BAB I PENDAHULUAN
F. Penelitian-penelitian Terdahulu yang Relevan
Kajian mengenai model implementasi nilai-nilai kontra radikalisme dan intoleransi memang belum banyak dilakukan oleh akademisi, baik dalam bentuk penelitian individu ataupun kelompok, berupa karya ilmiah, buku-buku dan artikel. Berdasarkan penelusuran, penulis menemukan beberapa literatur yang membahas tema pendidikan kontra radikalisme dan intoleransi yang bisa dijadikan sebagai suatu bahan dan perbandingan oleh penulis dalam penelitian ini. Literatur-literatur yang penulis maksud adalah sebagai berikut
Pertama, Muchammad Nurussobach “Konstruksi Makna Radikalisme dan Implementasi terhadap Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga” (Studi pada Masyarakat Kelurahan Simolawang Kota Surabaya) Program Magister Pendidikan Agama Islam Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang 2019
Kedua, karya Nuryadin “Pendidikan Multikultural di Pondok Pesantren Karya Pembangunan Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya”
menyimpulkan bahwa pesantren tersebut menanamkan nilai-nilai demokrasi, nilai toleransi, nilai humanisme dan nilai inklusif dengan berbagai sisinya seperti keadilan, kerja sama, penghargaan, gotong royong, persaudaraan, kebebasan berkreasi santri dan perdamaian. Penelitian ini hanya berfokus pada temuan penanaman nilai-nilai pendidikan multikultural di pesantren tersebut melalui pendekatan fenomenologi.33
Ketiga, Karya Ihwanul Mu’adib “Pendidikan Berwawasan Multikultural sebagai Upaya Kontra Radikalisme(Studi di Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman Parung-Bogor) Penelitian ini menyimpulkan bahwa pondok pesantren al-Ashriyyah Nurul Iman Parung Bogor memahami bahwa pendidikan multikultural mampu menjadi alternatif dalam membendung radikalisme.
Dikatakan alternatif karena tujuan utama pendidikan multikultural bukanlah deradikalisasi, melainkan persamaan/kesetaraan hak, toleransi dan keadilan.
Kesimpulan tersebut didapat setelah peneliti melakukan penelitian tentang kondisi latar belakang berdirinya pondok pesantren, biografi pendiri, jumlah santri yang mencapai 10.378 dengan latar belakang yang majemuk (Jawa, Palembang, Lampung, Madura, Papua, NTB, Flores, Kalimantan, Aceh, Singapura, Malaysia, dll)\, model kurikulum, hubungan kerja sama antar pesantren dengan lembaga luar
pesantren baik negeri maupun swasta, dan yang berbeda agama serta sikap pesantren terhadap kasus-kasus radikal yang muncul selama beberapa tahun terakhir.
Keempat, karya Muhammad A.S. Hikam “ Peran Masyarakat Sipil Indonesia Membendung Radikalisme” menyimpulkan bahwa upaya penanggulangan radikalisme melalui pendekatan budaya sangat strategis untuk terus dikembangkan di Indonesia. Buku ini menunjukan bahwa pentingnya peranan masyarakat sipil dalam mencegah adanya tindakan-tindakan radikal tapi belum menyebutkan peran spesifik pondok pesantren.34
Kelima, Herma Athiyatur Rofi’ah “Implementasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam menumbuhkan budaya Toleransi antar Umat Beragama (Studi Multisitusdi SMA Nasionaldan SMA Taman Madya Malang) Program Magister Pendidikan Agama Islam Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim malang tahun 2018.
Keenam, Jurnal Pendidikan Agama Islam Volume 03, Nomor 01, Mei 2015 tentang “ Model Pendidikan Toleransi di Pesantren Modern dan Salaf” Ali Maksum (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Kependidikan UIN Sunan Ampel Surabaya)
Dari beberapa literatur sebelumnya yang telah penulis sajikan, penulis memandang ada hal yang belum dibahas oleh peneliti sebelumnya, yaitu tentang model implementasi nilai-nilai kontra radikalisme dan intoleransi di pondok pesantren. Oleh karena itu penulis mencoba membahas model implementasi nilai-nilai kontra radikalisme dan intoleransi melalui pendidikan pondok pesantren.
Terkait dengan objek penelitian yaitu pondok pesantren yang memiliki kesamaan dengan penelitian karya Ikhwanul Muadib penulis meyakini adanya hasil yang berbeda karena beberapa faktor, yaitu lokasi pondok pesantren yang berbeda, jumlah santri dan pengaitan dengan adanya tindakan intoleransi. Penelitian Ikhwanul Muadib hanya menemukan nilai-nilai multikultural yang telah dilaksanakan di lokasi penelitian menggunakan pendekatan fenomenologi, sosiologi dan antropologi, yang dihubungkan dengan radikalisme. Sedangkan penelitian ini menggunakan pendekatan model menomenologi serta dikaitkan dengan intoleransi yang menemukan model-model dalam mencegah faham radikal dan intoleran melalui program-program pondok pesantren.
BAB II
KAJIAN TEORITIK TENTANG PONDOK PESANTREN DAN PENDIDIKAN ANTI RADIKALISME DAN INTOLERANSI A. Radikalisme
1. Konsep Radikalisme dalam Islam
Dalam mengungkap kontruksi makna radikalisme, kiranya perlu pemahaman mengenai makna radikalime itu sendiri. Tujuannya agar tidak terjadi kesalapahaman dalam mengartikan radikalisme. Berikut akan dipaparkan pengertian radikalisme menurut bahasa dan istilah.
Radikalisme, berasal dari kata radix yang artinya akar, sedangkan isme artinya ajaran. (Ahlan Irfani, 2014: 15).
Dalam kamus bahasa Indonesia, radikalisme berasal dari dua kata yaitu radikal dan isme. Radikal artinya akar, pangkal dan dasar.
Sedangkan isme artinya paham. Dengan demikian, radikalisme artinya paham yang mendasar. (KBBI, 1995: 808).
Radikalisme adalah ajaran yang mengajarkan manusia untuk berfikir secara radikal sampai ke akar-akarnya. (Soetrisni Hadi, 2007:
314).
Selain itu radikal adalah suatu kondisi yang mendorong individu atau kelompok untuk melakukan perubahan sosial maupun politik dengan cepat dan menyeluruh dengan cara kekerasan tanpa kompromi.
(Azra, 2002: 112).
Menurut hemat penulis radikalisme adalah paham yang berpotensi mengancam bangsa. Diantara prinsip radikalisme adalah:
1. Radikalisme ditujukan pada kelompok tertentu yang bermaksud mengganti Pancasila dan UUD 1945 dengan sistem lain. (hendak mengganti negara)
2. Radikalisme digunakan untuk menyebarkan propaganda negative dengan menggunakan cara-cara kekerasan, memaksakan kehendak, praktik terorisme. (Anti hormat bendera merah putih)
Namun demikian dalam praktek dilapanganyya radikalisme merupakan doktrin kepada suatu individu yang isinya mengenai jihad.
Jihad tersebut sering disalah pahami dengan makna yang negatif.
Sehingga muncul rasa dari individu tersebut makna jihad yang identik dengan kekerasan dan terorisme.(Muhammad Harfin Zuhdi, 2016)
Radikalisme adalah kelompok Islam Ekstrim. radikalisme adalah kelompok garis keras yang menggunakan isu-isu agama untuk memperjuangkan ideologinya. Radikalisme merupakan fakta sosial yang spektrumnya merentang dari lingkungan makro (global), lingkungan messo (nasional) maupun lingkungan mikro (lokal). Kajian mengenai radikalisme lebih banyak memberi perhatian kepada
proses radikalisasi dan akibat-akibat radikalisme. Dalam pendekatan tersebut, berupaya mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan individu atau kelompok bertindak radikal. Mereka memandang bahwa keyakinan, latar belakang pendidikan, kondisi sosial dan ekonomi menjadi faktor-faktor yang membentuk proses radikalisasi. Selain itu tindakan radikal, seringkali dipandang sebagai pilihan rasional bagi sekelompok orang. Tindakan radikal melibatkan mobilisasi sumber daya dan kesempatan politik yang dibingkai dengan kerangka tertentu, misalnya agama (Quintan Wiktorowicz, 2012).
Istilah radikalisme tidak jarang dimaknai berbeda di antara kelompok kepentingan, dalam lingkup kelompok keagamaan, radikalisme merupakan gerakan-gerakan keagamaan yang bersusaha merombak secara total tatanan sosial dan politik yang ada dengan menggunakan jalan kekerasan. (A. Rubaidi, 2010: 33).
Radikalisme agama bertolak dari gerakan politik yang mendasarkan diri pada suatu doktrin keagamaan yang paling fundamental secara penuh dan literal bebas dari kompromi, penjinakan dan reinterpretasi (penafsiran). (Azyumardi Azra, 2002: 5).
Sedangkan dalam studi ilmu sosial radikalisme diartikan sebagai pandangan yang ingin melakukan perubahan yang mendasar sesuai dengan interpretasinya terhadap realitas sosial atau ideologi yang dianutnya. Berdasarkan telaah arti radikalisme tersebut, radikalisme sesungguhnya merupakan konsep yang netral dan tidak bersifat pejorative (melecehkan). Karena perubahan yang besifat radikal bisa dicapai melalui cara damai dan persuasive, tetapi bisa juga dengan kekerasan.
Dalam konteks aktor radikalisme, wacana yang berkembang dipahami sebagai sekelompok orang yang kebanyakan terdidik dari pendidikan pesantren. Akibatnya, tumbuh dalam pemahaman publik bahwa pesantren merupakan tempat pendidikan bagi calon teroris. Fakta ke-Indonesia-an menunjukkan bahwa pendidikan pesantren tidak mengajarkan tentang radikalisme. Isu radikalisme yang mengaitkannya dengan pesantren telah membuat opini publik terhadap pesantren menjadi buruk. Keberadaan kurikulum pengajaran seringkali menjadi faktor utama keterlibatan pesantren dalam radikalisme. (Nuhrison M.
Nuh, 2007: 3)
Radikalisme tidak sepenuhnya dapat diartikan sebagai paham yang mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk melakukan perubahan sosial maupun politik dengan cepat dan menyeluruh, ataupun dikatakan sebagai paham yang menggunakan cara-cara kekerasan.
Karena dalam perkembangannya, kelompok radikal memilih cara-cara lain seperti melalui jalur dakwah ataupun jalur politik untuk
menanamkan ideologinya. Perubahan-perubahan yang terjadipun tidak cepat dan menyeluruh akan tetapi bertahap.
Dalam mencapai tujuan, kelompok radikal melakukan proses rekruitmen anggota mulai dari tingkat sekolah hingga universitas.
Umumnya proses indoktrinasi ini dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler agama yang ada di sekolah maupun perguruan tinggi.
Radikalisme dan praktek kekerasan yang mengatasnamakan agama Islam merupakan ancaman serius bagi kehidupan manusia dewasa ini. Bukan hanya itu, radikalisme yang dibalut dengan pandangan-pandangan sempit keagamaan yang kemudian menjelma menjadi sebuah terror bahkan akan mengancam keberadaan agama itu sendiri. Tidak jarang, orang menjadi skeptik bahkan kehilangan keyakinan pada agama bahkan Tuhan disebabkan adanya segelintir orang yang menjadikan agama sebagai alat pembenaran atas Tindakan terror maupun kekerasan yang ia lakukan.
Dalam sejumlah literatur, istilah Islam radikal sering kali diganti dengan istilah Islam fundamentalis dan Islam ekstrim. Untuk memberikan penjelasan yang mendalam mengenai alasan mengapa kedua istilah tersebut sering kali digunakan secara bergantian, maka penulis merasa perlu menguaraikan berbagai makna dari istilah-istilah Islam fundamentalisme dan Islam ekstrim.
a) Islam Fundamentalisme
Istilah fundamentalisme merupakan istilah kedua yang paling sering disematkan terhadap kelompok Islam yang memperjuangkan ideologi mereka dengan jalan kekerasan. Menurut bahasa, fundamentalisme merupakan gabungan dua kata yaitu fundamental dan isme. Fundamental berarti bersifat dasar (pokok).
Sementara itu, isme berarti paham. Dengan demikian, maka fundamentalisme dapat diartikan sebagai paham yang mendasar.
Sedangkan menurut istilah, fundamentalisme berarti paham yang cenderung untuk memperjuangkan sesuatu secara radikal. (KBBI:
1995: 281).
Oleh karena itu, berdasarkan arti kata, fundamental dan radikal memiliki makna yang sama yaitu dasar.
Istilah fundamentalis pada dasarnya disematkan kepada gerakan Protestan yang tumbuh di Amerika pada abad 19 M yang menafsirkan melakukan penafsiran secara harfiah terhadap kitab injil dan teks-teks agama. Sedangkan dalam kacamata Islam, istilah fundamentalis disamakan dengan kata ussuliyah. Ushuliyyah berasal dari kata al-ashl yang berarti paling dasar dari suatu bilangan/hitungan. Adapun jamak dari kata al-ashl yaitu ushul.
Istilah ushul sendiri banyak digunakan dalam istilah bidang ilmu agama seperti ushul ad-din, ushul figh. (Imarah, 1998: 67-71)
Lanjut Imarah, pada dasarnya istilah fundamentalis yang dipahami oleh barat dan Islam tidaklah sama. Jika dalam pengertian Kristen, istilah fundamentalisme disematkan pada kaum yang statis dan didominasi oleh sikap taklid yang memusuhi ilmu pengetahuan, teks alegoris, ta'wil, penalaran akal, menarik diri dari modernitas, serta berpegang pada penafsiran harfiah terhadap teks-teks agama.
Maka dalam Islam, istilah ushuliyyah disematkan kepada para ulama ushul fiqh yang mewakili bidang kajian ilmu-ilmu akal, menggunakan dalil melalui isyarat teks agama (istidlal), ijtihad dan pembaruan (tajdid). (Imarah, 1998: 71)
Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa fundamentalisme Islam memiliki makna yang lebih baik dari fundamentalisme Kristen. Pendapat Imarah akan sulit dipahami apabila istilah fundamentalisme Islam disematkan kepada gerakan Islam politik, karena sebagaimana dipahami bahwa mayoritas gerakan mereka kerap diwarnai oleh kekerasan dan aksi teror.
(Syu'aibi, 2004: 167)
Menurut Misrawi, ada dua karakteristik fundamentalisme agama yaitu: fundamentalisme positif dan fundamentalisme negatif.
Fundamentalisme positif yaitu fundamentalisme yang menjadikan teks dan tradisi keagamaan sebagai sumber moral dan etika kemaslahatan publik. Fundamentalisme positif mempunyai visi dan misi untuk menjadikan doktrin keagamaan sebagai elan vital bagi etika sosial dan pemberdayaan masyarakat. Sementara itu, fundamentalisme negatif adalah fundamentalisme yang menjadikan teks dan tradisi sebagai sumber dan justifikasi atas kekerasan.
(Misrawi, 2007: 189-190) b) Islam Ekstrim
Kata ekstrim sebenarnya berasal dari bahasa Inggris yaitu dari kata extreme yang berarti perbedaan yang besar, berbuat keterlaluan, pergi dari ujung ke ujung, berbalik memutar, mengambil tindakan/jalan sebaliknya. (Kementerian Agama RI, 2012)
Sementara dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) edisi kedua, ekstrem berarti sangat keras dan fanatik. (KBBI, 1995:
225)
Dalam bahasa arab, ekstrem disebut dengan istilah tatharruf yang berarti berdiri tepi, jauh dari tengah. Dengan demikian, sikap, pemikiran maupun tindakan yang dikategorikan ekstrim selalu bermakna negatif. (Kementerian Agama, 2012: 14)
Di dalam bahasa arab, setidaknya ada dua term yang digunakan untuk menyebutkan istilah ekstrem al-guluw dan tatharruf. Ghuluw berasal dari kata yang berarti melampaui batas.
(Kementerian agama, 2012: 14)
Dengan demikian dapat dipahami bahwa sebutan radikalisme merupakan bermakna positif, yang mana model atau cara berpikir yang mendalam hingga sampai ke akar-akarnya. Akan tetapi, dalam praktek dilapangannya ada beberapa kelompok-kelompok yang menyalahgunakan maksud dari radikalisme itu sendiri. Artinya, radikalisme diartikan sebagai sikap paksaan atau kekerasan dan bahkan dengan sikap teror ke individu-individu yang tidak sependapat dengannya. Sehingga muncul istilah kelompok terorisme dan ekstremisme. Dalam hal ini, arti radikalisme itu sendiri sudah berubah dari makna aslinya. Yang mulanya radikal bermakna positif menjadi negatif. Faham radikalisme dijadikan sebagai kelompok Islam Ekstrim., kelompok garis keras yang menggunakan isu-isu agama untuk memperjuangkan ideologinya.
2. Karakteristik Radikalisme
Gerakan Islam radikal, terdapat dua organisasi yang dinilai sangat berhubungan atas radikalisme: ikhwan al-muslimun dan jama’at al-Islami. Adapun dari segi ideologi, yang dinilai bertanggung jawab adalah Hassan al-Banna (pendiri ikhwan al-muslimun, 1906 M-1949 M), Sayyid Qutb (1906 M-1966 M) dan al-Mawdudi (pendiri jama’at al-Islami, 1903 M-1979 M). (Ahlan Irfani, 2014: 45)
Radikalisme dan praktek kekerasan yang mengatasnamakan agama merupakan ancaman serius bagi kehidupan manusia dewasa ini.
Bukan hanya itu, radikalisme yang dibalut dengan pandangan-pandangan sempit keagamaan yang kemudian menjelma menjadi sebuah teror bahkan akan mengancam keberadaan agama itu sendiri.
Tidak jarang, orang menjadi skeptik bahkan kehilangan keyakinan pada agama bahkan Tuhan disebabkan adanya segelintir orang yang menjadikan agama sebagai alat pembenaran atas tindakan teror maupun kekerasan yang ia lakukan.
Berikut ini, penulis akan memaparkan karakteristik radikalisme menurut para ahli. Hal ini perlu dilakukan untuk memudahkan penulis dalam mencari dan menentukan indikator-indikator radikalisme.
Adapun karakteristik radikalisme atau ekstrimisme agama adalah sebagai berikut:
a) Fanatisme berlebihan.
Fanatik secara bahasa berasal dari kata ashaba al-aqumu bir rajuli ashban yang artinya mengepungnya untuk melidunginya. Kata
al-ashabah berarti kelompok yang mengikuti seseorang. Fanatik artinya meliputi dan menarik. (Az-zuhail, 2012: 139-141)
Sikap fanatik pada dasarnya bisa menjadi filter untuk menangkal aliran sesat maupun berbagai upaya pemurtadan. Akan tetapi, sikap fanatik akan menjadi momok menakutkan apabila dibarengi sikap intoleransi yakni tidak menghargai keberadaan kelompok maupun umat agama lain serta berusaha mengeliminir kelompok maupun penganut agama yang berbeda.
Perbedaan agama pada hakikatnya telah dijelaskan oleh Allah dalam Alqur'an karena itu, tidak pantas rasanya jika kita sebagai hambanya memaksakan kehendak kita kepada yang lainnya karena Allah saja sebagai pencipta manusia memberikan kebebasan kepada manusia untuk menganut suatu agama.
b) Memaksakan kehendak
Memaksakan kehendak sendiri merupakan salah satu karakter negatif dalam diri seseorang, sikap pemaksaan kepada orang lain merupakan tanda berfaham radikal. Setiap orang adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintakan pertanggungan jawab terhadap apa yang dipimpin. Agama memberikan solusi dan jalan keluar untuk tidak berfaham radikal yaitu dengan cara menghormati, menghargai perbedaan keyakinan dan tidak memaksakan keinginan sendiri kepada orang lain.
Perlu diperhatikan bahwa Islam melarang pemeluknya untuk memaksa pemeluk lain untuk mengikuti ataupun masuk dalam agama Islam.
c) Menganut ideologi kekerasan
Diantara tanda-tanda radikalisme yang ke tiga yaitu memperlakukan orang secara zalim, melakukan pendekatan dengan kekerasan, serta kaku dalam mengajak orang untuk masuk dalam Islam. Padahal Allah memerintahkan untuk mengajak kepada agamanya dengan jalan hikmah bukan dengan jalan kekerasan, dengan pengajaran yang baik bukan dengan ungkapan yang kasar.
(Qardhawi, 2001: 36)
d) Negatif Thinking terhadap yang lain
Buruk sangka terhadap orang lain serta memandang mereka sebagai orang jahat, dan menyembunyikan kebaikan dan membesar-besarkan keburukan mereka adalah karakteristik radikalisme yang berikutnya. Umumnya kaum. radikal memiliki kebiasaan memburuk-burukkan orang. Kebiasaan memburuk burukkan orang tersebut tidak hanya berlaku pada orang awam akan tetapi mereka tidak segan untuk menuduh ulama, tokoh agama ataupun bahkan imam mazhab sebagai pelaku bid'ah apabila mereka menemukan
fatwa yang berbeda dengan paham ataupun pendapat mereka.
(Qardhawi, 2001: 41-45)
e) Terjerumus dalam jurang pengkafiran (takfiri)
Puncak dari sikap ekstrim adalah pentakfiran. Perbuatan mentakfirkan seseorang adalah suatu hal yang sangat krusial sebab pentakfiran bukan hanya. berakibat pemutusan hubungan rumah tangga, pemutusan hubungan waris sertal wali nikah akibat perbedaan agama. Akan tetapi, berakibat penghalalan darah. seperti yang dilakukan oleh kaum wahabi yang menghalalkan darah orang yang kafir seperti musyrik serta non muslim.
Menurut Muhammad Zuhdi sebagaimana dikutip Nurlena Rifa'i bahwa radikalisme memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Klaim kebenaran.
Setiap pemeluk agama percaya bahwa kitab suci dan doktrin agama mereka adalah yang paling murni dan paling benar.
Sementara itu, kitab sekte maupun agama lain adalah sesat dan salah.
2) Taklid buta dan setia kepada pemimpin mereka.
Umumnya penganut radikalisme memiliki loyalitas dan kesetiaan yang besar terhadap pemimpin mereka.
3) Memiliki tujuan untuk mendirikan negara dan pemerintahan yang ideal.
Penganut percaya dalam membangun/ menegakkan aturan tuhan dengan cara memperbaiki moral serta teologi masyarakat.
4) Memiliki kecenderungan untuk main hakim sendiri. (Muh.
Zuhdi dalam Nurlena Rifai, 2016:3)
Pembahasan radikalisme yang sering menimbulkan kerusuhan dan konflik sosial sering dikaitkan dengan agama. Ada tiga karakteristik utama radikalisme.
1) Menolak setiap penyesuaian terhadap perubahan
2) Kerinduan terhadap kejayaan masa lampau disertai hubungan yang kuat terhadap tradisi yang diwarisi dan diterima apa adanya 3) Bersikap tertutup, tidak toleran, dan berpaham kekerasan dan
perlawanan. (Bilveer dan Abdul Munir Mulkhan, 2012: 101) Sikap fanatik pada dasarnya bisa menjadi filter untuk menangkal aliran sesat maupun berbagai upaya pemurtadan. Akan tetapi, sikap fanatik akan menjadi momok menakutkan apabila dibarengi sikap intoleransi yakni tidak menghargai keberadaan kelompok maupun umat agama lain serta berusaha mengeliminasi kelompok maupun penganut agama yang berbeda.
Selain itu bahwa karakteristik radikalisme ada tiga, sebagai berikut:
1) Radikalisasi merupakan respon terhadap kondisi yang sedang berlangsung. Biasanya respon tersebut muncul dalam bentuk evaluasi, penolakan atau bahkan perlawnan. Masalah yang ditolak dapat berupa asumsi, ide, dan lembaga.
2) Radikalisasi berkeinginan mengganti tatanan yang sudah ada dengan tatanan yang baru. Tatanan yang baru berupa suatu program dan pandangan dunia sendiri.
3) Keyakinan yang kuat atas kebenaran ideologi yang mereka anut yang diimplementasikan dalam bentuk kekerasan. (Khamami Zada, 2002: 16).
Perbedaan agama pada hakikatnya telah dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu tidak pantas rasanya jika sebagai hamba Allah memaksakan kehendak kita kepada yang lainnya, karena Allah sebagai Tuhan yang menjadikan alam semesta ini memberikan kepada manusia untuk menganut suatu agama.
ۡۚۡرُف ۡكَيۡلَ ف َءٓاَش نَمَو نِمۡؤُ يۡلَ ف َءٓاَش نَمَف
“Maka siapa orang yang mau beriman hendaklah ia beriman, dan siapa orang yang mau kafir, biarlah dia kafir”. (Q.S. Al-Kahfi Ayat 29)
Menurut Rahimi Sabirin, karakteristik radikalisme adalah sebagai berikut:
1) Sikap tidak toleran, tidak mau menghargai pendapat orang lain 2) Sikap fanatik, yaitu merasa dirinya paling benar dan
menganggap orang lain salah
3) Sikap eksklusif, yaitu membedakan diri dari kebiasaan Islam mayoritas dan meyakini bahwa cara beragama merekalah yang paling benar, yang kaffah, dan cara beragama yang berebeda dengan mereka sebagai salah, kafir dan sesat
4) Sikap revolusioner, yaitu cenderung menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan. (Rahimi Sabirin, 2004: 5)
Menurut Azyumardi Azra mengelompokkan Islam Indonesia menjadi dua kelompok, yakni Islam politik dan Islam kultural.
1) Islam politik dimaknai Azra sebagai Islam yang memiliki orientasi yang kuat kepada politik dan kekuasaan.
selanjutnya membagi Islam politik menjadi dua golongan.
a) Islam politik yang dipresentasikan partai-partai Islam yang terlibat dalam sistem dan politik yang sah. Contoh untuk konteks kekinian adalah Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Keadilan Sejatera (PKS).
b) Islam politik yang ditampilkan beberapa kelompok atau organisasi muslim. yang memiliki agenda politik yang hampir sama dengan kelompok pertama.
Ormas-ormas Islam di Indonesia yang mendadak begitu menjamur pasca reformasi memiliki ciri keagamaan tertentu.
Ciri-ciri keagamaan yang mereka anut adalah: (1) Khas Islam Timur Tengah, (2) Skriptual dan harfiah dalam memahami Islam, (3) Mengenalkan istilah-istilah baru yang bernuansa Arab seperti, halaqah, dawrah, mabit dan seterusnya.
2) Islanı kultural adalah Islam yang memiliki orientasi kepada pengembangan aspek sosio-kultural dari kehidupan Islam melalui jalur non-politik, seperti dakwah Islam secara damai atau melalui pengembangan pendidikan ekonomi, kesehatan, lingkungan hidup dan sebagainya.(Azyumardi Azra, 2012: 233-244)
Menurut Imron menyebutkan minimal ada dua alas an mengapa dimensi agama perlu ditekankan dalam pembahasan mengenai kerusuhan ataupun konflik sosial.
1) Adanya indikasi bahwa modernisasi sosial-ekonomi di berbagai tempat yang berpenduduk muslim, justrumendorong peningkatan religiusitas, bukan sekularisme. Walaupun seperti itu, militansi cenderung meningkat, fundamentalisme berkembang, toleransi antar pemeluk agama menurun.
2) Adanya dugaan bahwa proses yang sama menghasilkan kurang merengkuh dengan baik. Sebagian besar aktivis Islam tidak mengenyam pendidikan kultural Islam seperti pesantren. Hal ini menyebabkan pemahaman para aktivis terhadap agama sangat dangkal dan tidak substansial. Aktivis yang semacam inilah
yang sering bertindak secara radikal karena mudah tersulut oleh provokasi dari lingkungannya. (Arif, 2010: 113)
yang sering bertindak secara radikal karena mudah tersulut oleh provokasi dari lingkungannya. (Arif, 2010: 113)