• Tidak ada hasil yang ditemukan

EKOREGION BENTANGLAHAN ASAL PROSES DENUDASIONAL

Dalam dokumen 201143 ATR AP150 DUPLEX 50 SET REVISI ok (Halaman 77-81)

A.2.19. Satuan Ekoregion Bentanglahan Perbukitan Denudasional (D2); dan A.2.20. Satuan Ekoregion Bentanglahan Lerengkaki Perbukitan

Denudasional (D3)

Cakupan wilayah untuk satuan Ekoregion Bentanglahan Perbukitan Denudasional menempati area di sebagian wilayah Provinsi Kepulauan Riau dan Kepulauan Bangka Belitung; sedangkan untuk Ekoregion Bentanglahan Lerengkaki Perbukitan Denudasional menempati area di sebagian wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Karakteristik Bentanglahan pada satuan Ekoregion Perbukitan dan Lerengkaki Perbukitan Denudasional, seperti diuraikan berikut ini.

 Kedua bentanglahan ini mempunyai genesis, struktur, dan material penyusun yang relatif sama, tetapi hanya berbeda pada morfologinya.

 Untuk D2, morfologi atau topografi berupa perbukitan dengan relief berbukit, lereng curam dengan kemiringan 30-45%, beda tinggi rerata 75-500 meter; sedangkan

untuk D3, morfologi atau topografi berupa lereng perbukitan dengan relief miring, kemiringan 15-30%, beda tinggi rerata 25-75 meter.

 Secara genesis, bentanglahan ini pada awalnya dapat terbentuk akibat aktivitas vulkanik tua berupa lairan lava yang membentuk jalur perbukitan, atau akibat pengangkatan tektonik yang membentuk jalur perbukitan struktural (umumnya struktur patahan) yang juga telah berumur tua. Namun pada perkembangan selanjutnya, proses pelapukan batuan sangat intensif dan akibat morfologinya yang curam, yang menyebabkan proses erosional akibat air hujan sangat intensif pula, dan juga lebih diperparah dengan proses gerakan massa tanah berupa longsor lahan (land slide) yang potensial. Efek dari proses tersebut, maka terbentuklah perbukitan denudasional dengan lereng yang tertoreh membentuk alur-alur atau lembah- lembah erosional yang sangat kompleks.

 Material atau batuan utama penyusunnya umumnya berupa batuan-batuan beku hasil proses aktivitas gunungapi tua, seperti: diabast, granit, andesit, gabro, dan lainnya; atau batuan sedimen yang telah mengalami pelapukan tingkat lanjut.

Potensi Sumberdaya Alam Non-hayati secara umum pada satuan Ekoregion Perbukitan dan Lerengkaki Perbukitan Denudasional, seperti diuraikan berikut ini.

 Satuan bentangkahan ini umumnya menempati daerah dengan iklim basah, curah hujan bervariasi dari rendah hingga tinggi, dan mempunyai perbedaan tegas antara musim kemarau dan penghujan.

 Material dominan adalah batuan-batuan beku gunungapi tua dan batuan sedimen yang telah mengalami pelapukan tingkat lanjut. Potensi sumberdaya mineral berupa bahan galian C, seperti: batu andesit, breksi, konglomerat, diabast, dan batugamping napalan.

 Tanah yang berkembang cukup intensif dengan solum yang cukup tebal, tekstur lempung berpasir, struktur gumpal lemah, dan drainase agak terhambat, seperti: Kambisol dan Latosol, serta terkadang juga terbentuk tanah Podsolik berwarna cerah merah kekuningan yang umumnya berkembang pada batuan dasar gunungapi dengan kandungan besi yang tinggi. Ketiga jenis tanah ini mempunyai kesuburan menengah dan berpotensi untuk pengembangan lahan perkebunan dan hutan produksi, yang tersebar pada lerengkaki perbukitan. Sementara pada perbukitannya, tanah relatif lebih tipis dan langsung kontak dengan batuan induk, serta miskin hara, yang disebut dengan tanah Litosol.

 Akibat proses erosional dan longsor lahan yang intensif, maka pola aliran sungai seperti cabang-cabang pohon (dendritik), dengan alur rapat sejajar menuruni lereng, dan bertemu di lembah perbukitan menyatu menjadi sungai yang lebih besar. Namun demikian sifat aliran sungai relatif epimeral atau perenial dengan fluktuasi debit aliran sangat tinggi antara musim penghujan dengan kemarau.

 Airtanah relatif sulit didapatkan, kecuali pada lembah-lembah sempit yang ada, itupun dalam jumlah yang sangat terbatas. Umumnya airtanah dijumpai dalam bentuk rembesan (seepage) di antara lapisan batuan yang telah lapuk di bagian atas dan lapisan batuan yang masih padu di bagian bawah, atau dalam bentuk mataair kontak dan terpotong lereng pada tekuk-tekuk lereng atau lerengkaki perbukitan (contact spring atau topographic spring), dengan debit aliran yang umumnya kecil.

 Penggunaan lahan alami yang terdapat pada satuan ini adalah hutan lindung, hutan produksi terbatas, dan kebun campur; sehingga secara keruangan berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan lindung dan konservasi tanah dan air.

Permasalahan Sumberdaya Alam Non-hayati dan Kerawanan Lingkungan secara umum pada satuan Ekoregion Perbukitan dan Lerengkaki Perbukitan Denudasional, seperti diuraikan berikut ini.

 Proses utama berupa denudasional yang dicirikan oleh tingkat pelapukan batuan yang telah lanjut, erosi lereng, dan gerakan massa batuan sangat potensial, yang seringkali terjadi saat musim penghujan.

 Sementara pada musim kemarau, maka berpotensi terhadap ancaman kekeringan dan lahan kritis, dan kekurangan air bersih.

 Proses ini menyebabkan morfologi perbukitan tidak teratur, banyak alur-alur dan parit-parit erosional (seperti dicakar-cakar), dan degradasi lahan semakin meningkat.

 Tanah Kambisol dan Latosol merupakan dua jenis tanah yang telah berkembang, solum tebal, bertekstur lempung bergeluh, dan cukup subur, tetapi mudah mengalami longsor jika mengalami kejenuhan tinggi (saat penghujan) dan berada pada lereng yang miring.

 Sementara tanah Litosol adalah tanah tipis dan miskin hara, sehingga umumnya hanya tumbuh semak belukar atau savana.

A.2.21. Satuan Ekoregion Bentanglahan Lembah antar Perbukitan Denudasional (D4)

Cakupan wilayah untuk satuan Ekoregion Bentanglahan Perbukitan Denudasional menempati area di sebagian wilayah Provinsi Kepulauan Riau dan Kepulauan Bangka Belitung.

Karakteristik Bentanglahan pada satuan Ekoregion Lembah antar Perbukitan Denudasional, seperti diuraikan berikut ini.

 Karakteristik bentanglahan ini mirip dengan perbukitannya, kecuali pada morfologi atau topografinya yang berupa lembah di antara jajaran perbukitan denudasional, dengan relief datar, lereng 3-8%, beda tinggi rerata <25 meter.

 Proses pembentukan bentanglahan ini mengikuti dengan proses pembentukan perbukitannya. Namun pada perkembangan selanjutnya, proses yang dominan pada bentanglahan ini adalah deposisional material hasil pelapukan batuan, erosi, dan longsor lahan dari lerengkaki perbukitan di sekitarnya.

 Material atau batuan utama penyusunnya umumnya berupa bahan-bahan koluvium yang tercampur aduk sebagai hasil proses deposisional material rombakan lerengkaki perbukitan di sekitarnya.

Potensi Sumberdaya Alam Non-hayati secara umum pada satuan Ekoregion Lembah antar Perbukitan Denudasional, seperti diuraikan berikut ini.

 Satuan bentangkahan ini umumnya menempati daerah dengan iklim lebih sejuk dan basah dibanding perbukitan di sekitarnya.

 Material dominan adalah bahan-bahan koluvium hasil proses pengendapan material terdegradasi dari lerengkaki perbukitan di sekitarnya, yang berpotensi terhadap pembentukan tanah yang lebih intensif.

 Tanah yang berkembang berupa tanah Aluvial akibat pengendapan sungai yang mengalir pada lembah tersebut, atau tanah Kambisol dan Latosol dengan solum yang cukup tebal, tekstur lempung berpasir, struktur gumpal lemah, dan drainase agak terhambat. Ketiga jenis tanah ini mempunyai kesuburan menengah hingga tinggi, dan berpotensi untuk pengembangan lahan perkebunan dan hutan produksi, atau bahkan sawah tadah hujan yang cukup produktif.

 Sungai yang mengalir relatif bersifat epimeral atau perenial dengan fluktuasi debit aliran sangat tinggi antara musim penghujan dengan kemarau.

 Airtanah dangkal dengan penyebaran terbatas. Pada tekuk-tekuk lereng perbukitan banyak dijumpai rembesan (seepage) di antara lapisan batuan yang telah lapuk di bagian atas dan lapisan batuan yang masih padu di bagian bawah, atau dalam bentuk mataair kontak dan terpotong lereng (contact spring atau topographic spring), dengan debit aliran yang umumnya kecil.

 Penggunaan lahan alami yang terdapat pada satuan ini adalah permukiman, kebun campur, sawah, dan hutan produksi terbatas, sehingga secara keruangan berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya terbatas.

Potensi Ancaman Bahaya dan Kerawanan Lingkungan sangat dipengaruhi kondisi perbukitan di sekitarnya, yang antara lain:

 sebagai daerah terdampak longsor lahan dan gerakan massa batuan lainnya, yang seringkali terjadi saat musim penghujan;

 daerah terdampak banjir dan genangan saat hujan maksimal; dan

Dalam dokumen 201143 ATR AP150 DUPLEX 50 SET REVISI ok (Halaman 77-81)