BAB IV HASIL PENELITIAN
4.4 Hasil Uji Hipotesis Penelitian
Tahap selanjutnya yaitu uji hipotesis yang digunakan untuk mengetahui besar pengaruh independent variable terhadap dependent variable dengan mengunakan teknik analisis multiple regression dan mengunakan software SPSS Statistics 22.
Dalam regresi ada tiga hal yang dilihat, yaitu melihat besaran R-square untuk mengetahui berapa persen (%) varian dependent variable yang dijelaskan oleh independent variable, kedua apakah secara keseluruhan dari independent variable
berpengaruh secara signifikan terhadap dependent variable, kemudian terakhir melihat signifikan atau tidaknya koefisien regresi dari masing-masing independent variable.
Langkah pertama, peneliti melihat besaran R-square untuk mengetahui berapa persen (%) varians dependent variable (perilaku cyberloafing) yang dijelaskan oleh independent variable (regulasi diri, role ambiguity, role conflict, role overload, keadilan distributif, keadilan prosedural, keadilan interpersonal, dan keadilan informasional). Tabel R-square dipaparkan pada tabel 4.5 berikut ini:
Tabel 4.5
Hasil perolehan R-square
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 ,533a ,285 ,259 8,60776
a. Predictors: (Constant), Keadilan informasional, Role ambiguity, Role overload, Keadilan interpersonal, Keadilan distributif, Role conflict, Keadilan prosedural, Regulasi diri
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa perolehan R-square sebesar 0,285 atau 28,5%. Artinya proporsi dari perilaku cyberloafing yang dijelaskan oleh variabel regulasi diri, stres kerja (role ambiguity, role conflict, dan role overload) serta keadilan organisasi (keadilan distributif, keadilan prosedural, keadilan interpersonal, dan keadilan informasional) adalah sebesar 28,5% sedangkan 71,5% sisanya dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian ini.
Langkah kedua adalah menganalisis dampak independent variable (regulasi diri, role ambiguity, role conflict, role overload, keadilan distributif, keadilan prosedural, keadilan interpersonal, dan keadilan informasional) terhadap cyberloafing. Adapun hasil uji F dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut:
Tabel 4.6 Tabel anova
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 6628,950 8 828,619 11,183 ,000b
Residual 16671,050 225 74,094
Total 23300,000 233
a. Dependent Variable: Perilaku cyberloafing
b. Predictors: (Constant), Keadilan informasional, Role ambiguity, Role overload, Keadilan interpersonal, Keadilan distributif, Role conflict, Keadilan prosedural, Regulasi diri
Jika melihat kolom pertama dari kanan pada tabel 4.6 dapat dilihat bahwa nilai Sig. pada kolom paling kanan sebesar 0.000, dengan demikian diketahui bahwa nilai Sig. yang didapat <0.05. Ini berarti hipotesis nihil yang menyatakan tidak ada pengaruh yang signifikan dari variabel regulasi diri, stres kerja (role ambiguity, role conflict, dan role overload) serta keadilan organisasi (keadilan distributif, keadilan prosedural, keadilan interpersonal, dan keadilan informasional) ditolak. Artinya ada pengaruh yang signifikan dari variabel regulasi diri, stres kerja (role ambiguity, role conflict, dan role overload) serta keadilan organisasi (keadilan distributif, keadilan prosedural, keadilan interpersonal, dan keadilan informasional).
Langkah terakhir adalah melihat koefisien regresi pada masing-masing independent variable (regulasi diri, role ambiguity, role conflict, role overload, keadilan distributif, keadilan prosedural, keadilan interpersonal, dan keadilan informasional). Jika Sig. <0.05 maka koefisien regresi yang dihasilkan signifikan pengaruhnya terhadap perilaku cyberloafing, begitupun sebaliknya. Adapun besarnya koefisien regresi dari masing masing independent variable (regulasi diri, role ambiguity, role conflict, role overload, keadilan distributif, keadilan
prosedural, keadilan interpersonal, dan keadilan informasional) terhadap perilaku cyberloafing dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut ini:
Tabel 4.7
Berdasarkan koefisien regresi pada tabel 4.7, dapat disimpulkan persamaan regresi sebagai berikut: perilaku cyberloafing= 16.417 -0.203* self-regulation +0.571* role ambiguity +0.152* role conflict –0.017 role conflict – 0.066 keadilan distributif –0.027 keadilan prosedural –0.171* keadilan interpersonal +0.027 pendidikan. (*signifikan)
Dari tabel koefisien regresi, dapat dijelaskan dari delapan independent variable yang diteliti terdapat empat variabel yang pengaruhnya signifikan (regulasi diri, role ambiguity, role conflict, dan keadilan interpersonal) terhadap perilaku cyberloafing. Sedangkan, variabel lainnya tidak signifikan pengaruhnya (role overload, keadilan distributif, keadilan prosedural, dan keadilan informasional) terhadap perilaku cyberloafing. Penjelasan dari nilai koefisien
regresi yang diperoleh pada masing-masing independent variable adalah sebagai berikut:
1. Nilai koefisien regresi pada variabel regulasi diri sebesar -0,203 dengan nilai sig sebesar 0.029 (sig <0.05), dengan demikian hipotesis nihil yang menyatakan tidak ada pengaruh signifikan dari dimensi regulasi diri terhadap perilaku cyberloafing ditolak. Artinya bahwa regulasi diri memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku cyberloafing. Arah negatif menunjukkan bahwa semakin tinggi regulasi diri maka semakin rendah perilaku cyberloafing. Begitupun sebaliknya, semakin rendah regulasi diri maka semakin tinggi perilaku cyberloafing.
2. Nilai koefisien regresi pada variabel role ambiguity sebesar 0,571 dengan nilai sig sebesar 0.000 (sig <0.05), dengan demikian hipotesis nihil yang menyatakan tidak ada pengaruh signifikan dari dimensi role ambiguity terhadap perilaku cyberloafing ditolak. Artinya bahwa role ambiguity memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku cyberloafing. Arah positif menunjukkan bahwa semakin tinggi role ambiguity maka semakin tinggi perilaku cyberloafing. Begitupun sebaliknya, semakin rendah regulasi diri maka semakin rendah perilaku cyberloafing.
3. Nilai koefisien regresi pada variabel role conflict sebesar 0,152 dengan nilai sig sebesar 0.023 (sig <0.05), dengan demikian hipotesis nihil yang menyatakan tidak ada pengaruh signifikan dari dimensi role conflict terhadap perilaku cyberloafing ditolak. Artinya bahwa role conflict memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku cyberloafing. Arah positif menunjukkan
bahwa semakin tinggi role conflict maka semakin tinggi perilaku cyberloafing. Begitupun sebaliknya, semakin rendah role conflict maka semakin rendah perilaku cyberloafing.
4. Nilai koefisien regresi pada variabel role overload sebesar -0.017 dengan nilai sig sebesar 0.809 (sig > 0.05), dengan demikian hipotesis nihil yang menyatakan tidak ada pengaruh signifikan dari role overload terhadap perilaku cyberloafing diterima. Artinya, bahwa role overload tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku cyberloafing.
5. Nilai koefisien regresi pada variabel keadilan distributif sebesar -0.066 dengan nilai sig sebesar 0.309 (sig > 0.05), dengan demikian hipotesis nihil yang menyatakan tidak ada pengaruh signifikan dari keadilan distributif terhadap perilaku cyberloafing diterima. Artinya, bahwa keadilan distributif tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku cyberloafing.
6. Nilai koefisien regresi pada variabel keadilan prosedural sebesar -0.027 dengan nilai sig sebesar 0.686 (sig > 0.05), dengan demikian hipotesis nihil yang menyatakan tidak ada pengaruh signifikan dari keadilan prosedural terhadap perilaku cyberloafing diterima. Artinya, bahwa keadilan prosedural tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku cyberloafing.
7. Nilai koefisien regresi pada variabel keadilan interpersonal sebesar -0,171 dengan nilai sig sebesar 0.009 (sig <0.05), dengan demikian hipotesis nihil yang menyatakan tidak ada pengaruh signifikan dari dimensi keadilan interpersonal terhadap perilaku cyberloafing ditolak. Artinya bahwa keadilan interpersonal memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku
cyberloafing. Arah negatif menunjukkan bahwa semakin tinggi kecenderungan keadilan interpersonal maka semakin rendah perilaku cyberloafing. Begitupun sebaliknya, semakin rendah kecenderungan keadilan interpersonal maka semakin tinggi perilaku cyberloafing.
8. Nilai koefisien regresi pada variabel keadilan informasional sebesar 0.027 dengan nilai sig sebesar 0.695 (sig > 0.05), dengan demikian hipotesis nihil yang menyatakan tidak ada pengaruh signifikan dari keadilan informasional terhadap perilaku cyberloafing diterima. Artinya, bahwa keadilan informasional tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku cyberloafing.
Berdasarkan hasil yang ditemukan, maka hipotesis minor yang diterima hanya ada empat yang memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku cyberloafing yaitu, regulasi diri terhadap perilaku cyberloafing, role ambiguity terhadap perilaku cyberloafing, role conflict terhadap perilaku cyberloafing, dan keadilan interpersonal terhadap perilaku cyberloafing. Sementara hipotesis minor lainnya terkait pengaruh role overload, keadilan distributif, keadilan prosedural, dan keadilan informasional tidak diterima.