• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN

5.2 Diskusi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dan terkait dengan perilaku cyberloafing pada aparatur sipil negara atau pegawai negeri sipil di Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, peneliti akan membahas diskusi mengenai delapan independent variable yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu regulasi diri, stres kerja (role ambiguity, role conflict, dan role overload), serta keadilan organisasi (keadilan distributif, keadilan prosedural, keadilan

interpersonal, keadilan informasional) terhadap dependent variable yaitu perilaku cyberloafing dan juga akan membahas penelitian dan literarur terdahulu mengenai kedelapan independent variable yang dikaitkan dengan dependent variable tersebut.

Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari regulasi diri, role ambiguity, role conflict terhadap perilaku cyberloafing, sedangkan role overload tidak memiliki pengaruh terhadap perilaku cyberloafing.

Kemudian pada variabel keadilan organisasi memiliki hanya terdapat satu dimensi yang memiliki pengaruh yang terhadap perilaku cyberloafing yaitu keadilan interpersonal. Sedangkan tiga dimensi lainnya pada keadilan organisasi tidak memiliki pengaruh terhadap perilaku cyberloafing yaitu dimensi keadilan distributif, keadilan prosedural, dan keadilan informasional.

Berdasarkan hasil koefisien regresi pada penelitian ini, variabel regulasi diri memberikan pengaruh yang signifikan dan arahnya negatif terhadap perilaku cyberloafing. Dari arah tersebut dapat diartikan bahwa semakin tinggi tingkat regulasi diri yang dimiliki oleh pegawai maka semakin rendah tingkat perilaku cyberloafing yang muncul pada pegawai tersebut. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Prasad et al (2010); Anugrah et al (2013); Nastasia & Kurniawan (2018) yang menunjukkan bahwa regulasi diri memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku cyberloafing. Regulasi diri dapat mencegah individu berkehendak dalam melakukan perilaku cyberloafing yang dapat mengurangi kinerja dari pelaku cyberloafing. Jika individu lemah dalam meregulasi diri, maka individu tersebut sulit untuk menghindari perilaku cyberloafing. Sebaliknya, jika

individu kuat dalam meregulasi diri, maka individu tersebut kuat dan dapat menghindari perilaku cyberloafing (Anugrah et al, 2013).

Menurut Bandura, individu mempunyai dua macam tujuan atau sasaran yaitu tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Individu akan cepat puas jika tujuan jangka pendeknya telah terpenuhi dan melupakan tujuan jangka panjang (Bandura, dalam Prasad et al, 2010). Namun hal tersebut dapat diatasi apabila individu tetap fokus akan tujuan jangka panjangnya dengan melawan hal-hal yang sifatnya hanya sementara atau jangka pendek yaitu dengan memiliki pengendalian diri atau regulasi diri. Pegawai yang terlibat dalam perilaku cyberloafing, tidak berhasil memusatkan perhatiannya terhadap pekerjaan-pekerjaan yang relevan untuk dikerjakan. Penyebab dari hal tersebut yaitu rendahnya regulasi diri sehingga sulit untuk menolak kesenangan yang sifatnya jangka pendek (perilaku cyberloafing). Akan tetapi, pegawai yang memiliki regulasi diri tinggi, maka dapat menjaga fokusnya dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang relevan dan mampu menghindari perilaku cyberloafing (Prasad et al, 2010).

Kemudian seperti yang telah di jelaskan sebelumnya, variabel role ambiguity dan role conflict memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap perilaku cyberloafing. Artinya, semakin tinggi role ambiguity dan role conflict yang dirasakan individu, maka akan semakin tinggi pula perilaku cyberloafing yang dilakukan oleh pegawai. Stres kerja menjadi salah satu faktor yang menjadi penyebab munculnya perilaku cyberloafing. Hal ini sejalan dengan penelitian (Blanchard & Henle, 2008) yang menyatakan bahwa stres kerja yang terdiri dari tiga dimensi yakni role ambiguity, role conflict, dan role overload memiliki

hubungan positif dan merupakan prediktor perilaku cyberloafing. Dalam penelitian ini, hanya dua dari tiga dimensi stres kerja yang memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku cyberloafing, yaitu role ambiguity dan role conflict.

Role ambiguity memiliki pengaruh yang signifikan dan arahnya terhadap perilaku cyberloafing. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi role ambiguity yang dirasakan individu maka akan semakin tinggi pula perilaku cyberloafing yang dilakukan. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Arshad et al (2016); Tarigan (2015) yang menyatakan bahwa role ambiguity memiliki pengaruh terhadap perilaku cyberloafing. Pegawai merasa bingung terkait pekerjaan yang harus dilakukan, dikarenakan suatu kesenjangan antara jumlah informasi yang dimiliki individu dengan yang dibutuhkannya untuk dapat melaksanakan perannya dengan tepat. Role ambiguity dapat menghalangi individu untuk melakukan tugasnya dan menyebabkan timbulnya perasaan tidak aman dan tidak menentu. Dengan adanya suasana yang tidak menentu ini, individu mengalihkankannya dengan melakukan perilaku cyberloafing, dikarenakan kebingungan mengenai apa yang harus mereka kerjakan (Blanchard & Henle, 2008).

Begitu pula dengan role conflict yang memiliki pengaruh yang signifikan dan arahnya positif terhadap perilaku cyberloafing. Artinya semakin tinggi role conflict yang dirasakan individu maka akan semakin tinggi pula perilaku cyberloafing yang dilakukan. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tarigan (2015) yang menyatakan bahwa role conflict memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku cyberloafing. Role conflict dapat menyebabkan

individu melakukan cyberloafing, hal tersebut dikarenakan individu merasa bingung dengan tuntutan dari beberapa pihak di tempat kerja. Tuntutan tersebut dapat berupa konflik tuntutan kerja dengan pegawai lain, tuntutan workgroups, kebijakan organisasi dan kewajiban kerja. Maka untuk mengalihkan stresor tersebut, pegawai melakukan cyberloafing untuk melupakan stresor, dengan begitu mereka akan lupa dengan stres yang dialaminya (Blanchard & Henle, 2008).

Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Varghese dan Barber (2017) yang menyatakan pegawai yang mengalami tuntutan konflik akan cenderung melakukan cyberloafing di tempat kerja tetapi karyawan merasa aneh apabila melakukan cyberloafing jika pekerjaan mereka belum selesai (low role ambiguity). Penelitian-penelitian sebelumnya (Fisher & Gitelson; Jackson &

Schuler; Tubre & Collins, dalam Henle & Blanchard, 2008) mengindikasikan bahwa role ambiguity dan role conflict mempunyai dampak negatif bagi individu seperti kecelakaan kerja, turnover, ketidakpuasan kerja dan kegelisahan, dan sebagainya. Role ambiguity dan role conflict dalam kaitannya sebagai stres kerja merupakan penyebab terjadinya stress. Stres kerja pada individu dapat disebabkan oleh ketidakjelasan terhadap hal yang harus dikerjakan (role ambiguity) karena tidak adanya pedoman ataupun tujuan yang harus dicapai. Dapat juga disebabkan oleh individu yang mengalami konflik dengan rekan kerjanya, supervisor, ataupun dengan kelompok tempat ia bekerja. Dengan adanya ketidakkonsistenan harapan-harapan berbagai pihak sehingga individu merasa serba salah untuk melakukan

sesuatu, maka dengan adanya stressor tersebut dapat memunculkan perilaku cyberloafing (Kahn et al., 1964 dalam Tarigan, 2015).

Namun, hal ini berbeda dengan role overload, dimana hasil koefisien regresi pada penelitian ini menunjukkan bahwa role overload tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku cyberloafing. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Arshad et al (2016) dimana karakteristik role overload yaitu ketika individu merasakan banyaknya pekerjaan yang harus dikerjakan, atau tidak cukupnya waktu yang tersedia untuk menyelesaikan tugas yang dibebankan, tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku cyberloafing. Namun, hasil tersebut berbanding terbalik dengan penelitian sebelumnya Blanchard & Henle (2008); Herlianto (2012) yang menyebutkan bahwa variabel role overload memiliki hubungan yang signifikan dimana semakin banyaknya tugas yang dikerjakan individu dengan waktu yang singkat maka akan semakin rendah perilaku cyberloafing. Perbedaan sampel penelitian dapat menjadi penyebab perbedaan hasil penelitian ini dengan penelitian terdahulu. Pada penelitian yang dilakukan oleh Blanchard dan Henle (2008); Herlianto (2012) sampel yang digunakan adalah karyawan swasta di sebuah perusahaan yang memiliki banyak tuntutan pekerjaan. Sedangkan peneliti mengambil sampel dari kalangan aparatur sipil negara yang notabene dapat menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu singkat, sehingga tidak terbebani olehnya.

Pada variabel berikutnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa dari empat dimensi keadilan organisasi, hanya keadilan interpersonal yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku cyberloafing, sedangkan tiga dimensi

atau variabel lainnya tidak memiliki pengaruh yang signifikan yaitu keadilan distributif, keadilan prosedural, dan keadilan informasional. Variabel keadilan interpersonal memiliki pengaruh yang signifikan dan arahnya negatif terhadap perilaku cyberloafing. Dari arah tersebut dapat diartikan bahwa semakin tinggi tingkat keadilan interpersonal yang dirasakan oleh pegawai maka semakin rendah tingkat perilaku cyberloafing yang muncul pada pegawai tersebut. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Günay et al (2018) dimana menunjukkan bahwa keadilan interaksional yang merupakan gabungan dari keadilan interpersonal dan keadilan informasional memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku cyberloafing. Kurangnya keadilan interaksional yang dirasakan dapat mempermudah individu untuk merefleksikan sikap yang memunculkan perilaku cyberloafing, terutama saat individu memiliki hubungan yang kaku dan tertutup antara atasan dan pegawai (Günay, Azizoğlu, & Çakar, 2018).

Selanjutnya adalah variabel keadilan distributif yang tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku cyberloafing. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Akin et al (2017) yang mengungkapkan bahwa keadilan distributif tidak berpengaruh dan berkorelasi secara signifikan terhadap perilaku cyberloafing. Menurut Colquitt (2001) keadilan distributif menunjukkan keadilan dalam bentuk keyakinan pegawai bahwa mereka telah menerima penghargaan dari hasil pekerjaan dengan jumlah adil. Variabel keadilan organisasi diharapkan menyumbang pengaruh dengan arah negatif terhadap perilaku cyberloafing.

Namun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan pada keadilan distributif terhadap perilaku cyberloafing pegawai. Hal

tersebut dapat dikarenakan pembagian hasil atau upah pada aparatur sipil negara diberikan sesuai dengan kebijakan dari pusat yang ditetapkan berdasarkan golongan pekerjaannya. Maka dari itu, kinerja pegawai tidak dapat mengubah penetapan hasil tersebut. Sehingga perlakuan adil pada pengalokasian hasil berupa pengalokasian gaji, beban kerja, dan promosi bukanlah prediktor munculnya perilaku cyberloafing.

Kemudian variabel keadilan prosedural juga menunjukkan nilai koefisien regresi yang tidak signifikan terhadap perilaku cyberloafing. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Günay et al (2018) dimana keadilan prosedural tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perilaku cyberloafing. Hal tersebut dapat dikarenakan betuk proses penentuan jumlah imbalan dan proses pembuatan keputusan aparatur sipil negara berdasarkan kebijakan. Maka dari itu, kinerja pegawai tidak dapat mengubah keputusan atau kebijakan yang ada. Sehingga perlakuan adil dalam bentuk keadilan prosedural bukanlah prediktor munculnya perilaku cyberloafing.

Pada variabel keadilan informasional, berdasarkan hasil penelitian variabel ini tidak memberikan pengaruh terhadap perilaku cyberloafing. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Akin et al (2017) yang mengungkapkan bahwa keadilan informasional tidak berpengaruh dan tidak memiliki berkorelasi terhadap perilaku cyberloafing. Pada penelitian ini tinggi atau rendahnya keadilan informasional tidak memberikan pengaruh terhadap perilaku cyberloafing pada pegawai. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perlakuan adil dalam bentuk keadilan prosedural bukanlah prediktor munculnya perilaku cyberloafing. Namun,

keadilan informasional yang dirasakan pegawai merupakan hal penting dalam suatu organisasi. Menurut Colquitt (2001), dengan mengurangi kerahasiaan dan ketidakjujuran, keadilan informasi menandakan jenis kepercayaan yang dapat meningkatkan penilaian status dan harga diri kolektif pegawai.