BAB IV MODEL IMPLEMENTASI NILAI-NILAI KONTRA
B. Model Implementasi Pendidikan Pondok Pesantren sebagai upaya Kontra
4. Model Kegiatan Ekstrakurikuler
Menurut Ahmad Damanhuri bahwa “Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler santri diarahkan untuk menumbuhkan sifat nasionalisme, bela negara, cinta tanah air, bertoleransi, berkemanusiaan, persatuan, persaudaraan serta kontra radikalisme dan intoleransi, seperti kepramukaan.” (Wawancara dengan Pimpinan Pesantren Al-Karimiyah yaitu Ahmad Damanhuri pada tanggal 05 Mei 2021)
Generasi bangsa yang hidup di awal abad 21 ini, memiliki corak yang berbeda sekali dengan kehidupan abad-abad sebelumnya. Abad ini ditandai oleh perubahan yang berjalan sangat cepat, kompleks, sulit diprediksi dan kompetitif. Oleh karena itu, abad ini membutuhkan kecakapan individu (softcompetence) yang dapat digunakan para generasi bangsa untuk merespon tuntutan perubahan yang cepat itu dengan segala kompleksitas persoalannya.
Data hasil proyeksi penduduk oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan populasi penduduk Indonesia saat ini lebih didominasi oleh kelompok umur produktif yakni antara 15-64 tahun. Kondisi ini yang menunjukkan bahwa Indonesia tengah memasuki era bonus demografi, yaitu suatu periode terjadinya ledakan penduduk usia produktif (15-64 tahun) yang bisa menopang penduduk usia non-produktif (0-14 dan 65+). Untuk memaksimalkan peluang dari bonus demografi tersebut, perlu ditopang pendidikan yang berkualitas.
Diantaranya pembekalan berbagai kompetensi pada anak didik melalui kegiatan ekstrakurikuler di berbagai lembaga pendidikan.
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa ada banyak sekali kegiatan ekstrakurikuler yang ada di pesantren Al-Karimiyah.
Diantaranya: pencaksilat, tari tradisional/tarian daerah, tari modern (modern dance), musik, marawis, paskibra, paduan suara, broadcasting, jurnalistik, pidato, kaligrafi, pramuka, pmr, sepak bola, hadroh, kursus bahasa Inggris, dan lain sebagainya. Melalui ragam ekskul tersebut diharapkan santridapat menemukan potensi dan bakat yang ia miliki.
Pesantren mempunyai keyakinan bahwa semua santri memiliki kecerdasan yang berbeda satu sama lain dan memiliki keunikan tersendiri. Hal ini didasarkan pada teorinya Howard Gardner tentang multiple intelligences yang telah dijelaskan sebelumnya. Ragam kegiatan ekskul merupakan implementasi dari teori tersebut.
Melalui penyadaran multiple intelligences, santri dituntut untuk tidak memandang dirinya sebagai orang yang cerdas sedangkan diluar dirinya sebagai orang yang bodoh melainkan dituntut untuk memandang sama-sama memiliki kecerdasan yang unggul. Bisa jadi salah seorang santri pandai dalam matematika namun belum tentu ia pandai memainkan alat musik dan bernyanyi, begitupun sebaliknya. Bisa jadi salah seorang santri pandai menulis sebuah artikel tapi belum tentu ia pandai berpidato dan lain sebagainya. Dengan begitu, mereka akan sadar bahwa kecerdasan mereka itu beragam, satu sama lain saling melengkapi dan membutuhkan. Sudah sewajarnya mereka hidup berdampingan dengan saling membantu dengan ragam kecerdasan yang mereka miliki itu.
Sebagai contoh, Berkacalah pada sejarah nusantara. Tanah nusantara ini memiliki potensi sumber daya alam yang sangat bagus. Ia memiliki tanah yang subur dan laut yang luas beserta kandunganya.
Seharusnya, masyarakat nusantara hidup makmur dan sejahtera.
Namun, budaya masyarakat nusantara yang cenderung bertani dan nelayan, sehingga kalah maju dengan budaya masyarakat Arab, India dan Cina yang cenderung berdagang. Hingga sampai saat ini secara ekonomi masyarakat nusantara kalah sejahtera dengan para saudagar dari Arab, India dan Cina tersebut. Untuk mengejar ketertinggalan itu masyarakat nusantara harus mempelajari dan melestarikan budaya dagang para saudagar Arab, India dan Cina yang notabennya bukan budaya nusantara.
Selain menumbuhkan potensi santri, ragam kegiatan ekskul ini juga merupakan perwujudan dari kesetaraan/persamaan (equality/al-Musawah) dalam pelaksanaan pembelajaran di pesantren Al-Karimiyah.
Setiap santri mempunyai peluang yang sama/setara untuk menggali ilmu dan potensi yang ingin dicapainya. Di sisi lain ragam kegiatan ekskul juga meningkatkan keakraban dan keharmonisan antar santri yang berbeda jenjang kelas ataupun asrama. Mengingat jumlah santri yang mencapai 450an dan padatnya aktifitas mengakibatkan sulitnya untuk bertatap muka satu sama lain kecuali dalam satu kegiatan, sehingga yang awalnya tidak kenal karena berbeda jenjang/ruang kelas ataupun berbeda asrama kemudian saling mengenal di kegiatan ekskul tersebut. Berikut salah satu bentuk kegiatan ekstrakurikuler paskibra, pramuka dan paduan suara
5. Model Majelis Muhadarah, Kultum dan Khutbah
Nilai-nilai moral adalah energi positif yang sangat berpengaruh dalam nenentukan keberhasilan hidup seseorang di mana pun ia berada.
Nilai-nilai moral itu antara lain: jujur, rasa percaya diri, motivasi, kerja keras, tanggung jawab, inisitaif, perhatian, kemauan bekerja sama, saling menghargai, disiplin, dan lain-lain. Rasa percaya diri adalah perasaan mampu untuk melakukan sesuatu. (William Damon, 2002)
Namun sebenarnya percaya diri itu bukan sekedar perasaan mampu tetapi sebuah keyakinan kuat bahwa ia mampu melakukan sesuatu. Rasa percaya diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Orang yang percaya diri, yakin atas kemampuan mereka sendiri serta memiliki pengharapan yang realistis, bahkan ketika harapan mereka tidak terwujud, mereka tetap berpikiran positif dan dapat menerimanya. (EndahTri Priyatni, 2014).
Sikap percaya dirimerupakan modal utama setiap orang dalam menggeluti profesinya. Melalui sikap percaya diri, seseorang mampu untuk mengambil tindakan yang sesuai dan tepat terhadap suatu masalah yang dihadapi. Di dalam Islam juga diajarkan untuk memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi. Misalnya, petunjuk al-Qur’anyang tercantum dalam surat Ali Imran ayat 139 dan Surat Fushilat ayat 30.68 Selain itu sikap percaya diri juga merupakan salah satu dari pendidikan karakter bangsa yang menjadi bagian dalam rencana pembangunan nasional non-fisik. Hal itu tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005–2025, yang menetapkan prioritas pembangunan nasional dalam kurun waktu dua puluh tahun.
Prioritas yang ditentukan adalah mewujudkan masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.
Sikap percaya diri membuat seseorang tidak akan merasa termarginalkan dalam lingkunganya. Justru ia akan mengisi
lingkunganya dengan kekhasan budayayang ia miliki. Oleh karena itu, dalam pendidikanmultikulturalseorang siswa diarahkan agar memiliki rasa percaya diri terhadap masing-masing budaya lokal (local wisdom) yang mereka miliki.
Di pondok pesantren Al-Karimiyah, setiap seminggu dua kali diadakan kegiatan muhadharah. Sebuah kegiatan kontes pertunjukan bakat. Biasanya dalam kegiatan tersebut santri dapat menunjukkan bakat/potensinya dan melatih rasa percaya diritampil di hadapan publik.
Kegiatan yang ditampilkan bisa berupa pantomime, musik band, nasyid, tari-tarian, pembacaan puisi, ceramah bahasa asing, demo silat dan lain sebagainya. Petugas yang menjadi pengisi kegiatan muhadharah dijadwal secara bergantian menurut jenjang kelas. Tugas utamanya adalah menyediakan MC, Pertunjukan Bakat, dan Ceramah. Sedangkan PIC (person in charge) yang bertugas untuk menyediakan tempat beserta infrastruktur kegiatan muhadharah dipegang oleh pengurus harian kepesantrenan.
Menurut Rizki Hadi Maulana, salah seorang santri dari Depok.
Ia menilai kegiatan muhadharah ini sangat bermanfaat bagi santri. Ia pernah menjadi MC dengan menggunakan bahasa Inggris pada saat kegiatan tersebut. Sedangkan teman-temanya yang lain bertugas menampikan kebudayaan khas asal Aceh (Tari Saman). Ia dan teman-temanya merasa terbangun rasa percaya dirinya tampil dihadapan ratusan santri, sehingga menjadikan mereka tidak lagi gugup (nervous) saat diminta untuk tampil di masyarakat luas. Terbukti, mereka sering memenangkan perlombaan dan diminta untuk mengisi berbagai acara di daerah Jabodetabek. (Wawancara dengan Muhammad Rizki Hadi Maulana)
Sementara menurut Ahmad Najib seorang santri yang berasal dari Bojongsari, ia merasa sangat bersyukur dapat belajar di pondok pesantren Al-Karimiyah. Ia dapat mempelajari berbagai budaya di Indonesia melalui teman-temanya yang berasal dari daerah tersebut.
(Wawancara dengan Ahmad Najib)
Kegiatan muhadharah merupakan wujud internalisasi (bukan indoktrinasi) dari pembentukan sikap percaya diri kepada santri.
Internalisasi artinya siswa difasilitasi melalui kegiatan muhadharah agar dapat mengalami, merasakan keberhasilan dalam melakukan sesuatu kemudian siswa diminta mengungkapkan, menceritakan, merefleksikan bagaimana siswa dapat melakukan keberhasilan itu. Ini adalah teknik
internalisasi bukan indoktrinasi. Rasa percaya diri itu ditumbuhkan, digali dari pengalaman siswa, bukan diajarkan (indoktrinasi).
Setiap hari jum’at santri langsung praktek khutbah dilingkungan pondok pesantren Al-Karimiyah, setiap santri wajib menjadi khotib dilingkungan pesantren sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Hal tersebut menjadi tempat praktek bagi santri, apabila santri sudah kembali ke kampong halamannya sendiri, mereka sudah terlatih untuk menjadi khatib dan menyampaikan materi-materi agama yang telah dikoreksi oleh kiyai dan ustadznya.
6. Model Budaya Islam Nusantara
Untuk membentuk santri yang beragama, berawasan Islam nusantara, berbudaya, maka pesantren Al-Karimiyah membuat program seperti: Pertama, mengurus jenazah dari mulai memandikan, mengkafankan, mensolatkan dan menguburkan. Kedua, Memotong Hewan Qurban, dan Latihan Khutbah. Kegiatan 3 diatas merupakan program untuk bagaimana santri apabila kerumah masing-masing dan apa yang dibutuhkan oleh masyarakatnya santri tersebut telah dibelaki ilmu yang cukup oleh ahlinya yang diundang tenaga khusus dari luar untuk mengajarkan santri Al-Karimiyah menguasai ilmu yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Menurut Ahmad Damanhuri bahwa “Budaya kita adalah budaya yang diajarkan oleh Nadlhatul ‘Ulama. Budaya-budaya yang terdapat di Pondok Pesantren Al-Karimiyah: a) Menguatkan silaturahmi baik intern maupun ekstern, b) Budaya yang diajarkan oleh Nadlhatul ‘Ulama, seperti: Maulidan yang diiringi oleh hadroh, Yasinan, Ziarah Qubur, Nujuh Bulan, Ta’ziyahan, Pembacaan Ratibul ‘Athas dan Ratibul Hadad, Tawasulan untuk ahlil Qubur.” (Wawancara dengan Pimpinan Pesantren Al-Karimiyah yaitu Ahmad Damanhuri pada tanggal 05 Mei 2021)
Sekelompok umat agama yang radikal meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya pedoman hidup yang lengkap, sempurna, tidak kurang, dan tidak lebih karena mencakup semua aspek kehidupan manusia. Akan tetapi mayoritas manusia tidak melaksanakan hal ini secara utuh. Karena itu menurut mereka orang yang tidak melaksanakan perintah allah maka ia akan rugi dunia akhirat. Namun pada kenyataannya kelompok agama yang radikal ini seringkali secara sengaja memberikan penekanan-penekanan tertentu terhadap teks-teks yang bernuansa permusuhan, dan meninggalkan teks-teks yang
memberikan pengakuan atas eksistensi agama lain. Klaim monopoli dalan Islam misalnya, lazim didasarkan pada beberapa ayat al-Qur’an yang jika dimaknai secara literal akan melahirkan sikap eksklusif dan memicu kekerasan. (Umi Sumbullah, 2010)
Mencintai tanah air merupakan kewajiban setiap warga Negara Indonesia. terlebih bagi seorang santri. Slogan hubbu Watan min al-Iman menjadi pegangan hidup seorang santri. Terbukti dengan adanya resolusi jihad (fatwa) yang dicetuskan oleh KH. Hasyim Ash’ari untuk memerangi kaum penjajah adalah fardu ‘ain, santri berhasil mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang terancam. Fatwa tersebut membuktikan bahwa seorang panutan santri selalu mengajarkan cinta tanah air (nasionalisme).
Menurut Alfi Nazlul kamil salah satu santri Al-karimiyah kelas II MA menyatakan bahwa yang melatar belakangi saya memilih pondok pesantren Al-Karimiyah sebagai tempat mencari ilmu adalah untuk menyelamatkan aqidah serta berusaha untuk menjadi lebih baik. Di pesantren Al-Karimiyah diajarkan tentang nilai-nilai Kontra Radikalisme dan Intoleransi yaitu dengan teori dan praktek, pengenalan apa yang harus dihindari drts berdiskusi. Konflik dengan teman yang berlatar belakang suku yang berbeda saya pernah mengalami, namun untuk menyelesaikannya dengan cara merubah pola piker bahwa kita adalah satu. Sikap saya terhadap orang yang berbeda latar belakang dengan saya misalnya beda agama, suku, ras, umur, maupun status sosial yaitu tidak ada perbedaan diantara kita, kita semua sama dihadapan Tuhan. Sikap saya terhadap faham radikalisme dan intoleransi kita harus mengerti agama secara penuh dan saling menghormati pendapat satu sama lain. Saya pernah terlibat kegiatan (misalnya menghadiri acara keagamaan, atau acara sosial) yang berbaur dengan orang non-muslim. Sikap saya terhadap ISIS dan Teororis yaitu dengan menghindarinya.
Di pesantren Al-Karimiyah saya diajarkan untuk percaya diri dan cinta terhadap tanah air, saya harus percaya dengan apa yang kita miliki. Untuk memahami materi yang ada dalam kitab kuning agar bersikap inklusif saya harus berusaha mencerna kata demi kata. Saya memahami cara berdakwah yaitu dengan Bil hikmah, wal mau’idzotul hasanah dan dengan cara-cara yang baik. Jihad menurut saya adalah sesuai keadaan, karena saya lagi belajar, maka jihad saya adalah menuntut ‘ilmu, penilaian
kegiatan muhadharah menurut saya sangat penting. Untuk melatih mental. (Hasil Wawancara dengan Alfi Nazlul Kamil Al-Karimiyah).
Ideologi Nahdhatul ‘Ulama (NU) menopang Nasionalisme. NU memiliki cita-cita keadilan dan kesetaraan. Sementara nasionalis mememiliki cita-cita bersatu padunya seluruh warga Negara. Persatuan tidak akan dapat terbentuk tanpa adanya keadilan dan kesetaraan. Dalam menanamkan sikap nasionalisme, tentunya dalam konteks Indonesia juga harus menanamkan sikap toleransi. Karena keduanya berjalan beriringan dan saling menguatkan. Berawal dari sebuah harapan agar santrim emiliki sikap yang disiplin, patuh, tangguh, berkarakter serta cinta tanah air.
Selain itu, sikap nasionalisme juga akan memberikan angin segar pada program deradikalisasi. Fenomena yang terjadi saat ini, aksi-aksi radikal muncul karena kurangnya sikap nasionalisme. Kaum radikalis lebih mendahulukan kepentingan golongan, bahkan kepentingan pribadi sehingga menanggalkan kepentingan bersama dalam sebuah komunitas Negara. Aksi radikal umumnya juga dilakukan oleh kaum pemberontak pada pemimpin sebuah Negara yang sah. Hal itu menunjukkan minimnya sikap nasionalisme yang dimiliki oleh kaum pemberontak (kaum radikalis) tadi.
Secara konseptual, tahapan yang telah dilakukan oleh pondok pesantren Al-Karimiyah untuk membentuk santri yang berhaluan kebangsaan telah tepat. Namun, secara praktikal ditemukan data bahwa hasil yang didapatkan masih sangat jauh dari ekpektasi tujuan pendidikan nasional itu sendiri.
Menurut Ahmad Damanhuri bahwa “Pondok Pesantren Al-Karimiyah sangat terbuka dengan agama lain, Pondok Pesantren Al-Karimiyah pernah mengikuti pentas seni antar umat beragama di Gereja Bojong sari Depok yang dilaksanakan oleh forum Lintas Agama (Formula). Pesantren Al-Karimiyah terbiasa dan terbuka kepada setiap agama, dan melibatkan santri untuk bekerja sama dalam hal sosial dan silaturahmi.”
(Wawancara dengan Pimpinan Pesantren Al-Karimiyah yaitu Ahmad Damanhuri pada tanggal 05 Mei 2021)
7. Model Pengasuhan Santri di Asrama
Menurut Ahmad Damanhuri bahwa “Strateginya adalah santri diajarkan hal-hal yang positif dan menguntungkan kepada santri.
Strategi Pondok Pesantren Al-Karimiyah dalam membentuk santri yang kontra radikalisme dan intoleransi adalah sebagai berikut:
1. Mengikuti kegiatan PKPNU (Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama)
2. Membiasakan menggunakan simbol/ atribut Nahlatul
‘Ulama, Dengan tujuan bahwa kita ciri dari kelompok anti radikalisme dan intoleransi
3. Membiasakan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Yalal Wathon” (Wawancara dengan Pimpinan Pesantren Al-Karimiyah yaitu Ahmad Damanhuri pada tanggal 05 Mei 2021)
Asrama merupakan salah satu bagian dari proses pendidikan santri selain di kelas. Di asrama sebuah hidden curriculum berlangsung.
Jika di kelas merupakan tempat pembelajaran ilmu yang teoritis, maka di asrama merupakan tempat pembelajaran praktis yang lebih tepatnya disebut dengan proses pembentukan karakter santri.
Jika dilihat dari latar belakang daerah asal (suku), santri diasramakan secara random. Hal ini bertujuan agar satu sama lain dapat saling melakukan perkenalan dan pertukaran pengetahuan dari masing-masing jenjang kelas. Selain itu, juga bertujuan agar santri dapat saling memahami, menghormati, dan menghargai watak dari masing-masing daerah yang berbeda tadi. Misalnya, santri asal jawa yang terkenal lemah lembut harus memahami dan tidak mudah tersinggung dengan santri asal Palembang atau Medan (Batak) yang terkenal dengan nada bicaranya yang keras dan kasar.
Menurut Khairul Muttaqien, salah satu dari asatidz pesantren Al-Karimiyah mengatakan bahwa Perlakuan pesantren terhadap santri yang memiliki latar belakang yang beragam, baik suku, ras, dan status sosial yaitu Tidak membeda-bedakan atau pilih kasih.. Strategi yang dilakukan pesantren agar pengurus dan pengajar tetap berpegang teguh pada penanaman nilai-nilai Kontra Radikalisme dan Intoleransi yaitu membuat jadwal diskusi sesekali dalam menyelesaikan masalah-masalah yang kecil ataupun yang besar. Mengintegrasikan penanaman nilai-nilai Kontra Radikalisme dan Intoleransi dengan kajian kitab kuning sebagai upaya pencegahan radikalisme dan intoleransi yaitu mengaitkannya dengan pemahaman-pemahaman agama untuk bisa berakhlak baik disetiap keadaan. Mengelaborasi
penanaman nilai-nilai Kontra Radikalisme dan Intoleransi dalam sebuah kebijakan peraturan atau ketika mengajarkan sesuatu mata pelajaran adalah mengajak santri dalam menjabarkan hal-hal yang mereka tidak ketahui. Mengelaborasikan mata pelajaran yang anda ampu dengan penanaman nilai-nilai Kontra Radikalisme dan Intoleransi yaitu dengan cara adil dengan memperlakukan setiap sesuatu sesuai kebutuhan. Pembentukan Negara khilafah misalnya yang sering dikampanyekan oleh HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) dan ISIS saya kurang sepakat karena Indonesia memang mayoritas muslim, tetapi tidak bisa dikatakan negara Islam, karena Indonesia dibentuk dengan persatuan.
(Hasil wawancara dengan Khairul Muttaqien pada tanggal 06 Mei 2021))
Adapun klasifikasi jenjang pendidikan tetap dibedakan, sehingga santri dengan jenjang MTs dan MA berasrama secara terpisah.
Meskipun dalam satu jenjang, pembagian asrama tidak sama dengan pembagian kelas di sekolah.
Santri dibuat kelompok-kelompok belajar, kelompok makan, dan kelompok piket kebersihan. Melalui pengelompokan tersebut, bermaksud melatih kerja sama antar santri. Interaksi antar santri di asrama menggunakan bahasa arab dan inggris,. Penggunaan bahasa tersebut dijadwalkan pada waktu-waktu tertentu.
Pola kepemimpinan juga terbentuk di asrama. Satu asrama yang berisikan lebih kurang 300 santri secara demokratis melakukan pemilihan ketua asrama setiap satu tahun sekali. Salah satu santri yang terpilih menjadi ketua asrama harus membuat tim kepengurusan yang solid agar asrama tersebut dapat menjadi asrama percontohan asrama lainnya. Di setiap triwulan dilakukan penilaian dan penghargaan kepada asrama terbaik dengan katagori kebersihan, keindahan, kedisiplinan, dan prestasi warga asrama tersebut (misalnya, pemenang lomba baca kitab kuning, lomba mengisi kolom mading, dll). Tugas pembimbing diantaranya adalah menerima setoran hafalan, mengabsen kehadiran salat di Masjid, mengabsen saat hendak tidur, dan memberikan laporan progres kepada wali santri.
Seorang ketua asrama juga memiliki otoritas dalam membuat peraturan di asrama yang ia pimpin. Misalnya terkait dengan jadwal penguncian pintu, jadwal pemakaian lampu, jadwal pemakaian kamar mandi, larangan melakukan kekerasan, himbauan agar selalu menghargai perbedaan, dan pemberian sanksi pada santri yang
melanggar peraturan yang telah disepakati. Dalam pembuatan peraturan ini, seorang ketua asrama juga harus berkoordinasi dengan pengurus harian pesantren bagian keasramaan. Ia harus melaporkan segala kebijakan yang telah ia lakukan. Hal ini bertujuan agar peraturan di asrama sejalan dengan visi misi pesantren.
Ada beberapa kegiatan menarik yang dilakukan di asrama.
Misalnya, kegiatan muhadharah, kegiatan peringatan Maulid Nabi, peringatan isra’ mi’raj, tasyakuran kelulusan, kegiatan haflah akhir sanah, dll. Semua kegiatan tersebut dilakukan agar hubungan antar santri semakin akrab. Dalam kegiatan tersebut, turut mengundang perwakilan-perwakilan asrama lain, pengurus harian pesantren, dan dewan guru. Selain ceramah agama, kegiatan tersebut juga bermuatan menampilkan budaya-budaya khas daerah dan hiburan-hiburan seperti musik band, sholawat rebana, komedi, pantomim, dan lain sebagainya.
Terkadang, di asrama juga terjadi gesekan (konflik) antar santri yang berbeda suku. Konflik tersebut terjadi biasanya karena faktor dicurinya makanan, baju, dan kebutuhan pribadi lainya. Namun, menurut ketua asrama konflik tersebut selalu hanya berlangsung antar individu saja tidak melibatkan kelompok daerah. Apabila ada kasus seperti itu, pemberian sanksi yang berat diserahkan kepada bagian keamanan pesantren. Sementara, sanksi yang berikan oleh ketua asrama adalah berupa sanksi sosial berupa piket kebersihan selama satu minggu penuh dan sanksi administratif berupa rekomendasi agar dipindahkan di asrama lainya. Sanksi administratif tersebut merupakan jalan terakhir apabila kesalahan tersebut dilakukan secara berulang-ulang.
Untuk menghindari kejenuhan dan memaksimalkan interaksi sosial antar santri, pola perpindahan asrama dilakukan setahun sekali.
Semaksimal mungkin dilakukan pengacakan agar santri yang jumlahnya 450 tersebut dapat saling mengenal satu sama lainya. Sebenarnya, kebijakan seperti ini mengundang pro dan kontra antar santri. Mereka yang kontra berargumen bahwa mereka harus beradaptasi dengan asrama baru mereka lagi. Menurut mereka proses adaptasi tersebut menghambat proses belajar mereka. Sementara, santri yang pro terhadap kebijakan tersebut mengungkapkan bahwa adaptasi dengan asrama baru memang mengganggu proses belajar tetapi tidak begitu lama, justru yang terpenting adalah satu sama lain saling mengenal agar ikatan persaudaraan sesame santri semakin kuat. Harapanya, persaudaraan tersebut terjalin tidak hanya semasa menjadi santri saja tetapi sampai menjadi alumni. Dengan begitu, menjadi sangat kokoh pergerakan
santri setelah menjadi alumni, satu sama lain saling membantu, baik dalam dunia pendidikan maupun berwirausaha.
C. Kendala-Kendala dalam mengimplementasikan model nilai-nilai kontra radikalisme dan intoleransi di Pondok Pesantren Al-Karimiyah
Menurut Ahmad Damanhuri bahwa “Selama ini belum ada kendala yang signifikan, namun ada kendala sedikit, akan tetapi santri tetap diajarkan untuk menjadi santri yang berakhalakul karimah dan
Menurut Ahmad Damanhuri bahwa “Selama ini belum ada kendala yang signifikan, namun ada kendala sedikit, akan tetapi santri tetap diajarkan untuk menjadi santri yang berakhalakul karimah dan