BAB III INTERNALISASI NILAI ANTI RADIKALISME DAN
E. Data Santri Pondok Pesantren Al-Karimiyah
Santri Pesantren Al-Karimiyah terdiri dari Santri Putra dan Putri tingkat Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah, adapun jumlah santri pondok pesantren Al-Karimiyah Tahun Pelajaran 2020-2021 dapat ditampilkan melalui tabel berikut:
No Kelas Qudama Judud Jumlah Rekapitulasi
1 I MTs Putra 71 Santri Santri Pondok Pesantren Al-Karimiyah dikelompokkan ada yang qudama da nada yang judud, Qudama adalah santri MA yang melanjutkan pendidikan dari MTs Al-Karimiyah atau dengan kata lain santri lama yang sudah lebih dahulu tinggal di Pondok Pesantren Al-Karimiyah. Sedangkan yang judud adalah santri baru yang masuk ke Madrasah Aliyah Al-Karimiyah atau dengan kata lain pendidikan MTs/SMP nya diluar pondok pesantren Al-Karimiyah.
Santri Pondok Pesantren Al-Karimiyah sebagian besar dari wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) dan tak sedikit yang berasal dari luar Jabodetabek. Mereka adalah lulusan dari MI/SD baik negeri maupun swasta, serta ada juga yang berasal dari lulusan SMP/MTs dan juga ada yang pindahan dari pondok pesantren lain. Berdasarkan pekerjaan orang tua santri Pondok Pesantren Al-Karimiyah beraneka ragam, antara lain sebagai KIAI, Guru/Ustadz/ah, Penceramah, Pejabat Pemerintah, seperti Ketua RT/RWPNS, Polri, TNI, Kejaksaan, dan juga Wiraswasta, Karyawan sampai dengan pedagang. Melihat kondisi ekonomi tersebut presentase santri dipondok pesantren Al-Karimiyah dari kalangan ekonomi menengah ke atas. Walaupun ada juga santri pondok pesantren Al-Karimiyahdari kalangan ekonomi menengah ke bawah bahkan dari keluarga tidak mampu. Untuk santri yang Yatim, Pondok Pesantren Al-Karimiyah
memberikan keringanan dalam pembayaran SPP dan bangunan serta memfasilitasi bantuan berupa pemanfaatan fasilitas Program Indonesia Pintar (PIP) atau Kartu Indonesia Pintar (KIP), serta bantuan beasiswa dari lembaga-lembaga pemerintah ataupun masyarakat seperti Kementrian Agama, Baznas dan lembaga yang lainnya.
F. Kegiatan Santri Pondok Pesantren Al-Karimiyah
Kegiatan santri dalam sehari-hari sangat beraneka ragam, dan Pondok Pesantren Al-Karimiyah memberikan peraturan atau semacam jadwal untuk ditaati oleh seluruh santri. Pertauran jadwal yang dibuat berdasarkan atas musyawarah pengasuh dan pengurus Pesantren Karimiyah untuk kemaslahatan dan kemajuan Pondok Pesantren Al-Karimiyah. Adapun tabel kegiatan santri adalah sebagai berikut:
Waktu Kegiatan
04.00-06.30 Bangun pagi, shalat subuh berjama’ah, belajar kitab kuning di pesantren
06.30-07.30 Sarapan pagi dan Persiapan sekolah 07.30-14.00 Belajar formal di sekolah
14.00-15.30 Makan Siang dan Ekstrakulikuler (Marawis, silat, kaligrafi, pramuka, pmr, sepak bola, dll) 15.30-16.00 Shalat Ashar berjama’ah
16.00-17.30 Belajar kitab kuning di pesantren
17.30-20.00 Shalat Magrib berjama’ah, qiro’at ratib, iqra dan al-Qur’an
20.00-20.30 Makan malam
20.30-22.00 Muthala’ah, muhadharah dan qira’at rawi 22.00-04.00 Istirahat
Berdasarkan tabel di atas, kegiatan santri ini terdiri dari kegiatan harian, mingguan, bulanan dan kegiatan ekstrakurikuler.
Kegiatan Harian: Pendidikan formal sekolah, shalat fardhu berjama’ah, ta’lim kitab kuning, pendalaman pembacaan Al-Qur’an (Tahsin dan Imla) pembacaan Ratibuil Attas dan Rattibul Haddad, kultum, hafalan mufrodat Bahasa Arab dan Inggris, Ayat-ayat Al-Qur;an, Hadits, Koidah Fiqih dan koidah nahwu-sharaf.
Kegiatan Mingguan:
- Malam Rabu : Muhadhoroh Tembak Langsung (MTL)
- Malam Jumat : Pembacaan Rawi (Sirah Nabi), Bahtsul Masail/
Diskusi, pembacaan Yasin dan Shalat sunnah tahajjud berjam’ah.
- Hari Jum’at : Praktek Khutbah
- Malam Sabtu : Pelatihan Qori, Pencak Silat dan kaligrafi.
- Malam Minggu : Muhadhoroh Gabungan
Kegiatan Bulanan meliputi Istigosah bersama, pengajian bulanan wali santri dan alumni. Dan Kegiatan Tahunan adalah memperingati hari ulang tahun pondok Pesantren Al-Karimiyah (Harlah Pesantren).
Kegiatan Ekstrakurikuler adalah sebagai berikut: marawis, kaligrafi, nasyid, pencak silat, hadroh, pramuka, PMR, sepak bola, drum band, muhadhoroh, paskibra, paduan suara, qori, pidato)
G. Latar Belakang Santri dan Pengurus Pesantren Al-Karimiyah
Santri Pondok Pesantren Al-Karimiyah memiliki latar belakang status sosial yang beragam. Mulai dari keluarga pedagang, guru, petani, konglomerat, pejabat hingga kiai.
Jumlah santri dari sejak beridiri (tahun 1990) sampai tahun 2021 selalu meningkat di awal tahun ajaran baru penerimaan santri. Berawal dari satu orang santri yang berasal dari daerah kota Depok sampai menjadi 450an dari berbagai daerah pelosok negeri. Namun, dalam prosesnya dalam setiap tahun ajaran tidak semuanya betah hingga lulus. Mereka yang rata-rata gugur ditengah perjalanan menuntut ilmu dikarenakan memandang faktor sarana prasarana pesantren yang belum memadai. Sampai saat ini jumlah santri sebanyak 450 yang terdiri dari 200 santri putra dan 250 santri putri. Jumlah tersebut berasal dari berbagai daerah. Berikut tabel jumlah santri berdasarkan latar belakang daerah asal.
Jumlah santri berdasarkan latar belakang daerah asal
No Daerah Jumlah Jumlah
Total Putra Putri
1 Depok 55 75 130
2 Tangerang 48 69 117
3 Jakarta 41 48 89
4 Bekasi 17 21 38
5 Bogor 13 14 27
6 Jawa Tengah 6 13 19
7 Jawa Timur 5 3 8
8 Sumatera 5 2 7
9 Aceh 4 2 6
10 Kalimantan 3 2 5
11 Sulawesi 3 1 4
Jumlah 200 250 450
Dari tabel di atas diketahui bahwa jumlah santri terbanyak berasal dari Kota Depok sebanyak 130 atau 16,7% dari total 450 santri, kemudian Tangerang sebanyak 117 atau 16,4%, Jakarta 89 atau 11 % dan seterusnya.
Namun, untuk data latar belakang santri dari status sosial (anak pejabat, kiyai, habaib, dan konglomerat) yang berbeda belum pernah dibuat oleh pesantren. Tidak ditemukan alasan yang pasti atas tidak adanya klasifikasi data yang berlatar belakang sosial tersebut. (Wawancara dengan Sekretaris Yayasan Rohimi Azhari)
Dalam proses penerimaan santri, semua anak yang mendaftarkan diri harus mengikuti tes. Tes yang digunakan berupa membaca Al-Qur’an, tajwid, tahfidz, tahsin, imla, membaca kitab klasik dan menjawab soal tertulis tentang pengetahuan agama sesuai dengan jenjang kelas pendaftar.
Namun demikian, proses tes seleksi santri bukan untuk menentukan diterima atau tidak, melainkan untuk mengklasifikasikan kemampuan santri dalam bidang ilmu agama. Dari hasil tes tersebut dapat diklasifikasikan tingkat pendidikan ibtida’, wusto, dan ‘ulya.
Menurut Rizki Hadi Maulana selaku ketua santri/ ketua IPPK masa khidmat 2021-2022, dalam menghadapi santri yang beragam latar belakang diperlukan sikap yang bijak dan hati yang lembut. Dalam menyelesaikan masalah diperlukan penyelidikan yang mendalam, sehingga tercipta sebuah keadilan. Tidak mengadili/menjatuhi sanksi karena membenci atau menyayangi, tetapi karena keadilan. Siapa yang bermasalah harus dihukum.
Ia juga menjelaskan tindakan preventif yang ia lakukan agar tidak terjadi konflik antar santri. Biasanya ia lakukan selepas sholat jama’ah isya’
dengan memberikan arahan kepada seluruh santri agar tidak melanggar peraturan pesantren dan menjalankan apa yang telah diperintahkan pesantren dengan durasi waktu sekitar 15 menit. (Wawancara dengan ketua santri Rizki Hadi Maulana pada 7 Mei 2021)
Sementara menurut penuturan kepala madrasah MI, MTs dan MA bahwa santri yang beragam itu harus dibina dengan baik. Masing-masing mereka mempunyai potensi tersendiri. Tidak benar jika mereka diperlakukan secara diskriminatif. Ketiga kepala madrasah ini dalam memimpin lembaganya belum terlalu fokus pada standar madrasah yang kontra radikalisme dan intoleransi, semuanya berjalan alamiah mengikuti kebijakan pimpinan pesantren. Hal ini dikarenakan kebijakan pengembangan sepenuhnya dipegang oleh pimpinan pesantren (Wawancara dengan Rifqoh selaku Kepala MI, Badrudin AK selaku kepala MTs dan Ahmad Fatih Ghazali selaku Kepala MA pada 06 Mei 2021)
Namun, terkait dengan kurikulum yang diberlakukan di madrasah adalah sesuai standar kurikulum nasional. Ketiga jenjang sekolah tersebut telah memberlakukan kurikulum 2013. Disisi lain, santri yang beragam latar belakang daerah itu, memiliki ragam motivasi juga saat memilih pesantren Al-Karimiyah sebagai tempat menimba ilmu.
Berikutnya terkait dengan pengurus pesantren. Berdasarkan penuturan dari Nasehudin, seluruh pengurus pesantren memiliki latar belakang daerah yang berbeda pula. Mereka yang menjadi sudah menyelesaikan pendidikan strata satu (S1). (Wawancara dengan Nasehudin selaku pengurus pesantren pada 05 Mei 2021)
BAB IV
MODEL IMPLEMENTASI NILAI-NILAI KONTRA RADIKALISME DAN INTOLERANSI MELALUI PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN
AL-KARIMIYAH SAWANGAN DEPOK
Bab IV ini di dapat dari hasil observasi yang telah peneliti lakukan secara bertahap antara 23 Maret 2021 s/d 16 April 2021 dan 17 April 2021 s/d 24 April 2021 dan 25 April sampai 30 April 2021. Selama masa proses observasi, dilakukan pula wawancara secara bertahap dengan para responden terpilih. Tahapan ini dilakukan seiring dengan perkembangan masa penulisan secara langsung
Model implementasi nilai-nilai kontra radikalisme dan intoleransi melalui pendidikan pondok pesantren merupakan model pendidikan agama Islam yang dapat menjadikan manusia yang BerIMTAQ dan IMTEK, demokratis, adil, toleransi, gotong royong, dan terjaminya hak-hak manusia berlandaskan Al-Qur’an, sunnah Rasul serta Pancasila. Sementara kontra radikalisme dan intoleransi merupakan sebuah usaha untuk menepis benih-benih radikalisme dan intoleransi yang timbul akibat hilangnya semangat humanis, tidak adanya keadilan, minimnya toleransi, dan tidak terjaminya hak-hak manusia. Kemudian, dapat ditarik kesimpulan bahwa kontra radikalisme berlawanan dengan radikalisme dan sejalan dengan pendidikan yang diterapkan oleh pondok pesantren. Semakin baik pelaksanaan pendidikan pondok pesantren maka akan semakin mendukung proses kontra radikalisme dan intoleransi.
Bab ini akan menjelaskan model implementasi nilai-nilai kontra radikalisme dan intoleransi melalui pendidikan pondok pesantren Al-Karimiyah.
Pertama kali yang akan dibahas adalah doktrin pesantren dalam upaya pendidikan kontra radikalisme dan intoleransi. Kemudian, dibahas tentang elaborasi kitab kuning terhadap radikalisme, intoleransi dan pencegahanya. Selain itu, juga dibahas model implementasi pendidikan kontra radikalisme dan intoleransi melalui kegiatan program-program dan kurikulum pesantren. Terakhir, dibahas tentang kendala-kendala yang dihadapi pesantren dalam upaya kontra radikalisme dan intoleransi.
KERANGKA KONSEP Model Proses Belajar Nilai-nilai Kontra Radikalisme dan
Intoleransi di Pondok Pesantren Al-Karimiyah
Bab ini akan menjelaskan model implementasi nilai-nilai kontra radikalisme dan intoleransi melalui pendidikan pondok pesantren Al-Karimiyah.
Pertama kali yang akan dibahas adalah doktrin pesantren dalam upaya pendidikan kontra radikalisme dan intoleransi. Kemudian, dibahas tentang elaborasi kitab kuning terhadap radikalisme, intoleransi dan pencegahanya. Selain itu, juga dibahas model implementasi pendidikan kontra radikalisme dan intoleransi melalui kegiatan program-program dan kurikulum pesantren. Terakhir, dibahas tentang kendala-kendala yang dihadapi pesantren dalam upaya kontra radikalisme dan intoleransi.
A. Doktrin yang dikembangkan Pesantren Al-Karimiyah
Menurut Ahmad Damanhuri bahwa “Model Implentasi nilai-nilai kontra radikalisme dan intoleransi sangat penting diterapkan dipondok pesantren Al-Karimiyah, pondok pesantren tidak mengajarkan dan mengamalkan kepada santri tentang nilai-nilai radikalisme dan intoleransi. Pendidikan Pondok pesantren Al-Karimiyah berfaham Ahlussunnah Waljama’ah yang mengajarkan kepada para santrinya untuk bertoleransi, bersikap mengambil jalan tengah atau keseimbangan dengan tujuan untuk menangkal ajaran intoleransi dan radikalisme agama.” (Wawancara dengan Pimpinan Pesantren Al-Karimiyah yaitu Ahmad Damanhuri pada tanggal 05 Mei 2021)
Ciri faham Ahlussunah waljamaah meliputi watak moderat (tawassuth) i’tidal (bersikap adil), tawazun (bersikap seimbang), dan tasamuh (bersikap toleran), sehingga ia menolak segala bentuk tindakan dan pemikiran yag ekstrem (tatharruf) yang dapat melahirkan penyimpangan dan penyelewengan dari ajaran Islam. Dalam pemikiran keagamaan, juga dikembangkan keseimbangan (jalan tengah) antara penggunaan wahyu (naqliyah) dan rasio (‘aqliyah) sehingga dimungkinkan dapat terjadi akomodatif terhadap perubahan- perubahan di masyarakat sepanjang tidak melawan doktrin-doktrin yang dogmatis. Masih sebagai konsekuensinya terhadap sikap moderat, Ahlussunah waljamaah juga memiliki sikap-sikap yang lebih toleran terhadap tradisi dibanding dengan paham kelompok-kelompok Islam lainnya. Bagi Ahlussunah, mempertahankan tradisi memiliki makna penting dalam kehidupan keagamaan. Suatu tradisi tidak langsung dihapus seluruhnya, juga tidak diterima seluruhnya, tetapi berusaha secara bertahap di-Islamisasi.
(Zamakhsyari Dhofier, 1994)
Pemikirian Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah merupakan konsep penggabungan tiga disiplin ilmu agama dan dijalankan secara bersamaan sesuai dengan disiplin ilmu itu sendiri yaitu ilmu fiqih, ilmu akhlak tasawuf dan ilmu aqidah atau tauhid. Cara berfikir atau sudut pandang mansuia dalam memehami keilmuan bisa dilihat dari tiga disiplin ilmu tersebut.
Konsep ideologi atau faham yang diterapkan dipondok pesantren Al-Karimiyah adalah Pertama, Tawasuth yaitu berfikir moderat, mengambil jalan tengah, tidak ektrem kiri dan ekstrem kanan, berargumentasi menggunakan dalil naqli dan aqlli, sebab Sama Perspektif memastikan sama output Kedua, Tawazun, menanamkan konsep keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Ketiga, Tasamuh (Bertoleransi) artinya perbedaan merupakan sunatullah dan rahmat bagi manusia, dengan perbedaan para santri dituntut untuk saling mengohmati, sopan santun, menghargai orang lain dan Keempat, Tabayyun yaitu mencari informasi dengan baik, valid dan benar kepada sumber yang ahlinya, dengan demikian pemahaman yang beredar seperti hoax dapat diklarifikasikan dengan nilai tabayyun, yang Kelima, Nilai Budaya Islam Nusantara untuk menumbuhkan nasionalisme cinta tanah air.
Dalam mendidik santri di bidang Ibadah, pondok pesantren Al-Karimiyah memilih Madzhab Syafi’i sebagai amaliah sehari-hari. Di bidang Teologi memilih Ash’ariyyah Maturidiyyah. Meskipun begitu, pondok pesantren Al-Karimiyah tetap mengembangkan pengetahuan perbandingan madzhab. Sedangkan dalam bermu’amalah tidak hanya merujuk pada Madzhab Syafi’i melainkan juga Madzhab Hanafi, Maliki maupun Hambali. Melalui luasnya pemahaman/cara pandang dibidang fiqh yang bersumber dari beragam madzhab tersebut mampu berimplikasi pada santri untuk bersikap moderat, tidak mudah menjustifikasi, tidak mendiskriminasi dan tidak mendiskreditkan.
Menurut Ahmad Damanhuri bahwa “Pondok pesantren harus selektif dalam memilih organisasi yang dijadikan sebagai asimiliasi ideologinya. Dalam sejarah Indonesia ada 2 organisasi besar yang sudah tidak diragukan lagi dalam pemahaman NKRI yaitu NU dan Muhammadiyah. Masyarakat juga harus berhati-hati dalam memahami nasinolisme dengan agama. Para pemerintah hendaknya bertanya/ berkonsultasi kepada para ahlinya/ ulama dalam menentukan kebijakan yang berkaitan dengan agama. Mereka diberikan pelajaran pelajaran agama yang membawa kepada kemaslahatan. Negara-negara yang ada sekarang ini tidak perlu
mengatasnamakan Islam, cukup dengan nama Indonesia. Mereka yang mengatasnamakan Islam tetapi tidak mengamalkan Islam.
Negara Indonesia ini sudah menanamkan nilai-nilai keislaman, pemerintah memberikan fasilitasi kepada agama melalui kementrian-kementrian yang dibentuk oleh pemerintah yang mengatur urusan syariat agama bagi rakyatnya. Para pendiri agama lebih cerdas dalam memberikan nama untuk negara yaitu Indonesia.
(Wawancara dengan Pimpinan Pesantren Al-Karimiyah yaitu Ahmad Damanhuri pada tanggal 05 Mei 2021)
Sikap yang kontra radikal dan intoleran selalu beriringan dengan pendidikan pondok pesantren. pondok pesantren Al-Karimiyah memahami bahwa penanaman nilai-nilai kontra radikalisme dan intoleransi melalui pendidikan pondok pesantren sebagai sebuah usaha/langkah/kegiatan dalam membina/mendidik manusia agar memiliki wawasan yang luas, holistik dan integratif, cerdas, berketerampilan yang cakap, kreatif, bertoleransi tinggi dan menebarkan kasih sayang dengan tidak melakukan diskriminasi terhadap perbedaan latar belakang baik agama, ras, suku, bangsa, status sosial, aliran keagamaan dan aliran politik serta selalu bersikap inklusif.
Oleh sebab itu ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah dianggap sesuai untuk menghadadapi keberagaman yang ada di Indonesia. Karena dalam ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah terdapat nilai-nilai Tawasuth (moderat), Tawazun (seimbang), Tasamuh (toleran), I’tidal (tegak lurus).
Ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah di Indonesia di wadahi oleh organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang berdiri pada tanggal 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H) yang di pimpin oleh KH Hasyim Asy’ari. Diantara faktor yang melatar belakangi berdirinya NU adalah perkembangan dan pembaharuan pemikiran islam yang menghendaki pelarangan amaliah ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah. Untuk itu NU sebagai organisasi yang mewadahi ajaran Islam Ahlussunnah Wal jama’ah memiliki semboyan Al-muhafadhoh ‘ala al-qodim sholih wa al-akhdzu bi al-jadid al ashlah (Menjaga tradisi lama yang baik & mengambil tradisi baru yang lebih baik)
Nahdlatul Ulama adalah bagian dari gerakan yang berupaya mensetimbangkan kembali ketiga visi islam dengan berpijak pada gerakan kultural. Visi kultural NU mampu menyematkan tradisi moderasi dan toleransi umat islam. Dalam konteks hubungan agama vis a vis negara, alur pemikiran keislaman NU bersifat akomodatif. Artinya negara NKRI tidaklah bertentangan dengan misi profetis islam. NU sendiri merupakan satu-satunya organisasi islam yang pertama yang menyatakan bahwa
pancasiala sebagai dasar negara, tidak bertentangan dengan agama islam dan tidak menjadi agama baru bagi manusia. (Said Aqil Siraj, 2004)
Menurut Ahmad Damanhuri bahwa “Bagi saya, UUD 1945 kita mau menjalani agama sudah cukup, kalau mau mengganti siapa yang menggantikannya?, apakah yang mereka mau mengganti dan apa yang sudah mereka perbuat untuk Indonesia Mengatur negara bukan hanya urusan akhirat saja, melainkan juga urusan dunia juga.
Menurut hemat saya UUD 1945 hanya nama saja, isinya tidak melenceng terhadap aturan agama. UUD 1945 sudah tepat untuk dijadikan landasan ideologi negara. Jangan diponis bahwa orang-orang yang mendukung/ menyetujui UUD 1945 bukan berarti tidak mengamalkan Al-Qur’an, justru mengamalkan secara penuh isi daripada Al-Qur’an.
Pemerintah Indonesia telah membentuk kementrian agama untuk mengatur syariat agama sesuai dengan syariatnya masing-masing.
Peran pemerintah sangat objektif, pemerintah tidak membatasi/
menghalang-halangi setiap penganut agama untuk menjalankan ibadah sesuai dengan kepercayaannya masing-masing, pemerintah memberikan fasilitas kepada rakyatnya dalam menjalankan syariat agamanya masing-masing. Tidak ada campur tangan pemerintah dalam urusan syariat agama, pemerintah mengikuti madzhab yang dianut oleh rakyatnya sesuai dengan kepercayaannya masing-masing. Syariat dibentuk untuk umat Islam yang menjalankannya.
Serangan antar umat beragama tidak dibenarkan dalam agama.
Nilai-nilai radikal tidak diajarkan dipondok pesantren Al-Karimiyah. Doktrin kita adalah al-harokah barokah assukut maut.
Pola pengajaran kita mencontoh ulama-ulama terdahulu dalam kitab-kitab salaf, alumni-alumni kita sudah banyak yang berkiprah dimasyarakat dan ilmunya dipraktekkan.
Dalam hal ini kita harus berfikir kritis, dalam peristiwa itu bukan hanya urusan agama, bisa kemungkinan ada urusan politik yang mengatasnamakan agama. Islam mengajarkan kedamaian, maka kita doakan mereka disana agar menjadi damai, ideologi kita menjadi penengah. Banyak negara lain yang ingin belajar di Indonesia bahwa Indonesia dengan berbagai macam suku, budaya tetapi bisa jadi satu. Islam Moderat dengan Islam nusantara itu sama saja hanya nama saja yang isinya adalah tasamuh, tawazun, tawashut/
penengah, moderasi, keseimbangan, toleransi. Perbedaan itu sunnatullah jangan dijadikan perselisihan, akan tetapi kita harus toleransi, saling menghargai, perbedaan jangan dianggap musih,
tetapi kita bersaudara yang hasrus saling menghargai, menghormati.
Sifat tawazun/ keseimbangan/ penengah.
(Wawancara dengan Pimpinan Pesantren Al-Karimiyah yaitu Ahmad Damanhuri pada tanggal 06 Mei 2021)
Melihat realita yang terjadi pada peserta didik saat ini sangatlah bertolak belakangan dengan tujuan pendidikan. Para peserta didik mudah terpengaruh oleh pergaulan yang menyimpang dari norma agama.
Pendidikan saat ini perlu ditanamkan nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jama’ah agar peserta didik tidak terjerumus kepada pergaulan yang menyimpang dari norma agama. Dalam hal ini sekolah tingkat menengah atas sangat besar perannya dalam membentuk karakter peserta didik yang mampu bergaul dengan baik dan tidak menyampingkan norma agama.
1. Kurikulum Pesantren Al-Karimiyah sebagai upaya kontra radikalisme dan intoleransi
Menurut Ahmad Damanhuri bahwa “Kurikulum disini adalah kurikulum tersendiri yaitu kurikulum mengajarkan agama melalui kitab salafi atau kitab kuning yang kita pertahankan sampai saat ini.” (Wawancara dengan Pimpinan Pesantren Al-Karimiyah yaitu Ahmad Damanhuri pada tanggal 06 Mei 2021) Pondok pesantren Al-Karimiyah memadukan antara sistem pendidikan salafiyah yang merujuk pada pembahasan kitab klasik serta sistem pendidikan modern yang merujuk pada kurikulum yang ditetapkan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia.
Kurikulum pesantren berbasis pada pembelajaran kitab kuning. Meliputi fan/bidang al-Qur’an (Tafsir), Hadits, Aqidah, Akhlak dan Tasawwuf, Fiqh dan ushul al-fiqh, Lughah (Gramatikal dan Praktikal). Kitab-kitab yang diajarkan adalah sebagai berikut:
Nama Kitab Kelas
Ta’lim Muta’allim III Mts Pa/Pi Risalatul Muawanah
Bulugul Marrom
- II MA Judud - II MA Qudama - III MA Qudama Mabadi Awaliyah - III Mts Pa/Pi
- I MA Judud - I MA Qudama
As-Sulam - I MA Qudama
- II MA Judud - II MA Qudama
- III MA Judud - III MA Qudama
At-Tadzhib - I MA Qudama
- III MA Judud - III MA Qudama Ayatul Ahkam - I MA Qudama
- III MA Judud - III MA Qudama
Tashrif - I MA Qudama
- II MA Judud - II MA Qudama - III MA Judud - III MA Qudama Alfiyah (Ibnu ‘Aqil) - I MA Qudama Pa
- II MA Judud - II MA Qudama - III MA Judud - III MA Qudama Mukhtasor Jiddan III Mts Pa/Pi Matan Jurmiyah I MA Judud Mutammimah Jurmiyah II MA Qudama Riyadus Solihin II MA Qudama
Al-Bayan - III MA Judud
- III MA Qudama Fathul Majid - III MA Judud
- III MA Qudama Qamitughiyan III Mts Pa/Pi
Kaylani - I MA Qudama
- II MA Judud
Fathu Robi I MA Qudama
Al-Ghoyah Wataqrib II Mts Pa/Pi Khulasoh Juz 1 I MA Judud Khulasoh Juz 2 II Mts Pa/Pi Mukhtarol Hadits - III Mts Pa/Pi,
- I MA Judud Jawahirul Kalamiyah - III Mts Pa
- I MA Judud
Nashohihu Diniyah - I MA Qudama - II MA Judud - II MA Qudama - III MA Judud - III MA Qudama Tijan Daruri - I MA Qudama
- II MA Judud Sulamu Taufiq - II MA Judud
- II MA Judud Sulamu Taufiq - II MA Judud