THE VALUES CULTURE JAVA IN SERAT WEDHATAMA Abstract
C. Teks Serat Wedhatama dan Terjemahan
III. Nilai-Nilai dalam Serat Wedhatama
8. Empat macam sembah
Untuk mencapai kesempurnaan hidup Mangkunegara IV memberikan nasehat yang ditulis dalam Serat Wedhatama melalui 4 macam sembah. Keempat macam sembah itu adalah:
Samengko ingsun tutur/ Sembah catur supaya lumuntur/ Dhihin raga, cipta, jiwa rasa, kaki/ Ing kono lamun tinemu, / Tandha nugrahaning Manon//
Terjemahan:
Sekarang saya berkata, Empat buah sembah supaya kamu tahu, Pertama: Raga, Cipta, Jiwa, dan Rasa, anakku, Di situlah, kamu bakal melihat, Tanda kebesaran Tuhan.
Uraian mengenai empat macam sembah tersebut dijabarkan dalam bait-bait selanjutnya. Disebutkan bahwa sembah raga itu adalah menaati syariat atau aturan yang berlaku. Cara untuk melakukannya adalah dengan teratur, dan tekun. Jika itu dapat dilakukan maka manfaat yang diperoleh adalah kesegaran badan sehingga membuat hati tenang dan pikiran yang kacau.
Dalam penjelasan ini, Mangkunegara IV juga sudah menyatakan bahwa dirinya secara terpaksa menginterpretasikan ini karena merasa berkewajiban untuk memberikan nasehat kepada anaknya. Oleh sebab itu, ia merasa perlu untuk menyampaikan bahwa hal yang disampaikan merupakan pendapat dirinya. Dengan perilaku yang baik diharapkan anugerah Tuhan itu dapat diterima. Menurutnya, orang yang menjalankan dengan sungguh-sungguh pasti mendapatkan hasilnya, sing sapa temen tinemu (barang siapa bersungguh akan menemukan/tercapai).
Selain sembah raga, cipta, jiwa dan rasa juga ada sembah kalbu. Cara mencapai sembah ini adalah dengan mengendalikan hawa nafsu. Jika hal itu dapat dilakukan dengan baik maka akan mengetahui sebenarnya siapa yang memiliki diri manusia itu. Agar tercapai maka dalam melaksanakan sembah kalbu harus dilakukan dengan teliti, hati-hati, terus-menerus serta waspada.
9. Larangan
Selain ajaran atau nasehat yang berisi anjuran, dalam Serat Wedhatama juga disampaikan hal-hal yang tidak baik untuk dikerjakan, antara lain sikap sembrana (ceroboh), nalutuh
merupakan sifat yang dapat menggagalkan tujuan atau cita-cita. Oleh sebab itu, tujuan harus dicapai dengan sikap hati-hati, tekun, percaya, dan terus-menerus.
Pada akhir tulisannya, Mangkunegara IV menyadari betul bahwa hambatan hidup atau cobaan hidup itu bermacam-macam. Oleh sebab itu, ia menyarankan bahwa dalam menggapai cita-cita itu disesuaikan dengan kapasitas yang ada pada dirinya.
IV. PENUTUP A. Kesimpulan
Serat Wedhatama merupakan karya sastra Jawa yang ditulis oleh seorang penguasa, yaitu Mangkunegara IV. Karya sastra itu berisi ajaran yang sangat baik bagi manusia dalam mengarungi hidup dan kehidupan di dunia. Pemikiran Mangkunegara IV yang tertuang dalam
Serat Wedhatama memberikan nasehat agar manusia hidup itu menjauhi segala perilaku buruk dan menjalankan perilaku yang baik. Perilaku baik merupakan modal dasar dalam membentuk pribadi dan memberikan nasehat kepada orang lain agar dapat menjadi teladan.
Mangkunegara IV sebagai manusia Jawa yang dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan budaya Jawa memberikan gambaran bahwa orang hidup hendaknya memiliki ilmu yang cukup. Ada perbedaan antara orang yang berilmu dan tidak berilmu. Orang yang berilmu akan menempatkan diri dimana dia berada. Sedangkan orang yang tidak berilmu maka hidupnya akan sia-sia bahkan membuat malu diri sendiri ketika berkomunikasi dengan orang lain. Ajaran ini mendapat perhatian Mangkunegara IV karena setelah berperilaku baik maka hendaknya manusia mengembangkan diri untuk memperoleh ilmu yang luas atau berilmu. Dengan ilmu maka manusia itu mampu beradaptasi dengan baik terhadap lingkungannya, sehingga mampu mengendalikan diri dan introspeksi diri. Untuk dapat memiliki ilmu yang luas hanya dapat dicapai dengan proses yang cukup panjang dan rumit. (Dalam hal ini, Mangkunegara IV mengingatkan dengan berkaca pada diri sendiri bahwa dalam mempelajari ilmu hendaknya disesuaikan dengan kapasitas serta budaya sendiri.) Proses yang harus dilalui antara lain: memiliki sifat sabar, tekun, terus-menerus berusaha, serta berserah diri kepada Tuhan.
Apabila sudah memiliki ilmu yang cukup maka tiga hal penting di dunia, yaitu arta, wirya, tri winasis (harta, kepandaian dan yang ketiga kekuasaan). Ketiga unsur itu saling mendukung. Dengan memiliki tiga modal hidup itu maka hidup manusia di dunia dianggap dapat membuat nyaman pada diri manusia itu sendiri, karena secara material dianggap sudah tercukupi dan dapat disebut sebagai manusia yang berguna.
Setelah mencapai modal untuk hidup di dunia maka manusia hidup hendaknya ingat terhadap kehidupan setelah di dunia. Oleh sebab itu, ia menyarankan bahwa manusia hidup hendaknya dapat melaksanakan 4 sembah, yaitu sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa dan
sembah rasa. Empat macam sembah itulah yang menurut Mangkunegara IV mampu mengantarkan manusia mencapai hidup yang sempurna.
Untuk meraih semua ajaran yang diberikan oleh Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama maka manusia harus menghindarkan diri dari berbagai hal yang dapat menghambat atau menggagalkan cita-cita manusia Jawa hidup. Oleh sebab itu, manusia Jawa dilarang untuk memiliki sifat:sembrana, suka menggunjing, dan ragu. Sebaliknya, dalam
tertuang dalam Serat Wedhatama masih sangat dibutuhkan. Hal itu tampak pada sikap menghargai dan tetap mempertahankan budaya sendiri ditengah terpaan budaya-budaya lain di dunia.
B. Saran
1.Serat Wedhatama merupakan salah satu naskah yang mengandung ajaran yang sangat baik untuk ditanamkan pada generasi muda.
2. Dari nilai-nilai dalam Serat Wedhatama dapat digunakan sebagai filter terhadap pengaruh budaya asing.
DAFTAR PUSTAKA
Baried, B., 1984. Teori Filologi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Damono, S. J., 1984. Sosiologi Sastra. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebuadayaan. Djamaris, E., 1977. Filologi dan cara kerja Penelitian Filologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa.
Girardet, N., 1883. Descriptive Catalogue of the Javanese Manuscripts and Printed Books in The Main libraries of Surakarta and Yogyakarta. Wiesbaden: Franz Steiner Verlag GMBH
Linda,1995. Mengajarkan nilai-nilai kepada anak. (Terjemahan Alex Trikantjono Widodo). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Muchson AR, 2012. Nilai-nilai Pendidikan Karakter Berbasis Moral yang Terkandung DalamSerat Wedhatama. Makalah. Yogyakarta: UNY
Poerwodarminta, WJS., 1985. Bausastra Kamus Sastra Jawa-Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Soebadio, H., 1973. “Filologi di Indonesia”. Makalah. Jakarta: Depdikbud. Surachmad, W., 1982. Metodologi Researh. Bandung: Transito.
Teeuw, A., 1984.Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Tilman, D., 2004. Living values activities for children 3-7 tahun. (Terjemahan Adi Respati). Jakarta: Grasindo Gramedia Widya Sarana Indonesia