• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kode Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian 8a-N Indeks kualitas

kajian/rekomendasi 100 115,34 115,34

8a1-N Persentase

kajian/rekomendasi yang disepakati KSSK

100

(85%) 117,65% 117,65 8a2-N Indeks kualitas

analisis/kajian harmonisasi kebijakan

100

(88) 95,73 108,38 8a3-N Indeks kualitas usulan

saran/rekomendasi kepada Komite Pengawas

Perpajakan

100

(80) 101,18 120,00

Sasaran Strategis ini merupakan perwujudan dari salah satu misi Sekretariat Jenderal yakni "Menyediakan saran-saran strategis yang berwawasan ke depan"; dimana secara umum misi ini dijalankan oleh seluruh unit eselon II di lingkungan Sekretariat Jenderal. Proses pengambilan kebijakan oleh pimpinan membutuhkan dukungan teknis yang baik dari uni-unit terkait sehingga kebijakan yang diambil dapat memenuhi ekspektasi stakeholder.

8a1-N Persentase kajian/rekomendasi yang disepakati KSSK

Q1 Q2 Smt1 Q3 s.d. Q3 Q4 Y

T - 85% 85% - 85% 85% 85%

R - 100% 100% - 100% 100% 100%

C - 117,65% 117,65% - 117,65% 117,65% 117,65%

T: target, R: realisasi, C: Capaian Latar Belakang

Dalam menjalankan amanat menjaga stabilitas sistem keuangan (SSK), KSSK baik secara reguler maupun nonreguler melaksanakan pertemuan untuk berkoordinasi dan mendiskusikan perkembangan SSK terkini. Secara reguler KSSK melaksanakan Rapat Berkala yang dilaksanakan satu kali dalam tiga bulan, sementara secara nonreguler di dalam KSSK dikenal rapat sewaktu-waktu yang dilaksanakan berdasarkan permintaan salah satu Anggota KSSK.

Di dalam mekanisme rapat sewaktu-waktu terdapat prasyarat (trigger) yang harus dipenuhi agar rapat sewaktu-waktu dapat dilaksanakan.

Salah satu keputusan yang diambil di dalam rapat KSSK adalah asesmen mengenai kondisi SSK terkini serta penetapan kondisi SSK. Kondisi SSK terdiri dari Normal, Normal – Waspada, Normal – Siaga, atau Ditengarai Krisis.

Penetapan kondisi tersebut didasarkan pada hasil asesmen dan protokol manajemen krisis (PMK) yang dimiliki oleh masing-masing lembaga di dalam KSSK. Sekretariat KSSK, sebagai perangkat pendukung KSSK, bertindak menyusun asesmen yang mencakup rekomendasi kondisi SSK dengan mempertimbangkan kondisi PMK setiap lembaga. Rekomendasi hasil asesmen dan status SSK tersebut selanjutnya dibahas di dalam Rapat KSSK dan ditetapkan bersama oleh KSSK.

Keputusan ini memiliki tingkat urgensi yang tinggi mengingat implikasinya terhadap kebijakan lanjutan yang harus ditempuh oleh masing-masing lembaga di KSSK, terutama jika terjadi pemburukan status SSK. Oleh karena itu, Sekretariat KSSK senantiasa berupaya meningkatkan kapasitas dalam menyusun rekomendasi hasil asesmen terhadap SSK. Upaya lain yang

dilakukan adalah melaksanakan koordinasi di level teknis dengan lebih intens, terutama di tengah kondisi ekonomi dan sektor keuangan yang kurang menguntungkan seperti di masa pandemi tahun 2020.

Inisiatif Penguatan Rekomendasi di 2020

Dalam rangka peningkatan kualitas hasil asesmen, Sekretariat KSSK melakukan beberapa inisiatif di tahun 2020. Pertama, mengundang perwakilan dari ekonom dan pelaku industri di sektor keuangan untuk berdiskusi sebelum penyelenggaraan Rapat Berkala KSSK. Langkah ini untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi perekonomian dan sektor keuangan dari perspektif ekonom dan pelaku pasar. Kedua, menyelenggarakan rapat di tingkat deputi untuk persiapan Rapat Berkala dengan mendiskusikan hasil asesmen kondisi SSK secara mendalam berdasarkan perspektif keempat lembaga. Ketiga, melengkapi agenda asesmen dalam Rapat KSSK dengan diskusi cross cutting issues yang membicarakan isu terkini di sektor keuangan. Isu tersebut terutama terkait risiko baik internal maupun eksternal yang patut diantisipasi dan menjadi perhatian bersama sejak awal. Dengan ketiga inisiatif tersebut, hasil asesmen dan rekomendasi kebijakan terkait SSK yang disampaikan Sekretariat KSSK dapat ditingkatkan baik dari sisi kualitas maupun konvergensi pandangan antarlembaga.

Dampaknya, tingkat akseptasi KSSK terhadap hasil asesmen dan rekomendasi kebijakan yang disampaikan mengalami peningkatan karena pandangan yang disampaikan komprehensif dan sejalan dengan pandangan masing-masing lembaga.

Inisiatif Penguatan Rekomendasi di 2021

Untuk tahun 2021, sejalan dengan arahan Menteri Keuangan yang sekaligus merangkap sebagai Koordinator KSSK, Sekretariat KSSK akan mengembangkan database dan dashboard untuk memperkuat asesmen dan mekanisme diseminasi hasil asesmen kepada KSSK. Dari sisi teknis, tools tersebut akan dilengkapi dengan early warning system (EWS) yang diharapkan memberikan peringatan lebih dini atas eskalasi risiko yang berpotensi mengganggu SSK. Di samping itu, database yang dikembangkan diharapkan dapat menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan data Sekretariat KSSK yang akan mendukung riset-riset yang dilakukan oleh Sekretariat KSSK. Dengan penguatan tersebut, rekomendasi kebijakan terkait SSK yang disampaikan kepada KSSK diharapkan dapat semakin ditingkatkan kualitasnya.

8a2-N Indeks kualitas analisis/kajian harmonisasi kebijakan

Q1 Q2 Smt1 Q3 s.d. Q3 Q4 Y

T - 88 88 - 88 88 88

R - 85 85 - 85 95,37 95,37

C - 96,59 96,59 - 96,59 108,38 108,38

T: target, R: realisasi, C: Capaian

Dalam memenuhi target capaian IKU Kajian, Pushaka melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan instansi terkait untuk membahas kebijakan Kementerian Keuangan yang telah diterbitkan (post analysis).

Satu buah kajian dengan judul “Efektifitas Kebijakan Insentif Perpajakan untuk Mendukung Dunia Usaha Dalam Menghadapi Pandemi Covid-19 di Indonesia: Pendekatan Meta Evaluasi dan Economy Wide” disampaikan kepada Menteri Keuangan dan mendapatkan respon yang baik, bahwa kajian tersebut akan menjadi masukan bagi pelaksanaan Pemulihan Ekonomi Nasional.

Tujuh kajian lainnya yang diselesaikan telah disampaikan kepada Sekretaris Jenderal, dengan rincian judul sebagai berikut:

1. Efektifitas Program Kredit Usaha Rakyat (KUR)

2. Delayering di Indonesia dan Pelajaran dari Pelaksanaan Delayering di Australia

3. Konsep Modern Border Management: Peran DJBC Dalam Mendukung Perekonomian Nasional

4. Reformasi Pengelolaan Subsidi Menuju Belanja Negara Berkualitas 5. Manajemen Sumber Daya Manusia

6. Pembentukan Sovereign Wealth Fund di Indonesia

7. Obligasi Daerah untuk Pembiayaan Infrastruktur di Daerah

Pushaka senantiasa mengasah kemampuan dalam menyajikan kajian yang berkualitas kepada Pimpinan sehingga kajian tersebut diharapkan dapat memberi manfaat bagi organisasi khususnya terhadap isu-isu terkini terkait kebijakan yang dikeluarkan Kementerian Keuangan.

8a3-N Indeks kualitas usulan saran/rekomendasi kepada Komite Pengawas Perpajakan

Q1 Q2 Smt1 Q3 s.d. Q3 Q4 Y

T 80 80 80 80 80 80 80

R 90 106,06 106,06 102,43 102,43 101,18 101,18

C 112,5 120 120 120 120 120 120

T: target, R: realisasi, C: Capaian

Pada tahun-tahun sebelumnya, Saran/Rekomendasi Komite Pengawas Perpajakan yang diusulkan oleh Sekretariat Komite Pengawas Perpajakan hanya menghitung kuantitas jumlah Saran/Rekomendasi yang dihasilkan setiap tahunnya. Namun mulai tahun 2020, usulan Saran/Rekomendasi kepada Komite Pengawas Perpajakan mulai memasukkan unsur disposisi dari Menteri Keuangan dan/atau Pimpinan Unit Eselon I untuk lebih mendorong bobot kualitas setiap Saran/Rekomendasi yang dihasilkan.

Target indeks kualitas usulan Saran/Rekomendasi kepada Komite Pengawas Perpajakan selama tahun 2020 adalah sebesar 80. Sepanjang tahun 2020, terdapat 50 usulan Saran/Rekomendasi yang disetujui oleh Komite Pengawas Perpajakan dari target jumlah sebanyak 45 usulan Saran/Rekomendasi. Secara umum, Saran/Rekomendasi dari Komite Pengawas Perpajakan telah sesuai dengan harapan dari Menteri Keuangan agar Saran/Rekomendasi yang dihasilkan bisa tepat waktu, tepat isu, dan tepat sasaran yang dibuktikan dengan berbagai disposisi dari Menteri Keuangan dan Direktur Jenderal teknis terkait serta testimoni dari stakeholder. Realisasi indeks kualitas usulan Saran/Rekomendasi kepada Komite Pengawas Perpajakan adalah 101,18 dengan indeks capaian 101,18/80 = 120.

Saran/Rekomendasi Komite Pengawas Perpajakan dihasilkan melalui proses pengkajian dan pengamatan dan dimentori langsung oleh Anggota Komite Pengawas Perpajakan. Kegiatan pengkajian dan pengamatan melibatkan kegiatan lain seperti permintaan keterangan, pengumpulan informasi, Focus Group Discussion (FGD), konsultasi ahli, dan pengayaan untuk mendapatkan hasil kajian dan risalah yang komprehensif.

Pada saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan menyebabkan terbatasnya interaksi serta mobilitas, kondisi tersebut turut berdampak terhadap proses bisnis penyusunan usulan Saran/Rekomendasi dan proses bisnis pendukungnya. Kegiatan yang biasanya dilakukan secara tatap muka langsung menjadi tidak dapat dilakukan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Kualitas data yang didapatkan dikhawatirkan akan turut terdampak dari terbatasnya interaksi dan mobilitas. Berdasarkan pertimbangan tersebut, pada triwulan II 2020 disepakati adanya adendum jumlah

usulan Saran/Rekomendasi Komite Pengawas Perpajakan menjadi 45 dari semula sejumlah 51 Saran/Rekomendasi.

Selama masa Pandemi Covid-19, Kementerian Keuangan telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk tetap menjaga produktivitas dan kinerja pegawainya meskipun interaksi dan mobilitas sangat terbatas. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan adalah terkait Flexible Working Space (FWS) yang memungkinkan fleksibilitas tempat bekerja dan adanya berbagai aplikasi penunjang pekerjaan. Kebijakan tersebut ditanggapi secara responsif oleh Sekretariat Komite Pengawas Perpajakan melalui penyesuaian berbagai proses bisnis dan Change Management. Keterbatasan kegiatan tatap muka langsung bisa diatasi salah satunya dengan penggunaan aplikasi pendukung rapat secara virtual. Melalui penyesuaian proses bisnis, Change Management, dan sinergi yang terjalin, usulan Saran/Rekomendasi yang dihasilkan tetap memenuhi aspek kuantitas yang tetap melebihi target (50 dari target 45) dan aspek kualitas (101,18 dari target 80).

Rincian mengenai 50 usulan Saran/Rekomendasi yang disetujui oleh Komite Pengawas Perpajakan adalah sebagai berikut:

a. Saran/Rekomendasi terkait pengawasan pajak meliputi: (1) Peningkatan Pelayanan Pengembalian Restitusi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Barang Bawaan Orang Pribadi Pemegang Paspor Luar Negeri (VAT Refund); (2) Utilisasi Gedung KPP Pratama Wates; (3) Pelaksanaan Putusan Banding, Gugatan, dan Peninjauan Kembali; (4) Peningkatan Administrasi Penyelesaian Sengketa Pajak pada Pengadilan Pajak; (5) Kepastian Hukum Pasca Pengampunan Pajak atas Harta yang Belum atau Kurang Diungkap;

(6) Rekomendasi terkait Penagihan Aktif; (7)

Pengawasan Kebijakan Wajib Pajak Importir Umum; (8) Pembentukan atau Pemupukan Dana Cadangan pada Industri Perbankan; (9) Kepatuhan Kolaboratif Melalui Integrasi Data Perpajakan; (10) Optimalisasi Pemotongan, Pemungutan, Pelaporan dan Penyetoran Pajak atas Belanja Pemerintah; (11) Belanja Perpajakan (Tax Expenditures) dan Strategi Komunikasinya; (12) Laporan Pengawasan Pelaksanaan Reformasi Perpajakan Semester I 2020; (13) Penatausahaan Piutang Pajak di Direktorat Jenderal Pajak; (14) Optimalisasi Penerimaan PPh Wajib Pajak (WP) Orang Pribadi (OP) Non Karyawan (NK); (15) Perluasan Basis Pajak Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM); (16) Perluasan Basis Pajak Sektor Ekonomi Digital; (17)

Kebijakan dan Administrasi Restitusi Pajak Pertambahan Nilai (PPN);

dan (18) Pengawasan Pajak Pasca Program Tax Amnesty.

b. Saran/Rekomendasi terkait pengawasan kepabeanan dan cukai meliputi:

(1) Etil Alkohol (EA) dan Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) di Kabupaten Sukoharjo; (2) Persiapan Beroperasinya New Yogyakarta International Airport; (3) Keberhasilan Program Penertiban Impor Berisiko

Tinggi; (4) Pengawasan Atas Hasil Tembakau Ilegal di Kudus dan Sekitarnya;

(5) Penggolongan Pengusaha Pabrik Hasil Tembakau; (6) Pelayanan dan Pengawasan Pemasukan dan Pengeluaran Barang yang Berasal dari Tempat Lain Dalam Daerah Pabean dari dan ke Kawasan Berikat; (7) Optimalisasi Pelayanan dan Pengawasan Kepabeanan di Kawasan Perbatasan Entikong;

(8) Pelayanan dan Pengawasan Ekspor Impor Komoditi Emas; (9) Tata Kelola dan Pengawasan Impor Limbah Non Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang Terkontaminasi Limbah B3; (10) Kebijakan Harga Transaksi Pasar terhadap Harga Jual Eceran Hasil Tembakau; (11) Optimalisasi Perizinan Pusat Logistik Berikat; (12) Kebijakan Simplifikasi Struktur Tarif Cukai Hasil Tembakau; (13) Evaluasi Regulasi Bea Masuk Tindakan Pengamanan Sementara/Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTPS/BMTP) Impor Produk Kain; dan (14) Pengawasan Bea Masuk Tindakan Pengamanan Sementara/Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTPS/BMTP) Impor Produk Kain.

c. Bagian Pengaduan dan Mediasi (PM) menyelesaikan 18 usulan saran/rekomendasi terkait penanganan pengaduan dan masukan masyarakat.

Dalam rangka penyelesaian usulan Saran/Rekomendasi, kegiatan yang telah dilakukan, antara lain:

a. Mentoring oleh Komite Pengawas Perpajakan untuk setiap tema pengawasan.

b. Pembahasan secara intensif atas usulan Saran/Rekomendasi dengan Komite Pengawas Perpajakan.

c. Koordinasi dengan pihak terkait yang dapat memberikan informasi, data, keterangan, masukan dan pendapat mengenai tema perpajakan yang sedang diselesaikan.

d. Pelaksanaan Komunikasi Publik sesuai dengan tema pengawasan.

Tantangan yang dihadapi adalah tidak adanya kewenangan enforcement kepada instansi perpajakan untuk menindaklanjuti Saran/Rekomendasi yang diberikan. Untuk mengatasi tantangan tersebut, telah dilakukan Monitoring dan Evaluasi serta peningkatan komunikasi yang lebih intensif dengan instansi melalui rapat monitoring bersama tim liaison officer (LO) dari masing-masing instansi (DJP, DJBC, dan BKF).