Dalam Bab ini dibahas rangkuman temuan mengenai efektivitas, relevansi, efisiensi dan dampak dari PPCKS. Temuan ini digunakan untuk menjawab pertanyaan evaluasi yang terdapat dalam Kerangka Acuan:
1. Seberapa efektif proses yang melibatkan pencalonan, seleksi, dan pengangkatan kepala sekolah?
2. Bagaimana kualitas dan relevansi dari pelatihan yang tersedia? 3. Seberapa efektif dan efisien pengelolaan PPCKS?
4. Seberapa efektif PPCKS dalam hal meningkatkan kompetensi kepala sekolah? 5. Sejauh mana peningkatan kompetensi kepala sekolah dapat meningkatkan belajar
dan pembelajaran di kelas dan hasil pembelajaran bagi siswa?
Dalam Bab ini, akan dirangkum semua temuan yang berkaitan dengan efektivitas, relevansi, efisiensi dan dampak dari PPCKS. Sementara di dalam Lampiran 4 dan Lampiran 5 akan disajikan temuan berdasarkan masing-masing pertanyaan dan sub pertanyaan penelitian evaluasi yang disajikan dalam Kerangka Acuan.
5.1 Konteks
Pelaksanaan PPCKS telah dilaksanakan di kabupaten sejak tahun 2010. LPPKS bekerja sama dengan kabupaten-kabupaten yang berkomitmen untuk mengikuti PPCKS. Dalam lima tahun pelaksanaannya, PPCKS telah dilaksanakan dengan pendanaan dari beberapa sumber berbeda, dan dalam setiap tahunnya jumlah kabupaten yang mengikuti PPCKS tidaklah besar. Tidak diketahui seberapa besar dana yang telah disediakan untuk pelaksanaan PPCKS dari tahun 2010 sampai 2015, baik dari bantuan luar negeri maupun pendanaan dalam negeri. Jumlah terbesar kabupaten yang mengikutkan guru-guru ke dalam PPCKS adalah pada tahun 2012, dimana pada saat itu 203 Kabupaten dari 500 kabupaten di Indonesia ikut serta dalam PPCKS. Dalam tiga tahun terakhir ini terdapat beberapa kabupaten yang lebih dari sekali mengirim guru-gurunya untuk mengikuti PPCKS. Pada tahun 2015, sekitar 4,542 kepala sekolah memiliki NUKS, angka tersebut kurang dari 2,1% dari seluruh kepala sekolah di Indonesia.
5.2 Pencalonan
Temuan dari penelitian evaluasi ini menunjukkan bahwa peraturan yang berkaitan dengan proses sosialisasi untuk pencalonan peserta PPCKS dipandang efektif dan relevan. Namun, hasil evaluasi menunjukkan bahwa persyaratan peraturan untuk sosialisasi tidak seluruhnya diikuti oleh semua kabupaten, dan juga tidak dipatuhi oleh seluruh pengawas sekolah. Sementara itu beberapa kepala sekolah mengindikasikan bahwa mereka tidak mengetahui secara pasti peran mereka dalam memilih calon peserta PPCKS. Oleh karena itu, pelaksanaan proses sosialisasi perlu diperbaiki untuk memastikan terlaksananya proses
seleksi yang baik. Perlu dipertimbangkan apakah topik ini harus dimasukkan dalam modul yang digunakan dalam PPCKS atau tidak.
Proses formal untuk memberitahukan calon pendaftar bahwa pendaftaran PPCKS sudah dibuka, tidak efektif seperti seharusnya. Lebih lanjut lagi, proses pencalonan dapat diterapkan dengan lebih efisien. Pemberitahuan dikirim secara tertulis, komunikasi dilaksanakan secara tertulis bagi kabupaten dan sekolah. Guru-guru diundang oleh kepala sekolahnya untuk mendaftar PPCKS. Proses ini akan memakan waktu lebih lama. Beberapa kelompok responden menyampaikan bahwa perlu diberikan waktu lebih untuk menyiapkan berkas pendaftaran untuk mengikuti PPCKS. Dalam tahap sosialisasi dapat digunakan beberapa metode komunikasi (cetak, online dan media sosial) untuk memperluas jangkauan dan untuk meningkatkan kecepatan penyebaran informasi. Pilihan penggunaan komunikasi elektronik untuk mengirimkan informasi akan mempercepat komunikasi dan lebih banyak kabupaten yang dapat menerima informasi lebih cepat.
5.3 Seleksi administrasi dan seleksi akademik
Peraturan mengenai seleksi administrasi dan seleksi akademik, pada umumnya dipandang efektif dan relevan untuk mendapatkan calon peserta PPCKS yang sesuai. Namun, di seluruh kelompok (kohor) responden disampaikan bahwa proses seleksi administrasi dan seleksi akademis sarat dengan intervensi politik dan birokrasi. Selain itu, beberapa pengawas sekolah menyatakan bahwa dinas pendidikan kabupaten tidak selalu mentaati Permendiknas No. 28 Tahun 2010. Oleh karena itu, proses seleksi dipandang tidak transparan atau tidak berdasarkan keunggulan. Masalah ini membuka pertanyaan mengenai apakah yang terpilih adalah calon yang paling kompeten dan paling sesuai.
Berkas pendaftaran diserahkan ke dinas pendidikan kabupaten, biasanya dalam bentuk cetakan (hardcopy). Penggunaan email atau portal online untuk penyerahan berkas pendaftaran sangat sedikit sekali, namun apabila digunakan akan menjadi sangat efisien. Di beberapa kabupaten dilaporkan ada beberapa pendaftar telah diterima mengikuti PPCKS tanpa mengikuti proses seleksi administrasi dan seleksi akademik. Sebaliknya, tidak semua pendaftar yang diterima mengikuti PPCKS ingin menjadi kepala sekolah. Lebih lanjut, terdapat ketidakcocokan antara perkiraan jumlah kepala sekolah yang dibutuhkan di kabupaten untuk dua tahun mendatang dan jumlah peserta yang dilatih dan ditempatkan di sekolah-sekolah.
Diharapkan proses seleksi administrasi dan seleksi akademik dapat berjalan di kabupaten. Namun sudah menjadi praktik umum bahwa proses seleksi akademik dikelola oleh LPPKS. Namun tidaklah efisien bagi pejabat senior LPPKS untuk bepergian ke kabupaten untuk terlibat dalam proses seleksi di daerah. Beberapa kabupaten lebih menginginkan untuk mengelola sendiri proses seleksi administrasi dan seleksi akademik tanpa melibatkan pejabat LPPKS.
Sementara instrumen yang digunakan untuk seleksi pendaftar PPCKS umumnya dipandang efektif dan relevan, beberapa responden menyatakan bahwa kriteria seleksi perlu diperbaiki. Disarankan agar pengalaman sebagai wakil kepala sekolah dipertimbangkan dalam proses seleksi. Tugas makalah tertulis dalam seleksi akademik juga dipertanyakan, karena tugas tersebut terlihat terlalu sulit bagi beberapa guru. Beberapa guru juga mempertanyakan relevansinya dalam memilih calon kepala sekolah.
Terdapat juga pertanyaan mengenai jalur komunikasi yang digunakan dan waktu pendaftar menerima informasi apakah mereka lolos atau tidak lolos seleksi PPCKS. Pendaftar menerima pemberitahuan dari kepala sekolah yang mendapatkan informasi dari dinas pendidikan kabupaten. Pertanyaan-pertanyaan ini dan juga mengenai masalah waktu pemberitahuan dapat diatasi dengan penggunaan metode komunikasi elektronik.
Umpan balik (feedback) bagi pendaftar yang tidak lolos seleksi PPCKS juga masih kurang. Pendaftar tidak menerima umpan balik mengenai mengapa mereka tidak lolos seleksi, dan apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki hal tersebut. Lebih lanjut, dalam tiga tahun terakhir hanya tiga kabupaten yang telah mengirim beberapa kelompok guru mengikuti PPCKS. Ini berarti kabupaten lain di Indonesia belum memiliki jalur tetap untuk PPCKS (atau tradisi mendaftarkan guru untuk mengikuti PPCKS). Namun, beberapa kabupaten memiliki opsi pengembangan kepemimpinan yang lain.
5.4 Pelatihan PPCKS
Pelatihan PPCKS dan materi pelatihannya dipandang efektif dan sangat relevan dengan peran kepala sekolah. Gabungan antara pembelajaran tatap muka dan pembelajaran online konsisten dengan pelatihan kepemimpinan yang dilaksanakan di negara lain. Sesi dalam IN-1 dipandang sangat relevan dengan peserta PPCKS. Topik yang dibahas dalam IN-IN-1 berkaitan dengan berbagai tanggung jawab yang harus dimiliki kepala sekolah. Responden yang paling kritis terhadap relevansi pelatihan dan materi pelatihan adalah para pelatih utama.
OJL mengharuskan peserta untuk membuat proyek penelitian sebagai bagian dari 200 jam OJL. Dalam IN-1 sedikit sekali dibahas mengenai hal-hal yang harus disiapkan untuk melaksanakan proyek penelitian tersebut. Banyak laporan yang disiapkan oleh peserta PPCKS cukup terperinci dan meluas. Penempatan peserta PPCKS di sekolah-sekolah untuk OJL tidak dinegosiasikan terlebih dahulu dengan pihak sekolah maupun peserta. Pihak sekolah yang menjadi tujuan OJL peserta PPCKS tidak menerima pelatihan, bantuan keuangan ataupun penghargaan untuk pekerjaan ini.
Sementara pelatih utama secara umum dipandang memiliki kualitas tinggi, dilaporkan bahwa pelatih utama tidak selalu memiliki pemahaman yang sama mengenai pelatihan yang mereka sampaikan. Terdapat juga pendapat dari peserta PPCKS mengenai dukungan
mentoring yang meningkat dari pelatih utama pada saat OJL. Ditambah lagi, karena OJL
mengharuskan adanya proyek penelitian berbasis sekolah, perlu dipertimbangkan untuk menegosiasikan pengakuan atas kredit antara universitas dan LPPKS untuk komponen penelitian dari OJL.
Materi yang disiapkan untuk mendukung implementasi PPCKS sudah ekstensif dan dipandang relevan dengan pelatihan PPCKS. Materi ini disiapkan secara profesional. Responden menunjukkan bahwa beberapa materi pelatihan perlu di-update untuk meningkatkan relevansi dengan kebijakan saat ini. Materi pelatihan yang perlu di-update adalah: Latihan Kepemimpinan, Penyusunan Rencana Kerja Sekolah (RKS), Manajemen Keuangan Sekolah, dan Manajemen Kurikulum. Pelatihan dapat lebih diperkuat dalam bidang metode pembelajaran aktif, TIK dalam belajar mengajar, dan dalam bidang administrasi.
Dapat dipertimbangkan juga untuk memasukkan topik atau modul tambahan khusus dalam materi pelatihan yang secara khusus membahas peran kepala sekolah dalam
menyelenggarakan kepemimpinan bagi komunitas sekolah sebagai pemimpin instruksional. Modul seperti itu harus mengikutsertakan pendekatan yang dapat digunakan pemimpin sekolah pada staf pengajarnya untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam hal pembelajaran aktif dan TIK dalam kegiatan belajar mengajar di ruang kelas;
menyelenggarakan rapat penilaian dengan para guru di sekolah mereka; dan melaksanakan refleksi diri dan evaluasi diri
Lebih lanjut, sedikit sekali penggunaan belajar online dalam PPCKS dan materi pelatihan yang ada tidak mengikutsertakan apa yang diperlukan untuk belajar online. Kekurangan ini perlu untuk dijawab.
Setelah peserta menyelesaikan PPCKS mereka akan menerima NUKS. NUKS dipandang bergengsi dan dapat menciptakan efisiensi. Namun, untuk meningkatkan efisiensi ini perlu dipastikan dilaksanakannya koordinasi antara kabupaten dan LPPKS mengenai pengelolaan arsip.
5.5 Penilaian akseptabilitas dan pengangkatan kepala
sekolah
Para responden dalam penelitian evaluasi ini juga memberi data mengenai persyaratan untuk menerapkan uji akseptabilitas dan proses-proses yang tercantum dalam Permendiknas No. 28 Tahun 2010 mengenai pengangkatan kepala sekolah . Para responden tersebut memandang bahwa persyaratan tersebut relevan dengan tujuan untuk mengidentifikasi orang yang paling sesuai untuk mengambil posisi kepala sekolah di sebuah kabupaten. Namun, para responden juga mengatakan bahwa dalam praktiknya pengangkatan kepala sekolah tidak selalu konsisten dengan Permendiknas.
Penelitian evaluasi ini menemukan bahwa di beberapa kabupaten kurang memiliki lulusan PPCKS yang memiliki NUKS, dan tidak semua kabupaten melaksanakan penilaian akseptabilitas. Intervensi politik dan birokrasi dalam pengangkatan kepala sekolah juga teridentifikasi oleh semua kelompok (kohor) responden dalam penelitian evaluasi ini. Nampaknya juga terdapat kurangnya kesadaran akan penilaian akseptabilitas diantara pengawas sekolah dan kepala sekolah.
Penelitian evaluasi ini juga menemukan bahwa terdapat guru-guru yang telah menyelesaikan pelatihan PPCKS namun selama lebih dari dua tahun belum diangkat menjadi kepala sekolah. Data dari LPPKS mengindikasikan bahwa dalam kurun waktu lima tahun terakhir hanya 35,4% calon kepala sekolah yang memiliki NUKS telah diangkat menjadi kepala sekolah. Sangat tidak efisien untuk melatih guru, memberikan NUKS tetapi kemudian tidak mengangkatnya menjadi kepala sekolah. Alasan untuk hal tersebut diatas adalah bahwa sudah terdapat kepala sekolah yang berpengalaman di kabupaten tersebut yang memiliki kualifikasi yang relevan kecuali NUKS. Beberapa kabupaten mengindikasikan bahwa salah satu alasan mengapa di kabupaten tersebut kurang memiliki guru yang memiliki NUKS adalah karena kurangnya alokasi anggaran dan dana untuk pelatihan PPCKS.
5.6 Dampak
Dampak PPCKS dilihat dari sudut pandang apakah pelatihan ini telah membawa dampak pada kompetensi kepala sekolah PPCKS. Dampak pelatihan PPCKS juga harus dipandang sesuai dengan sejauh mana kepala sekolah saat ini memiliki NUKS. Isu-isu ini terkait dengan pertanyaan mengenai efisiensi.
Tanda-tanda awal menunjukkan bahwa PPCKS memiliki dampak pada kompetensi para kepala sekolah. Monitoring saat ini diperlukan untuk menentukan apakah tren ini akan cenderung meningkat dari mulai diselenggarakannya PPCKS. Seharusnya saat guru-guru yang mermiliki NUKS diangkat menjadi kepala sekolah, pandangan tersebut menjadi semakin jelas. Dampak dari PPCKS pada komunitas kepala sekolah Indonesia secara keseluruhan pada saat ini adalah kecil. Dengan angka produksi yang ada saat ini, diragukan apakah pada akhir abad ini semua kepala sekolah di Indonesia akan memiliki NUKS. Oleh karena itu, berbagai pendekatan untuk melaksanakan PPCKS perlu ditingkatkan dampaknya dan perlu untuk menambah jumlah kepala sekolah yang memiliki NUKS.
Pilihan kebijakan untuk mengatasi temuan ini, dapat dibaca dalam Bab 6.
5.7 Rangkuman
Untuk merangkum temuan yang didapat dari pertanyaan utama penelitian evaluasi ini, peraturan mengenai seleksi, rekrutmen dan pengangkatan kepala sekolah, dipandang relevan, namun beberapa revisi akan meningkatkan efektivitas proses yang digunakan untuk menerapkan peraturan ini. Setiap kelompok (kohor) responden memandang bahwa pelatihan yang dilaksanakan memiliki kualitas tinggi dan relevan dengan peran sebagai kepala sekolah. Namun, model pelatihan kepala sekolah secara langsung bukanlah pilihan yang paling efisien. Efisiensi peningkatan pengelolaan PPCKS, dan di Bab berikutnya, diajukan untuk menjawab isu tersebut dengan Pilihan Kebijakan.
Terdapat indikasi bahwa PPCKS dapat menjadi efektif dalam meningkatkan kompetensi kepala sekolah, walaupun tetap perlu dimonitor. Sampai sejauh mana peningkatan kompetensi kepala sekolah meningkat sebagai akibat dari PPCKS, yang selanjutnya akan menuju pada peningkatan proses belajar mengajar di kelas dan peningkatan hasil belajar siswa, semuanya adalah isu-isu yang memerlukan penelitian yang meluas.
Bab berikutnya menyajikan beberapa Pilihan Kebijakan untuk menjawab beberapa temuan dari Penelitian evaluasi ini.