Kode Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian 9a-N Indeks efektifitas pelaksanaan
tugas khusus 100 114,18 114,18
1.Tingkat imbal hasil dana pendidikan
100
(6,75%) 7,65% 113,33 2.Indeks talenta berkualitas 100
(3,75) 3,88 103,47 3.Indeks luaran riset yang
berkualitas
100
(3,5) 4,96 120,00 9a2-N Indeks rata-rata capaian
penyelesaian kerangka
Pelaksanaan tugas khusus merupakan upaya Sekretariat Jenderal untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kinerja dalam melaksanakan penugasan khusus. Tugas khusus yang dilaksanakan Sekretariat Jenderal meliputi penugasan dalam bidang pembinaan akuntan dan penilai, pengelolaan kesekretariatan Pengadilan Pajak dan pengelolaan dana pendidikan (BLU).
9a1-N Persentase pencapaian target layanan pengelolaan dana pengembangan Pendidikan
1.Tingkat imbal hasil dana Pendidikan
Q1 Q2 Smt1 Q3 s.d. Q3 Q4 Y
T 1,69% 3,38% 3,38% 5,06% 5,06% 6,75% 6,75%
R 2,07% 4,05% 4,05% 6,13% 6,13% 7,65% 7,65%
C 120,00 119,82 119,82 120,00 120,00 113,33 113,33 T: target, R: realisasi, C: Capaian
IKU ini bertujuan untuk mengukur tingkat imbal hasil yang didapatkan LPDP atas pengelolaan Dana Abadi Pendidikan. Jumlah Dana Abadi Pendidikan ini merupakan akumulasi dari Dana Pengembangan Pendidikan Nasional yang dicairkan dari APBN setiap tahunnya, kemudian diinvestasikan pada berbagai instrumen investasi untuk mendapatkan imbal hasil, yang kemudian diakui sebagai Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). IKU ini membandingkan antara jumlah realisasi imbal hasil DPPN dibandingkan jumlah DPPN yang menghasilkan PNBP pada tahun anggaran berjalan.
Pada tahun 2020, realisasi PNBP yang dihasilkan LPDP dapat dijelaskan dalam tabel berikut:
Tabel 22. Detail Realisasi PNBP LPDP
No. Uraian Realisasi PNBP
per 31 Des 2020
1. Pendapatan Deposito 2.236.493.832.672
2. Pendapatan Giro 1.050.327.103
3. Pendapatan Surat Berharga Negara 1.440.743.399.976 4. Pendapatan Obligasi Korporasi 230.956.500.000 Total Pendapatan PNBP 3.909.244.059.752
Jumlah DPPN yang dapat menghasilkan PNBP adalah Rp51,117 Triliun, sehingga apabila dimasukkan dalam formula perhitungan, capaian IKU ini adalah 7,65% dari target 6,75% p.a. (Indeks Capaian 113,33).
Pada tahun-tahun sebelumnya, capaian IKU ini adalah 6,59% dari target 6,5% pada tahun 2018 dan 7,82% dari target 6,75% pada tahun 2019. Dengan perbandingan ini capaian pada tahun 2020 masih dapat dikatakan stabil, ditengah terjadinya pandemi COVID-19 yang menekan suku bunga BI menjadi 4,5% pada Maret 2020, dan terus menurun hingga level 3,75% pada bulan November 2020. LPDP dalam hal ini masih dapat mempertahankan portofolio stabil dengan imbal hasil yang masih memnuhi target tahunan. Angka capaian
imbal hasil ini menunjukkan kinerja investasi LPDP masih kuat ditengah tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia.
Dalam mencapai target kinerja ini, LPDP melakukan berbagai effort diantaranya adalah merencanakan penempatan portofolio pada instrumen investasi yang memiliki imbal hasil tinggi namun tetap dengan risiko yang terukur seperti Obligasi Negara dan BUMN. Selain itu, keberhasilan capaian IKU ini juga didukung oleh perencanaan Asset Liability Management (ALM) yang dilaksanakan secara rutin untuk mengetahui keseimbangan pendapatan dan belanja di LPDP. Dalam hal ini, idle cash yang ada dapat direinvestasikan sehingga mendorong efisiensi dalam penempatan dana yang menghasilkan PNBP. Kedepannya, LPDP akan terus berupaya meningkatkan imbal hasil berdasarkan portofolio dengan risiko yang terukur dan terencana. LPDP bahkan merencanakan untuk berinvestasi pada saham dan instrumen investasi jangka panjang yang tentunya membutuhkan persetujuan dari Menteri Keuangan selaku BUN.
2.Indeks talenta berkualitas
IKU ini ditujukan untuk mengetahui kinerja LPDP dalam menjaga ketepatan waktu penerima beasiswa untuk memulai kuliah serta memonitor kelulusan penerima beasiswa yang tepat waktu. IKU ini dihitung berdasarkan formula sebagai berikut:
Keterangan:
Indeks A = Indeks Ketepatan Waktu Kuliah Penerima Beasiswa
% Capaian dihitung berdasarkan perbandingan penerima beasiswa yang memulai kuliah tepat waktu dengan penerima beasiswa yang sedang menunggu untuk kuliah (bobot Indeks A adalah 50%)
Indeks B = Indeks Kelulusan Tepat Waktu Kuliah Penerima Beasiswa
% Capaian dihitung berdasarkan perbandingan penerima beasiswa yang lulus kuliah tepat waktu dengan penerima beasiswa yang seharusnya sudah lulus kuliah (bobot Indeks B adalah 50%)
Pada tahun 2020, LPDP telah berhasil mendorong para penerima beasiswa untuk segera kuliah tepat waktu, dimana 4.500 orang dari 4.753 orang penerima beasiswa telah berhasil kuliah tepat waktu. Selain itu, LPDP juga berhasil menjaga tingkat kelulusan tepat waktu dari para penerima beasiswa dengan melakukan monitoring berkelanjutan. Dari 2.263 orang
mahasiswa on going, 1.371 orang diantaranya dapat lulus tepat waktu. Maka apabila capaian ini dihitung ke dalam formula, capaian IKU ini memiliki indeks 3,88 dari target 3,75 (Indeks Capaian 103,47).
= (4.500 / 4.753 x 50% x 5) + (1.371 / 2.263 x 50% x 5)
= (94,68% x 50% x 5) + (60,58% x 50% x 5)
= 2,37 + 1,51
= 3,88
Selama 2 tahun kebelakang, IKU ini telah mengalami perubahan nomenklatur dan metode perhitungan, menyesuaikan dengan perkembangan fokus kinerja LPDP. Pada tahun 2018, IKU ini memiliki nomenklatur Persentase Best Talent yang Kembali untuk Berkarya dengan capaian 91,91% dari target 88%. Pada tahun 2019, nomenklatur IKU ini berubah menjadi Persentase Alumni yang Mendapat Tempat Berkarya dengan capaian 90,96% dari target 88,5%. IKU tersebut kemudian berkembang menjadi IKU Indeks Talenta yang Berkualitas guna mendukung kinerja LPDP yang berfokus pada pengembangan talenta.
Secara umum IKU ini dapat tercapai karena LPDP terus memonitoring mulai maupun selesainya penerima beasiswa dengan tepat waktu, meskipun pada tahun 2020 terdapat pandemi COVID-19 yang membatasi pergerakan manusia, yang pada akhirnya membatasi pemberangkatan mahasiswa ke luar negeri. Untuk merespon ini, LPDP melakukan extraordinary policies seperti perpanjangan waktu bagi mahasiswa yang tidak dapat lulus dengan tepat waktu karena terimbas COVID maksimal 6 bulan.
Selain itu, seleksi LPDP juga mengalami penundaan pelaksanaan sehingga mahasiswa yang berangkat ke luar negeri juga berkurang. Seleksi kemudian dilaksanakan pada akhir tahun 2020, dengan mengganti wawancara fisik menjadi wawancara secara daring. Perubahan kegiatan ini meningkatkan efisiensi biaya LPDP dalam menjalankan seleksi karena tidak ada biaya perjalanan dinas yang dikeluarkan.
Untuk kedepannya, LPDP akan terus menjaga kestabilan capaian IKU ini dengan memantau para mahasiswa yang belum mendapatkan LoA untuk segera mencari LoA dan memulai kuliah, serta melakukan monitoring yang berkelanjutan terhadap studi mahasiswa agar dapat lulus dengan tepat waktu.
3.Indeks luaran riset yang berkualitas
IKU ini dihitung berdasarkan data perhitungan riset on going tahun 2020 yang berhasil melanjutkan pendanaannya ke tahun berikutnya dan perhitungan riset tahun terakhir di tahun 2020 yang mampu mencapai
tahapan product launch / implementatif. IKU ini dihitung berdasarkan formula berikut:
Keterangan:
Indeks A = Indeks Keberlanjutan Riset
% Capaian dihitung berdasarkan perbandingan antara riset on going tahun 2020 yang berhasil melanjutkan riset ke tahun berikutnya dengan riset on going tahun 2020 yang seharusnya melanjutkan riset ke tahun berikutnya (bobot Indeks A adalah 20%)
Indeks B = Indeks Riset yang Memenuhi Standar Kelayakan
% Capaian dihitung berdasarkan perbandingan riset tahun terakhir di tahun 2020 yang mencapai tahap product launch/implementatif dengan riset tahun terakhir di tahun 2020 (bobot Indeks B adalah 80%)
Pada tahun 2020, riset on going yang berhasil melanjutkan risetnya ke tahun berikutnya ada 32 riset dari 33 riset berjalan. Sementara itu, 8 riset tahun terakhir di tahun 2020 telah dapat mencapai tahapan product launch / implementatif di tahun 2020. Rincian riset yang dapat/tidak dapat melanjutkan ke tahun berikutnya dan yang mencapai tahapan product launch adalah sebagai berikut:
Tabel 23. Riset Tahun 2020 yang Dapat/Tidak Dapat Melanjutkan ke Tahun Berikutnya
No. Judul Riset Status
1. Kendaraan Listrik untuk Kebutuhan Khusus (Tim
Mesin) Melanjutkan
2. Rancang Bangun Unit Pemungutan Litium dari Baterai
Li-Ion Bekas Melanjutkan
3. Rancang Bangun Motor Listrik BLDC 120 kW dan Motor
Listrik SRM 5 kW Melanjutkan
4. Rancang Bangun Inverter Sistem Penggerak (Drive)
Motor Listrik BLDC 120 kW dan Motor Listri SRM 5 kW Melanjutkan 5. Pengembangan Sistem Manajemen Baterai (SMB) untuk
ITB e-TRIKE dan e-Bus Melanjutkan
6. Pengembangan Smartdashboard untuk Kendaraan
Motor Listrik e-Trike Melanjutkan
7. Pengembangan Range Extender Untuk Bus Listrik Melanjutkan
No. Judul Riset Status
8. Pengembangan Platform Untuk Kendaraan Berbasis
Listrik Melanjutkan
9. Pengembangan Platform Bus Listrik Berukuran Besar
Beserta Komponen Pendukungnya Melanjutkan
10. Pengembangan Produk Sistem Penggerak Motor
(Propulsi) untuk Bus Listrik Berukuran Besar Melanjutkan 11. Rancang Bangun Dan Pengembangan Prototipe Fin
Komodo Listrik Tahun Kedua: Pre-series Production Melanjutkan 12. Pengembangan Produksi Material Aktif Katoda Sebagai
Baku Baterai Lithium Ion Untuk Aplikasi Kendaraan
Listrik Melanjutkan
13.
Pengembangan Platform Smart Safe And Secure untuk Meningkatkan Kemudahan, Keamanan, dan
Kenyamanan. Studi Kasus : Pelayanan Penumpang Kereta Api
Melanjutkan
14. Pemodelan Sistem dan Kerangka Kebijakan Biobank
untuk Riset Kesehatan di Indonesia Melanjutkan
15.
Komersialisasi Enzim Rekombinan Reverse Transcriptase Asal MMLV SRV untuk Mendukung Kemandirian Penyediaan Reagensia Biomolekuler di Indonesia
Melanjutkan
16. Pengembangan Produk Pangan Fungsional Inovatif Cokelat Probiotik Sebagai Upaya untuk Hilirisasi dan
Komersialisasi Potensi Sumber Daya Lokal Melanjutkan 17. Implementasi Teknologi untuk Mereduksi Dampak
Kontaminan Anthraquinone (9,10-Aq) sebagai bukti
Ilmiah untuk Otoritas Pasar Eropa Melanjutkan
18.
Pengembangan Model Blended Web Mobile Learning (BWML) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTs) Siswa SMA
Melanjutkan
19. Politik Penamaan dalam Pembentukan Identitas
Nasional di Era Millenial Melanjutkan
20.
Scale-Up Teknologi Thermophilic Anaerobic Fluidized Bed Reactor untuk Produksi Energi Terbarukan dari Limbah Industri sebagai Penguatan Industri Berbasis Bioekonomi
Melanjutkan
21. Rancang Bangun Sistem Turret untuk Kapal Laut Melanjutkan 22. Pengembangan Produk Struktur Tahan Ledak Untuk
Kendaraan Tempur Melanjutkan
23. Pengembangan Alat Komunikasi untuk Kepentingan
Strategis Melanjutkan
No. Judul Riset Status
24. Produksi dan Komersialisasi Slimming Pudding dan
Jelly Berbasis Glukomanan Porang Melanjutkan 25. Pengembangan Perangkat ‘Elisa Reader’ untuk
Diagnosa Infeksi Virus Hepatitis B Menggunakan
Sumber Cahaya LED Melanjutkan
26. Produksi HBsAg dan ANTI-HBsAg Untuk Pengembangan Serta Komersialisasi Kit Diagnostik Hepatitis B
Indonesia Melanjutkan
27. Inovasi Pengembangan Produksi Pasta Gigi Anti Inflamasi Berbahan Dasar Nigella Sativa Sebagai
Prospek Industri Di Bidang Kesehatan Gigi Melanjutkan
28.
Scale-Up Formula Untuk Industri Dan Uji Klinik Gel Mulut Berbahan Aktif Ekstrak Daun Sirih Hitam Sebagai Antimikroba, Antiinflamasi, Dan Analgesik Dalam
Penguatan Industri Berbasis Tradisi
Melanjutkan
29. Sistem Pencahayaan Cerdas untuk membangun Green Ecosystem berbasis Internet of Things (IoT) study
kasus: PT Bio Farma Melanjutkan
30. Pembuatan Sport Supplement Nanocurcumin Dalam
Rangka Meningkatkan Performa Pelaku Olahraga / Atlet Melanjutkan
31.
Pembuatan Perangkat 3D Surface - Borehole Tomografi Induced Polarization &Amp; Resistivity Dan
Magnetotelurik Untuk Karakterisasi Reservoar Energi Terbarukan Geothermal
Melanjutkan
32. Pengembangan Model Workshop Dan Pelatihan Penelitian Untuk Peningkatan Riset Dan Publikasi
Internasional Universitas Di Indonesia Melanjutkan 33. Allogenic Mesenchymal Stem Clls for Reparation,
Regenerations, Restoration, and Replacement of Bone, Joint, and Cartilage
Tidak Melanjutkan
Apabila angka-angka realisasi ini dimasukkan kedalam formula, maka akan menghasilkan capaian sebagai berikut:
= (32 / 33 x 20% x 5) + (8 / 8 x 80% x 5)
= (96,15% x 20% x 5) + (100% x 80% x 5)
= 0,96 + 4,00 = 4,96
Sehingga dalam hal ini capaian kinerja IKU ini adalah 4,96 dari target tahunan sebesar 3,50 (Indeks Capaian 120,00). Sebagai informasi, IKU ini telah mengalami perubahan nomenklatur dan target dari 2 tahun kebelakang. Pada tahun 2018, IKU ini memiliki nomenklatur Persentase Luaran Riset yang Layak Dikomersialisasikan dengan capaian 100% dari target 60%. Sedangkan pada
tahun 2019, IKU ini bernomenklatur Persentase Luaran Riset yang Layak Dikomersialisasikan/Diimplementasikan dengan capaian 142,85% dari target 70%. Dengan demikian, capaian pada tahun 2020 ini tetap menggambarkan bahwa kinerja Layanan Pendanaan Riset sudah cukup efektif dalam mendorong riset untuk melanjutkan ke tahun berikutnya serta mencapai tahapan product launch.
Kedepannya, LPDP akan terus berupaya melakukan seleksi ketat terhadap riset yang berpotensi besar sehingga dapat melanjutkan ke tahun berikutnya, dan juga dapat mencapai tahapan product launch sesuai dengan fokus dan tujuan pendanaan riset organisasi LPDP. LPDP juga akan terus mendukung riset prioritas pemerintah seperti Prioritas Riset Nasional, Konsorsium COVID-19, MIRA, dan Riset Pendanaan Mobil Listrik Nasional (MOLINA) sebagai riset mandatori bekerjasama dengan Kementerian Riset dan Teknologi / BRIN untuk terus mendorong daya saing riset nasional.
9a2-N Indeks rata-rata capaian penyelesaian kerangka putusan pengadilan pajak
Q1 Q2 Smt1 Q3 s.d. Q3 Q4 Y
T 100 90 90 90 90 90 90
R 105 120 120 102 120 102 120
C 105 120 120 113,33 120 113,33 120
T: target, R: realisasi, C: Capaian
Layanan dan dukungan administrasi sengketa pajak yang andal dan akuntabel adalah layanan administrasi oleh Sekretariat Pengadilan Pajak dalam rangka memberi dukungan terhadap penyelesaian sengketa pajak.
Sekretariat Pengadilan Pajak memberikan pelayanan dan dukungan administrasi penyelesaian sengketa pajak secara cepat, murah dan sederhana serta dapat dipertanggungjawabkan yang merupakan misi yang diemban oleh SetPP guna terciptanya tertib administrasi penanganan sengketa pajak.
Sasaran Strategis ini memiliki dua IKU, yaitu Persentase Penyelesaian Kerangka Putusan Pengadilan Pajak dan Persentase Penyelesaian Salinan Putusan Pengadilan Pajak.
Indeks Capaian Penyelesaian Kerangka Putusan Pengadilan Pajak diukur berdasarkan 2 komponen yaitu:
a. Tingkat penyelesaian Kerangka Putusan Pengadilan Pajak (bobot 60%);
b. Waktu rata-rata penyelesaian Kerangka Putusan Pengadilan Pajak (bobot 40%).
Kerangka Putusan adalah bahan penyusunan Konsep Putusan yang akan digunakan oleh Majelis yang terdiri dari Surat Permohonan Banding/Gugatan, Surat Uraian Banding/Surat Tanggapan, Surat Bantahan, Berita Acara Sidang dan dokumen terkait lainnya yang disusun sesuai dengan format standardisasi putusan.
Jumlah Kerangka Putusan Yang Disusun Pada Periode Tahun Berjalan adalah jumlah Kerangka Putusan yang telah disusun pada tahun 2020.
Sengketa Yang Cukup adalah sengketa pajak yang sidang pemeriksaannya telah dinyatakan cukup oleh Majelis. Jumlah Sengketa Yang Cukup adalah banyaknya Sengketa Yang Cukup pada periode tahun berjalan (Y) dikurangi jumlah Sengketa Yang Cukup bulan terakhir tahun berjalan (Y-Des) dan ditambah dengan banyaknya Sengketa Yang Cukup pada periode tahun sebelumnya (Y-1) yang belum dibuat Kerangka Putusannya.
Waktu rata-rata penyelesaian kerangka putusan mengacu pada ketentuan dalam SE-03/PP/2019 yaitu 40 hari sejak sidang pemeriksaannya dinyatakan cukup oleh Majelis. Kerangka Putusan adalah bahan penyusunan Konsep Putusan yang akan digunakan oleh Majelis yang terdiri dari Surat Permohonan Banding/Gugatan, Surat Uraian Banding/Surat Tanggapan, Surat Bantahan, Berita Acara Sidang dan dokumen terkait lainnya yang disusun sesuai dengan format standardisasi putusan.
Jumlah Kerangka Putusan Yang Disusun Pada Periode Tahun Berjalan adalah jumlah Kerangka Putusan yang telah disusun pada tahun 2019.
Sengketa Yang Cukup adalah sengketa pajak yang sidang pemeriksaannya telah dinyatakan cukup oleh Majelis. Jumlah Sengketa Yang Cukup adalah banyaknya Sengketa Yang Cukup pada periode tahun berjalan (Y) dikurangi jumlah Sengketa Yang Cukup bulan terakhir tahun berjalan (Y-Des) dan ditambah dengan banyaknya Sengketa Yang Cukup pada periode tahun sebelumnya (Y-1) yang belum dibuat Kerangka Putusannya.
Perhitungan Capaian IKU ini menggunakan formulasi dan perhitungan sebagai berikut :
A. Tingkat penyelesaian Kerangka Putusan Pengadilan :
Jumlah Kerangka Putusan Yang Disusun (Jan-Des) x 100%
Tunggakan Kerangka Y-1 + Sengketa Cukup (Jan-Nov)
9.832 kerangka = 103,19%
(bobot 120) 349 berkas tunggakan + 9.272 berkas cukup
B. Waktu rata-rata penyelesaian Kerangka Putusan Pengadilan Pajak (bobot 40%).
Capaian s.d. Q4 = (60% Komponen A + 40% Komponen B)
= (60% x 120) +(40% x 120) = 120
Kebijakan WFH yang ditempuh oleh Pemerintah dalam rangka pencegahan COVID-19 dapat berdampak pada IKU ini khususnya terkait waktu penyelesaian mengingat koordinasi penyelesaian yang relatif lebih terbatas.
Dalam mencapai realisasi IKU ini telah dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Telah dilaksanakan bekerja secara WFH menggunakan jaringan VPN untuk mengakses aplikasi di kantor
b. Telah menerapkan sistem piket pegawai di Majelis dalam hal sangat penting untuk dilakukan dalam penyelesaian kerangka
c. Telah dilakukan komunikasi secara virtual dengan Hakim/pejabat dalam rangka koordinasi penyelesaian kerangka
9a3-N Persentase profesi keuangan yang dikenakan sanksi
Q1 Q2 Smt1 Q3 s.d. Q3 Q4 Y
T 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5%
R 0,06% 0,52% 0,52% 0,76% 0,76% 0,84% 0,84%
C 120 120 120 120 120 120 120
T: target, R: realisasi, C: Capaian
Profesi keuangan merupakan salah satu pilar penyokong sektor keuangan dalam menggerakkan pembangunan ekonomi nasional dan mendorong pencapaian pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.
Peran strategis ini perlu diperkuat agar profesi keuangan dapat memberikan pelayanan publik secara profesional dan berintegritas.
Sebagai pembina dan pengawas profesi keuangan, PPPK mempunyai tanggung jawab untuk memastikan kepatuhan dari setiap profesi keuangan.
Setiap profesi keuangan yang teridentifikasi tidak patuh terhadap terhadap peraturan, standar pengendalian mutu, dan standar profesi yang berlaku akan diberi sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Jumlah Waktu Penyelesaian Kerangka Putusan Jumlah Kerangka Putusan yang Disusun
237.204 hari = 24,13 hari
(bobot 120) 9.832 kerangka
Berbeda dengan tahun sebelumnya, pada tahun 2020 tingkat kepatuhan profesi keuangan yang diukur selain profesi akuntan publik dan penilai publik, juga mencakup juga profesi aktuaris publik. Selain itu, pengukuran jenis sanksi menjadi lebih luas terdiri dari sanksi administrasi berupa sanksi denda, rekomendasi, peringatan, pembatasan, pembekuan, dan pencabutan izin.
Persentase sanksi dilakukan pembobotan sesuai tingkat ringan-beratnya sanksi. Semakin berat jenis sanksi yang diberikan, semakin besar bobot yang diberikan.
Persentase profesi keuangan yang dikenakan sanksi pada akhir tahun 2020 sebesar 0,84%, dengan rincian profesi akuntan publik 0,96%, penilai publik 0,51%, dan aktuaris publik 1,05%.
Upaya PPPK untuk melaksanakan pengawasan terhadap profesi keuangan bukan tanpa tantangan. Pandemi Covid-19 menjadi tantangan lebih bagi PPPK dalam pencapaian target kinerja tersebut. Kondisi ini menuntut PPPK untuk tetap berkoordinasi serta menyesuaikan cara kerja di tengah keterbatasan gerak demi mendapatkan hasil yang baik. Dalam menjawab tantangan tersebut, PPPK melakukan pengawasan dan pembinaan secara lebih intensif agar profesi keuangan memberikan jasa secara profesional sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pada tahun 2020, PPPK melakukan pengawasan secara daring dengan tetap memperhatikan kualitas secara memadai. Tidak hanya itu, dalam meningkatkan pengembangan kompetensi profesi keuangan, PPPK menyelenggarakan Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL) secara daring. PPPK juga terus melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada profesi keuangan sehingga kualitas kerja dan kepatuhan profesi keuangan dapat meningkat. Terkait dengan digitalisasi pada proses-proses bisnis yang ada, PPPK mengembangkan aplikasi terkait profesi keuangan dalam meningkatkan kualitas pembinaan dan pengawasan.
Koordinasi dengan asosiasi dan pihak terkait juga terus dilakukan untuk membahas permasalahan profesi sehingga dapat menemukan solusi yang tepat. Beberapa tahun ke depan hingga dalam jangka panjang PPPK masih terus bekerja keras dengan tetap menjaga optimisme dan kewaspadaan untuk dapat meningkatkan kepatuhan profesi keuangan secara profesional dalam berbagai kondisi.
Keberhasilan pencapaian target kinerja ini mendukung terwujudnya arah kebijakan Sekretariat Jenderal dalam rangka meningkatkan kinerja pelaksanaan tugas khusus secara optimal. Upaya PPPK dalam bentuk penegakan hukum atas pelanggaran profesi keuangan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan telah dilaksanakan untuk meningkatkan kepatuhan profesi keuangan yang tinggi.
9a4-N Persentase penyelesaian tindaklanjut kebijakan Menteri Keuangan hasil rapat pimpinan
Q1 Q2 Smt1 Q3 s.d. Q3 Q4 Y
T 60% 70% 70% 80% 80% 94% 94%
R 72,58% 84,28% 84,28% 83,61% 83,61% 98,54% 98,54%
C 120 120 120 104,51 104,51 104,83 104,83 T: target, R: realisasi, C: Capaian
Salah satu tugas Pushaka adalah melakukan monitoring tindak lanjut Arahan Pimpinan yang terdokumentasikan dalam aplikasi DAMS. Berdasarkan aplikasi DAMS, jumlah agenda pada tahun 2015-2020 sebanyak 10.291 dengan arahan yang harus ditindaklanjuti sebanyak 3.543, sedangkan untuk tahun 2020 saja jumlahnya 1.761 agenda dengan 759 tindak lanjut.
Pemantauan DAMS dilakukan secara reguler melalui :
• Penyampaian laporan bulanan pending matters DAMS kepada Unit Eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan.
• Mengoptimalkan dashboard pemantauan pada aplikasi DAMS NG.
• PIC DAMS di Pushaka terus berkoordinasi intensif dengan seluruh Unit Eselon I baik melalui rapat maupun media komunikasi lainnya untuk mengetahui progress penyelesaian tindak lanjut dan kendala yang mungkin dihadapi oleh Unit Eselon I.
SS 10
Organisasi dan sumber daya manusia yang optimal
Kode Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian
10a-CP
Persentase pejabat Sekretariat Jenderal yang telah memenuhi standar kompetensi jabatan
90% 96,23% 106,92
10b-CP Indeks integritas organisasi
Sekretariat Jenderal 94,63 106,03 112,05 10b1-CP Indeks persepsi
integritas Sekretariat Jenderal
89,25 92,05 103,14
10b2-CP Tingkat pemenuhan unit kerja Sekretariat Jenderal terhadap kriteria
100 152,566 120,00
Kode Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian Zona Integritas menuju
Wilayah Bebas dari Korupsi
10c-CP Tingkat implementasi learning
organization 75 93,70 120,00
10d-N Persentase penyelesaian
delayering Setjen 100% 103% 103,00
Organisasi yang optimal adalah organisasi yang mampu mewadahi dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan dalam rangka mencapai tujuan. Dengan demikian organisasi beserta proses bisnis di dalamnya akan bersifat dinamis dan fleksibel sesuai dengan tuntutan kebutuhan dan dinamika transformasi kelembagaan Kementerian Keuangan. SDM yang optimal adalah SDM yang memiliki kepemimpinan yang tepat, mengetahui apa yang akan dilakukan untuk semua informasi yang diterima dan kompetensi yang dibutuhkan untuk keberhasilan organisasi serta melakukan pekerjaan dengan penuh semangat, efektif, efisien dan produktif, sesuai dengan proses kerja yang benar agar mencapai hasil kerja yang optimal.
10a-CP Persentase pejabat Sekretariat Jenderal yang telah memenuhi standar kompetensi jabatan
Q1 Q2 Smt1 Q3 s.d. Q3 Q4 Y
T - - - 90% 90%
R 83,86% 79,18% 79,18% 84,11% 84,11% 96,23% 96,23%
C - - - 106,89 106,89
T: target, R: realisasi, C: Capaian
Berikut data Jumlah Pejabat terkait dengan SKJ di lingkungan Setjen hngga 2020:
1. Pejabat Es II 18 (14 pejabat sudah memenuhi, 4 pejabat belum memenuhi);
2. Pejabat Es III 117(108 pejabat sudah memenuhi, 9 pejabat belum memenuhi);
3. Pejabat Es IV 343 (338 pejabat sudah memenuhi, 5 pejabat belum memenuhi).
Realisasi
AC yang dilaksanakan pada Triwulan IV:
Es4 dan pelaksana: 5 kali (8,9 Oktober, 6 November, 9 November, 18 November 2020)
Es3: 9 kali (2,12,13,20,22,26 Oktober; 3,12 November; 1 Desember 2020) Es2: 2 kali (3, 7 desember 2020)
Total telah dilakukan 27 kali AC di 2020 ini secara online
= {pejabat sudah AC (JPM≥78) / total pejabat sudah AC} x 100%
= {460 / 478} x 100% = 96,23%
Diperoleh capaian sampai dengan triwulan 4 tahun 2020 sebesar 106,89
Gambar 19. Grafik capaian coverage unit yang blum 100% pejabat memenuhi target SKJ pada Unit Setjen
Adapun pejabat pada unit seperti Cankeu, Organta, Hukum, KLI, Umum, Pushaka, PPPK, Setkomwasjak, dan Tenaga Pengkaji telah 100% memenuhi SKJ sesuai dengan target IKU. Adapun program yang dijalankan sepanjang tahun 2020 dilakukan sama dan mendukung program pada level Kementerian.
10b1-CP Indeks persepsi integritas Sekretariat Jenderal
SPI telah dilaksanakan di Kementerian Keuangan sejak tahun 2017 dengan mengadopsi metodologi yang dikembangkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang bertujuan untuk mengukur tingkat integritas Kementerian Keuangan, mengidentifikasi area rawan KKN, dan menjadi salah satu dasar pembangunan program penguatan integritas di lingkungan Kementerian Keuangan
93.75% 96.15% 94.12% 96.36%
93.75% 84.62%
80%
Advokasi SDM Madan Pusintek SetPP SetKSSK LPDP
Terdapat penyempurnaan metodologi SPI pada tahun 2020 yang berbeda dengan metodologi tahun-tahun sebelumnya namun sama dengan metodologi yang digunakan KPK. Implikasi dari penyesuaian metodologi tersebut adalah:
a. Untuk pertama kalinya, KPK tidak melakukan survei pada Kemenkeu dan menggunakan Data Survei Online Kemenkeu sebagai data primer dalam pengolahan data dan penghitungan Indeks SPI versi KPK.
b. Namun demikian, hasil SPI tidak dapat dilakukan analisis tren indeks dan
b. Namun demikian, hasil SPI tidak dapat dilakukan analisis tren indeks dan