BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS
G. Pelajaran Dari Hasil Kajian
1. Pada tahap pertama penerima bantuan iuran Jamsonaker diberikan kepada BPU Mandiri untuk program JKK dan JKM. Dalam rangka stimulus untuk pengembangan dan perluasan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan diberikan kepada BPU Kemitraan dan PPU Mikro, maka dibuat skema subsidi parsial /matching defined contribution (MDC) program JHT dengan syarat sudah terdaftar pada program JKK dan JKM.
2. Penetapan kriteria pekerja miskin dan tidak mampu yang akan didaftarkan sebagai Peserta PBI Jaminan Sosial Ketenagakerjaan mengacu pada DTKS PBI JKN melalui modifikasi dengan memasukkan indikator ketenagakerjaan, sehingga dapat dipilah dari data Fakir Miskin dan Orang Tidak Mampu didapatkan data pekerja miskin (BPU mandiri) dan data pekerja tidak mampu (BPU Kemitraan dan PPU usaha mikro).
3. Kebutuhan anggaran untuk iuran PBI JKK dan JKM ditentukan oleh 2 variabel, yaitu jumlah Peserta PBI dan besaran iuran. Perkiraan jumlah Peserta PBI dihitung menggunakan DTKS dengan beberapa asumsi. Sedangkan besaran iuran JKK dan JKM disamakan dengan iuran segmen BPU sebesar Rp 16.800, dan iuran JHT disamakan dengan iuran segmen BPU sebesar Rp 20.000.
4. Dalam praktek penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan, Peserta PBI JKN didaftarkan oleh Menteri Kesehatan kepada BPJS Kesehatan. Hal ini karena Menteri Kesehatan adalah yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan urusan Pemerintah di bidang kesehatan.
Anggaran untuk iuran PBI Jaminan Kesehatan juga menggunakan APBN yang dialokasikan pada Kementerian Kesehatan. Berangkat dari yurisprudensi ini, maka dalam regulasi PBI Jaminan Sosial Ketenagakerjaan dapat diatur bahwa Menteri Ketenagakerjaan mendaftarkan Peserta PBI Jaminan Sosial Ketenagakerjaan kepada BPJS Ketenagakerjaan. Demikian juga dengan alokasi anggaran untuk iuran Jaminan Sosial Ketenagakerjaan berasal dari APBN yang dialokasikan pada Kementerian Ketenakerjaan.
5. Belajar pada penyelenggaraan Program JKK, JKM, dan JHT yang diselenggarakan oleh BPJS Ketenagakerjaan, tidak ada perbedaan manfaat antara PPU dengan PBPU. Oleh karena itu manfaat bagi Peserta PBI Jaminan Sosial Ketenagakerjaan tidak memerlukan pengaturan tersendiri, cukup mengacu pada regulasi yang sudah ada.
A. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG DIJADIKAN OBJEK ANALISIS DAN EVALUASI
Sesuai dengan kaidah umum kajian dan analisis regulasi perundang-undangan, dalam kajian ini dilakukan analisis dan evaluasi peraturan perundang-undangan terkait dengan penyelenggaraan Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian, Jaminan Kesehatan dan Penerima bantuan iuran Program Jaminan Sosial. Peraturan yang dijadikan obyek analisis dan evaluasi meliputi:
(1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.
(2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.
(3) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
(4) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam.
(5) Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2012 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2015 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2012 tentang Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan.
(6) Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian.
(7) Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Hari Tua.
(8) Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2013 tentang Penahapan Kepesertaan Program Jaminan Sosial.
(9) Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan.
Analisis dan evluasi ini dimaksudkan untuk dapat menjawab atas persoalan yang dirasakan, dengan memberikan masukan terhadap pembentukan materi-materi hukum yang akan diusulkan khususnya mengenai perluasan kepesertaan PBI pada program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, sehingga sesuai dengan kebutuhan masyarakat luas dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Mahfud MD bahwa politik hukum bagi Indonesia baik yang telah ataupun yang akan dilaksanakan meliputi:39
a. Pembangunan hukum yang berintikan pembuatan dan pembaharuan terhadap materi-materi hukum agar dapat sesuai dengan kebutuhan; dan
b. Pelaksanaan ketentuan hukum yang telah ada termasuk penegasan fungsi lembaga dan pembinaan para penegak hukum.
39 Moh. Mahfud,MD, Pergulatan Politik dan Hukum di Indonesia (Yogyakarta: Gama Media, 1999), hlm. 9.
ANALISA DAN EVALUASI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT
III BAB
Keberhasilan penyelenggaraan sistem jaminan sosial di Indonesia bergantung pada ketersediaan peraturan yang harmonis, konsisten dan dilaksanakan secara efektif sesuai dengan Pancasila dan UUD NRI 1945. Kemauan politik yang kuat dari Pemerintah dan komitmen pemangku kepentingan untuk mewujudkan Indonesia yang sejahtera masyarakatnya, setidaknya tercermin dari kesungguhan menyelesaikan agenda-agenda regulasi yang menjamin hak dasar serta memenuhi rasa keadilan masyarakat.
Peraturan perundangan-undangan terkait jaminan sosial yang efektif akan berdampak pada kepercayaan dan dukungan publik akan penyelenggaraan sistem jaminan sosial nasional salah satunya untuk menyelesaikan beberapa persoalan yang disebut pada bab sebelumya. Upaya sinkronisasi peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai penyelenggaraan sistem jaminan sosial dan penataan kembali penyelenggaraan program jaminan sosial dimaksudkan agar sesuai dengan prinsip-prinsip jaminan sosial yang universal, sebagaimana diatur dalam Konstitusi.
B. ANALISIS DAN EVALUASI
Analisis dan Evaluasi peraturan perundangan yang terkait dikelompokkan berdasarkan aspek pembahasan yang meliputi:
(1) Kepesertaan dalam Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian.
(2) Dasar Penetapan Iuran.
(3) Cakupan Manfaat.
(4) Perlindungan Kecelakaan Kerja dan Kehilangan Jiwa (5) Peraturan Pelaksanaan.
Pengelompokan sebagaimana tersebut diatas dilakukan karena setiap aspek dapat diatur pada beberapa peraturan yang akan dianalisa dan dievaluasi, sehingga dapat dianalisa keterkaitan antara satu regulasi dengan regulasi lainnya. Adapun analisa sebagaimana dimaksud adalah sebagaimana berikut:
1. Kepesertaan Dalam Program Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian, dan Jaminan Hari Tua
Salah satu prinsip penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang dimuat dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU SJSN) adalah prinsip kepesertaan bersifat wajib. Prinsip kepesertaan wajib untuk Jaminan Sosial bidang ketenagakerjaan mengandung makna bahwa program ini wajib diikuti oleh seluruh pekerja, baik pekerja yang menerima upah ataupun pekerja yang bukan penerima upah (pekerja mandiri), baik yang bekerja di sektor formal maupun yang di sektor informal.
Sistem jaminan sosial secara garis besar mengikuti dua metode, yaitu asuransi sosial (sosial insurance) dan bantuan sosial (sosial assistance). Asuransi sosial adalah jaminan sosial yang diberikan kepada para peserta asuransi berdasarkan premi yang dibayarkannya. Sistem asuransi kesehatan dan pensiun adalah dua bentuk asuransi sosial yang umum diterapkan di banyak negara. Bantuan sosial adalah jaminan sosial yang umumnya diberikan kepada kelompok lemah dalam masyarakat yang meskipun tidak membayar premi tetapi dapat memperoleh tunjangan pendapatan atau pelayanan sosial dari negara. Program-program kesejahteraan sosial bagi anak-anak, penyandang cacat, lanjut usia merupakan beberapa contoh bantuan sosial.Baik jaminan sosial yang berbentuk asuransi sosial maupun bantuan sosial, secara umum dikelola dengan mengikuti strategi dasar di bawah ini:
(1) Universal dan selektifitas. Jaminan sosial yang bersifat universal diberikan secara menyeluruh kepada semua warga negara. Sedangkan jaminan sosial selektifitas hanya diberikan kepada kelompok tertentu saja melalui pentargetan (selektifitas), misalnya kelompok miskin; dan
(2) In-cash dan in-kind. In-cash menunjuk pada jenis manfaat atau tunjangan dalam jaminan sosial yang diberikan dalam bentuk uang (income transfer). Sedangkan in-kind adalah jenis manfaat jaminan sosial yang berbentuk barang atau pelayanan sosial (benefits in kind).
Dalam penjelasan umum UU SJSN dinyatakan bahwa penerapan kepesertaan bersifat wajib disesuaikan dengan kemampuan ekonomi rakyat dan pemerintah. Tahapan pertama dimulai dari pekerja di sektor formal bersamaan dengan itu sektor informal dapat menjadi peserta secara suka rela. Penyesuaian dengan kemampuan ekonomi rakyat dalam hal ini karena biaya untuk penyelenggaraan Program Jaminan Sosial bersumber dari iuran yang harus dibayarkan oleh Peserta. Kemampuan ekonomi Pemerintah dalam hal karena ada kewajiban Pemerintah untuk mendaftarkan dan membayarkan iuran Program Jaminan Sosial bagi Fakir Miskin dan Orang Tidak Mampu. Sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 14 UU SJSN sebagai berikut:
(1) Pemerintah secara bertahap mendaftarkan penerima bantuan iuran sebagai peserta kepada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
(2) Penerima bantuan iuran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah fakir miskin dan orang tidak mampu.
Ketentuan ini juga diperkuat dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (UU BPJS). Ketentuannya dimuat dalam Pasal 18 sebagai berikut:
(1) Pemerintah mendaftarkan penerima Bantuan Iuran dan anggota keluarganya sebagai Peserta kepada BPJS.
(2) Penerima Bantuan Iuran wajib memberikan data mengenai diri sendiri dan anggota keluarganya secara lengkap dan benar kepada Pemerintah untuk disampaikan kepada BPJS.
Pendaftaran anggota keluarga sebagai PBI sebagaimana pada ayat (1) diatas adalah untuk Program Jaminan Kesehatan, karena Program Jaminan Kesehatan wajib bagi seluruh penduduk termasuk anggota keluarga Peserta. Untuk Program Jaminan Sosial bidang Ketenagakerjaan, dalam hal ini adalah Program Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian, dan Jaminan Hari Tua yang didaftarkan sebagai PBI hanya pekerja. Namun pekerja PBI tersebut tetap wajib memberikan data anggota keluarga. Data keluarga dibutuhkan untuk menentukan ahli waris yang berhak atas manfaat Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian berupa santunan uang tunai jika Peserta PBI JKK dan JKM meninggal dunia.
Terkait dengan kewajiban pembayaran iuran ditetapkan dalam Pasal 17 sebagai berikut:
1. Setiap peserta wajib membayar iuran yang besarnya ditetapkan berdasarkan persentase dari upah atau suatu jumlah nominal tertentu.
2. Setiap pemberi kerja wajib memungut iuran dari pekerjanya, menambahkan iuran yang menjadi kewajibannya dan membayarkan iuran tersebut kepada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial secara berkala.
3. Besarnya iuran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan untuk setiap jenis program secara berkala sesuai degan perkembangan sosial, ekonomi dan kebutuhan dasar hidup yang layak.
4. Iuran program jaminan sosial bagi fakir miskin dan orang yang tidak mampu dibayar oleh Pemerintah.
5. Pada tahap pertama, iuran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dibayar oleh Pemerintah untuk program jaminan kesehatan.
6. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
Ketentuan dalam Pasal 17 ayat (5) sebagaimana tersebut diatas menunjukkan bahwa penerima bantuan iuran Program Jaminan Sosial oleh Pemerintah kepada Fakir Miskin dan Orang tidak mampu bisa juga untuk Program Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian, dan program Jaminan Hari Tua. Hanya pelaksanaanya setelah tahap untuk Program Jaminan Kesehatan dilakukan.
Pendaftaran dan penerima bantuan iuran bagi Fakir Miskin dan Orang Tidak Mampu untuk Program Jaminan Kesehatan telah dilaksanakan sejak awal beroperasinya BPJS Kesehatan menyelenggarakan Program Jaminan Kesehatan pada tanggal 1 Januari 2014. Sebagaimana telah diuraikan dalam sub bab Kajian Praktik Empiris, bahwa pelayanan kesehatan pada kasus dugaan kecelakaan kerja bagi Peserta JKN selain PPU yang tidak menjadi Peserta Program JKK, dijamin oleh BPJS Kesehatan. Disatu sisi pengaturan ini dapat melindungi pekerja yang mengalami kecelakaan kerja, namun disisi lain hal ini membebani keuangan BPJS Kesehatan yang tidak seharusnya terjadi. Oleh karena itu sangat urgen jika tahap berikutnya penerima bantuan iuran untuk Program Jaminan Kecelakaan Kerja. Selain itu juga pekerja miskin dan tidak mampu yang pada umumnya bekerja di sektor informal sangat rentan dan berisiko mengalami kecelakaan kerja karena tidak menggunakan alat pelindung kecelakaan kerja dalam melaksanakan pekerjaan.
Jaminan sosial dalam paradigma sosialis demokrat muncul disebabkan adanya kemiskinan struktural. Kemiskinan lebih dikarenakan adanya ketidakadilan dan ketimpangan dalam masyarakat, maka peran negara dalam pendekatan ini cukup penting terutama dalam merumuskan strategi untuk menanggulangi kemiskinan. Namun demikian, jaminan sosial kerap meliputi pula berbagai skema peningkatan akses terhadap pelayanan sosial dasar, seperti perawatan kesehatan, pendidikan, dan perumahan.40 Jaminan sosial yang berbentuk tunjangan pendapatan dapat disebut benefits in cash, sedangkan yang berwujud bantuan barang atau pelayanan sosial sering disebut benefits in kind.41 Bagi pendekatan ini kemiskinan harus ditangani secara institusional (melembaga), salah satunya melalui program jaminan sosial dengan penerima bantuan iuran yang merata dalam semua program bagi masyarakat fakir miskin dan tidak mampu.
Urgensi penerima bantuan iuran untuk Program Jaminan Kematian terkait dengan pengaturan dalam Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2013 tentang Penahapan Kepesertaan Program Jaminan Sosial. Dalam Pasal 6 ayat (3) diatur bahwa usaha mikro wajib mengikuti Program Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian dan Jaminan Hari Tu . Usaha mikro menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah adalah “Usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro”. Kriteria usaha mikro ditetapkan dalam 40 Huttman, 1981; Gilbert dan Specht, 1986; Cheyne, O’Brien dan Belgrave, 1998, dalam Edy Suharto.
41 Shannon, 1991; Hill, 1996; MHLW, 1999, dalam Edy Suharto.
Pasal 6 ayat (1) yaitu: “memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.000,000,- (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha”.
Ketentuan sebagaimana tersebut diatas menunjukkan bahwa usaha mikro ada yang milik perorangan dan tidak berbadan hukum. Artinya usaha ini merupakan sektor informal dimana kebanyakan pekerja miskin bekerja pada sektor ini. Dengan demikian Program Jaminan Kematian yang sifatnya wajib diikuti oleh usaha mikro juga merupakan Program Jaminan Sosial bidang Ketenagakerjaan yang harus dijadikan prioritas setelah Program Jaminan Kesehatan untuk diberikan bantuan iuran.
Konsep PBI pada program JKK, JKM dan JHT di atas dimaksudkan untuk terpenuhinya jaminan sosial bagi masyarakat Indonesia yang adil dan merata tanpa membedakan antar golongan dan kelompok masyarakat tertentu. Pelayanan kesehatan, harus dilaksanakan secara menyeluruh kepada seluruh lapisan masyarakat dengan memperhatikan prinsip dasar pembangunan kesehatan yang pada hakekatnya memberi pelayanan kesehatan yang setinggi-tingginya, tanpa memandang suku, golongan, agama, dan status sosial ekonominya.42
Sehingga perlu dilakukan usaha pembaharuan hukum, sebagai salah satu bentuk pelaksanaan fungsi pelayanan publik oleh pemerintah, sebagaimana yang diamanatkan dalam konsideran Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik “bahwa negara berkewajiban melayani setiap warga negara dan penduduk untuk memenuhi hak dan kebutuhan dasarnya dalam kerangka pelayanan publik yang merupakan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta membangun kepercayaan masyarakat atas pelayanan publik yang dilakukan penyelenggara pelayanan publik merupakan kegiatan yang harus dilakukan seiring dengan harapan dan tuntutan seluruh warga negara dan penduduk tentang peningkatan pelayanan publik”.
2. Dasar Penetapan Iuran Program JKK dan JKM
Ketentuan tentang iuran Program JKK dimuat dalam Pasal 34 UU SJSN sebagai berikut:
a. Besarnya iuran jaminan kecelakaan kerja adalah sebesar persentase tertentu dari upah atau penghasilan yang ditanggung seluruhnya oleh pemberi kerja.
b. Besarnya iuran jaminan kecelakaan kerja untuk peserta yang tidak menerima upah adalah jumlah nominal yang ditetapkan secara berkala oleh Pemerintah.
c. Besarnya iuran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bervariasi untuk setiap kelompok pekerja sesuai dengan risiko lingkungan kerja.
d. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah.
Sedangkan untuk iuran Program JKM dimuat dalam Pasal 46 sebagai berikut:
1. Iuran jaminan kematian ditanggung oleh pemberi kerja.
2. Besarnya iuran jaminan kematian bagi peserta penerima upah ditentukan berdasarkan persentase tertentu dari upah atau penghasilan.
3. Besarnya iuran jaminan kematian bagi peserta bukan penerima upah ditentukan berdasarkan jumlah nominal tertentu dibayar oleh peserta.
4. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah.
42 Hapsara Habib Rachmat, Pembangunan Kesehatan di Indonesia, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2004, hlm. 11.
Tidak ada ketentuan dalam UU SJSN tentang iuran bagi Peserta PBI untuk Program JKK dan JKM. Hal ini berbeda dengan Program Jaminan Kesehatan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 27 UU SJSN sebagai berikut:
a. Besarnya jaminan kesehatan untuk peserta penerima upah ditentukan berdasarkan persentase dari upah sampai batas tertentu, yang secara bertahap ditanggung bersama oleh pekerja dan pemberi kerja.
b. Besarnya iuran jaminan kesehatan untuk peserta yang tidak menerima upah ditentukan berdasarkan nominal yang ditinjau secara berkala.
c. Besarnya iuran jaminan kesehatan untuk penerima bantuan iuran ditentukan berdasarkan nominal yang ditetapkan secara berkala.
d. Batas upah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditinjau secara berkala.
e. Besarnya iuran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3), serta batas upah sebagaimana pada ayat (4) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Presiden.
Pada ayat (3) sebagaimana tersebut diatas ditetapkan bahwa besarnya iuran jaminan kesehatan untuk PBI ditentukan berdasarkan nominal yang ditetapkan secara berkala.
Besaran iuran Jaminan Kesehatan termasuk untuk PBI ditetapkan dalam Peraturan Presiden sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 5.
Karena tidak ada ketentuan tentang dasar penetapan iuran PBI untuk Program JKK dan JKM, pada dasarnya Pemerintah tidak terikat dalam menentukan dasar penetapan iuran, apakah berdasarkan prosentase dari upah (untuk pekerja miskin dan tidak mampu yang bekerja dengan menerima upah) dan berdasarkan jumlah nominal (untuk pekerja miskin dan tidak mampu yang bekerja secara mandiri/tidak menerima upah). Namun juga tidak salah jika Pemerintah menetapkan iuran PBI berdasarkan jumlah nominal untuk seluruh Peserta PBI, baik yang menerima upah maupun yang tidak menerima upah.
Sebagai pelaksanaan dari amanat Pasal 34 ayat (4) dan Pasal 46 ayat (4), Pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian. Besaran iuran JKK untuk PPU bervariasi sesuai dengan tingkat risiko lingkungan kerja, mulai dari tingkat risiko sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, hingga tingkat risiko sangat tinggi. Semakin tinggi tingkat risiko lingkungan kerja, maka prosentase iuran terhadap upah juga semakin tinggi. Pengaturan ini dimuat dalam Pasal 16 ayat (1). Sedangkan iuran JKK bagi PBPU sebagaimana dalam Lampiran II juga bervariasi sesuai dengan tingkat penghasilan yang dijadikan dasar dalam perhitungan manfaat. Semakin tinggi penghasilan yang dijadikan dasar dalam perhitungan manfaat, maka iuran juga semakin tinggi. Tingkat penghasilan yang dijadikan dasar dalam penghitungan manfaat mulai dari Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) yaitu untuk pekerja yang berpenghasilan sampai dengan Rp. 1.099.000,- (satu juta sembilan puluh sembilan ribu rupiah). Besaran iuran untuk pekerja dengan tingkat penghasilan ini adalah sebesar Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah). Iuran JKK bagi PBPU yang tertinggi adalah sebesar Rp. 207.000.000,- (dua ratus tujuh ribu rupiah). Iuran ini diberlakukan bagi PBPU yang berpengahsilan sebesar Rp. 20.200.000,- (dua puluh juta dua ratus ribu rupiah) atau lebih, dengan tingkat penghasilan yang dijadikan sebagai dasar perhitunga manfaat adalah sebesar Rp. 20.700.000,- (dua puluh juta tujuh ratus ribu rupiah).
Dari pengaturan diatas terlihat bahwa besaran iuran berkorelasi positif dengan tingkat penghasilan. Hal ini sangat rasional, tingkat penghasilan merupakan variabel dalam perhitungan manfaat santunan uang tunai, sehingga semakin besar iurannya maka santunan uang tunai juga semakin besar, baik santuna cacat maupun santuan kematian akibat kecelakaan kerja.
Iuran JKM untuk PPU diatur dalam Pasal 18 yaitu sebesar 0,30% (nol koma tiga puluh persen) dari upah sebulan. Sementara untuk PBPU diatur dalam Pasal 20 ayat (3) yaitu sebesar Rp.6.800,- (enam ribu delapan ratus rupiah).
Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian hanya mengatur iuran JKK dan JKM untuk PPU dan PBPU. Peraturan pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan juga mengatur besaran iuran bagi Peserta PBI, karena memang diamanatkan dalam Pasal 27 UU SJSN, bahwa besaran iuran PBI Jaminan Kesehatan termasuk yang harus diatur lebih lanjut dalam Peraturan Presiden. Hal ini berbeda dengan ketentuan dalam Pasal 34 yang hanya mengamanatkan pengaturan iuran JKK untuk PPU dan PBPU dan Pasal 46 yang juga hanya mengamanatkan pengaturan iuran JKM untuk PPU dan PBPU.
3. Dasar Penetapan Iuran JHT
Berdasarkan pasal 16 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2015 besaran iuran program jaminan hari tua adalah 5.7% dari upah, dengan ketentuan 2% ditanggung oleh pekerja dan 3,7% ditanggung oleh pemberi kerja. Sedangkan iuran bagi pekerja bukan penerima upah (PBPU) dalam pasal 18 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2015 diatur bahwa iuran bagi pekerja bukan penerima upah didasarkan pada jumlah nominal tertentu.
Adapun iuran JHT bagi pekerja bukan penerima upah sebagai berikut:
Tabel 23 tabel iuran jht
Penghasilan Dasar Upah untuk
Iuran JHT Iuran Jht
Sampai dengan 1.099.000 1.000.000 20.000
1.100.000 - 1.299.000 1.200.000 24.000
1.300.000 - 1.499.000 1.400.000 28.000
1.500.000 - 1.699.000 1.600.000 32.000
1.700.000 - 1.899.000 1.800.000 36.000
1.900.000 - 2.099.000 2.000.000 40.000
2.100.000 - 2.299.000 2.200.000 44.000
2.300.000 - 2.499.000 2.400.000 48.000
2.500.000 - 2.699.000 2.600.000 52.000
2.700.000 - 3.199.000 2.950.000 59.000
3.200.000 - 3.699.000 3.450.000 69.000
3.700.000 - 4.199.000 3.950.000 79.000
4.200.000 - 4.699.000 4.450.000 89.000
4.700.000 - 5.199.000 4.950.000 99.000
5.200.000 - 5.699.000 5.450.000 109.000
5.700.000 - 6.199.000 5.950.000 119.000
6.200.000 - 6.699.000 6.450.000 129.000
6.700.000 - 7.199.000 6.950.000 139.000
7.200.000 - 7.699.000 7.450.000 149.000
7.700.000 - 8.199.000 7.950.000 159.000
8.200.000 - 9.199.000 8.700.000 174.000
9.200.000 - 10.199.000 9.700.000 194.000
10.200.000 - 11.199.000 10.700.000 214.000
11.200.000 - 12.199.000 11.700.000 234.000
12.200.000 - 13.199.000 12.700.000 254.000
13.200.000 - 14.199.000 13.700.000 274.000
14.200.000 - 15.199.000 14.700.000 294.000
15.200.000 - 16.199.000 15.700.000 314.000
16.200.000 - 17.199.000 16.700.000 334.000
17.200.000 - 18.199.000 17.700.000 354.000
18.200.000 - 19.199.000 18.700.000 374.000
19.200.000 - 20.199.000 19.700.000 394.000
20.200.000 dan seterusnya 20.700.000 414.000
PBI untuk program JHT diberikan bantuan iuran Rp 20.000 berdasarkan batas atas upah terndah.
4. Cakupan Manfaat Program JKK dan JKM
Ketentuan pokok tentang manfaat Program JKK dimuat dalam Pasal 31 dan Pasal 32 UU SJSN sebagai berikut:
Pasal 31
(1) Peserta yang mengalami kecelakaan kerja berhak mendapatkan manfaat berupa pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medisnya dan mendapatkan manfaat berupa uang tunai apabila terjadi cacat total tetap atau meninggal dunia.
(2) Manfaat jaminan kecelakaan kerja yang berupa uang tunai diberikan sekaligus kepada ahli waris pekerja yang meninggal dunia atau pekerja yang cacat sesuai dengan tingkat kecacatan.
(3) Untuk jenis-jenis pelayanan tertentu atau kecelakaan tertentu, pemberi kerja dikenakan urun biaya.
Pasal 32
a. Manfaat jaminan kecelakaan kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) diberikan pada fasilitas kesehatan milik Pemerintah atau swasta yang memenuhi syarat dan menjalin kerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
b. Dalam keadaan darurat, pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberkan pada fasilitas kesehatan yang tidak menjalin kerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
c. Dalam hal kecelakaan kerja terjadi disuatu daerah yang belum tersedia fasilitas kesehatan yang memenuhi syarat, maka guna memenuhi kebutuhan medis bagi peserta, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial wajib memberikan kompensasi.