• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV MODEL IMPLEMENTASI NILAI-NILAI KONTRA

A. Doktrin yang dikembangkan Pesantren

Menurut Ahmad Damanhuri bahwa “Model Implentasi nilai-nilai kontra radikalisme dan intoleransi sangat penting diterapkan dipondok pesantren Al-Karimiyah, pondok pesantren tidak mengajarkan dan mengamalkan kepada santri tentang nilai-nilai radikalisme dan intoleransi. Pendidikan Pondok pesantren Al-Karimiyah berfaham Ahlussunnah Waljama’ah yang mengajarkan kepada para santrinya untuk bertoleransi, bersikap mengambil jalan tengah atau keseimbangan dengan tujuan untuk menangkal ajaran intoleransi dan radikalisme agama.” (Wawancara dengan Pimpinan Pesantren Al-Karimiyah yaitu Ahmad Damanhuri pada tanggal 05 Mei 2021)

Ciri faham Ahlussunah waljamaah meliputi watak moderat (tawassuth) i’tidal (bersikap adil), tawazun (bersikap seimbang), dan tasamuh (bersikap toleran), sehingga ia menolak segala bentuk tindakan dan pemikiran yag ekstrem (tatharruf) yang dapat melahirkan penyimpangan dan penyelewengan dari ajaran Islam. Dalam pemikiran keagamaan, juga dikembangkan keseimbangan (jalan tengah) antara penggunaan wahyu (naqliyah) dan rasio (‘aqliyah) sehingga dimungkinkan dapat terjadi akomodatif terhadap perubahan- perubahan di masyarakat sepanjang tidak melawan doktrin-doktrin yang dogmatis. Masih sebagai konsekuensinya terhadap sikap moderat, Ahlussunah waljamaah juga memiliki sikap-sikap yang lebih toleran terhadap tradisi dibanding dengan paham kelompok-kelompok Islam lainnya. Bagi Ahlussunah, mempertahankan tradisi memiliki makna penting dalam kehidupan keagamaan. Suatu tradisi tidak langsung dihapus seluruhnya, juga tidak diterima seluruhnya, tetapi berusaha secara bertahap di-Islamisasi.

(Zamakhsyari Dhofier, 1994)

Pemikirian Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah merupakan konsep penggabungan tiga disiplin ilmu agama dan dijalankan secara bersamaan sesuai dengan disiplin ilmu itu sendiri yaitu ilmu fiqih, ilmu akhlak tasawuf dan ilmu aqidah atau tauhid. Cara berfikir atau sudut pandang mansuia dalam memehami keilmuan bisa dilihat dari tiga disiplin ilmu tersebut.

Konsep ideologi atau faham yang diterapkan dipondok pesantren Al-Karimiyah adalah Pertama, Tawasuth yaitu berfikir moderat, mengambil jalan tengah, tidak ektrem kiri dan ekstrem kanan, berargumentasi menggunakan dalil naqli dan aqlli, sebab Sama Perspektif memastikan sama output Kedua, Tawazun, menanamkan konsep keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Ketiga, Tasamuh (Bertoleransi) artinya perbedaan merupakan sunatullah dan rahmat bagi manusia, dengan perbedaan para santri dituntut untuk saling mengohmati, sopan santun, menghargai orang lain dan Keempat, Tabayyun yaitu mencari informasi dengan baik, valid dan benar kepada sumber yang ahlinya, dengan demikian pemahaman yang beredar seperti hoax dapat diklarifikasikan dengan nilai tabayyun, yang Kelima, Nilai Budaya Islam Nusantara untuk menumbuhkan nasionalisme cinta tanah air.

Dalam mendidik santri di bidang Ibadah, pondok pesantren Al-Karimiyah memilih Madzhab Syafi’i sebagai amaliah sehari-hari. Di bidang Teologi memilih Ash’ariyyah Maturidiyyah. Meskipun begitu, pondok pesantren Al-Karimiyah tetap mengembangkan pengetahuan perbandingan madzhab. Sedangkan dalam bermu’amalah tidak hanya merujuk pada Madzhab Syafi’i melainkan juga Madzhab Hanafi, Maliki maupun Hambali. Melalui luasnya pemahaman/cara pandang dibidang fiqh yang bersumber dari beragam madzhab tersebut mampu berimplikasi pada santri untuk bersikap moderat, tidak mudah menjustifikasi, tidak mendiskriminasi dan tidak mendiskreditkan.

Menurut Ahmad Damanhuri bahwa “Pondok pesantren harus selektif dalam memilih organisasi yang dijadikan sebagai asimiliasi ideologinya. Dalam sejarah Indonesia ada 2 organisasi besar yang sudah tidak diragukan lagi dalam pemahaman NKRI yaitu NU dan Muhammadiyah. Masyarakat juga harus berhati-hati dalam memahami nasinolisme dengan agama. Para pemerintah hendaknya bertanya/ berkonsultasi kepada para ahlinya/ ulama dalam menentukan kebijakan yang berkaitan dengan agama. Mereka diberikan pelajaran pelajaran agama yang membawa kepada kemaslahatan. Negara-negara yang ada sekarang ini tidak perlu

mengatasnamakan Islam, cukup dengan nama Indonesia. Mereka yang mengatasnamakan Islam tetapi tidak mengamalkan Islam.

Negara Indonesia ini sudah menanamkan nilai-nilai keislaman, pemerintah memberikan fasilitasi kepada agama melalui kementrian-kementrian yang dibentuk oleh pemerintah yang mengatur urusan syariat agama bagi rakyatnya. Para pendiri agama lebih cerdas dalam memberikan nama untuk negara yaitu Indonesia.

(Wawancara dengan Pimpinan Pesantren Al-Karimiyah yaitu Ahmad Damanhuri pada tanggal 05 Mei 2021)

Sikap yang kontra radikal dan intoleran selalu beriringan dengan pendidikan pondok pesantren. pondok pesantren Al-Karimiyah memahami bahwa penanaman nilai-nilai kontra radikalisme dan intoleransi melalui pendidikan pondok pesantren sebagai sebuah usaha/langkah/kegiatan dalam membina/mendidik manusia agar memiliki wawasan yang luas, holistik dan integratif, cerdas, berketerampilan yang cakap, kreatif, bertoleransi tinggi dan menebarkan kasih sayang dengan tidak melakukan diskriminasi terhadap perbedaan latar belakang baik agama, ras, suku, bangsa, status sosial, aliran keagamaan dan aliran politik serta selalu bersikap inklusif.

Oleh sebab itu ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah dianggap sesuai untuk menghadadapi keberagaman yang ada di Indonesia. Karena dalam ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah terdapat nilai-nilai Tawasuth (moderat), Tawazun (seimbang), Tasamuh (toleran), I’tidal (tegak lurus).

Ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah di Indonesia di wadahi oleh organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang berdiri pada tanggal 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H) yang di pimpin oleh KH Hasyim Asy’ari. Diantara faktor yang melatar belakangi berdirinya NU adalah perkembangan dan pembaharuan pemikiran islam yang menghendaki pelarangan amaliah ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah. Untuk itu NU sebagai organisasi yang mewadahi ajaran Islam Ahlussunnah Wal jama’ah memiliki semboyan Al-muhafadhoh ‘ala al-qodim sholih wa al-akhdzu bi al-jadid al ashlah (Menjaga tradisi lama yang baik & mengambil tradisi baru yang lebih baik)

Nahdlatul Ulama adalah bagian dari gerakan yang berupaya mensetimbangkan kembali ketiga visi islam dengan berpijak pada gerakan kultural. Visi kultural NU mampu menyematkan tradisi moderasi dan toleransi umat islam. Dalam konteks hubungan agama vis a vis negara, alur pemikiran keislaman NU bersifat akomodatif. Artinya negara NKRI tidaklah bertentangan dengan misi profetis islam. NU sendiri merupakan satu-satunya organisasi islam yang pertama yang menyatakan bahwa

pancasiala sebagai dasar negara, tidak bertentangan dengan agama islam dan tidak menjadi agama baru bagi manusia. (Said Aqil Siraj, 2004)

Menurut Ahmad Damanhuri bahwa “Bagi saya, UUD 1945 kita mau menjalani agama sudah cukup, kalau mau mengganti siapa yang menggantikannya?, apakah yang mereka mau mengganti dan apa yang sudah mereka perbuat untuk Indonesia Mengatur negara bukan hanya urusan akhirat saja, melainkan juga urusan dunia juga.

Menurut hemat saya UUD 1945 hanya nama saja, isinya tidak melenceng terhadap aturan agama. UUD 1945 sudah tepat untuk dijadikan landasan ideologi negara. Jangan diponis bahwa orang-orang yang mendukung/ menyetujui UUD 1945 bukan berarti tidak mengamalkan Al-Qur’an, justru mengamalkan secara penuh isi daripada Al-Qur’an.

Pemerintah Indonesia telah membentuk kementrian agama untuk mengatur syariat agama sesuai dengan syariatnya masing-masing.

Peran pemerintah sangat objektif, pemerintah tidak membatasi/

menghalang-halangi setiap penganut agama untuk menjalankan ibadah sesuai dengan kepercayaannya masing-masing, pemerintah memberikan fasilitas kepada rakyatnya dalam menjalankan syariat agamanya masing-masing. Tidak ada campur tangan pemerintah dalam urusan syariat agama, pemerintah mengikuti madzhab yang dianut oleh rakyatnya sesuai dengan kepercayaannya masing-masing. Syariat dibentuk untuk umat Islam yang menjalankannya.

Serangan antar umat beragama tidak dibenarkan dalam agama.

Nilai-nilai radikal tidak diajarkan dipondok pesantren Al-Karimiyah. Doktrin kita adalah al-harokah barokah assukut maut.

Pola pengajaran kita mencontoh ulama-ulama terdahulu dalam kitab-kitab salaf, alumni-alumni kita sudah banyak yang berkiprah dimasyarakat dan ilmunya dipraktekkan.

Dalam hal ini kita harus berfikir kritis, dalam peristiwa itu bukan hanya urusan agama, bisa kemungkinan ada urusan politik yang mengatasnamakan agama. Islam mengajarkan kedamaian, maka kita doakan mereka disana agar menjadi damai, ideologi kita menjadi penengah. Banyak negara lain yang ingin belajar di Indonesia bahwa Indonesia dengan berbagai macam suku, budaya tetapi bisa jadi satu. Islam Moderat dengan Islam nusantara itu sama saja hanya nama saja yang isinya adalah tasamuh, tawazun, tawashut/

penengah, moderasi, keseimbangan, toleransi. Perbedaan itu sunnatullah jangan dijadikan perselisihan, akan tetapi kita harus toleransi, saling menghargai, perbedaan jangan dianggap musih,

tetapi kita bersaudara yang hasrus saling menghargai, menghormati.

Sifat tawazun/ keseimbangan/ penengah.

(Wawancara dengan Pimpinan Pesantren Al-Karimiyah yaitu Ahmad Damanhuri pada tanggal 06 Mei 2021)

Melihat realita yang terjadi pada peserta didik saat ini sangatlah bertolak belakangan dengan tujuan pendidikan. Para peserta didik mudah terpengaruh oleh pergaulan yang menyimpang dari norma agama.

Pendidikan saat ini perlu ditanamkan nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jama’ah agar peserta didik tidak terjerumus kepada pergaulan yang menyimpang dari norma agama. Dalam hal ini sekolah tingkat menengah atas sangat besar perannya dalam membentuk karakter peserta didik yang mampu bergaul dengan baik dan tidak menyampingkan norma agama.

1. Kurikulum Pesantren Al-Karimiyah sebagai upaya kontra radikalisme dan intoleransi

Menurut Ahmad Damanhuri bahwa “Kurikulum disini adalah kurikulum tersendiri yaitu kurikulum mengajarkan agama melalui kitab salafi atau kitab kuning yang kita pertahankan sampai saat ini.” (Wawancara dengan Pimpinan Pesantren Al-Karimiyah yaitu Ahmad Damanhuri pada tanggal 06 Mei 2021) Pondok pesantren Al-Karimiyah memadukan antara sistem pendidikan salafiyah yang merujuk pada pembahasan kitab klasik serta sistem pendidikan modern yang merujuk pada kurikulum yang ditetapkan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia.

Kurikulum pesantren berbasis pada pembelajaran kitab kuning. Meliputi fan/bidang al-Qur’an (Tafsir), Hadits, Aqidah, Akhlak dan Tasawwuf, Fiqh dan ushul al-fiqh, Lughah (Gramatikal dan Praktikal). Kitab-kitab yang diajarkan adalah sebagai berikut:

Nama Kitab Kelas

Ta’lim Muta’allim III Mts Pa/Pi Risalatul Muawanah

Bulugul Marrom

- II MA Judud - II MA Qudama - III MA Qudama Mabadi Awaliyah - III Mts Pa/Pi

- I MA Judud - I MA Qudama

As-Sulam - I MA Qudama

- II MA Judud - II MA Qudama

- III MA Judud - III MA Qudama

At-Tadzhib - I MA Qudama

- III MA Judud - III MA Qudama Ayatul Ahkam - I MA Qudama

- III MA Judud - III MA Qudama

Tashrif - I MA Qudama

- II MA Judud - II MA Qudama - III MA Judud - III MA Qudama Alfiyah (Ibnu ‘Aqil) - I MA Qudama Pa

- II MA Judud - II MA Qudama - III MA Judud - III MA Qudama Mukhtasor Jiddan III Mts Pa/Pi Matan Jurmiyah I MA Judud Mutammimah Jurmiyah II MA Qudama Riyadus Solihin II MA Qudama

Al-Bayan - III MA Judud

- III MA Qudama Fathul Majid - III MA Judud

- III MA Qudama Qamitughiyan III Mts Pa/Pi

Kaylani - I MA Qudama

- II MA Judud

Fathu Robi I MA Qudama

Al-Ghoyah Wataqrib II Mts Pa/Pi Khulasoh Juz 1 I MA Judud Khulasoh Juz 2 II Mts Pa/Pi Mukhtarol Hadits - III Mts Pa/Pi,

- I MA Judud Jawahirul Kalamiyah - III Mts Pa

- I MA Judud

Nashohihu Diniyah - I MA Qudama - II MA Judud - II MA Qudama - III MA Judud - III MA Qudama Tijan Daruri - I MA Qudama

- II MA Judud Sulamu Taufiq - II MA Judud

- II MA Qudama Arba’inawawi I Mts Pa

Perukunan I Mts Pa

Akhlakul Lil banin II Mts Pa Akhlakul Lil Banat I Mts Pi

Mahfudzot II Mts Pi

Al-Qoidatu Diniyah I Mts Pa

Al-Qoaid I Mts Pi

Tasirul Khalaq III Mts Pi Safinatunnaja I Mts Pa Nahwul Wadeh I Mts Pa

2. Mengkaji Gejala-Gejala Radikalisme dan Intoleransi dan Pencegahannya

Menurut Ahmad Damanhuri bahwa munculnya radikalisme adalah sebagai berikut:

a. Faktor pendidikan agama yang lemah. Mereka yang belum memahami agama secara penuh.

b. Faktor Keluarga, kurangnya pendidikan nasionalisme dalam keluarga

c. Faktor Lingkungan, d. Faktor Pendidikan

Sebuah pesantren menjadi radikal atau tidak tergantung pimpinan dan gurunya. Oleh karena itu, oleh Ahmad Damanhuri selaku pimpinan/ pengasuh pesantren, santri Al-Karimiyah dibina sejak dini untuk mengenali gejala-gejala radikalisme. Kegiatan seminar tentang radikalisme dan intoleransi sering diadakan untuk para mahasiswa STAI Karimiyah di pondok pesantren Al-Karimiyah. Melalui kegiatan seminar tersebut, santri dapat mengetahui

akar dari radicalism, intoleransi dan cara pencegahanya. Sementara pembinaan tentang radikalisme dan intoleransi kepada santri yang masih duduk di bangku MTs dan MA tentang nilai-nilai toleransi, bertutur kata yang lemah lembut dan santun, menebar perdamaian, menghindari konflik dan kekerasan, dan menyelesaikan masalah dengan jalan musyawarah. (Wawancara dengan Pimpinan Pesantren Al-Karimiyah yaitu Ahmad Damanhuri pada tanggal 05 Mei 2021)

Selain itu, semua santri Al-Karimiyah diajarkan untuk taat pada pemerintah, mencintai tanah air, mengenang dan meneladani perjuangan para pahlawan kemerdekaan dan menghindari adanya kegiatan demonstrasi. Dalam menyelesaikan masalah lebih mengutamakan adanya upaya diplomasi terhadap pemerintah. Upaya diplomasi dinilai lebih dapat memenangkan hati dan pikiran.. Para santri juga dihimbau agar tidak mengikuti organisasi-organisasi yang cenderung terindikasi radikal. Upaya lain yang ditempuh adalah penggunaan media sosial yang cerdas dan menfilter informasi-informasi yang mengundang provokasi.

Di sisi lain, untuk mencegah adanya tindakan-tindakan radikal, pesantren memberlakukan peraturan bahwa jika ada santri yang melakukan tindakan kekerasan akan mendapatkan sanksi berupa dikeluarkan dan diserahkan kepada pihak berwajib.

Peraturan ini diharapkan dapat memberikan shock therapy pada santri agar tidak mudah melakukan tindakan-tindakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Disetiap tingkatan sekolah terdapat bagian Bimbingan Konseling (BK) yang siap menampung segala macam problem, memediasi dan membantu mencari solusi.

Sementara, bagian keamanan juga tidak boleh melakukan tindakan kekerasan atas dasar menindak santri yang melakukan pelanggaran peraturan pondok pesantren. Mereka harus menggunakan cara-cara kemanusiaan.

B. Model Implementasi Pendidikan Pondok Pesantren sebagai upaya