• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 BIOAKTIVITAS FORMULASI CAMPURAN EKSTRAK Tephrosia vogelii DAN Piper aduncum

6 KEAMANAN FORMULASI CAMPURAN EKSTRAK DAN EFEKTIVITASNYA TERHADAP HAMA KUBIS D

6.2 Bahan dan Metode 1 Tempat dan Waktu

6.3.4 Efikasi Formulasi di Lapangan

Pengamatan populasi larva C. pavonana pada berbagai perlakuan dapat dilihat pada Gambar 6.3. Secara umum populasi hama pada kontrol lebih tinggi dibandingkan jumlah larva pada perlakuan. Jumlah larva mulai meningkat pada minggu kedua setelah tanam (MST) yaitu saat telur yang diletakkan pada minggu pertama telah menetas. Populasi hama mencapai puncaknya pada minggu keempat setelah tanam kemudian menurun pada minggu kelima dan keenam. Pada minggu ketujuh dan kedelapan populasi kembali meningkat dan menurun pada minggu kesembilan. Pada populasi tertinggi, jumlah populasi larva C. pavonana tanaman mencapai 8.5 ekor/tanaman pada kontrol.

Gambar 6.2 Aplikasi A) Formulasi EC, B) Formulasi WP terhadap daun brokoli tidak menunjukkan gejala fitotoksisitas

B A

Hari setelah tanam (HST)

Peningkatan populasi hama C. pavonana pada 28 HST (Gambar 6.3) disebabkan karena hujan dengan curah rendah diselingi panas sering terjadi pada 7 HST hingga 21 HST. Pada minggu keempat terjadi hujan deras selama dua hari yang menyebabkan populasi hama menurun pada 35 HST dan 42 HST. Pada 49 HST dan 56 HST populasi larva meningkat dan mulai menurun pada saat memasuki masa panen 63 HST.

Pada formulasi EC dan WP, secara umum populasi larva C. pavonana berada dibawah kontrol, bahkan pada perlakuan formulasi WP mampu menekan populasi sebaik insektisida BT. Formulasi EC memiliki aktivitas lebih rendah dibandingkan formulasi WP dan BT tetapi lebih baik dibandingkan aktivitas insektisida kimia deltametrin (Gambar 6.3).

Analisis statistika menunjukkan bahwa pada 28 HST dan 56 HST perlakuan formulasi EC, formulasi WP, Bactospein, dan deltametrin berbeda nyata jika dibandingkan dengan kontrol meskipun tidak ada perbedaan nyata antar perlakuan (Tabel 6.2). Hal ini menunjukkan bahwa pada saat populasi hama tinggi, formulasi EC dan WP T. vogelii : P. aduncum (1:5) memiliki aktivitas yang setara dengan insektisida komersial BT dan deltametrin. Pada 28 HST, formulasi EC dan WP mampu menekan populasi larva C. pavonana dengan nilai keefektifan formulasi berturut-turut 80.16% dan 96.73% (Tabel 6.3). Hasil ini jauh lebih baik dibandingkan insektisida sintetik deltametrin yang menekan populasi larva sebesar 70.25% jika dibandingkan dengan kontrol. Pada 56 HST perlakuan formulasi EC dan WP menekan populasi larva C. pavonana dengan nilai keefektifan formulasi berturut-turut 88.56% dan 81.01%, lebih baik dibandingkan BT dan deltametrin yang menekan populasi larva sebesar 70.35% dan 35.24% jika dibandingkan dengan kontrol (Tabel 6.3). Aktivitas deltametrin

P opulasi l arva ( ekor/ta n aman)

Gambar 6.3 Populasi larva C. pavonana pada tanaman brokoli yang diberi perlakuan insektisida

Hari setelah tanam (HST)

Hari setelah tanam (HST)

lebih rendah jika dibandingan dengan insektisida BT, formulasi EC, dan formulasi WP terutama pada 21, 28, 35, dan 56 HST. Hal ini diduga karena efek resistensi hama C. pavonana yang terjadi terhadap beberapa insektisida komersial yang sering digunakan oleh petani salah satunya insektisida yang berbahan aktif deltametrin.

Bersamaan dengan pengamatan populasi larva C. pavonana juga dilakukan pengamatan jumlah populasi hama H. undalis dan P. xylostella pada tanaman contoh (Gambar 6.4, Gambar 6.5). Populasi H. undalis muncul lebih

P opulasi l arva ( ekor/ta n aman)

Gambar 6.4 Populasi larva H. undalis pada tanaman brokoli yang diberi perlakuan insektisida

P opu lasi lar va ( ekor/ta n aman)

Gambar 6.5 Populasi larva P. xylostella pada tanaman brokoli yang di beri perlakuan insektisida

awal dibandingkan populasi C. pavonana (Gambar 6.3). Populasi H. undalis meningkat pada 21 HST dan turun pada 28 HST, 35 HST, dan 42 HST. Penurunan populasi ini juga terjadi karena curah hujan yang tinggi sehingga banyak hama yang tidak bisa bertahan hidup. Populasi larva kembali meningkat pada 49 HST dan selanjutnya menurun kembali pada pengamata selanjutnya. Analisis statistik terhadap populasi hama H. undalis tidak menunjukkan perbedaan nyata perlakuan jika dibandingkan dengan kontrol dan antar perlakuan itu sendiri.

Secara umum populasi P. xylostella paling rendah jika dibandingkan populasi C. pavonana dan H. undalis pada percobaan lapangan . Populasi P.

xylostella mulai meningkat pada 35 HST sampai 56 HST. Populasi larva tertinggi

ada pada perlakuan Deltametrin dengan rata-rata jumlah larva 0.6 ekor/tanaman (Gambar 6.5), bahkan lebih tinggi jika dibandingkan dengan kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa hama P. xylostella telah resisten terhadap insektisida kimia deltametrin. Hasil analisis statistik terhadap populasi hama tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan perlakuan dibandingkan dengan kontrol dan antar perlakuan itu sendiri.

Dalam pengujian lapangan juga dilakukan pengambilan larva C. pavonana untuk melihat kelimpahan parasitoid E. argenteopilosus. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa tingkat parasitisasi E. argenteopilosus terhadap larva C.

pavonana di lapangan sangat rendah. Tampak dari seluruh sampel larva yang

diambil di lapangan dan dipelihara di laboratorium tidak satupun parasitoid yang muncul. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh penggunaan insektisida yang tinggi sehingga populasi parasitoid tidak berkembang. Selain itu juga disebabkan karena budidaya sayuran di daerah tersebut sangat bervariasi sehingga ketersediaan inang C. pavonana bagi parasitoid tidak kontinyu. Pengamatan secara visual di lapangan terhadap imago parasitoid E. argenteopilosus menunjukkan kelimpahan yang sangat rendah.

103

Tabel 6.2 Populasi larva C. pavonana pada tanaman brokoli yang diberi berbagai perlakuan insektisida

HST: hari setelah tanam, x: rataan, SB: simpangan baku, BT: Bacillus thuringiensis

*Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata (Uji Duncan, α=0.05)

Tabel 6.3 Keefektifan beberapa insektisida untuk mengendalikan hama C. pavonana di lapangan Perlakuan Nilai keefektifan insektisida (%)

14 HST 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST 49 HST 56 HST 63 HST

Formulasi EC - 65.75 80.16 50.57 - 64.56 88.55 60.37

Formulasi WP - 82 96.73 83.90 81.08 58.04 81.00 67.04

BT - 96.75 91.83 91.95 18.91 98.47 70.25 -

Deltametrin - 11.25 79.46 4.59 - 68.48 35.24 72.22

HST: hari setelah tanam, BT: Bacillus thuringiensis

Perlakuan Populasi Larva C. pavonana pada n HST (x ± SB)*

14 HST 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST 49 HST 56 HST 63 HST Kontrol 0 ± 0 a 4.00 ± 12.0a 8.57 ± 24.7 a 0.87 ± 4.19 a 0.37 ± 0.81 a 4.60 ± 15.7 a 4.37 ± 9.66 a 2.70 ± 5.58 a Formulasi EC 0.50 ± 2.74 a 1.37 ± 5.14a 1.70 ± 5.88 b 0.43 ± 0.97 a 1.30 ± 4.56 a 1.63 ± 6.38 a 0.50 ± 0.90 b 1.07 ± 4.02 a Formulasi WP 0.03 ± 0.19 a 0.72 ± 2.81a 0.28 ± 0.65 b 0.14 ± 0.58 a 0.07 ± 0.26 a 1.93 ± 0.26 a 0.83 ± 2.16 b 0.89 ± 3.07 a BT 0.03 ± 0.18 a 0.13 ± 0.43a 0.70 ± 1.70 b 0.07 ± 0.25 a 0.30 ± 0.95 a 0.07 ± 0.25 a 1.30 ± 4.18 b 3.80 ± 8.68 a Deltametrin 0.03 ± 0.19 a 3.55 ± 10.5a 1.76 ± 5.44 b 0.83 ± 4.27 a 0.97 ± 3.91 a 1.45 ± 5.58 a 2.83 ± 5.69 b 0.75 ± 1.29 a

6.4 Kesimpulan

Bahan aktif yang terdapat dalam formulasi EC dan WP campuran T.

vogelii : P. aduncum (1:5) mudah terurai oleh cahaya matahari atau memiliki

persistensi yang rendah. Toksisitas formulasi campuran bersifat selektif terhadap musuh alami E. argenteopilosus, pada konsentrasi 2 x LC95 formulasi ECdan WP tidak menyebabkan kematian parasitoid E. argenteopilosus jantan dan betina. Formulasi EC dan WP tidak menimbulkan gejala fitotoksik terhadap daun brokoli. Aplikasi lapangan menunjukkan bahwa formulasi EC dan WP memiliki keefektifan yang setara dengan insektisida BT. Pada saat populasi hama tinggi, formulasi EC dan WP mampu menekan populasi hama lebih dari 80% jika dibandingkan dengan kontrol.

6.5 Daftar Pustaka

Dono D, Prijono D, Manuwoto S, Buchori D. 1998. Pengaruh ekstrak biji Aglaia

harmsiana Perkins terhadap interaksi antara larva Crocidolomia binotalis

Zeller (Lepidoptera: Pyralidae) dan parasitoidnya, Eriborus

argenteopilosus (Cameron) (Hymenoptera: Ichneumonidae). Bul HPT 10:

38-46.

Dono D. 2004. Aktivitas insektisida rokaglamida dan penghambatan respons imunitas larva Crocidolomia pavonana (F.) (Lepidoptera: Pyralidae) terhadap parasitoid Eriborus argenteopilosus (Cameron) (Hymenoptera: Ichneumonidae) [disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor, Program Pascasarjana, Program Studi Entomologi.

Februlita YM. 2013. Aktivitas insektisida ekstrak Piper aduncum asal Riau terhadap larva Crocidolomia pavonana [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor, Program Pascasarjana, Program Studi Entomologi. Hassall KA. 1990. The Chemistry of Pesticides: Their Metabolism, Mode of

Action and Uses in Crop Protection. London (GB): Macmillan.

Isman MB. 1995. Leads and prospects for the development of new botanical insecticides. Rev Pestic Toxicol 3:1-20.

Komisi Pestisida. 2000. Syarat peredaran dan perdagangan pestisida nabati. Di dalam: Soetopo D, Supriadi, Djazuli M, Hadipoentyati, Yuliani S, Prijono D, editor. Prosiding Forum Komunikasi Ilmiah Pemanfaatan Pestisida Nabati. Bogor, 9-10 November 1999. Bogor (ID): Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Perkebunan. Hlm 21-30.

Kuroki T. 1998. Cancers as a disease of genes and a disease due to environmental factors. Di dalam: Kuhr RJ, Motoyama N, editor. Pesticides and the Future: Minimizing Chronic Exposure of Humans and the Environment. Washington (AS): IOS Press. hlm 113-118.

Matsumura F. 1985. Toxicology of Insecticides. 2nd Edition. New York (AS): Plenum Press.

Metcalf RL. 1982. Insecticides in pest management. In Metcalf RL, Luckman WH, editor. Introduction to Insect Pest Management. 2nd Edition. New York: J Wiley. Pp 217-253.

SAS Institute. 1990. SAS/STAT User’s Guide, Version 6, Vol 2. 4th Edition. Cary (North Carolina) (US): SAS Institute.

Sastrosiswojo S, Setiawati W. 1993. Hama-hama kubis dan pengendaliannya. Di dalam: Permadi AH, Sastrosiswojo S, editor. Bandung (ID): Balithor Lembang. hlm 39-50.

Schmutterer H. 1995. The Neem Tree, Azadirachta indica A. Juss, and Other Meliaceous Plants: Sources of Unique Natural Products for Integrated Pest Management, Medicine, Industry and Other Purposes. Weinheim (DE): VCH.

Scott IM, Jensen HR, Nicol R, Lesage L,Bradbury R, Sachez-Vindas P, Poveda L, Arnason JT, Philogene BJR. 2004. Efficacy of piper (Piperaceae) extracts for control of common home and garden insect pests. J. Econ.Entomol 97(4): 1390-1403.

Speight MR, Hunter MD, Watt AD. 1999. Ecology of Insects: Concepts and Applications. Blackwell Science Ltd.

Steel RGD, Torrie JH, Dickey DA. 1997. Principles and Procedures of Statistics: A Biometrical Approach. 3rd Edition. Boston (AS): McGraw-Hill.

Sudarmo, Prijono D, Manuwoto S, Buchori D. 2001. Selektivitas ekstrak ranting

Aglaia odorata Lour. (Meliaceae) terhadap Crocidolomia binotalis Zeller

dan Eriborus argenteopilosus (Cameron). Hayati 8: 112-116.

Syahputra E, Prijono D, Dadang, Manuwoto S, Kadarusman LK. 2005. Bioaktivitas insektisida botani Calophyllum soulattri Burm.F. (Clusiaceae) sebagai pengendali hama alternatif [disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.