Kalau demikian boleh kami minta Saudara Lamori menjelaskan singkat saja Pak, mengenai keadaan di sana.
KOMISARIS PT FREEPORT INDONESIA (CLEMENTINO):
Mohon izin pak, jadi ini ada keterkaitan dengan poin 5 saya izin langsung dengan Pak Mukhtar juga. Jadi per tanggal 19 ini fakta, kita hanya menyampaikan fakta. Per tanggal 19 sampai dengan hari ini kita tidak karena memang ada perbedaan persepsi mengenai ekspor yang 60%, sehingga kami tidak bisa ekspor tapi PT Smelting Gresik, smelter domestik kami juga tidak bisa berproduksi. Jadi kami 100% tidak berproduksi, hari Jumat 2 minggu lalu gudang konsentrat penuh. Berarti kami tidak bisa melakukan penggilingan di mill, per Jumat minggu lalu sesungguhnya kami sudah stop produksi total Pak. Jadi fakta yang terjadi di lapangan adalah karena ketidakpastian ini, kami mencari solusinya terus tetapi yang terjadi adalah belanja barang domestik kami yang sekitar 2 milyar dolar itu kami kurangi 50% lebih.
Dengan demikian order-order barang dari vendor-vendor yang 97 jasa dalam negeri itu kami mulai kurangi. Di tahap berikutnya lagi adalah kami juga mengurangi, dari induk juga mengurangi investasinya dengan kondisi ini sampai dengan satu rencana ke satunya. Akibatnya memang seperti yang disampaikan oleh Ibu Peggi tadi, kami mulai, kontraktor kami yang berjumlah 20 ribu orang itu mulai dirumahkan karena kondisinya memang tidak ada produksi ...
Jadi saya tidak ingin, saya hanya ingin menyampaikan fakta Pak, dengan maksud supaya tidak ingin nanti, kita pasti akan bertemu di berikutnya oh ini tidak disampaikan, kita sudah berjanji seperti ini. tapi kami harus menyampaikan fakta
Pak, dalam sistem hukum kita juga Pak PHK tidak bisa langsung, pasti ada prosesnya kita tahu. Tapi saya ingin menyatakan bahwa kami berusaha memulangkan 25 ekspat karena kita mulai dengan ekspat. Kami mulai cost reduction terhadap jajaran manajemen, dengan mengurangi. Jadi memang banyak sekali prakarsa-prakarsa yang kami lakukan untuk situasi yang sulit yang sedang sama-sama kami geluti. Jadi kami ingin fakta seperti itu kami sampaikan, jadi memang poin kelima ini akan kita tidak ingin seakan-akan nanti jika kemudian nanti kita bertemu Pak Pimpinan, Pak Anggota Dewan kami bagaimana mestinya, tapi kita mencegah itu semua terjadi tapi dalam kenyataannya di lapangan memang semuanya berjalan karena memang sampai dengan hari ini memang tidak ada produksi lagi, sekedar gambaran Pak kondisi lapangan.
Terima kasih Pak.
F-HANURA (MUKHTAR TOMPO, S.Psi):
Pimpinan, saya rapat kita ini sudah lama dan saya menemukan ada niat baik dari pemerintah dan juga dari Freeport. Saya mencoba memahami ini, makanya tidak sering kita membuat kesimpulan pak dengan bahasa ini, sekedar meminta malah biasanya mendesak gitu. jadi jangan ini Pak, saya punya niat baik makanya saya meminta penjelasan itu secara tertulis karena nanti kita pasti rapat internal dan kita juga akan lihat sejauhmana keseriusan dari Menteri ESDM, nanti saya mau lihat pak siapa yang mempermainkan ini masalah gitu. kalau dalam posisi Freeport dengan niat baiknya ini makanya kita membutuhkan poin 5 ini sebagai bukti keseriusan kita bahwa kita punya niat baik ini dan ini juga merespon dari Bapak-bapak semua yang mewakili tanah Papua Pak, mewakili aspirasi masyarakat Papua. Ini respon saya Pak, saya bukan orang Papua, saya bukan dari sana Pak, bukan, tapi saya berbicara ini atas nama semangat nasionalisme, apanya yang, coba Pak, inikan kita batin suara hati Bapak kan sudah dikeluarkan tadi ini. saya hanya mencoba ini merangkai dengan sebuah kalimat dalam bentuk poin 5 ini. memang apanya kira-kira ini, kalau tidak masuk ini berarti saya meragukan niat itu Pak.
Saya kira ini tidak akan berlangsung lama Pak, percayalah dengan menghadirkan Komisi VII di sini dengan kita patuh dengan Undang-undang Minerba yang Pasal 5 ayat (1) tadi Pak, yang Bapak Dirjen juga ya mungkin keliru di situ, tidak melibatkan kita sehingga mengambil keputusan sendiri akhirnya dua-duanya terjebak dengan sebuah masalah baru kita ini. Jadi kalau bukan kita mengambil sikap seperti ini Pak, kasihan masyarakat Papua juga, malam ini juga akan menunggu ini kesimpulan kita.
KOMISARIS PT FREEPORT INDONESIA:
Menanggapi apa yang disampaikan Pak Mukhtar ini, semangat poin 5 ini adalah untuk menyelesaikan situasi di lapangan kan. Tadi disarankan baik sekali
bahwa dari pihak PT Freeport ini segera memberi laporan kepada Komisi VII. Dengan demikian maka sambil menunggu realisasi poin 4, Komisi VII DPR RI meminta PT Freeport Indonesia untuk segera melaporkan kondisi operasional dan ketenagakerjaan termasuk masalah PHK kepada Komisi VII dan langkah-langkah untuk mengatasinya. Kalau itu bisa, maka kami bisa menerima baik poin 5 itu.
Jadi kami ulangi menunggu sambil realisasi dari poin ke-3, ke-4 Komisi VII DPR RI meminta PT Freeport Indonesia untuk segera melaporkan kepada Komisi VII kondisi operasional dan ketenagakerjaan termasuk PHK dan langkah-langkah untuk mengatasinya kepada Komisi VII.
F-PDIP (Ir. H. DARYATMO MARDIYANTO):
Ketua, sebenarnya saya sependapat dengan yang disampaikan Pak Mukhtar Tompo dengan kalimat-kalimat sebelumnya. Argumen-argumen kalau kita ingat tentang yang disampaikan oleh Bu Peggi dan Bapak-bapak, Pak Tony dan Pak Tompo serta argumen-argumen yang disampaikan oleh teman-teman, Saudara-saudara kami di Papua yang berada di Freeport. Saya izin saya juga sangat mencitai Papua, saya selaku Ketua DPP Partai dulu Korwilnya adalah Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, sehingga sangat mencintainya.
Dengan demikian tadi penjelasan tadi juga menggambarkan bahwa bahkan dari orang yang didahulukan, dimasukkan di dalam pengoperasian untuk mengolah sumber daya alam, begitu juga di kalangan sana. Maka kalimat-kalimat yang menggambarkan di poin yang disampaikan tadi yang terakhir Pak Mukhtar Tompo itu adalah menggambarkan gambaran rapat hari ini sungguh-sungguh mempertimbangkan dengan sepenuhnya kondisi-kondisi sana, sehingga sangat menghindari pemutusan hubungan kerja karena kata PHK ini sudah jadi kata publik di dalam beberapa media. Makanya dengan kalimat itukan sebetulnya memperoleh gambaran, sementara kalau tadi prosesnya tadi disampaikan lama yaitu lah memang prosesnya lama, tetapi heading-nya adalah tidak melakukan pemutusan hubungan kerja, heading-nya kan itu, prosesnya sendiri kan lama seandainya itu terjadi.
KETUA RAPAT:
Mohon maaf Pak, kita langsung ke. F-PDIP (Ir. H. DARYATMO MARDIYANTO):
Kalimatnya adalah yang disampaikan Pak Mukhtar Tompo tadi Ketua. F-PAN (H. TOTOK DARYANTO, SE.):
Kalimatnya yang Tompo itu diganti dan Ketua, kata untuk itu diganti dan. KETUA RAPAT:
Coba kita ulang ya sambil menunggu realisasi dari poin ke-4.
Komisi VII DPR RI meminta PT Freeport Indonesia untuk segera melaporkan kondisi operasional dan tenaga kerjaan kepada Komisi VII DPR RI.
F-PAN (H. TOTOK DARYANTO, SE.):
Serta tidak melakukan putusan hubungan kerja. KETUA RAPAT:
Serta tidak melakukan pemutusan hubungan kerja, oke begitu ya.