B. Pendekatan Hedonik 1. Harga Properti
B.2. Upah : Pendugaan Risiko (Risk Estimation)
5. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2. Indeks Kepekaan Lingkungan Pulau Pramuka
5.2.1.3. Indeks Sosial Ekonomi
5.2.1.3.2. Nilai Ekonomi
Penentuan nilai ekonomi dalam suatu indeks kepekaan lingkungan dilihat berdasarkan besarnya manfaat yang dihasilkan dari sumberdaya yang dapat menyokong kehidupan masyarakat sekitar.
Pendekatan nilai ekonomi total yang dilakukan dalam studi Pengkajian Indeks Kepekaan Lingkungan Berbasis Valuasi Ekonomi adalah dengan cara menilai secara ekonomi seluruh manfaat dari suatu ekosistem berdasarkan preferensi masyarakat sekitar. Dalam menilai sumberdaya secara ekonomi, Ruitenbeek (1991) dalam Fahrudin (1996) menggunakan pendekatan tiga tahap, yaitu :
1) Identifikasi manfaat dan fungsi-fungsi antar komponen sumberdaya.
2) Kuantifikasi seluruh manfaat dan fungsi kedalam nilai uang, dalam hal ini rupiah.
3) Penilaian alternatif pilihan dan evaluasi kebijakan pemanfaatan sumberdaya.
Menurut PKSPL (2009) bahwa nilai ekonomi dari ekosistem mangrove didefenisikan sebagai nilai fungsi mangrove yang dapat mendukung kehidupan masyarakat sekitar untuk kegiatan ekonomi dalam kehidupan sehari-harinya. Nilai ekonomi sumberdaya mangrove dihitung berdasarkan rata-rata nilai sosial yang dikalikan dengan nilai standar ekonomi sumberdaya yang dapat diperoleh dari integrasi dengan teori valuasi ekonomi. Penghitungan Nilai Ekonomi Ekosistem Mangrove secara rinci dapat dilihat sebagai berikut:
a) Nilai Manfaat Langsung (Direct Use Value)
Ekosistem mangrove merupakan ekosistem yang memiliki fungsi salah satunya adalah sebagai feeding ground dan nursery ground. Manfaat langsung dari ekosistem mangrove secara preferensi masyarakat belum dapat ditentukan. Hal ini dikarenakan bahwa ekosistem mangrove yang ada di Pulau Pramuka masih di dominasi oleh anakan yang bagi masyarakat sekitar belum bisa dimanfaatkan. Dari hasil wawancara yang dilakukan terhadap responden, bahwa nilai manfaat langsung ekosistem mangrove yang dapat diperoleh apabila mangrove tersebut telah dewasa yaitu pada pemanfaatan buah mangrove sebagai bahan obat diare.
Kondisi ekosistem mangrove di Pulau Pramuka berada dalam tahap pengembangan. Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKS) dengan masyarakat Pulau Pramuka melakukan penanaman mangrove dengan harapan nantinya akan memberikan manfaat langsung terhadap masyarakat Pulau Pramuka apabila telah mencapai kondisi dewasa. Penanaman hutan mangrove diharapkan dapat meningkatkan fungsi ekologi mangrove sebagai habitat bagi organisme lainnya.
Ekosistem mangrove memberikan manfaat langsung untuk sumberdaya perikanan, dalam hal ini adalah ikan non karang. Sehingga Dari hasil identifikasi dilapangan, manfaat langsung yang diberikan adalah nilai pengaruh produksi ikan non karang sebagai akibat eksistensi ekosistem mangrove di Pulau Pramuka adalah sebesar Rp. 5.522.073.325 untuk kedua wilayah Mangrove EMU dan EMS (perhitungan EOP ikan non karang lebih rinci dapat dilihat pada Lampiran 2).
b) Nilai Manfaat Tidak Langsung (Indirect Use Value)
Manfaat tidak langsung yang berhasil diidentifikasi di wilayah studi adalah manfaat tidak langsung secara fisik. Manfaat tidak langsung secara fisik diestimasikan melalui pendekatan fungsi mangrove sebagai penahan abrasi pantai. Hal ini didasarkan kepada kondisi wilayah pulau pramuka adalah pulau kecil, sehingga peran ekosistem mangrove sebagai penahan abrasi sangat dirasa penting.
Pendekatan manfaat penahan abrasi dilakukan dengan pembangunan pemecah gelombang (break water) apabila ekosistem hutan mangrove itu tidak ada. Nilai pemecah gelombang diasumsikan sama dengan hasil perhitungan yang telah dilakukan oleh Aprilwati (2001) dimana biaya pembangunan fasilitas pemecah gelombang (break water) yang berukuran 1m x 11m x 2,5m (panjang x lebar x tinggi) dengan daya tahan 10 tahun adalah sebesar Rp. 4.163.880/m3 (Tabel 5.11).
Tabel 5.11. Nilai Manfaat Tidak Langsung Ekosistem Mangrove Pulau Pramuka
Keterangan EMU EMS
Luasan Areal 37.400 36.800
Tinggi rata-rata pohon 0,75 0,50
Volume 28.050 18.400
Harga Breakwater 4.163.880 4.163.880
Nilai Abrasi 10 tahun 116.796.834.000 76.615.392.000
Nilai Abrasi 1 tahun 11.679.683.400 7.661.539.200
Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan, wilayah luasan hutan mangrove Pulau Pramuka adalah 3,74 Ha (28.050 EMS) untuk EMU dan 3,68 Ha (18.400 EMS) untuk EMS. Sehingga dapat diestimasikan manfaat tidak langsung sebesar Rp. 11.679.683.400 untuk EMU dan Rp 7.661.539.200 untuk EMS per tahun.
c) Manfaat Pilihan
Manfaat pilihan hutan mangrove diperhitungkan dari manfaat biodiversity yang diperoleh dari keberadaan hutan mangrove. Ruitenbeek (1991) dalam Fahrudin (1996) mengemukakan nilai manfaat pilihan berupa manfaat biodiversity sebesar US$ 1.500 per kEMS per tahun atau sebesar US$ 15 per ha per tahun dapat digunakan untuk hutan mangrove di Indonesia bila keberadaan hutan mangrove secara ekologis penting. Nilai tukar rupiah terhadap US$ saat ini (Agustus 2012) sebesar Rp. 9.238 per US$ dan luas hutan mangrove Pulau Pramuka EMU adalah 3,74 Ha dan EMS adalah 3,68 Ha (Tabel 5.12).
Tabel 5.12. Nilai Manfaat Tidak Langsung Ekosistem Mangrove Pulau Pramuka
Keterangan EMU EMS
Nilai tukar rupiah 2012 Rp. 9.238 Rp. 9.238
Nilai manfaat biodiversity $ 15,00/Ha $ 15,00/Ha
Luas lahan mangrove 3,74 Ha 3,68 Ha
Nilai Manfaat Pilihan Rp. 518.251,80 Rp. 509.937,60
Sumber : Hasil Analisis Data, 2012
Dengan demikian, maka nilai manfaat biodiversity sebagai manfaat pilihan untuk hutan mangrove pulau Pramuka masing-masingnya untuk EMU adalah Rp. 518.251,80 dan EMS adalah Rp. 509.937,60.
d) Manfaat Keberadaan (Existence Value)
Manfaat keberadaan (existence value) diestimasikan melalui pendekatan Contingent Valuation Method (CVM) yang diperoleh melalui WTP dari responden. Responden kemudian dikelompokan berdasarkan tingkat pendidikan, mata pencaharian, dan lokasi tempat tinggal dengan jumlah responden sebanyak 98 orang. Metode ini diperjelas dengan mengalikan rat-rata WTP yang diberikan oleh responden terpilih dengan jumlah rumah tangga Pulau Pramuka (penduduk).
Tingkat pendidikan dan pengetahuan dari responden sedikit banyak berpengaruh terhadap penilaian fungsi ekologis untuk menjaga kelestarian dari sumberdaya hutan mangrove. Berdasarkan hasil wawancara dengan kuesioner, diperoleh nilai terendah WTP yang diberikan oleh responden sebesar Rp. 5.000 dan nilai tertinggi sebesar Rp. 35.000. Beragamnya nilai WTP yang diperoleh disebabkan karena sifat kuesioner yang terbuka. Responden bebas menentukan besaran nilai tanpa dibatasi rentang nilai tertentu. Secara lengkap perhitungan WTP dapat dilihat pada Lampiran 3.
Fungsi WTP didapatkan dengan meregresikan nilai WTP per-individu, tingkat pendidikan, usia, dan pendapatan responden. Berdasarkan analisis regresi yang dilakukan di peroleh fungsi sebagai berikut :
Ln WTP = 9,9512 + 0,0544 Ln E – 0,2535 Ln A + 0,0159 Ln I Adjusted R-Sq = -0,0129
Keterangan :
WTP = Keinginan untuk membayar E = Edukasi / Pendidikan A = Age / Umur
I = Income / Pendapatan
Nilai eksistensi ekosistem mangrove Pulau Pramuka diperoleh dari nilai rupiah dari persepsi sejumlah responden. Dari beberapa penilaian responden setelah dirata-ratakan dengan menggunakan persamaan yang diperoleh dari persamaan regresi diperoleh nilai rata-rata WTP individu adalah sebesar Rp. 11.577,59. Dengan memperhitungkan jumlah populasi yang mendiami Pulau Pramuka sebanyak 5.849 jiwa, maka hasil tersebut kemudian dikonversi menjadi nilai total WTP sebesar Rp. 67.717.322, 28 per tahun (perhitungan dapat di lihat pada Lampiran 3).
e) Nilai Total Ekonomi.
Wilayah hutan mangrove Pulau Pramuka yang terbagi menjadi 2 wilayah besar yaitu EMU dan EMS dengan luas 7,42 Ha memiliki manfaat yang sangat beragam, mulai dari manfaat langsung, manfaat tidak langsung, manfaat pilihan dan manfaat keberadaan. Dimana secara garis besar nilai total ekonomi dari pemanfaatan hutan mangrove Pulau Pramuka dapat dilihat pada Tabel 5.13. Rata-rata nilai ekonomi sumberdaya ekosistem mangrove di dua wilayah yang terpisah hampir memiliki nilai
yang hampir sama. Perbedaan dari keduanya adalah luasan dan ragam ukuran dari pohon mangrove yang teridentifikasi.
Tabel 5.13. Nilai Ekonomi Ekosistem Mangrove Pulau Pramuka Berdasarkan Masing- Masing Manfaat
No Jenis Manfaat EMU (Rp) Persen
(%) Skor EMS (Rp) Persen (%) Skor 1 Manfaat Langsung 5.522.073.325 31,97 3 5.522.073.325 41,67 3 2 Manfaat Tidak Langsung 11.679.683.400 67,63 5 7.661.539.200 57,81 4 3 Manfaat Pilihan 518.252 0,00 1 509.938 0,00 1 4 Manfaat Keberadaan 67.717.322 0,39 1 67.717.322 0,51 1
Nilai Ekonomi Total 17.269.992.299 100,00 2 13.251.839.785 100,00 2
Sumber : Hasil Analisis Data, 2012
Perhitungan nilai ekonomi untuk ekosistem mangrove dilakukan menggunakan perhitungan valuasi ekonomi yang dikonversi kedalam suatu persamaan. Sementara, rincian penentuan skor tingkat kepekaan lingkungan daerah kajian mangrove berdasarkan manfaat yang diperoleh dapat dilihat pada Lampiran 4.
f) Indeks Sosial Ekonomi
Berdasarkan nilai sosial dan nilai ekonomi yang diperoleh diatas, maka indeks sosial ekonomi dari ekosistem mangrove yang diperoleh masing-masingnya adalah skor 3 baik untuk EMU maupun EMS (Lampiran 4). Skor tersebut mengindikasikan bahwa tingkat kepekaan ekosistem mangrove dari sisi sosial ekonomi termasuk kedalam kategori cukup peka. Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem mangrove di Pulau Pramuka memiliki NS yang lebih tinggi dari NE, dimana secara ekonomi mangrove di Pulau Pramuka masih tergolong belum optimal karena keberadaannya masih tergolong baru dan rata-rata di dominasi oleh anakan.