih berlaku. Tapi dalam Undang-undang itu sebetulnya kontrak karya sudah tidak dikenal lagi karena sebenarnya kontrak karya itu menyalahi konstitusi, tapi tidak bisa di anulir karena sudah terlanjur terjadi kontrak karyanya, perjanjian antara negara dengan pihak perusahaan asing.

Jadi itu masalahnya, nah kemudian memang pilihannya sekarang, saya khawatirnya begini, di satu pihak IUPK yang diajukan oleh Freeport itu maka sebenarnya ini mesti kita bicara Freeport sebagai institusi sebetulnya. Jadi saya enggak, maka sampai saat ini Dewan Komisaris ini kapasitasnya apa karena kita ingin mencari solusi begitu. Jadi IUPK tadi diajukannya oleh Freeport ya, pertanyaannya apakah Freeport dalam mengajukan IUPK itu sekedar mau ingin dapat IUPK-nya supaya dapat izin ekspor diperpanjang tanpa melepaskan kontrak karyanya, jangan-jangan begitu cara berpikirnya Freeport. Kontrak karya tetap dianggap berlaku, IUPK itu tambahan bonus. Sementara pemerintah anggap kontrak karya itu berakhir diganti IUPK, di mana kontrak karya nanti berakhir pada tahun 2021 yang mestinya pada tahun ‘19 itu baru bisa dinegosiasikan tentang

perpanjangan atau tidak gitu.

Jadi di situ masalah sebenarnya, jadi sebenarnya ketika Freeport itu minta IUPK itu mestinya proses negosiasinya itu sudah tuntas, bahwa itulah win-win solution yang dianggap saling menguntungkan bagi Freeport maupun bagi Indonesia. Kalau tidak saya memang agak curiga saya Bu Peggi mohon maaf ya, kita ini sama-sama orang Indonesia. Kita ini agak curiga Pak dengan Freeport, benar enggak Freport punya niat baik kepada Indonesia, jangan-jangan hanya mau jualan konsentrat saja Pak...Ibu, saya kasihan juga kepada saudara saya di Papua. Kalau begitu terus cara memperlakukan tambang-tambang di Papua, sampai kapan itu akan dan nggak mungkin menyejahterakan orang Papua, sampai sekarang juga tidak terlalu sejahtera dengan adanya Freeport. Sementara ....50 tahun lagi tambah habis, kalau sudah habis tidak ada lagi pilihan lain.

Jadi sebenarnya kalau memang sulit-sulit seperti itu, sekarang itu mesti ada pembicaraan dan pemerintah mencari solusi gimana kalau Freeport itu dicarikan penggantinya saja, diambilalih saja, diganti saja dan Ibu harus mulai percaya kepada bangsa sendiri, bahwa kalau Freeport itu dikelola sendiri oleh bangsa kita, termasuk orang Papua yang bekerja sekarang itu harus lebih sejahtera, dari pada dikelola asing tapi merugikan Indonesia karena 50 tahun lagi belum tentu masih ada tambang emas itu, sudah nggak ada, apalah orang Papua hanya mau hidup 50 tahun lagi setelah itu nggak hidup. Jadi di situlah problemnya, jadi menurut saya ini cepet-cepet dilakukan pembicaraan, tapi nggak bisa kalau sepihak harus ada yang dikalahkan, tidak win-win solution. Nah sementara sekarang ini sebenarnya tidak dalam kapasitasnya untuk kita bicara itu yang terhadap Freeport ini diwakili oleh Dewan Komisaris itu juga tidak bisa. Karena itu sebenarnya ini lebih sebagai penyampaian aspirasi dan sikap dari Anggota Komisi VII atau nanti itu disimpulkan saja itu sikap Komisi VII, bahwa Komisi VII ingin ada segera penyelesaian antara Freeport dan Indonesia tapi itu win-win solution, harus memberikan hasil yang adil baik bagi Freeport maupun bagi Indonesia. Itu untuk dibicarakan maka sebenarnya kita ingin mendengar itu kalau kita Freeport langsung itu kita buka saja di sini keberatan Freeport itu apa sebetulnya, kok yang dimintanya hanya izin ekspor konsentrat terus, smelternya nggak diurus. Kami menilai bahwa Freeport tidak serius mengelola, membangun smelter karena sudah sejak 5 tahun yang lalu, ya enggak 5 tahun lah, mungkin 3 tahun yang lalu kita meninjau smelter di Gresik yang waktu itu perdebatannya masyarakat, maaf Bu Peggi, masyarakat Papua waktu itu juga minta supaya dibangun di Papua. Tapi kami pada waktu itu sudah punya kecurigaan, jangan ini ... karena pilihannya jelas secara rasional kalau dibangun di Papua itu, smelter itu nanti kurang ekonomis sebetulnya, kalau di Gresik itu sudah jelas ya bahwa dari limbah, bahwa hasil sandingan dari pemurnian itu bisa dimanfaatkan untuk berbagai industri yang ada di sana.

Kemudian juga di Gresik pada waktu itu ada tempatnya sudah disediakan milik dari BUMN, kemudian juga ada reklamasi yang disiapkan oleh pemerintah

daerah. Tapi Freeport tidak tertarik itu, malah ada pilihan Papua, Papua dan tuntutan Papua begitu harus di bangun di Papua karena ini adalah hasilnya tanah Papua dan di Papua tidak ada infrastruktur untuk itu, kan ini sama dengan bohong. Saya sebagai Anggota DPR yang boleh mengatakan begitu, supaya Freeport ini mendengar, jangan hanya di kira orang Indonesia ini semua mau manut dengan Freeport. Sudah terlalu lama karena ini Freeport memperlakukan Bangsa Indonesia secara tidak adil. Jadi kami dari Komisi VII minta supaya ada keadilan dan ketegasan dari pemerintah. Kalau memang sudah tidak bisa diperpanjang kenapa dicari solusi lain, yang penting itu tetap berjalan tambang itu, bisa dikelola oleh Indonesia sendiri, bisa bekerja sama dengan pihak lain, selesaikan secara baik-baik karena kontrak ada batasnya juga dan tahun 2021 sebenarnya sudah berakhir kalau Indonesia tidak memperpanjang, sebenarnya sudah selesai dan Freeport juga tidak boleh merasa dirugikan karena sudah untung, kontrak karya yang berakhir itu pernah merugikan kedua belah pihak, itu sudah disepakati sebelumnya.

Nah kalau ingin diperpanjang maka ikuti Undang-undang Indonesia, kita tidak mengenal lagi rezim kontrak karya. Harus mau menggunakan IUP mungkin IUPK, IUP khusus dan mengikuti aturan-aturan yang dibuat oleh Indonesia. Undang-Undang di Indonesia, jadi itu pendapat kami, mungkin kalau mau disimpulkan ya begitulah kesimpulannya. Sementara kalau Bung Mukhtar Tompo dengan Pak Chepy itu menurut saya, itu sebetulnya hal lain, bukan saya ingin mengecilkan, nggak, itu bukan persoalan kecil juga bahwa di forum DPR ada mitra atau pihak lain yang melakukan contempt of parlemen itu juga bukan persoalan kecil, tapi itu kan, itu persoalan tersendiri, bukan persoalan Freeport sebetulnya, apalagi orangnya sudah mengundurkan diri dari Freeport. Kalau saya justru tidak ingin kita terpancing di situ dan fokus di situ, itu enggak ada manfaatnya untuk bangsa besar ini. Secara ekonomi dalam investasi Freeport di Indonesia itu tidak ada kaitannya, tapi memang betul bahwa itu ada pembelajaran kita dalam politik, nggak boleh lagi ada perlakuan dari pihak yang melakukan pelecehan terhadap parlemen. Harus dihormati karena parlemen ini institusi yang dijamin oleh konstitusi yang tidak boleh orang memperlakukan seperti itu dan sebetulnya sanksinya saya sudah pernah menyarankan kepada Pimpinan, di Undang-Undang MD3 dan di Tata Tertib sanksinya itu sanksi politis. Maka saya katakan begitu mundur, itu sanksi politis sudah berjalan itu karena kira-kira sanksi politiknya tertinggi adalah kita tidak akan bisa lagi rapat dengan orang yang namanya itu tadi, yang melakukan pelecehan pada parlemen dan minta supaya disikapi orang yang bersangkutan di apa, semacam di persona non grata, tidak bisa berhubungan dengan parlemen dan pemerintah tidak boleh berhubungan ya itu artinya sudah selesai dan yang bersangkutan sudah keluar. Jadi menurut saya, maka saya katakan tadi sudah selesai urusan itu, walaupun masih ada urusan lain yang karena ada pengaduan mungkin dianggap tindakan kurang menyenangkan, saya kira itu masalah pribadi dengan Saudara Mochtar Tompo. Tapi dari sisi DPR sebetulnya contempt of parlemen itu batasannya adalah sanksi politis yang keputusannya relatif tergantung dari rapat di komisi yang bersangkutan untuk nanti diajukan pada Pimpinan Dewan.

Jadi itu Ketua dan Bu Peggi, mohon sama-sama kita Bu, jadi kita dukung pemerintah, kita dukung Irian Jaya, kita dukung Papua, kita selamatkan pertambangan.

F-PKB (PEGGI PATRICIA PATTIPI):

Mohon maaf Pak, jangan sebut Irian Jaya karena Irian Jaya Bapak tahu tidak artinya Irian Jaya.

F-PAN (H. TOTOK DARYANTO, SE.):

Papu Bu, tadi saya sudah ralat jadi Papua. F-PKB (PEGGI PATRICIA PATTIPI):

Sebelum Bapak tahu, sebelum pindah ke Irian Jaya, sebelum Irian ini berubah menjadi Papua, Bapak harus tahu dulu Irian Jaya. Jadi jangan Bapak, jadi jangan sampai Bapak tidak tahu itu artinya Irian Jaya akhirnya Bapak menyebut Irian Jaya, jadi kita sudah berubah menjadi Papua, Gus Dur yang mengembalikan itu dari Irian Jaya menjadi Papua dan itu artinya besar sekali.

KETUA RAPAT:

Baik, saya kira cukup ya.

Mungkin beberapa tadi yang masih perlu direspon, baik terutama dari PT Freeport ya, dari Pak Bara tadi agak spesifik kepada putra Papua Pak, perspektif Papua atas situasi yang terjadi sekarang dan beberapa juga dari teman-teman lain. Kalau boleh kami persilakan Pak.

Silakan.