• Tidak ada hasil yang ditemukan

Satuan Ekoregion Bentanglahan Dataran Kaki Gunungapi (V3)

Dalam dokumen 201143 ATR AP150 DUPLEX 50 SET REVISI ok (Halaman 55-58)

EKOREGION BENTANGLAHAN ASAL PROSES VULKANIK

A.2.11. Satuan Ekoregion Bentanglahan Dataran Kaki Gunungapi (V3)

Cakupan wilayah pada satuan ekoregion bentanglahan ini menempati area di sebagian wilayah Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung.

Karakteristik Bentanglahan pada satuan Ekoregion Dataran Kaki Gunungapi, seperti diuraikan berikut ini.

 Morfologi dataran dengan relief landai hingga bergelombang, kemiringan lereng 8 - 15%, beda tinggi rerata 25 - 75 meter.

 Terbentuk dari proses utama aliran lava dan lahar (vulkanism), dengan struktur pengendapan secara periodik yang menunjukkan periodisasi pengendapan akibat letusan, dengan persebaran material dibantu oleh aliran sungai.

 Material atau batuan utama penyusun berupa bahan-bahan piroklastik hasil pengendapan aliran lahar dan material jatuhan (airborne deposite), berupa pasir, kerikil, dan kerakal.

Potensi Sumberdaya Alam Non-hayati secara umum pada satuan Ekoregion Dataran Kaki Gunungapi, seperti diuraikan berikut ini.

 Karena penurunan ketinggian, maka suhu udara mulai terasa hangat hingga panas, bergantung musim, namun demikian udara relatif masih relatif bersih dan segar karena pengaruh kondisi bentanglahan yang alami.

 Material berupa bahan-bahan piroklastik hasil erupsi gunungapi, yang umumnya didominasi oleh bahan-bahan lepas-lepas, seperti pasir, kerikil, kerakal, dan bebatuan hasil proses endapan lahar, sehingga berpotensi sebagai bahan galian mineral golongan C, sebagai bahan baku bangunan, industri semen, pembangunan jalan, dan infrastruktur fisik lainnya.

 Tanah sudah berkembang dengan baik, solum tanah tebal, berwarna relatif gelap kehitaman, tekstur pasir berdebu (untuk gunungapi aktif) atau pasir debu berlempung (untuk gunungapi tua), struktur remah hingga sedikti menggumpal, membentuk tanah-tanah Aluvial yang subur.

 Pada bagian tekuk lereng di bawah morfologi dataran kaki gunungapi, masih dijumpai pemunculan mataair topografik sebagai bagian dari jalur terakhir sabuk mataair (spring belt) dengan debit aliran yang relatif besar, yang berpotensi sebagai sumber air bersih bagi air minum penduduk atau PDAM.

 Kondisi morfologi yang landai dengan material penyusun berupa bahan-bahan piroklastik, maka sangat berpotensi untuk menyimpan dan mengalirkan airtanah dengan baik, sehingga pada bentanglahan ini mulai terbentuk akuifer yang produktif.

 Pola aliran sungai semakin berkembang membentuk pola parallel- dendritik yang mengalir menuju dataran di bagian bawahnya. Bentuk lembah sungai masih cenderung melebar, landai, dan stabil, yang berfungsi sebagai media transport material dari hulu ke hilir.

 Pemanfaatan lahan bersifat budidaya dan produktif berupa sawah dengan irigasi intensif dengan produktivitas tinggi, dan mulai berkembang permukiman penduduk.

 Wilayah yang dapat dikatakan berada pada daerah rendah atau bawahan, kemiringan lereng yang landai, dan kedudukannya di bawah kaki gunungapi dengan pemanfaatan yang makin produktif, maka bentanglahan ini secara hidrogeomorfologi berfungsi sebagai daerah pencadangan airtanah (storage groundwater) dan daerah penurapan airtanah (discharge area) yang berperan sebagai cekungan hidrogeologi dengan akuifer yang potensial dan penyebaran luas. Oleh karena itu secara keruangan dapat ditetapkan sebagai kawasan budidaya pertanian dan permukiman (perkotaan), dengan pembangunan infrastuktur dan aksesibiltas yang mudah.

Permasalahan Sumberdaya Alam Non-hayati dan Kerawanan Lingkungan secara umum pada satuan Ekoregion Dataran Kaki Gunungapi, diuraikan berikut ini.

 Pada gunungapi yang masih aktif, merupakan zona bahaya ketiga akibat ancaman aliran lahar (banjir lahar) melalui lembah-lembah sungainya, dan hujan abu yang dapat tersebar secara meluas mengikuti arah dan kecepatan angin.

 Perkembangan wilayah memicu masalah pemanfaatan lahan dan konflik penataan ruang berupa konversi lahan menjadi lahan-lahan permukiman, konflik sosial, dan pencemaran air, tanah, dan udara, bergantung tingkat perkembangan wilayahnya.

Contoh Kenampakan Ekoregion Bentanglahan Dataran Kaki Gunungapi Karakteristik Ekoregion Bentanglahan

Dataran Kaki Gunungapi di Sumatera Barat

Relief datar, dengan lereng datar hingga landai (0-15%), topografi dataran, dan elevasi ± >1000 meter dpal. Tersusun atas batuan sedimen aluvium sungai yang berasal dari hasil pelapukan bahan-bahan piroklastik dan batuan vulkanik pada perbukitan atau pegunungan di sekitarnya.

Dinamika proses yang potensial terjadi berupa pengendapan aluvium oleh aliran sungai dan rombakan lereng secara gravitatif (koluvium).

Pada awalnya material berasal dari hasil erupsi gunungapi berupa bahan-bahan piroklastik atau akibat rombakan lereng (pelapukan) batuan penyusun perbukitan atau pegunungan di sekitarnya, yang kemudian terbawa oleh aliran sungai dan diendapkan pada lembah-lembah yang ada di bagian bawah.

Karakteristik Sumberdaya Alam pada Ekoregion Bentanglahan Dataran Kaki Gunungapi di Sumatera Barat

Sumberdaya Udara

Saat pengukuran udara cerah dan sejuk, dengan suhu 26,2°C, dan kecepatan angin 3.9 – 6.3 m/detik.

Sumberdaya Air

Airtanah relatif dangkal (< 7 meter dpt), tetapi penduduk lebih banyak memanfaatkan mataair sebagai sumber air domestik (rumah tangga) yang berasal dari mataair topografik di perbukitan atau pegunungan sekitarnya.Air dari mataair vulkanik ini umumnya berasa tawar, jernih, dan tidak berbau; DHL rendah (< 1000 µmhos/cm), pH netral (6 - 7), suhu normal (25 - 30°C), dan TDS rendah (< 100 ppm), yang umumnya dialirkan secara gravitatif. Sungai-sungai relatif kecil mengalir secara perenial dengan debit kecil, air jernih, tawar, dan tidak berbau; DHL rendah (< 1000 µmhos/cm), pH netral (6 - 7), suhu normal (25 - 30°C), dan TDS rendah (< 100 ppm).

Sumberdaya Lahan

Tanah relatif tebal, berwarna kecoklatan, tekstur lempung bergeluh, struktur gumpal membulat, drainase sedang hingga baik, daya dukung sedang hingga tinggi, pH netral, dan kandungan BO sedang hingga tinggi, berupa tanah Aluvial.

Lahan berfungsi budidaya, berupa pertanian sawah irigasi dengan pola tanam 2 kali padi dan sekali palawija dalam setahun, dan permukiman yang mengelompok pada lembah. Sumberdaya Mineral

Sumberdaya mineral tidak teridentifikasi dengan pasti, tetapi umumnya berupa tanah urug.

Sumberdaya Hayati

Flora umumnya berupa tanaman pertanian.

Fauna endemik berupa babi hutan (celeng) dan ular sawah, selebihnya berupa fauna domestik.

Gambar A2.6. Kenampakan Satuan Ekoregion Dataran Kaki Gunungapi atau Lembah antar Pegunungan Vulkanik di daerah Sungai Landia, Sumatera Barat. Lahan yang subur dengan ketersediaan air yang melimpah, menyebabkan pertumbuhan permukiman cukup pesat dan lahan dimanfaatkan untuk pengembangan pertanian berupa sawah-sawah irigasi sederhana hingga setengah teknis. Fenomena bentanglahan seperti ini banyak dijumpai antara perbukitan dan pegunungan gunungapi di Sumatera Barat. (Foto; Langgeng W.S., Maret, 2013)

Dalam dokumen 201143 ATR AP150 DUPLEX 50 SET REVISI ok (Halaman 55-58)