• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ekoregion Bentangalam asal proses Fluvial

Dalam dokumen 201143 ATR AP150 DUPLEX 50 SET REVISI ok (Halaman 87-91)

Pemetaan EKOREGION Sumatera Skala 1 : 250

B.3. Ekoregion Bentangalam asal proses Fluvial

Keanekaragaman bentangalam ini relatif subur karena ekosistem ini merupakan ekosistem dataran rendah dan berasal dari proses aliran dan endapan. Bentang Alam Fluvial ini terbagi atas 3 (tiga) satuan ekoregion yaitu F1 Dataran Fluvio-vulkanik, F2 Dataran Aluvial, F3 Dataran Fluvio-marin. Untuk keanakeragaman hayati pada Ekoregion Dataran Fluvio-vulkanik dan Dataran Aluvial relative sama karena sangat dipengaruhi

oleh air tawar. Sedangkan keanakeragaman hayati ekoregion F3 Dataran Fluvio-marin berbeda karena dipengaruhi oleh air asin. Untuk flora ekoregion F1 Dataran Fluvio- vulkanik dan F2 Dataran Aluvial merupakan ekosistem rawa gambut yang didominasi jenis-jenis species Rubiaceae, Euphorbiaceae, Pandanus,Eugenia dan Gramineae.

Ekosistem gambut adalah ekosistem lahan basah yang unik dan memiliki potensi besar untuk mendukung kehidupan manusia. Gambut terbentuk dari penimbunan/akumulasi bahan organik di lantai hutan dalam kurun waktu yang sangat lama yaitu antara 3.000-10.0000 tahun (tiga ribu sampai dengan sepuluh ribu). Secara alami, lahan gambut umumnya selalu jenuh air dan tergenang sepanjang tahun. Menurut Driessen (1978), gambut adalah tanah yang memiliki kandungan bahan organic (berat kering) lebih dari 65% (enam puluh lima per seratus) dan ketebalan gambut lebih dari 0,5 m (nol koma lima meter).

Gambut Sumatera

http://indobackpaker.blogspot.co.id/2012/05/taman- nasional-berbak.html

Beruang Madu Sumatera

http://daerah.sindonews.com/read/841767/24/gerombolan- beruang-madu-teror-warga-solok-1394095972

Di daerah tropis, gambut umumnya terbentuk dari batang, cabang, dan akar tumbuh yang memiliki kadar ligin yang tinggi, dibandingkan dengan gambut daerah empat musim yang tersusun dari bahan yang lebih halus. Ekosistem lahan gambut menyediakan habitat penting yang unik bagi berbagai jenis satwa dan tumbuhan, beberapa diantaranya hanya terbatas pada ekosistem gambut. Bahkan di Taman Nasional Berbak Jambi tercatat sekitar 250 (dua ratus lima puluh) jenis burung termasuk 22 (dua puluh dua) jenis burung bermigrasi. Sungai berair hitam juga memiliki tingkat endemisme ikan yang sangat tinggi. Di samping itu, lahan gambut juga merupakan habitat ikan air tawar yang merupakan komoditas dengan nilai ekonomi tinggi dan penting untuk dikembangkan, baik sebagai ikan konsumsi maupun sebagai ikan ornamental. Beberapa jenis ikan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, termasuk gabus (chana striata), toman (channa micropeltes), jelawat, dan tapah (wallago leeri). Sementara itu, beberapa jenis satwa telah termasuk dalam kategori langka dan terancam punah serta memiliki nilai ekologis yang luar biasa dan tidak

tergantikan, sehingga sangat sulit untuk dikuantifikasi secara finansial. Beberapa jenis tersebut diantaranya adalah harimau sumatera (pantheratigris), beruang madu (helarctos malayanus), gajah sumatera (elephasmaximus), dan orang utan (pongopymaeus). Seluruh jenis tersebut dilindungi berdasarkan peraturan perlindungan di Indonesia serta masuk dalam appendix I CITES dan IUCN Red List dalam katagori endanger species.

Tidak kurang dari 300 (tiga ratus) jenis tumbuhan telah tercatat di hutan rawa gambut Sumatera. Hanya di Taman Nasional Berbak Jambi, misalnya kawasan ini merupakan pelabuhan bagi keanekaragaman genetis dan ekologis dataran rendah pesisir di Sumatera. Sejauh ini telah tercatat tidak kurang dari 260 (dua ratus enam puluh) jenis tumbuhan (termasuk 150 jenis pohon dan 23 jenis palem), sejauh ini merupakan jumlah jenis terbanyak yang pernah diketahui.

Sementara flora pada Ekoregion Dataran Fluvio-marin mempunyai kekayaan jenis tumbuhan hutan mangrove rendah. Jumlah jenis seluruhnya hanya sekitar 60, termasuk 38 jenis yang berupa pohon mangrove sejati. Jenis-jenis utama termasuk Avicennia alba, A. officinalis, Bruguiera gym norrhiza, B. eriopetala, Ceriops decandra, C. tagal, Lumnitzera littorea, L. racemosa, Nypa fruticans, Rhizophora apiculata, R. mucronata, R. stylosa, Sonneratia alba, S. caseolaris, S. ovata, Xylocarpus granatum dan X. moluccensis. Komposisi jenis dan struktur hutan mangrove bervariasi sesuai dengan kondisi habitatnya. Komposisi dan struktur komunitas berkisar dari yang kerdil, jarang dan hanya terdiri atas satu jenis (seperti Rhizophora stylosa) yang tumbuh pada terumbu karang, hingga hutan campuran yang tinggi, rapat, dan tumbuh pada habitat lumpur dengan aliran air yang lamban sepanjang sungai-sungai besar dan muara-muara sungai. Pasokan airtawar yang memengaruhi salinitas, sifat-sifat substrat dan pola pasang surut merupakan faktor yang mengakibatkan pembentukan berbagai zonasi vegetasi. Zonasi yang sederhana hingga yang kompleks dapat dijumpai di berbagai komunitas mangrove. Pola pasang surut berkaitan dengan frekuensi perendaman (inundation). Sepanjang aliran sungai dari hulu hingga muara, pada tanah yang padat yang dipengaruhi air pasang, hutan mangrove dapat didominasi oleh palem Nypa fruticans.

Berdasarkan habitatnya, fauna di mangrove terdiri atas dua tipe yaitu : infauna yang hidup di kolom air, terutama berbagai jenis ikan dan udang, dan epifauna yang menempati substrat baik yang keras (akar dan batang pohon mangrove) maupun yang lunak (lumpur). Berikut ini jenis-jenis satwa yang sering dijumpai di hutan mangrove di Sumatera.

(a) Ikan

Ikan menjadikan mangrove sebagai tempat berlindung, mencari makan dan berkembang biak. Ikan-ikan kecil memilih berkembang biak di habitat mangrove untuk menghindari predator. Mangrove menyediakan makanan bagi ikan dalam

bentuk material organik yang berupa guguran vegetasi tanaman, berbagai jenis serangga, kepiting, udang-udangan dan hewan invertebrata.

(b) Kepiting

Kepiting merupakan hewan yang paling umum dan mudah ditemukan di areal mangrove. Menurut sejumlah penelitian rata-rata ada 10-70 ekor kepiting di setiap meter persegi hutan mangrove.

Hutan Mangrove http://www.peristiwaindonesia.com/cukong-pejabat- gunduli-hutan-untuk-kebun-sawit/ Kepiting Bakau http://www.antarasumsel.com/berita/264187/kepiting- bakau-dikembangkan-untuk-kesejahteraan-warga (c) Moluska

Moluska banyak di temukan di hutan mangrove Indonesia. Hewan ini hidup di dalam tanah, permukaan tanah, atau menempel di batang-batang pohon.

(d) Udang-udangan

Mangrove juga menjadi habitat udang-udangan (Crustacea) yang memiliki nilai komersial tinggi.

(e) Serangga

Serangga yang hidup di hutan mangrove kebanyakan berasal dari ordo Hymenoptera, Diptera danPsocoptera. Serangga memiliki peran penting dalam jaring makanan di hutan mangrove. Beberapa diantaranya menjadi pakan bagi burung air, ikan, dan reptil.

(f) Reptil

Reptil yang ditemukan di hutan mangrove biasanya dapat ditemukan juga di lingkungan air tawar atau di daratan. Beberapa diantaranya adalah buaya muara, biawak, ular air, ular mangrove (Boiga dendrophila), dan ular tambak.

(g) Amphibia

Hewan jenis amphibi jarang ditemukan di areal mangrove. Sejauh ini hanya ada dua jenis amphibi yang sanggup hidup di lingkungan bersalinitas tinggi seperti mangrove, yakni Rana cancrivora dan Rana limnocharis.

(h) Burung

Hutan mangrove adalah surga bagi burung air dan burung migrasi lainnya. Setidaknya ada 200 spesies burung yang bergantung pada ekosistem mangrove, atau sekitar 13% dari seluruh burung yang ada di Indonesia. Beberapa di antaranya termasuk burung-burung bangau yang terancam punah, seperti bangau wilwo (Mycteria cinerea), bubut hitam (Centropus nigrorufus), dan bangau tongtong (Leptoptilos javanicus).

(i) Mamalia

Mamalia menjadikan habitat mangrove sebagai tempat mencari makan. Beberapa diantaranya adalah babi liar, kelalawar, kancil, berang-berang, dan kucing bakau. Sedangkan untuk mamalia air ada lumba-lumba yang hidup disekitar muara. Bahkan harimau sumatera juga ditemukan berkeliaran di hutan mangrove wilayah Sungai Sembilang, Sumatera Selatan. Primata merupakan salah satu jenis mamalia yang sering mencari makan di hutan mangrove. Diantaranya ada lutung, monyet ekor panjang, dan bekantan. Namun mamalia tersebut tidak ada yang eksklusif hidup di hutan mangrove.

Dalam dokumen 201143 ATR AP150 DUPLEX 50 SET REVISI ok (Halaman 87-91)