• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV MODEL IMPLEMENTASI NILAI-NILAI KONTRA

B. Model Implementasi Pendidikan Pondok Pesantren sebagai upaya Kontra

7. Model Pengasuhan Santri di Asrama

Menurut Ahmad Damanhuri bahwa “Strateginya adalah santri diajarkan hal-hal yang positif dan menguntungkan kepada santri.

Strategi Pondok Pesantren Al-Karimiyah dalam membentuk santri yang kontra radikalisme dan intoleransi adalah sebagai berikut:

1. Mengikuti kegiatan PKPNU (Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama)

2. Membiasakan menggunakan simbol/ atribut Nahlatul

‘Ulama, Dengan tujuan bahwa kita ciri dari kelompok anti radikalisme dan intoleransi

3. Membiasakan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Yalal Wathon” (Wawancara dengan Pimpinan Pesantren Al-Karimiyah yaitu Ahmad Damanhuri pada tanggal 05 Mei 2021)

Asrama merupakan salah satu bagian dari proses pendidikan santri selain di kelas. Di asrama sebuah hidden curriculum berlangsung.

Jika di kelas merupakan tempat pembelajaran ilmu yang teoritis, maka di asrama merupakan tempat pembelajaran praktis yang lebih tepatnya disebut dengan proses pembentukan karakter santri.

Jika dilihat dari latar belakang daerah asal (suku), santri diasramakan secara random. Hal ini bertujuan agar satu sama lain dapat saling melakukan perkenalan dan pertukaran pengetahuan dari masing-masing jenjang kelas. Selain itu, juga bertujuan agar santri dapat saling memahami, menghormati, dan menghargai watak dari masing-masing daerah yang berbeda tadi. Misalnya, santri asal jawa yang terkenal lemah lembut harus memahami dan tidak mudah tersinggung dengan santri asal Palembang atau Medan (Batak) yang terkenal dengan nada bicaranya yang keras dan kasar.

Menurut Khairul Muttaqien, salah satu dari asatidz pesantren Al-Karimiyah mengatakan bahwa Perlakuan pesantren terhadap santri yang memiliki latar belakang yang beragam, baik suku, ras, dan status sosial yaitu Tidak membeda-bedakan atau pilih kasih.. Strategi yang dilakukan pesantren agar pengurus dan pengajar tetap berpegang teguh pada penanaman nilai-nilai Kontra Radikalisme dan Intoleransi yaitu membuat jadwal diskusi sesekali dalam menyelesaikan masalah-masalah yang kecil ataupun yang besar. Mengintegrasikan penanaman nilai-nilai Kontra Radikalisme dan Intoleransi dengan kajian kitab kuning sebagai upaya pencegahan radikalisme dan intoleransi yaitu mengaitkannya dengan pemahaman-pemahaman agama untuk bisa berakhlak baik disetiap keadaan. Mengelaborasi

penanaman nilai-nilai Kontra Radikalisme dan Intoleransi dalam sebuah kebijakan peraturan atau ketika mengajarkan sesuatu mata pelajaran adalah mengajak santri dalam menjabarkan hal-hal yang mereka tidak ketahui. Mengelaborasikan mata pelajaran yang anda ampu dengan penanaman nilai-nilai Kontra Radikalisme dan Intoleransi yaitu dengan cara adil dengan memperlakukan setiap sesuatu sesuai kebutuhan. Pembentukan Negara khilafah misalnya yang sering dikampanyekan oleh HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) dan ISIS saya kurang sepakat karena Indonesia memang mayoritas muslim, tetapi tidak bisa dikatakan negara Islam, karena Indonesia dibentuk dengan persatuan.

(Hasil wawancara dengan Khairul Muttaqien pada tanggal 06 Mei 2021))

Adapun klasifikasi jenjang pendidikan tetap dibedakan, sehingga santri dengan jenjang MTs dan MA berasrama secara terpisah.

Meskipun dalam satu jenjang, pembagian asrama tidak sama dengan pembagian kelas di sekolah.

Santri dibuat kelompok-kelompok belajar, kelompok makan, dan kelompok piket kebersihan. Melalui pengelompokan tersebut, bermaksud melatih kerja sama antar santri. Interaksi antar santri di asrama menggunakan bahasa arab dan inggris,. Penggunaan bahasa tersebut dijadwalkan pada waktu-waktu tertentu.

Pola kepemimpinan juga terbentuk di asrama. Satu asrama yang berisikan lebih kurang 300 santri secara demokratis melakukan pemilihan ketua asrama setiap satu tahun sekali. Salah satu santri yang terpilih menjadi ketua asrama harus membuat tim kepengurusan yang solid agar asrama tersebut dapat menjadi asrama percontohan asrama lainnya. Di setiap triwulan dilakukan penilaian dan penghargaan kepada asrama terbaik dengan katagori kebersihan, keindahan, kedisiplinan, dan prestasi warga asrama tersebut (misalnya, pemenang lomba baca kitab kuning, lomba mengisi kolom mading, dll). Tugas pembimbing diantaranya adalah menerima setoran hafalan, mengabsen kehadiran salat di Masjid, mengabsen saat hendak tidur, dan memberikan laporan progres kepada wali santri.

Seorang ketua asrama juga memiliki otoritas dalam membuat peraturan di asrama yang ia pimpin. Misalnya terkait dengan jadwal penguncian pintu, jadwal pemakaian lampu, jadwal pemakaian kamar mandi, larangan melakukan kekerasan, himbauan agar selalu menghargai perbedaan, dan pemberian sanksi pada santri yang

melanggar peraturan yang telah disepakati. Dalam pembuatan peraturan ini, seorang ketua asrama juga harus berkoordinasi dengan pengurus harian pesantren bagian keasramaan. Ia harus melaporkan segala kebijakan yang telah ia lakukan. Hal ini bertujuan agar peraturan di asrama sejalan dengan visi misi pesantren.

Ada beberapa kegiatan menarik yang dilakukan di asrama.

Misalnya, kegiatan muhadharah, kegiatan peringatan Maulid Nabi, peringatan isra’ mi’raj, tasyakuran kelulusan, kegiatan haflah akhir sanah, dll. Semua kegiatan tersebut dilakukan agar hubungan antar santri semakin akrab. Dalam kegiatan tersebut, turut mengundang perwakilan-perwakilan asrama lain, pengurus harian pesantren, dan dewan guru. Selain ceramah agama, kegiatan tersebut juga bermuatan menampilkan budaya-budaya khas daerah dan hiburan-hiburan seperti musik band, sholawat rebana, komedi, pantomim, dan lain sebagainya.

Terkadang, di asrama juga terjadi gesekan (konflik) antar santri yang berbeda suku. Konflik tersebut terjadi biasanya karena faktor dicurinya makanan, baju, dan kebutuhan pribadi lainya. Namun, menurut ketua asrama konflik tersebut selalu hanya berlangsung antar individu saja tidak melibatkan kelompok daerah. Apabila ada kasus seperti itu, pemberian sanksi yang berat diserahkan kepada bagian keamanan pesantren. Sementara, sanksi yang berikan oleh ketua asrama adalah berupa sanksi sosial berupa piket kebersihan selama satu minggu penuh dan sanksi administratif berupa rekomendasi agar dipindahkan di asrama lainya. Sanksi administratif tersebut merupakan jalan terakhir apabila kesalahan tersebut dilakukan secara berulang-ulang.

Untuk menghindari kejenuhan dan memaksimalkan interaksi sosial antar santri, pola perpindahan asrama dilakukan setahun sekali.

Semaksimal mungkin dilakukan pengacakan agar santri yang jumlahnya 450 tersebut dapat saling mengenal satu sama lainya. Sebenarnya, kebijakan seperti ini mengundang pro dan kontra antar santri. Mereka yang kontra berargumen bahwa mereka harus beradaptasi dengan asrama baru mereka lagi. Menurut mereka proses adaptasi tersebut menghambat proses belajar mereka. Sementara, santri yang pro terhadap kebijakan tersebut mengungkapkan bahwa adaptasi dengan asrama baru memang mengganggu proses belajar tetapi tidak begitu lama, justru yang terpenting adalah satu sama lain saling mengenal agar ikatan persaudaraan sesame santri semakin kuat. Harapanya, persaudaraan tersebut terjalin tidak hanya semasa menjadi santri saja tetapi sampai menjadi alumni. Dengan begitu, menjadi sangat kokoh pergerakan

santri setelah menjadi alumni, satu sama lain saling membantu, baik dalam dunia pendidikan maupun berwirausaha.

C. Kendala-Kendala dalam mengimplementasikan model nilai-nilai