• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PONDOK PESANTREN DAN PENDIDIKAN ANTI RADIKALISME

B. Toleransi dan Intoleransi

3. Faktor-faktor Penyebab Timbulnya Intoleransi

Menurut penulis intoleransi adalah sikap tidak menghargai dan menghormati orang lain, memaksakan kemauan dan kehendak sendiri, egoisme atau mau menang dan untung sendiri, tanpa memikirkan kemaslahatan orang lain.

Menurut Smith faktor timbulnya Intoleransi melalui dua hal, Pertama, kita tidak bisa lagi memandang suatu agama dianggap sebagai lebih superior dibanding yang lain, karena bisa memicu konflik terbuka.

Kedua, kita harus menyingkirkan semua prasangka yang membuat pikiran kita tidak peka atau tidak siap terhadap wawasan-wawasan baru yang lebih segar. Jika kita bisa mengenyampingkan pikiran kita mengenai hal ini, maka tabir yang memisahkan kita dengan mereka kalaupun tidak bisa disingkirkan semuanya dapat dikurangi menjadi kabut tipis belaka. (Huston Smith, 2008: 77)

Toleransi berpijak dari konsep dasar yaitu dengan bersikap positif dan menghargai orang lain dalam rangka menggunakan kebebasan asasi sebagai manusia. Karena didasari pada dua model toleransi, yaitu: Pertama, toleransi pasif, yakni sikap menerima perbedaan sebagai sesuatu yang bersifat faktual; Kedua, toleransi aktif, melibatkan diri dengan yang lain ditengah perbedaan dan keragaman, toleransi aktif merupakan ajaran semua agama. Dalam sejarah, Bangsa Indonesia adalah bangsa yang toleran yang sedapat mungkin menghindarkan diri dari perselisihan-perselisihan. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mengartikan toleransi sebagai sikap "saling menghormati, saling menerima, dan saling menghargai di tengah keragaman budaya, kebebasan berekspresi, dan karekter manusia". Untuk itu, toleransi harus didukung oleh pengetahuan yang luas, bersikap terbuka, dialog, kebebasan berfikir dan beragama.(Zuhairi Misrawi, 2007: 3)

Dalam konteks Indonesia, kualitas keberagaman kita tidak lagi dipertanyakan. Karena adanya lima agama, aneka ragam suku, budaya diakui berikut kebebasan menjalankan ibadah dan tradisi masing-masing. Namun tetap saja perbedaan tersebut seringkali memunculkan ketegangan. Belum lagi antara aliran pemahaman yang berbeda-beda dalam suatu agama tertentu yang turut memperlemah solidaritas sebagai bangsa. Ironisnya satu sama lain memberikan klaim kebenaran yang terkesan menyimpang dari yang lainnya. Bahkan menghalalkan darah.

Akibatnya bukan solidaritas yang tercipta namun sikap saling memusuhi dan mengerdilkan satu sama lain.

Penguatan masyarakat dalam wajah masyarakat yang plural tidak akan berlangsung dengan baik selama masyarakat itu sendiri tidak menyadari pentingnya menghargai dan memperkuat diri dan sesamanya.

Jika tidak maka asumsi Myrdal seperti dikutip dari O'Connor yang menjelaskan Indonesia sebagai soft state sulit untuk dibantah. Negara di mana pemerintah dan warganya tidak memiliki ketegaran moral yang jelas, khususnya moral sosial dan politik. (David E. O'Connor, 2004:

314)

Bangsa ini mengidap kelembekakkan (liniency) serba memudahkan (easy going). sehingga tidak memiliki kepekaan cukup terhadap berbagai bentuk penyelewengan dan penyimpangan, serta tidak mau belajar dari kesalahan masa lalu untuk diperbaiki dan menyusun program yang sistematis dalam rangka membentuk karakter bangsanya.

(Nurcholis Majid, 2004: 111)

Menurut Rosenbaum, pada dasarnya masyarakat dalam keanekaragamannya bisa menyadari pentingnya kesatuan di bawah semangat kebangsaan lewat penjajahan yang mereka alami. Walaupun rezim kolonial tidak menekankan hal itu, namun para elit politik di sebuah bangsa turut ambil bagian dari upayapenyatuan tersebut. (Hans Bressers: Walter A. Rosenbaum, 2003: 38-40).

Karena dalam keterpecahan, sistem politik yang bijaksana menjadi tidak berfungsi, yang ada hanyalah kecenderungan untuk menyelesaikan persoalan dan kekerasan. (Walter A. Rosenbaum, 2001)

Kenyataan semakin parah saat negara tidak mampu ikatan mengatur perbedaan yang merupakan produk laten dalam masyarakat.

Dalam konteks Indonesia, negara yang berdiri diatas fondasi negara-bangsa, ia membutuhkan ikatan sosial yang kuat agar roda kehidupan bangsa dan negara berjalan dengan baik. Hal ini jauh dari impian Renan yang pernah menjabarkan bahwa sebuah negara berdiri di atas

solidaritas dan pengorbanan masyaraka, di mana masyarakat itu sendiri yang berkehendak untuk berintegrasi. (Abd Mogsith Ghazali, 2009:

324)

Pada dasamya masyarakat diharapkan dapat bertoleransi dengan baik, di tengah-tengah masyarakat yang plural. Oleh karena itu pluralisme menjadi wacana yang marak diperbincangkan lantaran perbedaan hendasar antara pluralisme dengan pengertian awalnya yaitu pluralism yang diliputi semangat religius, bukan hanya sesio kultural.

Di sisi lain keberagaman tersebut merupakan kekayaan tersendiri bagi bangsa Indonesia Namun jika tidak difahami dengan sikap toleran dan saling menghormati, pluralitas budaya, agama dan tradisi cenderung akan memicu kekerasan (violence) atau konflik SARA." (Longman 1998: 792) seperti konflik-konflik yang terjadi di Indonesia menggambarkan adanya. sikap yang kurang memahami dan kurang toleran terhadap pluralitas di nusantara ini.

Keberagaman dalam Islam juga telah berkembang sejalan dengan pemikiran global keberagaman keagamaan dan demokrasi."

Esensi keberagaman adalah pengakuan akan kebebasan. perbedaan, keeksistensi damai. Madjid menegaskan bahwa gagasan keberagaman di Indonesia dalam kesetaraan dan toleransi merupakan ide-ide etik dari diskursus civil society (masyarakat madani) yang berkembang sejalan dengan jawaban bagaimana melacak otensitas landasan etik nilai-nilai tersebut dalam khazanah Islam dan secara liberatif mampu membangun hubungan dialogis dengan wacana modernitas. (Heri Junaidi, 2001)

Keberagaman tidak dapat dipahami hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat kita majemuk, beraneka ragam, terdiri dari berbagai suku dan agama, yang justru hanya menggambarkan kesan fragmentasi, bukan keberagaman. keberagaman juga tidak boleh dipahami sekedar sebagai "kebaikan negatif" (negative good). hanya ditilik dari kegunaannya untuk menyingkirkan fanatisme (to keep fanaticism at bay). Keberagaman harus dipahami sebagai pertalian sejati kebinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban" (genuine engagement of diversities within the bonds of civility). (Syarifuddin Basyat, 2003)

Toleransi antar umat beragama dimaknai sebagai kedamaian antar umat beragama, akan tetapi masing-masing hidup dalam selubungnya sendiri dan tidak saling mengetahui antara satu kelompok dengan kelompok lain. Padahal toleransi antar umat beragama lebih dari pada kedamaian, kerukununan, saling menghormati dan menghargai antar umat beragama yang hidup rukun berdampingan, akan tetapi

mereka juga saling menjalin komunikasi secara terbuka untuk saling mengenal satu sama lain dengan perasaan saling menghormati dan menghargai.(Dian Indriyani, 2013: 50)

Menurut Smith memandang agama-agama melalui dua hal:

Pertama, agama (ritual keagamaan) tidak bisa lagi dipandang sebagai lebih superior dibandingkan dengan yang lain, karena bisa memicu konflik. Kedua, menyingkirkan semua prasangka yang membuat pikiran tidak peka atau tidak siap menerima wawasan-wawasan baru yang lebih segar. (Huston Smith, 2009: 77)