• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 4 Temuan

4.1 Efektivitas

Isu utama yang disebutkan dalam Kerangka Acuan Kerja (ToR) untuk diidentifikasi dalam penelitian ini adalah menentukan efektivitas PPCKS untuk membuat rekomendasi pilihan-pilihan kebijakan untuk meningkatkan penyelenggaraan PPCKS dan selanjutnya untuk meningkatkan penyiapan calon kepala sekolah. Sebagaimana dipaparkan sebelumnya, Permendiknas No. 28 Tahun 2010 menyatakan bahwa keenam tahap berikut merupakan tahapan-tahapan dalam PPCKS:

i. Pencalonan peserta PPCKS;

ii. Seleksi Administrasi untuk mengikuti PPCKS; iii. Seleksi Akademik untuk mengikuti PPCKS;

iv. Pelatihan PPCKS;

v. Penilaian Akseptabilitas untuk pengangkatan di sekolah tertentu; dan vi. Pengangkatan sebagai kepala sekolah.

Tahapan-tahapan PPCKS juga dilustrasikan dalam Gambar 1, di Bab 1. Bagian-bagian berikut menyajikan temuan-temuan mengenai efektivitas masing-masing tahap.

4.1.1 Pencalonan peserta PPCKS

Pemberitahuan di kabupaten bahwa berkas pendaftaran untuk mengikuti program pelatihan PPCKS dapat diserahkan disampaikan melalui sebuah proses ‘sosialisasi’. Tujuan dari proses sosialisasi ini adalah untuk memberi informasi kepada calon peserta tentang persyaratan-persyaratan masuk dan jadwal untuk menyerahkan berkas pendaftaran untuk masuk PPCKS. Proses sosialisasi PPCKS ini dilaksanakan di kabupaten-kabupaten. Informasi tentang penyerahan berkas pendaftaran untuk masuk PPCKS disampaikan oleh kabupaten ke sekolah-sekolah. Metode komunikasi utama yang digunakan adalah melalui surat edaran resmi kepada kepala sekolah. Metode komunikasi ini dilaporkan oleh hampir 90% responden survei. Peran pengawas sekolah penting selama proses sosialisasi untuk memastikan bahwa kepala sekolah mengidentifikasi pendaftar yang potensial dan mendukung calon-calon yang dipilih di tingkat kabupaten.

Responden survei juga ditanya mengenai ada atau tidaknya pendekatan-pendekatan sosialisasi untuk perekrutan peserta PPCKS. Sebagian besar responden survei mengindikasikan bahwa dinas pendidikan kabupaten melaksanakan kegiatan sosialisasi. Namun sekitar 10% dari responden menjawab ‘tidak’, yang berarti bahwa kabupaten mereka tidak melaksanakan kegiatan sosialisasi, atau mereka menjawab ‘tidak tahu’. Lebih lanjut, lebih dari 10% pengawas sekolah yang disurvei mengindikasikan bahwa mereka tidak tahu kalau kabupaten melaksanakan kegiatan sosialisasi untuk pencalonan peserta PPCKS, dan sekitar 5% dari pengawas sekolah yang disurvei mengindikasikan bahwa mereka menganggap proses sosialisasi ‘kurang efektif’ atau ‘tidak efektif’. Sekitar 10% peserta PPCKS pada saat dilaksanaknnya penelitian ini juga menganggap bahwa proses sosialisasi hanya ‘cukup efektif’.

Sebagaimana 10% pengawas sekolah mengindikasikan bahwa mereka ‘tidak tahu’ apakah proses sosialisasi dilaksanakan di kabupaten mereka atau tidak. Karenanya metode komunikasi utama yaitu surat edaran resmi dari dinas pendidikan kabupaten ke sekolah-sekolah perlu didukung dengan strategi-strategi untuk meningkatkan proses diseminasi di tingkat kabupaten. Penggunaan media elektronik yang sangat sedikit dilaporkan di dalam tahap sosialisasi pencalonan dan dalam tahap proses seleksi. Sementara 89% dari 1.333 responden survei mengindikasikan bahwa metode komunikasi utama yang digunakan untuk menyampaikan informasi tentang proses pendaftaran masuk PPCKS adalah surat edaran resmi, hanya 8,3% dari semua responden mengindikasikan bahwa media elektronik (yaitu

website, email atau pesan SMS) telah digunakan. Telaah rutin terhadap website LPPKS

selama penelitian evaluasi ini dilaksanakan menunjukkan bahwa website LPPKS hanya aktif digunakan untuk sosialisasi, dengan informasi tentang penerimaan peserta pelatihan yang cenderung out-of-date.

Namun sorotan utama tentang proses sosialisasi yang disampaikan dalam wawancara dan FGD adalah bahwa waktu antara mulai dilaksanakannya proses sosialisasi dengan batas

akhir untuk menyerahkan berkas pendaftaran terlalu pendek. Khususnya, responden melaporkan bahwa sulit bagi pendaftar untuk mendapatkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan seperti SKCK dari kepolisian dalam waktu yang tersedia. Selain itu juga ada sorotan yang disampaikan oleh kepala sekolah dalam wawancara dan FGD mengenai kurangnya informasi yang sekolah terima dalam waktu yang tepat mengenai persyaratan yang diperlukan untuk memilih peserta dari sekolah untuk mengikuti PPCKS (misalnya: kriteria seleksi, dan peran kepala sekolah).

Selain itu, beberapa responden wawancara mengindikasikan bahwa guru-guru yang kepala sekolah pilih untuk menyiapkan lamaran mengikuti PPCKS dipandang telah mendapat perlakuan khusus sebagaimana digambarkan oleh pernyataan responden dari Kalimantan Timur berikut:

Penyampaian dari kepala sekolah sebagai sosialisasinya belum jelas, sehingga belum meluas pada rekan-rekan yang lain….informasi hanya terfokus pada yang di calonkan atau di tunjuk saja.

4.1.1.1 Rangkuman pesan utama: Efektivitas pencalonan peserta PPCKS

Pesan-pesan utama berikut mengemuka dalam kaitannya dengan efektivitas proses sosialisasi untuk pencalonan peserta PPCKS:

Kebijakan dan peraturan-peraturan yang terkait dengan proses sosialisasi untuk pencalonan peserta PPCKS dianggap efektif;

Persyaratan sosialisasi yang dinyatakan dalam peraturan-peraturan tidak diterapkan secara seragam di semua kabupaten dan juga oleh semua pengawas sekolah;

Kepala sekolah di beberapa lokasi merasa tidak yakin mengenai peran mereka dalam memilih peserta PPCKS yang potensial;

Pelaksanaan proses sosialisasi perlu ditingkatkan untuk memastikan proses seleksi berbasis keunggulan dapat ditempuh pendaftar untuk dapat mengikuti PPCKS;

Peserta dari beberapa kohor mengindikasikan bahwa diperlukan waktu yang lebih panjang untuk menyiapkan berkas pendaftaran untuk mengikuti PPCKS; dan

Proses formal untuk memberitahu peserta yang berpotensi bahwa proses pendaftaran untuk mengikuti PPCKS telah dibuka akan lebih efektif jika berbagai metode komunikasi digunakan, termasuk digunakannya media online dan media sosial.

4.1.2 Seleksi administrasi dan seleksi akademik untuk mengikuti

PPCKS

Prosedur seleksi administrasi dan seleksi akademik digunakan untuk memilih guru-guru yang paling tepat untuk mengikuti pelatihan PPCKS. Persyaratan seleksi administrasi dinyatakan dalam Permendiknas No. 28 Tahun 2010. Setelah berkas pendaftaran diterima, terdapat dua tahap seleksi masuk PPCKS: seleksi administrasi dan Seleksi akademik. Secara umum, data survei mengindikasikan bahwa kebijakan ini efektif. Namun data kualitatif menunjukkan adanya sorotan mengenai efektivitas proses yang digunakan untuk menerapkan proses seleksi administrasi dan seleksi akademik.

4.1.2.1 Menerapkan proses seleksi administrasi dan seleksi akademik

Setelah berkas pendaftaran diterima oleh dinas pendidikan kabupaten, proses seleksi administrasi dilaksanakan lalu diikuti oleh proses seleksi akademik. Meskipun proses seleksi akademik dapat dilaksanakan di kabupaten (lihat Lampiran 13), dalam prakteknya pengelolaan proses seleksi akademik cenderung dilaksanakan oleh LPPKS. Namun tanggung jawab untuk mengelola proses seleksi akademik bervariasi di berbagai daerah. Namun perlu dicatat bahwa praktek manajemen yang paling umum untuk proses seleksi akademik adalah bahwa proses ini dikelola oleh LPPKS. Hal ini berbeda dengan proses yang disebutkan dalam website LPPKS (lihat Lampiran 13). Proses yang dipaparkan di

website LPPKS mengindikasikan bahwa seleksi akademik dilaksanakan di kabupaten oleh

lembaga yang ditunjuk oleh dinas pendidikan kabupaten. Dalam praktiknya, sebagian besar proses seleksi akademik dilaksanakan oleh LPPKS, sedangkan beberapa dilaksanakan di tingkat provinsi, dan beberapa di kabupaten. Secara resmi asesor yang dilatih dan mendapat sertifikat dari LPPKS terlibat dalam proses seleksi akademik.

Catatan yang panjang disusun oleh panitia seleksi di kabupaten dan di LPPKS untuk mendokumentasikan pendaftar yang lolos dan yang tidak lolos. Pendaftar diharapkan memenuhi 100% dari semua persyaratan seleksi administrasi dan seleksi akademik untuk dapat mengikuti PPCKS, meskipun ada bukti bahwa persyaratan ini bervariasi jika kuota yang tersedia untuk pelatihan belum terpenuhi. Komentar dari peserta FGD di Aceh berikut menggambarkan isu mengenai proses seleksi yang diterapkan:

Proses seleksi administrasi dilaksanakan dengan tergesa-gesa di tingkat kabupaten. Dari 80 pendaftar hanya 50 orang yang lolos. Seleksi akademik dilaksanakan di tingkat provinsi dan hanya 28 peserta yang lulus sedangkan kuotanya adalah 30. Alasan utama mengapa peserta tidak lolos adalah karena mereka tidak memiliki sertifikat pendidik dan belum berpangkat IIIC.

Informasi mengenai siapa yang lolos dan tidak lolos proses seleksi masuk PPCKS disampaikan oleh kabupaten kepada pendaftar melalui kepala sekolah. Namun, informasi resmi yang rinci mengenai ketidakberhasilan dalam proses seleksi administrasi dan/atau seleksi akademik tidak disampaikan kepada pendaftar. Selain itu, data dari wawancara dan FGD menunjukkan bahwa sering kali pemberitahuan mengenai lolos atau tidaknya peserta untuk mengikuti PPCKS memakan waktu yang cukup lama, sebagaimana digambarkan dalam kutipan dari FGD di Papua berikut:

Proses seleksi berjalan dengan baik, namun pengumuman apakah pendaftar lolos atau tidak cukup lama diumumkan. Tidak ada koordinasi yang baik atau komunikasi antara LPPKS dan provinsi. Dinas pendidikan kabupaten memberitahu pendaftar mengenai hasil seleksi PPCKS mereka, namun sejauh ini beberapa peserta PPCKS telah diangkat sebagai kepala sekolah; beberapa pendaftar diseleksi meskipun mereka tidak direkomendasikan untuk lolos, dan peserta yang tidak lolos tidak diberi kesempatan untuk mengetahui alasan mengapa mereka tidak lolos.

Beberapa perhatian juga disampaikan dalam kaitannya dengan kriteria seleksi. Seorang pengawas sekolah memberi rekomendasikan berikut:

Beberapa kriteria seleksi perlu ditambahkan seperti pernah menjadi wakil kepala sekolah dan memiliki pengalaman kerja yang relevan.

Seorang pengawas sekolah lain memberi rekomendasi berikut:

Perlu diberikan skor pada dokumen untuk menghargai keahlian guru-guru yang berprestasi dan skor tersebut harus diperhitungkan dalam seleksi akademik.

Tidak semua peserta dalam kohor yang diwawancarai menerima efektivitas proses seleksi. Beberapa dari alasan yang diberikan oleh responden berdasarkan pengalaman mereka adalah sebagai berikut:

Beberapa peserta yang sudah menjabat kepala sekolah ikut diseleksi untuk mengikuti PPCKS;

Beberapa calon peserta yang dekat dengan panitia seleksi namun tidak memenuhi kriteria dapat lolos seleksi dan mengikuti PPCKS;

Berkas pendaftaran yang harus diserahkan kepada dinas pendidikan kabupaten dalam bentuk hardcopy menyulitkan guru-guru yang berada di daerah terpencil; dan

Beberapa pendaftar (guru-guru) tidak tahu apakah mereka direkomendasikan atau tidak oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah mereka karena surat rekomendasi harus diserahkan kepada dinas pendidikan kabupaten dalam amplop tertutup.

Alasan-alasan tersebut mencerminkan tidak adanya transparansi dalam proses yang diterapkan dan kurang diterapkannya prosedur seleksi berbasis keunggulan.

4.1.2.2 Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK)

Pendaftar yang lolos seleksi administrasi akan melanjutkan ke tahap seleksi akademik. Penilaian Potensi Kepemimpinan (PPK) digunakan dalam proses seleksi akademik untuk menentukan kelayakan pendaftar untuk diterima mengikuti pelatihan PPCKS. PPK terdiri atas penilaian dengan menggunakan tiga instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi tentang potensi kepemimpinan pendaftar PPCKS. Instrumen tersebut digunakan untuk mendapatkan respon tertulis yang diberikan oleh calon peserta terhadap pertanyaan-pertanyaan mengenai topik-topik berikut: (1) merespon masalah-masalah situsional, (2) kreativitas dan pemecahan masalah, dan (3) pembuatan keputusan berbasis data. Setiap instrumen mencakupi sebuah rubrik untuk menilai kualitas respon calon peserta PPCKS. PPK umumnya dilaksanakan oleh LPPKS dengan dibantu oleh asesor yang disertifikasi oleh LPPKS.

Berdasarkan data yang diberikan oleh LPPKS tentang pendaftar PPCKS pada tahun 2014 yang berada pada tahap seleksi akademik, hanya 53% dari pendaftar yang lolos seleksi ini. Topik yang membuat sebagian besar pendaftar tidak lolos yaitu ‘pembuatan keputusan berbasis data’. LPPKS memberi informasi kepada Tim Evaluasi Nasional bahwa sejak tahun 2014 penulisan makalah tidak dilaksanakan secara tersendiri, tetapi dimasukkan dalam topik ‘pembuatan keputusan berbasis data’. Salah satu alasan perubahan ini adalah kurangnya pengalaman hampir semua pendaftar PPCKS dalam menulis makalah tentang kepemimpinan sekolah. Komentar dari seorang pendaftar dari Magelang, Jawa Tengah, berikut menggambarkan poin ini.

Penilaian Potensi Kepemimpinan difokuskan pada pembuatan paper tentang kepemimpinan, tetapi beberapa pendaftar sama sekali tidak memiliki pengalaman untuk membuat karya tulis ilmiah.

Banyak responden dari masing-masing kohor yang diwawancarai tidak menyadari adanya PPK dan oleh karenanya tidak dapat berkomentar mengenai aspek-aspek proses seleksi ini. Responden dalam FGD yang sudah terbiasa dengan PPK mengindikasikan bahwa bagian dari proses seleksi ini sangat menegangkan karena mereka harus menyelesaikan berbagai pemecahan masalah kepemimpinan dalam dua jam dan kemudian mengikuti wawancara. Intensitas PPK dianggap tidak efektif oleh beberapa peserta dalam hal merekrut guru-guru yang paling tepat untuk menjadi kepala sekolah. Selain itu, Tim Evaluasi juga menemukan contoh adanya pendaftar yang mencontek dalam PPK. Sebuah contoh kasus mencontek adalah seorang peserta PPK yang membawa sebuah makalah yang disiapkan di rumah dan menuliskannya pada lembar jawaban PPK.

4.1.2.3 Pendaftar PPCKS yang tidak lolos

Seperti dipaparkan sebelumnya, untuk dapat diterima dalam pelatihan PPCKS, calon peserta harus memenuhi semua (100%) kriteria yang dipersyaratkan dalam seleksi administrasi dan seleksi akademik. Beberapa responden FGD mengindikasikan bahwa mereka berpikir bahwa persyaratan ini terlalu berat sebagaimana digambarkan oleh komentar dari responden di Jawa Tengah berikut:

Proses seleksi administrasi bagus, tapi persyaratan untuk dapat lolos harus diturunkan, terutama karena masih ada lagi proses seleksi setelah seleksi administrasi.

Pendaftar-pendaftar yang tidak lolos seleksi diberitahu mengenai hasil seleksi oleh kepala sekolah mereka berdasar informasi yang dikirim dari LPPKS kepada dinas pendidikan kabupaten. Namun pendaftar yang tidak diterima tidak mendapat umpan balik atas pendaftaran mereka mengenai apa saja yang benar; apa saja yang salah; atau bagaimana cara untuk meningkatkannya. Berdasarkan mayoritas respon survei, guru-guru yang tidak diterima mengikuti pelatihan PPCKS direkomendasi oleh dinas pendidikan (80,65%), pengawas sekolah (65,08%), dan kepala sekolah (53,7%) untuk mendaftar lagi pada penerimaan peserta pelatihan PPCKS berikutnya. Namun rekomendasi ini problematis karena hanya tiga kabupaten di Indonesia yang beberapa kali mengirim peserta untuk mengikuti PPCKS. Lebih lanjut, responden FGD lain dari SD mengindikasikan bahwa meskipun mereka telah dipilih oleh kepala sekolah untuk mendaftar, mereka secara sengaja tidak lolos dalam proses seleksi karena mereka tidak ingin menjadi kepala sekolah SD. 4.1.2.4 Ketaatan terhadap peraturan: seleksi administrasi dan seleksi akademik

Responden survei ditanya apakah mereka menganggap proses seleksi masuk PPCKS dilaksanakan sesuai dengan Peraturan-peraturan Menteri. Tujuan dari pertanyaan ini adalah untuk menentukan apakah peraturan-peraturan yang terkait dengan seleksi peserta PPCKS efektif dalam memilih calon yang paling tepat untuk mengikuti PPCKS.

Sebagian besar responden mengindikasikan bahwa mereka menganggap peraturan-peraturan tentang seleksi PPCKS adalah efektif. Namun kurang dari 60% asesor menganggap bahwa proses seleksi administrasi dilaksanakan berdasar peraturan-peraturan dalam menyeleksi peserta PPCKS, dan 60% lebih sedikit asesor menganggap komponen

PPK dalam seleksi akademik dilaksanakan secara efektif. Sekitar 40% asesor menjawab ‘tidak’ atau ‘tidak tahu’ terhadap pertanyaan apakah seleksi administrasi dan seleksi akademik dilaksanakan secara efektif berdasarkan peraturan-peraturan. Hasil survei dari asesor adalah bahwa mereka cenderung menganggap proses seleksi telah dilaksanakan berdasar peraturan-peraturan karena mereka dilantik dan diberi sertifikat oleh LPPKS untuk melaksanakan proses seleksi berdasar peraturan-peraturan. Selain itu juga karena mereka dikontrak oleh LPPKS untuk terlibat dalam proses seleksi akademik.

Alasan-alasan yang diberikan dalam wawancara dan FGD untuk menjelaskan kurangnya ketaatan terhadap peraturan-peraturan untuk seleksi administrasi dan seleksi akademik telah menjelaskan mengapa seleksi administrasi dan seleksi akademik tidak dianggap efektif:

Seleksi administrasi dipandang hanya sebagai formalitas, bahwa dinas pendidikan kabupaten menentukan kuota guru yang bisa ikut dalam seleksi PPCKS pada tiap-tiap sekolah, dan pendaftar dipilih berdasarkan kuota yang telah ditetapkan untuk masing-masing sekolah;

Seleksi administrasi dipandang telah dipengaruhi oleh intervensi politik dengan adanya pendekatan-pendekatan yang telah dilakukan oleh dinas pendidikan kabupaten; dan

Beberapa peserta yang menganggap mempunyai kemampuan yang sama dengan peserta lain yang diterima PPCKS gagal dalam seleksi akademik. Hal ini dianggap responden sebagai kurangnya transparansi di LPPKS.

Salah satu tantangan LPPKS dan dinas pendidikan kabupaten adalah tidak hanya untuk melaksanakan proses sosialisasi dan proses seleksi menurut peraturan-peraturan saja, tetapi juga harus mampu menunjukkan kepada guru-guru, kepala sekolah dan masyarakat sekolah bahwa LPPKS melaksanakan proses-proses tersebut berdasar peraturan-peraturan yang ada. Tanpa legitimasi pelaksanaan proses seleksi di lapangan, peraturan-peraturan tidak akan berfungsi seperti yang diinginkan.

Isu-isu yang muncul terkait dengan ketaatan kabupaten dalam menerapkan Permendiknas No. 28 Tahun 2010 adalah seberapa baik para pengawas sekolah disiapkan untuk menerapkan peraturan-peraturan dan untuk mendukung kepala sekolah dan guru-guru selama perekrutan peserta PPCKS, dalam keikutsertaan dalam PPCKS, sampai pada pengangkatan kepala sekolah. Teridentifikasinya isu-isu tentang peran pengawas sekolah telah membuat responden menyarankan bahwa pengawas sekolah harus mendapat pelatihan seperti PPCKS sehingga mereka memiliki informasi dan latar belakang yang sesuai untuk mendukung guru-guru dan kepala sekolah di kabupaten mereka.

4.1.2.5 Rangkuman pesan utama: Efektivitas proses seleksi administrasi dan seleksi akademik

Pesan-pesan utama berikut mengemuka dalam kaitannya dengan efektivitas proses seleksi administrasi dan seleksi akademik:

Secara umum, data survei mengindikasikan bahwa peraturan-peraturan terkait dengan seleksi administrasi dan seleksi akademik adalah efektif;

Panduan pelaksanaan proses seleksi yang ada di website LPPKS mengindikasikan bahwa seleksi administrasi dan seleksi akademik telah dilaksanakan di kabupaten,

Sudah merupakan hal yang biasa bahwa seleksi akademik dilaksanakan oleh LPPKS;

Peserta di semua kohor yang diwawancarai mengindikasikan bahwa seleksi administrasi dan seleksi akademik rentan terhadap pengaruh politik dan/atau birokrasi;

Berkas pendaftaran PPCKS yang disiapkan oleh guru dan rekomendasi dari kepala sekolah untuk mendukung pendaftaran ini harus dikirim ke dinas pendidikan kabupaten dalam bentuk cetak, yang merupakan cara yang dapat diterapkan di daerah dan lokasi terpencil;

Pengadministrasian proses seleksi dianggap tidak transparan dan oleh karenanya dianggap tidak berbasis keunggulan;

Kriteria seleksi dianggap tidak seefektif jika kriteria tersebut memasukkan pengalaman sebagai wakil kepala sekolah atau sebagai guru yang berprestasi sebagai unsur yang perlu dinilai;

Penggunaan makalah sebagai salah satu instrumen dalam seleksi akademik dipertanyakan oleh beberapa responden, sebagaimana mereka mempertanyakan tingkat kemampuan beberapa guru untuk menulis makalah untuk membahas masalah-masalah kepemimpinan pendidikan yang begitu kompleks;

Sorotan-sorotan muncul terkait dengan problematika saluran komunikasi berjenjang dari LPPKS melalui dinas pendidikan kabupaten lalu melalui pengawas sekolah dan kepala sekolah untuk memberitahu pendaftar tentang keberhasilan atau ketidakberhasilan mereka mendaftar PPCKS;

Di beberapa kabupaten terjadi ketidakcocokan antara jumlah peserta untuk dilatih dan jumlah kepala sekolah yang dibutuhkan di kabupaten;

Pengawas sekolah membutuhkan pelatihan seperti pelatihan PPCKS sehingga mereka dapat menerapkan Permendiknas No. 28 Tahun 2010 dengan benar; dan

Di mata guru-guru dan kepala sekolah yang diwawancarai proses seleksi administrasi dan seleksi akademik tidak mempunyai legitimasi; sebagaimana mereka menganggap proses-proses yang digunakan untuk mencalonkan dan menyeleksi peserta PPCKS tidak memilih calon yang paling kompeten atau yang paling tepat.

4.1.3 Pelatihan PPCKS

Pelatihan PPCKS dilaksanakan dengan model 3 fase:

In-service Learning 1 (IN-1)

On-the-Job Learning (OJL); dan

In-service Learning 2 (IN-2)

In-service Learning 1 (IN-1) terdiri atas 70 jam belajar melalui kegiatan tatap muka. On-the-Job Learning (OJL) dilaksanakan di sekolah lain bukan sekolah tempat peserta bekerja dan

mengharuskan peserta untuk menyelesaikan sebuah penelitian di sekolah. OJL selama 200 jam belajar on-the job. In-service Learning 2 (IN-2) merupakan kegiatan tatap muka selain IN-1.Peserta mempresentasikan temuan-temuan dari kegiatan OJL dan berefleksi atas hasilnya. IN-2 terdiri atas 30 jam belajar. Model ‘In-On-In’ dengan struktur pembelajaran tatap muka sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran ‘on-the-job’ dan pengaitan pembelajaran dengan penelitian dianggap sebagai salah satu kekuatan PPCKS.

4.1.3.1 Efektivitas model ‘IN-ON-IN’

LPPKS menyediakan pelatihan PPCKS secara langsung kepada peserta dengan menggunakan dua model berbeda. Model yang paling banyak digunakan adalah kelompok yang terdiri atas 20 sampai 30 peserta dari satu kabupaten bertemu di Solo dengan kelompok dengan jumlah peserta yang sama dari kabupaten lain. Kelompok gabungan dengan jumlah peserta antara 160 sampai 200 untuk IN-1 dan IN-2 yang dilaksanakan di Solo, Jawa Tengah. Peserta datang ke Solo dari kabupaten asal dan tinggal di asrama yang berada di dekat tempat pelatihan di Solo. Model pelatihan yang kurang banyak digunakan adalah staf LPPKS datang ke kabupaten atau yayasan swasta dan melaksanakan pelatihan di lokasi tersebut dengan berkolaborasi dengan pelatih-pelatih setempat. Komponen OJL dari pelatihan dilaksanakan di sekolah-sekolah di kabupaten tersebut. Peserta pelatihan ditempatkan di sebuah sekolah. Sekolah diberitahu oleh dinas pendidikan kabupaten bahwa peserta pelatihan akan berada di sekolah untuk melaksanakan 200 jam OJL yang dilaksanakan selama 3 bulan.

Responden menganggap bahwa tiga tahap (‘IN-ON-IN’) dalam PPCKS ‘sangat efektif’. Ini juga dapat dilihat dalam kajian pustaka di Bab 2 dan Lampiran 9 bahwa model pelatihan yang kuat untuk calon kepala sekolah adalah dengan menggabungkan teori dan praktek. Namun ada sedikit komentar tentang model pelatihan secara keseluruhan yang disampaikan dalam wawancara dan FGD. Komentar-komentar yang disampaikan lebih pada ketiga tahap yang berbeda yang merupakan bagian dari program secara keseluruhan. Untuk itu dapat disarankan bahwa banyak responden dalam penelitian ini yang memahami ketiga tahap tersebut sebagai tahap-tahap yang terpisah, bukan sebagai satu kesatuan dalam PPCKS. Tingkat efektivitas pelatihan PPCKS berdasar semua kohor yang disurvei (kecuali pelatih