• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kode Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian 2a-N Indeks rata-rata capaian tata

kelola Kemenkeu 100 110,73 108,82

2a1-CP Tingkat pemenuhan unit kerja terhadap kriteria Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi

100 119,16 119,16

2a2-N Nilai evaluasi SAKIP 100

(87,07) 88,13 101,22 2a3-N Jumlah sertifikasi

standarisasi internasional bidang TIK

100 (3 Sertifikat)

100 100

2a4-N Persentase kualitas pelaksanaan anggaran Kemenkeu

100

(95%) 98,55% 103,74 2a5-N Persentase opini negatif

pemberitaan Kementerian Keuangan pada media massa dan media sosial

100

(17,5%) 8,30% 120,00

Tata kelola Kemenkeu yang baik merupakan sasaran yang ingin dicapai Sekretariat Jenderal dalam mengemban fungsinya sebagai pengelola dan pembina sumber daya di lingkungan Kementerian Keuangan.

Sumber daya yang dimaksud meliputi sumber daya keuangan, sumber daya manusia, sumber daya organisasi, dan sumber daya TIK, dan lain sebagainya. Terwujudnya tata kelola Kemenkeu yang baik dibuktikan dengan adanya pengakuan dari pihak eksternal yang independen, baik berupa penghargaan-penghargaan, opini, ataupun pengakuan lain yang dapat dibuktikan dan merupakan ukuran kinerja yang sifatnya outcome dari hasil proses bisnis yang dilakukan.

2a1-CP Tingkat pemenuhan unit kerja terhadap kriteria Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi

Q1 Q2 Smt1 Q3 s.d. Q3 Q4 Y

T - - - 100% 100%

R - - - 119,16% 119,16%

C - - - 119,16 119,16

T: target, R: realisasi, C: Capaian

Sejalan dengan semangat dan visi Program Nawacita Kabinet Kerja 2019-2024 serta program Reformasi Birokrasi yang telah ditetapkan dalam Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025 dan program revolusi mental dalam pemberantasan korupsi, berbagai program terkait dengan peningkatan kualitas aparatur sipil negara yang digariskan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kementerian PAN dan RB) dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, transparan dan akuntabel, dilaksanakan oleh Kementerian Keuangan dengan mendukung dan berusaha proaktif. Pelaksanaan program-program tersebut antara lain ditujukan agar keuangan dan kekayaan negara dapat didayagunakan secara optimal untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

Salah satu program penting Kementerian Keuangan dalam melakukan usaha-usaha pencegahan dan pemberantasan korupsi, yaitu melalui pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (ZI-WBK/ WBBM) yang telah dicanangkan sejak tahun 2012 sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 52 Tahun 2014 sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 10 Tahun 2019 tentang Pedoman Pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani di Lingkungan Instansi Pemerintah. Program pembangunan unit kerja berpredikat ZI-WBK/WBBM di lingkungan Kementerian Keuangan merupakan upaya untuk mewujudkan pengelolaan keuangan dan kekayaan negara yang bersih dari praktik Korupsi, Kolusi, dan

Nepotisme (KKN) serta selalu bergerak dengan semangat pelayanan publik yang penuh dengan antusiasme dan continuous improvement.

Jumlah unit kerja berpredikat WBK maupun WBBM ditentukan berdasarkan hasil penilaian Tim Penilai Kementerian (TPK) dan Tim Penilai Nasional (TPN). Syarat untuk ditetapkan mendapatkan predikat WBK, yaitu:

1. unit kerja harus memperoleh nilai minimal 60% dari nilai total di masing-masing area komponen pengungkit;

2. memperoleh nilai komponen hasil “terwujudnya pemerintahan yang bersih dan bebas KKN” minimal 18, dengan nilai sub komponen Survei Persepsi Korupsi minimal 13,5 dan sub komponen persentasi TLHP minimal 3,5;

3. memperoleh nilai Survei Persepsi Kualitas Pelayanan “Terwujudnya Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik kepada Masyarakat” minimal 3.2 (nilai konversi ke skor max 20, yaitu minimal 16); serta

4. memperoleh nilai total (gabungan nilai komponen pengungkit dan hasil) minimal 75 (tujuh puluh lima).

Untuk ditetapkan mendapatkan predikat WBBM, berikut persyaratannya:

1. unit kerja harus memperoleh nilai minimal 75% dari nilai total di masing-masing area komponen pengungkit;

2. memperoleh nilai komponen hasil “terwujudnya pemerintahan yang bersih dan bebas KKN” minimal 18, dengan nilai sub komponen Survei Persepsi Korupsi minimal 13,5 dan sub komponen persentasi TLHP minimal 3,5;

3. memperoleh nilai Survei Persepsi Kualitas Pelayanan “Terwujudnya Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik kepada Masyarakat” minimal 3.6 (nilai konversi ke skor max 20, yaitu minimal 18); serta

4. memperoleh nilai total (gabungan nilai komponen pengungkit dan hasil) minimal 85 (delapan puluh lima).

Pada tahun 2019, diusulkan 310 (tiga ratus sepuluh) unit kerja di lingkungan Kementerian Keuangan untuk mendapatkan predikat WBK/WBBM.

Biro Organta selaku Tim Pembangun Integritas melakukan pembinaan terhadap unit-unit kerja tersebut serta berkoordinasi dengan Inspektorat Jenderal selaku TPK. Setelah melalui proses penilaian oleh TPK, dari 310 unit kerja yang diajukan, 308 unit kerja berhasil memenuhi syarat untuk mendapatkan predikat WBK/WBBM. Dari total 308 unit kerja tersebut, sebanyak 265 unit kerja memenuhi kriteria untuk diajukan sebagai unit kerja berpredikat WBK dan 43 unit kerja memenuhi kriteria untuk diajukan sebagai unit kerja berpredikat WBBM. Jumlah 265 unit kerja tersebut melebihi target tahun 2019 yaitu sebanyak 103 unit kerja. Perkembangan target dan realisasi unit kerja yang memenuhi kriteria ZI-WBK dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2019 dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4. Rekap Target dan Realisasi Hasil Penilaian Tim Penilai Kementerian

Adapun pada tahun 2020 terdapat perubahan kebijakan terkait Penetapan unit kerja berpredikat ZI-WBK, bahwa penetapan ZI-WBK/WBBM adalah kewenangan Tim Penilai Nasional, sehingga terdapat perbedaan perhitungan target IKU Tingkat Pemenuhan Unit Kerja terhadap Kriteria ZI-WBK/WBBM Kementerian Keuangan, yaitu memasukan capaian pada tingkat Tim Penilai Nasional (TPN). Dari 226 unit kerja yang diusulkan/memenuhi kriteria ZI-WBK dan 53 unit kerja yang diusulkan/memenuhi kriteria ZI-WBBM oleh Tim Penilai Kementerian (TPK), sebanyak 189 unit kerja berhasil lolos dan memperoleh predikat WBK dan 25 unit kerja berhasil lolos dan memperoleh predikat WBBM dengan total WBK/WBBM yaitu 214 unit kerja. Jumlah 214 unit kerja tersebut melebihi target tahun 2020 yaitu sebanyak 150 unit kerja.

Dibalik pencapaian tersebut, pada awal tahun 2020, dalam rangka mendorong pencapaian unit kerja berpredikat WBK/WBBM ditetapkan IKU

“Tingkat pemenuhan unit kerja terhadap kriteria ZI WBK”. Dimana penilaian terhadap pemenuhan persyaratan kriteria ZI WBK ini dilakukan di internal Kementerian Keuangan oleh Inspektorat Jenderal selaku TPK. Terdapat 3 (tiga) komponen yang diperhitungkan dalam IKU ini, yaitu:

1. Nilai pengungkit dan nilai hasil dari penilaian TPK dengan bobot 40%;

2. Persentase jumlah unit target yang memenuhi syarat untuk diajukan ke TPN dengan bobot 40%;

3. Persentase jumlah unit terpenuhi untuk diajukan ke TPN dengan bobot 15%; dan

4. Persentase jumlah unit yang lolos dalam tahap penilaian TPN dengan bobot 5%.

Realisasi tahun 2020 untuk masing-masing komponen yaitu:

1. Nilai pengungkit dan nilai hasil dari penilaian TPK mencapai sebesar 47,43%;

2. Persentase jumlah unit target yang memenuhi syarat untuk diajukan ke TPN mencapai sebesar 40%;

3. Persentase jumlah unit terpenuhi untuk diajukan ke TPN mencapai sebesar 27,9%; dan

4. Persentase jumlah unit yang lolos dalam tahap penilaian TPN mencapai sebesar 3,83%.

Pada tahun 2020 pencapaian unit kerja berpredikat WBK/WBBM sudah melampaui target, namun demikian masih terdapat beberapa tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan program ZI-WBK/WBBM, antara lain:

1. Pimpinan unit kerja kurang mampu mengkomunikasikan perubahan yang telah dibangun di unit kerja pada saat tahap evaluasi di hadapan Tim Penilai Nasional;

2. Pelaksanaan penilaian secara berjenjang terutama di tingkat Tim Penilai Kementerian yang perlu kesepahaman proses penilaian dan agar dituangkan dalam peraturan yang mengikat;

3. Pelaksanaan evaluasi di tingkat TPN yang pada tahun 2020 lebih banyak menggunakan metode video conference;

4. Rendahnya tingkat pengisian survei online yang dilakukan oleh KemenPAN-RB sehingga berpotensi menyebabkan hasil survei tidak optimal.

Dalam menghadapi hal dimaksud, Kementerian Keuangan melakukan upaya-upaya sebagai berikut:

1. Pembekalan kepada pimpinan unit kerja mengenai kiat-kiat saat menyampaikan perubahan yang terlaksana di unit kerja selama pembangunan ZI-WBK/WBBM pada saat sebelum proses evaluasi bersama Tim Penilai Nasional dilaksanakan;

2. Pelaksanaan rapat koordinasi bersama Tim Penilai Kementerian dan penuangan kesepahaman penilaian dalam bentuk peraturan yang mengikat serta membangun aplikasi Digital Integrity Assessment (DIA) sebagai upaya mempermudah proses penilaian TPK;

3. Senantiasa membangun sinergi dan komunikasi dengan Tim Penilai Nasional (KemenPAN-RB) mengenai jadwal pelaksanaan dan metode evaluasi, proses bisnis pada masing- masing unit kerja yang diusulkan serta membantu mengawal proses evaluasi (asistensi unit kerja);

4. Meningkatkan koordinasi dan sinergi dengan seluruh unit eselon I dalam rangka memenuhi minimal pengisian survei online yang dilakukan oleh KemenPAN-RB.

2a2-N Nilai evaluasi SAKIP

Nilai Evaluasi SAKIP Kemenkeu merupakan nilai yang dikeluarkan oleh KemenPAN-RB atas hasil evaluasi akuntabilitas kinerja Kemenkeu. IKU Nilai Evaluasi SAKIP mencerminkan outcome dari proses perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, dan evaluasi kinerja Kemenkeu yang merupakan tugas dan fungsi Biro Perencanaan dan Keuangan.

Evaluasi akuntabilitas kinerja Kemenkeu dilaksanakan oleh KemenPAN-RB sesuai amanat dalam Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, dan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP). Adapun pelaksanaan evaluasi ini berpedoman pada PermenPAN-RB No 12 tahun 2015 tentang Pedoman Evaluasi atas Implementasi SAKIP.

Tujuan evaluasi ini adalah untuk menilai tingkat akuntabilitas atau pertanggungjawaban atas hasil (outcome) terhadap penggunaan anggaran dalam rangka terwujudnya pemerintahan yang berorientasi kepada hasil (result oriented government) serta memberikan saran perbaikan yang diperlukan.

Tabel 5. Rincian Nilai SAKIP Kemenkeu

No Komponen Penilaian Bobot Nilai

2018 2019

a Perencanaan Kinerja 30 26,20 26,75

b Pengukuran Kinerja 25 21,93 22,00

c Pelaporan Kinerja 15 13,35 13,58

d Evaluasi Internal 10 8,69 8,80

e Capaian Kinerja 20 16,89 17,00

Nilai Hasil Evaluasi 100 87,07 88,13 Tingkat Akuntabilitas Kinerja A A

Berdasarkan surat KemenPAN-RB nomor B/83/AA.05/2019 tentang Hasil Evaluasi atas Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) Tahun 2019 tanggal 30 Desember 2019 yang diterima Kementerian Keuangan pada tanggal 25 Februari 2020, nilai AKIP Kemenkeu Tahun 2019 adalah sebesar 88,13 atau predikat A. Penilaian tersebut menunjukkan tingkat efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran dibandingkan dengan capaian kinerjanya, kualitas pembangunan budaya kinerja birokrasi, dan penyelenggaraan pemerintahan yang berorientasi hasil pada Kementerian Keuangan menunjukkan hasil yang memuaskan.

Adapun realisasi IKU Nilai Evaluasi SAKIP pada tahun 2020 adalah sebesar 88,13 lebih tinggi jika dibandingkan dengan target yang ditetapkan, yaitu sebesar 87,07.

Tabel 6. Perbandingan Nilai Evaluasi SAKIP Kemenkeu 5 tahun terakhir Komponen Bobot 2015 2016 2017 2018 2019 Perencanaan

Kinerja 30 25,12 25,34 25,46 26,20 26,75

Pengukuran Kinerja 25 20,78 20,94 21,09 21,93 22,00 Pelaporan Kinerja 15 13,31 13.45 13,58 13,35 13,58 Evaluasi Internal 10 7,97 8,14 8,14 8,70 8,80 Capaian Kinerja 20 15,75 15,92 16,26 16,89 17,00 Nilai Evaluasi 100 82,93 83,79 84,53 87,07 88,13

Tingkat AKIP A A A A A

Diantara penyebab keberhasilan peningkatan Nilai SAKIP Kemenkeu tahun 2019 adalah penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) sebagai pelaksanaan dari manajemen kinerja sektor publik di lingkungan Kementerian Keuangan telah dilakukan dengan baik. Secara formal dan substansi, penerapan manajemen kinerja telah dilakukan di semua level pemilik peta strategi hingga level pelaksana dimulai dari tahapan perencanaan, monitoring, serta penetapan hasil kinerja dan evaluasi.

Salah satu upaya peningkatan kualitas akuntabilitas kinerja Kemenkeu dilakukan dengan menindaklanjuti rekomendasi KemenPAN-RB atas evaluasi SAKIP yang telah dilaksanakan. Berdasarkan hasil evaluasi SAKIP Tahun 2019, terdapat beberapa rekomendasi KemenPANRB yang tindak lanjutnya telah dipaparkan kepada KemenPAN-RB pada entry meeting evaluasi SAKIP Tahun 2020 yang dilaksanakan tanggal 5 Oktober 2020, antara lain:

a. Dalam Renstra 2020-2024, selain memperhatikan muatan pembangunan yang terkandung dalam RPJMN, juga agar memperhatikan definisi kinerja sesuai dengan mandat dalam peraturan perundang-undangan;

Tindak Lanjut:

i. Renstra Kemenkeu Tahun 2020-2024 telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 77/PMK.01/2020. Indikator kinerja yang ditetapkan dalam Renstra Kemenkeu telah memperhatikan mandat RPJMN sesuai tugas dan fungsi Kemenkeu sebagai BUN, yaitu:

1. Rasio penerimaan perpajakan, 2. Tingkat imbal hasil (yield) SBN,

3. Rasio TKDD yang berbasis kinerja terhadap TKDD meningkat (%), dan 4. Pembaruan sistem inti administrasi perpajakan.

ii. Selain itu, telah ditetapkan pula indikator Renstra yang mengukur keberhasilan sasaran strategis Kemenkeu, serta kinerja pada tingkat program, output program, dan kegiatan, sesuai ketentuan Permen Bappenas No. 5 Tahun 2019 tentang Renstra. Indikator Renstra Kemenkeu juga digunakan sebagai acuan dalam perencanaan dan penganggaran tahunan di Kemenkeu sesuai konsep Redesain Sistem Penganggaran (RSPP).

b. Melakukan reviu penerapan manajemen kinerja di lingkungan Kementerian Keuangan, terutama terkait :

i. Pembobotan dalam Nilai Kinerja Organisasi (NKO) Tindak Lanjut:

NKO menunjukkan konsolidasi seluruh realisasi IKU dalam satu Peta Strategi. Berdasarkan KMK 467/2014, bobot masing-masing perspektif adalah sebagai berikut:

Perspektif Bobot

Stakeholder 25%

Customer 15%

Internal Process 30%

Learning and Growth 30%

Pertimbangan penetapan bobot yang lebih besar pada perspektif internal process dan learning and growth, antara lain dikarenakan:

1. IKU pada perspektif Stakeholder dan Customer pencapaiannya membutuhkan sinergi dengan pihak lain sehingga kontrolnya low/moderate.

2. Perspektif internal bersifat sustainable untuk jangka panjang, sedangkan perspektif eksternal mencerminkan result jangka pendek (tahunan);

3. IKU pada perspektif internal pemilik peta strategi diwajibkan bersifat output bukan activity.

Rekomendasi pemberian bobot yang lebih besar pada perspektif stakeholder dan customer selaras dengan peran strategis Kemenkeu dalam mendukung tujuan pemerintah. Hal ini akan diakomodasi dalam revisi KMK 467/2014 tentang Pengelolaan Kinerja di lingkungan Kemenkeu.

ii. Keterkaitan antara definisi kinerja, peta proses bisnis, performance cascade, dan kinerja individu;

Tindak Lanjut:

1. Konsep Enterprise Architecture (EA) Kemenkeu dibangun sejak tahun 2018. Kondisi utama yang ingin dicapai dalam pembangunan EA Kemenkeu adalah alignment proses bisnis lintas unit eselon I dalam

4 Tema: (1) Sentral; (2) Perbendaharaan; (3) Penerimaan; (4) Penganggaran;

2. Pembangunan EA Kemenkeu sejalan dengan program Redesain Sistem Perencanaan dan Penganggaran (RSPP) Kemenkeu. Dimana fungsi- fungsi yang tergambar dalam EA, terwakili pada program lintas unit eselon I RSPP. Program RSPP meliputi: (1) Program kebijakan fiskal; (2) Program pengelolaan penerimaan negara; (3) Program pengelolaan belanja negara; (4) Program pengelolaan perbendaharaan, kekayaan negara, dan risiko; dan (5) program dukungan manajemen.

3. Peta Strategi Kemenkeu Tahun 2020 telah mengakomodasi konsep RSPP, dimana unit eselon I memiliki indikator kinerja yang saling terkait dan sinergi. Unit eselon I bertindak sebagai aktor EA yang akan menjalankan IKU dan mendukung pencapaian sasaran program.

Pencapaian kinerja dan pelaksanaan proses bisnis lintas unit ini didukung oleh seluruh pegawai melalui proses cascading dan alignment IKU unit eselon I.

iii. Pemanfaatan berbagai dokumen terkait manajemen kinerja seperti laporan kinerja dan laporan hasil evaluasi akuntabilitas kinerja internal

1. Dalam implementasinya, sistem manajemen kinerja di Kemenkeu telah terintegrasi dengan berbagai sistem, antara lain:

a. Manajemen strategi (perencanaan) b. Manajemen risiko

c. Manajemen SDM d. Manajemen keuangan

2. Laporan kinerja antara lain digunakan sebagai salah satu bahan acuan dalam proses Refinement Peta Strategi, IKU, dan Target Kinerja, serta proses Refinement Profil Risiko dan Rencana Mitigasi Kemenkeu dalam rangka mengamankan pencapaian Sasaran Organisasi.

3. Laporan hasil evaluasi akuntabilitas kinerja internal digunakan untuk:

a. Memberikan feedback dalam rangka penyusunan Renstra Kemenkeu Tahun 2020-2024;

b. Mendorong sinkronisasi perencanaan dengan penganggaran, melalui redesain sistem perencanaan dan penganggaran Kemenkeu.

Upaya extra effort lainnya yang dilakukan dalam rangka meningkatkan nilai evaluasi SAKIP, diantaranya dengan mendorong replikasi manajemen kinerja dan risiko Kemenkeu kepada K/L dan instansi lain. Adapun K/L yang telah mereplikasi manajemen kinerja dan risiko Kemenkeu antara lain Kemenlu, BPK, Kemendagri, KemenPPPA, dan OJK.

Selain itu, sebagai upaya penyelarasan dengan ketentuan nasional Penilaian Kinerja PNS dalam PP 30 Tahun 2019, saat ini Kemenkeu sedang menyusun RKMK perubahan tentang Pengelolaan Kinerja di Lingkungan Kementerian Keuangan. Penyusunan RKMK ini dilakukan simultan dengan

penyusunan RPermenPAN-RB tentang Sistem Manajemen Kinerja PNS yang sedang dirumuskan oleh KemenPAN-RB. Harapannya setelah RPermenpan-RB ditetapkan, Kemenkeu telah memiliki aturan yang selaras dan dapat langsung menerapkannya, untuk itu Kemenkeu melakukan koordinasi yang intensif dengan Kemenpan-RB terkait substansi yang diatur dalam regulasi dimaksud.

2a3-N Jumlah sertifikasi standarisasi internasional bidang TIK

Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas dan mutu pelayanan, serta mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, sejak tahun 2013 hingga saat ini Sekretariat Jenderal (Setjen) c.q. Pusintek telah berhasil mempertahankan sertifikasi standar internasional IT Service Management (ITSM) ISO 20000 dan Information Security Management Systems (ISMS) ISO 27001. Kemudian disusul pada tahun 2016 berhasil mendapatkan sertifikasi standar internasional Quality Management Systems (QMS) ISO 9001. Sehingga saat ini Pusintek telah menerapkan 3 (tiga) sertifikasi standar internasional, yaitu ISO 20000, ISO 27001, dan ISO 9001.

Pusintek mengelola sertifikasi standar internasional dengan melakukan audit surveillance dan sertifikasi ulang (resertifikasi). Audit surveillance merupakan audit yang dilakukan dalam periode waktu tertentu oleh badan sertifikasi untuk memastikan bahwa suatu organisasi yang tersertifikasi masih memenuhi persyaratan standar internasional terkait. Sedangkan proses resertifikasi merupakan proses penilaian/audit untuk memastikan bahwa suatu organisasi masih layak memiliki sertifikasi standar internasional. Proses resertifikasi dilakukan setiap 3 (tiga) tahun sekali dengan diikuti proses audit surveillance setiap setahun sekali. Setiap satu tahun sekali Pusintek juga melakukan proses audit internal ISO sebagai salah satu syarat sertifikasi standar internasional yang harus dipenuhi.

Pada tahun 2020, Pusintek melaksanakan surveillance terhadap tiga sertifikasi standardisasi internasional yang telah diraih di tahun 2016. Kegiatan surveillance telah dilaksanakan pada tanggal 21 s.d. 25 September 2020. Dari pelaksanaan surveillance ditetapkan bahwa Pusintek layak mempertahankan ketiga sertifikasi yang telah dimiliki.

Dalam mempertahankan sertifikasi standarisasi internasional yang didapatkan, hal-hal yang dilakukan antara lain :

1. Melakukan monitoring tindak lanjut temuan audit internal dan eksternal ISO 20000, ISO 27001, dan ISO 9001 Tahun 2019;

2. Melaksanakan audit internal standarisasi internasional ITSM (ISO/IEC 20000-1:2018), ISMS (ISO/IEC 27001:2013), dan QMS (ISO 9001:2015) serta IMS (PAS 99:2012);

3. Melaksanakan kegiatan surveillance audit standarisasi internasional ISO 20000-1:2018, ISO 27001:2013, dan ISO 9001:2015 serta PAS99:2012 di Lingkungan Pusintek;

Tantangan yang dihadapi dalam mencapai dan mempertahankan sertifikasi standarisasi internasional tahun 2020 adalah sebagai berikut

1. Perubahan struktur organisasi Pusintek menjadi end-to-end process;

2. Perbedaan kompetensi antara person in charge (PIC) lama dengan PIC baru.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Setjen c.q. Pusintek telah melakukan pemetaan role/proses dengan struktur organisasi Pusintek yang baru; dan sharing knowledge/transfer knowledge pada sesama pegawai.

2a4-N Persentase kualitas pelaksanaan anggaran Kemenkeu

Q1 Q2 Smt1 Q3 s.d. Q3 Q4 Y

T 95% 95% 95% 95% 95% 95% 95%

R n/a n/a n/a 98,11% 98,11% 98,55% 98,55%

C n/a n/a n/a 103,27 103,27 103,74 103,74 T: target, R: realisasi, C: Capaian

Sumber: Laporan Capaian Kinerja Biro Perencaan dan Keuangan Tahun 2020

IKU persentase kualitas pelaksanaan anggaran digunakan dalam rangka meningkatkan kualitas pelaksanaan anggaran di lingkungan Kementerian Keuangan dalam satu tahun anggaran. Sesuai dengan prinsip Penganggaran Berbasis Kinerja (PBK) pencapaian atas pelaksanaan anggaran tidak cukup dilihat dari sisi realisasi penyerapan anggaran saja namun juga perlu mengukur pencapaian outputnya.

Pada tahun 2020 sesuai dengan arahan Menteri Keuangan telah dilakukan penyempurnaan penilaian IKU, perhitungan kinerja pelaksanaan anggaran tahun 2020 mengacu pada SE-08/MK.1/2020 tentang Tata Cara Perhitungan Persentase Kualitas Pelaksanaan Anggaran (PKPA) Kementerian Keuangan. Latar Belakang perubahan dimaksud adalah 1) telah terbitnya Perdirjen Perbendaharaan Nomor PER-4/PB/2020 tentang Petunjuk Teknis Penilaian Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran Belanja Kementerian/Lembaga. 2) terjadinya pandemi global Covid-19 yang berdampak terhadap pelaksanaan kegiatan dan angaran seluruh satuan kerja lingkup Kementerian Keuangan. Dengan perubahan ini diharapkan terjaga keselarasan aturan yang berlaku pada tingkat Kementerian maupun unit-unit di lingkungan Kementerian Keuangan.

Terdapat perbaikan mekanisme perhitungan capaian yang diatur dalam SE-8/MK.1/2020. Formulasi penghitungan IKU PKPA mencakup aspek kualitas serta aspek tata kelola atau administratif pada seluruh unit organisasi di lingkungan Kementerian Keuangan. Asepk kualitas tercermin pada capaian SMART-DJA, sedangkan aspek tata kelola tercermin dari capaian IKPA-DJPB.

Mulai tahun 2019 cascade penilaian IKU PKPA selain sampai tingkat Unit Eselon I juga dinilai sampai level Satuan Kerja . Level Non Satuan Kerja tidak diatur dalam SE-8/2020 sehingga Satker Kantor Pusat dapat menyusun formulasi perhitungan mengacu pada karakteristik tiap Unit Eselon I masing-masing..

Formulasi IKU Persentase Kualitas Pelaksanaan Anggaran (PKPA) BA 015 Triwulan I s.d. III mengacu pada capaian IKPA sampai dengan Triwulan periode pelaporan. Capaian IKU PKPA s.d. Triwulan IV dihitung dengan komposit capaian SMART dan IKPA dengan bobot masing-masing sesuai perhitungan unsur Kualitas Anggaran Pemerintah Pusat (Kementerian/Lembaga) pada IKU Kinerja dan Harmonisasi Anggaran Pusat dan Daerah Kemenkeu-Wide. Pada Tahun 2020 komposit dimaksud diatur dengan 60% capaian SMART dan 40%

capaian IKPA-DJPB.

Unsur perhitungan IKPA-DJPB terdiri atas unsur 1) Revisi DIPA. 2) Deviasi Hal III DIPA. 3) Pagu Minus. 40) Data Kontrak. 5) Pengelolaan UP & TUP. 6)LPJ Bendahara 7) Dispensasi SPM 8) Penyerapan Annggaran 9) Penyelesaian Tagihan 10) Konfirmasi Capaian Output 11) Retur SP2D 12) Perencanaan Kas 13) Kesalahan SPM. Sedangkan unsur perhitungan SMART-DJA adalah 1) Capaian Sasaran Program 2) Capaian Keluaran Program/Keluaran 3) Efisiensi 4) Konsistensi 5) Penyerapan Anggaran.

Selanjutnya,Sekretaris Jenderal melalui ND NOmor 366.1/SJ/2020 tanggal 23 Maret 2020 menyatakan bahwa penerapan SE-8/2020 pada masa pandemik Covid-19 adalah IKU PKPA Triwulan I dan II direlaksasi yakni tidak dihitung capaiannya (N/A). Kebijakan relaksasi dimaksud berlaku kumulatif dengan kebijakan relaksasi IKPA dari DJPB selaku regulator yang tertuang dalam surat Dirjen Perbendaharaan nomor S-258/PB/2020;

Selanjutnya, Direktur Jenderal Perbendaharaan melalui nota dinas kepada para Kepala Kanwil DJPb dan Kepala KPPN nomor ND-562/PB/2020 tanggal 5 Agustus 2020 hal Pengaturan Penilaian IKPA Tahun 2020 mengatur bahwa IKPA dilakukan kembali dengan indikator Revisi DIPA dan Deviasi Halaman III DIPA tidak dilakukan penilaian. Sehingga penilaian PKPA dilakukan kembali mulai Triwulan III.

Formulasi IKU Kualitas PAP yang mencakup aspek kualitas yaitu (1) (2) (3) dan (4) serta aspek tata kelola dan administratif yang meliputi (5)(6) (7) (8)(9) (10) (11) (12) (13) (14).

Capaian IKU persentase kualitas pelaksanaan anggaran pada tahun 2020 adalah sebesar 98,55% atau tercapai diatas target yang ditetapkan sebesar 95%, dengan rincian perhitungan: 1) Pagu Minus. 2) Data Kontrak. 3) Pengelolaan UP & TUP. 4)LPJ Bendahara 5) Dispensasi SPM 6) Penyerapan

Anggaran 7) Penyelesaian Tagihan 8) Konfirmasi Capaian Output 9) Retur SP2D 10) Perencanaan Kas 11) Kesalahan SPM. Indikator Revisi DIPA dan Halaman III DIPA tidak diperhitungkan dalam IKPA TA 2020 oleh DJPB.

Tabel 7. Realisasi Indikator IKU Persentase kualitas pelaksanaan anggaran Kementerian Keuangan

No Indikator Realisasi

IKPA 98,99

1. Pagu Minus 100,00

2. Data Kontrak 98,30

3. Pengelolaan UP dan TUP 98,30

4. LPJ Bendahara 99,79

5. Dispensasi SPM 100,00

6. Penyerapan Anggaran 100,00

7. Penyelesaian Tagihan 99,15

8. Konfirmasi Capaian Output 98,56

9. Retur SP2D 99,78

10. Perencanaan Kas 100,00

11. Kesalahahan SPM 95,00

SMART 98,26

12. Capaian Sasaran Strategis 100,00

13. Rata-Rata Kinerja Unit Eselon I 96,51

Nilai Total 98,55 Sumber: Laporan Capaian Kinerja Biro Perencanaan Keuangan Tahun 2020

Nilai Total 98,55 Sumber: Laporan Capaian Kinerja Biro Perencanaan Keuangan Tahun 2020