BAB IV MODEL IMPLEMENTASI NILAI-NILAI KONTRA
F. Faktor Kelebihan dan Kekurangan Model Implementasi Nilai-nilai Kontra
Kelebihan yang ada dipondok pesantren Al-Karimiyah adalah tenaga pengajar yang berkompeten dalam agama, karena hampir semua asatidz pesantren al-karimiyah lulusan S1 Pendidikan Agama Islam dan Alumni pesantren yang sudah teruji dan terseleksi oleh pengurus yayasan
pesantren Al-Karimiyah. Selain itu kelebihan yang lain adalah kurikulumnya. Kurikulum disini adalah kurikulum tersendiri yaitu kurikulum mengajarkan agama melalui kitab salafi atau kitab kuning yang kita pertahankan sampai saat ini. Kurikulum Pondok Pesantren Al-Karimiyah memadukan dua kurikulum yaitu kurikulum departemen agama dan kurikulum salafi.
“Pembentukannya diawal masuk sudah diperkenalkan bahwa pondok pesantren Al-Karimiyah adalah pesantren NU, dipelajaran sekolah juga diberikan pelajaran Ke NU An”. (Wawancara dengan Pimpinan Pesantren Al-Karimiyah yaitu Ahmad Damanhuri pada tanggal 05 Mei 2021)
Adapun kekurangan yang penulis amati hanya di fasilitias LAB Agama yang belum terpenuhi, fasilitas masjid yang luas dan studi banding dengan pendidikan pendidikan pondok pesantren yang lebih maju lagi.
Namun demikian kekurangan yang ada tersebut dapat dikendalikan dengan baik dengan melakukan hal-hal sebagai berikut: Upaya yang dilakukan adalah: Selektifitas memilih guru, Kurikulum yang diajarkan dan Pembatasan pertemanan/ pergaulan.
Sikap cinta terhadap tanah airnya negerinya apabila pendudukunya mencintai negerinya. Merupakan sebuah kebanggaan dan penghargaan tersendiri bagi sebuah negara apabila apabila penduduknya dapat memenuhi kehidupannya merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah Swt yang ditunjukan untuk bangsanya, sehingga Allah Swt pun memakmurkan atas rizki yang mereka dapatkan dari dirinya (Negara).
Selain itu, orang yang memiliki cinta tanah air dianggap bahwa dia merupakan orang yang dapat dipercaya, berakhlak mulia,. Karena dengan memiliki sikap cinta tanah air, seseorang akan rela berkorban dengan seluruh jiwa dan raganya untuk mempertahankan negaranya dan membangun negaranya dengan segenap jiwanya.
Pendidikan kebangsaan juga mengharuskan bagi setiap masyarakat untuk menjaga persatuan, kedaulatan, dan kepemimpinan negara demi menjaga bangsa dan kecintaan kita pada tanah air. Karena tanah air adalah tempat berpijak, tempat berhidup, tempat berkeluarga, tempat bersaudara, serta tempat tumbuhnya agama dan dakwah Islam. Setiap individu juga wajib untuk mengantisipasi dan menjaga negara dari hal-hal yang merongrong kedaulatan, keamanan, dan kesatuan NKRI. Tujuan utama adalah menebarkan kasih sayang bagi setiap umat Islam dalam melaksanakan syariatnya, serta melindungi non Muslim dalam merapatkan barisan untuk kedaulatan negara.
1. Nilai Budaya dan Saling Mengasihi
Dalam Islam, bermu’amalah dengan siapa saja dengan tidak memandang latar belakang agama, ras, suku, golongan, ataupun bangsa pada prinsipnya diperbolehkan. Pondok pesantren Al-Karimiyah melakukan kerjasama dengan lembaga mana saja tanpa memandang latar belakang yang beragam itu. Selagi kerjasama tersebut bertujuan untuk kebaikan seluruh umat manusia. Menurut Ahmad Damanhuri yang berbeda itu seharusnya saling melengkapi dan saling mengasihi, bukan malah saling memusuhi. Agama itu keyakinan pribadi dengan Tuhan, satu sama lain tidak boleh saling memaksakan untuk mengikuti agama yang mereka yakini.
Ada beberapa pesan Ahmad Damanhuri yang menjadi pedoman para santri dan pengurus pesantren. pesan ini ditulis di papan pengumuman, di buku album santri yang akan lulus, di mading sekolah, di mading asrama, pesan itu adalah “al-harokah barokah, as-sukut maut” (bergerak itu berkah, diam itu mati) dan Melestarikan nilai-nilai lama yang baik dan menerapkan nilai-nilai baru yang lebih baik merupakan wujud dari penanaman nilai-nilai Kontra Radikalisme dan Intoleransi.
Ada lima panca janji santri yang setiap hari senin dibacakan dalam upacara oleh seluruh santri pesantren Al-Karimiyah. Lima panca janji tersebut adalah
a. Taqwa dan taat kepada Allah Swt dan Rasulnya b. Patuh kepada peraturan, dan tata tertib pesantren.
c. Menghormati dewan guru, pengurus pesantren dan menyayangi sesama santri
d. Menjaga nama baik pribadi, orang tua dan pesantren.
e. Menjaga sarana dan prasarana pesantren.
Hubungan pondok pesantren Al-Karimiyah dengan masyarakat tetap berjalan baik sampai sekarang. Prinsip kerjasama ini dibangun sesuai dengan dimensi penanaman nilai-nilai kontra radikalisme dan intoleransi Keduanya saling membangun kepercayaan, saling setara, tidak saling mendominasi dan saling menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang universal.
2. Nilai Kebaikan dan Akhlakul Karimah
Di dalam Agama Islam ada sebuah perintah yang ditujukan bagi para pemeluknya untuk mendakwahkan pesan-pesan yang bersumber dari ayat-ayat al-Qur’an dan Hadith. Pesan-pesan tersebut tentunya menyeru kepada kebaikan. Seperti menyeru manusia untuk saling
tolong menolong, jujur, dermawan, cinta damai, menghindari pertikaian, melarang pengrusakan, saling menghormati, dan lain sebagainya. Namun, dalam mendakwahkan kebaikan, cara berdakwahnya harus dengan cara yang baik pula. Dengan cara yang baik, Agama Islam akan terjaga citra baiknya.
Kita ketahui bersama, akhir-akhir ini dunia internasional dihebohkan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Jihad untuk mendirikan Negara Islam. Kelompok tersebut dikenal dengan nama Islamic State of Iraq And Syiria (ISIS). Mereka gemar melakukan tindakan kekerasan dan teror. Cita-cita mulia Agama Islam yang mengusung pembawa rahmat bagi seluruh alam semesta (rahmatan lil
‘alamin) rusak oleh tindakan-tindakan kelompok tersebut. Hal ini mengakibatkan penilaian negatif masyarakat internasional kepada Agama Islam, sehingga Islam menjadi tersudutkan dan disebut sebagai Agama teroris.
Hal ini menjadi fokus pondok pesantrean Al-Karimiyah sebagai lembaga pendidikan Islam. Pesantren memiliki tanggung jawab penuh untuk menjaga citra baik Islam. Oleh karena itu, pesantren ini memberikan pemahaman dakwah kepada santrinya secara komprehensif.
Pesan Ahmad Damanhuri bahwa metode dakwah yang tepat menurut ajaran al-Qur’an dan Hadist adalah dakwah dengan ramah dan santun. Dalam sebuah pengajian bersama para santri, beliau menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an yang memerintahkan untuk berdakwah dengan cara yang ramah dan santun. Beliau megutip al-Qur’an surat Taha ayat 44 dan surat al-Nah layat 125. Dua ayat ini memiliki kedudukan kuat sebagai prinsip dalam berdakwah. (Dokumentasi kajian kitab kuning bersama Ahmad Damanhuri peneliti simak pada tanggal 01 Mei 2021)
3. Nilai Kemandirian Ekonomi
Pondok pesantren Al-Karimiyah mempunyai jumlah santri 450 dengan pembiayaan santri perbulan Rp. 630.000 (MTs) Rp. 660.000 (MA). Biaya tersebut meliputi biaya pendidikan, makan, asrama, dan kesehatan. Setidaknya, jika diasumsikan bahwa kebutuhan makan satu orang santri selama satu hari adalah Rp. 15.000,-, maka selama satu hari pesantren tersebut harus menyiapkan uang sejumlah Rp. 6.750.000,-.
Selama satu bulan kurang lebih akan menghabiskan Rp. 202.500.000,-.
Jumlah tersebut baru untuk kebutuhan makan, belum kebutuhan operasional lainya. Oleh karena itu, diperlukan kemandirian ekonomi
yang kuat dengan segala sistem dan strateginya untuk menopang kebutuhan pesantren. Sumber pendanaan untuk biaya operasional pondok pesantren Al-Karimiyah seluruhnya berasal dari iuran santri.
Dalam kegiatan pelaksanaan wirausaha pesantren juga terdapat nilai-nilai kontra radicalism dan intoleransi yang dijalankan oleh para santri. Jika dalam aktifitas keseharian, antar santri diarahkan untuk berkeja sama satu sama lain untuk melakukan piket kebersihan, mengerjakan tugas pelajaran, menyelesaikan masalah, menyukseskan sebuah acara (event), dan lain sebagainya, maka di dunia bisnis (unit usaha) mereka dituntut untuk bekerjasama bahu membahu melaksanakan tugas masing-masing untuk suksesnya bisnis tersebut.
Mereka yang berasal dari suku dan bahasa yang berbeda harus belajar menghormati dan menghargai pendapat dalam memusyawarhkan strategi pengelolaan, pemasaran dan manajemen keuangan. Jujur, bertanggung jawab, loyal, toleran, kompak menjadi modal utama untuk kesuksesan dalam menjalankan sebuah wirausaha.
Keberhasilan pendidikan pesantren dapat diukur melalui output yang dihasilkan. Jika output (alumni) yang dihasilkan sesuai dengan visi misi yang telah dicanangkan maka pendidikan di pesantren tersebut dikatakan berhasil. Selain itu, keberhasilan pendidikan pesantren dapat dilihat dari alumni yang terus berkarya di masyarakat sebagai upaya mengembangkan ilmu yang telah didapatkan dari pesantren. Mereka tidak stagnan, tetapi terus berkreasi, berinovasi, menyesuaikan perkembangan zaman.
Salah satu faktor tumbuh suburnya faham radikalisme adalah masalah kesenjangan ekonomi yang sangat tinggi. Tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai. Orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan cenderung mudah melakukan tindakan radikal yang berujung kriminal. Pendidikan di pondok pesantren Al-Karimiyah mengarahkan santri-santrinya untuk menjadi pengusaha dan membuka lapangan pekerjaan baru. Dengan begitu, alumni diharapkan mapan secara ekonomi dengan memberdayakan ekonomi mandiri dan mengikis faktor munculnya radikalisme.
Dengan adanya implementasi kemandirian ekonomi tersebut, para alumni sudah terbebas dari salah satu faktor penyebab terjerumusnya kedalam faham radikalisme dan terorisme. Mereka tidak gampang terpengaruh mengikuti faham radikalisme dan terorisme karena iming-iming harta benda. Namun, memang untuk terhindar dari radikalisme dan terorisme tidak cukup hanya sampai pemberdayaan
ekonomi saja, tetapi juga dalam hal lain seperti pemahaman toleransi secara komprehensif, penggunaan media sosial yang sehat, sadar pemberitaan provokasi dan hate speech dan lain sebagainya.
4. Nilai Pemikiran KIAI
Alumni pondok pesantren Al-Karimiyah dari tahun 1990 s/d 2021 yang terdata sampai saat ini adalah 3.720 santri dengan rincian 1.438 santri putra dan 2.282 santri putri yang tersebar di seluruh Indonesia. Sesuai dengan ciri khas pesantren, bahwa santri akan memiliki hubungan batin yang sangat kuat kepada kiyainya meskipun telah menjadi alumni.
Menurut Sutan Akhyar Rajabi, mayoritas alumni pondok pesantren memilih untuk menjadi pengajar dan pendidik di daerah mereka asal. Baik di lembaga pendidikan formal seperti sekolah, madrasah diniyyah, dan TPQ (Taman Pendidikan al-Qur’an) maupun non-formal seperti guru ngaji di mushola dan majelis ta’lim. Selain itu, sebagian dari alumni memilih untuk berkarir menjadi karyawan, politisi tingkat desa sampai pusat, berdagang dan ikut aktif menjadi kader salah satu ormas Islam yang moderat. Ada beberapa alumni juga yang sudah merintis pondok pesantren di daerah Bojongsari, Depok, Citayem, Bogor, Bekasi, Tangerang dan Jakarta. (Wawancara dengan Sutan Akhyar Rajabi pada tanggal 06 Mei 2021)
Berbekal nilai-nilai kontra radikalisme dan intoleransi yang mereka dapatkan semasa menjadi santri, mereka mampu berkiprah di masyarakat dengan baik. Menurut Fauzan, sebagai alumni harus mampu mengembangkan ilmu yang telah didapatkan di pesantren dan membawa manfaat yang nyata (real function) bagi masyarakat setempat. Alumni harus kreatif dan inovatif menyikapi potensi dan kebutuhan masyarakat, sehingga apa yang diperjuangkan tepat guna.
Dengan begitu, outcome dari pesantren terlihat jelas. (Wawancara dengan alumni Fauzan pada tanggal 07 Mei 2021)
Berdasarkan data yang peneliti peroleh, ada beberapa alumni pondok pesantren Al-Karimiyah yang berkiprah di pemerintahan khsusnya Kementrian Agama. Data ini menunjukan bahwa menurut kemenag, output dari pondok pesantren Al-Karimiyah dinilai mampu mengemban tugas tersebut dengan membumikan nilai-nilai kontra radikalisme dan intoleransi yang telah mereka terima dari pesantren.
Nilai-nilai kontra radikalisme dan intoleransi tersebut mereka integrasikan dengan pengetahuan agama dalam bekerja di Kantor Kementrian Agama.
Sementara menurut pengakuan Nahdho, ia merasakan manfaat dari penanaman nil;ai-nilai kontra radikalisme dan intoleransi yang telah diajarkan oleh Ahmad Damanhuri. Selama bergabung dalam sebuah organisasi ‛Jaringan Gusdurian‛, ia menyadari bahwa apa yang telah ia dapatkan selama menjadi santri di pondok Al-Karimiyah memiliki titik temu dengan apa yang dikampanyekan oleh organisasi tersebut.
Memperjuangkan manusia-manusia yang tertindas, korban daridiskriminasi. Menjalin kasih sayang dalam bingkai kemanusiaan tanpa memandang agama, suku, ras, pilihan politik, aliran keagamaan dan kepercayaan. Menolak gerakan Islam yang radikal. Ia juga mengajak alumni-alumni yang lain untuk bergabung dalam organisasi tersebut. (Wawancara dengan Nahdho pada tanggal 07 Mei 2021)
Taufik Hidayat menambahkan bahwa alumni pondok pesantren Al-Karimiyah harus berjuang sesuai dengan apa yang telah Ahmad Damanhuri tanamkan. Ia sendiri memilih menjadi kepala sekolah Madrasah Ibtidaiyah di daerah Grogol Depok. Selain itu Taufik Hidayat juga aktif sebagai kader PKPNU. (Wawancara dengan alumni pertama Taufik Hidayat pada tanggal 07 Mei 2021). Ia yakin bahwa banyak alumni yang tergabung dalam organisasi tersebut di berbagai daerah.
Hal itu didasarkan bahwa doktrin yang Ahmad Damanhuri tanamkan pada santrinya tentang pengamalan Islam yang moderat begitu kuat.
Menurut Saudara Sutan Akhyar Rajabi sebagai santri yang telah lulus dari pondok pesantren Karimiyah/Alumni pesantren Al-Karimiyah ada yang mencari kerja atau kuliah. Adapun Ormas apa yang ikuti adalah organisasi NU, sebagai bentuk Tabarrukan (mencari keberkahan). Adapun koordinasi ataupun konsolidasi antar alumni yang saya ketahui dibidang kepramukaan. Isu sara’menurut saya harus lebih bisa mensaring informasi yang ada atau tidak ditelan mentah-mentah.
Peran alumni dalam membendung isu sara’, Radikalisme dan Intoleransi harus benar-benar memahami keadaan yang terjadi. Sejauh ini tidak ada alumni Al-Karimiyah yang terindikasi radikal dan intoleran. peta persebaran alumni Al-Karimiyah melanjutkan perjuangan penanaman nilai-nilai Kontra Radikalisme dan Intoleransi di seluruh daerah Indonesia dengan mengamalkan pancasila serta mempertahankan prinsip agama yang telah dipelajari. mengembangkan pemikiran KIAI dengan Mengingat, mengaplikasikan serta terus mengembangkan apa yang telah disampaikan oleh KIAI (hal-hal baik), alumni memberdayakan ekonomi mandiri dengan Etos kerja (wawancara dengan Sutan Akhyar Rajabi pada tanggal 07 Mei 2021)
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Secara implisit kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pendidikan pondok pesantren mampu menjadi alternatif dalam membendung radikalisme dan intoleransi. Adapun secara rinci, kesimpulan yang menjawab rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Model pendidikan atau nilai-nilai kontra radikalisme dan intoleransi yang diajarkan di Pondok Pesantren Al-Karimiyah adalah Pertama, Tawasuth yaitu berfikir moderat, mengambil jalan tengah, tidak ektrem kiri dan ekstrem kanan, berargumentasi menggunakan dalil naqli dan aqlli, sebab Sama Perspektif memastikan sama output Kedua, Tawazun, menanamkan konsep keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat.
Ketiga, Tasamuh (Bertoleransi) artinya perbedaan merupakan sunatullah dan rahmat bagi manusia, dengan perbedaan para santri dituntut untuk saling mengohmati, sopan santun, menghargai orang lain dan Keempat, Tabayyun yaitu mencari informasi dengan baik, valid dan benar kepada sumber yang ahlinya, dengan demikian pemahaman yang beredar seperti hoax dapat diklarifikasikan dengan nilai tabayyun, yang Kelima, Nilai Budaya Islam Nusantara untuk menumbuhkan nasionalisme cinta tanah air.
2. Implementasi model pendidikan atau nilai-nilai kontra radikalisme dan intoleransi yang diterapkan di Pondok Pesantren Al-Karimiyah adalah dalam bentuk model seperti Model Mudzakaroh (Bahtsul Masail), Model Pengajaran Kitab Kuning, Model Figure Kyai, Asatidz (Uswah Hasanah), Model Kegiatan Ekstrakurikuler, Model Majelis Muhadhoroh, Kultum dan Khutbah, Model Islam Nusantara, Model Pengasuhan Santri di Asrama. Model Implementasi nilai-nilai kontra radikalisme dan Intoleransi di Pondok Pesantren Al-Karimiyah dapat dijadikan sebagai bahan acuan pendidikan kontra radikalisme dan intoleransi. Dan berlaku untuk membentuk santri yang tunduk, patuh kepada ajaran agama, sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh nabi menuju manusia yang selamat dunia dan akhirat. Berguna untuk dirinya sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa negaranya.
3. Dampak dari pelaksanaan model implemenatsi nilai-nilai kontra radikalisme dan intoleransi di Pondok Pesantren Al-Karimiyah adalah para santri mempunyai karakter yang baik seperti berfikir logis, tata karma yang baik, mengamalkan nilai-nilai kebaikan, mempunyai
kedisiplinan, mandiri, menghargai orang lain, tidak mudah menjastifikasi seseorang sesat atau kafir tanpa argumentasi dalil yang kuat.
B. Saran
Penelitian ini juga dapat digunakan pesantren Al-Karimiyah dalam memaksimalkan model implementasi nilai-nilai kontra radikalisme dan intoleransi yang telah dilaksanakan. Misalnya manajemen alumni agar aktif berkontribusi untuk kemajuan pondok pesantren, memaksimalkan media digital sebagai media dakwah pesantren dalam mengampanyekan nilai-nilai kontra radikalisme dan intoleransi, dan menyiapkan konten-konten dakwah Islam rahmatan lil ’alamin yang lebih inovatif.
Melihat kendala-kendala yang terjadi di pesantren Al-Karimiyah peneliti memiliki saran agar lebih mengutamakan kualitas dari pada kuantitas santri. Manajemen kurikulum pesantren agar dikelola lebih profesional, seperti standar kelulusan, test masuk pesantren, pengaturan rombongan belajar (rombel), skala prioritas pengadaan sarana dan prasarana, dan lain sebagainya. Melalui manajemen yang professional diharapkan agar lahir alumni-alumni yang memiliki kualitas intelektual yang baik dan jiwa religiusitas yang tinggi.
Penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai bahan acuan bagi berbagai pesantren di seluruh Indonesia untuk menerapkan model nilai-nilai kontra radikalisme dan intoleransi. Pola kerja sama inklusif dengan lembaga apapun patut dijadikan contoh oleh pesantren-pesantren lain.
Pemerintah, dalam hal ini adalah Kementrian Agama Republik Indonesia harus mengapresiasi adanya lembaga pendidikan model pesantren seperti ini. Untuk itu, pemerintah harus lebih intens dalam memberikan perhatian terutama dukungan pada segi anggaran pembangunan sarana prasarana belajar untuk mencetak generasi yang handal dalam sains dan teknologi.
DAFTAR PUSTAKA A. Buku
Abdul Aziz al-Malibari, Zainuddin bin, Fathul-Mu’in Bi Syarhi
Quratul-‘Aini, Semarang: Toha Putra, t.th.
Abd Mogsith Ghazali. 2009. Merayakan Kebebasan Beragama Bunga Rampai Menyambut 70 tahun Djohan Effendi. Jakarta Buku Kompas.
Abdul Mujib dan Yusuf Mudzakir. 2006. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta:
Kencana Prenada Media.
Abdurrachman Surjomihardjo. 1986. KI Hadjar Dewantara dan Taman Siswa dalam Sejarah Indonesia Modern. Jakarta: Sinar Harapan.
Abdurrahman Wahid. 1999. "Pondok Pesantren Masa Depan", dalam Marzuki Wahid, dkk (peny). Pesantren Masa Depan. Bandung:
Pustaka Hidayah.
Abimanyu dan Manrihu. 1996. Teknik Relaksasi dalam Konseling. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.
Abu, Ahmadi. 2007. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Abuddin, Nata. 2005. Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan Pertengahan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Agus Surya Bakti. 2016, Deradikalisme Nusantara Perang Semesta Berbasis Kearifan Lokal Melawan Radikalisme dan Terorisme, Daulat Press, Jakarta.
Ahmad Syafii dkk. 2011. Executive Summary of Research on Motivation and Root Causes of Terrorism. Jakarta: Indonesian Institute for Society Empowerment.
Ahmad Tafsir. 2006. Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Akhyar Lubis, Saiful. 2007. Konseling Islami. Yogyakarta: elSAQ Press.
Al-Attas M. Naquib dalam Yasmadi. 2002. Modernisasi Pesantren (Kritik Nuchholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam Ttradisional, Jakarta:
Ciputat Pers.
Ali Syu’aib dan Gils Kibili. 2004. Meluruskan Radikalisme Islam Jakarta:
Pustaka Azhari.
Antonio Sandu, Simona Ponca, and Elena Unguru. 2010. Qualitative Methodology in Analyzing Edzucational Phenomena‛.
Aqil, Said Siradj. 2004. Pesantren Masa Depan. Cirebon: Pustaka Hidayah.
Arif, Syaiful. 2010. Deradikalisasi Islam, Paradigma dan Strategi Islam Kultural. Depok: Koekoesan bekerjasama dengan British Council.
Arifin.1991. Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum). Jakarta : Bumi Aksara
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Asep Syamsul M. Romli, S. 2000. Demonologi Islam: Upaya Barat Membasmi Islam. Jakarta: Gema Insani Press.
Ashraf, Ali. 1993. “Horison Baru Pendidikan Islam”. Jakarta. Pustaka Firdaus.
Azra, Azyumardi, Idris Thaha, 2007, Jejak-jejak Jaringan Kaum Muslimin dari Australia Hingga Timur Tengah. Jakarta: Hikmah.
Azra, Azyumardi. 2002. Konflik Baru Antar Peradaban: Globalisasi, Radikalisme, dan Pluralitas. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Az-Zuhaili, Muhammad. 2012. Moderat Dalam Islam, Penerjemah Kuwais
dan Ahmad Yumus Naidi). Jakarta: Akbar Media Eka Sarana
Bachtiar Effendy dan Mun’im A. Sirri. 2007. “Ekstremisme Islam: Bukan Sekedar Persoalan Teologis atau Penafsiran Keagamaan,” Agama dan Radikalisme di Indonesia. Jakarta: Nuqtah.
Bafadal, Ibrahim. 2008. peningkatan profesionalisme guru sekolah dasar dalam kerangka ,anajemen peningkatan mutu berbasis sekolah, Jakarta: Bumi Aksara.
Balai Pustaka. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua. Jakarta:
Depdikbud.
Bilveer Singh dan Abdul Munir Mulkhan. 2012. Jejaring Radikalisme Islam di Indonesia: Jejak Sang Pengantin Bom Bunuh Diri.
Yogyakarta: Jogja Bangkit Publisher.
Buford Junker dalam Michael Quinn Patton. 1980. Qualitative Evalutions Methods (Baverly Hills: Sage Publications.
Bull, Victoria. 2011. Oxford Learner’s pocket Dictionary, Fourth Edition.
China: Oxfords University Press
Chairuddin Ismail. 2011. Polisi Sipil dan Paradigma Baru Polri, Jakarta:
Merlyn Press.
Darajat, Zakiyah. 2011. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.
David E. O'Connor. 2004. The Basics of Economics. Wesport. Conn:
Greenwood Press.
Departemen Agama RI. 2003. Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah:
Pertumbuhan dan Perkembangannya. Jakarta: Dirjen Bagais.
Departemen Pendidikan Nasional. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
Depdikbud, 1989, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Buku Satu, Jakarta:
Balai Pustaka Utama.
Dhofier, Zamakhasyari. 1994. Tradisi Pesantren. Jakarta: LP3ES.
Dhofier, Zamakhsyari. 2011. Tradisi Pesantren, Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia, Jakarta: LP3ES
Dhofier, Zamakhsyari. 1997. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Kyai, Jakarta: LP3ES, Cet. VII.
Diana Hakim Koentjoro. 2004. Hukum Administrasi Negara, Tangerang:
Ghalia.
Din Wahyudin, dkk. 2009. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka.
Faisal, Yusuf Amir. 1995. Reorientasi Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Fazlur Rahman. 1982. Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. Chicago: The University of Chicago Press.
Florian Pohl. 2009. Islamic Education and The Public Sphere Today's Pesantren In Indonesia. Munster: Waxman, 2009
Geertz, Clifford. 1981, Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa, Jakarta: Pustaka Jaya
Gerald L. Gutek. 1988. Philosophical and Ideological Perspectives on Education. New Jersey: Prentice Hall.
Gerald L. Gutek. 1988. Philosophical and Ideological Perspectives on Education. New Jersey: Prentice Hall.