F-PKB (PEGGI PATRICIA PATTIPI):
Baik, ada 856 karyawan yang sudah di PHK. Kemarin hari Senin 12 karyawan permanen di Freeport Jakarta ini sudah dirumahkan, Bapak pasti sudah tahu pada tanggal 13 kemarin itu karyawan perusahaan PT Freeport, orang Papua itu kemarin sudah demo. Sebentar selesai acara ini saya mau menyerahkan aspirasi mereka yang mereka berikan kepada pemerintah daerah. Saya memberikan kepada Pak Dirjen dan Ketua Komisi VII. Saya berharap Pak Dirjen, agar negosiasi yang Bapak sudah sementara lakukan ini jangan terlalu lama karena Freeport sangat bermanfaat pada orang Papua, terutama karyawan dan kota Timika di mana Freeport itu beroperasi, Pak Dirjen harus tahu itu.
Saya mau sampaikan kepada Pak Dirjen bahwa ada 1 desa di samping Tembagapura itu namanya Arwano. Setiap hari Freeport harus mensuplai 40 liter solar agar kota itu bisa menyala, kecamatan itu bisa menyala. Kalau negosiasi ini Bapak buat sampai 6 bulan dan hasilnya tidak ada, bagaimana masyarakat yang ada di sana, di atas gunung itu. ...itu masyarakat di atas dan dia yang punya gunung Bapak tahu itu, dia yang punya gunung emas, benar. Jadi di sini Bapak harus mempercepat negosiasi ini karena tadi Bapak bicarakan bahwa mempertimbangkan rakyat Indonesia, rakyat Indonesia yang mana yang Bapak maksudkan di sini, karena dari 32 ribu tenaga kerja yang ada di kontrak di PT Freeport itu 12 pekerja itu dari luar, asli Papua itu 4 ribu sekian ditambah dengan asing 152, jumlah 300.416 32.416. Yang saya bicarakan ini 700 non Papua dan 431 karyawan ini sudah mewakili rakyat Indonesia yang sementara bekerja di Freeport. Jadi Bapak jangan ragu-ragu untuk bernegosiasi dan membuat perubahan-perubahan dalam UPK yang sudah Freeport meminta kementerian sedang membuat negosiasi itu. Jadi kalaupun ada perubahan-perubahan Bapak jangan takut, bukan Surah Al-Maidah harsu takut untuk merubahnya, itu tidak bisa dirubah, UPK bisa diubah, UPK buatan manusia, bukan turun dari langit, jadi bisa itu diubah. Bapak harus menjamin kesejahteraan orang Papua dan karyawan orang Papua yang ada di PT Freeport.
Dan saya mau menyampaikan lagi bahwa di sini saya melihat ada divestasi saham 51% yang akan diberikan oleh pemerintah. Saya tidak yakin pemerintah bisa
memberikan kesejahteraan itu melalui 51% saham PT Freeport ini kepada pemerintah. Saya tidak jamin pemerintah bisa memberikan fasilitas dan kenyamanan seperti Freeport berikan kepada orang Papua dan karyawan orang Papua yang ada di Freeport, saya tidak jamin pemerintah bisa memperhatikan dan mensejahterakan orang Papua dan karyawan PT Freeport yang ada bekerja di situ, sama seperti karya Freeport memberikan jaminan dan kenyamanan kepada karyawan sekarang ini, saya tidak jamin itu Pak. Kalau Luhut bisa memotong telinganya karena Agus menang, Bapak saya sampaikan kepada Bapak, pemerintah ini Bapak potong saya punya jari sahabat ini kalau pemerintah bisa memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan untuk orang Papua karena otonomi khusus tidak mensejahterakan orang Papua. Jadi jangan Bapak datang membawa UPK gula-gula beracun itu untuk kami orang Papua dengan tidak menjamin tunjangan-tunjangan yang selama ini diberikan Freeport untuk orang Papua dan karyawan PT Freeport karena dari 4 ribu karyawan itu, selain karyawannya keluarganya dari istri dan anaknya juga mendapat jaminan itu dari Freeport.
Kalau Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 perusahaan memberikan tunjangan hari raya 100% gaji, tapi Freeport memberikan 200% gaji untuk karyawan, khusus untuk orang Papua. Jadi saya minta Pak Dirjen, jangan terlalu lama-lama bernegosiasi dengan PT Freeport. Sekarang ini karyawan orang Papua dan seluruh karyawan orang Papua dan orang Papua sendiri Timika, kabupaten Timika yang sekarang ini APBD-nya belum disahkan oleh pemerintah sudah menjadi kota mati, tidak ada lagi aktivitas di sana Pak. Kalau Bapak berlama-lama, itu Bapak membunuh kami orang Papua, tidak punya hati untuk orang Papua.
Otonomi khusus itu sekarang ini ibaratnya seperti anak kecil yang diberikan uang 100 ribu, dia tidak tahu membelanjakan uangnya itu seperti apa. Sementara KPK dengan 1000 aturannya sudah berdiri di depan dia. Jadi Bapak jangan membawa UPK ini lagi menyengsarakan kami orang Papua, negosiasilah baik-baiok dengan Freeport karena orang Papua lebih menginginkan tambang itu dikerjakan oleh Freeport Nick Moran. Saya tidak tahu ada kepentingan-kepentingan lain di sini, tetapi orang Papua saya mewakili Dapil Papua, saya mewakili masyarakat Papua, KTP saya Timika Pak, saya bukan dari Dapil lain yang memakai suara orang Papua, saya 2 periode DPR RI pakai suara orang Timika, tanya Pak ...dan Pak Napoleon, KTP saya Timika, sebentar saya tunjukan sama Bapak.
Jadi saya berbicara ini agar Bapak mempercepat pembicaraan negosiasi itu dengan Pfreeport agar karyawan dan orang Papua yang selama ini mendapat tunjangan baik dari Freeport itu bisa dirasakan kembali karena setiap tahun Freeport memberikan 20 beasiswa kepada anak karyawan-karyawannya ke luar negeri dan masih banyak lagi tunjangan-tunjangan lain yang tidak ada lagi di Indonesia ini perusahaan tambang itu memberikan sebesar apa yang diberikan Freeport untuk orang Papua dan karyawan PT Freeport. Jadi 32 ribu karyawan yang ada di Freeport itu sudah mewakili bangsa Indonesia ini bahwa Freeport tetap bekerja dengan baik
di kabupaten Timika khususnya, di Indonesia khususnya di Papua dan lebih khusus lagi di kabupaten Timika seperti itu. Jadi tolong diselesaikan negosiasi ini secepatnya agar kesengsaraan orang Papua yang ada di Timika itu tidak berlanjut Pak. Ada 8 ribu penambang emas yang mengambil dari hasil limbah PT Freeport. Itu akan menjadi beban pemerintah daerah, Bapak harus ingat selama ini Freeport beroperasi saja masih ada pembunuhan di sana, ke sana kemari pencurian dan tingkat kejahatan paling tinggi, apalagi ini petambang ini sudah kemarin sudah dihentikan dan 8 ribu penambang emas ini yang ada di pembuangan itu mereka akan lari ke mana. Mereka akan buat kacau di Timika Pak, Bapak di sini bisa saja bicara begini-begini, Bapak kan tidur di sini, Bapak tidak rasa apa yang terjadi di sana. Saya baru 2 hari pulang dari sana, saya merasakan betul bahwa apa yang sudah terjadi ini membuat Timika lesu. Timika itu sudah tidak rame seperti dulu lagi, perekonomiannya itu terhambat, sudah mundur.
Jadi saya minta kepada pemerintah dan Freeport cepat negosiasi ini, cepat diselesaikan agar perusahaan itu bisa kembali lagi beroperasi, tidak ada lagi perpanjangan-perpanjangan PHK dan lain-lain sebagainya itu segera diselesaikan agar mereka bisa kerja lagi. Operasi itu bisa kerja lagi dan ada 2 lembaga Lemhasa dan Lemasco yang selama ini mendapat dana 1%. Dana 1% yang diberikan oleh PT Freeport kepada 2 lembaga ini setahun itu dilihat dari tingkat pembelian dari konsentrat itu, emas yang dijual itu setiap tahun itu 800 miliar untuk kedua lembaga ini. Kalau sampai terhenti bagaimana nasib 2 masyarakat ini, 2 lembaga ini Lemasa dan Lemasco, Bapak harus berpikir itu, jangan korbankan kami lagi orang Papua, sudah ada otonomi khusus, ada lagi UPK jangan korbankan kami, kami sudah bosan ditipu. Jadi cepat selesaikan negosiasi itu agar perusahaan ini bisa berjalan kembali, masyarakat bisa merasakan apa yang selama ini sudah Freeport berikan kepada masyarakat dari kedua lembaga ini dan saya minta kepada Dirjen Minerba, pemerintah dan PT Freeport agar pada negosiasi ini melibatkan orang Papua. Sementara ini Freeport hanya memberikan tempat kepada orang Papua yang ada di dalam management itu di atas dan bawah, sedangkan yang di tengah-tengah itu dari luar. Negosiasi ini harus merubah itu, jangan cuma diberikan tempat di atas vice president sama yang di bawah itu, underground dan segala macam itu orang-orang Papua semua, sedangkan yang di tengah-tengah itu tidak ada. Saya mau itu semua sama rata, jangan yang di tengah-tengah itu dikuasai oleh orang-orang pendatang. Orang Timika bilang Oyame, jangan dikasih sama oyame, orang Papua juga sudah mampu Pak, seperti itu.
Jadi saya minta Bapak cepat selesaikan supaya kesejahteraan mereka bisa berjalan kembali. Saya ini bicara bagaimana perutnya mereka bisa kenyang, dapur r mereka bisa berasap.
Itu saja Ketua, terima kasih.
kepada Pak Dirjen dengan Pak Ketua.