Kode Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian
4a-CP
Persentase pejabat yang telah memenuhi standar kompetensi jabatan
90,74% 96,55% 106,40
4b-CP Persentase implementasi
delayering 100% 113,33% 113,33
4c-N
Indeks pemenuhan jabatan yang memiliki standar kompetensi jabatan
70,50 73,50 104,26
Organisasi yang optimal adalah organisasi yang mampu mewadahi dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan dalam rangka mencapai tujuan. Dengan demikian organisasi beserta proses bisnis di dalamnya akan bersifat dinamis dan fleksibel sesuai dengan tuntutan kebutuhan dan dinamika transformasi kelembagaan Kementerian Keuangan. SDM yang optimal adalah SDM yang memiliki kepemimpinan yang tepat, mengetahui apa yang akan dilakukan untuk semua informasi yang diterima dan kompetensi yang dibutuhkan untuk keberhasilan organisasi serta melakukan pekerjaan dengan penuh semangat, efektif, efisien dan produktif, sesuai dengan proses kerja yang benar agar mencapai hasil kerja yang optimal.
4a-CP Persentase pejabat yang telah memenuhi standar kompetensi jabatan
Assessment Center adalah penilaian berbasis Kompetensi yang dilakukan kepada Pegawai dengan menggunakan berbagai teknik evaluasi, Metode, dan alat ukur, oleh beberapa Penilai Assessment Center sehingga diperoleh Profil Kompetensi yaitu daftar Level Kompetensi yang dimiliki oleh pegawai yang telah melakukan Assessment Center.
Assessment Center terdiri dari:
a. Assessment Center regular
dilaksanakan dalam rangka pemetaan Profil Kompetensi Pegawai.
Diperuntukkan bagi pejabat Pimpinan Tinggi Pratama dan/atau setara, pejabat Administrator dan/atau setara, pejabat Pengawas dan/atau setara, pejabat Pelaksana dan/atau setara, dan pejabat Fungsional di lingkungan Kementerian Keuangan.
b. Assessment Center khusus.
dilaksanakan untuk pengisian Jabatan Tertentu dalam hal:
• terdapat unit kerja di lingkungan Kementerian Keuangan yang belum dapat menyelenggarakan Assessment Center; dan/atau
• terdapat arahan dan/atau penunjukan pimpinan paling rendah setingkat Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama.
Standar Kompetensi Jabatan yang selanjutnya disingkat SKJ adalah daftar nama dan Level Kompetensi yang dipersyaratkan dalam suatu jabatan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Dari perbandingan level kompetensi dan SKJ diperoleh nilai Job Person Match.
Adapun pejabat dimaksud dalam penghitungan capaian, yaitu pejabat Pimpinan Tinggi Pratama (Eselon II), pejabat Administrator (Eselon III), dan pejabat Pengawas (Eselon IV) di lingkungan Kementerian Keuangan.
Sampai akhir tahun 2020 telah dilakukan AC terhadap 9.670 pejabat, dan terdapat 9.335 pejabat yang sudah memenuhi SKJ dari total pejabat yang sudah dilakukan AC. Dari jumlah pejabat di lingkungan Kementerian Keuangan yang telah memenuhi SKJ tersebut, diperoleh capaian coverage tahun 2020 sebesar 96,54%. Adapun rincian jumlah dimaksud yaitu, 176 pejabat Eselon II yang sudah memenuhi SKJ dari total 190 pejabat yang sudah dilakukan AC.
Kemudian 1.480 pejabat Eselon III yang sudah memenuhi SKJ dari total 1.627 pejabat yang sudah dilakukan AC. Selanjutnya, 7.679 pejabat Eselon IV yang telah memenuhi SKJ dari total 7.853 pejabat yang sudah dilakukan AC. Berikut merupakan grafik capaian coverage pejabat yang telah memenuhi SKJ pada setiap unit eselon I.
Gambar 17. Grafik capaian coverage pejabat yang telah memenuhi SKJ pada setiap unit eselon I
Selama 7 (tujuh) tahun berturut-turut sejak tahun 2014, Capaian pejabat yang memenuhi jabatannya mengalami peningkatan walaupun mengalami
96.57%99.10%
kenaikan standar JPM pada 2019 dan 2020 sebagaimana ditunjukkan sebagai berikut:
Gambar 18. Capaian Pejabat Eselon II, III, IV Kementerian Keuangan yang Telah Memenuhi SKJ
Standar JPM sejak 2014 hingga 2018 menggunakan JPM 72%, tahun 2019 JPM 74% dan 2020 menggnakan JPM 78%.
Dalam pelaksanaan IKU dimaksud, terdapat tantangan yang dihadapi, yaitu masih terdapat pengisian jabatan (mutasi/promosi) dengan nilai JPM pejabat <72% terhadap standar kompetensi jabatannya dan adanya pandemi Covid-19 sehingga pelaksanaan AC secara klasikal sempat terhenti.
Selanjutnya, untuk mengoptimalkan pelaksanaan AC serta seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan kebutuhan penilaian kompetensi yang semakin meningkat, ditetapkan ketentuan terkait pelaksanaan Assessment Center secara daring yang selanjutnya disebut Online Assessment Center yang diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 391/KMK.01/2020 tentang Pelaksanaan Penilaian Kompetensi Manajerial dan Kompetensi Sosial Kultural melalui Assessment Center dengan Media Daring di Lingkungan Kementerian Keuangan. Dalam penyelenggaraan Online AC dimaksud, Assessment Center Kementerian Keuangan dengan dukungan dari Pusat Sistem Informasi dan Teknologi keuangan (Pusintek) menyediakan sarana untuk melaksanakan AC melalui media daring dengan memanfaatkan sharing folder pada jaringan intranet Kementerian Keuangan. Selain itu, digunakan pula aplikasi video conference pihak ke-3 untuk membantu melakukan pengawasan kepada peserta selama penyelenggaraan Online AC berlangsung
89.33%
90.87%
92.79% 93.58%
95.88% 95.92%
96.54%
2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
4b-CP Persentase implementasi delayering
Q1 Q2 Smt1 Q3 s.d. Q3 Q4 Y
T 40% 60% 60% 80% 80% 100% 100%
R 46,67% 73,33% 73,33% 93,33% 93,33% 113,33% 113,33%
C 116,67 122,22 122,22 116,66 116,66 113,33 113,33 T: target, R: realisasi, C: Capaian
Delayering atau penyederhanaan birokrasi merupakan salah satu bagian dari lima prioritas kerja pemerintahan di tahun 2019-2024 yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 20 Oktober 2019. Dalam arahannya, Presiden menyampaikan penyederhanaan birokrasi (delayering) meliputi: a) simplifikasi proses; b) eselonisasi 2 level; dan c) optimalisasi jabatan fungsional. Arahan Presiden selanjutnya direspon oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi melalui serangkaian program dan kebijakan, antara lain:
1. Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nomor SE-384/2019 tentang Langkah Strategis dan Konkret Penyederhanaan Birokrasi tanggal 13 November 2019 yang secara garis besar menyampaikan bahwa penyederhanaan birokrasi dilakukan secara selektif.
2. Peraturan Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 28 Tahun 2019 tentang Penyetaraan Jabatan Administrasi ke dalam Jabatan Fungsional yang ditetapkan tanggal 6 Desember 2019 yang secara garis besar memuat:
a. Penyetaraan jabatan:
- Eselon III menjadi JF Ahli Madya - Eselon IV menjadi JF Ahli Muda - Eselon V menjadi JF Ahli Pertama;
b. Mekanisme inpassing khusus: tanpa pengusulan formasi baru, tanpa pengusulan peta jabatan baru, tanpa uji kompetensi, tanpa rekomendasi instansi pembina dan berlaku sampai dengan Juni 2020.
3. Surat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nomor B/45/M.TU.02/2020 tanggal 8 Januari 2020 hal Penyampaian Konsep Kebijakan Penyederhanaan Birokrasi yang menyampaikan bahwa kebijakan delayering terdiri dari 3 tahap, yaitu tahap jangka pendek (hingga Juni 2020), jangka menengah (hingga Desember 2020), dan jangka panjang (hingga Desember 2021).
Kementerian Keuangan sangat mendukung program penyederhanaan birokrasi dimaksud, sebagai upaya untuk percepatan pelayanan kepada
stakeholders, mewujudkan organisasi yang agile, dan peningkatan profesionalisme ASN. Hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan penyederhanaan birokrasi pada tahun 2018 yang serupa dengan delayering Eselon III dan Eselon IV saat ini. Bahwa berdasarkan penataan organisasi dalam PMK Nomor PMK 217/PMK.01/2018 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan, sebanyak 112 pejabat administrasi dialihkan menjadi Pejabat Fungsional Analis Kebijakan. Penyederhanaan birokrasi yang dilakukan adalah pemangkasan jumlah Eselon III dari sebelumnya 36 Eselon III menjadi hanya 17 atau berkurang 19 jabatan Eselon III (53%) dan menghilangkan 74 jabatan eselon IV (57%) dari sebelumnya sebanyak 129 jabatan eselon IV menjadi hanya menjadi 55 eselon IV.
Selanjutnya, untuk mempersiapkan langkah-langkah strategis di bidang organisasi, sumber daya manusia, penganggaran, aset, manajemen perubahan dan komunikasi serta layanan informasi sebagai pelaksanaan kebijakan Presiden Republik Indonesia terkait penyederhanaan birokrasi, dibentuk pula Tim Persiapan Penyederhanaan Birokrasi (delayering) di lingkungan Kementerian Keuangan yang ditetapkan dalam KMK nomor 666/KM.1/2019 tentang Pembentukan Tim Persiapan Penyederhanaan Birokrasi (Delayering) di lingkungan Kementerian Keuangan dan KMK nomor 136/KM.1/2020 tentang tentang Pembentukan Tim Persiapan Penyederhanaan Birokrasi (Delayering) di lingkungan Kementerian Keuangan Tahun 2020 yang melibatkan seluruh perwakilan unit-unit terkait di lingkungan Kementerian Keuangan.
Lebih lanjut, sebagai salah satu bentuk kehati-hatian, pendalaman dan memberikan second opinion dalam rangka mendorong keberhasilan pelaksanaan delayering di lingkungan Kementerian Keuangan bekerja sama dengan Prospera telah menunjuk konsultan dari PT Accenture untuk memberikan jasa konsultansi terkait delayering. Hasil konsultansi tersebut dipergunakan sebagai salah satu bahan pendalaman untuk penentuan delayering di Kementerian Keuangan.
Program delayering berikutnya tahun 2020, yaitu penghapusan Eselon V pada DJBC sejumlah 2.957 yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 183/PMK.01/2020 tentang Perubahan Atas PMK Nomor 188/PMK.01/2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Dengan mempertimbangkan jumlah jabatan yang terisi dan ketentuan sesuai Permenpan Nomor 28 Tahun 2019, dilakukan alih jabatan pejabat Eselon V menjadi Jabatan Fungsional Pemeriksa Bea dan Cukai sebanyak 1.769 pegawai.
a. Pengalihan Eselon V pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai ke Jabatan Fungsional
Pengalihan Eselon V pada DJBC ke Jabatan Fungsional Pemeriksa Bea dan Cukai dilakukan dengan tahapan proses:
1. Pemetaan Jabatan Struktural ke Jabatan Fungsional
Proses pemetaan dilakukan melalui pembahasan bersama pada program rapat koordinasi delayering dengan seluruh unit Eselon I pada tanggal 14 s.d. 16 Januari 2020.
2. Usulan alih jabatan ke Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
Usulan alih jabatan di lingkungan Kementerian Keuangan disampaikan kepada Kementerian PAN dan RB melalui surat Menteri Keuangan nomor S-69/MK.1/2020 tanggal 17 Maret 2020. Dalam surat tersebut disampaikan hasil pemetaan terhadap penyetaraan jabatan untuk Eselon V sejumlah 1.865 jabatan.
3. Persetujuan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
Terhadap usulan tersebut, Kementerian PANRB menyampaikan persetujuan melalui surat Nomor B/204/M.SM.02.00/2020 Tanggal 14 April hal Persetujuan Penyetaraan Jabatan Administrasi ke Dalam Jabatan Fungsional di Lingkungan Kementerian Keuangan.
4. Pengangkatan melalui Inpassing Khusus
Proses pengangkatan jabatan Eselon V ke Jabatan Fungsional dilakukan secara komprehensif dan melalui koordinasi bersama dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta Kementerian PANRB dan BKN dalam FGD pada tanggal 9 Juli 2020. Proses inpassing telah dilakukan melalui penetapan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 434/KM.1/UP.11/2020 tanggal 2 September 2020 sebanyak 1.769 orang.
5. Penataan Organisasi
Proses pengalihan Eselon V pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menjadi Jabatan Fungsional Pemeriksa Bea Cukai diikuti dengan pelaksanaan penataan organisasi sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 183/PMK.01/2020 tentang Perubahan Atas PMK Nomor 188/PMK.01/2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Berdasarkan PMK tersebut, terdapat penghapusan struktur Eselon V pada KPPBC sebanyak 2.957.
b. Pembentukan/penyempurnaan jabatan fungsional
Sebagai bagian dari proses delayering Kementerian Keuangan, telah dilakukan pembentukan/penyempurnaan jabatan fungsional sebagai jabatan fungsional sasaran pengalihan jabatan administrasi. Unit eselon I pengusul beserta jabatan fungsional yang diusulkan pembentukan/penyempurnaan adalah sebagai berikut.
1. Setjen - JF Pembina Profesi Keuangan (pembentukan) 2. DJA - JF Analis Anggaran (penyempurnaan)
3. DJP - JF Pemeriksa Pajak (penyempurnaan)
4. DJBC - JF Pemeriksa Bea dan Cukai (penyempurnaan) 5. DJPB - JF Analis Perbendaharaan Negara (penyempurnaan) 6. DJKN - JF Penilai Pemerintah (penyempurnaan)
7. DJPK - JF Analis Keuangan Pusat dan Daerah (penyempurnaan) 8. DJPPR - JF Analis Pembiayaan dan Risiko Keuangan (penyempurnaan)
Pembentukan/penyempurnaan jabatan fungsional tersebut dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 13 Tahun 2019 tentang Pengusulan, Penetapan, dan Pembinaan Jabatan Fungsional PNS. Tahapan-tahapan dimaksud antara lain adalah sebagai berikut.
1. Penyampaian naskah akademik pembentukan/penyempurnaan jabatan fungsional kepada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.
2. Finalisasi matriks butir kegiatan jabatan fungsional.
3. Uji petik beban kerja dan norma waktu jabatan fungsional.
4. Finalisasi materi substantif Rancangan PermenPANRB.
Seluruh tahapan telah dilaksanakan dan usulan Rancangan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi telah disampaikan kepada KemenPANRB untuk mendapat penetapan. Adapun nomor dan tanggal surat penyampaian Rancangan PermenPAN-RB masing-masing jabatan fungsional seperti terlihat pada tabel berikut.
Tabel 12. Penyampaian Rancangan PermenPAN-RB per Jabatan Fungsional No. Jabatan Fungsional Nomor Surat Tanggal 1. Pembina Profesi
Keuangan
S-866/MK.1/2020 25 September 2020
2. Analis Anggaran S-626/MK.1/2020 23 Desember 2020 3. Pemeriksa Pajak S-612/MK.1/2020 14 Desember 2020 4. Pemeriksa Bea dan Cukai S-631/MK.1/2020 28 Desember 2020 5. Analis Perbendaharaan
Negara
S-623/MK.1/2020 22 Desember 2020
6. Penilai Pemerintah S-589/MK.1/2020 13 November 2020
No. Jabatan Fungsional Nomor Surat Tanggal 7. Analis Keuangan Pusat
dan Daerah
S-623/MK.1/2020 22 Desember 2020
8. Analis Pembiayaan dan Risiko Keuangan
S-621/MK.1/2020 21 Desember 2020
Kementerian Keuangan berkomitmen untuk melakukan delayering secara optimal yang dilakukan secara bertahap baik dengan alih jabatan dalam jabatan fungsional core business Kementerian Keuangan ataupun penggunaan jabatan fungsional K/L lain melalui 3 (tiga) tahap, yaitu:
a. Tahap I, hingga Desember 2020, untuk jabatan fungsional yang telah siap (kompatibel).
b. Tahap II, hingga Desember 2021, untuk jabatan fungsional existing yang memerlukan penyempurnaan.
c. Tahap III, hingga Desember 2022, untuk yang memerlukan pembentukan jabatan fungsional baru.
4c-N Indeks pemenuhan jabatan yang memiliki standar kompetensi jabatan
Dalam rangka menerapkan sistem merit dalam kebijakan dan manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, perlu disusun standar kompetensi jabatan Aparatur Sipil Negara yang meliputi standar kompetensi teknis, standar kompetensi manajerial, dan standar kompetensi sosial kultural. Standar kompetensi jabatan tersebut disusun berdasarkan ketentuan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 38 Tahun 2017 tentang Standar Kompetensi Jabatan Aparatur Sipil Negara.
Standar Kompetensi Teknis Jabatan (SKTJ) merupakan salah satu dari tiga unsur/komponen dalam Standar Kompetensi Jabatan ASN yang menjadi acuan dalam perencanaan, pengadaan, pengembangan karir, pengembangan kompetensi, penempatan, promosi dan/atau mutasi, uji kompetensi, talent pool, dan sistem informasi ASN. SKTJ adalah daftar nama dan level kompetensi teknis yang dipersyaratkan dalam suatu jabatan. Penyusunan SKTJ mengacu pada kamus kompetensi teknis urusan keuangan negara dan urusan pemerintahan lainnya yang terkait. Adapun kamus kompetensi teknis urusan keuangan negara telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor
953/KMK.01/2019 tentang Kamus Kompetensi Teknis Urusan Keuangan Negara yang mengatur mengenai kompetensi teknis di bidang penganggaran, kepabeanan dan cukai, perbendaharaan, pengelolaan kekayaan negara, perimbangan keuangan, pengelolaan pembiayaan dan risiko keuangan negara dan kebijakan fiskal.
Pada tahun 2020, penyusunan SKTJ difokuskan pada Unit Eselon I yang mengampu fungsi pada urusan Keuangan Negara yang mencakup 5 (lima) sub urusan yaitu sub urusan penganggaran, sub urusan bea dan cukai, sub urusan perbendaharaan negara, sub urusan pengelolaan kekayaan negara dan sub urusan perimbangan keuangan. Adapun 5 (lima) Unit Eselon I dimaksud meliputi Direktorat Jenderal Anggaran, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara dan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan.
Target penyelesaian SKTJ tahun 2020 sebanyak 987 jabatan dari 1.400 jabatan. Dengan demikian, target IKU Indeks Pemenuhan Jabatan yang Memiliki Standar Kompetensi Teknis Jabatan sebesar 70,5. Penentuan target jabatan dilakukan dengan pertimbangan bahwa jabatan berkenaan melaksanakan tugas dan fungsi pengelolaan keuangan negara dimana unit kompetensinya telah tersedia dalam Kamus Kompetensi Teknis Urusan Keuangan Negara (KMK 953/2019) yang digunakan sebagai acuan dalam penyusunan SKTJ.
Menindaklanjuti target penyusunan SKTJ dimaksud, selama tahun 2020 telah dilakukan serangkaian pembahasan dengan melibatkan Subject Matters Expert (SME) untuk membahas SKTJ berkenaan. Adapun hal-hal yang telah dilaksanakan dalam rangka pencapaian IKU antara lain sebagai berikut:
1. Pembahasan konsep SKTJ di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran pada tanggal 1, 3, 9, dan 15 Juli, 3 September, 11 November, dan 8 Desember 2020.
2. Pembahasan konsep SKTJ di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai pada tanggal 14 Juli, 7, 14 dan 28 Agustus 2020, 25 dan 30 September, 9 dan 16 Oktober, 5 dan 13 November 2020.
3. Pembahasan konsep SKTJ di lingkungan Direktorat Jenderal Perbendaharaan pada tanggal 1 Juli, 8 Juli, 13 Juli, 22 Juli, 30 Juli, 7 Agustus, dan 13 Agustus 2020.
4. Pembahasan konsep SKTJ di lingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara pada tanggal 10 Juli, 26 Oktober, 24 November, dan 4 Desember 2020.
5. Pembahasan konsep SKTJ di lingkungan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan pada tanggal 23 Juli, 6 Agustus, 1 Oktober 2020.
6. Penyampaian hasil pembahasan SKTJ kepada 5 (lima) Unit Eselon I melalui nota dinas nomor ND-1809/SJ.2/2020 tanggal 18 Desember 2020.
7. Penyampaian laporan penyelesaian SKTJ kepada Sekretaris Jenderal melalui nota dinas nomor ND-1835/SJ.2/2020 tanggal 23 Desember 2020.
Tabel 13. Rincian Capaian IKU Indeks Pemenuhan Jabatan yang Memiliki Standar Kompetensi Teknis Jabatan
Sub Urusan UE I Jumlah Jabatan*)
Target*) Realisasi*) Jabatan Indeks Jabatan Indeks
Penganggaran DJA 237 202 85.23 205 86.50
Kepabeanan dan Cukai
DJBC 529 344 65.03 355 67.11
Perbendaharaan Negara
DJPB 297 202 68.01 221 74.41
Pengelolaan Kekayaan Negara
DJKN 205 150 73.17 153 76.34
Pengelolaan Perimbangan Keuangan
DJPPR 132 89 67.42 95 71.97
Jumlah 1.400 987 70.50 1.029 73.50
*) meliputi jabatan structural dan jabatan fungsional.
Adapun kendala yang ditemui dalam penyusunan SKTJ yaitu keterbatasan kamus kompetensi teknis terkait urusan di luar urusan keuangan negara yang digunakan sebagai referensi dalam penyusunan SKTJ di Kementerian Keuangan. Selanjutnya, untuk penyelesaian SKTJ Kementerian Keuangan tahun 2021, telah dirumuskan beberapa rencana tindak lanjut yaitu:
1. Penyempurnaan kamus kompetensi teknis urusan keuangan negara; dan 2. Penyusunan SKTJ pada sub urusan perpajakan, sub urusan pengelolaan
pembiayaan dan risiko keuangan negara, sub urusan pendukung internal, sub urusan pengawasan internal dan sub urusan kebijakan fiskal.
SS 5