PILGRIMAGE PLACE ASTA SAJJID YUSUF IN POTERAN ISLAND KABUPATEN SUMENEP MADURA
E. Pengaruh Asta Sajjid Yusuf Terhadap Masyarakat
Makam Sajjid Yusuf yang terletak di Desa Talango Pulau Poteran merupakan makam yang sering dikunjungi oleh para peziarah. Tempat ini setiap harinya ramai dikunjungi penziarah. Pada saat itulah penduduk sekitar makam memanfaatkannya untuk berjualan atau
Patrawidya, Vol. 15, No. 2, Juni 2014: 251 - 270
penghasilan yang lumayan apalagi kalau peziarah penuh dan waktunya bertepatan dengan waktunya makan. Ada lagi ibu Harti (67 tahun) yang berjualan oleh-oleh dan air barokah serta bunga. Kalau yang berkunjung disini itu kebanyakan orang-orang tua, maka penghasilannya lumayan karena banyak yang memanfaatkan air dan bunga tersebut untuk dibawa ke makam.
Demikian juga penduduk lainnya terutama yang laki-laki, dengan adanya Asta tersebut, maka dapat membuka lapangan kerja, yaitu sebagai tukang becak sehingga tidak harus keluar pulau untuk mencari nafkah. Kalau terkait dengan pendidikan, karena di tempat ini ada Yayasan Sajjid Yusuf yang mengelola pendidikan dari tingkat SD sampai SMA, maka dapat menolong warga untuk mengenyam pendidikan dengan biaya yang ringan. Di samping itu dapat mendalami agama Islam. Terkait dengan agama, di keluarga Sajjid Yusuf atau terrkenalnya keluarga Arab setiap seminggu sekali ada kelompok pengajian untuk warga Poteran.
V. PENUTUP A. Kesimpulan
Orang yang pertama kali menemukan Asta Sajjid Yususf adalah raja Sumenep, yaitu Sri Sultan Abdurrahman Pangkutaningrat ketika berada di pelabuhan Kalianget. Ketika itu beliau beserta rombongan akan mengadakan perjalanan ke Pulau Bali untuk menyebarluaskan agama Islam. Sesampai di Kalianget sudah malam dan akhirnya bermalam di Kalianget, namun selama itu tidak bisa tidur dan akhirnya keluar rumah untuk melihat-lihat udara di luar. Sewaktu berada di luar itulah Sri Sultan melihat sinar yang jatuh di Pulau Poteran yang masih berupa hutan belantara. Dengan adanya kejadian itu, maka pada pagi hari sebelum berangkat beliau bersama rombongan pergi ke Poteran untuk mencari pancaran sinar yang jatuh di pulau tersebut. Setelah menerobos hutan dan dengan cara laku batinnya akhirnya ditemukan sebuah makam yakni makamnya Sajjid Yusuf
Dengan diketemukan makam kemudian Sri Sultan berujar setelah pulang dari Bali beliau akan datang lagi ke makam dan akan membangunnya. Pada waktu itu makam Sajjid Yusuf dibangun, yaitu dibuatkan cungkup tapi pada keesokan harinya nisannya bergeser ke sebelah kirinya yang tidak ada cungkupnya. Dengan kejadian itu, dalam hati Sultan berbicara kalau orang yang dimakamkan disini mempunyai kelebihan dan ternyata setelah melihat silsilahnya beliau adalah keturunannya Nabi Muhammad SAW yang ke 30 dan diberi tugas untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Berdasar pada itulah, maka makamnya Sajjid Yusuf tetap dibiarkan berada di luar sampai sekarang.
Dengan ditemukannya makamnya Sajjid Yusuf yang merupakan keturunan Nabi Muhammad, maka tempat tersebut sering didatangi atau diziarahi umat Islam yang ada di sekitar pulau tersebut. Supaya yang berziarah itu nyaman, maka di sekitar makam dibangun fasilitas-fasilitas seperti pendapa untuk tempat istirahat para peziarah, musholla, kamar mandi, dan sebagainya. Selain itu juga ada penjaganya dan ada juga juru kuncinya makam.
Dewasa ini lokasi makam/Asta Sajjid Yusuf menyatu dengan makam umum, hanya saja diberi penyekat berupa dinding tembok yang tinggi. Kalau sebelah kanannya yang dulunya merupakan cungkup Sajjid Yusuf sekarang ini dimanfaatkan untuk makamnya keluarga juru kunci, sedang yang di selatannya dipergunakan untuk makamnya orang-orang Arab yang merupakan ahli waris dari Sajjid Yusuf.
sesuatu, misalnya mempunyai kedudukan yang tinggi, berhasil sekolahnya, sukses usahanya, kesembuhan dari penyakit, dan sebagainya. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Bapak Tabrani yang sembuh dari sakit yang di deritanya, yaitu matanya bisa melihat kembali. Kemudian ada yang karena telah berhasil panen tembakau dengan baik, dan sebagainya. Namun demikian ada juga yang berkunjung sekedar untuk silaturahim pada yang ditokohkan sebagai penyiar agama Islam di Pulau Jawa. Kemudian sebagai bentuk ritualnya ada yang duduk mengitari makamnya Sajjid Yusuf dengan membaca surat yasin, dan ada juga yang duduk dengan berdoa, ada juga yang setelah berdoa dilanjutkan dengan menabur bunga. Selain itu ada juga peziarah yang membawa pulang air yang telah dibawa ke makam dan ada juga yang membawa pulang bunga dari makam tersebut. Konon, menurut informan bunga dan air itu ditaburkan ke sawah supaya kelak panennya banyak.
B. Saran
1. Untuk menjadikan makam Sajjid Yusuf sebagai salah satu tujuan wisata spiritual masih perlu mendapat perhatian dari instansi terkait.
2. Hendaknya pemerintah ikut menjembatani persatuan kekeluargaan antara ahli waris Sajjid Yusuf dengan keluarga juru kunci, sehingga kalau ada haul yang dihadiri oleh banyak tamu kondisinya bisa lebih kondusif.
DAFTAR PUSTAKA
Ariani, C., 2002.Motivasi Peziarah di Makam Panembahan Bodo Desa Wijirejo Pandak Kabupaten Bantul. Patra-Widya Vol. 3 No. 1, Maret 2002. Jakarta: badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata.
Budi, N. S., 2006. “Ritual di Gunung Kemukus dan Pandangan Masyarakat.
Patra-Widya Vol. 7 No. 4, Desember 2006. Jakarta, Departemen Kebudayaan danPariwisata. Koentjaraningrat, 1984. Kebudayaan jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
Mulder, N., 1986. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. Jakarta: Gama University Press.
Murniatmo, G. dkk., 2003. Budaya Spiritual Petilasan Parangkusumo dan Sekitarnya. Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata. Proyek Pemanfaatan Kebudayaan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Nasir, M.,1985. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia, Jakarta.
Saksono, 2009. Dialog Wacana Syariat Islam, Sumbangan Pikiran Orang Kristiani. Yogyakarta, Rumah Belajar Yabinkas.
Subagyo, R., 1989. Agama Asli Indonesia. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.
Suhadi dkk., 1994/1995. Makam-makam Wali Sanga di Jawa. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sujarno, 2006. Motivasi peziarah Gunung Selok Sebuah Lukisan Budaya Spiritual. Patra-Widya, Vol. 7 No. 2, Juni 2006. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Sukari, 2006. Makam Sunan Muria: Pengaruhnya Terhadap Pariwisata dan Masyarakat
Sekitarnya. Patra-Widya, Vol. 7 No.2, Juni 2006. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
Suwarno, 2006. Komplek Makam Batara Kathong Ponorogo: Suatui dkk Kajian Tentang Tata Letak. Patra-Widya, Vol. 7 No. 4, Desember 2006. Jakarta Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
Patrawidya, Vol. 15, No. 2, Juni 2014: 251 - 270
DAFTAR INFORMAN
Nama Umur Pendidikan Pekerjaan/tujuan Alamat
Sunaryanto 36 th S2 Camat Rumah Dinas Kec.
H. Busri 51 th SMA Juru kunci Talango
Tahlil 76 th SR Penjaga makam Padike
Tabrani 76 th - Pensiunan PT Garam Talango
Hj. Muzidah 56 th SMA Wiraswasta/keluarga Kampung Arab
Angkib 55 th - Petani/ziarah Mojokerto
Hj. Fatimah 27 th SMA Wiraswasta/keluarga Bangil
Mujiraharjo 54 th S1 Guru/ziarah Demak
Jumar 36 h SMP Petani/ziarah Pamekasan
H. Suud 67 th SMP Pensiunan/petugas Talango
Sopiah 50 th SD Pedagang Talango
Ancung 45 th SMA Wiraswasta/ziarah Talango
Hj. Hartijah 67 th SD Wiraswasta/ziarah Banyuwangi